Posts Tagged ‘BUDAYA SUNDA’

Sebagai orang yang tidak pernah berinteraksi secara mendalam dengan Kang Ajip Rosidi (KAR), maka ketika diminta untuk memberi pandangan terhadap KAR, satu-satunya upaya yang bisa dilakukan adalah membaca buku-bukunya. Karena tinjauannya lebih kepada pemahaman terhadap sosok pribadi (bukan telaah karya sastra), maka pilihan jatuh kepada buku-buku karya KAR yang menurut KAR sendiri “jiga otobiografi atawa memoar” atau “panineungan”. Adapun buku-buku yang dianggap “jiga otobiografi atawa memoar” dan “panineungan” tersebut adalah : Hurip Waras (1988), Beber Layar (Cetakan ke 1 tahun 1964), Pancakaki (1993), Trang-trang Kolentrang (1999), Ucang-Ucang Angge (2000).

Setelah membaca buku-buku tersebut, kesimpulannya, KAR adalah sosok “orang Sunda moderen”. Sengaja kalimat “orang Sunda Moderen” disatukan di dalam satu tanda petik, karena apabila bicara orang Sunda yang ada dewasa ini bisa jadi banyak yang belum “moderen”, sementara kata moderen sendiri apabila tidak dikaitkan dengan kata-kata orang Sunda, akan mempunyai arti yang sangat luas yang pada tingkat tertentu dapat menghilangkan identitas “kasundaan”.

Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk merujuk istilah “moderen” dalam kaitannya dengan orang Sunda disini. Pertama, adalah perhatian, “kanyaah” dan bahkan “prak”nya “ngamumule” kebudayaan Sunda. Sebagai orang Sunda “pituin”, tanggung jawab dan “kanyaah” KAR kepada budaya Sunda tidak dapat diragukan lagi. Walaupun KAR mulai berkiprah di dunia sastra Sunda setelah terlebih dahulu menggeluti sastra Indonesia, namun pada perkembangan berikutnya perhatian, kerja nyata dan yang lebih penting lagi kontinyuitas untuk “ngamumule” budaya Sunda khususnya sastra Sunda berlangsung terus sampai hari ini.

Selain menulis karya sastra Sunda nya sendiri, tulisan-tulisan KAR mengenai sastra Sunda, baik berupa pemikiran, kritik, ulasan mengalir terus sampai saat ini. Buku Beber Layar, sebagai kumpulan karangan yang ditulis oleh KAR pada saat berusia antara 18 sampai 22 tahun, substansinya masih tetap “up to date”.

Walaupun bermukim di Jepang, KAR masih bisa melakukan kegiatan-kegiatan nyata untuk Ki Sunda dalam bentuk pemberian hadiah sastra Rancage, Kongres Internasional Budaya Sunda, membuat penerbitan berbahasa Sunda (yang paling monumental: membuat ensiklopedi Sunda) dan kegiatan “kasundaan” lainnya. Suatu aktifitas yang langka dilakukan baik, oleh orang-orang dari suku lain tentang budayanya dan oleh orang-orang Sunda sendiri yang ada di kampung halamannya. Untuk hadiah sastra Rancage, selain sudah teruji kontinyuitasnya sejak tahun 1989 (di Indonesia konon tidak pernah ada pemberian hadiah sastra yang berlangsung secara berkesinambungan seperti Rancage), juga yang tidak kalah pentingnya, hadiah sastra Rancage tersebut bukan hanya untuk sastra Sunda tetapi juga untuk sastra Jawa dan Bali.

Pemberian perhatian yang bukan hanya untuk sastra Sunda ini menunjukkan bahwa KAR tidak termasuk kepada orang yang “etnocentris”, provinsialis atau sukuisme dalam arti sempit. Karena itu, kriteria ke dua untuk menunjuk kemoderenan KAR adalah ke- Indonesiaan. Kiprah KAR di dalam dunia sastra Indonesia sudah dimulai sejak SMP. Karena kiprahnya dalam kesusasteraan Indonesia itulah, pada usia yang sangat belia (16 tahun) sudah bisa mengikuti Kongres Kebudayaan di Solo, dengan ongkos yang diberikan secara khusus oleh Mr. Muhammad Yamin yang kala itu menjadi Menteri PP dan K (Hurip Waras, hal 50). Selain daripada itu, pada usia yang cukup muda pula (19 tahun) KAR mendapat Hadiah Sastra Nasional pada Kongres Kebudayaan tahun 1957 di Denpasar. Kiprah di tingkat nasional ini berlanjut diantaranya menjadi redaksi PN Balai Pustaka (1955-1956), Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Ketua IKAPI, Staf Ahli Menteri P&K dsb. Selain dari pada itu karya-karya KAR juga sudah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Belanda, Hindi, Jepang, Rusia dan Cina.

Rasa cintanya terhadap tanah air, diantaranya diwujudkan dalam bentuk tulisan yang dikumpulkannya di dalam buku “Trang trang Kolentrang” : Politik Reformasi Dina Surat – surat ti Jepang. Disini kita pun melihat bahwa perhatian KAR terhadap dunia politik sangat besar.

Kriteria kemoderenan KAR yang ke tiga, adalah “go international”. Pengertian “go international” disini tidak hanya diukur oleh kehadiran fisik, tetapi yang juga tidak kalah pentingnya adalah pemahaman pemikiran yang berkembang di dunia internasional. Sebagai budayawan “moyan”, KAR sudah sejak muda bergelut dengan pemikiran-pemikiran para pemikir Barat baik melalui bacaan maupun melalui diskusi dengan para sastrawan/pemikir saat itu. Kedudukannya sebagai profesor tamu di Osaka Jepang sejak tahun 1981 lebih memantapkan dirinya sebagai manusia “internasional”.

Kalaulah inti dari tulisan ini mengemukakan bahwa KAR adalah sosok manusia Sunda moderen, dengan dua kriteria terakhir pengertiannya adalah, walaupun KAR sudah berkecimpung di dunia nasional dan internasional, namun ciri-ciri bahkan kiprahnya di dalam “kasundaan” tidaklah surut. KAR bukan saja bisa “pindah cai – pindah tampian”, tetapi lebih jauh dari itu kiprahnya di dunia nasional dan internasional justru bisa lebih memberikan kontrbusi yang lebih positif terhadap “kasundaan”. Padahal banyak orang yang menyebutkan bahwa pada umumnya para “gegeden” Sunda itu “hapa” budaya. Jangankan jauh-jauh yang tinggal/hidup di Jakarta atau di luar negeri, mereka yang hidup dan tinggal di Bandung saja perhatiannya terhadap budaya Sunda ini sangat kurang.

Keempat, karena antara Islam – Sunda dengan Sunda – Islam, sering disatu nafaskan, maka di dalam konteks modernitas manusia Sunda, unsur-unsur ke Islaman tidak boleh ditinggalkan. Artinya semoderen apapun orang Sunda, apabila masih ingin disebut orang Sunda, maka di luar tanggung jawabnya terhadap “kasundaan”, ciri dan prilaku ke-Islamannyapun harus tetap nampak. Walaupun pada awalnya (ketika kelas II SMP) KAR senang “fifilsfatan” tentang eksistensi Tuhan, tapi prilaku ke-Islaman KAR juga “kelihatannya” cukup “leket?”. Sebagaimana kebanyakan orang Sunda, walaupun KAR sudah beragama Islam sejak lahir, namun pemahaman tentang Islam dimulai lagi melalui proses pencarian, terutama setelah membaca karya-karya HHM. Kedekatannya dengan beberapa tokoh Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Barat (ketika sekretariatnya masih di Gg.Asmi) seperti Mang Endang Sjaefudin Anshari atau Kang Josef (yang kemudian jadi besannya), sedikit banyak menambah pemahaman tentang Islam itu sendiri.

Sikap KAR tentang keterkaitan antara Sunda dengan Islam diantaranya :

“sadar kana kaetnisan budayana nu Sunda sabada leuwih ti heula ngarasa jadi muslim, justru kudu mageuhan adeg-adegna nu nyumber kana ajen-inajen ka Islaman, tapi oge baris ngabeungharan warna budaya umat. Neuleuman jeung neangan ajen-inajen ka Sundaan tanwande baris nambahan kakayaan budaya umat”.

Untuk urusan ke – Islaman ini, salah satu “peristiwa budaya” penting ketika KAR menjadi ketua DKJ adalah pembangunan mesjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki.

Kelima, unsur kerja keras. Prof. Herman Soewardi di dalam berbagai kesempatan seringkali mengemukakan bahwa salah satu ciri bangsa Indonesia (termasuk suku Sunda) adalah lemah karsa, dalam pengertian bahwa kalaupun bekerja seringkali tidak “junun”. Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa untuk kasus KAR, aspek kinerja yang “memble” ini ditemukan. KAR bisa disebut sebagai pekerja keras dan mempunyai semangat kerja yang tinggi. Ketika di SMA saja, walaupun KAR masuk ke sekolah B, namun karena keingin tahuan yang besar mengenai keseustraan yang mengebu-gebu, siang harinya KAR sekolah di SMA Perjoangan. Sampai saat ini bisa jadi belum ada orang Sunda yang karyanya sebanyak yang dibuat oleh KAR. Kalaulah salah satu ciri dari sosok manusia moderen itu profesianal, dalam pengertian ahli dan kompeten maka KAR sudah termasuk post_category ini.

Untuk karya-karyanya dalam bentuk memoar, perlu mendapat apresiasi secara khusus. Karya-karya tersebut mengandung banyak hal yang dapat dikatagorikan sebagai sejarah kontemporer. Dalam hal ini KAR menjadi saksi hidup dari suatu proses yang terjadi di dalam sejarah. Selama ini pelajaran sejarah seringkali hanya menunjukkan kejadian-kejadian yang kadangkala kering dari aspek “human interest”. Memoar KAR bisa menjadi pelengkap tentang apa-apa yang terjadi di balik panggung sejarah.

Karena bentuknya memoar, maka pada tataran tertentu perlu dilakukan pendalaman. Tugas itu tentu saja tidak bisa dibebankan kepada KAR. Dalam konteks memoar, KAR dapat disebut sebagai pembuka jalan. Sebagai contoh, di luar apa yang ditulis KAR tentang Kongres Pemuda Sunda dan “setting” sosialnya sehingga kongres tersebut dilaksanakan, sampai saat ini belum ada lagi buku yang membeberkan secara tuntas, gamblang dan ilmiah tentang hal itu (terutama tentang Pergerakan Sunda pada akhir tahun lima puluhan). Akibat dari “kekosongan” sejarah ini, hampir selama periode Orde Baru (bahkan mungkin sampai sekarang), banyak orang Sunda yang merasa menanggung dosa warisan, dari suatu perjalanan sejarah Ki Sunda yang tidak jelas kejadiannya.

Karena kejelian dan kerajinannya mengumpulkan bahan-bahan, KAR bisa disebut sebagai “arsip hidup” Ki Sunda terlengkap saat ini. Di luar hal-hal yang sudah diungkapkannya saat ini (dalam bentuk buku), bisa jadi masih banyak hal lain yang perlu kita korek. Sebagai contoh, walaupun di dalam buku “Ucang-ucang Angge”, KAR menceriterakan ketokohan Prof. Dr. Doddy A. Tisnaamidjaja, namun isinya berbicara pula tentang hiruk pikuk pemilihan Gubernur Jawa Barat pada tahun 1967 (kejadiannya hampir mirip dengan pemilihan Gubernur Jawa Barat saat ini). Ketika membicarakan Ilen Surianegara, walaupun sepintas kita diajak untuk mengetahui polemik di sekitar naskah Wangsakerta. Demikian pula halnya dengan tulisan yang diberi judul RHM. Akil Prawiradiredja ( berkaitan dengan pemilihan Wagub), atau tentang Dajat Hardjakusumah yang selain berbicara tentang dunia kewartawanan saat itu, juga berbicara tentang situasi di sekitar kejadian G30S/PKI.

Melihat kejelian dan kerajinan membuat memoar yang notabene sejarah ini dengan sangat tepat di dalam jilid luar bagian belakang dari buku Ucang-ucang Angge diungkapkan:

“Lain wae kudu dideudeul data anu akurat, tapi deuih kudu panjang ingetan. Heueuh, mun urang aya karep nulis memoar, boh ngeunaan peristiwa boh ngeunaan kahirupan sajumlahing tokoh; kawas anu dipidangkeun dina ieu buku. Hamo bisa mun ukur ngandelkeun data meunang ngalelebah mah, komo mun bari geus loba poho”

“Naon-naon wae anu dipidangkeun dina ieu buku, lain wae ukur ngasongkeun rupa-rupa informasi ngeunaan sajumlahing tokoh katut patalina sareng rupa-rupa peristiwa, tapi deuih bisa dijadikeun eunteung tuladaneun”

Upaya mengemukakan keadaan juga dilakukannya dengan cara menulis surat kepada sahabat-sahabatnya. Walaupun dalam bentuk surat yang pendek, namun dengan surat itu KAR bisa mengungkapkan situasi dan juga pemikiran-pemikiran KAR tentang berbagai hal.

Ke enam, jaringan pertemanan. Teori-teori manajemen moderen menyebutkan bahwa unsur jaringan (net working) adalah merupakan salah satu faktor penting di dalam mencapai keberhasilan. Apabila membaca memoar KAR, dapat diketahui bahwa kenalan KAR sangat banyak dan dari berbagai kalangan. Sudah sejak kecil, KAR bergaul dengan para tokoh di bidang sastra, pemerintahan, tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh politik dsb. Inti pertemanan selain silaturahmi juga untuk menambah wawasan tentang sesuatu. Dari memoar yang dibuat oleh KAR, pertemanan KAR dengan orang-orang yang ditulisnya di dalam memoar tersebut, ternyata tidak hanya sebatas kenal (wawuh munding), tetapi lebih dari itu.

Walaupun teman-temannya cukup banyak dan sangat akrab, tetapi di dalam hal-hal yang dianggap prinsip, KAR bisa sangat kritis. Oleh karena itu perjalanan hidup KAR seringkali ditandai dengan percikan-percikan konflik yang kadangkala sangat terbuka. Untuk ukuran budaya Sunda – bahkan mungkin untuk budaya Barat sekalipun, kritik-kritik yang dilakukan oleh KAR seringkali dirasakan sangat tajam. Sebagai contoh, kritikannya terhadap Pak Ilen Surianegara, Pak Mashudi atau kepada Prof. Achmad Sanusi. Pada awalnya sikap KAR seperti itu, diperkirakan terpengaruh (seperti agama) oleh teman-temannya di PII yang juga seringkali prinsipalis. Namun, setelah membaca otobiografi dan memoarnya, ternyata sikap kritis tersebut sudah ada sejak masa kecilnya. Sebagai contoh, ketika SMP, KAR pernah diusir oleh guru bahasa Indonesia, karena dianggap sok pintar. Pada perkembangan berikutnya, kitapun bisa melihat “dedegler” nya KAR di dalam mensikapi berbagai masalah sastra Sunda setelah perang (baca: Beber Layar) atau kritik terhadap LBSS di media masa pada tahun sembilan puluhan.

Kalaulah dianggap sebagai “kekurangan” maka hal tersebut bisa dianggap sebagai kekurangan KAR. Atau kalau berfikirnya positif, yang salah itu bukanlah KAR, tetapi orang Sunda pada umumnya, yang belum siap berbeda pendapat secara terbuka.

Terlepas apakah itu kekurangan atau bukan, hal penting yang perlu ditelusuri, bagaimana Ki Sunda bisa melahirkan salah satu rundayannya menjadi KAR?. Apabila membaca Hurip Waras, inti dari keberhasilan KAR dimulai dari “resep maca”. Karena salah satu strategi penting yang harus dibangun ke depan adalah membuka ruang dan memperbanyak buku bacaan agar sejak dini, anak-anak menyenangi bacaan – termasuk bacaan berbahasa Sunda.

Memang ketika ruang itu dibuka, jangan harap semua orang bisa memanfaatkannya, karena dari Jatiwangi juga hanya lahir seorang KAR. Tetapi pengalaman-pengalaman negara maju menunjukkan bahwa dengan dibukanya “ruang” bagi masyarakat untuk rajin membaca, peluang melahirkan orang-orang seperti KAR menjadi semakin besar. Ternyata dengan rajin membaca, orang tidak kalah pinternya dengan yang memiliki ijasah sekalipun (apalagi kalau ijasahnya bukan dari hasil belajar yang sungguh-sungguh).

Kedua, kebiasaan KAR ketika kecil untuk nonton kesenian (wayang kulit), membawa bekas sehingga melahirkan benih-benih rasa bertanggung jawab terhadap eksistensi kesenian. Selain daripada itu, karena sejak kecil sudah hafal kepada konvensi ceritera wayang, sedikit banyak ceritera-ceritera itu telah pula membantu membangun runtuyan logika berfikir dan mengembangkan imajinasi.

Ketiga, apakah lahirnya KAR seperti sekarang ini sesuai juga dengan sinyalemen KAR: bahwa agar orang Sunda maju, harus keluar (berada) dari luar tatar Sunda? (sehingga KAR pun akan menghabiskan masa tuanya di luar tatar Sunda?).

Dengan menulis catatan singkat ini, ada suatu perjalanan pemikiran yang berujung pada pemahaman: “bahwa untuk menjadi moderen, manusia tidak perlu kehilangan ciri-ciri etnisitas dan keagamaannya” atau bisa disebutkan bahwa: “aspek etnisitas dan keagamaan termasuk merupakan ciri pelengkap yang tidak dapat dipisahkan dari kemoderenian seseorang” (selama ini secara sosiologis antara modern dan tradisi termasuk agama sering dibuat dikhotomi).

Berbahagialah orang Sunda, karena telah memiliki tokoh sekaliber Ajip Rosidi. Hatur nuhun Kang Ajip. Panjang umur, istiqomah, khusnul khotimah dan terus berkarya. Untuk ke depan diharapkan ada yang dapat menulis tentang KAR secara lebih lengkap, mendalam dan kritis.

Cigadung, 27 Mei 2003

Sumber : SundaNet

Ada beberapa seni tradisonal dari daerah garut yang khas selain produk dodol ternyata bnanyak yang belum dikenal secara nasional termasuk orang Garut itu sendiri.

1. Dodombaan

Atraksi seni yang menggunakan tetabuhan seperangkat kendang pencak silat dengan beberapa orang pendukungnya. Satu atau dua orang melakukan ibing pencak silat, juga terdapat delapan orang yang mengusung dua buah patung domba dari kayu yang bisa ditunggangi anak-anak dan dewasa.
Kesenian ini lahir di Desa Panembong Kec. Bayongbong dan dipimpin oleh Bapak SAJIDIN.

2. Surak Ibra
Seni tradisional Surak Ibra dikenal juga dengan nama lain Boboyongan Eson. yang berdiri Sejak Tahun 1910 di Kampung Sindang Sari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut. Kesenian Tersebut Hasil Ciptaan Raden Djajadiwangsa Putra Dari Raden Wangsa Muhammad (Dikenal Dengan Nama Lain Raden Papak).

Kesenian ini merupakan suatu sindiran (simbol﴿ atau semboyan tidak setuju terhadap Pemerintahan Belanda pada waktu itu yang bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat jajahan. Khususnya di daerah Desa Cinunuk dan umumnya daerah Kabupaten Garut.

Kesenian ini memiliki tujuan untuk memupuk motivasi masyarakat agar mempunyai pemerintahan sendiri hasil gotong royong bersama untuk mencapai tujuan cita-cita bangsa Indonesia.
Selain itu juga untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan antara pemerintah dan masyarakatnya, demi menunjang keadilan dan kebijaksanaan pemerintah secara mandiri dengan penuh semangat bersama.

ALAT-ALAT YANG DIPAKAI ADALAH :
1. 2 (dua﴿ obor dari bambu.
2. Seperangkat gendang Pencak / lebih.
3. Seperangkat Dogdog / lebih.
4. Seperangkat Angklung / lebih.
5. Seperangkat Keprak / lebih.
6. Seperangkat Kentongan Bambu / lebih.
7. Hal-hal lain yang diperlukan waktunya.

BANYAK PEMAIN :

- Minimal= 40 orang
– Sedang= 60 orang – 80 orang
– Maksimal     = 100 orang lebih
Dari sejak berdiri tahun 1910 sampai sekarang sudah empat generasi, bahkan sekarang pun perlu diremajakan sebab sudah banyak pemain yang sudah tua.

3.Lais
Kesenian Lais Diambil Dari Nama Seseorang Yang Sangat Terampil Dalam Memanjat Pohon Kelapa Yang Bernama ?Laisan? Yang Sehari-Hari Di Panggil Pak Lais. Lais ini Sudah Dikenal Sejak Aman Penjajahan Belanda. Tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening. Atraksi yng ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman, sambil diiringi tetabuhan seperti dog-dog, gendang, kempul dan terompet.
4. Seni Bangklung
Kesenian Bangklung merupakan perpaduan dua buah kesenian tradisional, yakni Kesenian Terebang dan Kesenian Angklung Badud. Biasanya kesenian ini dipentaskan pada :
1. Khitanan Anak
Yang sebelum anak akan disunat biasanya terlebih dahulu diarak dengan iringan musik / kesenian Bangklung yang dikenal dengan istilah Ngaleunggeuh.

2. Panenan Padi
Jenis kesenian/tabuh-tabuhan ini dapat digunakan didalam acara kegiatan mengangkut padi untuk disimpan di lumbung, yang kita kenal dengan istilah Ampih Pare.

3. Syukuran
Kesenian ini dapat dipakai didalam acara kegiatan setelah acara hajatan selesai, dengan iringan musik / kesenian bersifat arak-arakan, istilah ini dapat kita kenal Upacara Miceun Runtah.

4. Hiburan
Kesenian ini dapat pula dipentaskan pada upacara penyambutan para tamu.

Adapun alat kesenian Bangklung yang digunakan terdiri dari beberapa waditra-waditra (alat-alat﴿, yakni :

1.Lima buah Terebang :
Terebang Anak, Terebang Kempring, Terebang Tempas, Terebang Bangsing dan Terebang Indung yang berfungsi sebagai Goong.

2.Sembilan buah Angklung :
-Dua buah Angklung Ambruk
-Dua buah Angklung Tempas/Pancer
-Empat buah Angklung Roel

3.Lima buah Terebang :
Terebang Anak, Terebang Kempring, Terebang Tempas, Terebang Bangsing dan Terebang Indung yang berfungsi sebagai Goong.

4.Sembilan buah Angklung :
-Dua buah Angklung Ambruk
-Dua buah Angklung Tempas/Pancer
-Empat buah Angklung Roel
-Sebuah Angklung Engklok

5.Tiga pasang Batok Kelapa.
6.Dua buah Keprak terbuat dari Bambu.

Adapun jenis lagu-lagu yang dibawakan, antara lain :
1.Lagu Anjrog;
2.Lagu Kacang Buncis;
3.Lagu Ya Maula;
4.Lagu Soleang.
Disamping lagu-lagu tersebut, diselingi dengan penampilan Beluk.

Jumlah pemain Bangklung seluruhnya 27 orang, yang masing-masing membawa alat : Terebang, Angklung, Beluk (Vokal﴿, Terompet, Keprak dan seorang Bodor.

Kesenian Bangklung merupakan hasil prakarsa Bapak Rukasah selaku Kepala Seksi Bidang Kesenian Depdikbud Kabupaten Garut, telah menetapkan perpaduan jenis kesenian Terebang dan Angklung pada tanggal 12 Desember 1968 di Desa Cisero Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut.

4. Badeng
Kesenian tradisional BADENG diciptakan pada tahun 1800 yaitu di jaman Para Wali, kesenian ini mula-mulanya diciptakan oleh seorang tokoh penyebar agama Islam bernama ARFAEN NURSAEN yang berasal dari daerah Banten yang kemudian terus menetap di Kampung Sanding Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut, beliau dikenal masyarakat disana dengan sebutan LURAH ACOK.

Lurah Acok berfikir didalam hatinya bagaimana caranya supaya ajaran agama Islam dapat menyebar luas di masyarakat waktu itu agama Islam sangat asing sekali. Pada suatu saat dia pergi menuju suatu perkampungan di daerah Malangbong dan di tengah jalan beliau menemukan sesuatu benda yang bentuknya panjang bulat terbuat dari bambu serat dengan tidak sadar maka benda itu dibawanya ke rumah dan bambu tersebut dibuat suatu alat yangt bisa mengeluarkan bunyi. Pada saat itu juga ARFAEN mengumpulkan para santri dan mereka disuruhnya membuat alat-alat lainnya yang terbuat dari bambu-bambu yang sudah tua untuk memadukan bunyinya dengan alat yang Arfaen buat tadi dan kemudian bambu-bambu tersebut disusun dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengeluarkan suara yang nyaring dan dicobanyalah semua alat-alat itu ditabuh/dibunyikan maka terdengarlah irama musik, kalau masa kini yang sangat enak didengar ditambah dengan nyanyian-nyanyian yang beriramakan Sunda Buhun dan Arab / Solawatan.

Dari mulai saat itulah Lurah Acok dan Para Santrinya setiap hari, setiap minggu, setiap bulan berkeliling mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat, umaro dan tokoh-tokoh santri untuk berkumpul bermusyawarah sambil memasukan ajaran-ajaran agama Islam dengan menabuh seperangkat alat-alat yang dibuatnya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan lagu-lagu sunda buhun yang isi syairnya mengajak kepada masyarakat banyak untuk masuk agama Islam.

Hampir semua penduduk yang ada di Desa Sanding , di kampung-kampung, di kota-kota sekitar daerah Malangbong bahkan dimana-mana di daerah Kabupaten Garut pada umumnya yang pernah didatangi oleh Lurah Acok menganut ajaran agama Islam.

Maka sejak saat itulah Lurah Acok memberikan nama Kesenian Badeng yang artinya ?Badeng? adalah dari kata Bahadrang yaitu musyawarah berunding dengan suatu alat kesenian. Badeng adalah suatu jenis kesenian sebagai media untuk menyebarkan agama Islam pada waktu itu.

Sampai sekarang kesenian ini masih ada dan dipergunakan sebagai alat hiburan, untuk menyambut tamu-tamu besar, perayaan, Mauludan, khitanan, hajat dan lain sebagainya, hanya saja para pemainnya sudah tua-tua rata-rata berumur 90 tahunan.

Adapun alat-alat Kesenian Badeng tersebut terdiri dari :
-2 (dua) buah Angklung Kecil bernama Roel yang artinya bahwa dua pimpinan pada waktu itu antara kaum ulama dengan umaro (pemerintah) harus bersatu, alat ini dipegang oleh seorang dalang.
-2 (dua) buah dogdog lonjor ujungnya simpay lima yang artinya menandakan bahwa didunia ini ada siang ada malam dan laki-laki dengan perempuan, alat ini dipegang oleh dua orang simpay lima berarti rukun Islam.
-7 (tujuh) buah angklung agak besar terdiri dari : angklung indung, angklung kenclung dan angklung kecer disesuaikan dengan nama-nama hari, alat ini dipegang oleh 4 orang.

5.Debus
DEBUS adalah salah satu jenis kesenian tradisional rakyat jawa Barat yang terdapat didaerah pamempeuk Kabupaten Garut ini tercipta kira ?kira di abad ke 13 oleh seorang tokoh penyebar agama islam ,pada waktu itu di daerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran islam secara meluas. Tokoh penyebar agama islam disebut Mama ajengan .
Nama ajengan berpikir dalam hatinya bagai manakah caranya untuk dapat menyebar luaskan atau mempopulerkan ajran agama islam karena pada waktu itu sangat sulit sekali karena banyak kepercayaan-kepercayaan dan agama lain yang di anut oleh masyarakat setempat. sedangkan ajaran agama islam pada waktu itu masih belum dipahami dan di mengerti maknanya .
Pada tengah malam bulan purnama si Mama Ajenganmengumpulka para santrinya untuk bersama-sama menciptakan sambil dengan belajar menabuh seperangkat alat-alat yang terbuat dari pohon pinang dan kulit kambing sehingga dapat mengeluarkan bunyi dengan irama yang sangat unik sekali yang kemudian kesenian tersebut dinamakan DEBUS. Dengan cara menyajikan kesenian ini, diharapkan dapat menarik masa yang banyak.
Untuk menjaga hal ?hal yang tidak diinginkan dalam menjalankan tugas menyebarluaskan ajaran agamanya nanti dan mungkin akan banyak rintangan-rintangannya maka disamping belajar kelihaian menabuh alat-alatnya diajarkannya pula ilmu-ilmu kebatinan baik rohani maupun jasmani dipelajarinya pula ilmu-ilmu kekebalan /kekuatandalam dirnya masing-nasing umpamanya tahan pukulan benda-benda keras seperti batu bata , kayu, kebal terhadap golok-golok tajam dsb. Menjalani dan mendalami berbagai ilmu ?ilmu kebatinan tersebut untuk menjaga apabila terjadi dikemudian hari sewaktu mereka mempopulerkan ajaran agamanya .
Didalam rangka mempertunjukan kesenian DEBUS tersebut mama Ajengan dan para santrinya yanh telah mahir dan dibekali oleh ilmu-ilmunya masuk, keluar kampung bahkan ke berbagai kota mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat umaro tua muda, laki-laki perempuan sambil memasukkan pengaruh ajaran agamanya lewat kesenian yang dipertunjukannya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan berjanji yang mengambil dari kitab suci Al-qur?an yang isinya mengajak masyarakat banyak untuk dapat memahami dan melaksanakan ajaran agama islam .
Demikianlah yang dilakukan setiap hari, setiap minggu dan setiap bulan oleh mama Ajengan dengan para santrinya dalam rangka mempopulerkan ajaran agama islam lewat kesenian ?DEBUS? sehingga berhasil meningkatkan para prngikutnya hampir diseluruh daerah dengan didirikannya pesantren-pesantren, mesjid-mesjid/ surau untuk menampung pengikutnya .
Sampai sekarang secara turun temurun kesenian ?DEBUS? masih dipergunakan sebagai media untuk menghibur para tamu yang datang ke daerah tersebut disamping itu sering disajikan pada acara hajatan (kenduri) umpamanya hajat chitana ,hajat perkawinan atau upacara hari besar Umat Islam, yang sangatunik sekali sampai sekarang masih diperingati tiap terang bulan purnama tanggal 14 oleh keturunan mama Ajengan.-
6.Gesrek
Seni Gesrek disebut juga Seni Bubuang Pati (mempertaruhkan nyawa). Bila dikaji dengan teliti, seni Gesrek dapat dikatakan juga bersifat religius. Dengan ilmu-ilmu, mantra-mantra yang berasal dari ayat Al Qur?an pelaku seni ini bisa tahan pukulan, tidak mempan senjata tajam atau tidak mempan dibakar. Demi keutuhan/mengasah ilmu yang dimiliki pemain Gesrek perlu mengadakan pemulihan keutuhan ilmu dengan jalan ngabungbang (kegiatan ketuhanan yang dilaksanakan tiap malam tanggal 14 Maulud) yaitu mengadakan mandi suci tujuh muara yang menghadap sebelah timur sambil mandi dibacakan mantra-mantra sampai selesai atas bantuan teman atau guru apabila masih ada. Jadi dengan adanya Seni Gesrek kegiatan ritual bisa dilaksanakan secara rutin sebagai rasa persatuan dan kesatuan sesama penggemar seni yang dirasa masih langka. Setelah terciptanya Seni Gesrek timbul gagasan untuk mengkolaborasikannya dengan seni yang berkembang juga di wilayah ini yaitu seni Abah Jubleg. Seni ini dikatakan khowarikul adat (di luar kebiasaan) karena Abah Jubleg dapat mengangkat benda yang beratnya lebih dari 1 (satu) kwintal dengan menggunakan kekuatan gigi, dapat mengubah kesadaran manusia menjadi tingkah laku binatang (Babagongan/Seseroan) dan memakan benda yang tidak biasa dimakan oleh manusia.
7. Hadro
HADRO adalah jenis kesenian perpaduan antara budaya Parahyangan dengan budaya Parsi atau Arab. Seni ini diperkenalkan oleh Kyai Haji Sura dan Kyai Haji Achmad Sayuti yang berasal dari Kampung Tanjung Singuru Samarang Kabupaten Garut sekitar tahun 1917. kehadirannya tentu saja mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Bojong. Maka tidak heran apabila perkembangannya sungguh sangat menggembirakan.

Jenis kesenian ini memiliki ciri tertentu dalam gaya dan lagunya. Gaya/laga adalah gerak geriknya yang diambil dari jurus-jurus pencak silat yang menggambarkan kepatriotan.

Lagu / liriknya diambil dari sajak pujangga Islam Syech Jafar Al Banjanji. Alat pengiringnya terdiri dari : Rebana, Tilingtit, Kempring, Kompeang, Bangsing, Tarompet dan Bajidor.

Sedangkan para pemainnya mengenakan busana berupa baju dan celana putih yang dihiasi dengan selendang merah melilit di dada.

Seni HADRO menggambarkan kepatriotan para pejuang muslim dalam menentang kaum penjajah. Masyarakat Desa Bojong sebenarnya boleh berbangga hati karena pada saat ini seni tersebut berada pada kondisi yang masih mampu bertahan dengan kemandiriannya.

HADRO, bagaimanapun tetap HADRO, satu jenis kesenian tradisional kebanggaan masyarakat Desa Bojong Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut. Kita bersyukur atas kebesaran Tuhan Pencipta, yang dengan segala kemaha kuasaan-Nya telah menurunkan salah satu khasanah budaya di Kabupaten Garut tercinta.

Seni tradisional HADRO yang tumbuh dan berkembang di Desa Bojong senantiasa tampil dalam setiap kesempatan, baik dalam upacara hari besar nasional atau acara-acara penting di tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, bahkan di tingkat Propinsi, disamping itu ditampilkan pula dalam acara perkawinan, khitanan dan acara keagamaan lainnya.

Ajip Rosidi sangat jeli melihat perkembangan sastra Sunda terutama dalam bidang prosa dan puisi yang berkembang setelah perang atau setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949. Pada saat itu ada dua pendapat, pertama bahwa sastra Sunda dalam masa senja, pendapat kedua adalah sastra Sunda yang baru seperti fajar menyingsing. Sejak era penjajahan Jepang sastra Sunda yang tadinya sudah mekar kemudian mengalami kemunduran. Hampir segalanya dikendalikan penjajah. Setelah merdeka Indonesia masuk ke era revolusi fisik. Akibat perang sulit mencari penerbit dan percetakan yang dapat menghasilkan sebuah buku. Pada waktu revolusi kata “Persatuan Indonesia” adalah kata-kata sakti yang jika digunakan orang yang kurang wawasan dapat mematikan kedaerahan. Banyak pengarang yang takut menulis dalam bahasa daerah termasuk dalam bahasa Sunda. Bisa-bisa dituduh kaki tangan Van Mook, sukuistis, atau penghambat persatuan. Mereka lupa arti sebenarnya dari ucapan Mpu Tantular: “Bhinneka Tunggal Ika” yang dijadiukan semboyan dalam lambang kebangsaan Burung Garuda. Meskipun tidak seperti masa sebelum perang ketika banyak dibuat buku-buku berbahaasa Sunda terutama dalam bentuk roman, para pengarang dari kalangan muda Sunda banyak menulis di berbagai majalah dan surat kabar. Karena kekosongan buku-buku sastra Sunda, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga menyusun sebuah antologi prosa dan puisi setelah perang, sekira tahun 1949-1959. Mereka mengumpulkan karya-karya berupa cerita pendek, panineungan (kenangan), prosa lirik, cuplikan drama, dan sajak yang mempunyai nilai sastra dari berbagai majalah dan koran yang terbit pada kurun waktu tersebut. Media-media yang jadi sumber a.l.: Kiwari, Warga, Sunda, Panghegar, Sipatahoenan, Tjandra, Mangle, Siliwangi, Panglajang, dan Kalawarta Lembaga Basa djeung Sastra Sunda (hal. 11). Hasil karya sastra disusun berdasarkan pengarang dari yang lebih tua hingga yang lebih muda. Bahkan diupayakan riwayat hidup singkat dari pengarang. Dengan demikian kita bisa lebih memahami kehidupan pengarang dan karyanya. Alhasil isi buku dimulai dengan karya Tjaraka yang bernama asli Wiranta kelahiran Conggeang Sumedang tahun 1902 dan diakhiri karya Ajatrohaedi yang dilahirkan di Jatiwangi tahun 1939. Dari segi kota kelahiran pengarang cukup mewakili berbagai tempat di Provinsi Jawa Barat dan Banten sekarang. Bagi saya dengan membaca karya panineungan, cerpen, dan beberapa sajak dapat meraba kondisi sosio-kultural masa itu dan sebelumnya. Beruntunglah ada Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga yang mengumpulkan karya-karya sastra Sunda setelah perang dalam sebuah buku sehingga menjadikannya lebih bertahan lama dan bisa disampaikan ke generasi berikutnya. Bayangkan jika hanya diupayakan sebagai “klipping” dari surat kabar yang umurnya sehari atau seminggu dan majalah yang umurnya hanya bulanan. Bahkan dalam bentuk buku pun mungkin hanya tersimpan di beberapa kolektor yang mencintai sastra Sunda dan perpustakaan. Buku ini pun dihiasi dengan gambar hasil coretan Jus Rusamsi. Buku yang sudah berumur lebih 45 tahun dan lembaran kertasnya dari jenis stensil harus diperlakukan hati-hati karena mudah robek. Adapun judul buku diberi nama “Kandjutkundang” adalah seperti kebiasaan para leluhur jika ada bayi yang baru lahir dibekali semacam rajut dengan diisi berbagai kiasan agar dijauhkan dari mara bahaya dan menempuh hidup dengan penuh kerahayuan. Bukankah sastra Sunda pada masa itu seperti seorang bayi yang baru lahir yang jelas berbeda dengan sastra Sunda sebelum perang.*** Doa haturan pa oto iskandar dinata jungjunan pangnangkeupkeun eta nyawa nu indit taya nu nanya taya tapakna di dunya angin pangngusikkeun sapangeusi buana yen aya sinatria nu perlaya di wewengkon langit sunda bulan baturan eta nyawa nu ditundung di tempat baktina taya nu daek ngajungjung he panonpoe geura awurkeun panas anu ngaduruk sagala sangkan ieu dada sakumna nyawa sunda nyaho boga pahlawan digjaya tutugan gunung agung 21 juni 1958 Karya Apip Mustopa Dari Kalawarta L.B.S.S no. 11, Agustus/September 1958. (Kandjutkundang hal. 454)


 Adat perkawinan sunda tidak begitu jauh dengan adat Suku jawa sebenarnya bahkan orang sunda juga katanya dulunya orang jawa yang sakit hati (dapat lihat cerita peran Bubat). mengenai adat perkawinan suku Sunda  ikhtisarnya seperti ini : Adat Sunda merupakan salah satu pilihan calon mempelai yang ingin merayakan pesta pernikahannya. Khususnya mempelai yang berasal dari Sunda. Adapun rangkaian acaranya dapat dilihat berikut ini. 

1.Nendeun Omong, yaitu pembicaraan orang tua atau utusan pihak pria yang berminat mempersunting seorang gadis.

2.Lamaran. Dilaksanakan orang tua calon pengantin beserta keluarga dekat. Disertai  seseorang berusia lanjut sebagai pemimpin upacara. Bawa lamareun atau sirih pinang komplit, uang, seperangkat pakaian wanita sebagai pameungkeut (pengikat). Cincin tidak mutlak harus dibawa. Jika dibawa, bisanya berupa cincing meneng, melambangkan kemantapan dan keabadian.

3.Tunangan. Dilakukan ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si gadis.

4.Seserahan (3 – 7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain.

5.Ngeuyeuk seureuh (opsional, Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah.)

oDipimpin pengeuyeuk.

oPengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawanten, pangradinan dan sebagainya.

oDiiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk

oDisawer beras, agar hidup sejahtera.

odikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih sayang dan giat bekerja.

oMembuka kain putih penutup pengeuyeuk. Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.

oMembelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin pria). Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri.

oMenumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin pria).

6.Membuat lungkun. Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan handai taulan.

7.Berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang keluarga.

8.Upacara Prosesi Pernikahan

oPenjemputan calon pengantin pria, oleh utusan dari pihak wanita

oNgabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua calon pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.

oAkad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan di sebelah kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti penyatuan dua insan yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai akan menandatangani surat nikah.

oSungkeman,

oWejangan, oleh ayah pengantin wanita atau keluarganya.

oSaweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi payung besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.

oMeuleum harupat, pengantin wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria.

oNincak endog, pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas  kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin wanita.

oBuka pintu. Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan.

9.Ada sebagian lain menggunakan adat yang dibalut dengan humor seperti :

Mempunyai keunikan tersendiri, di selenggarakan secara humor namun tidak kehilangan atmosfer sacral dan khidmat. Salah satu khas pengantin adapt sunda adalah mempelai wanita menggunakan siger – sejenis mahkota atau hiasan pada bagian kepala sebagai lambing status terhormat sebagaimana di kenakan oleh raja/ratu tanah pasundan sejak dahulu kala . Tata cara sebagai berikut ;

Ngebakan atau siraman

Memandikan calon pengantin wanita agar bersih lahir dan batin sebelum memasuki saat pernikahan. Acara berlangsung siang hari di kediaman calon pengantin wanita. Bagi umat muslim di dahului oleh pengajian atau rasulan dan pembacaan do’a khusus kepada calon pengantin wanita. Rangakain sebagai berikut :

10.Ngecagkeun aisan.

Dimulai dengan calon pengantin wanita keluar dari kamar secara simbolis di gendong oleh Ibu sementara ayah calon pengantin wanita berjalan di depan sambil membawa lilin menuju tempat sungkeman. Maksud dari acara ini adalah melepas tanggung jawab orang tua terhadap anak yang akan menikah.

·Ngaras

Berupa permohonan izin calon mempelai wanita kemudian mencuci kaki kedua orang tua dan diteruskan dengan sungkeman.

·Pencampuran air siraman

Kedua orang tua menuangakan air siraman yang berasal dari 7 sumber ke dalam bokor dan mengaduknya untuk upacara siraman.

·Siraman

Diiringi dengan musik kecapi suling atau shalawat nabi, calon pengantin wanita dibimbing oleh Ibu Perias menuju tempat siraman dengan menginjak 7 helai kain. Siraman pengantin wanita dimulai oleh sang Ibu, kemudian ayah, disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiraman ganjil 7,9 dan paling banyak 11 orang. Setelah itu Bapak calon pengantin wanita memberikan air wudhlu kepada calon pengantin dengan menggunakan air setaman yang ada di dalam kendi.

·Potong rambut

Dilakasanakn oleh kedua orang tua, sebagai lambang memperindah diri calon mempelai wanita lahir dan batin. Selanjutnya calon mempelai wanita menjalani acara ngeningan ( di kerik dan di rias) untuk persiapan acara suapan dan seserahan.

·Rebutan parawanten

Sambil menunggu calon mempelai dirias, para tamu undangan menikmati acara rebutan para wanten yang terdiri dari hahampangan dan beubeutian. Para tamu juga dipersilahkan mengambil air siraman yang masih tersisa.

·Suapan terakhir

Pemotongan tumpeng oleh kedua orang tua calon mempelai wanita. Di lanjutkan dengan acara memberi suapan terakhir masing masing sebanyak 3 kali.

·Tanam rambut

Kedua orang tua menanam potongan rambut calon mempelai wanita di tempat yang telah ditentukan.

Rujukan buku

Upacara perkawinan adapt sunda, Eddy Herdiana, PT Suwarnadwipa, Bandung, cetakan pertama, 1980.

DALAM “Mundinglaya Dikusumah” diceritakan bahwa lengser (pembantu umum raja) Muaraberes ditugaskan mencari honje, sejenis tanaman berkelopak seperti jahe yang buahnya masam dan biasa dijadikan bumbu atau bahan manisan. Ketika itu, permaisuri raja yang sedang mengandung rupanya mengidam honje. Singkat kata, lengser mendapatkannya. Tapi di tengah jalan ia berpapasan dengan lengser Pajajaran, yang juga sedang mencari honje untuk permaisuri Pajajaran yang sedang mengandung pula. Apa daya, kala itu honje amat langka.

Lengser Pajajaran tak kehabisan akal. Kepada lengser Muaraberes ia berkata, “Tatkala kakekku kawin dengan nenekku, kakekmu juga kawin dengan nenekmu; lalu sama-sama punya anak: ayahku dan ayahmu. Bapakku kawin dengan ibu, bapakmu kawin dengan ibumu. Lalu sama-sama punya anak lagi, yaitu aku dan kamu. Jadi, kita ini sama-sama anak ayah dan ibu. (Kita) masih bersaudara, tetapi lain ayah lain ibu. Kamu harus memanggilku kakak.”

Jelas, di antara keduanya tidak ada hubungan kekerabatan (darah). Hanya saja, pendekatan lengser Pajajaran demikian memikat hati sehingga lengser Muaraberes rela memberikan sebagian honje-nya. Selamatlah lengser dan permaisuri kedua kerajaan itu. Karena anak mereka berlainan jenis, yang pria dinamai Mundinglaya Dikusumah dari Pajajaran sedang yang wanita dinamai Nyi Dewi Asri dari Muaraberes. Akhirnya kedua keturunan raja itu menikah dan naik tahta menggantikan ayah mereka.

Apa yang dilakukan oleh lengser Pajajaran disebut pancakaki. Menurut Kamus Basa Sunda karya R. Satjadibrata (1954; 2005: 278), pancakaki bermakna sebagai istilah-istilah untuk menunjukkan hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara yang berhubungan langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu (cucu), buyut (piut), bao, canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua, saudara yang berhubungan tidak langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti keponakan anak kakak, keponakan anak adik, dan seterusnya.

Dalam Kamus Umum Basa Sunda (KUBS) susunan Tim Lembaga Basa Sastra Sunda (1985: 352) pancakaki mengandung dua makna. Pertama, hubungan seseorang dengan orang lain yang sekeluarga atau yang masih bersaudara. Contohnya, ibu, ayah, nenek, kakek, paman, bibi, anak, cucu, buyut, keponakan, dsb. Kedua, menyelusuri hubungan kekerabatan. Makna pertama sama dengan makna yang dirumuskan oleh Satjadibrata, sedangkan makna kedua merupakan makna tambahan dengan memasukkan perbuatan menyelusuri hubungan kekerabatan, seperti dalam contoh kalimat, “Cing urang pancakaki heula, perenah kumaha saenyana Ujang jeung Emang tih?” (Mari kita menelusuri dulu hubungan kekerabatan, bagaimana sesungguhnya hubungan kekerabatan Ananda dan Paman?).

Dalam bahasa Sunda dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan, seperti A berputra B, B berputra C, dst. beserta cabang-cabangnya, biasa digambarkan dalam bentuk pohon. Sarsilah bermakna daftar asal-usul, uraian keturunan (KUBS, 1985: 443, 447; lihat pula Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988: 794, 840).

Makna sajarah dan sarsilah tersebut sejajar dengan makna asal katanya sajarotun dari perbendaharaan bahasa Arab, yaitu pohon. Maksudnya gambaran garis keturunan seseorang yang sekilas berbentuk pohon dengan sejumlah cabang, ranting, dan daun. Di lingkungan Keraton Yogyakarta masih terdapat contoh gambaran garis keturunan raja-raja Jawa yang berbentuk pohon. Dalam kosa kata bahasa Indonesia masih ada istilah lain untuk yang bermakna sama, yaitu genealogi. Istilah tersebut tentu berasal dari kosa kata bahasa Belanda genealogie dan atau bahasa Inggris genealogy.

Dari rumusan-rumusan di atas tampak adanya persamaan dan perbedaan antara makna pancakaki dengan makna sajarah dan sarsilah, juga genealogi. Pada satu pihak persamaannya terletak pada semuanya bertalian dengan masalah hubungan kekerabatan atau kekeluargaan. Pada pihak lain perbedaannya terletak pada penekanan hubungan kekerabatan yang dilambangkan dengan istilah-istilah tertentu bagi makna pancakaki. Sedangkan makna sajarah, sarsilah, dan genealogi terletak pada penekanan asal-usul (ke atas) dan keturunan (ke bawah) serta gambaran hubungan kekerabatan atau tali persaudaraan.

Hubungan seseorang dengan orang lain dalam lingkungan kerabat atau keluarga dalam masyarakat Sunda menempati kedudukan yang sangat penting. Hal itu bukan hanya tercermin dari adanya istilah atau sebutan bagi setiap tingkat hubungan itu yang langsung dan vertikal (bao, buyut, aki, bapa, anak, incu) maupun yang tidak langsung dan horisontal (dulur, dulur misan, besan), melainkan juga berdampak kepada masalah ketertiban dan kerukunan sosial. Bapa/indung, aki/nini, buyut, bao menempati kedudukan lebih tinggi dalam struktur hubungan kekerabatan (pancakaki) daripada anak, incu, alo, suan. Begitu pula lanceuk (kakak) lebih tinggi dari adi (adik), ua lebih tinggi dari paman/bibi. Soalnya, hubungan kekerabatan seseorang dengan orang lain akan menentukan kedudukan seseorang dalam struktur kekerabatan keluarga besarnya, menentukan bentuk hormat menghormati, harga menghargai, kerjasama, dan saling menolong di antara sesamanya, serta menentukan kemungkinan terjadi-tidaknya pernikahan di antara anggota-anggotanya guna membentuk keluarga inti baru.

Pancakaki dapat pula digunakan sebagai media pendekatan oleh seseorang untuk mengatasi kesulitan yang sedang dihadapinya. Dalam hubungan ini yang lebih tinggi derajat pancakaki-nya hendaknya dihormati oleh yang lebih rendah, melebihi dari yang sama dan lebih rendah derajat pancakaki-nya.

Betapa pentingnya kedudukan pancakaki dalam masyarakat Sunda, sampai-sampai pada zaman sekarang pun orang Sunda masih biasa melakukan pancakaki dalam kehidupan sehari-hari pada tiga jenis peristiwa berikut. (1) Pertemuan antara orang Sunda yang sebelumnya sudah saling mengenal atau pernah berkenalan. (2) Pertemuan antara orang Sunda yang baru berkenalan. (3) Pertemuan antara dua pihak orang Sunda dalam proses pernikahan salah seorang anggotanya masing-masing. Dalam rangka membina suasana akrab dalam pertemuan itu mereka melakukan pembicaraan tentang pancakaki mereka masing-masing yang menjurus ke arah terjalinnya hubungan kekerabatan di antara keluarga besar mereka.

Bahkan jika ternyata di antara mereka tidak memiliki hubungan kekerabatan (darah), maka pembicaraan dilanjutkan dengan mencari pertalian hubungan lain, seperti melalui kenalan, tetangga, teman sekolah, teman bekerja, dan lain-lain yang sama-sama dikenal oleh mereka. Adapun tujuan pembicaraan tersebut adalah untuk saling mendekatkan hubungan mereka. Tujuan selanjutnya, bergantung pada situasi dan kondisi pertalian hubungan atau pertemuan mereka.

Kapan lahirnya pancakaki dalam masyarakat Sunda? Pertanyaan tersebut sulit dijawabnya, karena data mengenai hal itu tidak ada. Namun, sebagai gambaran dapatlah dilihat dari tradisi lisan (cerita mitologi, cerita legenda, cerita pantun, dongeng) dan tradisi tulisannya (prasasti, naskah). Ternyata dalam setiap zaman perjalanan hidup orang Sunda didapatkan sumber informasinya, baik lisan maupun tulisan.

Tradisi lisan Sunda tertua yang mengemukakan keberadaan pancakaki kiranya adalah cerita Sangkuriang. Cerita mitologi ini menggambarkan kehidupan zaman prasejarah yang berlatarbelakang kejadian alam terbentuknya tiga gunung di sebelah utara Bandung, yaitu Gunung Tangkuban Parahu, Bukittunggul, dan Burangrang serta sebuah Danau Bandung Purba. Di dalam cerita ini sudah ada pancakaki, yaitu ada tokoh ayah (raja yang sedang berburu dan si Tumang), ibu (Celeng Wayungyang dan Dayang Sumbi), dan anak (Dayang Sumbi dan Sangkuriang). Di antara tokoh-tokoh tersebut terjalin hubungan kekerabatan yang saling menghormati dan mengasihi sesuai dengan kedudukan pancakakinya, kecuali dalam kondisi tanpa sadar dan tak tahu.

Kekecualian dimaksud adalah Sangkuriang membunuh si Tumang yang sesungguhnya ayah kandungnya sendiri serta terjalinnya kisah asmara antara Dayang Sumbi dengan Sangkuriang, walaupun pernikahan mereka tidak jadi karena Dayang Sumbi kemudian tahu bahwa Sangkuriang adalah anak kandungnya. Jelas, cerita ini bertemakan tabu akan pernikahan sedarah langsung (tabu incest).

Adapun tradisi tulisan tertua adalah prasasti Tugu (ditemukan di Tugu, sekitar perbatasan Bekasi-Jakarta) yang ditulis pada batu dengan menggunakan aksara Palawa dan bahasa Sansekerta dari zaman Kerajaan Tarumanagara (abad ke-5 Masehi). Dalam prasasti ini disebutkan tiga orang raja yang memiliki hubungan kekerabatan langsung dan vertikal, yaitu Rajaresi, Rajadiraja Guru, dan Purnawarman. Pancakaki-nya adalah Purnawarman putra Rajadiraja Guru dan Rajadiraja Guru putra Rajaresi. Jadi, ada tiga generasi berupa kakek, ayah, dan anak yang secara bergantian memerintah Kerajaan Tarumanagara.

Prasasti Batutulis pun yang ditulis pada batu dengan aksara Jawa Kuna dan bahasa Sunda Kuna serta dikeluarkan oleh Prabu Surawisesa, raja Sunda (1521-1535), pada tahun 1533 dan berada di kota Bogor sekarang mengungkapkan pancakaki raja-raja Sunda. Bahwa Sri Baduga Maharaja, raja Sunda di Pakuan Pajajaran, adalah putra Rahiyang Dewa Niskala, cucu Rahiyang Niskala Wastukancana. Di sini pun tertera tiga generasi raja Sunda yang hubungan kekerabatannya langsung dan vertikal.

Daftar raja Sunda yang paling lengkap terdapat pada naskah Carita Parahiyangan. Di dalam naskah ini dapat dikatakan semua raja Sunda baik yang berkedudukan di Galuh maupun yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran didaftarkan secara kronologis sejak raja pertama (sekitar abad ke-7-8) hingga raja terakhir (1579). Bahwa raja Sunda pertama digantikan oleh raja Sunda kedua yang digantikan lagi oleh raja Sunda ketiga dan seterusnya hingga raja terakhir. Pergantian raja-raja tersebut dilakukan oleh sesama anggota kerabat keraton yang pancakaki-nya berdekatan dengan raja Sunda yang digantikannya, seperti anak, adik, menantu.

Muncullah konsep kultus dewa raja dan sistem pergantian pemegang pemerintahan berdasarkan hubungan kekerabatan (darah dan pernikahan). Mengemukanya hanya daftar dan pancakaki raja-raja dalam tradisi lisan dan tradisi tulisan Sunda kiranya berlatar belakang ajaran agama dan kebudayaan Hindu dari India yang menghantarkan kepada periode sejarah di Tatar Sunda dan Nusantara pada umumnya serta memperkenalkan stratifikasi sosial berdasarkan kasta (brahmana, ksatria, waisya, sudra) yang berdampak pada profesi masing-masing.

Runtuhnya Kerajaan Sunda diiringi oleh munculnya Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, dan kabupaten-kabupaten di wilayah Tatar Sunda yang telah dipengaruhi oleh ajaran agama dan kebudayaan Islam serta dipengaruhi pula oleh kebudayaan Jawa. Kiranya seiring dengan merasuknya agama dan kebudayaan Islam yang antara lain dipengaruhi oleh kuatnya tradisi pancakaki di kalangan bangsa Arab yang menyebarkan Islam ke mana-mana, termasuk ke Tatar Sunda dan nusantara umumnya, masuklah tradisi sajarah dan sarsilah dalam kehidupan masyarakat Sunda.

Ada data baru yang memperlihatkan terjadinya masa peralihan sistem pancakaki antara tradisi zaman kuna (Kerajaan Tarumanagara dan Sunda) dengan tradisi zaman baru (kesultanan dan kabupaten). Data tersebut tertera pada naskah lontar dengan aksara Sunda Kuna (unsur tradisi kuna), tetapi menggunakan bahasa Jawa, munculnya tokoh Prabu Siliwangi sebagai awal pancakaki, berisi pancakaki yang sebagian besar tokohnya tidak menduduki jabatan raja atau penguasa daerah, serta munculnya gelar dan nama tokoh muslim dan Jawa (unsur tradisi baru). Data ini tertera pada naskah lontar Sunda yang kini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta dengan nomor kode Kropak 421. Dalam naskah ini disebutkan 85 nama tokoh yang berasal dari 22 generasi hubungan kekerabatan (darah). Contoh gelar dan nama Islam dan Jawa antara lain Sunan Parung, Ki Mas Yudamardawa, Nyi Mas Palembang, Ngabehi Mangunyuda, Raden Abdul, Pangeran Demang, Dipati Darma, Ki Ariya Danupati, Kiyahi Wihataka.

Pancakaki para Sultan Cirebon dan Sultan Banten berpangkal pada dua leluhur. Pada satu pihak (berdasarkan garis ibu) berpangkal pada Prabu Siliwangi yang disebutkan sebagai raja Pajajaran terakhir; ada yang berlanjut sampai Prabu Seda (leluhur kelima Prabu Siliwangi). Pada pihak lain (berdasarkan garis ayah) berpangkal pada Sultan Mesir atau Sultan Banisrail di tanah Arab dan selanjutnya sampai Nabi Muhammad, penerima dan pembawa agama Islam, bahkan ada yang sampai Nabi Adam, manusia dan nabi pertama menurut ajaran Islam. Pancakaki demikian tertera pada naskah-naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cirebon, “Sajarah Banten”. Munculnya dua pangkal pancakaki tersebut kiranya dilatarbelakangi oleh maksud pengarangnya untuk merangkul dua kelompok masyarakat yang hidup pada masyarakat Sunda masa itu, yaitu kelompok masyarakat penganut atau yang berorientasi kepada raja-raja Sunda dan kelompok masyarakat penganut atau yang berorientasi kepada agama Islam. Dengan demikian, pancakaki tersebut memiliki fungsi politis.

Kabupaten-kabupaten mengeluarkan pula dokumen tertulis berupa naskah-naskah yang berisi pancakaki di lingkungan keluarga para bupati yang memerintah di kabupaten yang bersangkutan, bahkan dari Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung didapatkan naskah yang judulnya menggunakan kata pancakaki, yaitu Kitab Pancakaki dari Sumedang dan Kitab Pancakaki Masalah Karuhun Kabih (Kitab Pancakaki Masalah Semua Leluhur) dari Bandung. Pancakaki yang berasal dari Kabupaten Bandung, Batulayang, Parakanmuncang, dan Cianjur berpangkal pada tokoh Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran termasyhur dan terakhir, misalnya pada naskah Sajarah Bandung dan Babad Cikundul. Yang berasal dari Kabupaten Galuh (Ciamis) dan Kabupaten Sumedang pancakaki-nya berpangkal pada Ratu Galuh, misalnya pada Wawacan Sajarah Galuh dan Kitab Pancakaki. Pancakaki dari Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya) berpangkal pada Sultan Pajang dari Pengging (Jawa), yaitu terdapat pada naskah Sajarah Sukapura. Pangkal pancakaki tersebut dimaksudkan pengarangnya untuk mempertinggi derajat dan martabat para bupati serta melegitimasikan bupati yang bersangkutan dalam menduduki jabatannya.

Makin kemudian (sejak abad ke-19) pancakaki dalam naskah-naskah dari kabupaten-kabupaten di wilayah Priangan makin lengkap. Sejak itu dalam pancakaki itu bukan hanya dikemukakan identitas (nama) bupati beserta putranya yang menggantikan jabatan ayahnya sebagai bupati, melainkan disebutkan pula identitas (nama) semua putra bupati beserta ibunya masing-masing serta masalah ketika terjadi pergantian pemegang pemerintahan. Sejauh pengetahuan penulis, pancakaki paling lengkap terdapat pada keluarga besar bupati (menak) Sumedang dan Bandung. Di samping didapatkan naskahnya sebanyak beberapa buah, juga ada bagan pancakaki-nya secara keseluruhan dan tiap-tiap cabang keluarga seorang bupati atau tokoh tertentu. Hal ini dimungkinkan karena pancakaki memainkan peranan penting dalam proses pengangkatan/penggantian bupati dan pejabat-pejabat pemerintahan lainnya (sistem feodal). Secara tersurat dikemukakan tujuan dan fungsi naskah pancakaki pada masa lalu tertera dalam naskah Sajarah Sukapura karya tulis Raden Kanduruan Kartinagara. Bahwa “…membuat pancakaki ini, untuk dipakai mengingatkan, para anak-cucu, agar jangan putus hubungan kekeluargaan, karena biasanya yang muda tak peduli, menghapalkan keturunan/leluhur. Tetapi kalau sudah ada dalam bentuk tertulis, disimpan di dalam laci, kendatipun tidak hafal, pasti tak akan sia-sia, sebab sudah ada dalam bentuk tertulis itu, asalkan mau membaca, pasti ketemu.

Demikianlah, dapat disimpulkan bahwa pancakaki menempati kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Sunda. Pancakaki memiliki fungsi individual dan sosial yang bervariasi pada setiap zaman, seperti untuk memperoleh legitimasi kekuasaan, mempertinggi derajat dan martabat seseorang, memperoleh dan mempertahankan jabatan dalam pemerintahan, dan melakukan pendekatan dalam hubungan keluarga, pernikahan, dan sosial budaya lainnya. Pancakaki mencerminkan gambaran bahwa tata kehidupan orang Sunda berdasarkan kepada asas kekeluargaan yang ingin menempatkan setiap anggota keluarganya dalam hubungan pancakaki. Dengan hubungan yang jelas tempatnya dalam struktur kekerabatan mereka, di samping akan terbentuk dan terbina suasana rukun dan damai, juga terbentuk dan terbina suasana tertib dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka akan menempatkan diri pada kedudukan hubungan pancakaki masing-masing serta menghormati dan menghargai sesamanya sesuai dengan tingkat hubungan pancakaki-nya.***

Penulis, GuruBesar Universitas Padjadjaran dan Ketua Pengurus Pusat Studi Sunda
Sumber: Pikiran rakyat, 13 Desember 2005

Primordialisme Harus Disingkirkan Saat Mengurus Negara”

 

Bandung, Kompas – Mulai sekarang, penilaian yang didasarkan atas nilai-nilai primordialisme harus disingkirkan. Yang harus kita lakukan ialah bagaimana membangun kultur kolektif bangsa sehingga penghargaan dan hukuman dilandaskan atas penilaian yang obyektif.

Demikian dikatakan guru besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof Kusnaka Adimihardja PhD, Kamis (15/12). Kusnaka dihubungi menanggapi kekecewaan para tokoh dari Paguyuban Pasundan atas dicopotnya dua menteri asal Jabar dari jajaran Kabinet Indonesia Bersatu.

Kusnaka menuturkan, sekarang jangan lagi berpikir primordial. Penilaian yang didasarkan atas kemampuan dan tolok ukur yang jelas serta rasional yang seharusnya dikedepankan.

Alasan kesukuan sangat tidak relevan karena masalah bangsa ini besar. Jangan mengandalkan emosional, tapi kalkulasi yang rasional, katanya.

Lebih lanjut Kusnaka menjelaskan, sebenarnya orang Sunda itu sangat rasional. Karena rasional, maka orang Sunda melihat kultur sebagai sesuatu yang dinamis.

Jadi, mungkin saja institusinya yang masih konservatif tidak melihat realitas dan dinamika yang terjadi, tuturnya.

Kusnaka mengakui sulit menginternalisasi watak rasional orang Sunda dalam sebuah institusi karena nantinya akan menimbulkan konflik antara pihak yang rasional dan konservatif.

Sementara itu, mantan anggota DPR asal Jawa Barat, Tjetje Hidayat Padmadinata, mengutarakan, ketika berbicara Kabinet Indonesia Bersatu, maka asal- usul etnik dan daerah jangan dikedepankan. Kurang relevan lah, ujar Tjetje.

Menurut dia, yang harus dipertimbangkan dari seorang menteri atau calon menteri ialah rekam jejaknya, yang meliputi integritas pribadi dan profesionalismenya.

Perlu ada pencerahan

Tjetje merasa bersyukur bahwa ternyata ada orang Sunda yang menjadi menteri. Namun, sebelum diangkat menjadi menteri, presiden harus bertanya terlebih dahulu kepada orang Sunda bagaimana reputasi orang tersebut. Jadi, pemilihan pejabat negara tidak asal Sunda saja.

Meski kultur orang Sunda sendiri sebenarnya rasional, ujar Tjetje, pemikiran setiap orang tetap akan berbeda.

Oleh karena itu, lanjut Tjetje, agar memiliki wawasan kebangsaan yang luas, perlu adanya proses pencerahan berpikir di kalangan orang Sunda.

Sementara itu, Dr Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Jabar, mengatakan, sikap tokoh Paguyuban Pasundan yang merasa kecewa atas pencopotan dua menteri asal Jabar merupakan sikap yang baru.

Justru Paguyuban Pasundan berani bicara terbuka ini sikap baru. Dulu mana ada orang berani. Jadi, bagi negeri dengan berbagai macam suku, perhatikan juga masalah keterwakilan ini, ujar Nina Lubis.

Akan tetapi, lanjut Nina, kekecewaan itu tidak mencerminkan aspirasi masyarakat Sunda secara keseluruhan. Banyak juga yang tidak peduli dengan urusan kesundaan atau juga tidak mau menunjukkan sikap. Ini adalah sikap siger tengah (mencari aman) yang menjadi budaya politik Sunda, ungkap Nina Lubis.

Menurut dia, selama ini orang Sunda merasa tersisihkan dalam percaturan politik nasional, bahkan di kandang sendiri. Masalah keterwakilan dalam kabinet sudah sering dikemukakan berbagai kalangan di Bandung secara terbuka dalam berbagai kesempatan kepada para calon presiden sebelum pemilihan. (d11)

Oleh Prof. Dr. H. NANAT FATAH NATSIR, M.S.

BAGI orang Sunda, mencari seorang pemimpin selalu terkesan sangat sulit. Hal ini lebih disebabkan oleh kultur dan interpretasi yang keliru pada teks-teks agama yang mereka anggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam nilai budaya “urang Sunda”, maka yang lahir kemudian adalah krisis kepemimpinan yang berujung pada inferioritas orang Sunda dalam pergaulan di lingkup nasional.

Apa sebenarnya akar historis krisis kepemimpinan orang Sunda? Pertanyaan ini mutlak dikedepankan bukan untuk menghakimi masa lalu, mengingat sebagai masyarakat Jawa Barat kita hidup dalam penggalan sejarah dan merupakan bagian dari sejarah tersebut, melainkan untuk menggambarkan realitas yang bergerak secara dinamis dalam kesadaran kita, mampu mengontrol laju sejarah tersebut melalui stuktur kesadaran.

Akar-akar yang dimaksud adalah serpihan-serpihan, akumulasi nilai-nilai, dan struktur psikologis yang kita warisi dari masa lalu yang mengendap dalam kesadaran kolektif masyarakat Sunda. Inilah yang dalam ilmu sosiologi disebut “sistem nilai”.

Atribut akar-akar krisis tersebut patut dikritisi karena elemen-elemen yang tumbuh pada masyarakat Sunda tadi telah membias sangat jauh dalam stuktur kolektif budaya Sunda dan aktivitas mereka kerap dimanfaatkan oleh para pemimpin “pusat” melalui struktur otoritas.

Jadi apakah model pemilihan Gubernur Sutiyoso akan diterapkan dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat yang akan datang? Hal ini bergantung pada “harga diri” masyarakat Jawa Barat sendiri. Apakah mereka ridho dengan pola seperti itu ataukah akan mampu menentukan kepemimpinan yang bertanggung jawab pada masyarakatnya sendiri, yang menurut Ibnu Kaldun berdasarkan ashobiyah (solidaritas sosial).

Interpretasi ajaran agama

Masyarakat Sunda memiliki karakteristik budaya yang diharapkan oleh Islam, maka tidak salah apabila banyak kalangan menyebutkan bahwa budaya Sunda sebenarnya adalah Islam yang pada titik akhir selalu menyebut bahwa Sunda adalah Islam. Menjadi Islam berarti menyandarkan segala pola hidup kepada Al Quran dan Sunah Rasul sebagai pedoman hidup, termasuk dalam hal kepemimpinan. Kita memahami dalil, “Janganlah kamu meminta-minta jabatan”, dengan interpretasi “tidak boleh” mengejar kepemimpinan. Akhirnya yang sering kita saksikan adalah minimnya gaung orang Sunda untuk bersaing memperebutkan kepemimpinan baik di kandang sendiri lebih-lebih di lingkup nasional. Orang Sunda lebih memilih tidak ikut-ikutan dan “mangga akang bae ka payun” daripada harus “berkeringat” menjadi yang terbaik. Hal-hal tersebut sangat tampak dalam pergaulan antaretnis, sipil militer, senior junior, dan sebagainya.

Banyak memang parodi untuk menggambarkan hal tersebut. Dalam pergaulan nasional, ketika semua orang dari berbagai daerah dan etnis berkumpul, orang Sunda lebih memilih duduk paling belakang sementara bagian depan “dipersilakan” untuk “diduduki” orang lain. Atau, dalam kasus lain, menjelang berjemaah salat Zuhur para ajengan saling dorong untuk menjadi imam dan semuanya tidak percaya diri karena menganggap rekan mereka yang lebih pantas untuk menjadi imam. Lalu, datanglah seorang berjambang lebat, memakai jubah, dan sorban maju menjadi imam. Semua tentu tidak menolak. Kemudian yang terjadi adalah bacaan al-Fatihah dan suratnya dikeraskan, tidak ruku, tapi terus sujud. Salat menjadi tidak beraturan karena ternyata yang menjadi imam adalah orang gila. Fenomena seperti ini sering diingatkan Amin Rais yang mengutif K.H. A.R. Fakhrudin.

Sejujurnya, fenomena yang kita tampilkan dalam bentuk seperti itu bukan merupakan interpretasi yang benar dari nash. Akhirnya yang tampak dari konsep “mangga ka payun” itu adalah sikap ketidakikhlasan. Mendorong orang lain untuk tampil itu sebenarnya mencari dukungan balik untuknya. Oleh karena itu, kita saksikan di beberapa daerah terjadi pencopotan sekda dan pejabat-pejabat teras lainnya karena wali kota atau bupati gerah terhadap bawahannya itu yang ternyata lebih mendapat simpati masyarakat.

Yang dibutuhkan sekarang dari orang Sunda adalah jiwa ksatria. Ia harus berani tampil agresif, menawarkan konsep, dan mengemukakan kemampuannya untuk menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi termaju di Indonesia. Kita harus mulai mengubah pemahaman teks agama dengan interpretasi modern. Berarti tampil berdasarkan kemampuan dan bukan atas dasar mencari sesuatu. Al Quran menggambarkan hal ini ketika Nabi Yusuf meminta jabatan kepada Raja Mesir, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya kau adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (QS.12:55).

Al Quran sebenarnya menggambarkan bahwa kepemimpinan itu memang harus diperjuangkan. Karena menjadi pemimpin adalah amanah, ia harus didukung oleh perangkat ilmu pengetahuan yang cukup dan track-record yang bersih. Ia harus sanggup menjaga, melindungi, dan melestarikan masyarakat dan lingkungannya dengan baik dan jangan membiarkan yang telah rusak menjadi lebih rusak.

Perspektif Ibnu Khaldun

Abu Zaid Abdul Rahman Ibnu Khaldun atau Ibn Khaldun merupakan sosiolog Muslim kenamaan yang pemikirannya tentang masyarakat dan negara sangat modern melampaui zamannya. Oleh karena itu, ketika kita membahas kepemimpinan dalam perspektif Ibnu Khaldun, kita akan mendapat uraian-uraian yang sangat signifikan dengan kondisi saat ini, terutama kepemimpinan Sunda sebab teori-teori yang dihasilkan Ibnu Khaldun sangat asumtif terhadap berbagai keadaan terutama bagi masyarakat muslim.

Pergantian kepemimpinan di mana pun, termasuk di Jawa Barat ini, dalam pandangan Ibnu Khladun bukan merupakan hal yang luar biasa, melainkan sesuai dengan perkembangan suatu organisme kehidupan, yaitu tumbuh, berkembang, megah, dan secara evolutif diakhiri dengan perubahan (kehancuran). Dalam pandangan Ibnu Khaldun kepemimpinan adalah sunnatulloh. Runtuh dan kokohnya suatu kekuasaan sangat bergantung pada ashobiyah (solidaritas sosial). Konsep ashobiyah ini menyiratkan perlunya ruang bagi konflik kepentingan antarpenguasa dan yang dikuasai sehingga kedua belah pihak saling memiliki posisi tawar-menawar untuk mencapai kepentingan yang saling menguntungkan.

Menurut Ibnu Khaldun, asal-usul solidaritas sosial adalah ikatan darah yang menyatukan masyarakat-masyarakat kecil. Namun, ia pun dengan hati-hati mengatakan bahwa ikatan darah itu tidak berarti apa pun apabila tidak disertai kedekatan dan cara hidup yang sama, tempat hidup bersama itu bisa menumbuhkan solidaritas sosial yang sama kuatnya sebagaimana ikatan darah. Lebih dari itu hubungan suku, antara orang yang dilindungi dan yang tidak dilindungi, bisa membawa solidaritas yang lebih luas. Suatu kepemimpinan, tambah Khaldun, hanyalah dapat dibangun atas dasar ashobiyyah ini.

Bagi Ibnu Khaldun, ikatan kesukuan lebih berpeluang menjadikan kepemimpinan menjadi kuat dibandingkan oleh lain suku. Dalam kasus kesundaan, perspektif Ibnu Khaldun tidak dapat diterapkan bahwa orang Sunda pituin dan memiliki jiwa kesundaan yang kuat akan lebih mampu menjaga dan mengayomi masyarakat dan lingkungannya karena ia akan merasa orang yang paling bertanggung jawab memajukan daerahnya. Ia tidak mencari hidup di Jawa Barat dalam berbagai segi.

Kepemimpinan berdasarkan ashobiyah tersebut, menurut Ibnu Khladun memiliki enam karakter.

Pertama, seorang pemimpin harus berpengetahuan disertai kesanggupan untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan hukum. Menurut Ibnu Khaldun, seorang pemimpin harus menempatkan hukum sebagai aturan yang pokok. Ia sendiri tidak boleh bermain dan mempermainkan hukum.

Kedua, ia harus adil. Artinya bersikap jujur, berpegang pada keadilan, dan memiliki sifat-sifat moral yang baik sehingga perkataan dan tindakannya dapat dipercaya.

Ketiga, ia memiliki kesanggupan menjalankan tugas-tugas yang dituntut dari padanya sebagai pemimpin pemerintahan, termasuk melaksanakan hukum yang diputuskan secara konsekuen.

Keempat, secara fisik dan mental, ia harus bebas dari cacat yang tidak memungkinkan ia dapat menjalankan tugas sebagai pemimpin yang baik.

Kelima, pemimpin sebuah pemerintahan harus berasal dan dipilih dari suku sendiri.

Keenam, seorang pemimpin harus lemah lembut dan sopan santun terhadap pengikutnya dan harus mengutamakan kepentingan rakyat dan wajib membelanya dan juga tidak mencari-cari kesalahan rakyat.

Keenam teori Ibnu Khaldun ini merupakan bukti nyata dalam setiap pola kepemimpinan manapun terlebih sebagai mantan aparatur pemerintahan pada zamannya; Ibnu Khaldun pernah merasakan bahwa kepemimpinan yang didukung masyarakat yang berdasarkan solidaritas sosial dan berasal dari suku sendiri akan mampu menjadikan pemerintahannya menjadi kokoh.

Adapun persoalan Sunda dan non-Sunda dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat merupakan hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan karena sudah jelas bahwa untuk mengubah nasib diri dan kaum harus berasal dari kemampuan kaum itu sendiri (QS.13:11). Yang perlu diingat untuk Jawa Barat adalah pemimpin yang saleh, amanah, dan adil, sesuai dengan kondisi masyarakat yang religius dan berbudaya. Seorang pemimpin harus mampu menjabarkan nilai-nilai agama dalam membangun masyarakat Jawa Barat. Tentu hal itu tidak sekadar saleh ritual.

Sudah saatnya calon pemimpin Sunda telah memiliki keenam kemampuan yang disyaratkan Ibnu Khaldun tadi, maju untuk mencalonkan diri dengan kesatria. Ia harus memiliki pandangan seperti Nabi Yusuf, memiliki kemampuan dan diserhakan sepenuhnya untuk menyejahterakan masyarakat. Wallohu’alam.***

Penulis adalah Guru Besar Sosiologi Agama dan Pembantu Rektor I IAIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sundapura: Tarumanagara, Sunda, Galuh dan Pajajaran
Sebentar lagi Bandung berulang tahun, tanggal 25 September yang ke-195. Bandung identik dengan etnik Sunda, Priangan atau Parahyangan. Bagaimana ceritanya? Panjang!

Tadinya saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran Dago, yaitu jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya, Ciungwanara, Ranggagading, Ranggamalela, Ranggagempol, Hariangbanga, Geusan Ulun, Adipati Kertabumi, Dipati Ukur, Suryakancana, Wira Angunangun, Ariajipang, Prabu Dimuntur, Bahureksa, Wastukancana, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga, Bagusrangin, Panatayuda, dan Singaperbangsa. Tidak banyak yang saya dapat dari pencarian Google, juga tidak punya buku referensi untuk saya dongengkan kembali. Jadi hanya saya tulis asal-usul Sunda saja, mungkin nanti saya temukan juga dongeng atau pun sejarah tentang nama-nama jalan di atas.

Disadur, diringkas, dipotong dan didongengkan kembali oleh saya dari situs catatan sejarah kota Bogor. Silakan baca langsung sumbernya jika anda berminat membaca lebih detil.

Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya, Tarumanagara. Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13 ingin mengembalikan keharuman Tarumanagara yang semakin menurun di purasaba (ibukota) Sundapura. Pada tahun 670M ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (selanjutnya punya nama lain yang menunjukkan wilayah/pemerintahan yang sama seperti Galuh, Kawali, Pakuan atau Pajajaran).

Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Maharaja Tarusbawa menerima tuntutan Raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas (Cianjur ke Barat wilayah Sunda, Bandung ke Timur wilayah Galuh).

Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah sebagai berikut:

  • Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan
  • Galuh Pakuan beribukota di Kawali
  • Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili
  • Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan
  • Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan
  • Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan
  • Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman
  • Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan
  • Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo
  • Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan

Tarusbawa bersahabat baik dengan raja Galuh Bratasenawa atau Sena. Purbasora –yang termasuk cucu pendiri Galuh– melancarkan perebutan tahta Galuh di tahun 716M karena merasa lebih berhak naik tahta daripada Sena. Sena melarikan diri ke Kalingga (istri Sena; Sanaha, adalah cucu Maharani Sima ratu Kalingga).

Sanjaya, anak Sena, ingin menuntut balas kepada Purbasora. Sanjaya mendapat mandat memimpin Kerajaan Sunda karena ia adalah menantu Tarusbawa. Galuh yang dipimpin Purbasora diserang habis-habisan hingga yang selamat hanya satu senapati kerajaan, yaitu Balangantrang.

Sanjaya yang hanya berniat balas dendam terpaksa harus naik tahta juga sebagai Raja Galuh, sebagai Raja Sunda ia pun harus berada di Sundapura. Sunda-Galuh disatukan kembali hingga akhirnya Galuh diserahkan kepada tangan kanannya yaitu Premana Dikusuma yang beristri Naganingrum yang memiliki anak bernama Surotama alias Manarah.

Premana Dikusuma adalah cucu Purbasora, harus tunduk kepada Sanjaya yang membunuh kakeknya, tapi juga hormat karena Sanjaya disegani, bahkan disebut rajaresi karena nilai keagamaannya yang kuat dan memiliki sifat seperti Purnawarman. Premana menikah dengan Dewi Pangreyep –keluarga kerajaan Sunda– sebagai ikatan politik.

Di tahun 732M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orang tuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara putranya, Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan.

Premana akhirnya lebih sering bertapa dan urusan kerajaan dipegang oleh Tamperan yang merupakan ‘mata dan telinga’ bagi Sanjaya. Tamperan terlibat skandal dengan Pangreyep hingga lahirlah Banga (dalam cerita rakyat disebut Hariangbanga). Tamperan menyuruh pembunuh bayaran membunuh Premana yang bertapa yang akhirnya pembunuh itu dibunuh juga, tapi semuanya tercium oleh Balangantrang.

Balangantrang dengan Manarah merencanakan balas dendam. Dalam cerita rakyat Manarah dikenal sebagai Ciung Wanara. Bersama pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan Manarah menyerang Galuh dalam semalam, semua ditawan kecuali Banga dibebaskan. Namun kemudian Banga membebaskan kedua orang tuanya hingga terjadi pertempuran yang mengakibatkan Tamperan dan Pangreyep tewas serta Banga kalah menyerah.

Perang saudara tersebut terdengar oleh Sanjaya yang memimpin Medang atas titah ayahnya. Sanjaya kemudian menyerang Manarah tapi Manarah sudah bersiap-siap, perang terjadi lagi namun dilerai oleh Demunawan, dan akhirnya disepakati Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga.

Konflik terus terjadi, kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Karena konflik tersebut, tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895M sampai tahun 1311M kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.

Dari segi budaya orang Sunda dikenal sebagai orang gunung karena banyak menetap di kaki gunung dan orang Galuh sebagai orang air. Dari faktor inilah secara turun temurun dongeng Sakadang Monyet jeung Sakadang Kuya disampaikan.

Hingga pemerintahan Ragasuci (1297M–1303M) gejala ibukota mulai bergeser ke arah timur ke Saunggalah hingga sering disebut Kawali (kuali tempat air). Ragasuci sebenarnya bukan putra mahkota. Raja sebelumnya, yaitu Jayadarma, beristrikan Dyah Singamurti dari Jawa Timur dan memiliki putra mahkota Sanggramawijaya, lebih dikenal sebagai Raden Wijaya, lahir di Pakuan. Jayadarma kemudian wafat tapi istrinya dan Raden Wijaya tidak ingin tinggal di Pakuan, kembali ke Jawa Timur.

Kelak Raden Wijaya mendirikan Majapahit yang besar, hingga jaman Hayam Wuruk dan Gajah Mada mempersatukan seluruh nusantara, kecuali kerajaan Sunda yang saat itu dipimpin Linggabuana, yang gugur bersama anak gadisnya Dyah Pitaloka Citraresmi pada perang Bubat tahun 1357M. Sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit.

Menurut Kidung Sundayana, inti kisah Perang Bubat adalah sebagai berikut (dikutip dari JawaPalace):

Tersebut negara Majapahit dengan raja Hayam Wuruk, putra perkasa kesayangan seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan dewa Kama, berbudi luhur, arif bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam peperangan. Inilah raja terbesar di seluruh Jawa bergelar Rajasanagara. Daerah taklukannya sampai Papua dan menjadi sanjungan empu Prapanca dalam Negarakertagama. Makmur negaranya, kondang kemana-mana. Namun sang raja belum kawin rupanya. Mengapa demikian? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri. Konon ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan dicintai rakyat dan kebanggaan raja Majapahit. Dalam pencarian seorang calon permaisuri inilah terdengar khabar putri Sunda nan cantik jelita yang mengawali dari Kidung Sundayana.

Apakah arti kehormatan dan keharuman sang raja yang bertumpuk dipundaknya, seluruh Nusantara sujud di hadapannya. Tetapi engkau satu, jiwanya yang senantiasa menjerit meminta pada yang kuasa akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah khabar bahwa ada raja Sunda (Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan cantik rupawan dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.

Setelah selesai musyawarah sang raja Hayam Wuruk mengutus untuk meminang putri Sunda tersebut melalui perantara yang bernama tuan Anepaken, utusan sang raja tiba di kerajaan Sunda. Setelah lamaran diterima, direstuilah putrinya untuk di pinang sang prabu Hayam Wuruk. Ratusan rakyat menghantar sang putri beserta raja dan punggawa menuju pantai, tapi tiba-tiba dilihatnya laut berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tanda-tanda buruk bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke tanah airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap berprasangka baik kepada raja tanah Jawa yang akan menjadi menantunya.

Sepuluh hari telah berlalu sampailah di desa Bubat, yaitu tempat penyambutan dari kerajaan Majapahit bertemu. Semuanya bergembira kecuali Gajahmada, yang berkeberatan menyambut putri raja Kahuripan tersebut, dimana ia menganggap putri tersebut akan “dihadiahkan” kepada sang raja. Sedangkan dari pihak kerajaan Sunda, putri tersebut akan “di pinang” oleh sang raja. Dalam dialog antara utusan dari kerajaan Sunda dengan patih Gajahmada, terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya sesuatu peperangan besar antara keduanya sampai terbunuhnya raja Sunda dan putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah selesai pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati calon pinangannya telah meninggal, sehingga sang raja tak dapat menanggung kepedihan hatinya, yang tak lama kemudian akhirnya mangkat. Demikian inti Kidung.

Sunda-Galuh kemudian dipimpin oleh Niskala Wastukancana, turun temurun hingga beberapa puluh tahun kemudian Kerajaan Sunda mengalami keemasan pada masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh dalam prasasti disebut sebagai Pajajaran dan Sri Baduga disebut oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan kembali ibukota pindah ke barat.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung (kapal laut model Cina) untuk perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).

Selain tahun 1511 Portugis menguasai Malaka, VOC masuk Sunda Kalapa, Kerajaan Islam Banten, Cirebon dan Demak semakin tumbuh membuat kerajaan besar Sunda-Galuh Pajajaran semakin terpuruk hingga perlahan-lahan pudar, ditambah dengan hubungan dagang Pajajaran-Portugis dicurigai kerajaan di sekeliling Pajajaran. Stop.

Lanjut!

Setelah Kerajaan Sunda-Galuh-Pajajaran memudar kerajaan-kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pajajaran mulai bangkit dan berdiri-sendiri, salah satunya adalah Kerajaan Sumedang Larang (ibukotanya kini menjadi Kota Sumedang). Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan kembali ke Pakuan Pajajaran, Bogor.

Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama (terutama penyebaran Islam), militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putranya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa naik tahta. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620M Sumedang Larang dijadikan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai ‘kerajaan’ diubah menjadi ‘kabupaten’.

Sultan Agung memberi perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika, pasukan Kerajan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan militer kabupaten Sumedang Larang diberangkatkan ke Madura atas titah Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten dan akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggungjawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang, sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama, Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraangunangun, kedua, Kabupaten Parakanmuncang oleh Tanubaya dan ketiga, kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha atau R. Wirawangsa atau dikenal dengan “Dalem Sawidak” karena memiliki anak yang sangat banyak.

Selanjutnya Sultan Agung mengutus Penembahan Galuh bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III (anak Prabu Dimuntur, keturunan Geusan Ulun) untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa, karawaan.

Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putra Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656M. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug. Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putra Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679M dan 1721M ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang. Stop.

Jadi nama jalan Sawunggaling, Mundinglaya, Ranggagading, Ranggamalela, Suryakancana, Ariajipang, Bahureksa, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga dan Bagusrangin belum saya temukan dongeng atau sejarahnya, sebagian –kalau tidak salah ingat– adalah tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Lutung Kasarung.

Sumber : http://yulian.firdaus.or.id/2005/09/23/sundapura/

Bandung, Kompas – Sulitnya mengajarkan bahasa Sunda pada anak-anak sekolah menginspirasi dua anak muda untuk mengakrabkan bahasa Sunda melalui komik Sunda. Hanya dengan biaya Rp 120.000 mereka menerbitkan 100 eksemplar komik Sunda untuk segmen remaja dan mahasiswa.

Aditya Gunawan (23), cerpenis Sunda sekaligus mahasiswa Jurusan Sastra Sunda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang sedang praktik mengajar di SD Isola, mengaku kesulitan mengajarkan bahasa Sunda sesuai materi di buku panduan. Siswa-siswanya menilai bahasa Sunda tidak menarik dan sulit.

“Sebab, materinya tidak akrab dengan kondisi zaman sekarang. Misalnya saja tentang wawacan yang berisi pupuh. Itu kan tradisi menulis pada zaman Mataram. Untuk sekadar tahu bisa saja, tapi sulit untuk dipahami anak SD,” kata Aditya, Kamis (12/10), sebelum peluncuran komik berjudul Kolor Totol-Totol.

Sejak akhir September, ia dan komikus, Agung Gumbira (27)-yang juga alumnus Jurusan Seni Rupa, dan mengajar di SD yang sama- berkolaborasi memproduksi komik Sunda agar bahasa Sunda diakrabi generasi muda.

“Saat ini banyak generasi muda Sunda tidak lagi menganggap bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, tetapi bahasa asing,” kata Aditya.

Untuk mengenalkan bahasa Sunda, Aditya menyisipkan perbendaharaan kata Sunda yang sudah jarang dipakai. Misalnya, dalam komik disebutkan kata persani atau magnet. “Dengan melihat gambarnya, orang akan mudah belajar bahasa Sunda,” ujar Aditya.

Komik tersebut bertutur tentang tokoh superhero yang konyol dan lugu. Munculnya tokoh tersebut merupakan sindiran terhadap budaya instan yang kini ada di masyarakat.

Pengerjaan komik dilakukan dua minggu, dengan biaya Rp 120.000. Mereka mengerjakan dengan teknik sederhana. Komikus, Agung Gumbira (27), menggambar dengan media kertas HVS dan tinta dan hasilnya difotokopi. Satu eksemplar menghabiskan biaya sekitar Rp 1.200. Keduanya menjual komik tersebut ke distro dan sekolah-sekolah seharga Rp 2.000 per eksemplar.

“Kami ingin mempertahankan bahasa Sunda sekaligus memberi tawaran baru pada generasi muda. Komik tidak hanya komik Jepang. Sunda juga punya komik,” ujarnya.

Komik ini merupakan judul pertama dari sekitar 10 judul yang akan diterbitkan. “Untuk saat ini kami menerbitkan sendiri. Setelah seluruh serial terwujud, kami akan menerbitkannya menjadi buku yang lebih serius,” kata Agung.

Sebelum diluncurkan, keduanya melakukan uji coba dengan meminta beberapa remaja membacanya. “Ada yang tidak mengerti bahasa Sunda. Tapi karena penasaran melihat visualisasinya, ia penasaran akan isinya, dan meminta temannya menerjemahkan,” kata Aditya.

Wulandari (21), mahasiswa Jurusan Sastra UPI, mengatakan, “Bagus kalau makin banyak komik berbahasa Sunda. Saat ini makin banyak orang yang tidak bisa berbahasa Sunda karena tidak mengerti, dan mempelajarinya sulit. Kalau komik, sifatnya ringan dan menghibur sehingga bisa menolong anak-anak”. (ynt)

Bandung, yang berada di tanah parahyangan erat kaitannya dengan kesenian tradisi sunda dimana terdapat bermacam-macam alat kesenian yang diwariskan salah satu diantaranya alat kesenian tradisi sunda yang dinamakan sebagai angklung, alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung dan calung, dimana calung dikenal sebagai alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai angklung adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung dan calung mirip sama; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung dan calung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung dan calung. ewi Shri atau Dewi Sri adalah dewi percocok tanaman , terutama padi dan sawah di pulau Jawa dan Bali. Ia memiliki pengaruh di dunia bawah tanah dan terhadap bulan. Ia juga dapat mengontrol bahan makanan di bumi dan kematian. Karena ia merupakan simbol bagi padi, ia juga dipandang sebagai ibu kehidupan. Sebagai tokoh yang sangat diagung-agungkan, ia memiliki berbagai versi cerita, kebanyakan melibatkan Dewi Sri (Dewi Asri, Nyi Pohaci) dan saudara laki-lakinya Sedana (Sadhana atau Sadono), dengan latar belakang Kerajaan Medang Kamulan, atau kahyangan (dengan keterlibatan dewa-dewa seperti Batara Guru), atau kedua-duanya. Di beberapa versi, Dewi Sri dihubungkan dengan ular sawah sedangkan Sadhana dengan burung sriti. Orang Jawa tradisional memiliki tempat khusus di tengah rumah mereka untuk Dewi Sri agar mendapatkan kemakmuran yang dihiasi dengan ukiran ular. Di masyarakat pertanian, ular yang masuk ke dalam rumah tidak diusir karena ia meramalkan panen yang berhasil, sehingga malah diberi sesajen. Di Bali, mereka menyediakan kuil khusus untuk Dewi Sri di sawah. Orang Sunda memiliki perayaan khusus dipersembahkan untuk Dewi Sri.

Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung dan calung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya. (Sumber diperoleh dari wapedia.mobi/id/Angklung)

Sumber : http://www.allbandung.com/abc-view-content.php?id=470Posted by : allbandung – Thu Aug 23 18:56:53