Archive for the ‘ANTROPOLOGI’ Category

PENGANTAR ANTROPOLOGI

Posted: 8 Agustus 2010 in ANTROPOLOGI, ILMU BUDAYA
Tag:

Istilah ilmu Antropologi Berasal dari kata antropos dan logos, Antropos: Manusia dan Logos:kata atau kajian
atau Antropologi adalah kajian tentang manusia dam masyarakat, baik yang masih hidup, maupun yang sudah mati, yang berkembang maupun yang punah.

Cabang dari antropologi:
• -antropologi fisik: berupaya memahami cara mns berevolusi dari nenek moyang mereka yang hominid (primata dari keluarga hominidae) slm bbrp juta tahun terakhir sekaligus mempelajari sejauhmana manusia mempunyai kesamaan karakter genetika dengan primata lain, seperti kera besar, gorila dan simpanse.

• Arkeologi: meneliti berbagai bentuk organisasi sosial dan budaya yang berbeda yang menjadi ciri khas manusia dari waktu ke waktu
• Memperoleh data dengan menggali situs-situs pemukiman masa lampau.
• Candika= maut
• Kamboja : Angkor Wat

• Antropologi Linguistik
• Memahami bagaimana penggunaan bahasa dalam sebuah konteks ttt bisa menjelaskan hubungan sosial atau politik diantara orang-orang yang diselidiki.
• Tingkatan: ngoko
• Tingkatan yang lebih tinggi: krama
• Tingkatan tertinggi: krama inggil

• Bapak nembe/saweg sare
• Bapak nembe tindak
• Bapak nembe tilem :kurang tepat
• Bapak lagi turu: kurang tepat
• Makasar:
• Batu kemaeki: darimana?
• AKKanrei’: kebakaran

• Contoh:
• Bune haba

• Antropologi sosial dan budaya: studi ttg organisasi-organisasi budaya dan sosial dari manusia yang masih hidup
• Apa beda antrologi sosial dan soiologi?
• -fokus antropologi: masyarakat non industri.
• Ahli sosiologi: masyarakat industri.

• Metode riset sosiologi: menganalisa tren2 umum yang terjadi di masyarakat.
• Antropologi: menerapkan kajian cermat dan terperinci ttg komunitas-komunitas atau sub budaya: observasi partisipatif (participant observation)
• Ahliantropologi: tinggal berbulan2 bahkan bertahun 2 dengan orang yang mereka teliti. Utk mempelajari cara kerja suatu komunitas..

• Mencatat apa aktivitas mereka, kebiasaan, bertanya, melebur ke dalam budaya mereka
• ETNOGRAFI: proses pencatatan dan analisa data yang diperoleh berdasarkan pengamatan

• Budaya
• Kata budi mengandung arti:
• 1. akal, dalam arti “batin” untuk menimbang baik dan buruk, benar dan tidak
• 2. tabiat, watak,akhlak, perangai
• 3. kebaikan, perbuatan baik, dlm bhs jawa: budi luhur
• 4. daya upaya, ikhtiar, dalam bahasa Jawa: mangulir budi.

• Kata daya mengandung arti:
• 1. kekuatan, tenaga dalam bhs Jawa: Dayaning batin
• 2. pengaruh: dalam bhs Jawa; daya pangaribawa
• 3. jalan/cara, ikhtiar: Jawa: daya upata

• Pengertian yang baru (jarwodosok) budaya:
• “kekuatan batin dalam daya upayanya menuju kebaikan” atau “kesadaran batin menuju kebaikan”.
• Koentjaraningrat: kata budaya berasal dari buddhayah : arti: “hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal”

Wujud kebudayaan

• Tiga wujud kebudayaan:
• 1. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma, peraturan dsb.
• 2. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakukan berpola dari manusia dlm masy: sistem sosial
• 3. benda-benda hasil karya manusia

• Unsur-unsur universal kebudayaan:
• 1. sistem religi dan upacara keagamaan
• 2. sistem dan org. kemasyarakatan
• 3. sistem pengetahuan
• 4. bahasa
• 5. kesenian
• 6. sistem matapencaharian hidup
• 7. sistem teknologi dan peralatan

Ruang Lingkup dan Perkembangan Antropologi

Antropologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari umat manusia (anthropos). Secara etimologi, antropologi berasal dari kata anthropos berarti manusia dan logos berarti ilmu. Antropologi memandang manusia sebagai sesuatu yang kompleks dari segi fisik, emosi, sosial, dan kebudayaannya. Antropologi sering pula disebut sebagai ilmu tentang manusia dan kebudayaannya.

Antropologi mulai dikenal banyak orang sebagai sebuah ilmu setelah diselenggarakannya simposium International Symposium on Anthropologi pada tahun 1951, yang dihadiri oleh lebih dari 60 tokoh antropologi dari negara-negara di kawasan Ero-Amerika dan Uni Soviet. Simposium ini menghasilkan buku antropologi berjudul “Anthropology Today” yang di redaksi oleh A.R. Kroeber (1953), “An Appraisal of Anthropology Today” yang di redaksi oleh S. Tax, dkk. (1954), “Yearbook of Anthropology” yang di redaksi oleh W.L. Thomas Jr. (1955), dan “Current Anthropology” yang di redaksi oleh W.L. Thomas Jr. (1956). Setelah simposium ini, di beberapa wilayah berkembang pemikiran-pemikiran antropologi yang bersifat teoritis, sedangkan di wilayah yang lain antropologi berkembang dalam tataran fungsi praktisnya.

Dilihat dari perkembangannya, sejarah antropologi dapat dibagi ke dalam 5 fase yaitu fase pertama bercirikan adanya bahan-bahan deskripsi suku bangsa yang ditulis oleh para musafir, penjelajah dan pemerintah jajahan. Fase kedua, sampai fase keempat merupakan kelanjutannya di mana antropologi semakin berkembang baik mencangkup teori maupun metode kajiannya. Fase ke lima merupakan tahap terbaru yang menunjukkan perkembangan antropologi setelah tahun 1970-an.

Menurut Kontjaraningrat, antropologi di Indonesia hampir tidak terikat oleh tradisi antropologi manapun dan belum mempunyai tradisi yang kuat. Oleh karena itu seleksi dan kombinasi dari beberapa unsur atau aliran dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan masalah-masalah kemasyarakatan yang dihadapi.

Cabang Ilmu Antropologi dan Hubungannya dengan Ilmu Sosial lainnya

Ruang lingkup dan kajian antropologi memfokuskan kepada lima masalah di bawah ini, yaitu:

  1. masalah sejarah asal dan perkembangan manusia dilihat dari ciri-ciri tubuhnya secara evolusi yang dipandang dari segi biologi;
  2. masalah sejarah terjadinya berbagai ragam manusia dari segi ciri-ciri fisiknya.
  3. masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya beragam kebudayaan di dunia;
  4. masalah sejarah asal, perkembangan, serta penyebaran berbagai macam bahasa di seluruh dunia;
  5. masalah mengenai asas-asas kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat-masyarakat suku bangsa di dunia.

Berdasarkan penggolongan masalah tersebut, ilmu antropologi terbagi ke dalam 5 cabang ilmu yaitu:

  1. Paleoantropologi
  2. Antropologi Fisik
    Keduanya lebih dikenal sebagai Antropologi Fisik dalam arti “luas”
  3. Prasejarah
  4. Etnolinguistik
  5. Etnologi
    Ketiga terakhir secara luas dikenal dengan sebutan Antropologi Budaya atau Antropologi Sosial.

Spesialisasi yang terjadi pada bidang antropologi memungkinkan terjadinya kerja sama antarbidang ilmu, yaitu antropologi dan bidang lain. Sosiologi menjadi salah satu bidang ilmu yang paling erat dengan antropologi karena dianggap banyak persamaannya. Di beberapa universitas kedua ilmu itu telah dilebur menjadi satu jurusan saja yaitu jurusan antropologi-sosiologi atau sosiologi-antropologi. Keterkaitan antara antropologi dengan beberapa bidang ilmu lainnya, di antaranya adalah dengan ilmu administrasi, Ilmu Politik, Ilmu Sejarah, dan psikologi.


TEORI EVOLUSI DAN PERKEMBANGANNYA
Teori Evolusi dan Antropologi

Teori Evolusi dan Antropologi Masa Kini

Pemikiran evolusi multi-linear muncul dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pemikiran evolusi unilinear, ketika dihadapkan pada bahan-bahan etnografi yang ada, pada kasus-kasus tertentu ternyata tidak berlaku universal. Sehubungan dengan fakta ini maka dikembangkanlah konsep inti kebudayaan untuk menjelaskan garis-garis spesifik perkembangan dalam masyarakat atau kelompok masyarakat. Pokok pikiran dari teori evolusi multi-linear adalah bahwa bagi kebudayaan yang memiliki inti kebudayaan yang kurang lebih sama akan berevolusi mengikuti suatu rangkaian evolusi yang sama meskipun berbeda dalam detil spesifiknya. Dalam rangka menjelaskan asal mula terjadinya aneka ragam masyarakat dan kebudayaan manusia di seluruh belahan dunia, selain dikenal adanya teori evolusi juga dikenal adanya teori difusi. Menurut pemikiran difusionisme, kebudayaan manusia itu pangkalnya adalah satu dan di suatu tempat tertentu, yaitu pada waktu manusia baru saja muncul di dunia. Kemudian kebudayaan induk tersebut berkembang dan menyebar ke dalam banyak kebudayaan baru dikarenakan pengaruh lingkungan hidup, alam, dan waktu.

Pemikiran darwinisme dan pemikiran evolusionisme pada akhirnya mengalami perkembangan yang memunculkan pemikiran neo-darwinisme dan neo-evolusionisme. Neo-darwinisme berpendapat bahwa masyarakat dan kebudayaan manusia adalah perpanjangan (berasal) dari makhluk hewan yang berwujud manusia – yang berevolusi. Sementara itu di lain pihak neo-evolusionisme berpendapat bahwa evolusi tidak harus selalu diartikan atau disamakan dengan kemajuan, seperti dari kondisi sederhana menjadi kompleks. Perbedaan kedua pemikiran ini menunjukkan apa sesungguhnya manusia, dan perbedaannya dengan makhluk yang lainnya.



TEORI STRUKTURALISME DAN PERKEMBANGANNYA

Fungsionalisme dan Struktural-Fungsionalisme

Dalam menganalisis masyarakat dan kebudayaan umat manusia, salah satu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fungsionalisme dan struktural fungsionalisme. Pendekatan ini muncul didasari oleh pemikiran bahwa manusia sepanjang hayatnya dipengaruhi oleh pemikiran dan tindakan orang lain di sekitarnya, sehingga manusia tidak pernah seratus persen menentukan pilihan tindakan, sikap, atau perilaku tanpa mempertimbangkan orang lain. Teori fungsionalisme dikembangkan oleh Bronislaw Malinowski, yang banyak mendapat pengaruh dari ilmu psikologi. Dia mengembangkan teori fungsi kebudayaan, melalui kajiannnya yang sangat terkenal yaitu sistem kula pada masyarakat Trobiand. Berdasarkan kajiannya dia menyimpulkan bahwa setiap unsur kebudayaan mempunyai fungsi sosial terhadap unsur-unsur kebudayaan lainnya.

Di lain pihak, Radcliffe-Brown dalam mengkaji gejala sosial yang ada di masyarakat menawarkan konsep struktur sosial. Menurutnya masyarakat adalah sistem sosial yang mempunyai struktur seperti halnya molekul atau organisma. Kajian yang menggunakan konsep struktur sosial ini juga dilakukan oleh Raymond Firth, Evans-Pritchard, dan Fortes.

Strukturalisme: Kritik dan Perkembangannya

Claude Levi Strauss adalah tokoh dari teori strukturalisme. Sumbangan yang paling dikenal dari Levi Staruss adalah pemikirannya dalam teori oposisi binar. Dalam rangka menjelaskan teori oposisi binar ini, dia mengupas masalah segi tiga kuliner yaitu kajian tentang makanan. Selain itu Levi Strauss juga tertarik dengan masalah kekerabatan dan mengkaji masalah sistem pertukaran dalam kekerabatan. Dalam perkembangannya ternyata pendekatan struktural fungsional dianggap tidak cukup memadai digunakan untuk mengkaji masyarakat modern. Oleh karena itu muncul pendekatan jaringan sosial, yang dianggap lebih mampu menjelaskan gejala sosial yang ada di masyarakat. Analisis jaringan sosial ini menekankan pada analisis situasional, di mana tindakan sosial, perilaku, dan sikap seorang manusia dianggap tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungannya.

Dalam rangka menjelaskan pentingnya konsep jaringan sosial, para ahli membedakan antara penggunaan ide jaringan sosial sebatas metaforikal dan sebagai konsep analitikal. Di dalam realita kehidupan, jaringan hubungan sosial ini sangat kompleks dan saling tumpang tindih atau saling memotong. Untuk itu maka dibedakan antara jaringan total dengan jaringan partial. Sementara itu bila ditinjau dari tujuan hubungan sosial yang membentuk jaringan sosial maka dibedakan atas jaringan interes, jaringan sentiment, dan jaringan power.

ETNOGRAFI
Pengertian, Konsep dan Teknik

Etnografi adalah metode yang lazim digunakan dalam penelitian antropologi. Penelitian etnografi ini mensyaratkan dilakukannya penelitian lapangan di mana peneliti bertindak sebagai orang yang sedang mempelajari suatu kebudayaan. Dalam melakukan penelitian etnografi, peneliti harus menguasai secara baik konsep-konsep dan teknik-teknik yang akan digunakannya. Di samping itu untuk memperoleh data yang obyektif maka peneliti harus tinggal di dalam komunitas yang ditelitinya. Pada periode kajian antropologi klasik, metode etnografi digunakan untuk meneliti masyarakat sederhana. Akan tetapi metode etnografi ini telah mengalami evolusi besar, di mana dewasa ini metode etnografi bisa juga diterapkan untuk meneliti masyarakat kompleks. Dalam meneliti masyarakat kompleks, peneliti akan memulainya dengan mengambil satu atau lebih culture scene sebagai fokus kajian. Di samping itu penelitian pada masyarakat kompleks juga mulai menggunakan teknik-teknik penelitian lainnya seperti teknik survei. Sementara itu teknik analisis jaringan sosial lazim digunakan untuk meneliti masyarakat kompleks dalam rangka mendeskripsikan pola-pola hubungan.

Penelitian Etnografi pada Masyarakat Kompleks

Masyarakat kompleks adalah masyarakat yang mempunyai karakteristik terbuka, besar dan cenderung heterogen. Dengan demikian maka kebudayaan masyarakat kompleks tidak mewakili cara pandang hidup total dari warganya. Kebudayaan masyarakat kompleks merupakan kelompok-kelompok kebudayaan yang saling tumpang tindih. Untuk itu dalam meneliti kebudayaan pada masyarakat kompleks kita harus menentukan satu atau lebih culture scene sebagai fokus penelitian. Pengumpulan data penelitian pada masyarakat kompleks selain menggunakan metode etnografi juga digunakan teknik survei untuk mendapatkan gambaran umum dari subyek yang ditelitinya. Di samping itu penelitian pada masyarakat kompleks juga menggunakan metode analisis jaringan sosial. Analisis jaringan sosial sendiri digunakan untuk mendeskripsikan pola-pola hubungan antara satu orang atau satu pihak dengan orang atau pihak yang lainnya. Analisis jaringan sosial dilakukan dengan cara menentukan alpha sebagai titik sentral jaringan yang kemudian diperlebar pada para alter.


KEBUDAYAAN
Pengertian dan Karakteristik Kebudayaan

Terdapat dua pendekatan dalam mempelajari kebudayaan yaitu pendekatan ideasional dan pendekatan behaviorisme. Kedua pendekatan ini memandang kebudayaan melalui kacamata yang berbeda. Pendekatan ideasional melihat kebudayaan sebagai sistem kognitif, sementara pendekatan behaviorisme melihat kebudayaan sebagai sistem adaptif. Kedua pendekatan ini melahirkan sejumlah pengertian kebudayaan, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli. Melalui kedua pendekatan ini maka wujud kebudayaan dapat dilihat sebagai sistem ide/gagasan, sistem perilaku, dan artefak. Sementara itu dalam melihat dan memahami kebudayaan kita harus mengacu pada sejumlah karakteristik kebudayaan. Karakteristik kebudayaan tersebut antara lain adalah bahwa kebudayaan itu dimiliki bersama, diperoleh melalui belajar, bersifat simbolis, bersifat adaptif dan maladapti, bersifat relatif dan universal.

Tujuh Unsur Kebudayaan Universal

Setiap kebudayaan di manapun akan mengandung unsur-unsur kebudayaan yang terdiri dari tujuh unsur yaitu sistem pengetahuan (kognitif), kekerabatan, sistem teknologi dan peralatan hidup, sistem religi, sistem mata pencaharian hidup, bahasa dan kesenian. Antara unsur satu dan lainnya akan saling berkaitan tidak dapat berdiri sendiri. Isi dari setiap unsur kebudayaan akan berbeda antara kebudayaan satu dari yang lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya faktor geografis. Setiap isi dari unsur kebudayaan tidak bersifat statis tetapi akan berubah sesuai dengan tingkat kebutuhan dan proses adaptif yang diperlukan. Sebab pada dasarnya kebudayaan berfungsi mempermudah kehidupan manusia.

Di samping itu terdapat beberapa aspek dari kebudayaan, yaitu integrasi kebudayaan, fokus kebudayaan, dan etos kebudayaan. Aspek-aspek kebudayaan ini juga menjelaskan pada kita bagaimana rupa dan fungsi dari kebudayaan masyarakat tersebut.



KEHIDUPAN KOLEKTIF ATAU MASYARAKAT

Pengertian, Konsep dan Bagian-Bagian Masyarakat

Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang berkesinambungan dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Sedangkan komunitas adalah suatu kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah yang nyata dan yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat serta yang terikat oleh suatu rasa identitas komunitas. Jadi penekanannya lebih pada wilayah. Kata “masyarakat” berasal dari akar kata syaraka yang berarti “ikut serta, saling bergaul”. Dalam bahasa Arab istilah untuk masyarakat yang bermakna sama dengan bahasa Indonesia “berkumpul” adalah mujtama.

Dalam suatu masyarakat terdapat juga bagian-bagian yang berupa kesatuan-kesatuan manusia dengan ciri-ciri pengikat yang berbeda sesuai dengan kepentingannya. Kerumunan (crowd) dan kategori sosial merupakan kesatuan manusia yang tidak dapat disebut masyarakat karena tidak memiliki empat faktor pengikat, sedangkan kelompok dan komunitas dapat disebut masyarakat karena memiliki faktor tersebut. Empat faktor pengikat masyarakat yaitu ada interaksi antaranggota; adat istiadat dan norma-norma yang mengatur perilaku; berkesinambungan; serta memiliki satu rasa identitas yang kuat.

Interaksi dan Pranata Sosial dalam Kehidupan Masyarakat

Interaksi merupakan salah satu faktor pengikat masyarakat. Interaksi ini merupakan tindakan individu dalam menjalani kehidupannya. Dalam berinteraksi ini pranata merupakan faktor utama yang mewadahi sistem-sistemnya. Pranata merupakan sistem aturan (norma khusus) yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap untuk memenuhi suatu keperluan khusus dari manusia dalam masyarakat. Ada 8 klasifikasi pranata yang sifatnya tidak terlalu baku. Artinya pranata-pranata tersebut masih dapat berkembang sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakatnya. Semakin kompleks masyarakatnya maka akan semakin beragam pranatanya. Di samping itu pranata tidak hanya lahir dari dalam masyarakat yang bersangkutan, tetapi juga dari luar masyarakat yang bersangkutan. Dalam masyarakat juga dikenal adanya peranan sosial, struktur sosial dan jaringan sosial.



PERUBAHAN KEBUDAYAAN

Teori dan Mekanisme Perubahan Kebudayaan

Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan kebudayaan yang banyak menjadi perhatian para ahli antropologi adalah adanya penemuan baru dan gejala persebaran unsur-unsur kebudayaan. Untuk mengenali karakteristik unsur kebudayaan dan perubahan kebudayaan terdapat beberapa teori di antaranya adalah teori evolusi dan difusi. Teori evolusi menggambarkan bahwa perubahan kebudayaan terjadi secara perlahan-lahan dan bertahap. Setiap masyarakat mengalami proses evolusi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, masing-masing masyarakat menunjukkan kebudayaan yang berbeda-beda. Salah satu masyarakat dikenal telah maju, sedangkan masyarakat yang lain masih dianggap atau tergolong sebagai masyarakat yang belum maju. Teori difusi memberi ilustrasi lain bahwa perubahan kebudayaan terjadi karena adanya proses pengaruh mempengaruhi dari kebudayaan yang satu terhadap kebudayaan lainnya. Persamaan unsur kebudayaan pada masyarakat yang berbeda dianggap bukan sebagai hasil dari proses evolusi tetapi karena adanya kontak atau hubungan yang terjadi pada masa lampau dari kedua atau lebih masyarakat yang memiliki kesamaan kebudayaan tersebut. Perubahan kebudayaan terjadi melalui mekanisme yang berbeda-beda. Suatu kebudayaan masyarakat akan berubah melalui mekanisme adanya inovasi atau penemuan baru dalam masyarakat itu sendiri. Sedangkan mekanisme lainnya dapat terjadi melalui proses difusi, akulturasi, culture loss, genocide, dan perubahan terencana (direct change).

Modernisasi dan Kondisi Masyarakat Mendatang

Modernisasi merupakan fenomena dunia yang dijadikan “alat” untuk mengejar ketinggalan dan memperoleh kemajuan tertentu yang pernah atau sudah diraih oleh negara maju. Dengan demikian sejumlah negara atau bangsa yang tidak melaksanakan modernisasi dianggap akan menjadi negara atau bangsa yang semakin tertinggal bahkan akan dikuasai oleh negara atau bangsa yang lebih berpengaruh. Modernisasi di Barat didahului oleh komersialisasi dan industrialisasi, sedangkan di negara non-Barat, modernisasi didahului oleh komersialisasi dan birokrasi. Modernisasi menurut Reinhart Bendix (1964) adalah seluruh perubahan sosial politik yang menyertai industrialisasi. Industrialisasi didefinisikannya sebagai pembangunan ekonomi melalui transformasi sumber daya dan kuantitas energi yang digunakan. Makna dari esensi modernisasi adalah sejenis tatanan sosial modern atau yang sedang berada dalam proses menjadi modern..

Beberapa ciri-ciri aspek kemodernan adalah berkenaan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut, setidaknya mengenai produksi dan konsumsi secara tetap; kadar partisipasi rakyat dalam pemerintahan yang memadai; difusi norma-norma sekuler-rasional dalam kebudayaan; peningkatan mobilitas dalam masyarakat; transformasi kepribadian individu, sehingga dapat berfungsi secara efektif dalam tatanan sosial yang sesuai dengan tuntutan kemodernan.

Globalisasi dicirikan dengan lahirnya perjanjian perdagangan bebas yang disepakati oleh beberapa negara seperti WTO (World Trade Organization), GATT (General Agreement on Tariffs and Trade), dan AFTA (Asia Facific Trade Associations). Perjanjian yang disepakati tersebut adalah bahwa para produsen memiliki kebebasan untuk memasarkan produknya ke negara-negara di seluruh dunia, paling tidak bagi negara-negara pendukung perdagangan bebas. Sebuah negara tidak memiliki kontrol secara penuh terhadap pengaruh masuknya produk dari luar. Keberadaan perusahaan transnasional seperti Toyota, McDonald, dan lain-lain yang terdapat di satu negara di luar negara asal perusahaan tersebut merupakan indikasi gejala globalisasi.

Religi

Religi merupakan salah satu unsur universal dari kebudayaan. Karakteristik utama religi adalah kepercayaan pada makhluk dan kekuatan supranatural. Masyarakat di dunia memiliki beragam konsepsi tentang makhluk supranatural, namun pada dasarnya dapat diklasifikan atas tiga kategori yaitu dewa-dewi, arwah leluhur, dan makhluk supranatural lain/bukan manusia. Makhluk-makhluk supranatural itu dianggap menguasai dunia atau bagian tertentu dari dunia. Selain keyakinan akan adanya makhluk dan kekuatan supranatural, tiga komponen penting lainnya dari religi adalah emosi keagamaan, sistem upacara religi, dan umat/pengikut religi.

Ada dua upacara ritual penting yang sering dilakukan masyarakat di dunia yaitu upacara peralihan (Rites of Passage) dan upacara intensifikasi (Rites of Intensification). Upacara peralihan adalah upacara ritual yang berkaitan dengan peralihan dari satu tahap kehidupan manusia ke tahap kehidupan berikutnya. Kelahiran, masa pubertas, perkawinan, dan kematian merupakan tahap-tahap yang dianggap penting dalam kehidupan manusia. Upacara intensifikasi adalah upacara yang dilakukan ketika suatu kelompok dilanda krisis. Upacara ini mempersatukan semua orang dalam kelompok untuk mengatasi masalah bersama-sama.

Religi memiliki fungsi psikologis dan sosial. Religi berperan penting dalam pengendalian sosial. Religi juga berfungsi dalam memelihara solidaritas sosial. Fungsi lain dari religi terkait dengan bidang pendidikan.

Sistem Perekonomian

Ahli antropologi berasumsi bahwa motivasi seseorang dalam melakukan kegiatan ekonomi sangatlah beragam. Penggunaan sumber daya yang dimiliki manusia dimotivasi oleh berbagai tujuan antara lain: a subsistence fund, a replacement fund, a ceremonial fund, a social fund, dan a rent fund. Sistem produksi (mode of production) pada dasarnya merupakan strategi adaptasi masyarakat terhadap lingkungan. Faktor-faktor produksi (means of production) meliputi tanah/teritori, tenaga kerja, teknologi, dan modal.

Pertukaran/sistem distribusi yang berkembang di berbagai kebudayaan di dunia dapat difokuskan atas tiga prinsip yaitu: prinsip pasar, redistribusi, dan resiprositas (Karl Polanyi, 1957 dalam Kottak 1991). Resiprositas terbagi atas tiga tingkat yaitu resiprositas umum (generalized reciprocity), resiprositas seimbang (balanced reciprocity), resiprositas negatif (negative reciprocity).

Salah satu alat pertukaran yang banyak digunakan di dunia adalah uang. Beberapa fungsi uang antara lain adalah sebagai alat pertukaran, sebagai standar nilai, dan sebagai alat pembayaran. Mata uang yang memiliki ketiga fungsi tersebut disebut a general purpose money, sedangkan mata uang yang tidak memenuhi ketiga fungsi disebut a special purpose money

MASA DEPAN ANTROPOLOGI
Pemahaman Konsep

Setiap kajian antropologi yang pernah dilakukan selalu berusaha untuk memahami kebudayaan dari masyarakat yang dipelajarinya. Oleh karena itu, dalam antropologi, kebudayaan merupakan konsep sentral. Hanya dalam perkembangannya, kini konsep kebudayaan tidak sekedar merupakan alat untuk mendeskripsikan atau alat untuk mengumpulkan data-data kebudayaan tetapi lebih ke arah sebagai “alat analisis”. Konsep yang mendasar dalam Kegiatan Belajar 2 ini adalah “kebudayaan” dan “adaptasi”. Dalam hal ini, adaptasi adalah berkenaan dengan bagaimana manusia mengatur hidupnya untuk menghadapi berbagai kemungkinan di dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan-kebutuhan dan hambatan-hambatan dalam memenuhinya menuntut manusia untuk beradaptasi. Manusia harus mampu memelihara keseimbangan yang terus-menerus berubah antara kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan potensi yang terdapat di lingkungan di mana dia tinggal dan hidup. Menghadapi berbagai kemungkinan tersebut dalam menjalani hidup inilah yang menjadi tugas utama sebuah “kebudayaan”.

Kebudayaan memang tampaknya sangat stabil. Namun, sebenarnya, sedikit atau banyak, perubahan merupakan karakteristik utama dari semua kebudayaan. Baik itu kebudayaan dari masyarakat maju, maupun kebudayaan dari masyarakat yang sedang berkembang atau masyarakat tradisional. Selain itu, karena kebudayaan mempunyai tugas utama untuk membuat manusia sanggup menghadapi berbagai kemungkinan yang terus menerus berubah dalam menjalani hidup ini maka semua masyarakat manusia yang masih eksis di muka bumi ini mempunyai kebudayaan tanpa kecuali. Di samping itu, sudah selayaknya bila dikatakan bahwa kebudayaan tertentu adalah yang paling sesuai bagi masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu pula tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi atau lebih baik dari kebudayaan lainnya.

Sementara itu, sebuah kebudayaan juga perlu memelihara eksistensi dirinya. Kebudayaan, dalam menjaga keberlangsungannya adalah dengan cara menciptakan tradisi-tradisi, seperti yang terdapat pada berbagai pranata-pranata sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Dengan kata lain, kebudayaan mengoperasionalkan model-model pengetahuan yang dimilikinya ke dalam pranata-pranata sosial. Ada pranata perkawinan, pranata agama, pranata pendidikan, pranata politik dan sebagainya.

Sedangkan hubungannya dengan “struktur sosial”, pranata-pranata sosial ini berfungsi sebagai pengontrol dalam menjaga keberlangsungan struktur-struktur sosial yang bersumber pada kebudayaan. Selain itu, kebudayaan memberi ‘warna’ atau ‘karakter’ terhadap struktur-struktur sosial yang ada sehingga struktur-struktur sosial yang terdapat pada kebudayaan tertentu akan tampak ‘khas’ bila dibandingkan dengan struktur-struktur sosial yang terdapat pada kebudayaan yang berbeda. Dengan demikian, struktur sosial merupakan ‘operasionalisasi’ dari pranata-pranata sosial – yang telah disesuaikan dengan lingkungan-lingkungan sosial yang ada dalam kehidupan nyata pendukung kebudayaan yang bersangkutan.

Perubahan dan Keteraturan

Perubahan adalah karakteristik umum dari semua kebudayaan. Meski perubahan merupakan karakteristik kebudayaan, namun proses perubahan tersebut selalu berakhir dengan “keteraturan”, yaitu menuju proses “keteraturan baru”. Setelah tercapai posisi “keteraturan baru” maka proses perubahan akan berjalan kembali. Demikian seterusnya. Oleh karena itu kebudayaan tampak “stabil” dan “kuat” tetapi juga bersifat lentur. Perubahan dikatakan sebagai karakteristik umum dari semua kebudayaan karena secara alamiah:

  1. Lingkungan di mana manusia tinggal dan hidup – yang tampaknya stabil – pada hakikatnya juga dinamis atau selalu mengalami proses perubahan.
  2. Adanya variasi pengetahuan kebudayaan dari para pendukung kebudayaan itu sendiri.
  3. Penemuan dari para pendukung kebudayaan sehingga terjadi suatu pembaharuan atau inovasi.
  4. Selain itu, perubahan juga terjadi karena bermula dari berinteraksi (pertemuan dengan) kebudayaan asing (misalnya karena proses difusi atau hubungan sosial tertentu) sehingga terjadi asimilasi atau akulturasi, pembaharuan atau hilangnya unsur-unsur tertentu dalam kebudayaan.

Proses perubahan yang berlangsung terus menerus ini, pada akhirnya membawa umat manusia masuk ke dalam peradaban perkotaan seperti yang terjadi saat ini. Berbicara tentang peradaban kota tentunya tidak lepas dari proses perubahan karena modernisasi, yang merupakan akibat dan kelanjutan dari keempat faktor di atas.

Modernisasi adalah suatu proses global di mana masyarakat nonindustri berusaha mendapatkan ciri-cirinya dari masyarakat industri atau masyarakat “maju” sehingga terjadi proses perubahan kultural pada masyarakat nonindustri. Masyarakat nonindustri mencoba mengejar ketinggalan terhadap apa yang sudah dicapai oleh masyarakat industri/maju dalam waktu satu generasi (relatif cepat). Akibatnya, masyarakat nonindustri banyak yang mengalami ketidaksiapan atau kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang sedemikian cepat. Akhirnya, Tumbuh kebudayaan “ketidakpuasan” dan “culture lag” di sebagian besar masyarakat nonindustri.

Sementara proses modernisasi berlangsung, proses globalisasi pun sedang terjadi. Masyarakat dunia sedang bergerak ke arah tumbuhnya satu kebudayaan dunia yang “homogen”. Proses modernisasi dan globalisasi ini mendorong masyarakat nonindustri (negara-negara sedang berkembang dan dunia ketiga) ke arah kecenderungan untuk meniru produk, teknologi dan praktek-praktek masyarakat maju. Sementara itu, reaksi lain juga muncul seperti penolakan unsur-unsur yang berbau kebudayaan asing, tumbuhnya etnosentrisme baru, evangelisme/dakwahisme bahkan yang lebih ekstrem lagi muncul seperti “teror-teror” bom yang banyak terjadi saat ini (militan).

Masa Depan Umat Manusia dan Kajian Antropologi

Kebudayaan pada dasarnya selalu dinamis karena harus terus-menerus menyesuai diri dengan lingkungan dan kebutuhan-kebutuhan hidup para pendukung kebudayaan tersebut. Demikian halnya dengan antropologi. Bukan karena masyarakat nonindustri atau tradisional semakin lama semakin sedikit yang tersisa dan hampir punah karena arus modernisasi dan globalisasi, lalu antropologi kehilangan arah. Selayaknya kebudayaan, antropologi yang dalam setiap kajiannya selalu berusaha memahami kebudayaan dari masyarakat yang ditelitinya (kebudayaan sebagai konsep sentral antropologi) juga dituntut mampu beradaptasi atas perubahan-perubahan yang dialami oleh masyarakat kajiannya. Dalam hal ini, antropologi dituntut beradaptasi secara kultural pula, yaitu adaptasi dalam hal teori dan konsep agar tetap eksis dan mampu memberikan sumbangan teoritis dan praktis. Tidak hanya beradaptasi semata, tetapi antropologi juga dituntut untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan atau temuan-temuan baru di bidang teori dan konsep dari hasil kajian-kajian yang dilakukannya. Dengan ‘menghilangnya’ masyarakat tradisional bukan berarti antropologi sudah kehilangan lahan penelitian/kajian. Saat ini sudah banyak kajian tentang masyarakat dari peneliti itu sendiri.

Memang banyak kritikan yang ditujukan kepada antropologi dan para ahlinya, terutama di Indonesia. Kritikan-kritikan tersebut umumnya berkisar pada masalah relevansi antropologi dan sumbangan praktis di era pembangunan atau di era modernisasi dan globalisasi saat ini. Misalnya, kajian tentang masalah masyarakat yang hampir punah, waktu penelitian yang relatif lebih lama ketimbang waktu yang diperlukan oleh ilmu sosial lain, masalah sejauh mana antropologi mampu menghasilkan generalisasi atas studi yang dilakukan, dan apakah teori-teori dan konsep-konsepnya masih relevan untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada di era globalisasi. Berbagai kritikan ini harus dipandang sebagai masukan karena hal ini merupakan salah satu pendorong untuk perkembangan antropologi itu sendiri.

SUMBER : http://saepudinonline.wordpress.com

Sejak kelahirannya seabad yang lalu, ilmu antropologi telah menyumbang begitu banyak terhadap kehidupan manusia lewat ilmu-ilmu lain yang dipengaruhinya, entah secara sadar atau tidak. Namun sayang, di Indonesia, belum banyak usaha untuk menuliskan secara komprehensif mengenai teori-teorinya, sejarahnya, tokoh-tokohnya, dan percabangan lainnya. Di antara itu, nama Koentjaraningrat (1923-1999) perlulah disebut sebagai pendekar antropologi yang paling berperan di Indonesia.

GURU BESAR antropologi di Universitas Indonesia ini kemudian melakukan usaha menuliskan buku yang begitu diperlukan dalam dunia akademis di Indonesia. Buku Sejarah Teori Antropologi (UI-Press, 1987) yang hadir dalam dua jilid ini patut disambut gembira karena perannya dalam mengisi kekosongan bacaan mengenai perkembangan ilmu antropologi di dunia, sejak kelahirannya hingga sekarang.
Di tengah ketiadaan buku sejenis, posisi buku ini begitu penting bagi banyak pihak. Maka tak heran, di hadapan pendidik, peminat, dan mahasiswa antropologi, buku ini bagaikan sebuah kitab kuning, namun kitab kuning yang kesepian. Tulisan ini mencoba menarik benang merah isi buku tersebut serta memberikan beberapa komentar terhadap salah satu jilidnya, yakni Sejarah Teori Antropologi I.
Sesuai judulnya, pembaca ditawarkan penggambaran mengenai bagaimana antropologi mulai ada dan berkembang, baik sebelum diakui sebagai sebuah ilmu maupun sesudah diakui sebagai sebuah ilmu. Buku setebal 272 halaman ini dibagi dalam 10 bab, yakni (1) Bahan mentah untuk antropologi, (2) Etnografi dan masalah aneka warna manusia, (3) Teori-teori evolusi kebudayaan, (4) Teori-teori mengenai azas religi, (5) Kelompok L’Annee Sociologique, (6) Teori-teori difusi kebudayaan, (7) Permulaan perkembangan antropologi di Amerika Serikat, (8) Ilmu antropologi di beberapa negara komunis, (9) Teori-teori fungsional-struktural, dan (10) Teori-teori struktural C. Levi-Strauss.
Ada 4 aspek utama yang dihadirkan dalam buku ini, yakni (1) sejarah awal ilmu antropologi dan perkembangannya, (2) teori atau paradigma yang melingkupi ilmu antropologi, (3) dinamika kehidupan ilmu antropologi di beberapa negara berbeda, dan (4) biografi singkat para tokoh-tokoh antropologi. Koentjaraningrat membukanya dengan mengemukakan ruang lingkup dan dasar antropologi.
Antropologi, dari kata anthropos yang berarti manusia, sehingga mempelajari tentang manusia, merupakan integrasi dari beberapa ilmu yang mempelajari masalah-masalah khusus mengenai manusia. Proses integrasi ini sudah berlangsung sejak permulaan abad ke-19. Dan sejak 1951, integrasi ini mencapai bentuk konkret setelah lebih dari enam puluh tokoh antropologi Eropa, Amerika, dan Uni Soviet bertemu dalam International Symposium on Anthropology.
Bukan keseluruhan aspek manusia yang didiskusikan dalam antropologi, melainkan hanya aspek mengenai adat istiadat dan prilaku suku bangsa. Bangsa barat, yang mendirikan ilmu antropologi pada awalnya, terkhusus pada suku bangsa di luar mereka pada kajiannya. Segala yang mereka anggap “aneh”, “eksotis”, atau “liyan” dari kacamata mereka, tidak luput dipelajari dan dituliskan.
Padahal jauh sebelum mapannya ilmu ini, kegiatan berbau antropologi, yakni pencatatan suku bangsa manusia, sudah ada sejak lama lewat catatan yang dimiliki para pengembara, pelaut, misionaris, musafir, atau aktivitas kolonial. Hanya saja, dengan keterbatasan metode, ketidakjelasan motif pencatatan, sifat pencatatan yang sambil lewat, atau pun kekurangan alat bantu (alat “fisik” mau pun “ilmu”) membuat catatan mereka tidak proporsional, maknanya bias, dan tidak bisa dijadikan pondasi dasar dalam penyusunan ilmu antropologi.
Sudah disebutkan di atas bahwa antropologi merupakan integrasi ilmu-ilmu lain. Pada masa awalnya, pengaruh dari teologi, filsafat sosial, ilmu anatomi, linguistik, biologi, dan filsafat positivisme sangat mewarnai konsepsi ilmu antropologi. Misalnya dikatakan dalam buku Koentjaraningrat ini, bahwa pemahaman teologi memberikan pandangan awal mengenai aneka suku bangsa manusia yang terwujud dalam pandangan poligenenis, yakni yang percaya bahwa sejak awal manusia diciptakan beragam dan karenanya ada yang lemah dan ada yang kuat, ada yang maju, dan ada yang tertinggal; dan monogenesis, yakni pandangan yang meyakini bahwa manusia hanya berasal dari satu nenek moyang, yaitu Nabi Adam. Pandangan monogenesis ini kemudian bercabang dua aliran lagi; pertama, yang percaya bahwa dosa asal manusia menyebabkan degenerasi manusia, sehingga terdapat beragam suku bangsa manusia, maju dan terbelakang; dan kedua, yang tidak memahami perbedaan ini akibat degenerasi atau kemunduran, melainkan kemajuan, bahwa ada kelompok manusia yang berhasil maju, tapi ada juga yang tetap terbelakang.
Pengaruh filsafat positivisme dengan tokohnya August Comte, misalnya, mengajukan pendapat mengenai metodologi ilmiah umum, artinya metode yang dapat diterapkan terhadap semua macam ilmu pengetahuan. Tapi karena percobaan menerapkannya di luar ilmu pasti, justru melahirkan pandangan bahwa metodologi positif tidak dapat dipakai di semua ilmu, terlebih ilmu mengenai masyarakat yang variabelnya selalu berubah, tidak tetap seperti biologi atau kimia. Dari sinilah berkembang istilah ilmu baru, yaitu sosiologi.
Namun sering kali, pengaruh pandangan-pandangan di atas tidak selalu menyenangkan dan adil, terutama bagi kelompok masyarakat yang dikaji. Pandangan mereka yang masih Eropa-sentris, kemudian membandingkan suatu suku bangsa melalui kacamata barat, malah melahirkan stereotip bahwa bangsa Eropa adalah manusia dengan peradaban tertinggi. Di luar Eropa, nada yang timbul adalah bodoh, terbelakang, primitif, dan yang paling menyakitkan, tidak beradab. Sayangnya, pandangan ini tidak coba dibicarakan oleh Koentjaraningrat, sehingga pembaca tidak tahu sikapnya atau sumber lain mengenai hal ini. Bahkan terkadang sering rancu antara mulut siapa yang berbicara mengenai ini: Kontjaraningrat atau sumber lain?
Evolusionisme dan Difusionisme
Ada 2 paradigma besar yang mewarnai perkembangan ilmu antropologi yang ada pada buku ini, yakni Evolusionisme dan Difusionisme. Masing-masing oleh Koentjaraningrat ditulis dalam bab yang terpisah.
Pada bab mengenai Evolusionisme, disebut beberapa tokoh yang menggawanginya seperti Herbert Spencer, J.J. Bachofen, L.H. Morgan, dan E.B. Tylor. Secara sederhana, Evolusionisme memandang masyarakat manusia, dalam hal ini kebudayaannya, berkembang dengan lambat dari tingkat yang rendah dan sederhana, menuju tingkat yang makin lama makin tinggi dan kompleks.
Teori Evolusiosme bekerja mirip teori Evolusi yang kita kenal dari Charles Darwin, bahwa dalam satu organisme, entah mahkluk hidup atau kebudayaan, terjadi perubahan terus menerus dalam dirinya sendiri (internal), dan hal ini dialami di semua tempat atau semua mahkluk di seluruh dunia. Bahwa proses berevolusi atau berubahnya kera menjadi manusia pasti dialami manusia atau kera mana pun di semua tempat, walau dengan kondisi, kecepatan, dan kadar perubahan yang berbeda. Dalam buku ini, diperlihatkan Spencer dengan jelas mendukung hal ini melalui bukunya Principles of Sociology. Dikatakan bahwa perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari tiap bangsa di dunia telah atau akan melalui tingkat-tingkat evolusi yang sama. Namun Spencer meyakini fakta bahwa secara khusus ada kebudayaan atau masyarakat yang berevolusi melalui tingkat yang berbeda-beda.
Ia mencontohkan melalui teori asal mula religi. Ada masyarakat yang tingkat evolusi religinya mulai dari penyembahan roh-roh nenek moyang menuju penyembahan dewa-dewa. Tapi di masyarakat lain, yang punya keyakinan atas reinkarnasi, dan karenanya ada kemungkinan kelahiran kembali manusia ke dalam tubuh binatang, maka beberapa binatang diyakini memiliki posisi penting, sehingga disembah. Binatang ini yang kemudian berevolusi lagi dalam religi masyarakatnya menjadi dewa. Jadi di antara tingkat penyembahan dari roh nenek moyang menuju dewa di suatu masyarakat, ada pula sisipan penyembahan atas binatang sebelum menuju penyembahan dewa-dewa pada masyarakat lain.
Sedang Morgan, seorang penganut Evolusionisme yang lain, menawarkan teori evolusi kebudayaan manusia dalam 8 tingkat, yaitu (1) Zaman Liar Tua, (2) Zaman Liar Madya, (3) Zaman Liar Muda, (4) Zaman Barbar Tua, (5) Zaman Barbar Madya, (6) Zaman Barbar Muda, (7) Zaman Peradaban Purba, dan (8) Zaman Peradaban Masakini. Masing-masing tingkatnya menunjukkan derajat kebudayaan manusia yang dikenali dari perilakunya, mata pencahariannya, atau perkakas yang digunakan.
Pada bab ini, sub-bab mengenai teori evolusi kebudayaan di Indonesia terasa janggal dan mengambang. Janggal karena toh kenyataannya ini bukan merupakan teori yang dibentuk khas Indonesia, melainkan catatan seorang tokoh bernama G.A. Wilken yang kebetulan pernah melakukan penelitian dengan di antaranya Minahasa dan Buru, di sela-sela pekerjaannya sebagai pegawai negeri. Sedang mengambang karena tidak ada teori dari Wilken yang disinggung, melainkan penggambaran kisah hidupnya dalam penelitian.
Sedangkan sub-bab mengenai ditinggalkannya aliran Evolusionisme juga tidak jelas. Alasan yang kuat dan menyeluruh tentang tidak adanya relevansi lagi aliran ini dalam ilmu antropologi, tidak dijabarkan secara rinci. Hanya dikatakan, Evolusionisme banyak dikecam karena hanya berdasarkan konstruksi pikiran semata. Di bab 6 mengenai teori difusi kebudayaan, dikatakan bahwa aliran ini mulai muncul di akhir abad ke-19. Difusionisme lahir karena para antropolog menyadari adanya gejala-gejala persamaan unsur kebudayaan antara suatu masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Berbeda dengan pandangan Evolusionisme, para difusionis memandang persamaan unsur-unsur kebudayaan tersebut akibat adanya persentuhan. Artinya ada komunikasi atau kontak antar dua atau lebih kelompok masyarakat lewat penyebaran atau migrasi manusia yang menyebabkan adanya kesamaan karena proses meniru, menyerap, strategi politik, penjajahan, dan sebagainya.
Cara pikir ini kemudian memicu ide mengenai sejarah atau pemetaan penyebaran manusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini kemudian dikembangkan oleh seorang Jerman bernama F. Graebner, dengan istilahnya yang disebut Kulturkreis atau wilayah kebudayaan. Kulturkreis adalah sekumpulan tempat di mana ditemukannya unsur-unsur yang sama, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Metode klasifikasi unsur-unsur kebudayaan ini ditulis dalam buku yang menjadi sangat terkenal berjudul Methode der Ethnologie. Melalui metode ini, akan tergambar penyebaran atau disfusi kebudayaan, sehingga mampu merekonstruksi sejarah penyebaran umat manusia di muka bumi pada masa yang lampau. Hal ini dikenal dengan nama Kulturhistorie.
Dalam aliran Difusionisme terdapat suatu mazhab yang sangat berpengaruh. Mazhab ini dikomandoi oleh seorang bernama Wilhelm Schmidt. Namun dalam buku Koentjaraningrat ini, mazhab Schmidt dalam cara berpikir difiusionistis tidak diuraikan. Yang dibahas malah pemikiran lainnya yang tidak berhubungan langsung, yakni mengenai asal mula religi, dan bahwa keyakinan monotheisme adalah bentuk religi yang tertua dalam peradaban manusia.
Kemudian dikenalkan juga metode genealogi dari W.H.R Rivers, seorang dokter dan psikolog yang ahirnya tertarik akan antropologi. Metodenya berupa sebuah metode wawancara dalam penelitian lapangan untuk mengetahui kehidupan suatu masyarakat. Rivers meyakini dalam metodenya ini, bahwa untuk mengetahui secara menyeluruh kehidupan suatu masyarakat, diperlukan bahan amat lengkap lewat wawancara mengenai asal-usul nenek moyang setiap individu untuk kemudian dianalisa dan disangkutpautkan dalam berbagai peristiwa.
Disinggung juga satu contoh konkret dari aliran Difusionisme, yakni Heliolithic Theory dari Elliot Smith dan W.J. Perry – walau teori ini gugur di kemudiannya. Teori ini, yang dilahirkan pada waktu di mana orang barat terbukakan matanya dan karenanya terkagum-kagum dengan kebudayaan Mesir, memandang bahwa dari Mesir-lah peradaban umat manusia di dunia diawali. Teori ini melihat unsur-unsur kebudayaan Mesir pada bangunan megalitik dan kepercayaan penyembahan kepada matahari tersebar ke seluruh kebudayaan. Teori ini kemudian gugur setelah mendapat kritik dari R.H. Lowie, yang menyatakan bahwa teori Heolitik ini merupakan teori difusi yang sangat ektrim, dan tidak sesuai dengan kenyataan, baik dipandang dari sudut hasil penggalian-penggalian ilmu prehistori, maupun dari sudut konsep-konsep tentang difusi.
Strukturalisme Levi-Strauss
Selain aliran Evolusionisme dan Difusionisme, Koenjaraningrat juga menyisipkan aliran Fungsionalisme dan Strukturalisme dalam buku ini. Teori Strukturalisme dari tokohnya yang terdepan, Claude Levi-Strauss, bahkan diberi porsi dalam bab tersendiri. Hal ini menimbulkan kesan bahwa teori dari Levi-Strauss ini punya suatu kekuatan atau kepentingan tersendiri sehingga menyebabkan pemberian porsi yang berlebih dibanding tokoh lainnya.
Pada bab ini, sebenarnya ada 5 poin yang ingin dikemukakan Koentjaraningrat, yaitu (1) riwayat hidup Levi-Strauss, (2) metode segitiga kuliner, (3) analisa Levi-Strauss mengenai sistem kekerabatan, (4) konsep Levi-Strauss mengenai azas klasifikasi-elementer, dan (5) pengaruh strukturalisme Levi-Strauss.
Namun pada kenyataannya, buku ini tidak lebih dari hanya memaparkan secara kasar pemikiran-pemikiran dari Levi-Strauss. Teori yang disajikan tidak cukup menohok, tidak cukup memberikan pengertian, apalagi disajikan dengan tanpa ada contoh konkret tentang penelitian yang memakai paradigma ini. Hal ini menjadi percuma bila dikaitkan dengan porsi halaman yang diberikan mencapai satu bab tersendiri hanya untuk seorang tokoh. Alih-alih menjelaskan mengenai metode segitiga kuliner, misalnya, penjelasan tentang apa itu strukturalisme sendiri tidak dihadirkan, sehingga menambah ruwet dan ketidakmengertian.
Misalnya, penjelasan mengenai metode segitiga kuliner. Dituliskan bahwa metode ini dihasilkan setelah Levi-Strauss menguraikan berbagai macam unsur kebudayaan manusia dengan suatu metode khas yang diambilnya dari ilmu linguistik. Metode ini kemudian dicobanya untuk menganalisa unsur makanan. Makanan diperhatikan oleh Levi-Strauss karena makanan adalah kebutuhan pokok binatang dan manusia, dan juga karena ada makanan yang diolah menggunakan api, yang merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia. Selanjutnya dipaparkan kalau ada dua golongan makanan, yang ‘mentah’ dan ‘matang’, yang ‘kena proses’ dan ‘tidak kena proses’. Dari sini terlihat dua golongan, yaitu golongan kebudayaan dan golongan alam. Dan setelah diberikan gambar mengenai segitga kuliner, yang merupakan perwujudan visual dari penjelasan sebelumnya, pembahasan beralih ke sub-bab lain, yakni analisa sistem kekerabatan. Dan pembaca ditinggal pada kebingungannya.
Koentjaraningrat abai untuk menuntun penjelasan di atas pada hal yang lebih bersifat terapan. Bukan hanya itu, bahkan dalam tataran teori saja, pembaca awam mungkin tidak akan paham dari penjelasan yang sangat absurd tadi. Andai saja penjelasan ini bisa lebih tenang dan merengut perhatian pembaca, dan kemudian menaruhnya pada suatu konteks.
Bobot  Buku
Buku Sejarah Teori Antropologi ini pada dasarnya hanya merangkum secara terbatas topik mengenai perkembangan teori antropologi. Teori-teori yang disaji dalam buku ini, tidak cukup untuk dapat dipahami kemudian dipakai dalam penelitian atau studi yang sesungguhnya. Diperlukan bacaan lebih lanjut guna menutup kekurangan-kekurangan yang ada pada buku ini.
Pasalnya, Koentjaraningrat terlalu menitikberatkan bahasannya ke biografi singkat tokoh-tokoh antropologi. Porsi yang dipakai untuk menceritakan kisah hidup sang tokoh sering bersaing dalam penjelasan mengenai teori atau ilmu antropologi itu sendiri. Memang metode penjelasan perkembangan teori sangat terkait erat dengan kehidupan tokoh-tokohnya, namun godaan untuk tidak setia pada fokus bahasan sering menjangkiti pembahasan topik-topik dengan strategi penulisan seperti ini.
Alhasil, buku ini tidak terlalu cocok bila diberikan sebagai pengantar bagi mereka yang baru memulai memahami ilmu antropologi, karena akan menghadapi kebingungan bila dihadapkan pada situasi di mana teori-teori dijejerkan begitu saja tanpa alat bantu yang memadai. Pembaca buku ini, haruslah terlebih dahulu memiliki gambaran singkat dari buku yang lebih bersifat pengantar, seperti buku Pengantar Antropologi, yang juga ditulis oleh Koentjaraningrat.
Lain hal, yang sangat mendasar, perlulah diadakan usaha merevisi buku ini, terutama dari segi bahasa yang sudah sangat tidak memadai dalam konteks tingkat kebahasaan saat ini. Problem bahasa yang ada pada buku ini, pada kenyataannya turut menyumbang kebingungan dalam memahami isinya. Buku yang sudah berusia hampir 3 dasawarsa ini, mau tidak mau, memang perlu diremajakan. Atau setidaknya dilakukan usaha lain untuk menghadirkan kitab-kitab lain sebagai pendamping, agar ia tidak terlalu kesepian dalam jagad ilmu antropologi yang juga sepi ini – dalam arti, tidak sepopuler ilmu lainnya

SUMBER : http://roythaniago.wordpress.com/

Saya sempat kalang kabut ketika mendapatkan tugas mata kuliah sejarah teori antropologi I yang diampu oleh bapak Trisnu, yaitu tugas unntuk mereview seluruh materi yang ada dalam buku sejarah teori antropologi I karangan Koenttjaraninngrat. Bagainmana tidak ? dalam waktu yang cukup singkat dan dalam liburan hari raya Idul Fitri saya harus menyelesaikan membaca seluruh materi yang ada dalam buku tersebut untuk kemudian dipahami dan dianalisa. Saya sangat bingung dalam mngerjakan tugas ini, karena ini merupakan tugas yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, mereview sebuah buku.

Kalau sekedar meresume, memang pernah saya lakukan. Namun, dengan upaya dan sedikit paksaan, akhirnya tuugas ini dapat saya selesaikan, walaupun pada akhirnya nanti saya tidak tahu bagaimana hasilnya. Tentunya, review ini sedikit banyak say menggunakan bahasa saya sendiri yanng mudah saya pahami, karena memang keterbatasan kemampuan saya. Setelah membaca buku tersebut, awalnya susah, namun kemudian saya menjadi tertarik untuk memahaminya lebih lanjut. Namun sebenarnya buku tersebut dapat mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih dari sebelumnya mengenai manusia sebagai anggota masyarakat dan kebudayaan-kebudayaan yang dihasilkan. Selain itu, saya juga menemui berbagai permasalahan dalam memahami materi yang ada dalam buku tersebut, hal ini dikarenakan kemampuan saya yang masih terbatas dan mungkin penggunaan bahasa yang menurut saya tinggi. Sebelum lebuh jauh, saya mulai dari ruang lingkup dan daasar antropologi.

Ruang Lingkup Dan Dasar Anthropologi

Ruang lingkup atau dasar antropologi merupakan suatu paparan langkah awal untuk mencapai suatu pengertian lanjutan tentang bagaimana bentuk dan cara kerja ilmu antropologi. Hal ini perlu kita ketahui karena ilmu antropologi pada dewasa ini telah menjadi bagian dari ilmu yang digeluti dalam dunia pendidikan. Mengawali pemahaman kita bahwa Ilmu antropologi merupakan integrasi dari berbagai ilmu yang mengkaji secara komplek tentang makhluk manusia (anthropos), proses integrasi mulai berkembang kira-kira permulaan abad 19 yang lalu, integrasi mulai mencapai kongrit dimulai pada saat para tokoh antropologi dari negara Ero-Amerika mengadakan suatu international symposium on anthropogy tahun 1951 untuk meninjau kegiatan ilmiah yang pernah dicapai ilmu antropologi yang berimplementasi menghasilkan karya-karya berbentuk buku.

Ilmu antropologi dianggap sebagai ilmu yang dinamis dan mempunyai segi praktis, maka dari itulah masing-masing negara akan berbeda-beda dalam menggunakan ilmu antropologi sesuai proporsi kebutuhan dan ideologi negara bersangkutan. Dan prinsip-prinsip dasar yang dihasilkan pun akan disesuaikan dengan segi praktisnya. Untuk dapat mengetahui pengertian bersama mengenai ruang lingkup dan dasar antropologi yang belum ada kesamaan pengertian ini perlu kita pelajari pokok-pokok dasar antropologi dan garis besar ilmu-ilmu yang mengintegrasikan ilmu antropologi, agar kemudian dapat kita pahami pengertian ilmu antropologi dalam pembangunan dewasa ini.

Etnografi Dimulai Dari Orang Eropa

Sebenarnya, penulissan mengenai adat-istiadat manusia-manusia di bumi ini sudah dilakukan sejak dahulu di luar Eropa. Seperti di Yunani mempunyai penulis yang bernama Herodotus. Demikian pula dengan bangsa Arab dan bangsa Cina. Namun karya karya penulis itu seakan menguap begutu saja dalam hal proses lahir dan berkembangnya ilmu antroplogi.

Dengan kata lain dapat dikatakan, bahwa tulisan mereka tidak banyak mempengaruhi proses lahir dan berkembangnya ilmu antropologi di masa itu. Antropologi mulai berkembang setelah orang eropa mengadakan ekspedisi keluar Eropa dandalam perjalananya telah banyak mencatat segala temuan berupa bentuk-bentk masyarakat suku bangsa penduduk pribumi di Afrika, Asia, Oseania dan Amerika. Dalam ekspedisinya para musafir bangsa Eropa yang bersamaan dengan penyebaran agama memantapkan kekuasaanya dan memperluas kekuasaanya didaerah-daeah jajahanya.

Deskripsi tentang penemuan-penemuan bangsa Eropa ini, karangannya di anggap kurang teliti karena dianggap hanya mendeskripsikan pada  temuan-temuan yang menurut bangsa Eropa aneh. Banyak karangan dan buku yang di tulis oleh para pelaut, musafir, penyiar agama nasrani dan para penjajah yang banyak mengandung bahan tentang adat istiadat bangsa-bangsa yang telah di lewati.

Seiring dengan itu ikut tercatat keterangan ciri-ciri fisik serta bahasa yang diucapkan oleh bangsa-angsa di luar Eropa disebut bahan Etnografi yang terhimpun dan tersimpan diperpustakaan-perpustakaan Eropa. Disamping diskripsi catatan-catatan ikut pula benda-benda kebudayaan diambil dibawa ke Eropa ikut serta pula koleksi tengkorak-tengkorak dari berbagai macam Ras dimuka bumi. Benda-benda tersebut kemudian disebut sebagai benda etnografika. Yang pada mulanya terkumpul dalam istana-istana dan koleksi para pedagang kaya, maka timbul untuk mengorganisasi musium-musium Etnografi unruk yang pertama di dunia.

Orang Eropa Yang Tidak Adil Dalam Etnografi Dan Permasalahan Ras-Ras Di Bumi

Terdapat banyak pandangan dan sikap orang-orang Eropa setelah membaca karangan-karangan etnografi dam melihat benda-benda etnografika, sedikitnya terdapat 3 pandangan dan sikap menonjol orang eropa mengenai manusia dan kebudayaan-kebudayaannya.

Partama, sering kali disebut pandangan poligenesis bahwa ciri-ciri fisik yang ada dikarenakan karena makhluk manusia diturunkan dari beberapa makhluk induk, yang menganggap kebudayaan kaukasoid lebih unggul dari ras yang lain.

Kedua, dikenal dengan monogenesis yaitu pandangan yang percaya akan keturunan dari satu induk yang kemudian  terbagai menjadi 2 sub pandangan. Sub pandangan yang pertama bahwa seluruh manusia adalah keturunan nabi Adam yang dianggap degenerasi yang membagi aneka warna dari yang tertinggi sampai yang terrendah, sebaliknya ada juga sub pandangan yang berkeyakinan bahwa lakhluk tidak mengalami degenerasi tetapi kemajuan. Pandangan-pandangan inilah yang menjadi suatu ketidakadilan besar mengenai raas manusia dan kebudayaannya. Semuanya vbersifat Eropasentris, menganggap bahwa seluruh manusia adalah keturunan Adam yang berdosa, dan oleh karenanya semua menusia mengalami kemunduran. Yang satunya lagi, menganggap bahwa manusia di luar Eropa adalah keturunan nenek moyang yang lebih rendah daripada nenk moyang bangsa Eropa. Sebuah kejahatan besar menurut saya.

Eropa mengalami masa pencerahan (renaissance) ditandai dengan kebangkitan kembali dari studi kasusastraan yunani dan rum klasik yang menimbulkan rasionalisme yang menyebabkan kemajuan tekhnologi bangsa Eropa yang kemudian pandangan itu dijiwai suatu zaman dalam sejarah bangsa Eropa dengan nama “Zaman auflarung “. Pada zaman aufklarung yang di anggap di pengaruhi oleh kemajuan dalam tubuh ilmu, mereka mengagumi ilmu eksak karena dianggap yang secara induktif membentuk generelisasi-generalisasi yang mantap yang berimplementasi kearah perumusan-perumusan kaidah alam yang di pakai manusia untuk menguasai alam itu sendiri.

Maka sejalan dengan itu  para filsafat sosial dari zaman aufklarung banyak menjalankan metodologi ilmiahnya mengenai ketertatikanya akan beberapa gejala sosial dimasyarakat yang ada,  yang kemudian masalah-masalah inipun sampai saat ini manjadi topik-topik yang penting dalam ilmu antropologi dan sosiologi. Para cendikiawan ini memandang masyarakat sebagai suatu simbiosis yang menjadi suatu sistim yang kuat. Cara pandang yang masih dipakai antropologi sampai saat ini, lalu para cendikiawan megungkapkan bahwa masalah-masalah sosial dapat di teliti secara induktif layaknya sebuah ilmu eksakyang dipercaya akan menghasilkan penemuan kaidah tentang sosial, yang selanjutnya dapat dipakai untuk mengatur ataupun merobohkan masyarakat sekehendaknya.

Cara berfikir secara rasional seperti itu menyebabkan berkembangnya aliran positivisme dalam filsafat sosial. Filsafat sosial dengan tokoh auguste comte yang menerapkan metode positivisme tersebut dan ditawarkan melalui metodologi ilmiah umum yang artinya dapat di terapkan kedalam ilmu pengetahuan yang ada. yang mencari, menganalisa dan mendeskripsikan hubungan dengan gejala yang ada secara eksak dengan rumus-rumus dalam ilmu pasti.

Penerapan metodologi positif terhadap gejala-gejal masyarakat menyebabkam berkembangnya aktivitas-aktivitas ilmiah yang oleh comte disebut ilmu sosiologi yang kemudian terbagi menjadi dua sub-ilmu yang pertama mempelajri hubungan-hubungan dan gejala-gejala dalam masyarakat dan yang kedua mempelajari perubahan dalam hubungan-hubungan masyarakat tersebut. yang perubahan itu disebabkan karena cara pikir manusia mengalami perubahan yang di bagi menjadi tiga yaitu berfikir secara teologi yang paercaya segala sesuatunya bersumber dri kehendak tuhan, secar metafisik yakni percaya terhadap kekuatan gaib atau abstrk, yang terakhir  berfikir secara ilmiah yang mulai mengkhususkan kepada analisa. Ketiga tahap tadi sering kali tidak berkembang secara bersamaan, yang mengakibatkan adanya perbedaan masyarakat maju dan terbelakang.

Masalah aneka dan bahasa sejak dahulu mendapati  perhatian para ahli kasusastraan, yang kenudian melakukan penelitian komperatif terhadap bahasa-bahasa didunia. Akibat penemuan tadi menimbulkan ilmu perbandingan bahasa yang menggolongkan bahasa-bahasa di daerah-daerah luas menjadi sebutan tersendiri seperti Indi-German, Ural-altai. Catatan atau daftar kat-kata hasil temuan para ekspedisi hampir tidak mendapat perhatian karena perhatian hanya berpusat pada bahasa Indi-German. Baru pada akhir abad ada beberapa ahli yang mengelola bahan catatan dari perjalanan tersebut seiring peneliian-penelitian serupa timbul ilmu etnolinguistik.

Muncul tokoh Charles Darwin dalam konsep evolusi dalam ilmu biologi yang dalam ceramah dan bukunya mengatakan bahwa semua bentuk hidup dan jenis makhluk yang kini ada di dunia itu, dipengaruhi oleh proses ilmiah berevolusi dari bentuk yang sederhana sampai bentuk yang paling komplek yang terus menerus berkembang dalam jangka ratusan tahun yang menjadi makhluk yang paling komplek seperti kera dan manusia. Namun pendapat ini banyak di tentang oleh berbagai pihak yang menganggap bahwa gagasan  tersebut gagasan orang kafir. Disamping Darwin ahli biologi lain yaitu Wallece juga mengembangkan gagasan evolusi makhluk meskipun lebih menekankan pada proses seleksi alam dalam penentuan jenis fisik dan jenis yang baru dalam proses evolusi pada dasarnya tidak banyak terdapat perbedaan dari kedua ahli biologi tersebut. Dua tokoh yang sebenarnya sepakat kalau menurut saya.
Penelitian terhadap aneka warna manusia para ahli anatomi, biologi dan fisiologi kepada asal mula manusia yang berawal dari pertanyaan-pertanyaan tidak dapat menemukan jawaban dengan pasti mengenai asal mula manusia lalu muncul penelitian geologi mengenai hubungan lapisan bumi dengan fosil-fosil manusia berpijak dari penelitian tersebut timbul perspektif baru diantara para ahli mengeni umur makhluk manusia yang menganggap bahwa manusia sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dengan adanya penelelitian asal mula manusia  tersebut dengan menganalisa dan membadingkan fosil yang terkandung dalam lapisan bumi manghasilkan ilmu baru yang termasuk bagian dari ilmu antropologi fisik dengan sebutan nama Paleontropologi yang bertujuan mencapai pengertian mengenai asal mula dan evolusi makhluk manusia. Aktivitaspun berlanjut sampai pada pengumpulan benda kebudayaan yang didapat dari lapisan-lapisan bumi. Kemudian berdampingan dengan kemajuan ilmu Geologi dan Paleontropologi, mulailah aktivitas peneliltian dari suatu ilmu yang baru yaitu Prehistori berupa penggalian-penggalian terhadap benda-benda bekas alat-alat manusia dari zaman batu tua, zaman batu madya dan zaman batu bara. Lembaga Societe Etnologique dan the Ethnological, kedua lembaga ini mempunyai tujuan yang kurang lebih sama yaitu menjadi pusat atau pengumpulan dan studi dari bahan etnografi. Istilah etnology yang menjadi nama dari lembaga-lembaga tersebut berarti “ pengetahuan “ atau “ ilmu tentang bangsa-bangsa “ yang tergambar dalam analisis dan deskripsi-deskripsi dari ciri-ciri fisik, bahasa, kebudayaan dan aneka warna manusia yang hidup tersebar di dunia. Kemudian lmu-ilmu etnologi diterima secara resmi dalam dunia perguruan tinggi. Yang pada tiga dasawarsa yang lalu terdesak denagan istilah soiologi maupum antropologi.

Teori-Teori Evolusi Kebudayaan

Konsep evolusi sosial universal Herbert Spencer semua karyanya berpijak pada konsepsi bahwa seluruh alam itu baik yang berwujud nonorganis, organis maupun superorganis didorong oleh kekuatan mutlak, yang dilukiskan proses diantara evolusi universal diantara semua bangsa didunia. Dalam bukunya Descriptive Sociology spencer dianggap hanya memberi landasan dan ilustrasi dari konsep dan teori tentang azas-azas dari evolusi masyarakat dan kebudayaan seluruh umat manusia yang tercantum dalam karya pokoknya,.

Teori Bachofen tentag evolusi bentuk keluarga menjadi terkenal dalam ilmu antropologi karena telah mengembangkan teori tentang evolusi hukum milik dan hukum waris dalam keluarga.  Ia  menuturkan bahwa diseluruh dunia keluarga manusia berkembang melalui empat tahap evolusi pada zaman yang telah lampau ada keadaan promiskuitas yaitu dimana manusia hidup layaknya binatang berkelompok, masyarakatnya tidak mengenal nilai dan norna, manusia yang bebas berhubungan, yang  tingkat ini dianggap sebagai tingkat pertama dalam perkembangan manusia, sampai saatnya muncul kesadaran hubungan antara ibu dan anak sebagai suatu kelompok keluarga inti tetapi yang tidak mengenal ayahnya, dalam hal ini ibu sekaligus menjadi kepala keluarga dan dari saat itu keluarga ibu tadi menjadi luas karena untuk keturunan kelanjutanya berdasarkan garis ibu maka timbul suatu keadaan masyarakat yang oleh para sarjana disebut sebagai matriachate yang dalam hal ini menjadi tingkat dua dalam perkembangan manusia, kemudian pihak pria tak puas dengan keadan seperti ini lalu mengambil calon-calon istri untuk di bawa kekelompok mereka sendiri. Dngan demikian keturunanya tetap jatuh dalam kelompok pria yang lambat laun dikenal sebagai Patriarchate ini merupakan tinkat ketiga, tingkat terakhir ketika terjadi pernikahan di luar  kelompok menyebabkan anak mempunyai hubungan dengan bapak dan ibi. Patriarchate lambat laun hilang dan berubah menjadi suatu susunan kekrabatan yang disebut bachofen sebagai susunan Parental.

Lewis H.Morgan memberikan sumbangan yang besar kepada ilmu antropologi yang mengupas semua sistim kekerabatan dari semua suku bangsa yang ada didunia, yang masing-masing berbeda bentuknya berawal dari gejala adanya perbedaan terhadap istilah-istilah kekerabatan itulah ia mencoba meneliti perbedaan untuk dijadikan sebuah teori baru. Morgan juga mencoba melukiska proses evolusi masyarakat dan kebudayaan manuasia kedalam 8 bagian yaitu zaman liar tua, zaman liar madya, zaman liar muda, zaman barbar madya, zaman bar-bar muda, zaman peradaban purba, zaman peradaban masa kini.

E.B. Tylor dengan teori evolusi religinya melakukan penelitian sendiri dengan mengambil sendiri sebagai pokok unsur-unsur kebudayaan yang ada menghasilkan sebuah karya yang penting yang dalam karyanya pula E.B. Tylor mengajukan teorinya tentag asal mula religi, yang berbunyi : asal mula relilgi adalah kesadaran manusia akan adanya jiwa. Kesadara akan hal itu disebutkan oleh 2 hal yaitu : perbedaan yang tampak pada manusia antara hal-hal yang hidup dengan yang mati dan adanya peristiwa mimpi. Sifat abstrak dari jiwa itu yang menimbulkan keyakinan pada manusia bahwa jiwa dapat hidup langsung, lepas dari tubuh jasmaninya, jiwa itu masih tersangkut dan hanya dapat meningglkan tubuh diwaktu tidur atau pingsan namun masih adanya hubungan jiwa dengan jasmani kecuali jika manusia mati jiwanya lepas, dan terlepaslah hubungannya dengan jasmani. Jiwa yang terlepas dari jasmani itulah yang oleh E.B. Tylor disebut soul, atau jiwa yang mendiami tempat disekeliling manusia yang bertubuh halus yang tidak dapat tertangkap oleh panca indra yang oleh manusia dihormati melalui sajian, doa atau korban yang oleh E.B. Tylor disebut animism.

Teori Frezer mengenai asal mula ilmu ghaib dan religi yaitu bahwa manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistim pengetahuan, tetapi akal dan ilmu pengetahuan itu ada batasnya makin terbelakang kebudayaan manusia makin  sempit lingkaran batas akhirnya, masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan akal dapat dilakukan dengan magic. Menurutnya magic adalah semua tindakan manusia untuk mencapai suatu maksud dengan menggunakan kekuatan-kekuatan yang ada dalam ilmu alam.mulanya hanya untuk memecahkan suatu masalah namun dewasa dianggap tidak ada gunanya, lalu lambat laun frezer mencari bahwa alam didiami makhluk halus kemudian frezer mencari hubungan dengan makhluk halus dengan demikian timbullah religi.

Menghilngnya teori-teori evolusi kebudayaan dimulai dari akhir abad 19 yang dari berbagai pihak mengecam tata cara berpikir para sarjana penganut evolusi kebudayaan banyak para ahli antropologi melakkan aktivitas penelitian dengan pengumpulan bahan yang baru melalui penggalian prihistori, lalu mulai nampak bhwa pengamut teori-teiri evolusi hanya sebatas konstrusi-konstruksi pikiran saja yang tidak sesuai dengan kenyataan dan lama kelamaan tidak teori-teori evolusi tidak dapat bertahn lagi.

Teori-Teori Mengenai Azas Religi

Religi dan upacara-upacara religi merupakan unsur yang banyak mendapat perhatian para pengarang etnografi dan banyak daripadanya diskripsi-deskripsi yang terdapat dalam etnografi tentang reliji, masyarakat suku-suku bangsa yang banyak dideskrisikan etnografi yaitu kebudayaan yang sederhana atau primitif  yang bersifat kono maka usaha dalam manganalisa kebudayaan dan masyarakat tersebut di anggap sebagai usaha mencari azas-azas religi kuno dan usaha memecahkan masalah asal mula religi.dengan itu banyak teori lain tentang azas dan asal mula religi yang telah dikembangkan maka dapat digolongkan menjadi tiga yaitu : teori-teori yang dalam pendekatanya berorentiasi pada keyakinan, teori-teori yang dalam pendekatanya berorientasi pada sikap manusia terhadap alam ghaib atau hal yang ghaib dan teori yang dalam pendekatanya berorientasi kepada upacara religi.

Berbagai gagasan serta hipotesa tentang maslah azas asal mula religi bermunculan dan menunjukan betapa komplex dan begtu amat sulitnya menerangkan secara universal dengan hopotesa yang ada. Dan kerangka komponen dari reliji ini hanya berguna sebagai kerangka intelektual untuk mempermudah analisis gejala religi dalam masyarakat manusia secara antropologi.

Kelompok L’annee Sociologique

Ketika teori-teori volusi kebudayaan mulai kehilangan pengaruhnya di negara-negara besar, lalu muncul majalh mengenai ilmu sosiologi berjudul L’annee Sociologique yang di asuk oleh suatu kelompok ahli-ahli peneliti masyarakat di bawah pimpinan ahli sosiologi dalam arti yang pertama maupun ahli sosiologi etnografik E. Durkheim dan para anggotanya

konsep fakta sosial, landasan dari seluruh cara berfikir E. Durkheim mengenai masyarakat adalah pandangan suatu masyarakat yang hidup, yang mana terdapat suatu interaksi yang mana menghasilkan gejala atau fakta individual.dimana pada hal ini sudah ada diluar individu yang menjadi warga masyarakat.fakta sosial lepas dari dakta individu. Diman fakta sosial itu memaksa para individu untuk berfikir menurut garis-garis dan bertindak melalui cara tertentu.fakta-fakta sosial mula-mula berasal dari cara berfikir adn bertindak oleh sorang individu, fakta-fakta inndividulah inilah yang terkumpul menjadi fakta-fakta sosial yang menuntut para individu untuk bertingkah sesuai pala fakta-fakta sosial. Fakta-fakta sosial harus dipelajari secara obyektif hal itu bertujuan agar seorang ahli sosiologi menganggap gejela-gejala sosial itu sebagi kejadian-kejadian yang kongret agar dapat bekerja sepertiilmuan lain,.

Dengan menggunkan metodologi mengobservasi, mengumpukan fakta, menganalisa, mengklasifikasi menginteprestasikan fakta-fakta sosial.dan meninggalkan interprestasi yang abstrak, dengan metodologi sendiri yang baru maka ilmu tentang fakta-fakta sosial itu patut berdiri sendiri sebagai almu tersendiri yaitu sosiologi.Represenations individuelles adalah gagasan milik sseorang individu yang berbeda dari gagasan milik seorang individu lain, naik satu tingkat dari gagasan individu tersebut menjadi konsep  gagasan kolektif.yang mana gagasan invidu itu hidup dalam sebuah masyarakat dan tergabung menjadi komplek menjadi gagasan kolektif, gagasan yang kolektif ini dianggap diatas para individu karena mempunyai kekuatan untuk mengatur perilaku dan menjadi pedomanan warga masyarakat.

Durkheim juga menganalisa azas-azas religi, dimana ia menggunakan baha-bahan dari etnogrfi dari masyarakat dan kebudayaan eropa, dalam bukunya durkheim melakukan tiga hal  yaitu : menganalisa religi yang di kenal sebagai wujud religidalam masyarakat yang paling bersahja,meneliti sumber-sumber azasi dariunsur-unsur tadi yang bersahaja, membuat generalisasi ke religi-religi lain mengenai funsi azas dari reliji dalam masyrakat. Dalam bukunya durkheim banyak menentang konsep religi yang dipakai oleh para ilmuan konsep religi lainya, hal ini ditunjukan melalui karyanya  yang   berlawanan.

Menurut durkheim definisi kerja menurut durkheim berbunyi “ suatu religi adalah suatu sistim berkaitan dari keyakinan-keyakinan dan upacara-upacara yang keramat artinya yang terpisah dan pantang, keyakinan-keyakinan dan upacra yang berorientasi kepada suatu komunitas moral, yang disebut umat….”

Dalam kesimpulanya pada akhir karanganya, durkheim menyatakan bahwa dalam suatu sistim religi didunia ada suatu hal yang ada diluarnya, suatu hal ini foro externo dalam arti bahwa hal itu akan tetap ada dalam sistim religi, lepas dari wujud, isi, atau materinya yaitu kebutuhan azasi dlam tiap masyarakat yang mengikuti sistim religi tadi untuk mengintensipkan kembali kesadaan kolektifnya dengan upacara-upacara yang keramat. Marcel mauss merupakan sala satu anggota kelompok studi I’annee sociologique yang dalam karanganya membahas tentang konsep tentang intensifikasi integrasi sosial karanganya dimulai dengan suatu uraian geografi-ekologikal mengenai lingkungan alam kutub dari daerah pemukiman eskimo.

Mauss dan mahasiswanya telah menggambarkan dua morfologi sosial dari masyarakat eskimo yaitu morfologi musim panas dan morfologi musim dingin. Dalam musim panas masyarkat eskimo brpencar, keluarga inti pergi berburu kewilayah yang saling berjauhan letaknya, sedang pada musim dingin keluarga inti satu kelompok tadi berkumpul kembali di pemukiman induk dan menjadi keluarga luas yang tinggal di rumah-rumah besar dengan kayu yang didalamnya sering digunakan untuk upacar keagamaan oleh para kelompok tadi. Menurut bukunya mauss mengatakan bahwa solidaritas sosial dari suatu masyarakat dapat kendor dan menjadi intensif lagi menurut musim, mak salah sau kekuatan penting untuk mengintensifka kembali solidaritas sosial adalah sentimen keagamaan, yang di intensifkan lagi oleh upacara keagamaan.

Teori-Teori Difusi Kebudayaan

Berawal dari para sarjana yang tertarik dengan unsur-unsur kebudayaan yang sama dari berbagai tempat, mereka berfikir bahwa gejal persamaan itu disebabkan karena adanya tingkatan-tingkata pada proseas evolusi di bumi ini.tidak halnya para pemikir ilmu antropologi menegaskan bahwa terjadinya persamaan tersebut disebabkan karena adanya persebaran atau difusi kebudayaan dari persamaan tersebut.

Dalam perjalannya seorang  sarjana yang ahli dalam ilmu hayat yang merangkap ilmu bumi, menemukan persamaan bentuk busur-busur di afrika dan berupa unsur-unsur kebudayaan seperti rumah, pakaian, topeng dll, sarjana  bernama F. Ratzel ini berkesimpulan bahwa adanya persamaan tersebut di akibatkan adanya indikasi ditempat tersebut sebelumnya terdapat adanya suatu hubungan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan itu pangkalnya satu kemudian berkembang, menyebar dan pecah menjadi beberapa kebudayaan baru yang sehingga dalam perjalanan manusia, kebudayaan tersebut terus akan saling mempengaruhi, etnologi disini berperan untuk mengkaji kembali sejarah persebaran kebudayaan, perpindahan bangsa-bangsa dan proses pengaruh-mempengaruhi,lalu muncul sarjana dari jerman yang mula-mula adalah konservator musium tertarik  untuk mengumpulkan benda-benda kebudayaan dengan mengklasifikaskan benda-benda tersebut berdasarkan tempat asalnya, dan iapun mencoba untuk mengklasifikasikan berdasarkan persamaan dari unsur-unsur tersebut yang didapat dari sekumpulan tempat dimana ditemukan benda-benda yang sama sifatnya.

Kemudian muncul tokoh schmidt yang pada karirnya sebagai guru besar di perguruan tinggi tertarik dengan ilmu antropologi, dalam hal ini schmidt merupakan tokoh yang telah mengembangkan lebih lanjut metode klasifikasi kebudayaan-kebudayaan didunia kedalam kultur kreise. Yang bertujuan untuk mendapat meliat sejarah persebaran atau perkembangan kebudayaan dimuka bumi ini.

Banyak ilmuan yang bukan dari antropologi sendiri yang tertarik akan kajian ilmu antropologi sebutlah tokoh yang ini yang bernama W.H.R Rivers yang dari psikologi ikut langsung dalam anggota cambridge torres straits ekspedition yang mana ekspedisi ini merupakan peristiwa penting dalam sejarah perkembangan ilmu antropologi, dalam ekspedisi ini meneliti tentang hubungan antara kebudayan-kebudayaan suku-suku bangsa yang mendiami daerah torres, yaitu irian selatan dan australia utara.dalam ekspedisinya beliau berhasil mengembangkan suatu metode wawancara baru yang dapat menghasilkan banyak bahan, metode ini yang pada dewasa kali ini dikenal oleh para antropolog didunia sebagai metode pokok penelitian antroplogi yang berdasarkan Fel Work.

Cara kerja metode ini yaitu seorang peneliti menggali informasi dari para informan yang di teliti yang sehingga mendapatkan beberapa bahan keterangan dengan menggunakan wawancara,beliau mengalami bahwa banyak bahan keterangan dapat dianalisa dengan daftar-daftar asal usul atau geneologi yang diperoleh dari para informan tersebut, dengan demikian seorang peneliti harus mengumpulkan sebanyak mungkin daftar asal-usul individu dalam masyarakat obyek penelitian itu,  dengan mengajukan pertanyaan mengenai kaum kerabat dan nenenk moyang para individu itu sebagi pangkal yang dapat dikembangkan dengan wawancara yang luas dengan pertanyaan yang kongkret. Yang sekarang dikenal dengan metode geneologi yang merupakan alat utama bagi peneliti antropologi yang akan melakukan Field Work.

Di Inggris pula banyak tokoh antropologi yang melakukan berbagai penelitian yang dikelaskan dalam golongan penelitian di fusi unsur-unsur kebudayaan salah satu dari padanya bernama G Elliot smitt dan perry. Kedua tokoh ini mengajukan teori yang aneh yati bahwa pada zamanpurbakala pernah terjadi peristiwa di fusi yang berpangkal di mesir  yang kemudian bergerak kedaerah timur teori ini yang sering disebut heliolithic karena menurutnya kebudayaan mesir kuno tersebar didaerah yang luas yang ditandai banyak bangunan yang identik dengan bangsa mesir. Tidak heranpandangan yang mesir sentris karena pada zaman perang dunia 1 bangsa Eropa kagum akan mesir yang kemudian meneliti tentang otak-otak mumi-mumi mesir  itu.

Dari penelitian itu beliau mengemukakan bahwa adanya persamaan dengan unsur-unsur dalam kebudayaan besar lain ditempat-tempat lain, karena kakagumanya tersebut maka beliau mengeluarkan pendapat bahwa unsur-unsur yang tersebar luas di berbagai tempat didunia itu tadi tentulah berasal dari mesir yang kemudian muncul teori Heliolitik.jyang mencoba mencari dengan teliti jalan-jalan difusi kebudayaan heliolitik unsur kebudayaan yang tersangkut dalam persebaran mesir, namun hal ini banyakmendapat kecaman daari para tkoh antropologi di amerika bahwa dianggap teori heolitik merupaan teori difusi yang exstrim yang dianggap tidak esuai kenyatan baik dari penelitianmaupun penggalian prehistori, teori holiolitik ini yang pada sekarang ini hanya bisa menjadi wawasan bahwa teori ini mencoba menerangkan gejala persamaan unsur-unsur kebudayaan di berbagai tempat didunia.

Permulaan Perkembangan Ilmu Antropologi Di Amerika Serikat

Banyak para tokoh-tokoh  antropologi yang lahir di negara amerika serikat ini, beberapa darinya merupakan guru besar antropologi dalam perkembanganya.. salah satu tokoh yang memberikan sumbang sih yang begitu besar terhadap corak  ilmu antropologi yaitu Franz Boans pendekr antropologi ini adalah seorang ahli geografi, dalam mengawali karirnya di dunia antropologi beliau memulaiya dengan melakukan ekspedisi tungglnya ke daerah suku-suku bangsa di eskimo, dalam ekspedisinya pendekar antropologi ini banyak mendapat bahan-bahan etnografi yang dikumpulkanya yang kemudian banyak menghasilkan karya-karya besar daam tulisanya, beliau yang menjabat sebagai asisten disalah satu musium yang berada di berlin yang sekaligus menjabat sebagai dosen dissuatu perguruan tinggi dalam mata kuliah ilmu bumi namun jabatanya sebagai asisten musium mengakibatkan dirinya condong kedalam ilmu antropologi, beberapa eksedisinyapun merambah kebeberapa negara seperti suku-skuku bangsa indian belakula dipantai barat kanada yang dalam ekspedisinya kali inipun mendapati berbagai bahan etnografi tentang suku-suku bangsa dan cri-ciri fisik, dari perpindahan negara asalnya sampai akhirnyapun beliau mendapat kesempatanuntuk menjadi dosen diuniversitas Colombia yang kemudian diangkat menjadi guru besar. Ekspedisinya yang sangat terkenal dalam sejarah ilmu antropologi yaitu jessup North Pacific Expedition yang penrhatianya pun banyak terpusat kepada penelitian bahasa-bahasa suku-suku bangsa di indian di Ameika yang dari iu memunculkan karya-karya besar sebagai klimkas atas penelitianya di indian.

Tuturnya syarat utama bagi tiap ahli antropologi yang pandanganya didapat saat franz berdiri ditengah para sarjana antropologi adalah dimana terdapat adanya perbedaan antara pencatat dengan pengumpul bahan, etnografi atau kata lalin yakni juru catat dan etnologi yag mahir dalam teori-teori mengenai masyarkat, keduanya diharapkan mempunyai pengetahuan yang sederajat dengan ini perbedaanantara etnografi dan etnologi akan hilang.
Dalam perjalananya beliaupun mengatkan bahwa difusi kebudayaan harus dilkukan terhadap suatu daerah yang terbatas teori ini berlawanan dengan dari teori para ahli kulturhistori yang meneliti terhadap daerah yang luas, dan serang peneliti harusmengetahui secar terperibci bagaiman kebudayan itu dapat diterima maupun ditolak, salah satu unsur kebudayaan yang penting berasal dari dongeng dan membuat transkripsi fonetik yang setepet mungkin dan ditekankan bahwa dalam peneliianya peneliti juga harus mencatat texs-texs dongeng, konsep franz yang dilanjutkan oleh para ahlinya yang sangat penting dalam ilmu antropologi yaitu bahwa timbulnya kebudayaan baru mengakibatkan terdesaknya unsur-unsur lama kedaerah pinggiran,maka ketika hendak meneliti kebudayaan kuno carilah ditempat-tempat pinggiran, konsepsi beliau yang begitu berpengaru terhadap suatu ilmu antropologi pula yang sampai sekarang diikuti di universitas di Anerika yaitu ilmu tentang manusia dan kebudayaanya ynag secara kongret seperti ilmu paleo-antropologi,antrpologi fisik, prihistori etnolinguistik dan ilmu antropologu budaya yang merupakan suatu sub-sub ilmiu gabungan yang namanya Antroplogi, beliau tidak hanya banyak menghasilkan karya-karya yang besar saja dalam karya-karyanya bukunya franz pendekar antropologipun juga banyak menghasilkan beberapa tokoh antropologi yang besar pula.

Tokoh antropologi yang lain yang juga mempunyai sumbangan terhadap perkembangan ilmu antropologi yang berasal dari ahli musium dari psikologi yaitu wissler yang meskipun bukan murid franz namun banyak mengadopsi kensep-konsep dari franz, konsep yang paling menonjol dari padanya yaitu  culture area, hal itu adalah pembagian dari kebudayan indian di America kedalam daerah-daerah yang merupakan kesatuan mengenai corak kebudayaan didalamnya. Dengan demikian timbul konsep culture area yang dikembangkan karena kebutuhan wissler untuk mengklasifikasikan benda-benda dari kebudayaan yang berpencar di india untuk digolongkan tertentu guna pameran.

Mengadopsi konsep franz tentang culture area yang menggolongkan kebudayaan menurut letak geografis hal ini sebenarnya konsep culture area dengan etnologi banyak persamaan, namun dalam hal ini wisslerlah yang mempopulerkan konsep culture area tersebut. Satu culture area menggolonkan berpuluh-puluh kebudayaan yang diklasifikasikan atas adanya persamaan yang mencolok  dari masing-masing kebudayaan. Ciri-ciri persamaan tersebut bukan dilihat dari bentuk unsur-unsur kebudayaan namun juga melalui unsur-unsur yang lebh abstrak.

Berbeda dengan wissler yang bakan hasil dari cetakan franz boas kali ini murid dari   franz boas A.L Kroeber ahli antropologi yang dalam tugasnya banyak mengadopsi kosep dari gurunya kroeber yang juga dikenal sebagai pendiri jurusan antropologi universitas di Colombia. Kroeber ini dalam karyanya meneliti tentang indian merupakan lanjkutan dari kosepsi dari gurununya taitu meneliti bahasa-bahasa di indian, dengan mengadopsi konsep dari gurunya Kroeber juga menekankan observasi partisipasi dalam jangka waktu yang lama,untuk menghasilkan pemahaman yang detail tentang bahasa yang di teliti.banyak konsep yang dikerjakan kroeber melanjutkan dari gurunya dan dikembangkan untuk menyempurnakan hasil dari wissler pula yang meneliti tentang indian.kroeber juga berusaha mengumpulkan beberapa definisi kebudayaan yang banyak ditulis oleh para tokoh-tokoh ahli antroplogi yang kemudian dikaji dan dijadikan dalam bentuk karyka bukunya.

Dalam rangka pemikirannya pun kroeber bersama ahli sosiologi talcott parsons mengajukan konsep yang penting hyitu dalam menganalisa kebudayaan seorang peneliti harus memisahkan dengan tajam kebudayaan sebagai suatu ade atau gagasan hidup dalam suatu masyarakat dari kebudayaan sebagai sistim tingkah laku pemisahan antara culture syistim dengan socian syistem.

Ikut berperan pula Lowie dalam perkembanganya dalam ilmu antropologi beliau juaga merupakan murid dati bous yang sama meneliti di daerah indian Amerika Utara banyk karyanya didukung oleh bahan etnografi dari Crow, lowie merupakan tokoh yang mengecam  banyak karangan dan buku para ahli antropoogi atau ilmu-ilmu sosial yang mengandung gagasan mengenai suatu proses evaluasi kebudayaan atau unsur-unsurnya. Karya-karyanya yangmengadopsi dari gurunya boas mengenai penelitian difusi dari komplex-komplex yang terjalin, dari unsur-unsur kebudayaan didaerah yang terbatas. Dan beliau berhasil mengintegrasikan bahan etnografi yang menghasilkan dua buah karya bukunya yang sampai sekarang dianggap karangan yang sangat penting yaitu bukunya uang berjudul primitive sosiety dan primitive relagion.

Tokoh lowie jga merupakan tokoh antropologi yang mengalihkan perhatianya dari kebudayaan indian ke kebudayaan jerman, bermula dari adanya penelitian kepribadian umum bangsa-bangsa yang pada mulanya bertujuan untuk mengetahui pengetahuan umum bangsa Eropa, ilmu antropologi yang sebelumnya meneliti kebudayaan diliuar kebudayaan Era Amerika sekarang mulai dipergunakan untuk meneliti bangsa-bangsa Ero Amerika itu sendiri.
Dari beberapa konsep poara ahli ilmu antropologi di Amerika pada masanya mengalami kemajuan yang sangat pesat, terutama akan penelitianya akan bangsa-bangsa Indian Amerika sampai dalam perkembanganya disebut “ masa keemasan dari ilmu antropologi “ yang pada dewasa ini pun sering disebut sebagai Mahzab Amerika.

Ilmu Antropologi Dibeberapa Negara Komunis

Kajian tentang ilmu antropologi banyak dilakukan di berbagai daerah dibelahan dunia.termasuk dinegara komunis. Negara yang termasuk didalamnya antara lain uni soviet, yugoslavia, rumania, dan Republik Rakyat cina. Negara-negara tersebut dalam mengkaji ilmu antropologi mempunyai karakteristik masing-masing .Seperti di Uni Soviet, yang mengambil ajaran dari marxisme sebagai dasar pemikiranya yang dinyatakan secara resmi dengan suatu resolusi hasil komperensi para ahi ilmu antropologi. Unsurnya yang penting dari marxisme yaitu teori-teori Evolusionisme, degan teori evolusi sebagai azaz dan cara berfikir, ilmu antropologi budaya di Uni Soviet manjadi suatu ilmu untuk menambah pengertian tentang tingkat-tingkat perkembangan dan evolusi masyarakat yang terdorong oleh arus sejarah yang mutlak dengna demikian ilmu antropologi disana merupakan bagian dari ilmu sejarah dalam arti umum yang mempelajari manusia kuno dengan manganalisa aneka ragam bentiuk kebudayaan dan masyarakat bangsa-bangsa diluar Eropa secara kompratif. Aktifitas penelitian di Uni soviet nampak terliat mengkaji tentang masyarakat purba terutama mengenai bentuk keluarga dan sistim kekerabatan pada masa itu.

Pengumpulan bahan etnografi dan etnolinguistik dilakukan sebagai proyek pemerintah dalan memahami akan suku-suku bangsa di uni soviet yang juga merupakan kepentingan praktis untuk mempersatukan bangsa-bangsa tersebut, namun adapula ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan murni penelitian yang biasanya diorganisasikan oleh lembaga-lembaga antropologi seiring dengan terus berkembangnya penelitian tentang  masyarakat purba  mengalami pengertian yang luas dengan bertambahnya penemuan bahan etnografi tersebut mengakibatkan adanya pertentangan antara rangka abstrak dari tingkat-tingkat evolusi dengan kenyataan yang ditunjukan oleh fakta-fakta kongkret.daerah yang mendapat pehatian pertama di Uni Soviet tentu saja wilayah Uni Soviet itu sendiri yang mana terdapat banyak suku bangsa, penelitian oleh para hli antropologi di Uni societpun mulai merambah ke wilayah seputar Asia Tenggara, namun perbedaanya jika pengetahuan para ahli Uni soviet mengenai kebudayaan penduduk wilayahnya sendiri bersifatpengetauan primer yaitu hasil penelitian dlapangan mereka sendiri sebaliknya bangsa-bangsa diluar Uni Soviet pengetahuan akan kebudayaannya bersifat sekunder yaitu yang didapatnya dari hasil penelitian dari buku-buku etnografi yang ditulis oleh ahli-ahli lain.

Di Yugoslavia, kajian ilmu antropologi berbeda dengan Amerika serikat. Dimana ilmu iu terdiri dari sub-sub ilmu yang terintegrasi erat. Di Yugoslavia ada ilmu Etnografski. Etnografski merupakan ilmu yang menyerupai ilmu antroplogi budaya yang ada di Yugoslavia yang mana ilmu ini lepas dari ilmu archeologi yang berarti ilmu arkeologi ilmu Etnografski di Yugoslavia diajarkan di fakultas sastra atau difakultas ilmu sosial atau berkaitan dengan urusan musium. Penelitian antropologi fisik yang bersifat paleo antropologi diyugoslavia dipandang penting karena pada negara ini ditemikan fosil tipe Neadertal yang penting yaitu fosil Krapia.adapun ilmu antropologi dalam arti ilmu etnologi mempunyai corak yang sangat menarik di Yugoslavia, wilayah perhatianya terbatas kepada kebudayaan berbagai suku bangsa penduduk Yugoslavia sendiri terutama ditingkat pedesaan. Inilah yang kemudian menjadi pertanyaan saya, kenapa ilmu itu tidak diajarkan di negara kita? Apakah ilmu tersebut tidak bersifat universal dan hanya sebuah pengetahuan lokal saja?

Di Rumania, ilmu-ilmu antropologi berkembag dengan baik. Ilmu antropologi dinegara ini dapat dibagi menjadi dua disiplin atau dua bidang, yaitu antropologi fisik dan antropologi budaya. Kedua bidang ii sama-sama memiliki titik kaji masing-masing yang jelas berbeda. Sejumlah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli antropologi di negara ini memberikan sumbangsih yang amat besar terhadap laju perkembangan ilmu antropologi, baik antropologi fisik maupun kebudayaan. Namun, karena objek kajian dari kedua ilmu ini berbeda, maka hasil yang didapatkanpun berbeda-beda. Selain itu, disisi lain, para ahli antropologi di Rumania ternyata membagi dan membedakan antara antropologi manusia sekarang dan antropologi manusia dahulu. Menurut hemat saya, pernyataan-pernyataan orang-orang Rumania tersebut sebenarnya tidak sejalan dengan sifat ilmu antropologi yaitu holistic-integratif, bahwa manusia dipandang dan dipelajari secara keseluruhan, baik itu fisik maupun kebudayaannya. Hal inilah yang mungkin perlu sedikit dikritisi.

Di republik Rakyat Cina (RRC), berbeda dengan di rumania, ilmu antropologi belum berkembang degan pesat. Masih terdapat permasalahan-permasalahan yang dihadapai oleh ilmu ini. Salah satunya adalah karena dominasi ilmu kesusasteraan cina dan ilmu bahasa atau Sinologi, yang terutama mengkhususkan perhatian kepada kebudayaan penduduk dominan dan masih menggunakan metode-metode yang kuno, seperti metode  filologi. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, semakin berkembang pula ilmu antropologi di Cina ini. Banyak penelitian-penelitian antropologi yang dilakukan oleh para ahli. Selain itu, berkembang pula kajian antropologi yang bergerak diberbagai bidang, seperti paleoantropologi, prehistori, dan antropologi budaya. Namun, dalam perjalanan masing-masing, banyak pula kendala-kendala yang dihadapi oleh para peneliti. Kendala ini salah satunya adalah otoriteritas pemerintah yang sangat dominan. Maka dari itu, jika dlihat dari sisi keilmuan, bahwa ternyata dalam suatu negara, perkembangan ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh kondisi kehidupan masyarakatnya. Dapat dikatakan, perkembangan ilmu di RRC hanyalah sebagai jalam pemulus si penguasa.

Malinowsky dan Fungsionalismenya

Teori fungsional, untuk pertama kali ditemukan oleh seorang tokoh antropologi dari Polandia, yaitu Bronislaw Malinowaski. Dia, sebelum pertama kali mengemukakan teori fungsional,teori ini ditemukan  berangkat dari suatu penelitian yang dilakukannya di suatu pulau terpencil pada saat perang Dunia pertama, Trobiand. Suatu pulau yanng terletak di sebelah tenggara papua Nugini. Dia tinggal di antara penduduk asli di Trobiand sambil mengamati cara hidup mereka. Dia berusaha mengkaji masyarakat tersebut dengan menggunakan penelitian secara terlibat, yang sekarang ini terkenal dengan pendekatan participant (participant observer). Malinowsky mengajukan suatu orientasi dasar yang dinamakan fungsionalisme, yang beranggapan bahwa semua unsur kebudayaan mempunyai manfaat bagi masyarakat  di mana unsur itu terdapat.

Dengan kata lain, pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan mempertahankan bahwa pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat, memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan bersangkutan. Jadi, menurut pandangan malinowski tentang kebudayaan, semua unsur-unsur kebudayaan akhirnya dapat dipandang sebagai hal yang memenuhi kebutuhan dasar pada warga masyarakat. Menurut sederhana saya, saya sepakat dengan teori fungsional malinowsky ini, bahwa seluruh kebutuhan hidup manusia sangat ditentukan oleh unsur-unsur kebudayaan yang dimiliki. Oleh karena itu sudah barang tentu akan berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Namun, teori yang dikemukakan oleh malinowski ini ternyata memilki kelemahan, yaitu teori ini tidak dapat memberi penjelasan mengenai adanya aneka ragam kebudayaan manusia.

Selanjutnya, seperti Malinowsky, Arthur Reginald Redcliffe-brown (1881-1955), seorang ahli lain dalam antropologi sosial mendasarkan teorinya mengenai perilaku manusia pada konsep fungsionalisme. Tapi berlainan dengan malinowski, redcliffe-Brown merasa bahwa berbagai aspek  perilaku sosial bukanlah berkembang untuk memuaskan kebutuhan individual, tetapi justru timbul untuk mempertahankan struktur sosial masyarakat. Struktur sosial masyarakat adalah seluruh jaringan dari seluruh hubungan-hubungan yang ada. R. Brown, sebelum mengemukakan teori ini, didasarkan atas penelitian-penelitian yang dilakukannyan di berbagai daerah. Hasil penelitiannya tersebut dicantumkan dalam bentuk etnografi, dan etnografinya ini berbeda dengan milik malinowski tentang penduduk trobiand. Etnografi malinowski cenderung lebih kuat dibandingkan dengan miliknya, karea ia tidak melakukan pendekatan penelitian yang sama dengan yang pernah dilakukan oleh malinowski.

Namun demikian,  dia sudah banyak memberika buah pemikirannya kepada khalayak banyak. Seperti pendangannya tentang hukum,  metodologi ilmu alam dan untuk ilmu sosial, dan konsep mengenai struktur sosial. Yang ketiga, ahli fungsionalisme struktural Arthur Maurice Hocart memberikan sumbangan pemikirannya. Ia memberikan suatu hipotesa mengenai fungsi upacara dan Raja. Ketiga ahli tersebut pada kalangannya memang sangat terkenal dan meberikan banyak sumbangan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, setelah mereka meninggal, para anak didik mereka, khususnya dari malinowski dan Brown, mengungkapkan hal yang menarik, yaitu mesyarakat dan kebudayaan yang menjadi objek penelitiannya sebagai satu kesatuan holistik yang terdiri dari pranata-pranata yang masing-masing terjalin erat.

Teori struktural para ahli antropologi belanda merupakan suatu wujud perkembangan dari teori fungsional. Teori ini pada awalnya berkembang di Belanda. Tokoh –tokoh yang bergerak dibidang teori ini kebanyakan masih murid dari Redclife-Brown. Seperti W.H. Rassers, Van Ossenbrugen. Namun ada juga yang lain, seperti De Joselin De Jong.

Teori-Teori Struktural Levi-Strauss

Levi strauss bertemu dan bergaul dengan para candikiawan  Amerika Eropa yang dalam pergaulanya ini Levi-Strauss mengasilkan beberapa gagasan mengenai analisis kebudayaan dalam hubunganya dengan alam dan menyebabkan berkembangnya suatu konsep analisa antropologi menurut model ilmu linguistik. Dalam teori strukturalismenya, ia mengungkapkan bahwa kenyataan yang sesungguhnya, bukanlah yang nampak oleh mata, tetapi kenyataan yang sesungguhnya adalah yang berada dibelakang atau dibalik yang nampak tadi. Dalam strukturalisme, fakta sosial berada diatas fakta individu. Levi-Strauss, juga memiliki pandangan terhadap kebudayaan yaitu kebudayaan dianggap sesuatu yang berada pada ketidaksadaran manusia. Adapun kajian levi Strauss lebih dalam lagi adalah mencakup tiga hal, yaitu bahasa, mitos dan kekerabatan. Pengaruh levi-Strauss amatlah besar dalam kancah dunia keilmuan, khususnya ilmu antropologi. Karangan-karangan dan buku-buku yang ditulisnya disebar luaskan ke daerah-daerah sesuai dengan bahasa masing-masing. Oleh karena itu, banyak kita temui karangan dan buku Levi-Strauss yang beranekaragam bahasa. Termasuk dalam bahasa indonesia. Kemudian, merujuk pada satu hal lain akan struktur sosial, bahwa kalau para sarjana ada yang beranggapan bahwa sturktur sosial sebagai suatu perumusan dari jaringan hubungan interaksi antar manusia dalam kehidupan masyarakat, yang mereka dapat karena abstraksi induktif dari data yang nyata, bagi Levi Strauss keadaanya boleh dikatakan merupakan sebaliknya.

Baginya, struktur (terutama dalam analisis mitologi) adalah beberapa konsep cara berpikir akal manusia yang dianggapnya elementer dan yang karena itu bersifat universal. Dengan struktur itu, seorang peneliti dapat memahami secara deduktif data mengenai interaksi manusia dalam kenyataan kehidupan masyarakat.  Strukturalisme Levi-Stauss memang memiliki pengaruh di sejumlah negara, seperti negara Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.

Sumber : http://ghufroniberbagi.blogspot.com

Antropologi budaya

Posted: 5 Juli 2010 in ANTROPOLOGI
Tag:

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnisEropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang

Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.

Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.

Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.

Definisi Antropologi menurut para ahli

  • William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
  • David Hunter:Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
  • Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Tahap perkembangan

Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.

Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:

Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)

Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi.

Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.

Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.

Fase Kedua (tahun 1800-an)

Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya

Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

Fase Ketiga (awal abad ke-20)

Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.

Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)

Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.

Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.

Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.

Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.

SESAJEN

Posted: 6 Desember 2009 in ANTROPOLOGI, ILMU BUDAYA
Tag:

Pandangan masyarakat tentang sesajen yang terjadi di sekitar masyarakat, khususnya yang terjadi didalam masyarakat yang masih mengandung adat istiadat yang sangat kental. sesajen mengandung arti pemberian sesajian-sesajian sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur terhadap semua yang terjadi dimasyarakat sesuai bisikan ghaib yang berasal dari paranormal atau tetuah-tetuah.

Sesajen merupakan warisan budaya Hindu dan Budha yang biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan) dan lain-lain yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan. Seperti : Upacara menjelang panen yang mereka persembahkan kepada Dewi Sri (dewi padi dan kesuburan) yang mungkin masih dipraktekkan di sebagian daerah Jawa, upacara Nglarung (membuang kesialan) ke laut yang masih banyak dilakukan oleh mereka yang tinggal di pesisir pantai selatan pulau Jawa tepatnya di tepian Samudra Indonesia yang terkenal dengan mitos Nyi Roro Kidul.

Sesajen ini memiliki nilai yang sangat sakral bagi pandangan masyarakat yang masih mempercayainya, tujuan dari pemberian sesajen ini untuk mencari berkah yang berasal dari sumber-sumber yang tidak jelas. Pemberian sesajen ini biasanya dilakukan ditempat-tempat yang dianggap keramat dan mempunyai nilai magis yang tinggi.

Prosesi ini terjadi sudah sangat lama, bisa dikatakan sudah berasal dari nenek moyang kita yang mempercayai adanya pemikiran – pemikiran yang religious.  Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat guna mencapai sesuatu keinginan atau terkabulnya sesuatu yang bersifat duniawi.

Pandangan kebudayaan sesajen menurut agama islam yang dilakukan untuk selain Allah adalah perbuatan syirik. dan itu adalah salah satu perbuatan jahiliyyah yang wajib ditinggalkan, dijauhi dan dibersihkan.

Allah Tabaaroka wa Ta’ala memerintahkan kita menyelisihi orang-orang musyrikin yang mengibadati dan menyembelih selain Allah. karena barangsiapa yang mendekatkan diri kepada selain Allah untuk menolak bala (marabahaya) atau mendatangkan manfaat karena mengagungkannya maka dia telah melakukan kekufuran dan kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah dulu.

Menurut pandangan penulis pemberian sesajen ini merupakan hal yang sia-sia dan dilarang keras oleh agama. Untuk itulah kita sebagai umat manusia yang memiliki iman dan takwa jangan sampai kita mencoba hal-hal yang dilarang oleh agama. Selain itu melakukan sesajen merupakan perbuatan yang mubazir dan syirik.

Pak Koen, panggilan akrabnya, seorang ilmuwan yang berjasa meletakkan dasar-dasar perkembangan ilmu antropologi di Indonesia. Sehingga ia diberi kehormatan sebagai Bapak Antropologi Indonesia. Hampir sepanjang hidupnya disumbangkan untuk pengembangan ilmu antropologi, pendidikan antropologi, dan apsek-aspek kehidupan yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesukubangsaan di Indonesia.

Prof Dr Koentjaraningrat tertarik bidang ilmu antropologi sejak menjadi asisten Prof GJ Held, guru besar antropologi di Universitas Indonesia, yang mengadakan penelitian lapangan di Sumbawa. Sarjana Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia 1952, ini meraih gelar MA Antropologi dari Yale University, AS, 1956 dan Doktor antropologi dari Universitas Indonesia, 1958.

Pak Koen merintis berdirinya sebelas jurusan antropologi di berbagai universitas di Indonesia. Ilmuwan yang mahir berbahasa Belanda dan Inggris ini juga tekun menulis. Beberapa karya tulisnya telah menjadi rujukan bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia. Ia banyak menulis mengenai perkembangan antropologi Indonesia. Sejak tahun 1957 hingga 1999, ia telah menghasilkan puluhan buku serta ratusan artikel.

Melalui tulisannya, ia mengajarkan pentingnya mengenal masyarakat dan budaya bangsa sendiri. Buah-buah pikirannya yang terangkum dalam buku kerap dijadikan acuan penelitian mengenai kondisi sosial, budaya, dan masyarakat Indonesia, baik oleh para ilmuwan Indonesia maupun asing.

Salah satu bukunya yang menjadi pusat pembelajaran para mahasiswanya adalah Koentjaraningrat dan Antropologi Indonesia, yang diterbitkan pada tahun 1963. Dalam buku itu, diceritakan kegiatan Prof Dr Koentjaraningrat dalam menimba ilmu. Juga di dalamnya, dia menjadi tokoh pusat dalam perkembangan antropologi.

Selain itu, bukunya Pengantar Antropologi yang diterbitkan pada tahun 1996 telah menjadi buku pegangan para mahasiswa di berbagai universitas dan berbagai jurusan yang ada di Indonesia.

Buku lainnya yang pernah diterbitkannya adalah hasil penelitian lapangan ke berbagai wilayah di Indonesia seperti Minangkabau, daerah Batak hingga pelosok Irian Jaya. Buku itu berjudul Keseragaman Aneka Warna Masyarakat Irian Barat (1970), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (1971), Petani Buah-buahan di Selatan Jakarta (1973), Masyarakat Desa di Indoensia (1984), Kebudayaan Jawa (1984), Masyarakat Terasing di Indonesia (1993), dan sebagainya.

Selain itu, ia juga pernah mengadakan penelitian di negara lain seperti Belanda dan Belgia.

Kepribadiannya yang khas, meninggalkan kesan tersendiri dalam ingatan para mahasiswanya. Kesan dan pandangan para mahasiswa, kerabat, sahabat dan koleganya, sepertinya dapat mengungkapkan jati diri seorang tokoh dalam berbagai aspek kehidupannya di kelas, di rumah, dan di dalam kehidupan sehari-hari.

Pada mulanya ia pernah ditugaskan untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian dalam antropologi. Dia menyiapkan dan menyediakan bahan untuk pengajaran. Dalam rangka pemenuhan tugas-tugas itu, ia tidak hanya produktif menulis buku-buku acuan pendidikan antropologi, melainkan dia juga menulis buku-buku dan artikel ilmiah lainnya berkenaan dengan kebudayaan, suku bangsa, dan pembangunan nasional di Indonesia.

Profesor bernama lengkap Koentjoroningrat ini dilahirkan di Yogyakarta, 15 Juni 1923, sebagai anak tunggal. Ayahnya, RM Emawan Brotokoesoemo, adalah seorang pamong praja di lingkungan Pakualaman. Sementara ibunya, RA Pratisi Tirtotenojo, sering diundang sebagai penerjemah bahasa Belanda oleh keluarga Sri Paku Alam. Walaupun anak tunggal, didikan ala Belanda yang diterapkan ibunya membuatnya menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri sejak kecil.

Pada usia delapan tahun, ia mulai bersekolah di Europeesche School. Pada masa-masa itu, ia sering menghabiskan waktu bermain di lingkungan keraton. Kedekatannya dengan lingkup keraton yang kental dengan seni dan kebudayaan Jawa, sedikit banyak memengaruhi pembentukan kepribadiannya sebagai antropologi di kemudian hari.

Selepas dari Europeesche School, remaja yang juga punya bakat melukis ini meneruskan sekolah ke AMS dan mulai mempelajari seni tari di Tejakesuman. Bersama dua sahabatnya, yaitu Koesnadi (fotografer) dan Rosihan Anwar (tokoh pers), Koentjaraningrat rajin menyambangi rumah seorang dokter keturunan Tionghoa untuk membaca, di antaranya disertasi tentang antropologi milik para pakar kenamaan.

Kemudian, ia pun meraih gelar sarjana sastra bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia, pada 1952. Selanjutnya, pada tahun 1956, ia mendapat gelar MA dalam antropologi dari Yale University, AS. Kemudian meraih gelar doktor antropologi dari Universitas Indonesia, 1958.

Karier yang pernah dijabatnya yakni menjadi Guru Besar Antropologi pada Universitas Indonesia. Kemudian menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Universitas Gadjah Mada, dan juga Guru Besar di Akademi Hukum Militer di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.

Begawan antropologi Indonesia ini juga pernah diundang sebagai guru besar tamu di Universitas Utrecht, Belanda, Universitas Columbia, Universitas Illinois, Universitas Ohio, Universitas Wisconsin, Universitas Malaya, Ecole des Hautes, Etudes en Sciences Sociales di Paris dan Center for South East dan Asian Studies di Kyoto.

Berbagai penghargaan telah dianugerahkan padanya atas pengabdiannya dalam pengembangan ilmu antropologi. Di antaranya, penghargaan ilmiah gelar doctor honoris causa dari Universitas Utrecht, 1976 dan Fukuoka Asian Cultural Price pada tahun 1995. Pak Koen juga mendapat penghargaan Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968 dan 1981).

Tutup Usia
Antropolog pertama Indonesia ini meninggal dunia dalam usia 75 tahun, Selasa 23 Maret 1999 sekitar pukul 16.25, di RS Kramat 128, Jakarta Pusat. Dia telah terkena stroke sejak 1989. Dimakamkan di TPU Karet Bivak, Rabu 24 Maret 1999 sekitar pukul 13.00.
Sebelumnya disemayamkan di rumah duka di Jl Daksinapati Timur IV/C2, Kompleks IKIP Rawamangun. Hadir melayat antara lain ahli filsafat dan budayawan Prof Dr Toeti Herati Nuradi, mantan Mendikbud Prof Dr Fuad Hassan, Direktur Sejarah dan Nilai Tradisional Dr Anhar Gonggong, dan sosiolog Prof Dr Sardjono Jatiman.

Menurut keterangan putri ketiganya, Ny Rina “Maya” Tamara, perintis berdirinya Jurusan Antropologi UI dan sejumlah universitas negeri lainnya ini, memang sudah sejak lama menderita stroke dan terkena serangan mendadak beberapa kali. Serangan stroke pertama kali terjadi selang setahun setelah ia resmi mengakhiri masa dinasnya sebagai pegawai negeri, 15 Juni 1988. Menurut Maya, mendiang ayahnya Senin malam 22 Maret 1999 sekitar pukul 22.10 secara mendadak tak sadarkan diri setelah sebelumnya sempat muntah-muntah, dan segera dilarikan ke RS Kramat 128. Pak Koen meninggalkan seorang istri, Kustiani yang dikenal sejak kuliah di UI, tiga anak, Sita Damayanti, Rina Tamara, dan Inu Dewanto, dan empat cucu.

Sumber : tokohIndonesia.com

Hingga kini Indonesia belum memiliki karya etnografi yang lengkap. Padahal, etnografi sebagai deskripsi menyeluruh tentang kebudayaan suatu masyarakat bisa digunakan sebagai referensi untuk mengatasi berbagai persoalan sosial yang muncul belakangan ini. Sangat disayangkan juga, para antropolog tidak mengambil kesempatan emas dalam sejarah reformasi bangsa untuk mempopulerkan antropologi.

Demikian antara lain pemikiran yang muncul dalam diskusi Perkembangan Antropologi Indonesia yang diselenggarakan Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia (JKAI) di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI) Depok, Jumat (10/3). Hadir sebagai pembicara, dosen antropologi FISIP-UI sekaligus Pemimpin Redaksi Jurnal Antropologi MA Yunita T Winarto Ph D dan mantan Ketua JKAI Drs Bambang Setiawan.

“Seorang antropolog akan dihargai dari karya-karya etnografi yang dibuatnya. Namun sayangnya belum banyak karya etnografi tentang Indonesia yang dibuat oleh antropolog Indonesia sendiri. Ketika muncul persoalan sosial, baru menyadari pentingnya etnografi,” kata Bambang.

Menurut Yunita, mahasiswa antropologi dan antropolog masih banyak yang belum memiliki kemampuan menulis. Umumnya mereka belum punya ketajaman memilih dan merumuskan isu. Selain itu, seringkali argumentasi yang dikemukakan masih lemah. “Mereka cuma menyajikan deskripsi saja, tanpa bisa mengangkat data yang diperoleh dalam bentuk hasil analisa yang kuat,” katanya.

Yunita sepakat bahwa keterbatasan sarana penunjang seperti kepustakaan yang lengkap sering menjadi hambatan untuk mengembangkan kemampuan mereka melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. “Kemampuan untuk memahami suatu masalah yang sama dari berbagai sisi inilah yang membuat mahasiswa antropologi kurang dapat mengemukakan argumentasi yang berbobot,” katanya.

Baik Yunita maupun Bambang sepakat bahwa masih ada persoalan menyangkut lemahnya kemampuan metodologi pemecahan masalah di antara para antropolog. Akibatnya banyak penelitian yang dihasilkan jarang dikaitkan dengan masalah-masalah sosial yang mendesak. “Dari segi perkembangan teoretis, antropologi Indonesia memang berkembang, tetapi dari segi manfaat masih belum memberikan sumbangan berarti bagi pemecahan problem sosial seperti yang terjadi saat ini,” kata Bambang.

Bambang melihat, lemahnya kemampuan metodologi pemecahan masalah disebabkan oleh lemahnya keinginan antropolog untuk menulis etnografi dari dalam diri mereka sendiri. Apalagi sekarang banyak sekali etnografi yang ditulis menurut pesanan. Seringkali, penulisan etnografi berdasarkan pesanan ini sudah diberikan kerangka penelitian. Sementara antropolog hanya dilibatkan sebagai pencari data saja. “Dari segi keilmuan, penulisan semacam ini bisa sangat merugikan,” katanya.

Menurut Bambang, salah satu akibat dari penelitian yang dilakukan berdasarkan pesanan ini adalah sang penulis kehilangan haknya untuk mempublikasikan hasil penelitian tersebut. Padahal publikasi hasil penelitian sangat bermanfaat bagi perkembangan antropologi.

Sumber : KOMPAS