Archive for the ‘BUDAYA AFRIKA’ Category

DUNIA ini memiliki banyak benua, ratusan negara, dan ribuan suku. Banyak suku tradisional unik dengan gaya hidup menarik yang akan membuat Anda tercengang. Salah satunya adalah Suku Himba di Namibia, Afrika.

Suku Himba adalah suku etnis berjumlah 20.000 hingga 50.000 orang yang hidup di Namibia utara. Mereka adalah suku semi nomaden, yang berarti tempat tinggalnya tidak selalu permanen.

Keunikan anggota suku Himba daripada suku lainnya di dunia adalah kulit penduduk wanitanya yang berwarna merah. Warna merah ini bukanlah warna alami, melainkan bagian dari tradisi. Setiap pagi wanita Himba mengoleskan pasta berwarna merah ke kulit dan rambut mereka, menjadikannya berwarna hampir serupa dengan warna tanah tempat tinggalnya.

Masih menjadi perdebatan mengenai asal-usul tradisi mewarnai tubuh dengan pasta merah ini. Beberapa ahli mengatakan tujuannya melindungi tubuh dari sinar matahari. Namun, ada pula yang mengatakan untuk menolak serangga. Yang pasti, warna merah ini bagian dari tata rias karena hanya wanita Himba yang mengenakan warna ini. Demikian seperti dikutip dari CNN, Minggu (20/5/2012).

Suku Himba adalah suku peternak, hewan ternak mereka dibiakkan di tengah desa. Setiap pagi, wanita Himba mengoleskan pewarna merah ke tubuhnya kemudian segera bekerja mengurusi hewan ternak. Barulah setelah itu, kaum prianya menggembalakan ternak-ternak tersebut.

Sejak tahun 1990an, Suku Himba telah sukses memertahankan budaya tradisional mereka dan menjadikannya bagian dari pariwisata. Meski menjaga tradisi, mereka tetap terbuka terhadap kehadiran orang asing.

Kecantikan Yang Menyala

Di area utara Namibia, tepatnya di daerah Kunene, tinggal suku Himba yang sangat memperhatikan unsure keindahan. Sejak lahir, para bayi diberikan kalung mutiara, yang akan diganti dengan kalung tembaga dan kerang kecil seiring bertambahnya usia. Perhiasan ini merupakan kerajinan khas yang menjadi bagian penting dari budaya suku Himba. Meskipun masih primitive, suku ini sudah biasa berinteraksi dengan dunia luar. Sejumlah anak bahkan dapat membaca dan menulis. Memang hamper seluruh anggota suku masih bertahan dengan pakaian tradisional, yaitu topless dengan cawat dari kulit untuk menutupi bagian bawah, namun segelintir pria telah mengadaptasi pakaian modern.
The ladies start the day with a few hours of morning ”beauty ritual” . Mereka mengoleskan campuran lemak mentega dengan mineral khusus berwarna merah serta wewangian dari daun semak ke sekujur tubuhnya. Selain sebagai tabir surya dan pengusir serangga, krim ini membuat kulit terlihat berkilau kemerahan, symbol dari warna tanah yang kaya dan darah yang merupakan representasi kehidupan. Rambut mereka dikepang kecil dan turut dilapisi campuran mineral hingga kaku dan kecoklatan. Rambut wanita yang sudah menikah disibak ke belakang dan memiliki hiasan kulit bagian atas, sementara kepangan rambut anak perempuan yang menginjak masa puber dibuat menutupi wajah.
Sebagai suku monoteis, suku Himba menyembah Mukuru sebagai dewa yang dipercaya memberikan berkah. Jika dewa tersebut sedang tidak dapat menjawab mereka, arwah nenek moyang akan menjadi perwakilan Mukuru. Suku Himba hidup secara semi-nomaden sambil beternak. Setiap desa dipimpin oleh tetua pria dan terdiri dari keluarga besar. Pembagian kerja antara pria dan wanita cukup berbeda dari suku lainnya. Selain mengurus para anak kecil, wanita Himba banyak melakukan pekerjaan berat seperti membangun rumah dan mencari kayu. Urusan politik dan hukumlah yang diserahkan pada kaum pria. Keunikan suku Himba lainnya adalah system keturunan yang bilateral demi bertahan hidup dari kondisi alam yang keras. Setiap orang merupakan anggota dari dua klan yaitu klan ibu dan ayahnya, sehingga ada dua pihak yang dapat diandalkan dalam keadaan darurat.