Jepang merupakan salah satu negara maju di Asia maupun di dunia. Sebagai negara maju, Jepang memiliki sistem pendidikan yang sangat baik. Sistem pendidikan yang mereka jalankan penuh dengan persaingan. Sistem pendidikan dimulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dan setiap siswa diharapkan untuk memiliki jiwa dan kemampuan intelektual yang tahan terhadap persaingan.

Untuk dapat menghadapi persaingan ini, para ibu di Jepang berusaha untuk mempersiapkan putra-putrinya dengan cara memberikan pelajaran tambahan, baik yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah maupun berupa ketrampilan, seperti olah raga atau musik. Harapan para ibu, bahwa nantinya anaknya dapat lulus dalam persaingan, merupakan suatu hal yang baik, terutama bila putra-putri mereka dapat memenuhi harapan orangtua mereka. Namun, tidak semua anak dapat memenuhi harapan kedua orang tuanya. Sehingga harapan ini, menjadi suatu tekanan yang cukup berat dalam menghadapi persaingan di dunia pendidikan, hal inilah yang dapat menimbulkan berbagai macam penyimpangan sosial di Jepang seperti ijime / (penyiksaan terhadap kaum lemah), tookoo kyohi/ (kebiasaan menolak untuk sekolah), hikikomori/ (menutup diri dari lingkungan sekitar), taijin kyofusho/ (ketakutan berhadapan dengan orang lain), otakuzoku/ (terobsesi terhadap anime dan manga) dan sebagainya sering dihadapi oleh siswa sekolah, mulai dari kadar yang ringan sampai yang berat.

Selain pendidikan, Jepang juga memiliki sistem perekonomian yang baik. Hal ini dapat kita lihat dari tidak adanya kesenjangan sosial yang terlalu mencolok di dalam masyarakatnya. Jepang adalah negara maju dan kaya dimana hanya ada dua kelas ekonomi, kelas atas dan kelas menengah, tidak terdapat kelas bawah di dalam masyarakatnya. Dan suatu hal yang tidak dapat disangkal bahwa Jepang merupakan surga bagi pencari kerja karena memang perekonomian mereka telah mengalami
kemajuan yang luar biasa berkat ekspansi industri global perusahaan-perusahaan Jepang, dan hal inilah yang mendatangkan kemakmuran yang luar biasa bagi para buruh dan penduduk di Jepang.

Masyarakat Jepang terkenal dengan orang-orangnya yang pekerja keras. Banyak dari mereka yang lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga mereka sendiri. Di siaran televisi, koran ataupun majalah Jepang sering diberitakan orang meninggal karena kelelahan dalam bekerja. Dan hal ini bukan merupakan hal yang mengejutkan, hal ini dianggap suatu hal yang biasa di Jepang. Tetapi orang muda sekarang, memiliki sifat yang bertolak belakang. Osamu Nakano (2001 : indomedia.com), mengatakan “Orang muda lebih suka bersenang-senang daripada bersakit-sakit, rekreasi daripada kerja keras, konsumtif daripada produktif, dan apresiatif daripada kreatif”. Karena bagi kebanyakan orang muda Jepang, masa kerja keras, bersakit-sakit, produktif, dan kreatif tampaknya sudah lewat. Mereka yang dikenal dengan sebutan next generation atau Gen-X itu barangkali menganggap sudah selayaknya mereka menikmati kemakmuran negara.

Sebagian besar orang tua yang semasa muda belajar dan bekerja keras berpikir, tidak ada salahnya anak-anak menikmati jerih payah orang tuanya (2001:indomedia.com). Pemikiran seperti ini mengandung banyak risiko, banyak generasi muda zaman sekarang yang berpikir, karena telah terbiasa hidup enak jadi tidak mempunyai keberanian dan keinginan untuk hidup mandiri. Masahiro Yamada (2001 : indomedia.com), 10 juta warga Jepang berusia 20 – 34 tahun masih hidup nebeng orang tuanya. Terungkap pula, 80% wanita muda dan 60% pria muda memilih hidup lajang.

Salah satu kelebihan Jepang lainnya adalah budaya disiplin yang terus diterapkan sampai sekarang. Dan dunia luar juga sudah mengenal Jepang dengan gaya hidup seperti itu. Oleh karena itu banyak negara-negara di dunia yang meniru sifat disiplin dari masyarakat Jepang. Karena kedisiplinan merupakan salah satu faktor penting yang mendukung
kemajuan masyarakat Jepang. Jika sikap kedisiplinan ini hilang dari kaum muda Jepang, maka hal ini akan memberikan dampak buruk bagi kemajuan bangsa Jepang itu sendiri. Hilangnya sikap kedisiplinan pada kaum muda Jepang merupakan salah satu gejala awal dari Hikikomori.

Hikikomori merupakan suatu penyimpangan sosial yang terjadi pada kaum muda perkotaan di Jepang yang saat ini menjadi suatu fenomena di Jepang. Menurut Janti dalam Manabu (2006:189), secara singkat Hikikomori dapat didefinisiskan sebagai seseorang yang menutup diri dan mengurung diri dari lingkungan sekitarnya. Hikikomori merupakan suatu masalah sosial yang besar terutama bagi bangsa Jepang karena bila kita melihat jumlah penduduk Jepang, sebagian besar terdiri atas kaum lanjut usia, sehingga Jepang disebut juga sebagai koreika shakai atau masyarakat yang didominasi oleh kaum lanjut usia. Sementara itu, bila dilihat dari jumlah kelahiran, Jepang juga menghadapi penurunan jumlah kelahiran. Karena banyak kaum muda di Jepang yang enggan melakukan ikatan pernikahan. Kalaupun mereka mau menikah, banyak dari mereka yang tidak ingin mempunyai anak. Sehingga pertumbuhan penduduk di Jepang sering digambarkan seperti pyramid terbalik, dimana kaum lanjut usia semakin lama semakin banyak dan kaum muda semakin lama semakin sedikit.

Oleh karena itu, perlu dilihat bagaimana keadaan generasi muda yang merupakan harapan bangsa pada umumnya yang disebut generasi mapan. Ternyata ada kecenderungan penyimpangan yang dikenal sebagai Hikikomori pada generasi muda di Jepang dewasa ini.
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan hikikomori dilihat sebagai fenomena yang ada di Jepang (http://vickery.dk/hikikomori/):
1) Komori : bagian kata hikikomori memiliki arti religius dan tradisional yang mengindikasikan bahwa pengasingan telah berakar dalam sejarah dan adat istiadat masyarakat Jepang.
2) Sekentei : rasa malu terhadap masyarakat dan kecenderungan untuk menutupi masalah keluarga jelas lebih kuat di Jepang dibanding negara lain.
3) Sistem sekolah : tekanan untuk sukses, metode mengajar yang tidak kreatif dan tidak dapat dikritik, sekolah yang kaku, dan adalah alasan spesifik di Jepang untuk mengasingkan diri.
4) Sistem keluarga : struktur keluarga, hubungan ibu, anak dan tradisi dimana orang dewasa muda dapat terus tetap tinggal dengan orang tua adalah keadaan spesifik yang mendukung terjadinya hikikomori.
5) Kolektivitas : tekanan dan ekspektasi dari kelas, perusahaan dan keluarga juga merupakan karakteristik yang khusus di Jepang. Khususnya dewasa yang tidak memiliki kemampuan untuk menjadi mandiri dapat menjadi alasan terjadinya pengasingan diri.
Faktor-faktor di atas dapat menjelaskan mengapa hikikomori muncul dalam bentuk yang ekstrim dan hanya terjadi di Jepang dan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa hikikomori tidak dapat ditemukan dalam skala yang sama di negara lain dan tampaknya ini merupakan suatu hal yang unik di Jepang. (Dari berbagai sumber)

 

SITOE BAGENDIT

Posted: 6 Januari 2016 in BUDAYA DUNIA

SALAH satoe sitoe (danaoe) jang indah didjamannja tapi merana dimasa sekarang,  terletak di kecamatan Banyoeresmi kaboepaten garoet, ternyata menyimpan pesona dan kebanggaan dimasa laloe. Tempat berekreasi para noni dan meneer belanda …

BAGENDIT

Ketika ke Garoet kita akan mengenang salah satu sungai jang membelah Garoet, bagaimana tjimanuk tempo doeloe jah, dibawah ini kita kenang masa lalu soengai ini…

cimanuk1918

Airnja mengalir djernih dengan batoean-batoean jang masih kokoh berbeda dengan Tjimanoek sekarang (potret 1918)

cimanuk

Tjimanoek dengan rakit penjeberangan dengan pakaian anak-anak masih sederhana tapi lingkoengan terlihat bersih dan tertata…       (potret tahoen 1918)

cimanuk6

Tjimanoek masih didjadikan tempat memandikan kerbaoe…(potret tahoen 1918)

Cimanuk7

Ketika Tjimanoek masih bisa marak waloengan (potret tahoen 1918)

jembatancimanuk1860

BOEPATI GAROET

Posted: 3 Januari 2016 in BUDAYA DUNIA

 

Foto Boepati Garoet, Raden Adipati Ario Wiratanoedatar VII, foto diambil tahun 1910. Bupati duduk di kursi, pejabat daerah hanya boleh duduk di lantai, untuk memperlihatkan perbedaan strata. hanya orang Belanda yang boleh duduk di kursi. Foto diambil tahun 1910 di pendopo kabupaten garut.

RAA is Wiratanudatar (1871–1915) merupakan Bupati prtama yang pindah dari Limbangan ke Kota Garut, daerah kekuasaan nya Kota Kulon , Kota Wetan dan Desa Margawati, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Pakenjeng, Bungbulang and Pameungpeuk. Tahun 1915, RAA Wiratanudatar digantikan oleh keponakan nya yaitu Adipati Suria Karta Legawa (1915–1929). Pada August 14, 1925, dengan keputusan Governor General Belanda, Kota Garut mendapatkan otonomi daerah.

BUPATIGARUT1

Boepati Garoet dipendopo beserta pembantoenja jang doedoek dibawah menundjukan strata kekuasaan didjamannya.(1910)

BUPATI2

KELUARGABUPATI

Boepati Garoet dan istrinja, RA Lasminingrat (pendiri sekolah keoetamaan isteri) beserta keloearga

 

Landscape-Alun-ALUN-gAROET-tempoe-doeloe

Suasana asri dan masih lenggang Lanschaaf aloen-aloen dengan gazebo warna poetih (muziek papiljoen), Toegoe Holle dan mesjid agoeng Garoet.

alun219052alun21905Tugu-Holle-di-Alun-alun-Garut

Aloen aloen garoet, diambil dari arah barat, bangoenan berbentoek gazebo itu adalah Muziek Paviljoen, digoenakan untuk bermain moesik para meneer Belanda pada achir minggoe setelah lelah bekerdja di perkeboenan teh selama seminggoe penoeh. (Foto tahoen 1905).

Seperti kebanjakan aloen-aloen djaman doeloe selaloe berdekatan dengan masdjid sebagai satu kesatoean jang tidak bisa dipisahkan selain ada Toegoe Holle yang didirikan oleh Karel Frederik Holle seorang pemilik perkebunan di Garoet tahoen 1910.

SUMBER PHOTO : Colektie TropenMuzeum

Gunung-Sadahurip-tidak-berbentuk-piramida-dilihat-dari-Cicapar-460x345

Gunung Sadahurip, Garut yang diduga sebuah piramid.

APABILA menelisik apa yang terjadi dimasa lalu, dengan melihat situs dengan berbagai dugaan dengan melihat fenomena alam seperti dugaan ada piramida di sedahurip garut dilansir

“Dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji karbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza” (detikcom, Minggu (22/11/2011)) atau piramida raksasa di Bandung yang tepatnya berada di Gunung Lalakon, yang terletak di Desa Jelegong, Kecamatan Kotawaringin, Kabupaten Bandung.

Rasa ingin tahu kita terhadap budaya masa lalu tanpa ada bukti kecil seperti batuan prasasti, atau manuskrip kuno dan pola prilaku masyarakat sekitarnya tentu sulit dibuktikan sehingga sampai sekarang belum ada upaya melanjutkan ekplorasi.

Turangga seta

Namun optimisme ditunjukan salah satu tim pemerhati piramida indonesia ini, “Tujuan kami saat itu mengetahui apakah ada bangunan tersembunyi di dalam gunung,” kata Agung Bimo Sutedjo, kepada VIVAnews, di Jakarta, Selasa, 15 Februari 2011. Agung adalah Pendiri Yayasan Turangga Seta, organisasi yang punya hajat penelitian di gunung itu. Komunitas itu berdiri sekitar 2004, digawangi oleh sekelompok profesional di berbagai bidang. Ada pengajar, kontraktor bangunan, pegawai negeri sipil, karyawan perusahaan swasta, juga mahasiswa. Beberapa di antara mereka punya kepekaan lebih terhadap kehadiran gaib, atau istilah keren mereka: parallel existence. Kali ini, kedatangan mereka ke Gunung Lalakon dalam rangka membuktikan teori mereka, bahwa ada sejumlah piramid di Indonesia. Salah satu informasi awal didapatkan dari tafsiran mereka terhadap relief Candi Penataran. Turangga Seta percaya bahwa kebudayaan Nusantara lebih tua daripada Kebudayaan Sumeria, Mesir, atau Maya. Mereka haqul yakin Indonesia memiliki situs candi atau piramida yang lebih banyak dan lebih megah dari peradaban Mesir dan Maya.

“Ada ratusan piramida di Indonesia, dan tingginya tak kalah dari piramida Giza di Mesir yang cuma 140-an meter,” kata Agung. Meski masih harus diuji secara ilmiah, pandangan Agung senada dengan teori Profesor Arysio Santos, yang menyebutkan Indonesia adalah peradaban Atlantis yang hilang.

Keyakinan ini tentu saja membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Turangga Seta sempat mem-post keyakinan mereka ihwal keberadaan piramida di Indonesia di sebuah forum online. lengkap dengan foto-fotonya. Hasilnya, mereka menuai cemoohan dan tertawaan. “Nanti, kalau semuanya terbukti, mereka tak bisa lagi tertawa,” kata Agung berapi-api. Turangga Seta mengklaim masih ada ratusan piramida lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu pentolan Turangga Seta lainnya, Timmy Hartadi, dalam laman Facebook mereka mengatakan bahwa piramida-piramida itu tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Klaim penemuan sebuah piramida tersembunyi di dalam bukit, tak hanya terjadi di Indonesia. Klaim ini juga sempat muncul di Bosnia. Pada 2006, seorang pengarang bernama Semir Osmanagic mengklaim penemuan ini, dan sempat mengatakan mereka menemukan piramida tersembunyi di bukit Visocica, kota Visoko, yang terletak di barat laut Sarajevo. Osmanagic mengatakan penggalian piramida itu melibatkan arkeolog dari Australia, Austria, Irlandia, Skotlandia dan Slovenia. Namun, beberapa arkeolog yang disebut Osmanagic menolak klaim tersebut. Seperti dikutip dari situs Archaeology.org, arkeolog dari Kanada yang disebut Osmanagic, Chris Mundigler mengaku tak pernah mendukung atau setuju bekerja di proyek tersebut. “Skema ini adalah sebuah kebohongan keji terhadap masyarakat awam, dan tak akan pernah mendapat tempat di dunia ilmu pengetahuan,” kata pernyataan resmi dari Asosiasi Arkeolog Eropa.

Bagaimana dengan klaim piramid di Bandung dan di Garut?

Secara geomorfologis, bentuk Gunung Lalakon di Bandung maupun Gunung Sadahurip di Garut memang memiliki bentuk yang mirip dengan piramida. Mereka memiliki empat sisi yang nyaris simetris.

“Bentuknya kok begitu simetris ya? Lancipnya sangat simetris,” ujar arkeolog senior Profesor Edi Sedyawati, saat dijumpai VIVAnews di kediamannya di Jakarta, Rabu, 23 Februari 2011.

Namun, kata Edi, klaim dan hasil uji geolistrik masih belum cukup untuk mendapatkan kesimpulan akhir. Langkah selanjutnya adalah penggalian percobaan pengambilan sampel dengan memuat sebuah test bed untuk mengetahui apa benar ada indikasi lapisan-lapisan budaya dan ada bekas-bekas perbuatan manusia atau tidak.

“Tapi ini harus betul-betul penggalian arkeologi yang meminta izin kantor suaka purbakala dan melibatkan arkeolog, karena harus ada pertanggung jawaban dan laporan, dari mili ke mili (milimeter, red),” kata Edi Sedyawati.

Turangga Seta pun tengah mengusahakan izin pengambilan sampel tanah di Gunung Lalakon kepada Pemda Jawa Barat. “Kami hanya perlu menggali tanah di lokasi, selebar sekitar 3-4 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter,” kata Agung.

Gunung Lalakon dikelilingi beberapa bukit lain seperti bukit Paseban, Pancir, Paninjoan, Pasir Malang. Di bukit Paseban ada tiga buah batu, yang dua di antaranya terdapat telapak kaki manusia dewasa, dan telapak kaki anak-anak.

Menurut Edi, bila benar batu telapak itu peninggalan sejarah, kemungkinan ini berasal dari zaman megalitikum. Batu telapak juga sudah dijumpai di tempat lain, seperti prasasti Ciaruteun, peninggalan Raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara. “Cap telapak kaki biasanya diabadikan sebagai monumen mengenang pemimpin suatu daerah,” kata Edi.

Cap kaki juga erat kaitannya dengan konsep Triwikrama atau tiga langkah yang berkembang di masa itu. Saat itu, mereka percaya bila seseorang hendak naik ke dunia dewa-dewa, mereka harus menjejak dengan keras agar dapat melompat tinggi sekali.

Sementara itu, di Gunung Lalakon juga terdapat beberapa situs batuan, seperti Batu Lawang, Batu Pabiasan, Batu Warung, Batu Pupuk, Batu Renges, Batu gajah, dan sebuah batu panjang yang terletak di atas puncak.

Menurut Abah Acu, tokoh masyarakat Kampung Badaraksa, secara filosofis, Gunung Lalakon adalah perlambang sebuah lakon dari kehidupan manusia. Batu-batu tadi merepresentasikan berbagai lakon atau profesi yang dipilih oleh manusia.

Namun, keberadaan batu-batu tadi kerap disalahgunakan. Banyak orang datang ke tempat batu di Gunung Lalakon mencari pesugihan. Bahkan, menurut Jujun, tokoh agama Islam di tempat itu, dulu banyak orang datang ke Batu Gajah mencari ilham judi buntut. “Banyak pula yang berhasil menang,” kata Jujun.

Jujun menerangkan, di Gunung Lalakon secara rutin juga digelar acara ritual tolak bala, yakni dengan membuat nasi tumpeng kemudian dibagikan dan dimakan oleh penduduk. “Acara ini diadakan setiap tahun, biasanya setiap tanggal 1 Syuro.”

Berbeda dengan tradisi di Gunung Lalakon, masyarakat di sekitar Gunung Sadahurip relatif lebih ‘modern’. Menurut Nanang, warga Kampung Cicapar Pasir, kampung terdekat Gunung Sadahurip, di sana tak ada tradisi tolak bala. Masyarakat sekitar juga tak terlalu peduli dengan mitos gunung itu di masa lalu. (Dari berbagai sumber)

Oleh: Dina Mardiana, S.Sos

Abstrak
Banyaknya penulis perempuan yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan. Kebebasan berekspresi tersebut tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis. Ayu Utami sebagai novelis perempuan dikatakan sebagai generasi baru sastra Indonesia, yang telah mendobrak serta menerobos mitos-mitos yang cenderung merendahkan atau bahkan menampikkan etika timur. Dengan penolakannya yang tegas terhadap kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas.

Dalam penelitian ini penulis ingin meninjau idologi novelis tersebut dipandang dari persfektif feminisme islam, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, mengekplanasi dan mengkonstruksi ideologi penulis perempuan dalam karya sastranya. Studi kualitatif dengan pendekatan Hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur adalah metode yang digunakan penulis dalam proses penelitian ini. Adapun tekhnik pengumpulan data yaitu lewat studi pustaka, studi dokumentasi dan wawancara mendalam (dept interview).

Sebagai hasil dari kesimpulan penelitian, yaitu adanya gerakan feminisme yang terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan sebagai penuntutan hak asasi perempuan yang terkandung dalam karya sastra novelis perempuan tersebut. pertentangan terhadap dominasi patriarki juga yang membuat wanita ingin dikonstruksi sebagai manusia yang layak menerima peradilan yang seimbang tanpa adanya perbedaan jenis kelamin. Dalam persfektif feminisme tentu saja dari ideologi tersebut, meskipun ada beberapa hal yang memiliki kemiripan, seperti tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan dalam masyarakat, tetapi banyak juga ideologi yang direpresentasikan Ayu Utami, apabila dipandang dari persfektif feminisme Islam sangat bertentangan seperti wacana tentang kebebasan seksual, hubungan sesama jenis, free life style yang dipercaya akan membebaskan wanita dari dominasi patriarki
Kebebasan sastra
Demam baru sedang menjangkit kisah dunia sastra di Indonesia. Dapat dikatakan ini terjadi akibat bangkitnya wanita dari keterbelengguannya sejak era Kartini. Dari kacamata sederhana, kebebasan wanita dalam berkarya kini telah menjadi jamur di tengah hujan, dengan banyak penulis-penulis perempuan berbakat yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan.

Tapi terkadang kebebasan berekspresi tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya kesenian atau sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis yang cenderung bermain didalam imajinasi atau gambaran suatu kehidupan yang melampaui wilayah lingkungannnya, dan masuk kedalam gambaran tentang kehidupan dimana dirinya tidak berada dalam geografi yang paling riil (Kompas, 3 April 2005).

Bagian penting dari suatu karya sastra adalah kandungan moral dan etika, di samping parade kekuatan bahasa yang dijadikan simbol. Pendapat bahwa karya sastra adalah suatu entitas tunggal yang mandiri dan bebas merdeka tampaknya perlu diwaspadai, terutama oleh para pelaku utama seni sastra, yakni para penulis atau sastrawan atau sastrawati. Terlepas dari pandangan peneliti Jerman, Wolfgang Iser, bahwa sastra harus dinilai bukan hanya berdasarkan bentukan tulisan itu semata, melainkan juga harus diperhatikan pengaruhnya bagi konsumen, idealnya para pelaku sastra Indonesia bisa lebih arif melihat kondisi bangsanya sendiri.

Karya-karya sastra biasanya menjelma hampir di semua pembatasan etika kodratnya sebagai perempuan dengan mengatasnamakan kepentingan kaumnya, perempuan itu menuangkan ideologi mereka sebagai bentuk pemberontakan hatinya di tengah sikap ketertindasan sesama kaumnya yang selama ini menjadi euphoria di Indonesia. Karya sastra mereka berperan di masyarakat sebagai pemapanan bagaimana degradasi moral, bagaimana ide feminisme teriritasi.

Sisi feminismepun ditonjolkan dan dinobatkan sebagai acuan primer oleh para novelis perempuan seperti dengan keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Melalui perlawanan terhadap tabu ini, mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan, terutama dalam hal seks.
Pada zaman sebelum islam, kaum wanita selalu dibawah kezaliman pria, diperjualbelikan laksana binatang dan barang, tidak memperoleh hak-hak menurut undang-undang dan tidak dapat kedudukan dalam masyarakat sebagaimana yang sewajarnya diberikan kepada mereka dan seharusnyadiakui oleh masyarakat. Dalam Islampun feminisme tidak hanya diartikan sebagai sebuah sudut pandang (perspektif) yang memiliki akar sejarah yang berbeda-beda melainkan telah menjadi gerakan dalam sejarah itu sendiri. Ajaran Islampun sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk mengoptimalisasikan peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT.

Dengan demikian bentuk-bentuk gerakan perempuan tersebut diatas, terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan. Wanita disimbolkan sebagai Megaloman, Hera atau Xena yang mempunyai kekuatan yang sama bahkan lebih dibandingkan dengan laki-laki. Dan salah satu wilayah dunia simbolik yang sekaligus menjadi sarana strategi yakni lewat bahasa. Kuncinya adalah bagaimana melihat ideologi itu sebagai pertautan berbagai kepentingan individu atau kelompok dominan yang berbenturan. Dengan demikian, kerja ideologi lewat bahasa itu dipastikan akan menelurkan makna-makna baru yang tentunya berguna bagi dunia sastra dan masyarakat. Dalam feminisme islam sendiripun masih tetap mencari formulai (kosakata) yang simbol dan pemaknaannya lebih islami daripada produk Barat.

Tinjauan hermeneutika

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika, hermeneutika disini seperti yang dijelaskan Irfan Safrudin dan H.A Hasan Ridwan dalam wawancaranya dengan penulis, mengartikan hermeneutika sebagai interpretasi terhadap ideologi novelis perempuan dalam karya sastranya. Teori heremeneutika dari Paul Ricoeur adalah pendekatan yang dipakai penulis dimana Paul Ricoeur menguraikan tentang hermeneutika mendalam dalam tiga tahapan, yang terdiri dari pertama adalah level semantik bahwa bahasa merupakan wahana utama bagi ekspresi ontologi, oleh sebab itu kajiannya tidak dapat terlepas dari struktur bahasa dan kebahasaan yang tercakup dalam simbolisme. Kedua adalah level refleksi yaitu mengangkat lebih tinggi lagi posisi hermeneutika pada level filosofis. Proses ini dapat dilakukan melalui proses ulang balik antara pemahaman teks dengan pemahaman diri dan berlangsung seperti hermeneutika cycle yang telah penulis jelaskan. Tahap terakhir adalah level eksistensial, dalam tahap ini akan tersingkap bahwa pemahaman dan makna, bagi manusia ternyata berakar dari dorongan-dorongan yang bersifat instingtif.

Dengan pisau analisis diatas, penulis berharap penelitian ini bisa mendalam dan kritis. Adapun pelaksanaan penelitian ini secara garis besar terdiri dari 3 tahap, yaitu:”tahap orientasi, eksplorasi dan membercheck” (Nasution,2003:31-36). Proses pengumpulan data sendiri dilakukan dengan jalan studi pustaka, studi dokumentasi juga wawancara mendalam (dept interview).

Untuk membantu pengkajian penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma kualitatif yang multi paradigma, dimana penulis menggunakan beberapa teori untuk menemukan paradigma baru. Selain menggunakan teori hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur juga dilengkapi dengan berbagai perspektif teorikal diantaranya yaitu teori kritis, teori tripartit komunikasi massa dll.

Ideologi Ayu Utami dalam karya sastranya

Pandangan George Lucac, seorang tokoh Marxis memandang Ideologi dapat juga membantu manusia juga ideologi sebagai kesadaran kelas dapat berperan membebaskan kelas tertentu dari penindasan.

Penelitian ideologi yang menggunakan pendekatan hermeneutika Ricoeur ini, memiliki perhatian khusus yang secara eksplisit dan sistematis berusaha menunjukkan bahwa hermeneutika menawarkan baik refleksi filosofis akan kehidupan dan pemahaman, maupun refleksi metodologis tentang sifat dan tugas interpretasi dalam penelitian sosial. Kunci dari arah refleksi ini apa yang oleh Ricoeur disebut dengan hermeneutika mendalam (dept hermeneutics). Ricoeur memproyeksikan bahwa dalam mengelaborasi pendekatan interpretatif dan kritis terhadap studi ideologi merupakan konstribusi terhadap pengembangan suatu hermeneutika kritis.

Dalam concern ideologi, analisa sosial-historis akan mengarahkan pada studi tentang relasi dominasi, maka pada analisa formal atau diskursif ia akan memfokuskan pada ciri struktur bentuk-bentuk simbol yang memfasilitasi mobilisasi makna. Ideologi dari komunikator dapat dilihat dengan jalan bagaimana makna melakukan pengakuan yang ditunjukkan oleh suatu teks. Strategi-stretegi dengan penggunaan modus operandi banyak dipakai Ayu untuk mencerminkan hubungan dominasi yang menimbulkan klaim legitimasi yang dapat diekspresikan dalam strategi-strategi kontruksi simbolik tertentu.

Misalnya dalam karya sastra Ayu Utami, ideologi komunikator dimunculkan yakni isme-isme feminis salah satunya melalui strategi rasionalisasi dan narativisasi. Strategi rasionalisasi yang dipakai yaitu dengan menggunakan dua cara yang pertama dengan membuat hubungan sebab akibat (kausalitas) atau membuat prinsip tertentu (appeals to principle). Seperti kutipan dibawah ini:

“Sebab saya sedang menunggu Sihar ditempat ini. Ditempat yang tak seorangpun tahu, kecuali gembel itu. Tidak orang tua, tidak ada isteri. Tak ada hakim susila atau polisi. Orang-orang, apalagi turis, boleh menjadi seperti unggas: kawin begitu mengenal birahi setelah itu, tak ada yang perlu ditangisi. Tak ada dosa” (Saman:5, cetak tebal oleh penulis).
“Yasmin kemudian memanggilku si Perek……..
Julukan itu memang dia ucapkan dengan akrab, sebagaimana yang lain mendapat panggilan masing-masing. Laila dipanggil Peju, Pemudi Jujur. Sakuntala Piktor, Pikiran Kotor. Tapi perek tetap perek………..tapi tidak semua perempuan jadi perek. Cuma yang bejat dan terhina saja. Perempuan eksperimen. Bayangkan! Tak ada yang percaya bahwa perempuan eksperimen berarti bereksperimen. Tapi semua akan mengartikannya perempuan untuk eksperimen. Seperti kelinci percobaan, kelinci buat percobaan. Enggak mungkin kelinci yang membuat percobaan……….kadang aku jengkel, apapun yang kita lakukan , yang juga dilakukan laki-laki, kok kita mendapat cap jelek” (Larung: 83-84, cetak tebal oleh penulis).
……………………………………………………………………………………
“Orangtuaku percaya bahwa pria cenderung rasional dan wanita emosional. Karena itu pria akan memimpin dan wanita mengasihi. Pria membangun dan wanita memelihara. Pria membikin anak dan wanita melahirkan. Maka bapakku mengajari abangku menggunakan akal untuk mengontrol dunia, juga badan. Aku tak pernah dipaksakan untuk hal yang sama, sebab ia percaya pada hakikatnya aku tak mampu. (Larung: 136, cetak tebal oleh penulis).

Dalam kutipan teks diatas sudah sangat jelas bahwa isme-isme feminis direpresentasikan Ayu Utami dalam karya sastranya, seperti pembenaran akan perselingkuhan tokohnya Laila dan Sihar yang notabene sudah mempunyai isteri. Ayu Utami mempunyai asumsi bahwa perselingkuhan meskipun tanpa hubungan pernikahan dianggap benar karena diantara mereka ada cinta. Dalam teks tersebut Ayu Utami seakan membela kaumnya bahwa perselingkuhan yang hanya dijadikan salah satu simbol seakan sah saja tidak hanya berlaku bagi laki-laki seperti yang terjadi, tapi kaum perempuanpun mempunyai hak yang sama (wawancara, 12 Juli 2005).

Dan berbagai doktrin lainnya yang digunakan komunikator untuk menentang dominasi patriarki, perbedaan gender, dan ketidakadilan yang selama ini banyak menindas kaum perempuan. Wacana seksualpun tidak luput dituangkan Ayu dalam karya sastranya, seperti Ricoeur jelaskan tentang hermeneutika mendalam, bahwa bahasa menjadi sebuah wacana.dan dengan mengangkat wacana seperti inilah Ayu Utami bermaksud sebagai bentuk pengejekan tentang ketidakadilan masalah seksualitas yang berlaku bagi perempuan, hal tersebut juga menggiring wanita untuk melakukan hubungan sejenis. Dengan isme-isme itulah sisi ideologis komunikator sebagai seorang feminis pun dibeberkan.

Kodrat wanita yang dalam dunia patriarki, lebih pantas bekerja disektor domestik. Yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan “3M”, Manak (melahirkan), masak, dan macak (berhias). Dalam teks diatas merupakan wujud Ayu Utami untuk menumbangkan asumsi diatas, tapi kebudayaan tersebut masih terus berlangsung. Ideologi domestisitas atau domestikasi wanita ternyata tidak hanya melemparkan wanita kedunia dapur, tapi justru dunia dapur itu sudah dibawa kedunia publik dan dengan ini perempuan menjadi bagian penting dari proyek domestikasi ditingkat simbolik. Sisi ideologis Ayu pun dijadikannya sebagai perlawanan (ideology is struggle).

Seperti yang dikatakan Idi Subandi Ibrahim dalam wawancara dengan penulis yang menjelaskan tentang novel-novel yang dijadikan bentuk perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan seperti dibawah ini:

Bisa jadi hal itu sebentuk perlawanan atau pemberontakan terhadap dominasi patriarki. Tapi bisa juga dilihat dari perspektif lain, misalnya, bagaimana suara perempuan kini sudah mendapatkan tempat yang layak dalam “ruang publik” (wawancara tertulis Idi Subandi Ibrahim, 18 Agustus 2005)

Posisi Wanita dalam karya sastra Ayu Utami

Feminisme berasal dari kata femina yang berarti memiliki sifat keperempuanan. Feminisme diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi perempuan dibandingkan laki-laki dimasyarakat. Dalam prakteknya gerakan feminis menghasilkan beberapa istilah dikalangan akademisi seperti feminisme liberal dan sosialis, feminisme perbedaan, feminisme kulit hitam pascastrukturalis, feminisme islam dll.

Gerakan feminis telah lama mendapat sambutan kuat dalam dunia islam. Jantung diskursus gerakan feminis islam adalah isu reinterpretasi progresif terhadap Alquran. Salah satu kritik utama feminis Islam terhadap feminis barat adalah kecenderungannya kepada sekularisme. Menurut teologi feminisme islam, konsep hak-hak asasi manusia yang tidak berlandaskan visi transidental merupakan hal yang tragis. Karenanya, mereka berpandangan gerakan perempuan Islam harus berpegang pada paradigma islam supaya tidak menjadi sekular.

Streotype perempuan yang dibangun Ayu dalam karya sastranya, dibangun Ayu Utami dengan berbagai stereotype, dimana disisi lain Ayu ingin menggambarkan seorang perempuan Timur yang taat dengan ajaran agama, aturan, patuh, penurut, dengan patuh pada suami dll. Tapi disisi lain, Ayu juga mengkonstruksi perempuan dengan isme-isme ideologinya dimana penentangannya terhadap dominasi patriarki membawa penggambaran sisi lain dari seorang perempuan yang tertuang dalam karya sastranya.

“Cok , pasti elu girang sekali, deh, akhirnya bisa menemukan kelemahan gue berzinah baru sekali.” Enak aja! Sedikitnya elu berzinah dua kali. Pertama dengan Lukas sebelum kalian kawin.
Lihat temanku Yasmin wajahnya yang rupawan, bersih seperti patung marmer. Hidupnya teratur seperti tangga yang lurus. Sekolah, senam, lulus, kerja, kawin. Barangkali aku memang sirik padanya. Atau jengkel atau sekedar jail. Atau gemes. Sebab sejak kecil ia tak pernah bolos. Tak malas kursus piano dan balet. (tapi ia tak sukses menjadi pebalet karena kakinya terlalu ramping). Tak mengerjakan PR disekolah, tak membikin malu orang tua. Tidak bunting diluar nikah. Tak pernah pacaran ditempat gelap–waktu SMA. Dan, waktu sudah tahu seks dengan Lukas, gue kira dia juga nggak bersetubuh ditempat gelap. Ngapain punya badan bagus kalau gak dipamerin. Tapi, selain kepada kami, sahabatnya, mana pernah dia ngaku bahwa dia praktek seks ekstramarital. Noway dia akan terus terang. Pasti dimuka umum dia akan bilang “oh, keperawanan adalah mahkota yang harus dijunjung tinggi”. Dikempit rapat, maksud lu! Bahkan kini, perselingkuhannya dengan Saman hanya dia akui padaku… itulah. Dia munafik . dia selalu tampil kalem dan sopan, seperti karyawati baik-baik yang diidam-idamkan ibu-ibu kos. Tapi gue yakin, didasar hatinya yang paling dalam dia sama dengan aku. Binal. Perhatikan pakaian kerjanya:stelan, blazer dengan bantalan bahu, kayak eksekutif atau penyiar berita teve. Tapi gue yakin beha dan celana dalamnya pasti fansi”. (Larung, 79, cetak tebal oleh penulis).

Salah satu contoh teks kutipan yang penulis kutip diatas menceritakan tentang seorang perempuan Timur yang selalu patuh dan taat, dapat dilihat perempuan dalam hal ini Ayu konstruksi sebagai sesosok manusia yang hidupnya teratur seperti tangga yang lurus. Sekolah, senam, lulus, kerja, kawin. Seperti yang dijelaskan Ayu Utami (wawancara,12 Juli 2005) yang ingin menggambarkan bahwa perempuan adalah wanita yang pintar, aktif dalam segala bidang dan bisa melakukan apa saja, hal tersebut dapat dilihat dari sosok tokoh Yasmin yang merupakan anak orang berada, keluarganya terhormat, setia pada suami dan juga merupakan seorang pengacara, tokoh dalam karya sastra Ayu ini juga merupakan seorang aktivis yang membela orang tertindas dan orang miskin.

Selanjutnya bentuk penentangannya terhadap dominasi patriarki Ayu pun membangun stereotype lain dari sosok seorang perempuan. Dalam kedua novelnya, citra perempuan terlihat kian buruk dengan keterlibatnnya dalam perselingkuhan yang dianggap biasa, seperti perselingkuhan mungkin diibaratkan sebagai perasaan yang dibiarkan mengalir atau semacam dendam masa silam yang bercampur aduk dengan aspirasi religius Yasmin. Dititik ini pengertian tradisional kita tentang perselingkuhan menjadi tak lagi memadai. Pengertian tersebut hanya menjadi judgement dari pihak luar, yaitu cerita Cok bukan suara hati yang mengalami (Yasmin dan Laila).

Lalu citra perempuan Timur pun terkikis dengan cerita tentang kehidupan bebas dengan melakukan seks pra-nikah yang dilakukan antara Yasmin dan Saman, cerita tentang sebuah virginitas, yang seharusnya dijadikan sebagai “mahkota yang harus dijunjung tinggi dan dikempit rapat”, menurut Ayu Utami sendiri penggambaran perempuan yang selalu gonta-ganti pasangan dan seluruh dan magma kultur yang selama ini dibangun masyarakat yang dianggap merugikan wanita. Semua Ayu libas dengan pegucilan sebuah etika Timur yang selama ini terpatri dibenak masyrakat dalam memandang sosok perempuan. Mitos tersebut terkalahkan oleh minimnya sebuah etika dari tokoh-tokoh perempuan dalam karya sastranya.

Perspektif feminisme Islam

Feminisme dikenal dengan istilah women liberation, suatu upaya kaum Hawa dalam melindungi dirinya dari eksploitasi kaum Adam. Kesadaran untuk bangkit memperjuangkan hak dikalangan perempuan, sebenarnya telah menjadi bagian dari ajaran agama-agama dengan kadarnya masing-masing. Feminisme menjelma menjadi dambaan kaum wanita di dunia dan telah membangun ideologi kewanitaan yang melibas tesis-tesis awal tentang mitos “kepanutan” kaum hawa terhadap kaum adam. Tinjauan emosional perempuan yang tidak bias menerima kenapa perempuan hanya dipekerjakan dalam hal domestik laki-laki tidak, dan hal lainnya yang merespon semangat perempuan untuk mendobrak doktrin formalistik yang selama ini menjadi dominasi patriarki.

Hal inilah yang dibeberkan Ayu Utami dalam karya sastranya, dimana isme-isme gerakan feminisnya dijadikan tombak untuk penolakan-penolakannya terhadap wacana gender yang selama ini menjadi dominasi laki-laki. Dipandang dalam perspektif feminisme islam, isme-isme yang dinobatkan Ayu Utami sebagai bentuk wacana ideologinya, diantaranya Ayu menampilkan sisi feminisme liberal yakni gerakan feminisme yang berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan, ideologi yang Ayu angkat apabila dipandang dalam perspektif feminisme islam banyak yang bertentangan diantaranya ketika Ayu utami menobatkan tentang wacana seksual pra nikah, tentang perselingkuhan, dan prilaku-prilaku amoral lainnya yang Ayu angkat sungguh berbeda dipandang dalam segi feminisme Islam. Islam sendiri mempunyai ajaran yang memfilter agar umatnya tidak berbuat maksiat

Selain itu apabila memandang wanita dalam karya satra Ayu, terlihat dimana wanita sangat rendah, dan Ayu juga meinginkan kesetaraan dalam semua hal. Padahal kalau kita perhatikan dalam perspektif Islam, martabat kaum wanita telah diangkat dan diberikan hak-hak yang sama dengan kaum pria, walaupun sebelumnya telah hancur luluh oleh tradisi-tradisi, fanatisme golongan dan kebangsaan. Kepada kaum wanita telah diberikan peran yang amat besar, yang belum pernah diberikan oleh agama-agama sebelumnya. Islam memberikan perhatian khusus kepada kaum wanita, terbukti dengan ditetapkannya wanita sebagai salah satu surah dalam Alquran, yaitu surah An-Nisa. Sebagian besar ayat-ayat dalam surah ini membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita, utamanya yang berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap hak-hak wanita. Oleh sebab itu, hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islam ini, dapat dikatakan sebagai hari lahirnya proklamasi kemerdekaan kaum wanita, karena ajaran Islam yang dibawa oleh beliau memberi perlindungan terhadap hak-hak wanita.

Disisi lain ada juga perspektif yang sama dalam memandang wanita yang ditekankan oleh Ayu Utami seperti tergambar dalam tokohnya Yasmin yang dalam sisi lain digambarkan sebagai tokoh Yasmin aktivis yang mempunyai karier sebagai pengacara yang sukses dan merupakan pembela kaum buruh dan ketertindasan wanita. Dimana dalam Islam pun tidak sedikitpun mengeliminir perempuan untuk aktif dalam social masyarakat, Islam menempatkan wanita pada posisi yang paling tinggi dan penuh adil, posisi seperti itupun kalau kita telaah lebih dalam, sesungguhnya hukum-hukum islam diturunkan kepada manusia dengan melihat sisi kemanusiaan, perbedaan hukum yang berbeda diantara pria dan wanita berdasarkan tabiat mereka masing-masing. Adanya keharusan pembagian tugas masing-masing dan hukum-hukum justru menjaga agar antara laki-laki dan perempuan terjalin kerjasama yang dilandasi kesucian. Maka sangat naif bila masih ada orang yang memiliki pemahaman miring mengenai kedudukan wanita dalam islam. Gambaran bahwa wanita islam adalah wanita yang jumud dan terkungkung karena syara, padahal islam memberikan keleluasaan pada wanita untuk melakukan aktivitas muamalat, memperoleh pendidikan yang tinggi dsb, yang penting prinsip-prinsip aturan sosial dan ajaran Islam harus ditegakkan.

Seperti halnya tentang masalah perkawinan yang ditentang Ayu Utami sebagai penguasaan laki-laki terhadap perempuan, justru dalam perspektif Islam seperti yang tergambar dalam perkawinan Muhammad SAW, yang membela wanita juga memposisikan wanita dalam kedudukannya untuk saling melengkapi. Seibarat pakaian yang saling melindungi bukan berarti dalam konsep penguasaan laki-laki terhadap wanita. Perlu diakui bahwa peran wanita sampai hari ini belum teroptimalisasikan. Teologi yang mengatur posisi wanita bukan produk dan pemikiran murni dari kaum wanita melainkan hasil rekayasa kaum pria. Maka sebebas apa pun kebebasan yang diberikan kepada kaum wanita, jelas-jelas akan dibatasi oleh kepentingan komunitas laki-laki.

Fatwa-fatwa yang berteologi laki-laki mengklaim bahwa kepemimpinan (formal, informal) secara mutlak menjadi hak laki-laki. Klaim ini merujuk kepada pernyataan Alquran yang ditafsirkan bahwa laki-laki berdir di atas (pemimpin) kaum wanita. Pemaknaan ini sepertinya mutlak dan tidak bisa diubah, tanpa melihat perkembangan realitas lebih lanjut, bahwa Allah SWT memberikan potensi yang lebih bagi beberapa kaum perempuan dan bukan mustahil melebihi kapasitas laki-laki.

Ajaran Islam sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk teroptimalisasinya peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT yang dalam beberapa hal berbeda. Sampai kapan pun untuk meneruskan regenerasi kehidupan, sekalipun teknologi rekayasa diciptakan, tetap yang bisa mengandung dan melahirkan hanyalah perempuan, laki-laki tidak. Sikap ramah, halus, perasa dan lunak dengan penuh kasih sayang diberikan Allah SWT kepada wanita, tidak kepada laki-laki. Luar dari kodrat azali, kaum wanita bisa mengekpresikan segala kemampuannya untuk berlomba bersama-sama kaum laki-laki ber-fastabiqul khairat.

Kesimpulan

Ideologi yang direpresentasikan dalam karya satra novelis perempuan yakni Ayu Utami adalah ideologi feminis, hal ini dapat dilihat dari permainan politik bahasa, bentuk-bentuk simbolik yang hasilnya akan mengungkap sebuah relasi dominasi guna mempertahankan ideologi si pengarang. Dalam karya sastra ini, relasi ideologis dibangun Ayu Utami yang terindikasi sebagai seorang feminis yakni tercermin dari teks-teks berbagai penentangannya terhadap dominasi patriarki dan gender, mulai dari wacana tentang seksualitas, virginitas, ayu libas sehingga memperlihatkan sisi ideologis dari pengarang.

Ayu Utami sebagai novelis perempuan mengkonstruksi wanita dari berbagai stereotype. Dengan penggunaan frase-frase, kiasan, simbol-simbol, Stereotype pertama yang Ayu Utami bangun yaitu perempuan itu pintar, aktif dalam berbagai kegiatan, penurut, istri yang baik tapi disisi lain Ayu juga justru lebih banyak mengkonstruksi perempuan dengan stereotype yang buruk. Penggambaran dari kaum ber-fallus ini dibawa Ayu dengan keterlibatan perempuan yang bisa memperalat dan bereksperimen dengan berbagai lawan jenis, terutama dalam hal seks, cerita perselingkuhan, hubungan seks pra-nikah, penentangan mitos keperawanan sebagai selaput dara dll.

Ideologi yang ditunjukkan Ayu Utami adalah konsepsi feminisme Barat yang nota bene berakar dari tradisi dan budaya hidup yang humanis, bukan berdasarkan konsep agama. Dalam konsepsi feminisme Islam ada beberapa hal yang memiliki kemiripan, seperti tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan dalam masyarakat, tetapi banyak juga ideologi yang direpresentasikan Ayu Utami, apabila dipandang dari persfektif feminisme Islam sangat bertentangan seperti wacana tentang kebebasan seksual, free life style yang dipercaya akan membebaskan wanita dari dominasi patriarki.

*** Pemenang II lomba karya Ilmiah mahasiswa UNISBA tahun 2006

Referensi :

Ansori, S Dadang, Kosasih Engkos; Sarimaya Farida; Membincangkan Feminisme: Repleksi Muslimah Atas Peran Sosial Kaum Wanita, Pustaka Hidayah, Bandung, 1997.
Bleicher, Josef, Hermeneutika Kontemporer, Pajar Pustaka, Yogyakarta, 2003.
Dahana, Radhar Panca, Kebenaran dan Dusta dalam Sastra, Indonesitera, Magelang, 2001.
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, LKIS, Yogyakarta, 2002
Effendy, Onong, Uchjana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1984.
——————————-, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.
Kosasih, Engkos, Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusastraan, Yrama,Bandung, 2004.
Kurnia Anton; Sastra Feminis Dalam Tiga Diskusi, Fokus Sastra Indonesia, 2004.
Luxemburg, Jan Van; Weststejjin, Mieke Bal Willem G; Pengantar Ilmu Sastra, Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Moleong, J. Lexy; Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.
Mulyana, Deddy; Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya, Bandung; 2001
Mc. Quail, Denis, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta, 2003.
Palmer, E. Richard; Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.
Rahmat, Jalalludin Psikologi Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991.
———————–, Catatan Kang Jalal:Visi Media, Politik, dan Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997.
Ricoeur, Paul, The Interpretation Theory, Filsafat Wacana Membedah Makna dalam Anatomi Bahasa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2002.
Sumaryono E., Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1999.
Sugihastuti, Adib Sofia, Feminisme dan sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang, Katarsis,2003.
Thompson, Jhon B; Analisis Ideologi Kritik Wacana Ideologi-ideologi Dunia, IRCiSoD, Yogyakarta, 2003.
Thompson, Jhon B, Kritik Ideologi Global, Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2004.
Takwin, Bagus, Akar-Akar Ideologi: Pengantar Kajian Konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu, Jalasutra, Yogyakarta, 2003.
Utami, Ayu, Saman, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 1998.
————–, Larung, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2001.
—————, Si Parasit Lajang, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2003.
Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, Grasindo, Jakarta, 2000.

Internet
Nuraini Juliastuti, Kebudayaan yang Maskulin, Macho, Jantan, dan Gagah http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906, Jakarta, 2004.
Loekito, Medy Asvega; Perempuan dan Sastra Seksual, Galeri Essai, http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906, Jakarta, 2004.
El Khalieqy, Abidah; Perlawanan Perempuan terhadap Ketidakadilan Sosial Atas Singgasana,http://www.gatra.com/2004-05-18/versi_cetak.php?id=37370,2005

Wawancara

Wawancara DR. Irfan Safruddin, M.Ag,13 Juni 2005.
Wawancara Drs. H.A. Hasan Ridwan, M.Ag. 15 Juni 2005
Wawancara Ayu Utami, Jakarta, 12 Juli 2005
Wawancara Tertulis Idi Subandi Ibrahim, 18 Agustus 2004