• PENYUNTING

  • KATEGORI BUDAYA

  • DAFTAR PENGUNJUNG

  • FREKUENSI KUNJUNGAN

  • RSS BUDAYA SUNDA

    • Array 13 Desember 2007
      Komik Sunda untuk Akrabkan Bahasa Ibu Sudah Disipkan 10 Judul Bandung, Kompas - Sulitnya mengajarkan bahasa Sunda pada anak-anak sekolah menginspirasi dua anak muda untuk mengakrabkan bahasa Sunda melalui komik Sunda. Hanya dengan biaya Rp 120.000 mereka menerbitkan 100 eksemplar komik Sunda untuk segmen remaja dan mahasiswa. Aditya Gunawan (23), cerpenis Su […]
    • Array 13 Desember 2007
      PARIGEUING GAYA KAPAMINGPINAN (LEADERSHIP) PRABU SILIWANGIKu: Drs.R.H. Hidayat Suryalaga Kapamingpinan dina masarakat Sunda, nurutkeun Naskah Kuna Sanghiyang Siksa Kanda’ng Karesian. Ieu naskah kuna teh asli titinggal karuhun Sunda taun 1518 Masehi (Prabu Siliwangi/Jayadewata pupusna taun 1521 Masehi) anu disundakeun deui kana basa ayeuna ku Drs. Saleh Danas […]
    • Array 13 Desember 2007
      Sundapura: Tarumanagara, Sunda, Galuh dan PajajaranSebentar lagi Bandung berulang tahun, tanggal 25 September yang ke-195. Bandung identik dengan etnik Sunda, Priangan atau Parahyangan. Bagaimana ceritanya? Panjang! Tadinya saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran Dago, yaitu jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya, Ciungwanara, Ranggag […]
    • Array 13 Desember 2007
      Mencari Akar Historis Krisis Kepemimpinan Orang Sunda Oleh Prof. Dr. H. NANAT FATAH NATSIR, M.S.BAGI orang Sunda, mencari seorang pemimpin selalu terkesan sangat sulit. Hal ini lebih disebabkan oleh kultur dan interpretasi yang keliru pada teks-teks agama yang mereka anggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam nilai budaya "urang Sunda", maka […]
    • Array 13 Desember 2007
      Mengenal Asal Usul AngklungBandung, yang berada di tanah parahyangan erat kaitannya dengan kesenian tradisi sunda dimana terdapat bermacam-macam alat kesenian yang diwariskan salah satu diantaranya alat kesenian tradisi sunda yang dinamakan sebagai angklung, alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi diseba […]
  • RSS BUDAYA MINAHASA

    • Gua Jepang WW II
      Bapak Uka dan Bapak Douglas Manopo maso goa for mo cari paniki ato harta karun ato main baka2 sambunyi. Nentau pa dorang.
    • antara Codecs Gigas dan salah satu motif Waruga
      Codex gigas atau buku raksasa adalah sebuah manuskrip abad pertengahan dengan ukuran terbesar yang masih ada. Buku ini ditulis pada awal abad ke-13 di biara ordo benediktus di podlazice di Bohemia. Saat ini buku tersebut tersimpan di Swedish Royal Library di Stockholm. Dibutuhkan tenaga dua pustakawan untuk mengangkat buku tersebut. Buku ini sering juga dise […]
    • Sepasang Goringo / Karimenga
      Sepasang Goringo/Karimenga merah dan putih
    • Burung Wenea
      Burung Wenea, sepertinya ini jenis Minahasan Scope Owl, saudara dekatnya Koko si Mamarimbing alias burung Manguni alias burung hantu
    • Loji Tondano
      Foto bersama para hukum tua Minahasa depan Loji tondano sebelum tahun 1940
  • KOMENTAR

    adek di Mengenal Asal Usul Angklu…
    encung di Cerita Marjinalisasi Pedagang…
    agus di Kogyaru : “Gadis SMA di…
    miku di Kogyaru : “Gadis SMA di…
    molinbangunan di Villa Isola, Bangkitkan K…
  • KALENDER

    Maret 2009
    S S R K J S M
    « Feb   Apr »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • BLOG STATS

    • 57,418 hits
  • Link Banner

Cerita Marjinalisasi Pedagang Rumput

65025_peternakan_kuda_pada_tahun_1940_an_di_menteng_thumb_300_225Pasar Rumput merupakan sebutan nama pasar yang sekarang lokasinya berada di Jalan Sultan Agung Jakarta Selatan. Pasar ini sekarang telah menyatu dengan Pasar Manggarai.

Tapi jangan harap Anda bisa mencari rumput di pasar ini. Sebab, pasar ini memang tak lagi menjual rumput yang menjadi makanan kuda ketika masanya dulu.

Kini pasar ini menjual beraneka ragam barang mulai dari makanan pokok hingga elektronik. Namun yang paling terkenal dari pasar ini adalah pusat perdagangan barang bekas.

Lalu bagaimana kawasan ini disebut sebagai Pasar Rumput?

Kisah penyebutannya Pasar Rumput ini bermula ketika para pedagang pribumi menjual rumput dan sering mangkal di lokasi ini. Para pedagang rumput terpaksa mangkal di sini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke permukiman  elit Menteng.

“Sekitar tahun 1950 banyak sekali warga Betawi di sini berjualan kuda, makanan kuda (rumput), gerobak kuda (delman),” kata Ridwan Hasan, 85 tahun, salah satu sesepuh Pasar Rumput saat berbincang dengan VIVAnews.

Ridwan menuturkan, saat itu masyarakat Menteng banyak yang memelihara  kuda. Kuda sangat dikemal sebagai sarana angkutan yang banyak membawa penumpang orang kaya keluar masuk lingkungan Menteng.

Namun karena Menteng merupakan kawasan elit, membuat para pedagang rumput tidak bisa masuk untuk menjual dagangannya.

Akses berjualan rumput ke Menteng yang tertutup, membuat para pedagang terpaksa mencari sebuah tempat berjualan yang lokasi berdekatan dengan wilayah Menteng.

“Sejak itulah di sepanjang jalan Sultan Agung dipenuhi pedagang yang menjual rumput, kuda, dan gerobak,” kata kakek yang sudah memiliki 6 cucu itu.

Kata pria yang lahir pada 1941 ini, “Setiap orang yang datang membeli pakanan kuda (rumput) di sini, kemudian menyebutnya Pasar Rumput,” ungkapnya.

Bisnis rumput mengalami puncaknya pada tahun 1950-an. Sampai akhirnya sekitar tahun 1970-an para pedagang rumput mulai hilang satu persatu.

Namun mereka menghilang bukan karena adanya penggusuran atau penertiban.”Pasar Rumput pada tahun 1980an sudah mulai lesu. Saat warga Menteng sudah mulai tidak memelihara kuda,” imbuhnya.

Pedagang rumput kemudian hilang satu persatu setiap harinya. Bergantilah dengan pedagang barang bekas (loak) yang sebelumnya memang berjualan di pinggiran Sungai Ciliwung.

“Pedagang loak itu sudah ada sejak tahun 1960-an, tapi mereka mulai pindah berdagang ke Pasar Rumput ketika pedagang rumput gulung tikar,” paparnya.

Bisnis barang bekas kian hari makin marak di Pasar Rumput hingga sekarang. Para pedagang umumnya menjajakan aneka sepeda, alat olahraga, dan mesin ketik bekas.

Pemandangan inilah yang terlihat jika melintas di jalan Sultan Agung, Manggarai.

Walaupun para pedagang rumput sudah tidak dapat ditemukan lagi di Pasar Rrumput, namun masyarakat Jakarta masih sangat akrab dengan sebutan nama Pasar Rumput.

“Kalau di Pasar Burung kita dapat membeli burung, di Pasar Buah kita dapat membeli buah, namun di Pasar Rumput yang ada hanya barang bekas,” ujar Ridwan.

Satu Tanggapan

  1. OKE JUGA IMFONYA GUE JADI TERTARIK MAU KEPASAR RUMPUT SIAPA TAU ADA YANG MAU GUE BELI

Tinggalkan Balasan