Oleh: Dina Mardiana, S.Sos

Abstrak
Banyaknya penulis perempuan yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan. Kebebasan berekspresi tersebut tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis. Ayu Utami sebagai novelis perempuan dikatakan sebagai generasi baru sastra Indonesia, yang telah mendobrak serta menerobos mitos-mitos yang cenderung merendahkan atau bahkan menampikkan etika timur. Dengan penolakannya yang tegas terhadap kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas.

Dalam penelitian ini penulis ingin meninjau idologi novelis tersebut dipandang dari persfektif feminisme islam, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, mengekplanasi dan mengkonstruksi ideologi penulis perempuan dalam karya sastranya. Studi kualitatif dengan pendekatan Hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur adalah metode yang digunakan penulis dalam proses penelitian ini. Adapun tekhnik pengumpulan data yaitu lewat studi pustaka, studi dokumentasi dan wawancara mendalam (dept interview).

Sebagai hasil dari kesimpulan penelitian, yaitu adanya gerakan feminisme yang terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan sebagai penuntutan hak asasi perempuan yang terkandung dalam karya sastra novelis perempuan tersebut. pertentangan terhadap dominasi patriarki juga yang membuat wanita ingin dikonstruksi sebagai manusia yang layak menerima peradilan yang seimbang tanpa adanya perbedaan jenis kelamin. Dalam persfektif feminisme tentu saja dari ideologi tersebut, meskipun ada beberapa hal yang memiliki kemiripan, seperti tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan dalam masyarakat, tetapi banyak juga ideologi yang direpresentasikan Ayu Utami, apabila dipandang dari persfektif feminisme Islam sangat bertentangan seperti wacana tentang kebebasan seksual, hubungan sesama jenis, free life style yang dipercaya akan membebaskan wanita dari dominasi patriarki
Kebebasan sastra
Demam baru sedang menjangkit kisah dunia sastra di Indonesia. Dapat dikatakan ini terjadi akibat bangkitnya wanita dari keterbelengguannya sejak era Kartini. Dari kacamata sederhana, kebebasan wanita dalam berkarya kini telah menjadi jamur di tengah hujan, dengan banyak penulis-penulis perempuan berbakat yang cenderung mempunyai hasrat untuk menciptakan suatu karya sendiri tanpa diembel-embeli batasan perannya sebagai seorang perempuan.

Tapi terkadang kebebasan berekspresi tampaknya memunculkan pedang bermata dua: pada satu sisi tampak kebebasan tidak memungkinkan lahirnya karya kesenian atau sastra yang menyatakan kedalaman pengalaman individual, pada sisi lainnya kebebasan itu juga memerangkap pencipta kedalam subjektivitas estetika, ideologi dirinya yang hanya memainkan karyanya sebagai kegelisahan yang kadangkala terjebak pada satu ideologi yang hedonis yang cenderung bermain didalam imajinasi atau gambaran suatu kehidupan yang melampaui wilayah lingkungannnya, dan masuk kedalam gambaran tentang kehidupan dimana dirinya tidak berada dalam geografi yang paling riil (Kompas, 3 April 2005).

Bagian penting dari suatu karya sastra adalah kandungan moral dan etika, di samping parade kekuatan bahasa yang dijadikan simbol. Pendapat bahwa karya sastra adalah suatu entitas tunggal yang mandiri dan bebas merdeka tampaknya perlu diwaspadai, terutama oleh para pelaku utama seni sastra, yakni para penulis atau sastrawan atau sastrawati. Terlepas dari pandangan peneliti Jerman, Wolfgang Iser, bahwa sastra harus dinilai bukan hanya berdasarkan bentukan tulisan itu semata, melainkan juga harus diperhatikan pengaruhnya bagi konsumen, idealnya para pelaku sastra Indonesia bisa lebih arif melihat kondisi bangsanya sendiri.

Karya-karya sastra biasanya menjelma hampir di semua pembatasan etika kodratnya sebagai perempuan dengan mengatasnamakan kepentingan kaumnya, perempuan itu menuangkan ideologi mereka sebagai bentuk pemberontakan hatinya di tengah sikap ketertindasan sesama kaumnya yang selama ini menjadi euphoria di Indonesia. Karya sastra mereka berperan di masyarakat sebagai pemapanan bagaimana degradasi moral, bagaimana ide feminisme teriritasi.

Sisi feminismepun ditonjolkan dan dinobatkan sebagai acuan primer oleh para novelis perempuan seperti dengan keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Melalui perlawanan terhadap tabu ini, mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan, terutama dalam hal seks.
Pada zaman sebelum islam, kaum wanita selalu dibawah kezaliman pria, diperjualbelikan laksana binatang dan barang, tidak memperoleh hak-hak menurut undang-undang dan tidak dapat kedudukan dalam masyarakat sebagaimana yang sewajarnya diberikan kepada mereka dan seharusnyadiakui oleh masyarakat. Dalam Islampun feminisme tidak hanya diartikan sebagai sebuah sudut pandang (perspektif) yang memiliki akar sejarah yang berbeda-beda melainkan telah menjadi gerakan dalam sejarah itu sendiri. Ajaran Islampun sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk mengoptimalisasikan peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT.

Dengan demikian bentuk-bentuk gerakan perempuan tersebut diatas, terwujud dalam daya kerja ideologi yang kemudian mencoba memunculkan produk atau karya lain tentang makna atau simbol-simbol tertentu dari suatu kepentingan. Wanita disimbolkan sebagai Megaloman, Hera atau Xena yang mempunyai kekuatan yang sama bahkan lebih dibandingkan dengan laki-laki. Dan salah satu wilayah dunia simbolik yang sekaligus menjadi sarana strategi yakni lewat bahasa. Kuncinya adalah bagaimana melihat ideologi itu sebagai pertautan berbagai kepentingan individu atau kelompok dominan yang berbenturan. Dengan demikian, kerja ideologi lewat bahasa itu dipastikan akan menelurkan makna-makna baru yang tentunya berguna bagi dunia sastra dan masyarakat. Dalam feminisme islam sendiripun masih tetap mencari formulai (kosakata) yang simbol dan pemaknaannya lebih islami daripada produk Barat.

Tinjauan hermeneutika

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika, hermeneutika disini seperti yang dijelaskan Irfan Safrudin dan H.A Hasan Ridwan dalam wawancaranya dengan penulis, mengartikan hermeneutika sebagai interpretasi terhadap ideologi novelis perempuan dalam karya sastranya. Teori heremeneutika dari Paul Ricoeur adalah pendekatan yang dipakai penulis dimana Paul Ricoeur menguraikan tentang hermeneutika mendalam dalam tiga tahapan, yang terdiri dari pertama adalah level semantik bahwa bahasa merupakan wahana utama bagi ekspresi ontologi, oleh sebab itu kajiannya tidak dapat terlepas dari struktur bahasa dan kebahasaan yang tercakup dalam simbolisme. Kedua adalah level refleksi yaitu mengangkat lebih tinggi lagi posisi hermeneutika pada level filosofis. Proses ini dapat dilakukan melalui proses ulang balik antara pemahaman teks dengan pemahaman diri dan berlangsung seperti hermeneutika cycle yang telah penulis jelaskan. Tahap terakhir adalah level eksistensial, dalam tahap ini akan tersingkap bahwa pemahaman dan makna, bagi manusia ternyata berakar dari dorongan-dorongan yang bersifat instingtif.

Dengan pisau analisis diatas, penulis berharap penelitian ini bisa mendalam dan kritis. Adapun pelaksanaan penelitian ini secara garis besar terdiri dari 3 tahap, yaitu:”tahap orientasi, eksplorasi dan membercheck” (Nasution,2003:31-36). Proses pengumpulan data sendiri dilakukan dengan jalan studi pustaka, studi dokumentasi juga wawancara mendalam (dept interview).

Untuk membantu pengkajian penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma kualitatif yang multi paradigma, dimana penulis menggunakan beberapa teori untuk menemukan paradigma baru. Selain menggunakan teori hermeneutika mendalam dari Paul Ricoeur juga dilengkapi dengan berbagai perspektif teorikal diantaranya yaitu teori kritis, teori tripartit komunikasi massa dll.

Ideologi Ayu Utami dalam karya sastranya

Pandangan George Lucac, seorang tokoh Marxis memandang Ideologi dapat juga membantu manusia juga ideologi sebagai kesadaran kelas dapat berperan membebaskan kelas tertentu dari penindasan.

Penelitian ideologi yang menggunakan pendekatan hermeneutika Ricoeur ini, memiliki perhatian khusus yang secara eksplisit dan sistematis berusaha menunjukkan bahwa hermeneutika menawarkan baik refleksi filosofis akan kehidupan dan pemahaman, maupun refleksi metodologis tentang sifat dan tugas interpretasi dalam penelitian sosial. Kunci dari arah refleksi ini apa yang oleh Ricoeur disebut dengan hermeneutika mendalam (dept hermeneutics). Ricoeur memproyeksikan bahwa dalam mengelaborasi pendekatan interpretatif dan kritis terhadap studi ideologi merupakan konstribusi terhadap pengembangan suatu hermeneutika kritis.

Dalam concern ideologi, analisa sosial-historis akan mengarahkan pada studi tentang relasi dominasi, maka pada analisa formal atau diskursif ia akan memfokuskan pada ciri struktur bentuk-bentuk simbol yang memfasilitasi mobilisasi makna. Ideologi dari komunikator dapat dilihat dengan jalan bagaimana makna melakukan pengakuan yang ditunjukkan oleh suatu teks. Strategi-stretegi dengan penggunaan modus operandi banyak dipakai Ayu untuk mencerminkan hubungan dominasi yang menimbulkan klaim legitimasi yang dapat diekspresikan dalam strategi-strategi kontruksi simbolik tertentu.

Misalnya dalam karya sastra Ayu Utami, ideologi komunikator dimunculkan yakni isme-isme feminis salah satunya melalui strategi rasionalisasi dan narativisasi. Strategi rasionalisasi yang dipakai yaitu dengan menggunakan dua cara yang pertama dengan membuat hubungan sebab akibat (kausalitas) atau membuat prinsip tertentu (appeals to principle). Seperti kutipan dibawah ini:

“Sebab saya sedang menunggu Sihar ditempat ini. Ditempat yang tak seorangpun tahu, kecuali gembel itu. Tidak orang tua, tidak ada isteri. Tak ada hakim susila atau polisi. Orang-orang, apalagi turis, boleh menjadi seperti unggas: kawin begitu mengenal birahi setelah itu, tak ada yang perlu ditangisi. Tak ada dosa” (Saman:5, cetak tebal oleh penulis).
“Yasmin kemudian memanggilku si Perek……..
Julukan itu memang dia ucapkan dengan akrab, sebagaimana yang lain mendapat panggilan masing-masing. Laila dipanggil Peju, Pemudi Jujur. Sakuntala Piktor, Pikiran Kotor. Tapi perek tetap perek………..tapi tidak semua perempuan jadi perek. Cuma yang bejat dan terhina saja. Perempuan eksperimen. Bayangkan! Tak ada yang percaya bahwa perempuan eksperimen berarti bereksperimen. Tapi semua akan mengartikannya perempuan untuk eksperimen. Seperti kelinci percobaan, kelinci buat percobaan. Enggak mungkin kelinci yang membuat percobaan……….kadang aku jengkel, apapun yang kita lakukan , yang juga dilakukan laki-laki, kok kita mendapat cap jelek” (Larung: 83-84, cetak tebal oleh penulis).
……………………………………………………………………………………
“Orangtuaku percaya bahwa pria cenderung rasional dan wanita emosional. Karena itu pria akan memimpin dan wanita mengasihi. Pria membangun dan wanita memelihara. Pria membikin anak dan wanita melahirkan. Maka bapakku mengajari abangku menggunakan akal untuk mengontrol dunia, juga badan. Aku tak pernah dipaksakan untuk hal yang sama, sebab ia percaya pada hakikatnya aku tak mampu. (Larung: 136, cetak tebal oleh penulis).

Dalam kutipan teks diatas sudah sangat jelas bahwa isme-isme feminis direpresentasikan Ayu Utami dalam karya sastranya, seperti pembenaran akan perselingkuhan tokohnya Laila dan Sihar yang notabene sudah mempunyai isteri. Ayu Utami mempunyai asumsi bahwa perselingkuhan meskipun tanpa hubungan pernikahan dianggap benar karena diantara mereka ada cinta. Dalam teks tersebut Ayu Utami seakan membela kaumnya bahwa perselingkuhan yang hanya dijadikan salah satu simbol seakan sah saja tidak hanya berlaku bagi laki-laki seperti yang terjadi, tapi kaum perempuanpun mempunyai hak yang sama (wawancara, 12 Juli 2005).

Dan berbagai doktrin lainnya yang digunakan komunikator untuk menentang dominasi patriarki, perbedaan gender, dan ketidakadilan yang selama ini banyak menindas kaum perempuan. Wacana seksualpun tidak luput dituangkan Ayu dalam karya sastranya, seperti Ricoeur jelaskan tentang hermeneutika mendalam, bahwa bahasa menjadi sebuah wacana.dan dengan mengangkat wacana seperti inilah Ayu Utami bermaksud sebagai bentuk pengejekan tentang ketidakadilan masalah seksualitas yang berlaku bagi perempuan, hal tersebut juga menggiring wanita untuk melakukan hubungan sejenis. Dengan isme-isme itulah sisi ideologis komunikator sebagai seorang feminis pun dibeberkan.

Kodrat wanita yang dalam dunia patriarki, lebih pantas bekerja disektor domestik. Yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan “3M”, Manak (melahirkan), masak, dan macak (berhias). Dalam teks diatas merupakan wujud Ayu Utami untuk menumbangkan asumsi diatas, tapi kebudayaan tersebut masih terus berlangsung. Ideologi domestisitas atau domestikasi wanita ternyata tidak hanya melemparkan wanita kedunia dapur, tapi justru dunia dapur itu sudah dibawa kedunia publik dan dengan ini perempuan menjadi bagian penting dari proyek domestikasi ditingkat simbolik. Sisi ideologis Ayu pun dijadikannya sebagai perlawanan (ideology is struggle).

Seperti yang dikatakan Idi Subandi Ibrahim dalam wawancara dengan penulis yang menjelaskan tentang novel-novel yang dijadikan bentuk perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan seperti dibawah ini:

Bisa jadi hal itu sebentuk perlawanan atau pemberontakan terhadap dominasi patriarki. Tapi bisa juga dilihat dari perspektif lain, misalnya, bagaimana suara perempuan kini sudah mendapatkan tempat yang layak dalam “ruang publik” (wawancara tertulis Idi Subandi Ibrahim, 18 Agustus 2005)

Posisi Wanita dalam karya sastra Ayu Utami

Feminisme berasal dari kata femina yang berarti memiliki sifat keperempuanan. Feminisme diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi perempuan dibandingkan laki-laki dimasyarakat. Dalam prakteknya gerakan feminis menghasilkan beberapa istilah dikalangan akademisi seperti feminisme liberal dan sosialis, feminisme perbedaan, feminisme kulit hitam pascastrukturalis, feminisme islam dll.

Gerakan feminis telah lama mendapat sambutan kuat dalam dunia islam. Jantung diskursus gerakan feminis islam adalah isu reinterpretasi progresif terhadap Alquran. Salah satu kritik utama feminis Islam terhadap feminis barat adalah kecenderungannya kepada sekularisme. Menurut teologi feminisme islam, konsep hak-hak asasi manusia yang tidak berlandaskan visi transidental merupakan hal yang tragis. Karenanya, mereka berpandangan gerakan perempuan Islam harus berpegang pada paradigma islam supaya tidak menjadi sekular.

Streotype perempuan yang dibangun Ayu dalam karya sastranya, dibangun Ayu Utami dengan berbagai stereotype, dimana disisi lain Ayu ingin menggambarkan seorang perempuan Timur yang taat dengan ajaran agama, aturan, patuh, penurut, dengan patuh pada suami dll. Tapi disisi lain, Ayu juga mengkonstruksi perempuan dengan isme-isme ideologinya dimana penentangannya terhadap dominasi patriarki membawa penggambaran sisi lain dari seorang perempuan yang tertuang dalam karya sastranya.

“Cok , pasti elu girang sekali, deh, akhirnya bisa menemukan kelemahan gue berzinah baru sekali.” Enak aja! Sedikitnya elu berzinah dua kali. Pertama dengan Lukas sebelum kalian kawin.
Lihat temanku Yasmin wajahnya yang rupawan, bersih seperti patung marmer. Hidupnya teratur seperti tangga yang lurus. Sekolah, senam, lulus, kerja, kawin. Barangkali aku memang sirik padanya. Atau jengkel atau sekedar jail. Atau gemes. Sebab sejak kecil ia tak pernah bolos. Tak malas kursus piano dan balet. (tapi ia tak sukses menjadi pebalet karena kakinya terlalu ramping). Tak mengerjakan PR disekolah, tak membikin malu orang tua. Tidak bunting diluar nikah. Tak pernah pacaran ditempat gelap–waktu SMA. Dan, waktu sudah tahu seks dengan Lukas, gue kira dia juga nggak bersetubuh ditempat gelap. Ngapain punya badan bagus kalau gak dipamerin. Tapi, selain kepada kami, sahabatnya, mana pernah dia ngaku bahwa dia praktek seks ekstramarital. Noway dia akan terus terang. Pasti dimuka umum dia akan bilang “oh, keperawanan adalah mahkota yang harus dijunjung tinggi”. Dikempit rapat, maksud lu! Bahkan kini, perselingkuhannya dengan Saman hanya dia akui padaku… itulah. Dia munafik . dia selalu tampil kalem dan sopan, seperti karyawati baik-baik yang diidam-idamkan ibu-ibu kos. Tapi gue yakin, didasar hatinya yang paling dalam dia sama dengan aku. Binal. Perhatikan pakaian kerjanya:stelan, blazer dengan bantalan bahu, kayak eksekutif atau penyiar berita teve. Tapi gue yakin beha dan celana dalamnya pasti fansi”. (Larung, 79, cetak tebal oleh penulis).

Salah satu contoh teks kutipan yang penulis kutip diatas menceritakan tentang seorang perempuan Timur yang selalu patuh dan taat, dapat dilihat perempuan dalam hal ini Ayu konstruksi sebagai sesosok manusia yang hidupnya teratur seperti tangga yang lurus. Sekolah, senam, lulus, kerja, kawin. Seperti yang dijelaskan Ayu Utami (wawancara,12 Juli 2005) yang ingin menggambarkan bahwa perempuan adalah wanita yang pintar, aktif dalam segala bidang dan bisa melakukan apa saja, hal tersebut dapat dilihat dari sosok tokoh Yasmin yang merupakan anak orang berada, keluarganya terhormat, setia pada suami dan juga merupakan seorang pengacara, tokoh dalam karya sastra Ayu ini juga merupakan seorang aktivis yang membela orang tertindas dan orang miskin.

Selanjutnya bentuk penentangannya terhadap dominasi patriarki Ayu pun membangun stereotype lain dari sosok seorang perempuan. Dalam kedua novelnya, citra perempuan terlihat kian buruk dengan keterlibatnnya dalam perselingkuhan yang dianggap biasa, seperti perselingkuhan mungkin diibaratkan sebagai perasaan yang dibiarkan mengalir atau semacam dendam masa silam yang bercampur aduk dengan aspirasi religius Yasmin. Dititik ini pengertian tradisional kita tentang perselingkuhan menjadi tak lagi memadai. Pengertian tersebut hanya menjadi judgement dari pihak luar, yaitu cerita Cok bukan suara hati yang mengalami (Yasmin dan Laila).

Lalu citra perempuan Timur pun terkikis dengan cerita tentang kehidupan bebas dengan melakukan seks pra-nikah yang dilakukan antara Yasmin dan Saman, cerita tentang sebuah virginitas, yang seharusnya dijadikan sebagai “mahkota yang harus dijunjung tinggi dan dikempit rapat”, menurut Ayu Utami sendiri penggambaran perempuan yang selalu gonta-ganti pasangan dan seluruh dan magma kultur yang selama ini dibangun masyarakat yang dianggap merugikan wanita. Semua Ayu libas dengan pegucilan sebuah etika Timur yang selama ini terpatri dibenak masyrakat dalam memandang sosok perempuan. Mitos tersebut terkalahkan oleh minimnya sebuah etika dari tokoh-tokoh perempuan dalam karya sastranya.

Perspektif feminisme Islam

Feminisme dikenal dengan istilah women liberation, suatu upaya kaum Hawa dalam melindungi dirinya dari eksploitasi kaum Adam. Kesadaran untuk bangkit memperjuangkan hak dikalangan perempuan, sebenarnya telah menjadi bagian dari ajaran agama-agama dengan kadarnya masing-masing. Feminisme menjelma menjadi dambaan kaum wanita di dunia dan telah membangun ideologi kewanitaan yang melibas tesis-tesis awal tentang mitos “kepanutan” kaum hawa terhadap kaum adam. Tinjauan emosional perempuan yang tidak bias menerima kenapa perempuan hanya dipekerjakan dalam hal domestik laki-laki tidak, dan hal lainnya yang merespon semangat perempuan untuk mendobrak doktrin formalistik yang selama ini menjadi dominasi patriarki.

Hal inilah yang dibeberkan Ayu Utami dalam karya sastranya, dimana isme-isme gerakan feminisnya dijadikan tombak untuk penolakan-penolakannya terhadap wacana gender yang selama ini menjadi dominasi laki-laki. Dipandang dalam perspektif feminisme islam, isme-isme yang dinobatkan Ayu Utami sebagai bentuk wacana ideologinya, diantaranya Ayu menampilkan sisi feminisme liberal yakni gerakan feminisme yang berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan, ideologi yang Ayu angkat apabila dipandang dalam perspektif feminisme islam banyak yang bertentangan diantaranya ketika Ayu utami menobatkan tentang wacana seksual pra nikah, tentang perselingkuhan, dan prilaku-prilaku amoral lainnya yang Ayu angkat sungguh berbeda dipandang dalam segi feminisme Islam. Islam sendiri mempunyai ajaran yang memfilter agar umatnya tidak berbuat maksiat

Selain itu apabila memandang wanita dalam karya satra Ayu, terlihat dimana wanita sangat rendah, dan Ayu juga meinginkan kesetaraan dalam semua hal. Padahal kalau kita perhatikan dalam perspektif Islam, martabat kaum wanita telah diangkat dan diberikan hak-hak yang sama dengan kaum pria, walaupun sebelumnya telah hancur luluh oleh tradisi-tradisi, fanatisme golongan dan kebangsaan. Kepada kaum wanita telah diberikan peran yang amat besar, yang belum pernah diberikan oleh agama-agama sebelumnya. Islam memberikan perhatian khusus kepada kaum wanita, terbukti dengan ditetapkannya wanita sebagai salah satu surah dalam Alquran, yaitu surah An-Nisa. Sebagian besar ayat-ayat dalam surah ini membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita, utamanya yang berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap hak-hak wanita. Oleh sebab itu, hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islam ini, dapat dikatakan sebagai hari lahirnya proklamasi kemerdekaan kaum wanita, karena ajaran Islam yang dibawa oleh beliau memberi perlindungan terhadap hak-hak wanita.

Disisi lain ada juga perspektif yang sama dalam memandang wanita yang ditekankan oleh Ayu Utami seperti tergambar dalam tokohnya Yasmin yang dalam sisi lain digambarkan sebagai tokoh Yasmin aktivis yang mempunyai karier sebagai pengacara yang sukses dan merupakan pembela kaum buruh dan ketertindasan wanita. Dimana dalam Islam pun tidak sedikitpun mengeliminir perempuan untuk aktif dalam social masyarakat, Islam menempatkan wanita pada posisi yang paling tinggi dan penuh adil, posisi seperti itupun kalau kita telaah lebih dalam, sesungguhnya hukum-hukum islam diturunkan kepada manusia dengan melihat sisi kemanusiaan, perbedaan hukum yang berbeda diantara pria dan wanita berdasarkan tabiat mereka masing-masing. Adanya keharusan pembagian tugas masing-masing dan hukum-hukum justru menjaga agar antara laki-laki dan perempuan terjalin kerjasama yang dilandasi kesucian. Maka sangat naif bila masih ada orang yang memiliki pemahaman miring mengenai kedudukan wanita dalam islam. Gambaran bahwa wanita islam adalah wanita yang jumud dan terkungkung karena syara, padahal islam memberikan keleluasaan pada wanita untuk melakukan aktivitas muamalat, memperoleh pendidikan yang tinggi dsb, yang penting prinsip-prinsip aturan sosial dan ajaran Islam harus ditegakkan.

Seperti halnya tentang masalah perkawinan yang ditentang Ayu Utami sebagai penguasaan laki-laki terhadap perempuan, justru dalam perspektif Islam seperti yang tergambar dalam perkawinan Muhammad SAW, yang membela wanita juga memposisikan wanita dalam kedudukannya untuk saling melengkapi. Seibarat pakaian yang saling melindungi bukan berarti dalam konsep penguasaan laki-laki terhadap wanita. Perlu diakui bahwa peran wanita sampai hari ini belum teroptimalisasikan. Teologi yang mengatur posisi wanita bukan produk dan pemikiran murni dari kaum wanita melainkan hasil rekayasa kaum pria. Maka sebebas apa pun kebebasan yang diberikan kepada kaum wanita, jelas-jelas akan dibatasi oleh kepentingan komunitas laki-laki.

Fatwa-fatwa yang berteologi laki-laki mengklaim bahwa kepemimpinan (formal, informal) secara mutlak menjadi hak laki-laki. Klaim ini merujuk kepada pernyataan Alquran yang ditafsirkan bahwa laki-laki berdir di atas (pemimpin) kaum wanita. Pemaknaan ini sepertinya mutlak dan tidak bisa diubah, tanpa melihat perkembangan realitas lebih lanjut, bahwa Allah SWT memberikan potensi yang lebih bagi beberapa kaum perempuan dan bukan mustahil melebihi kapasitas laki-laki.

Ajaran Islam sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk teroptimalisasinya peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT yang dalam beberapa hal berbeda. Sampai kapan pun untuk meneruskan regenerasi kehidupan, sekalipun teknologi rekayasa diciptakan, tetap yang bisa mengandung dan melahirkan hanyalah perempuan, laki-laki tidak. Sikap ramah, halus, perasa dan lunak dengan penuh kasih sayang diberikan Allah SWT kepada wanita, tidak kepada laki-laki. Luar dari kodrat azali, kaum wanita bisa mengekpresikan segala kemampuannya untuk berlomba bersama-sama kaum laki-laki ber-fastabiqul khairat.

Kesimpulan

Ideologi yang direpresentasikan dalam karya satra novelis perempuan yakni Ayu Utami adalah ideologi feminis, hal ini dapat dilihat dari permainan politik bahasa, bentuk-bentuk simbolik yang hasilnya akan mengungkap sebuah relasi dominasi guna mempertahankan ideologi si pengarang. Dalam karya sastra ini, relasi ideologis dibangun Ayu Utami yang terindikasi sebagai seorang feminis yakni tercermin dari teks-teks berbagai penentangannya terhadap dominasi patriarki dan gender, mulai dari wacana tentang seksualitas, virginitas, ayu libas sehingga memperlihatkan sisi ideologis dari pengarang.

Ayu Utami sebagai novelis perempuan mengkonstruksi wanita dari berbagai stereotype. Dengan penggunaan frase-frase, kiasan, simbol-simbol, Stereotype pertama yang Ayu Utami bangun yaitu perempuan itu pintar, aktif dalam berbagai kegiatan, penurut, istri yang baik tapi disisi lain Ayu juga justru lebih banyak mengkonstruksi perempuan dengan stereotype yang buruk. Penggambaran dari kaum ber-fallus ini dibawa Ayu dengan keterlibatan perempuan yang bisa memperalat dan bereksperimen dengan berbagai lawan jenis, terutama dalam hal seks, cerita perselingkuhan, hubungan seks pra-nikah, penentangan mitos keperawanan sebagai selaput dara dll.

Ideologi yang ditunjukkan Ayu Utami adalah konsepsi feminisme Barat yang nota bene berakar dari tradisi dan budaya hidup yang humanis, bukan berdasarkan konsep agama. Dalam konsepsi feminisme Islam ada beberapa hal yang memiliki kemiripan, seperti tentang pendidikan dan aktivitas sosial perempuan dalam masyarakat, tetapi banyak juga ideologi yang direpresentasikan Ayu Utami, apabila dipandang dari persfektif feminisme Islam sangat bertentangan seperti wacana tentang kebebasan seksual, free life style yang dipercaya akan membebaskan wanita dari dominasi patriarki.

*** Pemenang II lomba karya Ilmiah mahasiswa UNISBA tahun 2006

Referensi :

Ansori, S Dadang, Kosasih Engkos; Sarimaya Farida; Membincangkan Feminisme: Repleksi Muslimah Atas Peran Sosial Kaum Wanita, Pustaka Hidayah, Bandung, 1997.
Bleicher, Josef, Hermeneutika Kontemporer, Pajar Pustaka, Yogyakarta, 2003.
Dahana, Radhar Panca, Kebenaran dan Dusta dalam Sastra, Indonesitera, Magelang, 2001.
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, LKIS, Yogyakarta, 2002
Effendy, Onong, Uchjana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1984.
——————————-, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.
Kosasih, Engkos, Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusastraan, Yrama,Bandung, 2004.
Kurnia Anton; Sastra Feminis Dalam Tiga Diskusi, Fokus Sastra Indonesia, 2004.
Luxemburg, Jan Van; Weststejjin, Mieke Bal Willem G; Pengantar Ilmu Sastra, Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Moleong, J. Lexy; Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.
Mulyana, Deddy; Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya, Bandung; 2001
Mc. Quail, Denis, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta, 2003.
Palmer, E. Richard; Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.
Rahmat, Jalalludin Psikologi Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991.
———————–, Catatan Kang Jalal:Visi Media, Politik, dan Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997.
Ricoeur, Paul, The Interpretation Theory, Filsafat Wacana Membedah Makna dalam Anatomi Bahasa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2002.
Sumaryono E., Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1999.
Sugihastuti, Adib Sofia, Feminisme dan sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang, Katarsis,2003.
Thompson, Jhon B; Analisis Ideologi Kritik Wacana Ideologi-ideologi Dunia, IRCiSoD, Yogyakarta, 2003.
Thompson, Jhon B, Kritik Ideologi Global, Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa, IRCiSoD, Yogyakarta, 2004.
Takwin, Bagus, Akar-Akar Ideologi: Pengantar Kajian Konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu, Jalasutra, Yogyakarta, 2003.
Utami, Ayu, Saman, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 1998.
————–, Larung, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2001.
—————, Si Parasit Lajang, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2003.
Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, Grasindo, Jakarta, 2000.

Internet
Nuraini Juliastuti, Kebudayaan yang Maskulin, Macho, Jantan, dan Gagah http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906, Jakarta, 2004.
Loekito, Medy Asvega; Perempuan dan Sastra Seksual, Galeri Essai, http://www.cybersastra.net/modules.php?name=News&file=article&sid=3906, Jakarta, 2004.
El Khalieqy, Abidah; Perlawanan Perempuan terhadap Ketidakadilan Sosial Atas Singgasana,http://www.gatra.com/2004-05-18/versi_cetak.php?id=37370,2005

Wawancara

Wawancara DR. Irfan Safruddin, M.Ag,13 Juni 2005.
Wawancara Drs. H.A. Hasan Ridwan, M.Ag. 15 Juni 2005
Wawancara Ayu Utami, Jakarta, 12 Juli 2005
Wawancara Tertulis Idi Subandi Ibrahim, 18 Agustus 2004

Tembang cianjuran kawitna mah salasa hiji seni mamaos. dinagarana tembang sunda cianjuran ti taun 1930-an terus dikukuhkeun taun 1962 dina musyawarah tembang sunda sa-pasundan di bandung. seni mamaos teh minangka seni vokal sunda anu diirig ku alat kacapi indung, kacapi rincik suling jeung rebab.

Sekar

Sekar mangrupa seni sora ti vokal manusa (janaswara).Sekar dibagi jadi dua golongan utama anu jadi dua tihangna seni sora sunda. Sakumna perbendaharaan seni sora kaasup kadina dua golongan ieu. Kadua golongan badag éta téh Sekar tandak sarta Sekar Wirahma merdika. SEKAR minangka seni sora tina vokal manusa (janaswara)

Sekar tandak mangrupa jenis lagu anu ngabogaan wirahma atawa ritme anu tetep (tandak hartina tetep) dina istilah art kulon disebut rhythmical song. Sekar tandak dina istilah popular disebut kawih. Tembang Cianjuran kaasup kadina golongan kulawarga lagu sekar tandak alatan pola kawihna ngabogaan wirahma (Wirahma) atawa ketukan anu tetep. Sekar tandak dawam dibawakan sacara anggana (solo vokal) sarta sacara rampak sekar (vokal grup). Conto penyajian sekar tandak contona dina Tembang Cianjuran, gending karesmen, panambih dina pupuh, sindhenan sarta jenis kakawihan séjénna.

Sekar wirahma merdika nyaéta golongan lagu anu henteu ngabogaan ketukan, berirama leupas tapi aya aturan panjang-pendek nu tangtu anu henteu bisa dituliskeun kalawan sistem titilaras atawa sacara pakem dina karawitan sunda. Penentuan panjang-pendeknya hiji nada ngan bisa diajarkan sacara lisan verbal atawa oral ti saurang guru ka murid. Ieu pisan anu dina dunya seni sora sunda disebut tembang sarta di jawa disebut macapat (Natapradja:2003).

Dina kanyataanana sanajan disebut Tembang Cianjuran tapi lain kaasup kadina jenis sekar wirahma merdika. Tembang Cianjuran mangrupa golongan sekar tandakatau dawam disebut kawih. Penamaan “tembang” saukur sawajarnana jelema sunda nyebutkeun jeniskawih ieu. Jadi, ulah terjebak kalawan penamaan “tembang” dina Tembang Cianjuran.

Historis Tembang Cianjuran

Kasenian Tembang Cianjuran geus aya saprak jaman kolonialisme anu datang ka nusantara. Di tempat kalahiranana Cianjur,sebenarnya ngaran kasenian ieu téh mamaos. Dingaranan tembang Sunda Cianjuran saprak warsih 1930-an sarta dikukuhkan warsih 1962 sabot diayakeun Musyawarah Tembang Sunda sa-pasundan di Bandung. Seni mamaos mangrupa seni vokal Sunda kalawan pakakas musik kacapi indung, kacapi rincik, suling, sarta atawa rebab. Mamaosterbentuk dina mangsa pamaréntahan bupati Cianjur RAA. Kusumaningrat (1834-1864). Bupati Kusumaningrat dina nyieun lagu mindeng bertempat di hiji wangunan ngaranna Pancaniti. Ku alatan éta pisan manéhna kaceluk kalawan ngaran Kangjeng Pancaniti. Dina mulanya mamaosdinyanyikan ku kaum lalaki. Anyar dina perempat kahiji abad ke-20 mamaos bisa dipelajari ku kaum wanoja. Hal ituterbukti kalawan mecenghulna para juru mamaos wanoja, kawas Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Imong, Ibu O’baruk, Ibu Resna, sarta Nyi Mas Saodah (kurnia:2003)

Bahan mamaos asalna ti sagala rupa seni sora Sunda, kawas pantun, beluk (mamaca), degung, sarta tembang macapat Jawa, nyaéta pupuh. Lagu-lagu mamaos anu dicokot ti vokal seni pantun dingaranan lagu pantun atawa papantunan, atawa disebut ogé lagu Pajajaran, dicokot ti ngaran keraton Sunda dina mangsa lampau. Sedengkeun lagu-lagu anu asalna ti bahan pupuh disebut tembang. Duanana menunjukan ka aturan rumpaka (teks). Sedengkeun téknik vokal duanana ngagunakeun bahan-bahan olahan vokal Sunda. Tapi kitu dina pamustunganana kadua téknik pembuatan rumpaka ieu aya anu digabungkan. Lagu-lagupapantunan ogé loba anu dijieun kalawan aturan pupuh.

Dina mangsa mimiti panyiptaanana, Cianjuran mangrupa revitalisasi ti seni Pantun. Kacapi sarta téknik memainkannya écés kénéh ti seni Pantun. Kitu ogé lagu-lagunya ampir kabéhanana ti sajian seni Pantun. Rumpaka kawihna ogé nyokot ti carita Pantun Mundinglaya Dikusumah.

Dina mangsa pamaréntahan bupati RAA. Prawiradiredja II (1864-1910) kasenian mamaosmulai menyebar ka wewengkon séjén. Rd. Etje Madjid Natawiredja (1853-1928) nyaéta di antara tokohmamaos anu berperan dina sumebarna ieu. Manéhna mindeng diondang pikeun ngajarkeun mamaoske kabupatén-kabupatén di Parahiangan, di antarana ku bupati Bandung RAA. Martanagara (1893—1918) sarta RAA. Wiranatakoesoemah (1920-1921 & 1935-1942). Sabot mamaosmenyebar ka wewengkon séjén sarta lagu-lagu anu ngagunakeun pola pupuh geus loba, mangka masarakat di luar Cianjur (sarta sawatara perkumpulan di Cianjur) nyebutkeun mamaos kalawan ngaran tembang Sunda atawa Cianjuran, alatan kasenian ieu has sarta asalna ti Cianjur. Kitu ogé sabot radio NIROM Bandung warsih 1930-an menyiarkan kasenian ieu nyebutkeun manéhna jeung Tembang Cianjuran (kurnia:2003).

Pamaén kasenian anu disebut minangka Tembang Cianjuran diwangun luhur: saurang pamaén kacapi indung anu pancénna nyaéta mikeun pasieup, narangtang, pangkat lagu, sarta memngiri lagu boh mamaos mamupun panambih; hiji boh dua urang pamaén kacapi rincik anu ngabogaan tugas nyieun hiasan dina iringan kacapi indung sabot penembang membawakan panambih; samentara anu hijina deui ngabogaan tugas minangka anggeran wilatan (mikeun watesan-watesan ketukan); saurang pamaén suling anu ngabogaan tugas nyieun hiasan-hiasan lagu di antara-antara kekosongan sekaran (vokal) sarta mikeun lelemah soré (dasar nada); sarta penembang anu membawakan sagala rupa jenis lagu mamaos cianjuran. Minangka catetan, lagu panambih ngan dilantunkan ku penembang wanoja. Sedengkeun busana anu dikenakan ku pamaén lalaki nyaéta baju taqwa, sinjang (dodot), kalawan benggol minangka aksesorisnya. Sedengkeun, pakéan anu dikenakan ku para pamaén wanojana nyaéta: kabaya, sinjang, sarta karémbong (Galba:2007).

Fungsi kasenian anu disebut minangka Tembang Cianjuran nyaéta minangka hiburan. Sedengkeun, peunteun anu kaeusi di jerona henteu ngan saukur estetika sapanon, tapi ogé gawé babarengan sarta kreativitas. Peunteun gawé babarengan tercermin dina hiji pementasan. Dina hal ieu lamun penembang lalaki beristirahat, mangka penembang awéwé tampil ngeusian manéhna. Ku kituna, kaayaan henteu vakum tapi sinambungan. Peunteun kreativitas henteu ngan tercermin ti keterampilan para pamaénna dina sisindiran, tapi ogé dina pengadopsian jenis-jenis kasenian séjén (degung) tanpa ngaleungitkeun rohnya (jatidiri kasenian mamaos cianjuran).

Tapi dewasa ieu kehebatan sarta keindahan ti seni Tembang Cianjuran geus mimiti melemah tergerus arus globalisasi. Hal éta tercermin ti kurangna nara asal, tingkat apresiasi masarakat anu beuki kurang sarta horéamna generasi ngora pikeun mempelajarinya alatan dianggap minangka kuna atawa kampungan. Maranéhanana leuwih mikaresep jenis-jenis kasenian kontemporer.

PEUNTEUN-PEUNTEUN DINA RUMPAKA TEMBANG CIANJURAN

Nasihat sarta Doa

Rumpaka dina istilah Indonésia mangrupa teks ti lagu, atawa syair-syair dina lagu. Dina rumpaka Tembang Cianjuran beuneur peunteun-peunteun kawas nasihat sarta doa. Nasihat sarta doa inidilihat ti sudut komunikasi ngabogaan kemiripan yakniadanya tujuan pengungkapan anu ditepikeun dina pendengar. Nasihat nyaéta harapansupaya eusi talatah rumpaka nepi ka ka pencengar sarta doa, harepan anu dipohonkan ka  

Pangéran.

Rumpakadigubah ku saurang penggubah, saterusna ditembangkan ku sejumlahpenembang/ juru mamaos/juru tembang. Dina hal ieu juru tembang sapuk kalawan eusi rumpakakemudian hayang nepikeun manéhna balik ka pendengar, kaasup ogé rumpaka anu beuneur doa.

Penembang umumna milih ogé eusi kandungan ti rumpaka. Lamun nasihat ditempo ti sagi silih menasihati antar-manusia sarta permohonan doa ditepikeun ka Pangéran, duanana aya dina wewengkon religius. Nasihat mangrupa Hablum Minanas sarta Doa mangrupa Hablum Minallah. Amanat anu ditepikeun ngaliwatan lantunan tembang karasaeun leuwih hidmat boh dirasakeun ku penembang boh didéngé ku

Ditempo ti sagi historis, unsur nasihat sarta doa anu aya dina wewengkon religius ieu ngabogaan kalungguhan penting dina Rumpaka Tembang Cianjuran. Perintis mimiti Tembang Cianjuran nyaéta Dalem Pancaniti, saurang taat ngagem agama, komo aya anu nganggap ”Alima al-alamah (ajengan pandai), ngahontal Waliyullah ((Su’eb, 1997: 36). Pernyataan kasebut saluyu kalawan katerangan anu ditepikeun ku Dadan Sukandar yén saméméh warsih enampuluhan Tembang Cianjuran mengusung ngeunaan hal keteladanan. Bukti-bukti éta tersirat ogé dina hiji dina pupuh Sinom Liwung anu ditarima ku R. Bakang Abu bakar ti guruna dina warsih 1949 minangka katut:

Sinom pamekaring rasa

Rasa Suci kang diwincik

racikan ungkara basa

basa pamekaring budi

budi daya nastiti

nutur galuring luluhur

babaran kaelingan

digending dirakit dangding

komaraning daya sastra Kasundaan

(Ischak, 1988: 63)

Kira-kira rumpaka ieu geus aya laér saméméh warsih 1949. Dina pupuh ieu aya tanda anu kuat nyaéta Rasa Suci, Rasa Suci ngarujuk ka Inti Kedirian manusa anu dianugrahkan Pangéran nyaéta Nurullah atawa disebut ogé Awak Rohani (Tempo dina Wawacan Jaka Ula Jaka Uli). Kecap kadua nyaéta babaran kaelingan ’pembahasan ngeunaan keimanan’. Pengertian eling ’iman’ dina naskah-naskah ajaran Teosofi Tasawuf nyaéta Manunggaling kaula-gusti. Menghadirkan Alloh di jero Awak Rohani’ Pupuh ieu berceritera ngeunaan ajaran keimanan anu menuntun manusa ka arah kabagjaan lahir sarta batin. Tapi lamun disambungkeun kalawan judul lagu nyaéta Liwung, henteu luyu. Ku kituna kira-kira aya lagu pamaké rumpaka ieu luyu eusi. Ditempo ti rumpaka di luhur, jelaslah kakuatan ti kesusastraan Sunda dina hiji mangsa, ditempo ti sagi bobot eusina (kalsum:2007) rumpaka-rumpaka séjén Tembang Cianjuran anu dicokot ti rumpaka pupuh anu beuneur nasihat sarta mengarah dina kebajikan antara séjén:

 

Pucung Degung

Lamun urang boga maksud kudu junun

kahayang jeung prakna

mun sakadar dina hate

eta mubah moal rek aya buktina. (Sobirin, 1987: 46)

Naratas jalan

Geura bral geura mariang

geura prak naratas jalan

teangan kasugemaan

enggoning keur kumelendang

kumelendang séwang yakin

dibarengan kaimanan

yakin kana pamadegan

tangtungan wanda sorangan

tapi poma 2x séjén laku kaangkuhan.

Kaangkuhan anu mawa

kana jalan kaambrukan

hirup téh séjén sorangan

loba pisan nu marengan

keur urang silih tulungan

séjén eukeur pacengkadan

nu taya hartina pisan

nimbulkeun pondok harepan

ilang uteuk keur ngudag-udagan urang

(Sobirin, 1987: 85)

Naratas Jalan Surupan Pelog, pupuh Sinom. Kadua pada mangrupa kahijian anu ngarojong dina judul Naratas Jalan ’Muka Jalan’. Lamun dikaitkeun kalawan pamakéan pupuh,”muka jalan” dina konteks ieu, ngabogaan harti nyieun pijakan hirup dina néangan kabagjaan pikeun diteladani ku jalma-jalma saterusna. TeksNaratas Jalan ditempo ti sudut harti minangka hiji runtuyan informasi, ngeunaan ngajalanan kahirupan.Rumpaka ieu mengemukakan yén hirup kalawan sasama pikeun silih tolong-menolongbukan pikeun berselisih. Teks hipogram dina pupuh Pucung kawas katut: Utamana jalmakudu rea batur, keur silih tulungan, silih asih silih bere, budi uteuk lantaran ti dina jalma. ’Anu pangutamana jelema kudu ngabogaan kawan loba, pikeun silih nulungan, silih mikeun, budi sarta uteuk ngaliwatan sasama manusa.’(Kalsum:2007).

Rumpaka-rumpaka diluhur mangrupa sawaréh leutik conto ti Tembang Cianjuran anu sok ngabogaan intisari kebajiakan, nasihat, doa, sarta ngajak manusa pikeun ngahontal kemuliaan. Sajaba diluhur aya ogé cirebonan ‘bermakna manusa kudu tapis dina ngalakonan kebaikan’, ceurik abdi’nyaritakeun yén di dunya kabéh hal sok berpasangan’, sinom bungur’ngingetkeun dina manusa dina berkehidupan henteu bisa sewenang-wenang sarta egois’,pangrawit’ dina berkehidupan manusa kudu weruh mana anu bener sarta anu salah sarta sok ngajaga diri’ sarta masih loba rumpaka pupuh séjénna.

Geus bisa dipastikeun yén Tembang Cianjuran pohara mengarah sarta ngajarkeun manusa minangka mahkluk anu bermoral. Membimbing ka kebaikan, silih mendoakan antar sasama, ngajaga kelestarian alam, sarta permohonan ka sang panyipta. Hal ieu tinangtu arang sakali kapanggih dina teks lagu populer jaman ayeuna. Teks dina gubahan lagu populer lolobana nyaritakeun ngeunaan realita percintaan anak rumaja, pegat asih, perselingkuhan, pengorbanan asih, pacaran, sarta sagala hiji hal anu pohara deukeut kalawan kahirupan rumaja jaman ayeuna.

Pintonan

Sabenerna yayaya istilah mamaos ngan némbongkeun dina lagu-lagu anu berpolakan pupuh(tembang), alatan istilah mamaos mangrupa penghalusan ti kecap mamaca, nyaéta seni maca buku carita wawacan ku cara dinyanyikan. Buku wawacan anu ngagunakeun aturan pupuh ieu aya anu dilagukan kalawan téknik nyanyian rancag sarta téknik beluk. Lagu-lagu mamaos berlaras pelog (degung), sorog (nyorog; madenda), salendro, sarta mandalungan. Dumasar bahan asal sarta sipat kawihna mamaos dikelompokkan dina sawatara wanda, nyaéta: papantunan, jejemplangan,dedegungan, sarta rarancagan. Ayeuna ditambahkeun ogé jenis kakawen sarta panambih minangka wanda pangsoranganna. Lagu-lagu mamaos ti jenis tembang loba ngagunakeun pola pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana, sarta Dangdanggula, sarta aya di antarana lagu ti pupuh séjénna.

Lagu-lagu dina wanda papantunan di antarana Papatat, Rajamantri, Mupu Kembang, Randegan, Randegan Kendor, Kaleon, Manyeuseup,Balagenyat, Putri Layar, Pangapungan, Rajah, Pinggel Gading, Candrawulan, dsb. Samentara dina wanda jejemplangan di antarana diwangun darijemplang Panganten, Jemplang, Cidadap, Jemplang Leumpang, Jemplang Titi, Jemplang Pamirig, dsb.

Wanda dedegungan di antarana Sinom Degung, Asmarandana Degung, Durma Degung, Dangdanggula Degung, Rumangsang Degung, Panangis Degung sarta sajabana. Wanda rarancagan di antarana; Manangis, Bayubud, Sinom Polos, Kentar Cisaat, Kentar Ajun, Sinom Liwung, Asmarandana Rancag, Setra, Satria, Kulu-kulu Kulon, Udan Mas, Udan Iris, Dangdanggula Pancaniti, Garutan, Porbalinggo, Erang Barong sarta sajabana. Wanda kakawen di antarana: Sebrakan Sapuratina, Sebrakan Pelog, Toya Mijil, Kai Agung, sarta sajabana. Wanda panambih di antarana: Budak Ceurik, Toropongan, Kulu-kulu Gandrung Gunung, Renggong Gede, Panyileukan, Selabintana, Soropongan, dsb.

Dina kawitna  mamaos boga fungsi minangka musik hiburan pakakas silaturahmi di antara kaum menak. Tapi mamaos ayeuna, di gigireun /sabeulah masih kawas fungsi mimitina, ogé geus jadi seni hiburan anu boga sipat profit ku para senimannya kawas kasenian.

Mamaos ayeuna mindeng dipaké dina hiburan hajatan perkawinan, khitanan, sarta sagala rupa kaperluan hiburan atawa acara adat.

sumber :

Diropea tina sumber aslina : http://uheababil.blogspot.com/2013/12/sejarah-tembang-sunda-cianjuran.html#ixzz2tBE0l5Eq

 

 

 

bundokanduangIstilah suku pada suku Minangkabau agak membingungkan bagi etnis lain di luar suku Minangkabau. Ada yang mengartikannya sebagai suku atau etnis, tapi ada juga yang mengartikan istilah suku pada suku Minang berarti marga seperti pada suku Batak, Ambon, Toraja dan Minahasa. Bagi orang Minangkabau, istilah suku, berarti kira-kira seperti sub-klan atau bisa juga sebagai marga atau nama keluarga. Ada segelintir masyarakat Minangkabau beranggapan apabila memakai nama suku atau marga, akan menghilangkan identitas Minang-nya, karena meniru-niru kebiasaan orang Batak yang memakai marga di belakang namanya. Tetapi tidak sedikit juga orang Minang yang malah bangga memakai nama suku atau marga di belakang nama, karena justru menampilkan identitas asli Minang-nya. Pro-kontra ini terus terjadi, tetapi bagaimanapun juga tergantung pilihan masing-masing, mau pakai marga boleh, tidak pakai marga juga sah-sah saja.
Untuk aturan suku (marga) pada orang minangkabau adalah menganut cara matrilineal, yaitu marga diturunkan berdasarkan marga sang ibu, tidak patrilineal seperti aturan marga pada suku Batak atau suku-suku lain di Indonesia. Satu hal yang masih tetap terjaga pada masyarakat Minangkabau, adalah sesama satu suku (marga) tidak diperkenankan untuk saling kawin mawin (menikah).

Marga pada suku Minangkabau

  • Andomo Koto
  • Balaimansiang
  • Banuampu
  • Banuhampu
  • Bariang
  • Bejo
  • Bendang
  • Bodi
  • Caniago
  • Dalimo
  • Dalimo
  • Guci
  • Jambak
  • Kalumpang
  • Kampai
  • Koto
  • Kutianyie
  • Kutianyir
  • Lamu
  • Lubuk Batang
  • Malayu
  • Mandahiling
  • Mandailiang
  • Mandaliko
  • Mansiang
  • Pagacancang
  • Pagar Tanjung
  • Panai
  • Panyalai
  • Pataping
  • Payobada
  • Penago
  • Piboda
  • Piliang
  • Pisang
  • Pitopang
  • Pitopang
  • Rajo Dani
  • Salayan
  • Salo
  • Salo
  • Sikumbang
  • Simabua
  • Simabur
  • Sinapa
  • Singkuang
  • Singkuang
  • Sipanjang
  • Sipisang
  • Sumagek
  • Sumagek
  • Sumpadang
  • Sungai Napa
  • Supanjang
  • Tanjung
  • Tigo Lareh
  • Tubu
Marga suku Minang di Negeri Sembilan Malaysia
  • Anak Acheh
  • Anak Melaka
  • Batu Belang
  • Batu Hampar (Tompar)
  • Biduanda (Dondo)
  • Mungkal
  • Paya Kumbuh (Payo Kumboh)
  • Seri Lemak (Solomak)
  • Seri Melenggang (Somolenggang)
  • Tanah Datar, di Negeri Sembilan
  • Tiga Batu, di Negeri Sembilan
  • Tiga Nenek, di Negeri Sembilan

 

Suku bangsa Indonesia

Posted: 27 Agustus 2013 in BUDAYA NUSANTARA
Besar kecilnya suku bangsa yang ada di Indonesia tidak merata. Suku bangsa yang jumlah anggotanya cukup besar, antara lain suku bangsa Jawa, Sunda, Madura, Melayu, Bugis, Makassar, Minangkabau, Bali, dan Batak. Biasanya suatu suku bangsa tinggal di wilayah tertentu dalam suatu provinsi di negara kita. Namun tidak selalu demikian. Orang Jawa, orang Batak, orang Bugis, dan orang Minang misalnya, banyak yang merantau ke wilayah lain. Lebih rinci suku-suku bangsa dan penyebarannya di 33 provinsi Indonesia seperti pada tabel berikut:

 

 

Nama-nama Suku Bangsa di Indonesia

 

 

No. Provinsi Nama Suku
1 Nangroe Aceh Darussalam Aceh, Gayo, Alas, Kluet, Tamiang, Singkil, Anak Jame, Simeleuw, dan Pulau
2 Sumatera Utara Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Fakfak, Batak Angkola, Batak Toba, Melayu, Nias, Batak Mandailing, dan Maya-maya
3 Sumatera Barat Minangkabau, Melayu, dan Mentawai, Tanjung Kato, Panyali, Caniago, Sikumbang, dan Gusci
4 Riau Melayu, Akit, Talang Mamak, Orang utan Bonai, Sakai, dan Laut, dan Bunoi
5 Riau Kepulauan Melayu, Siak, dan Sakai
6 Jambi Batin, Kerinci, Penghulu, Pedah, Melayu, Jambi, Kubu, dan Bajau
7 Bengkulu Muko-muko, Pekal, Serawai, Pasemah, Enggano, Kaur, Rejang, dan Lembak
8 Sumatera Selatan Melayu, Kikim, Semenda, Komering, Pasemah, Lintang, Pegagah, Rawas, Sekak Rambang, Lembak, Kubu, Ogan, Penesek Gumay, Panukal, Bilida, Musi, Rejang, dan Ranau
9 Lampung Pesisir, Pubian, Sungkai, Semenda, Seputih, Tulang Bawang, Krui Abung, dan Pasemah
10 Bangka Belitung Bangka, Melayu, dan Tionghoa
11 Banten Baduy, Sunda, dan Banten
12 DKI Jakarta Betawi
13 Jawa Barat Sunda
14 Jawa Tengah Jawa, Karimun, dan Samin
15 D.I. Yogyakarta Jawa
16 Jawa Timur Jawa, Madura, Tengger, dan Osing
17 Bali Bali Aga dan Bali Majapahit
18 Nusa Tenggara Barat Bali, Sasak, Samawa, Mata, Dongo, Kore, Mbojo, Dompu, Tarlawi, dan Sumba
19 Nusa Tenggara Timur Sabu, Sumba, Rote, Kedang, Helong, Dawan, Tatum, Melus, Bima, Alor, Lie, Kemak, Lamaholot, Sikka, Manggarai, Krowe, Ende, Bajawa, Nage, Riung, dan Flores
20 Kalimantan Barat Kayau, Ulu Aer, Mbaluh, Manyuke, Skadau, Melayu-Pontianak, Punau, Ngaju, dan Mbaluh
21 Kalimantan Tengah Kapuas, Ot Danum, Ngaju, Lawangan, Dusun, Maanyan, dan Katingan
22 Kalimantan Selatan Ngaju, Laut, Maamyan, Bukit, Dusun, Deyah, Balangan, Aba, Melayu, Banjar, dan Dayak
23 Kalimantan Timur Ngaju, Otdanum, Apokayan,Punan, Murut, Dayak, Kutai, Kayan, Punan, dan Bugis
24 Sulawesi Selatan Mandar, Bugis, Toraja, Sa’dan, Bugis, dan Makassar
25 Sulawesi Tenggara Mapute, Mekongga, Landawe, Tolaiwiw, Tolaki, Kabaina, Butung, Muna, Bungku, Buton, Muna, Wolio, dan Bugis
26 Sulawesi Barat Mandar, Mamuju, Bugis, dan Mamasa
27 Sulawesi Tengah Buol, Toli-toli, Tomini, Dompelas, Kaili, Kulawi, Lore, Pamona, Suluan, Mori, Bungku, Balantak, Banggai, dan Balatar
28 Gorontalo Gorontalo
29 Sulawesi Utara Minahasa, Bolaang Mangondow, Sangiher Talaud, Gorontalo, Sangir, Ternate, Togite, Morotai, Loda, Halmahera, Tidore, dan Obi
30 Maluku Buru, Banda, Seram, Kei, dan Ambon
31 Maluku Utara Halmahera, Obi, Morotai, Ternate, dan Bacan
32 Papua Barat Mey Brat, Arfak, Asmat, Dani, dan Sentani
33 Papua Sentani, Dani, Amungme, Nimboran, Jagai, Asmat, dan Tobati

 

 

Demikianlah. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

 

Kolase 247 suku bangsa di Indonesia

Aceh

Sumatera Utara

Riau dan Sumatera Barat

  • Akit
  • Hutan
  • Kuala
  • Kubu
  • Laut
  • Lingga
  • Riau
  • Sakai
  • Talang Mamak
  • Mentawai
  • Minangkabau

Kepulauan Riau

Sumatera Selatan

  • Ameng Sewang
  • Anak Dalam
  • Bangka
  • Belitung
  • Daya
  • Musi Banyuasin
  • Musi Sekayu
  • Ogan
  • Enim
  • Kayu Agung
  • Kikim
  • Komering
  • Lahat
  • Lematang
  • Lintang
  • Kisam
  • Palembang
  • Pasemah
  • Padamaran
  • Pegagan
  • Rambang Senuling
  • Lom
  • Mapur
  • Meranjat
  • Musi
  • Ranau
  • Rawas
  • Saling
  • Sekak
  • Semendo
  • Pegagan Ilir
  • Pegagan Ulu
  • Penesak
  • Pemulutan

Bengkulu, Jambi, dan Lampung

  • Bengkulu
  • Rejang
  • Enggano
  • Kaur
  • Serawai
  • Lembak
  • Mulo – muko
  • Suban
  • Pekal
  • Anak Dalam
  • Batin
  • Jambi
  • Kerinci
  • Penghulu
  • Pindah
  • Lampung

Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Jawa Timur

Kalimantan Barat

  • Babak
  • Badat
  • Barai
  • Bangau
  • Bukat
  • Entungau
  • Galik
  • Gun
  • Iban
  • Jangkang
  • Kalis
  • Kantuk
  • Kayan
  • Kayanan
  • Kede
  • Kendayan
  • Keramai
  • Klemantan
  • Pontianak
  • Pos
  • Punti
  • Randuk
  • Ribun
  • Sambas
  • Cempedek
  • Dalam
  • Darat
  • Darok
  • Desa
  • Kopak
  • Koyon
  • Lara
  • Senunang
  • Sisang
  • Sintang
  • Suhaid
  • Sungkung
  • Limbai
  • Maloh
  • Mayau
  • Mentebak
  • Menyangka
  • Sanggau
  • Sani
  • Seberuang
  • Sekajang
  • Selayang
  • Selimpat
  • Dusun
  • Embaloh
  • Empayuh
  • Engkarong
  • Ensanang
  • Menyanya
  • Merau
  • Mualang
  • Muara
  • Muduh
  • Muluk
  • Ngabang
  • Ngalampan
  • Ngamukit
  • Nganayat
  • Panu
  • Pengkedang
  • Pompang
  • Senangkan
  • Suruh
  • Tabuas
  • Taman
  • Tingui

Kalimantan Tengah dan Selatan

Kalimantan Timur

  • Auheng
  • Huang Tering
  • Oheng
  • Abai
  • Jalan
  • Touk
  • Baka
  • Kayan
  • Tukung
  • Bakung
  • Kenyah
  • Basap
  • Merap
  • Benuaq
  • Punan
  • Berau
  • Seputan
  • Bem
  • Tahol
  • Pasir
  • Tingalan
  • Tidung
  • Timai
  • Penihing
  • Tunjung
  • Saq
  • Kulit
  • Berusu
  • Kutai
  • Bulungan
  • Long Gelat
  • Busang
  • Long Paka
  • Dayak
  • Modang

Bali dan Nusa Tenggara Barat

  • Bali
  • Loloan
  • Nyama Selam
  • Trunyan
  • Bayan
  • Dompu
  • Donggo
  • Kore
  • Nata
  • Mbojo
  • Sasak
  • Sumbawa

Nusa Tenggara Timur

  • Abui
  • Alor
  • Anas
  • Atanfui
  • Babui
  • Bajawa
  • Bakifan
  • Blagar
  • Boti
  • Dawan
  • Deing
  • Ende
  • Faun
  • Flores
  • Hanifeto
  • Helong
  • Kabola
  • Karera
  • Kawel
  • Kedang
  • Kemak
  • Kemang
  • Kolana
  • Kramang
  • Krowe Muhang
  • Kui
  • Labala
  • Lamaholot
  • Lemma
  • Lio
  • Manggarai
  • Maung
  • Mela
  • Modo
  • Muhang
  • Nagekeo
  • Ngada
  • Noenleni
  • Riung
  • Rongga
  • Rote
  • Sabu
  • Sikka
  • Sumba
  • Tetun
    • Tetun Terik di Kupan
    • Tetun Portugis di perbatasan dengan Timor Leste
  • Timor
  • Marae

Gorontalo==

  • Bantik
  • Bintauna
  • Bolaang Itang
  • Bolaang Mongondaw
  • Bolaang Uki
  • Borgo
  • Gorontalo
  • Kaidipang
  • Minahasa
  • Mongondow
  • Polahi
  • Ponosakan
  • Ratahan
  • Sangir
  • Talaud
  • Tombulu
  • Tonsawang
  • Tonsea
  • Tonteboran
  • Toulour

Sulawesi Tengah

  • Bada
  • Bajau
  • Balaesang
  • Balantak
  • Banggai
  • Bungku
  • Buol
  • Dampelas
  • Dondo
  • Kahumamahon
  • Kailli
  • Muna
  • Tomia
  • Wakotobi
  • Wawonii
  • Kulawi
  • saluan

Sulawesi Selatan, Barat, Dan Tenggara

  • Pattae ( Kab. Polewali Mandar )
  • Abung Bunga Mayang
  • Bentong Duri
  • Luwu
  • Makasar
  • Mandar
  • Majene
  • Massenrempulu
  • Bugis
  • Buton
  • Daya Selayar
  • Kalisusu
  • Toala
  • Toraja
  • Tojo Una-una
  • Towala – wala
  • Duri
  • Wiwirano
  • Tolaki (Kota Kendari, Kab : Konawe, Konewe Selatan dan Utara)
  • Tomboki
  • Moronene (Kab. Bombana)
  • Labeau
  • Wuna (Kab. Muna)
  • Wolio(Kab.Buton/Kota Bau-Bau)
  • Mekongga (Kab. Kolaka/Kolaka Utara)
  • Oro dipedalaman Bone selatan (Bonto Cani)
  • Bajo di pesisir Teluk Bone, Pulau Sembilan Sinjai, Selayar
  • Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko (Kab. Wakatobi)

Kepulauan Maluku

  • Alune
  • Ambon
  • Aru
  • Babar
  • Bacan
  • Banda
  • Bulli
  • Buru
  • Fordata
  • Galela
  • Gane
  • Gebe
  • Halmahera
  • Haruku
  • Jailolo
  • Kei
  • Kisar
  • Laloda
  • Leti
  • Lumoli
  • Maba
  • Makian
  • Mare
  • Memale
  • Moam
  • Modole
  • Morotai
  • Nuaulu
  • Pagu
  • Patani
  • Pelauw
  • Rana
  • Sahu
  • Sawai
  • Seram
  • Taliabo
  • Tanimbar
  • Ternate
  • Tidore
  • Tobaru
  • Tobelo
  • Togutul
  • Wemale
  • Wai Apu
  • Wai Loa
  • Weda

Irian Jaya/Papua

  • Aero
  • Airo Sumaghaghe
  • Airoran
  • Ambai
  • Amberboken
  • Amungme
  • Dera
  • Edopi
  • Eipomek
  • Ekagi
  • Ekari
  • Emumu
  • Eritai
  • Fayu
  • Foua
  • Gebe
  • Gresi
  • Hattam
  • Humboltd
  • Hupla
  • Inanusatan
  • Irarutu
  • Isirawa
  • Iwur
  • Jaban
  • Jair
  • Kabari
  • Kaeti
  • Pisa
  • Sailolof
  • Samarokena
  • Sapran
  • Sawung
  • Wanggom
  • Wano
  • Waris
  • Watopen
  • Arfak
  • Asmat
  • Baudi
  • Berik
  • Bgu
  • Biak
  • Borto
  • Buruai
  • Kais
  • Kalabra
  • Kimberau
  • Komoro
  • Kapauku
  • Kiron
  • Kasuweri
  • Kaygir
  • Kembrano
  • Kemtuk
  • Ketengban
  • Kimaghama
  • Kimyal
  • Kokida
  • Kombai
  • Korowai
  • Kupul
  • Kurudu
  • Kwerba
  • Kwesten
  • Lani
  • Maden
  • Sawuy
  • Sentani
  • Silimo
  • Tabati
  • Tehid
  • Wodani
  • Ayfat
  • Yahrai
  • Yaly
  • Auyu
  • Citak
  • Damal
  • Dem
  • Dani
  • Demisa
  • Demtam
  • Mairasi
  • Mandobo
  • Maniwa
  • Mansim
  • Manyuke
  • Mariud Anim
  • Meiyakh
  • Meybrat
  • Mimika
  • Moire
  • Mombum
  • Moni
  • Mooi
  • Mosena
  • Murop
  • Muyu
  • Nduga
  • Ngalik
  • Ngalum
  • Nimboran
  • Palamui
  • Palata
  • Timorini
  • Uruway
  • Waipam
  • Waipu
  • Wamesa
  • Yapen
  • Yagay
  • Yey
  • Anu
  • Baso

sumber : wikipedia

Suku bangsa di Indonesia

Posted: 27 Agustus 2013 in BUDAYA NUSANTARA

Terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia.[1] atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.[2]

 

Suku Jawa adalah kelompok suku terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 41% dari total populasi. Orang Jawa kebanyakan berkumpul di Pulau Jawa, akan tetapi jutaan jiwa telah bertransmigrasi dan tersebar ke berbagai pulau di Nusantara [3] bahkan bermigrasi ke luar negeri seperti ke Malaysia dan Suriname. Suku Sunda, Suku Melayu, dan Suku Madura adalah kelompok terbesar berikutnya di negara ini.[3] Banyak suku-suku terpencil, terutama di Kalimantan dan Papua, memiliki populasi kecil yang hanya beranggotakan ratusan orang. Sebagian besar bahasa daerah masuk dalam golongan rumpun Bahasa Austronesia, meskipun demikian sejumlah besar suku di Papua tergolong dalam rumpun bahasa Papua atau Melanesia. Berdasarkan data Sensus 2000, suku Tionghoa Indonesia berjumlah sekitar 1% dari total populasi.[3] Warga keturunan Tionghoa Indonesia ini berbicara dalam berbagai dialek bahasa Tionghoa, kebanyakan bahasa Hokkien dan Hakka.

 

Pembagian kelompok suku di Indonesia pun tidak mutlak dan tidak jelas akibat perpindahan penduduk, percampuran budaya, dan saling pengaruh; sebagai contoh sebagian pihak berpendapat orang Banten dan Cirebon adalah suku tersendiri dengan dialek yang khusus pula, sedangkan sementara pihak lainnya berpendapat bahwa mereka hanyalah sub-etnik dari suku Jawa secara keseluruhan. Demikian pula Suku Baduy yang sementara pihak menganggap mereka sebagai bagian dari keseluruhan Suku Sunda. Contoh lain percampuran suku bangsa adalah Suku Betawi yang merupakan suku bangsa hasil percampuran berbagai suku bangsa pendatang baik dari Nusantara maupun orang Tionghoa dan Arab yang datang dan tinggal di Batavia pada era kolonial.

 

Peta suku bangsa pribumi di Indonesia berdasarkan peta di ruang etnografi Museum Nasional Indonesia. Suku bangsa pendatang keturunan asing seperti keturunan Tionghoa, Arab, dan India tidak ditampilkan dalam peta, tetapi kebanyakan tinggal di kawasan perkotaan yang tersebar di Indonesia.

 

Proporsi populasi jumlah suku bangsa di Indonesia menurut sensus 2000 sebagai berikut:

 

Suku Bangsa Populasi (juta) Persentasi Kawasan utama
Suku Jawa 86,012 41,7 Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung
Suku Sunda 31,765 15,4 Jawa Barat
Tionghoa-Indonesia 7,776 3,7 Jabodetabek, Bandung, Kalimantan Barat, Surabaya, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Medan, Bagan Siapi-api, Jambi, Palembang, Makassar, Manado
Suku Melayu 7,013 3,4 Pesisir timur Sumatera, Kalimantan Barat
Suku Madura 6,807 3,3 Pulau Madura
Suku Batak 6,188 3,0 Sumatera Utara
Minangkabau 5,569 2,7 Sumatera Barat, Riau
Suku Betawi 5,157 2,5 Jakarta
Suku Bugis 5,157 2,5 Sulawesi Selatan
Arab-Indonesia[4] 5,000 2,4 Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah
Suku Banten 4,331 2,1 Banten
Suku Banjar 3,506 1,7 Kalimantan Selatan
Suku Bali 3,094 1,5 Pulau Bali
Suku Sasak 2,681 1,3 Pulau Lombok
Suku Makassar 2,063 1,0 Sulawesi Selatan
Suku Cirebon 1,856 0,9 Jawa Barat

 

 

Kelompok kecil

 

Berbagai kawasan di Indonesia memiliki suku asli atau suku pribumi yang menghuni tanah leluhurnya sejak dahulu kala. Akan tetapi karena arus perpindahan penduduk yang didorong budaya merantau, atau program transmigrasi yang digalakkan pemerintah, banyak tempat di Indonesia dihuni oleh suku bangsa pendatang yang tinggal di luar kawasan tradisional sukunya.

 

Beberapa suku bangsa menurut pulau

 

 

 

Kelompok suku bangsa era Kolonial

 

Sejumlah kecil orang India, Arab, dan Tionghoa telah datang dan menghuni beberapa tempat di Nusantara sejak dahulu kala pada zaman kerajaan kuno. Akan tetapi gelombang imigrasi semakin pesat pada masa kolonial. Terbentuklah kelompok suku bangsa pendatang yang terutama tinggal di perkotaan dan terbentuk pada masa kolonial Hindia Belanda, yaitu digolongkan dalam kelompok Timur Asing; seperti keturunan Tionghoa, Arab, dan India; serta golongan Orang Indo atau Eurasia yaitu percampuran Indonesia dan Eropa. Warga keturunan Indo kolonial semakin berkurang di Indonesia akibat Perang Dunia II dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Kebanyakan beremigrasi atau repatriasi ke luar negeri seperti ke Belanda atau negara lain.

 

Lihat pula

 

 

Referensi dan pranala luar

 

  1. ^ Kuoni – Far East, A world of difference. Page 88. Published 1999 by Kuoni Travel & JPM Publications
  2. ^ http://sp2010.bps.go.id/files/ebook/kewarganegaraan%20penduduk%20indonesia/index.html
  3. ^ a b c Indonesia’s Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003.
  4. ^ Dikutip dari pernyataan Menteri Agama Said Agil Al Munawar dalam seminar internasional Warisan Budaya Arab di Indonesia: Percampuran Budaya Indonesia – Hadramaut (Yaman) dari artikel “Hadramaut dan Para Kapiten Arab”, oleh Alwi Shahab, di muat di Republika, edisi Minggu, 21 Desember 2003.

 

Dayak[4][5][6][7][8][9] atau Daya (ejaan lama: Dajak atau Dyak[10][11][12][13]) adalah nama yang oleh penduduk pesisir pulau Borneo diberi kepada penghuni pedalaman[14] yang mendiami Pulau Kalimantan (Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan). Ada 5 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai, Tidung dan Paser[15] Menurut sensus BPS tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Budaya masyarakat Dayak adalah Budaya Maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan “perhuluan” atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.

Ada yang membagi orang Dayak dalam enam rumpun yakni rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan. Namun secara ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan:[16]

  • Barito Raya (33 bahasa, termasuk 11 bahasa dari kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau),
  • Dayak Darat” (13 bahasa)
  • Borneo Utara” (99 bahasa), termasuk bahasa Yakan di Filipina.
  • Sulawesi Selatan” dituturkan 3 suku Dayak di pedalaman Kalbar: Dayak Taman, Dayak Embaloh, Dayak Kalis disebut rumpun Dayak Banuaka.
  • Melayik” dituturkan 3 suku Dayak: Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais yang digolongkan bahasa Melayu), Dayak Iban dan Dayak Kendayan (Kanayatn). Tidak termasuk Banjar, Berau, Kedayan (Brunei), Senganan, Sambas yang dianggap berbudaya Melayu. Sekarang beberapa suku berbudaya Melayu yang sekarang telah bergabung dalam suku Dayak adalah Kutai, Tidung dan Bulungan (keduanya rumpun Borneo Utara) serta Paser (rumpun Barito Raya).

Etimologi

Masyarakat Dayak Barito beragama Islam yang dikenali sebagai suku Bakumpai di sungai Barito tempo dulu.

Istilah “Dayak” paling umum digunakan untuk menyebut orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau itu.[17][18] Ini terutama berlaku di Malaysia, karena di Indonesia ada suku-suku Dayak yang Muslim namun tetap termasuk kategori Dayak walaupun beberapa diantaranya disebut dengan Suku Banjar dan Suku Kutai. Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah ini. Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari kata daya dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman. King, lebih jauh menduga-duga bahwa Dayak mungkin juga berasal dari kata aja, sebuah kata dari bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi. Dia juga yakin bahwa kata itu mungkin berasal dari sebuah istilah dari bahasa Jawa Tengah yang berarti perilaku yang tak sesuai atau yang tak pada tempatnya.[19][20]

Istilah untuk suku penduduk asli dekat Sambas dan Pontianak adalah Daya (Kanayatn: orang daya= orang darat), sedangkan di Banjarmasin disebut Biaju (bi= dari; aju= hulu).[21] Jadi semula istilah orang Daya (orang darat) ditujukan untuk penduduk asli Kalimantan Barat yakni rumpun Bidayuh yang selanjutnya dinamakan Dayak Darat yang dibedakan dengan Dayak Laut (rumpun Iban). Di Banjarmasin, istilah Dayak mulai digunakan dalam perjanjian Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826, untuk menggantikan istilah Biaju Besar (daerah sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah sungai Kapuas Murung) yang masing-masing diganti menjadi Dayak Besar dan Dayak Kecil. Sejak itu istilah Dayak juga ditujukan untuk rumpun Ngaju-Ot Danum atau rumpun Barito. Selanjutnya istilah “Dayak” dipakai meluas yang secara kolektif merujuk kepada suku-suku penduduk asli setempat yang berbeda-beda bahasanya[22], khususnya non-Muslim atau non-Melayu.[23] Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi) istilah Dayak dipakai dalam konteks kependudukan penguasa kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan.[24] Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Dr. August Kaderland, seorang ilmuwan Belanda, adalah orang yang pertama kali mempergunakan istilah Dayak dalam pengertian di atas pada tahun 1895.

Arti dari kata ‘Dayak’ itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Commans (1987), misalnya, menulis bahwa menurut sebagian pengarang, ‘Dayak’ berarti manusia, sementara pengarang lainnya menyatakan bahwa kata itu berarti pedalaman. Commans mengatakan bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai.[25] Dengan nama serupa, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang Iban menggunakan istilah Dayak dengan arti manusia, sementara orang-orang Tunjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai. Mereka juga menyatakan bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah Dayak menunjuk pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yaitu kuat, gagah, berani dan ulet.[26] Lahajir et al. mencatat bahwa setidaknya ada empat istilah untuk penuduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu Daya’, Dyak, Daya, dan Dayak. Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka sebagai ‘Dayak’.[27]

Asal mula

Secara umum kebanyakan penduduk kepulauan Nusantara adalah penutur bahasa Austronesia. Saat ini teori dominan adalah yang dikemukakan linguis seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu bahwa tempat asal bahasa Austronesia adalah Taiwan. Sekitar 4 000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia mulai bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, ada kelompok yang mulai bermigrasi ke selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang, dan ke timur menuju Pasifik.

Namun orang Austronesia ini bukan penghuni pertama pulau Borneo. Antara 60 000 dan 70 000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut daratan ini “Sunda”), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan dan sempat mencapai benua Australia yang saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia.

Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan.[28] Tetek Tahtum menceritakan perpindahan suku Dayak dari daerah hulu menuju daerah hilir sungai.

Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa[29][30], yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 13091389.[31] Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520).

Sebagian besar suku Dayak di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam keluar dari suku Dayak dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai atau orang Banjar dan Suku Kutai. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Amas dan Watang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang pimpinan Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat menurut orang Dayak adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum).[32] Di Kalimantan Timur, orang Suku Tonyoy-Benuaq yang memeluk Agama Islam menyebut dirinya sebagai Suku Kutai.[rujukan?] Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa tercatat mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming yang tercatat dalam Buku 323 Sejarah Dinasti Ming (1368-1643). Dari manuskrip berhuruf hanzi disebutkan bahwa kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin dan disebutkan bahwa seorang Pangeran yang berdarah Biaju menjadi pengganti Sultan Hidayatullah I . Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah I dan penggantinya yaitu Sultan Mustain Billah. Hikayat Banjar memberitakan kunjungan tetapi tidak menetap oleh pedagang jung bangsa Tionghoa dan Eropa (disebut Walanda) di Kalimantan Selatan telah terjadi pada masa Kerajaan Banjar Hindu (abad XIV). Pedagang Tionghoa mulai menetap di kota Banjarmasin pada suatu tempat dekat pantai pada tahun 1736.[33]

Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Kaisar Yongle mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci.[34]

Pembagian sub-sub etnis

Persebaran suku-suku Dayak di Pulau Kalimantan.

Dikarenakan arus migrasi yang kuat dari para pendatang, Suku Dayak yang masih mempertahankan adat budayanya akhirnya memilih masuk ke pedalaman. Akibatnya, Suku Dayak menjadi terpencar-pencar dan menjadi sub-sub etnis tersendiri.

Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka.

Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan.[35]

Dayak pada masa kini

Tradisi suku Dayak Kanayatn.

Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni: Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Rumpun Dayak Punan merupakan suku Dayak yang paling tua mendiami pulau Kalimantan, sementara rumpun Dayak yang lain merupakan rumpun hasil asimilasi antara Dayak punan dan kelompok Proto Melayu (moyang Dayak yang berasal dari Yunnan). Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub-etnis. Meskipun terbagi dalam ratusan sub-etnis, semua etnis Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak atau tidak. Ciri-ciri tersebut adalah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kampak Dayak), pandangan terhadap alam, mata pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari. Perkampungan Dayak rumpun Ot Danum-Ngaju biasanya disebut lewu/lebu dan pada Dayak lain sering disebut banua/benua/binua/benuo. Di kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah adat Dayak dipimpin seorang Kepala Adat yang memimpin satu atau dua suku Dayak yang berbeda.

Prof. Lambut dari Universitas Lambung Mangkurat, (orang Dayak Ngaju) menolak anggapan Dayak berasal dari satu suku asal, tetapi hanya sebutan kolektif dari berbagai unsur etnik, menurutnya secara “rasial“, manusia Dayak dapat dikelompokkan menjadi :

Namun di dunia ilmiah internasional, istilah seperti “ras Australoid“, “ras Mongoloid dan pada umumnya “ras” tidak lagi dianggap berarti untuk membuat klasifikasi manusia karena kompleksnya faktor yang membuat adanya kelompok manusia.

Tradisi Penguburan

Peti kubur di Kutai. Foto tersebut merupakan foto kuburan Dayak Benuaq di Kutai. Peti yang dimaksud adalah Selokng (ditempatkan di Garai). Ini merupakan penguburan primer – tempat mayat melalui Upacara/Ritual Kenyauw. Sementara di sebelahnya (terlihat sepotong) merupakan Tempelaq yang merupakan tempat tulang si meninggal melalui Upacara/Ritual Kwangkay.

Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan :

  • penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat.
  • penguburan di dalam peti batu (dolmen)
  • penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.

Menurut tradisi Dayak Benuaq baik tempat maupun bentuk penguburan dibedakan :

  1. wadah (peti) mayat–> bukan peti mati : lungun[36], selokng dan kotak
  2. wadah tulang-beluang : tempelaaq[37] (bertiang 2) dan kererekng (bertiang 1) serta guci.

berdasarkan tempat peletakan wadah (kuburan)[38][39] Suku Dayak Benuaq :

  1. lubekng (tempat lungun)
  2. garai (tempat lungun, selokng)
  3. gur (lungun)
  4. tempelaaq dan kererekng

Pada umumnya terdapat dua tahapan penguburan:

  1. penguburan tahap pertama (primer)
  2. penguburan tahap kedua (sekunder).

Penguburan primer

  1. Parepm Api (Dayak Benuaq)
  2. Kenyauw (Dayak Benuaq)

Penguburan sekunder

Penguburan sekunder tidak lagi dilakukan di gua. Di hulu Sungai Bahau dan cabang-cabangnya di Kecamatan Pujungan, Malinau, Kalimantan Timur, banyak dijumpai kuburan tempayan-dolmen yang merupakan peninggalan megalitik. Perkembangan terakhir, penguburan dengan menggunakan peti mati (lungun) yang ditempatkan di atas tiang atau dalam bangunan kecil dengan posisi ke arah matahari terbit.

Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni :

  • dikubur dalam tanah
  • diletakkan di pohon besar
  • dikremasi dalam upacara tiwah.

Prosesi penguburan sekunder

  1. Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah.
  2. Ijambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.
  3. Marabia
  4. Mambatur (Dayak Maanyan)
  5. Kwangkai[40][41][42][43]/Wara (Dayak Benuaq)

Agama

Masyarakat rumpun Dayak Ngaju dan rumpun Dayak Ot Danum menganut agama leluhur yang diberi nama oleh Tjilik Riwut sebagai agama Kaharingan yang memiliki ciri khas adanya pembakaran tulang dalam ritual penguburan. Sedangkan agama asli rumpun Dayak Banuaka tidak mengenal adanya pembakaran tulang jenazah. Bahkan agama leluhur masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan lebih menekankan ritual dalam kehidupan terutama upacara/ritual pertanian maupun pesta panen yang sering dinamakan sebagai agama Balian. Agama-agama asli suku-suku Dayak sekarang ini kian lama kian ditinggalkan. Sejak abad pertama Masehi, agama Hindu mulai memasuki Kalimantan dengan ditemukannya Candi Agung sebuah peninggalan agama Hindu di Amuntai, Kalimantan Selatan, selanjutnya berdirilah kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Semenjak abad ke-4 masyarakat Kalimantan memasuki era sejarah yang ditandai dengan ditemukannya prasasti peninggalan dari Kerajaan Kutai yang beragama Hindu di Kalimantan Timur.[44] Penemuan arca-arca Buddha yang merupakan peninggalan Kerajaan Brunei kuno, Kerajaan Sribangun (di Kota Bangun, Kutai Kartanegara)[45] dan Kerajaan Wijayapura. Hal ini menunjukkan munculnya pengaruh hukum agama Hindu-Buddha dan asimilasi dengan budaya India yang menandai kemunculan masyarakat multietnis yang pertama kali di Kalimantan. Penemuan Batu Nisan Sandai menunjukan penyebaran agama Islam di Kalimantan sejak abad ke-7 mencapai puncaknya di awal abad ke-16, masyarakat kerajaan-kerajaan Hindu menjadi pemeluk-pemeluk Islam yang menandai kepunahan agama Hindu dan Buddha di Kalimantan. Sejak itu mulai muncul hukum adat Melayu/Banjar yang dipengaruhi oleh sebagian hukum agama Islam (seperti budaya makanan, budaya berpakaian, budaya bersuci), namun umumnya masyarakat Dayak di pedalaman tetap memegang teguh pada hukum adat/kepercayaan Kaharingan. Sebagian besar masyarakat Dayak yang sebelumnya beragama Kaharingan kini memilih Kekristenan, namun kurang dari 10% yang masih mempertahankan agama Kaharingan. Agama Kaharingan sendiri telah digabungkan ke dalam kelompok agama Hindu (baca: Hindu Bali) sehingga mendapat sebutan agama Hindu Kaharingan. Namun ada pula sebagian kecil masyarakat Dayak kini mengkonversi agamanya dari agama Kaharingan menjadi agama Buddha (Buddha versi Tionghoa), yang pada mulanya muncul karena adanya perkawinan antarsuku dengan etnis Tionghoa yang beragama Buddha, kemudian semakin meluas disebarkan oleh para Biksu di kalangan masyarakat Dayak misalnya terdapat pada masyarakat Dayak yang tinggal di kecamatan Halong di Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Barat, agama Kristen diklaim sebagai agama orang Dayak (sehingga Dayak Muslim Kalbar terpaksa membentuk Dewan Adat Dayak Muslim tersendiri), tetapi hal ini tidak berlaku di propinsi lainnya sebab orang Dayak juga banyak yang memeluk agama-agama selain Kristen misalnya ada orang Dayak yang sebelumnya beragama Kaharingan kemudian masuk Islam namun tetap menyebut dirinya sebagai suku Dayak. Agama sejati orang Dayak adalah Kaharingan. Di wilayah perkampungan-perkampungan Dayak yang masih beragama Kaharingan berlaku hukum adat Dayak, namun tidak semua daerah di Kalimantan tunduk kepada hukum adat Dayak, kebanyakan kota-kota di pesisir Kalimantan dan pusat-pusat kerajaan Islam, masyarakatnya tunduk kepada hukum adat Melayu/Banjar seperti suku-suku Melayu-Senganan, Kedayan, Banjar, Bakumpai, Kutai, Paser, Berau, Tidung, dan Bulungan. Bahkan di wilayah perkampungan-perkampungan Dayak yang telah sangat lama berada dalam pengaruh agama Kristen yang kuat kemungkinan tidak berlaku hukum adat Dayak/Kaharingan. Di masa kolonial, orang-orang bumiputera Kristen dan orang Dayak Kristen di perkotaan disamakan kedudukannya dengan orang Eropa dan tunduk kepada hukum golongan Eropa. Belakangan penyebaran agama Nasrani mampu menjangkau daerah-daerah Dayak terletak sangat jauh di pedalaman sehingga agama Nasrani dianut oleh hampir semua penduduk pedalaman dan diklaim sebagai agama orang Dayak.

Jika kita melihat sejarah pulau Borneo dari awal. Orang-orang dari Sriwijaya, orang Melayu yang mula-mula migrasi ke Kalimantan. Etnis Tionghoa Hui Muslim Hanafi menetap di Sambas sejak tahun 1407, karena pada masa Dinasti Ming, bandar Sambas menjadi pelabuhan transit pada jalur perjalanan dari Champa ke Maynila, Kiu kieng (Palembang) maupun ke Majapahit.[46] Banyak penjabat Dinasti Ming adalah orang Hui Muslim yang memiliki pengetahuan bahasa-bahasa asing misalnya bahasa Arab.[47] Laporan pedagang-pedagang Tionghoa pada masa Dinasti Ming yang mengunjungi Banjarmasin pada awal abad ke-16 mereka sangat khawatir mengenai aksi pemotongan kepala yang dilakukan orang-orang Biaju di saat para pedagang sedang tertidur di atas kapal. Agamawan Nasrani dan penjelajah Eropa yang tidak menetap telah datang di Kalimantan pada abad ke-14 dan semakin menonjol di awal abad ke-17 dengan kedatangan para pedagang Eropa. Upaya-upaya penyebaran agama Nasrani selalu mengalami kegagalan, karena pada dasarnya pada masa itu masyarakat Dayak memegang teguh kepercayaan leluhur (Kaharingan) dan curiga kepada orang asing, seringkali orang-orang asing terbunuh. Penduduk pesisir juga sangat sensitif terhadap orang asing karena takut terhadap serangan bajak laut dan kerajaan asing dari luar pulau yang hendak menjajah mereka. Penghancuran keraton Banjar di Kuin tahun 1612 oleh VOC Belanda dan serangan Mataram atas Sukadana tahun 1622 dan potensi serangan Makassar sangat mempengaruhi kerajaan-kerajaan di Kalimantan. Sekitar tahun 1787, Belanda memperoleh sebagian besar Kalimantan dari Kesultanan Banjar dan Banten. Sekitar tahun 1835 barulah misionaris Kristen mulai beraktifitas secara leluasa di wilayah-wilayah pemerintahan Hindia Belanda yang berdekatan dengan negara Kesultanan Banjar. Pada tanggal 26 Juni 1835, Barnstein, penginjil pertama Kalimantan tiba di Banjarmasin dan mulai menyebarkan agama Kristen. Pemerintah lokal Hindia Belanda malahan merintangi upaya-upaya misionaris.[48][49][50][51][52]

Konflik

Keterlibatan

Dayak (istilah kolektif untuk masyarakat asli Kalimantan) telah mengalami peningkatan dalam konflik antar etnis. Di awal 1997 dan kemudian pada tahun 1999, bentrokan-bentrokan brutal terjadi antara orang-orang Dayak dan Madura di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Puncak dari konflik ini terjadi di Sampit pada tahun 2001. Konflik-konflik ini pun kemudian menjadi topik pembicaraan di koran-koran di Indonesia. Sepanjang konflik tahun 1997, sejumlah besar penduduk (baik Dayak maupun Madura) tewas. Muncul berbagai perkiraan resmi tentang jumlah korban tewas, mulai dari 300 hingga 4.000 orang menurut sumber-sumber independen.[53] Pada tahun 1999, orang-orang Dayak, bersama dengan kelompok-kelompok Melayu dan Cina memerangi para pendatang Madura; 114 orang tewas.[54] Menurut seorang tokoh masyarakat Dayak, konflik yang terjadi belakangan itu pada awalnya bukan antara orang-orang Dayak dan Madura, melainkan antara orang-orang Melayu dan Madura.[55] Kendati terdapat fakta bahwa hanya ada beberapa orang Dayak saja yang terlibat, tetapi media massa membesar-besarkan keterlibatan Dayak. Sebagian karena orang-orang Melayu yang terlibat menggunakan simbol-simbol budaya Dayak saat kerusuhan terjadi.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175. Diakses 27 Agustus 2012.
  2. ^ Taburan Penduduk dan Ciri-ciri Asas Demografi. Jabatan Perangkaan Malaysia. 2011. ISBN 9789839044548 Check |isbn= value (help). Diakses 27 Agustus 2012.
  3. ^ http://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/bx.html
  4. ^ Ethnicity and territory in the late colonial imagination
  5. ^ (Inggris) Sellato, Bernard (2002). Innermost Bornéo: studies in Dayak cultures. NUS Press. hlm. 19. ISBN 2914936028.ISBN 978-2-914936-02-6
  6. ^ (Inggris)Davis, Joseph Barnard (1867). Thesaurus craniorum: Catalogue of the skulls of the various races of man, in the collection of Joseph Barnard Davis. Printed for the subscribers.
  7. ^ (Inggris)Malayan miscellanies (1820). Malayan miscellanies. Malayan miscellanies.
  8. ^ (Inggris)MacKinnon, Kathy (1996). The ecology of Kalimantan. Oxford University Press. ISBN 9780945971733.ISBN 0-945971-73-7
  9. ^ (Inggris)East India Company (1821). The Asiatic journal and monthly miscellany 12. Wm. H. Allen & Co.
  10. ^ (Inggris) University of Calcutta (1869). Calcutta review. 48-49. University of Calcutta. hlm. 171.
  11. ^ (Inggris) (1865)The London review of politics, society, literature, art, & science 11. J.K. Sharpe. hlm. 121.
  12. ^ (Inggris) Wood, John George (1870). Uncivilized races of men in all countries of the world: being a comprehensive account of their manners and customs, and of their physical, social, mental, moral and religious characteristics 2. J. B. Burr & co. hlm. 1110.
  13. ^ (Inggris) (1841)The London Saturday journal. hlm. 80.
  14. ^ ? Kata “daya” serumpun dengan misalnya kata “raya” dalam nama “Toraya” yang berarti “orang (di) atas, orang hulu”. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di Gua Niah (Sarawak) dan Gua Babi (Kalimantan Selatan), penghuni pertama Kalimantan memiliki ciri-ciri Austro-Melanesia, dengan proporsi tulang kerangka yang lebih besar dibandingkan dengan penghuni Kalimantan masa kini
  15. ^ (Indonesia) Haris, Syamsuddin (2004). Desentralisasi dan otonomi daerah: Naskah akademik dan RUU usulan LIPI. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 188. ISBN 979-98014-1-9.ISBN 978-979-98014-1-8
  16. ^ Indonesia, Kalimantan
  17. ^ King, 1993:29
  18. ^ (Inggris) Leeming, David Adams (2010). Creation myths of the world: an encyclopedia 1 (ed. 2). ABC-CLIO. hlm. 99. ISBN 1598841742.ISBN 978-1-59884-174-9
  19. ^ King, 1993:30
  20. ^ (Indonesia) Maunati, Yekti. Identitas Dayak. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 8. ISBN 979949298X.ISBN 978-979-9492-98-2
  21. ^ (Inggris) Tegg, Thomas (1829). London encyclopaedia; or, Universal dictionary of science, art, literature and practical mechanics: comprising a popular view of the present state of knowledge 4. Printed for Thomas Tegg. hlm. 338.
  22. ^ (Inggris) (1838)Foreign missionary chronicle. s.n. hlm. 261.
  23. ^ King, 1993.
  24. ^ Rousseau, 1990
  25. ^ Commans, 1987: 6
  26. ^ Lahajir et al., 1993:4
  27. ^ Lahajir et al., 1993:3
  28. ^ Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977-1978
  29. ^ Templat:Mhy icon NANSARUNAI USAK JAWA
  30. ^ (Indonesia) Usak Jawa
  31. ^ Fridolin Ukur, 1971
  32. ^ (Indonesia) Susanto, A. Budi (2007). Masihkah Indonesia. Kanisius. hlm. 216. ISBN 9792116575.ISBN 978-979-21-1657-1
  33. ^ http://eprints.lib.ui.ac.id/12976/1/82338-T6811-Politik%20dan-TOC.pdf
  34. ^ Sarwoto Kertodipoero, 1963
  35. ^ Hukum Adat dan Istiadat Kalimantan Barat, J.U. Lontaan. 1975
  36. ^ http://perpustakaan.kaltimprov.go.id/deposit-13-lungun-dan-upacara-adat-kematian-suku-dayak-benuaq.html
  37. ^ http://berita.liputan6.com/read/42277/tempelaaq_tempat_tulang_belulang_leluhur_suku_dayak
  38. ^ http://reverendum.blogspot.com/2011/06/6-kuburan-paling-aneh-di-indonesia.html
  39. ^ http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1985/06/15/KRI/mbm.19850615.KRI39073.id.html
  40. ^ Lathief. H., Upacara adat kwangkay Dayak Benuaq Ohong di Mancong. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996 – Social Science – 220 pages
  41. ^ http://catalogue.nla.gov.au/Record/1156006
  42. ^ http://www.youtube.com/watch?v=kThegt6b3CE
  43. ^ http://budimasnet.blogspot.com/2011/03/adat-kematian.html
  44. ^ Kawi and Pallawa inscriptions, 4th-12th centuries
  45. ^ Kerajaan Sri Bangun Kerajaan Bercorak Budha
  46. ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 61. ISBN 9798451163.ISBN 978-979-8451-16-4
  47. ^ (Indonesia) Kong, Yuanzhi (2000). In Hembing Wijayakusuma. Muslim Tionghoa Cheng Ho: misteri perjalanan muhibah di Nusantara. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 54. ISBN 9794613614.ISBN 978-979-461-361-0
  48. ^ (Indonesia) Ukur, Fridolin (2000). Tuaiannya sungguh banyak: sejarah Gereja Kalimantan Evanggelis sejak tahun 1835. BPK Gunung Mulia. hlm. 42. ISBN 9789799290588. ISBN 979-9290-58-9
  49. ^ (Inggris) Evangelical (1836). Evangelical magazine and missionary chronicle, 14. s.n. hlm. 578.
  50. ^ (Indonesia) End, Th. van den (1987). Ragi Carita 1, Jilid 1 dari Ragi carita: sejarah gereja di Indonesia. BPK Gunung Mulia. ISBN 979-415-188-2.ISBN 978-979-415-188-4
  51. ^ (Inggris) (1837)Foreign missionary chronicle 5. Board of Foreign Missions and of the Board of Missions of the Presbyterian Church. hlm. 87.
  52. ^ (Belanda) Steenbrink, Karel A. (2003). Catholics in Indonesia, 1808-1942: A modest recovery 1808-1903. KITLV Press. hlm. 149. ISBN 9067181412.ISBN 978-90-6718-141-9
  53. ^ MacDougall, 1999
  54. ^ Mac Dougall, 1999
  55. ^ lihat, misalnya Manuntung, 22 Maret 1999

http://jadiberita.com/2011/02/04/ternyata-suku-dayak-bukan-cuma-satu-jenis/

Referensi

  • Cfr. Tom Harrisson, “The Prehistory of Borneo”, dalam Pieter van de Velde (ed.), Prehistoric Indonesia a Reader (Dordrecht-Holland: Foris Publications, 1984), hlm. 299-322
  • Bellwood, Peter, “The Prehistory of Borneo”, Borneo Research Bulletin, 24/9 (1992), hlm. 7-13
  • Kathy MacKinnon, The Ecology of Indonesian Series Volume III: The Ecology of Kalimantan, (Singapore: Periplus Editions Ltd., 1996), hlm. 255-363
  • bdk. P.J. Veth, “The Origin of the Name Dayak”, dalam Borneo Research Bulletin, 15/2 (September 1983), hlm. 118-121
  • Fridolin Ukur, “Kebudayaan Dayak”, dalam Kalimantan Review, 22/I (Juli-Desember 1992), hlm. 3-10
  • Keragaman Suku Dayak di Kalimantan, Institut Dayakologi, Pontianak
  • Edi Petebang, Dayak Sakti, Institut Dayakologi
  • Edi Petebang, Eri Sutrisno, Konflik Etnis di Sambas, ISAI, Jakarta

sumber utama : Wikipedia indonesia