Lumbung Lumbung Tradisional

Posted: 12 April 2009 in KRONIK BUDAYA, Mozaik
Tag:,

Masyarakat Baduy dan Kasepuhan di Jawa Barat serta Masyarakat Dayak di Kalimantan merupakan sebagian contoh masyarakat yang masih setia mengelola lumbung pangan. Masyarakat Dayak yang bertani dengan sistem ladang berpindah selalu punya tiga lumbung padi.

Lumbung pertama berisi panen tahun lalu yang baru akan dikonsumsi tahun depan. Lumbung kedua kosong karena isinya sudah dikonsumsi tahun lalu dan akan diisi dengan hasil panen tahun ini. Lumbung ketiga berisi hasil panen dua tahun lalu, yang sedang dikonsumsi tahun ini. Tradisi masyarakat tradisional selalu punya stok padi yang cukup untuk dikonsumsi satu tahun, untuk berjaga – jaga jika terjadi gagal panen (Rahardi. F, 2005).

Sementara masyarakat Baduy di Jawa Barat terus memelihara dan mengisi lumbung yang biasa mereka sebut leuit yang berbentuk panggung yang ditopang oleh empat kayu penyangga. Lumbung biasanya dibangun di luar kampung untuk menghindari kemungkinan kebakaran di kampung. Kompleks lumbung biasanya berjarak sekitar 20 meter dari kampung yang oleh kebun dengan pohon-pohon besar serta aliran sungai kecil. Ukuran leuit bervariasi tergantung pada luas huma yang dikelola. Masyarakat Baduy biasanya membangun leuit dengan kapasitas 500-1.000 ikat padi.

Umumnya bilik lumbung berukuran panjang 1,5 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi empat meter. Leuit dengan ukuran seperti di atas bisa menampung padi sekitar 500-600 ikat. Seikat padi setara dengan tiga kilogram beras (Anonymous, 206). Setiap warga Baduy boleh memiliki lumbung lebih dari satu. Jumlah lumbung disesuaikan dengan luas huma yang diolah oleh tiap keluarga.

Semakin luas huma, jumlah lumbung padi semakin banyak. Pembangunan leuit biasa dilakukan secara gotong royong maupun satu keluarga. Jika dibangun satu keluarga, membutuhkan waktu sekitar sebulan. Lumbung padi orang Baduy didesain khusus supaya mampu menyimpan padi dalam jangka waktu yang lama serta bebas gangguan tikus. Tiang menyangga bilik leuit, tempat menyimpan padi, yang terbuat dari anyaman bambu. Pintu lumbung ada di bagian abig-abig, posisinya di atas bilik dekat dengan atap. Pintu berukuran kecil sekitar 40 x 50 cm. Atap lumbung terbuat dari daun sago kirai (sejenis palem) yang dianyam dan ditahan dengan gapit yang terbuat dari belahan bambu agar kuat.

Sementara itu di Kesatuan Adat Banten Kidul, setiap keluarga mempunyai lumbung beras sendiri. Ada yang mempunyai satu-dua lumbung, tetapi ada juga yang punya sembilan sampai 12 lumbung. Setiap lumbung kapasitasnya bervariasi, antara 2,5 ton sampai 10 ton gabah kering. Jika dijumlahkan, tak kurang dari 5.000 buah lumbung gabah dimiliki warga yang sekarang berpusat di Kasepuhan Cipta Gelar. Selain lumbung-lumbung yang dimiliki masing-masing warga tersebut, ada juga lumbung paceklik yang khusus disiapkan di masing-masing perwakilan. Jumlah lumbung paceklik 216 buah. Setiap lumbung paceklik itu mampu menampung 7.500 ikat gabah kering atau setara sekitar 22,5 ton sampai 30 ton gabah kering. Gabah di lumbung paceklik ini akan dikeluarkan apabila ada warga yang membutuhkannya atau jika ada musibah. Mereka akan mengeluarkan simpanan gabah sesuai kebutuhan dari beberapa lumbung, bukan hanya dari satu lumbung. Warga yang kehabisan gabah bisa meminjam dari warga lainnya atau dari lumbung paceklik. Karena itulah, warga Kasepuhan Cipta Gelar ini tidak boleh menjual gabahnya kepada orang luar. Alasannya sederhana saja. Mereka hidup jauh dari perkotaan yang ramai dan menyediakan hampir segalanya saat itu juga sehingga jika suatu saat membutuhkan beras, tidak mungkin bisa mendapatkannya saat itu juga. Meskipun larangan itu tidak tertulis dan bahkan juga bukan suatu larangan yang ada sanksinya bila dilanggar, seluruh warga Kasepuhan Cipta Gelar menaatinya (anonymous, 2003).

Hama padi yang dianggap paling mengganggu adalah tikus. Orang Baduy menangkal tikus dengan memasang gelebeg pada lumbung. Gelebeg merupakan papan kayu berbentuk bundar dengan diameter sekitar 50 cm.Dipasang di atas empat tiang penyangga tepat di bawah lantai lumbung. Bentuk gelebeg yang bulat dengan diameter yang cukup besar menyebabkan tikus tidak bisa naik ke lumbung padi. Lumbung juga dirawat secara rutin agar padi bisa tahan lama. Atap merupakan bagian lumbung yang paling sering diganti supaya tidak bocor, biasanya diganti setiap tiga tahun.

Padi di lumbung merupakan cadangan pangan sampai panen berikutnya. Masyarakat Baduy selalu menyisakan padi di lumbung sekitar 200-300 ikat. Ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kemungkinan hasil panen berikutnya yang kurang baik. Mereka hanya menjual kelebihannya untuk memenuhi keperluan hidup lainnya yang tidak dapat diproduksi sendiri. Cadangan padi diambil sedikit demi sedikit tiap beberapa hari sekali. Ibu-ibu warga Baduy menumbuk seikat padi pada pagi hari sebelum berangkat ke huma. Padi ditumbuk dengan lesung besar yang diletakkan di pinggir permukiman. Dalam satu kampung, hanya ada satu lesung yang digunakan secara bersama-sama. Lesung diletakkan dalam saung lisung, yaitu bangunan mirip rumah tanpa dinding, berlantai tanah, dan beratap daun kirai.

Proses penyimpanannya terkadang disertai ritual atau upacara khusus sebagaimana ritual menyimpan padi di lumbung desa, tetapi lebih sederhana. Selain perawatan secara fisik, lumbung dilindungi oleh puun atau tetua adat dengan mantra-mantra. Di bawah lantai lumbung biasanya digantung perupuyan yakni semacam tungku terbuat dari batok kelapa yang diisi abu dari tungku masak untuk membakar gaharu atau cendana. Asap gaharu berbau wangi sebagai penghormatan kepada Sang Hyang Asri atau Dewi Sri. Sesajian ini untuk merawat padi supaya tetap baik.

*sumber artikel dari “Lumbung Pangan: Jalan Menuju Keterjaminan Pangan” hal 12- 14

About these ads
Komentar
  1. salwanaz mengatakan:

    LUMBUNG PADI KEARIFAN LOKAL YANG MESTI DIBANGKITKAN LAGI

  2. bambang mengatakan:

    TERIMAKASIH BANYAK TELAH MEMBERIKAN PENCERAHAN , KHUSUSNYA KEPADA SAYA, AMALAN BAIK PASTI MENDAPATKAN BALASAN YANG BAIK DAN BERLIMPAH DARI ALLAH SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s