Archive for the ‘BUDAYA ARAB’ Category

Bahamut

Bahamut (bahasa Arab: بهموت Bahamut) adalah ikan besar yang membantu bumi dalam Mitologi Arab. Beberapa sumber, Bahamut digambarkan memiliki kepala menyerupai kuda nil atau gajah
Dandan

Dandan atau Dendan adalah makhluk laut mitologi yang muncul di volume 9 dari The Book of 1001 Nights, atau 1001 Nights. Muncul dalam kisah Abdullah si Nelayan dan Abdullah si Merman, di mana nelayan ikan duyung jantan mengatakan bahwa Dandan adalah ikan terbesar di laut dan merupakan musuh duyung. Sebuah Dendan mampu menelan kapal dan seluruh awaknya dalam satu tegukan
Falak

Falak legenda Bahamut adalah ular yang hidup di bawah Fire Realm. Ular ini dikatakan begitu besar sehingga hanya karena rasa takut terhadap kekuatan Allah mencegahnya menelan semua ciptaan
Genie

Dalam kebudayaan Arab, Genie atau Jin (Arab جني : Jinni) adalah makhluk gaib yang menempati dunia paralel dengan umat manusia, dan bersama-sama dengan manusia dan malaikat membentuk tiga mahluk ciptaan Allah. Memiliki kehendak bebas, yang dapat berupa jin baik atau jahat.

Ghoul

Ghoul adalah makhluk mitologis rakasa dari cerita rakyat Arab kuno yang tinggal di kuburan dan tempat-tempat tak berpenghuni. Kata bahasa Inggris berasal dari nama Arab untuk makhluk: غول ghul, yang secara harfiah berarti “setan”. Ghul adalah jenis jin jahat diyakini menjadi bapak iblis.
Ifrit

Ifrit, juga dieja Efreet, juga ifreet, afrit, afreet (bahasa Arab: Ifrit: عفريت, plural Afārīt: عفاريت) adalah jin kelas neraka, di bawah tingkat malaikat dan setan, terkenal akan kekuatan dan kelicikan. Ifrit adalah makhluk bersayap api, baik perempuan atau laki-laki, yang tinggal di bawah tanah dan sering pergi ke reruntuhan. Menurut beberapa sumber, Ifrit hidup dalam sebuah masyarakat yang terstruktur di sepanjang garis suku Arab kuno, lengkap dengan raja-raja, suku, dan klan seperti manusia.

Karkadann
 Ibnu Battuta dalam perjalanannya, menyebut badak di India adalah Karkadann. Karkadann adalah binatang yang sangat kejam, dapat mengusir binatang sebesar gajah. Ia akan melawan gajah dan membunuhnya. Kemudian akan mengangkatnya di atas kepala dalam kemenangan menggunakan tanduk. Memang rada mirip badak, tapi ada juga yang gambarin kayak Unicorn.
Marid

 
Marid seringkali digambarkan sebagai jenis yang paling kuat dari jin, memiliki kekuatan besar khususnya. Mereka adalah yang paling sombong. Seperti setiap jin, mereka memiliki kehendak bebas belum bisa dipaksa untuk melakukan tugas. Mereka juga memiliki kemampuan untuk memberikan harapan kepada manusia, tetapi biasanya membutuhkan pertempuran, ritual, atau penyembahan.
Nasnas

Nasnas adalah makhluk raksasa dalam mitologi Arab. Menurut Edward Lane, penerjemah abad ke-19 dari The Arabian Nights, Nasnas adalah “setengah manusia; memiliki setengah kepala, setengah tubuh, satu tangan, satu kaki, yang mana banyak melompat dengan kelincahannya”. Hal ini diyakini sebagai keturunan setan disebut Shikk dan manusia.
Sandwalker

Sandwalker umumnya dikenal sebagai makhluk yang sangat besar, paruh tajam dan ekor seperti kalajengking. Ia memiliki cakar besar seperti kepiting, yang digunakan untuk membawa pergi korbannya. Ia mengubur diri dalam pasir pada siang hari untuk menghindari deteksi, dan keluar pada malam hari untuk makan. Jarang memangsa manusia, biasanya berburu unta atau kuda.
Werehyena

Werehyenas adalah makhluk mitologis yang mampu berubah bentuk menjadi hyena atau manusia. Mereka yang hadir dalam cerita-cerita dari beberapa budaya Arab, Afrika dan Eurasia. Seperti manusia serigala cerita rakyat Eropa, werehyena digambarkan sebagai shapeshifters, meskipun tidak seperti manusia serigala yang biasanya digambarkan sebagai manusia awalnya, beberapa pengetahuan werehyena bercerita tentang bagaimana mereka juga dapat menyamar sebagai manusia hyena

sumber: kaskus.us

TIMUR Tengah dan kawasan Arab kini kerap dihindari wisatawan karena rentan konflik politik dan sosial. Padahal, kawasan ini memiliki banyak tempat wisata yang berkembang dari kebudayaan dan peradabannya yang tua.

Simak ulasan beberapa destinasi wisata terbaik di Jazirah Arab, seperti dikutip Ibtimes:

Kota Tua Sanaa, Yaman

Sanaa, Ibu Kota Yaman ini berlimpah dengan monumen kuno serta situs sejarah. Kota ini juga merupakan situs warisan dunia yang menawarkan pesona dunia kuno, siap membawa Anda ke jalan-jalan kotanya yang dikelilingi tembok, bangunan kuno, pasar tradisional, salah satu masjid tertua di dunia, dan banyak lagi. Untuk memelajari budaya Islam melalui arsitekturnya, Anda dapat mengunjungi Masjid Al Saleh yang merupakan masjd terbesar di Yaman.

Selain Sanaa, yang wajib dikunjungi di Yaman adalah Pulau Socotra, terletak 380 kilometer sebelah selatan daratan Yaman. Pulau ini memiliki banyak spesies burung dan tumbuhan yang unik seperti pemandangan di planet lain.

Yordania

Negara yang berbatasan dengan Tepi Barat dan Israel ini berhasil meraih predikat 10 tujuan wisata teratas dunia dengan 16,88 persen suara. Tempat wisata di Yordania mengedepankan wisata sejarah dan arkeologi, dan yang paling terkenal adalah Petra. Petra adalah sebuah kota kuno yang diukir di dinding gunung dan merupakan bagian keajaiban dunia menakjubkan, yang menarik jutaan wisatawan setiap tahunnya.

Sabratha & Leptis Magna, Libya

Sekira 60 kilometer dari sebelah timur Tripoli, terletak sebuah kota Romawi bernama Sabratha. Kota ini memiliki arsitektur Roma kuno yang bersejarah. Kemudian, 130 kilometer dari Ibu Kota Libya, terletak Leptis Magna, sebuah reruntuhan kota kuno. Kedua kota ini merupakan bagian dari sisa-sisa bangsa Romawi terbaik yang masih ada di dunia.

Reruntuhan Carthage, Tunisia

Situs arkeologikal Carthage merupakan kota perdagangan kerajaan Romawi berabad lalu, yang terletak di Tunisia. Reruntuhan ini meliputi pelabuhan, teater, serta pemandian Antonine, pemandian terbesar yang pernah dibuat Bangsa Roma.

Bahrain

Bahrain, terletak di dekat Teluk Persia, memiliki monumen, museum, benteng, dan arsitektur modern yang menggambarkan perkembangan budaya Arab. Bahrain merupakan salah satu negara yang paling sering dikunjungi di wilayah Arab. Situs-situs terkenal yang ada di Bahrain termasuk Benteng Bahrain (Qalat Al Bahrain) yang merupakan situs warisan dunia UNESCO, Museum Nasional Bahrain, dan banyak lagi.

Sumber : http://travel.okezone.com/

Mengenal Sekilas Budaya/Tradisi Masyarakat Arab

Oleh : Khoirul Adib

Dalam batas-batas tertentu, pertemuan antara dunia luar dengan Indonesia lebih berbentuk persaingan, konflik, dan perselisihan daripada saling mengerti, bersahabat, dan kerja sama. Demikian juga antara dunia Arab dengan Indonesia. Bagi kebanyakana orang Indonesia, `Arab` selalu dihubungkan dengan kekayaan, kekerasan, kasar, dan pemarah.

Bagi orang Arab, `Indonesia` selalu dikaitkan dengan kelebihan penduduk, kemiskinan, TKW/TKI dan `nriman`. Pada kedua belah pihak ada prasangka, ketidaktahuan, dan salah informasi. Dan lalu, sebagaimana dunia makin menjadi sempit karena kemajuan komunikasi, ditambah lagi adanya usaha saling memperhatikan yang lebih besar, kontak antara Indonesia dan Arab menjadi semakin berkembang di segala lini kehidupan.

Atas dasar kenyataan di atas, maka bagi setiap orang yang ingin berinteraksi dengan komunitas bangsa lain dalam percaturan global, termasuk dalam rangka tujuan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Makkah, penting untuk memperhatikan hal-hal berikut, antara lain:

1. Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkan oleh lebih dari 200 juta jiwa dan digunakan secara resmi di lebih dari 22 negara. Secara umum bahasa Arab memiliki dua varietas, pertama bahasa Arab Fusha (bahasa Arab standar/baku) dan kedua bahasa Arab `Amiyyah (bahasa Arab pasaran). Varietas yang pertama umumnya digunakan dalam komunikasi resmi seperti dalam sekolah, kantor, seminar, dilpomatik, berita, buku-buku, majalah, dokumen-dokumen resmi dan sebagainya. Sedangkan varietas kedua, sering digunakan untuk keperluan komunikasi atau percakapan sehari-hari oleh warga kebanyakan dari segala kalangan baik yang terpelajar maupun yang buta huruf.

2. Komunikasi bisa berbentuk verbal maupun non-verbal. Porsi komunikasi non-verbal berkisar antara 60 persen (dalam budaya Barat) hingga 90 persen (dalam budaya Timur) dari keseluruhan komunikasi. Komunikasi verbal digunakan untuk menyampaikan gagasan, informasi atau pengetahuan, sedangkan komunikasi non-verbal digunakan untuk mengungkapkan perasaan. Fakta, peristiwa, ciri-ciri sesuatu lebih mudah kita ungkapkan lewat kata-kata, tetapi emosi seperti rasa sayang, rasa kagum, keterpesonaan, rasa jengkel, rasa benci, atau bahkan kemarahan seseorang tidak jarang diungkapkan lewat isyarat tangan, sentuhan, postur tubuh, nada suara, pandangan mata, ekspresi wajah tertentu, jarak berbicara, penggunaan waktu, peggunaan benda tertentu (busana, interior rumah, kendaraan, perhiasan, jam tangan, dasi, dsb.), bau-bauan dsb. Sepengetahuan saya, pola komunikasi orang Arab pada umumnya termasuk salah type komunikasi yang amat ekspressif yang memadukan antara bahasa verbal dengan non-verbal sekaligus, seperti dengan mimik, gesture, dan pendukung non-verbal lainnya guna mayakinkan lawan bicaranya.

3. Meskipun warga Arab Saudi umumnya beragama Islam (mungkin 100%), ini tidak berarti bahwa cara dan etika mereka dalam berkomunikasi selalu santun seperti diajarkan Al-quran dan Sunnah. Sebagian dari cara mereka berkomunikasi bersifat kultural semata-mata. Ini penting dipahami oleh orang-orang yang akan berziarah/berkunjung ke Arab Saudi baik untuk menunaikan ibadah umrah dan haji, apalagi untuk bekerja sebagai diplomat, pebisnis, pegawai, teknisi, perawat, TKI atau TKW untuk mengatasi mis-komunikasi (kesalahpahaman) dan konflik yang mungkin akan mereka/kita alami ketika berhubungan dengan orang Arab, karena bagaimanapun mereka akan lebih banyak berkomunikasi dengan warga pribumi.

4. Gaya komunikasi orang Arab, seperti gaya komunikasi orang-orang Timur Tengah umumnya, bebeda dengan pembicara orang-orang Barat (Amerika atau Jerman) yang berbicara langsung dan lugas. Dengan kata lain, orang Arab masih tidak berbicara apa adanya, masih kurang jelas dan kurang langsung. Umumnya orang Arab suka berbicara berlebihan dan banyak basi-basi (mujamalah). Misalnya, bila seorang Saudi bertemu temannya, maka untuk sekedar tanya kabar, tak cukup sekali dengan satu ungkapan, tapi berkali-kali. Disamping itu bila seorang Saudi mengatakan tepat seperti yang ia maksudkan tanpa pernyataan yang diharapkan, orang Saudi lainnya masih mengira yang dimaksudkannya adalah kebalikannya. Kata sederhana `La` (dalam bahasa Arab `Tidak`) yang diucapkan tamu tidaklah cukup untuk menjawab permohonan pribumi agar tamu menambah makan dan minum. Agar pribumi yakin bahwa tamunya memang betul-betul sudah kenyang, tamu itu harus mengulangi `La` beberapa kali, ditambah dengan sumpah seperti `Demi Allah` (`Wallah`).

5. Masih banyak isyarat non-verbal khas Arab lainnya yang berbeda makna dengan isyarat non-verbal ala Indonesia. Misalnya, sebagai pengganti kata-kata, `Tunggu sebentar!` atau `Sabar dong!` ketika dipanggil atau sedang menyeberangi jalan (sementara kendaraan datang mendekat), orang Arab akan menguncupkan semua jari-jari tangannya dengan ujung-ujungnya menghadap ke atas. Ketika bertemu dengan kawan akrab, mereka terbiasa saling merangkul seraya mencium pipi mitranya dengan bibir. Ini suatu perilaku yang dianggap nyeleneh oleh orang lain umumnya, bahkan mungkin juga oleh orang Indonesia. Orang lain yang tidak memahami budaya Arab akan menganggap perilaku tersebut sebagai perilaku homoseksual. Walhasil, jika kita bersama orang Arab, kita harus tahan berdekatan dengan mereka. Bila kita menjauh, orang Arab boleh jadi akan tersinggung karena Anda menyangka bahwa kehadiran fisiknya menjijikkan atau kita dianggap orang yang dingin dan tidak berperasaan. Begitu lazimnya orang Arab saling berdekatan dan bersentuhan sehingga senggol menyenggol itu hal biasa di mana pun di Arab Saudi yang tidak perlu mereka iringi dengan permintaan maaf.

6. Sejak kanak-kanak orang Arab dianjurkan untuk mengekspresikan perasaan mereka apa adanya, misalnya dengan menangis atau berteriak. Orang Arab terbiasa bersuara keras untuk mengekspresikan kekuatan dan ketulusan, apalagi kepada orang yang mereka sukai. Bagi orang Arab, suara lemah dianggap sebagai kelemahan atau tipu daya. Tetapi suara keras mereka boleh jadi ditafsirkan sebagai kemarahan oleh orang yang tidak terbiasa mendengar suara keras mereka. Maka pasti akan banyak yang mengira, kalau bicaranya seperti marah ketika seorang pegawai Arab misalnya, sedang memeriksa paspor, iqamah, dsb. Saya menduga banyak TKI/TKW di Arab Saudi yang belum memiliki pemahaman memadai tentang bahasa Arab boleh jadi mengidentikkan suara majikan mereka yang keras itu dengan kemarahan, meskipun majikan itu sesungguhnya tidak sedang marah. Sebaliknya, senyuman wanita kita (termasuk TKW) kepada orang Arab/majikan pria mereka yang mereka maksudkan sebagai keramahtamahan atau kesopanan, boleh jadi dianggap sebuah `godaan` oleh majikan pria mereka. Kesalahpahaman antarbudaya semacam ini, bisa tidak terhindarkan meskipun majikan dan TKW sama-sama Muslim. Mungkinkah problem TKW di Arab Saudi seputar terjadinya pelecehan seksual sebagaimana sering kita baca atau dengar, seperti kasus; `majikan Arab memerkosa atau menghamili TKW` dsb berkaitan dengan kesalahpahaman antarbudaya ini? Bisa jadi.

7. Budaya/tradisi Arab mementingkan keramahtamahan terhadap tamu, kemurahan hati, keberanian, kehormatan, dan harga-diri. Nilai kehormatan orang Arab terutama melekat pada anggota keluarganya, khususnya wanita, yang tidak boleh diganggu orang luar. Di Arab Saudi wanita adalah properti domestik. Di Saudi, adalah hal yang lazim jika seorang pria tidak pernah mengenal atau bahkan sekadar melihat wajah istri atau anak perempuan dari sahabatnya, meskipun mereka telah lama bersahabat dan sering saling mengunjungi. Juga tidak lazim bagi seorang pria untuk memberi bingkisan kepada istri sahabat prianya itu atau anak perempuannya yang sudah dewasa. Karena itu saran saya, tak usahlah kita coba-coba sok ramah, berlama-lama memandang, apalagi menggoda atau mengganggu.

8. Aturan/rambu-rambu lalu lintas yang berlaku di Arab Saudi berbeda 180º dengan aturan yang berlaku di negara kita. Di Indonesia, setiap pengguna jalan umum baik kendaraan pribadi maupun kendaraan/angkutan umum semua wajib berada di jalur kiri jalan (dan letak roda kemudi mobil berada di bagian kanan). Demikian pula waktu menaikkan atau menurunkan penumpang semua berada di jalur kiri. Karena itu penumpang di Indonesia jika ingin turun dari kendaraan umum, biasanya mereka bilang `Kiri Pak Sopir !`. Hal ini berbeda sama sekali dengan apa yang berlaku di Arab Saudi, semua pengguna jalan termasuk waktu menaikkan maupun menurunkan penumpang berada di jalur sebelah kanan jalan. Demikian pula waktu menaikkan maupun menurunkan penumpang, mereka wajib menepi ke sebelah kanan jalan. Apa jadinya jika tradisi lalu-lintas di negeri sendiri ini tetap `kita pertahankan dan kita bawa` saat kita berada di Arab Saudi? Sebuah features yang dimuat di sebuah surat kabar Arab Saudi (1999) pernah penulis baca: `Tingginya frekwensi kecelakaan lalu-lintas yang menimpa sopir pemula asal Indonesia, diduga karena perbedaan rambu-rambu lalu-lintas yang berlaku di Arab Saudi. Sementara kecelakaan yang menimpa warga pribumi Saudi, umumnya menimpa remaja usia 15-25 tahun disebabkan ugal-ugalan`.

9. Ada kesan, pandangan orang Saudi terhadap warga negara Indonesia agak `stereotif`. Diantara bangsa-bangsa yang datang berkunjung ke Saudi Arabia apapun motif dan tujuannya, orang-orang asal Indonesia termasuk yang paling mudah diidentifikasi, baik dari segi fisik (sebagaimana umumnya orang Asia Tenggara, orang Indonesia termasuk kelompok bangsa yang berfisik tidak tinggi dan tidak besar), segi pakaian maupun cara berjalan. Mungkin karena begitu banyaknya saudara-saudara kita yang muqim di Saudi baik sebagai TKI maupun TKW, maka kesan pukul rata (generalisasi) itu tidak jarang menimpa saudara kita jama`ah haji. Karena itu tidak usah dimasukkan di dalam hati jika suatu ketika ada di antara kita yang `disangka TKI/TKW` dan merasa kurang `dihargai` sebagai tamu Allah oleh orang Saudi ketika kita sedang di Arab Saudi, terutama di saat kita berjalan-jalan tanpa kostum atau identitas jama`ah haji.

10. Bagi orang Saudi, rumah betul-betul menjadi bagian privacy yang tak semua orang bisa mengakses ke dalam dengan mudahnya, sebagaimana kebiasaan kita di Indonesia. Desain rumah yang umumnya `hanya` berbentuk segi empat bertingkat seolah-olah menggambarkan bangunan sebuah benteng yang sulit ditembus. Faktanya memang benar, setiap rumah selalu ditutup dengan pagar tembok tinggi, dengan pintu gerbang bisa berlapis-lapis. Apa yang ada di balik tembok adalah sebuah privacy yang tidak boleh dikonsumsi oleh publik. Karena itu saya menyarankan untuk tidak tengak-tengok atau tolah-toleh mengamati pintu di depan rumah orang Saudi atau sekedar melihat-lihat bangunan bagian atas. Sebab, umumnya mereka sangat tidak respek dengan perilaku seperti ini, bisa jadi mereka mengira kalau orang itu adalah `harami` alias `maling` atau penculik yang sedang mengintai mangsa.

11. Tak lama setelah saya muqim di Mekkah, suatu sore saya berjalan-jalan di kawasan pertokoan di Mekkah dengan seorang kawan laki-laki dari Indonesia (asal Gondanglegi – Malang). Sebagaimana kebiasaan di Indonesia saya dan kawan saya berjalan bergandeng tangan sambil melihat-lihat barang yang ada di sepanjang pertokoan tersebut. Begitu melintasi salah satu toko yang dijaga oleh orang Arab, tiba-tiba kami ditegur si penjaga toko: `Isy fak inta ya walad !…inta luthy walla eh,….haza aib, ya walad…` (apa yang kau lakukan itu, nak…kamu homo apa bagaimana? Itu aib..). Wah…saya baru tahu, ternyata bergandengan tangan dengan sesama jenis di Saudi itu termasuk `aib` menurut mereka, sebab bisa dianggap sebagai pasangan homo, tetapi jika yang bergandengan tangan itu berlainan jenis (sebagaimana yang pernah saya lihat) ternyata biasa-biasa saja, sebab `diduga` itu pasangan suami istri.

12. Busana orang Saudi hampir semua sama. Mereka semua memakai pakaian putih yang biasa disebut `tsaub` dengan sorban motif kotak-kotak kecil berwarna putih-merah plus diikat dengan `igal` di kepala. Performance orang Saudi yang demikian wibawa seringkali membuat orang-orang Indonesia yang baru melihat atau mengenalnya menjadi ciut nyali, minder, kurang percaya diri bahkan tak jarang yang menjadi takut, sehingga menimbulkan adanya semacam jarak pemisah yang membatasi dalam pergaulan. Akibat berikutnya yang biasanya menimpa adalah adanya perasaan rendah diri di dalam perasaan orang-orang Indonesia ketika berhadap-hadapan dengan orang Saudi. Hal semacam ini seharusnya tidak perlu terjadi, mengingat tak ada yang membedakan antara Arab maupun bukan Arab, kecuali hanya taqwanya. Saya menduga, kultur Jawa yang melekat kuat mengiternalisasi di dalam pribadi orang-orang kita kebanyakan, yang biasanya terkenal sebagai orang yang nriman, ngalah, dan rendah hati memberi andil yang kuat terhadap munculnya perasaan rendah diri di hadapan bangsa lain seperti ini. Dalam kasus-kasus tertentu kelemahan seperti ini justru `dimanfaatkan` oleh oknum orang Saudi untuk mem-pressure, menganiaya bahkan memperbudak saudara-saudara kita di Saudi. Idealnya kita tetap harus merasa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, dengan tetap menjunjung tinggi etika pergaulan global yang egaliter dan jauh dari sifat arogan.

13. Sesungguhnya di berbagai tempat-tempat pelaksanaan ibadah haji (seperti di Mina, Arafah apalagi di Haram) telah dipasang tulisan larangan keras mengambil foto. Namun umumnya, para jama`ah haji lebih-lebih saudara-saudara kita jama`ah Haji asal Indonesia, selalu berusaha dengan cara mencuri-curi mengabadikan momentum-momentum tersebut dengan camera dgtl, handycam, HP maupun foto. Alasan pelarangan tersebut, tak lain karena hal-hal semacam itu sangat berpotensi mengurangi keikhlasan di dalam melakukan ibadah haji. Oleh karenanya, menjadi tugas kita bersama untuk menanamkan pemahaman bagi saudara-saudara kita jama`ah calon hati, agar hati betul-betul harus terjaga, agar semua itu tidak menjerumuskannya ke dalam perilaku `riya“

Alhasil, aspek pengenalan dan pemahaman terhadap budaya masyarakat Arab Saudi yang sesungguhnya tidak terkait langsung dengan rukun dan wajib haji merupakan elemen penting yang menjadi pendukung terlaksananya kesempurnaan ibadah haji. Semakin kita memahami budaya/tradisi masyarakat Arab tempat kita bertamu ke `baitullah` idealnya akan semakin berpengaruh terhadap kenyamanan, ketenangan dan akhirnya kekhusu`an ritual haji kita yang berujung pada tercapainya haji mabrur. Amin. Wallahu Waliyyuttaufiq.

Sumber : http://www.mihrabqolbi.com