Gambar  —  Posted: 17 Februari 2016 in GALLERY, Tempo doeloe

Raden Ayu Lasminingrat

Posted: 17 Februari 2016 in KRONIK BUDAYA, Tempo doeloe

Raden Ayu Lasminingrat adalah putri sulung pasangan Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria, seorang penghulu sekaligus sastrawan sunda. [12] Ketika zaman kolonialisme pendidikan untuk bumiputera-bumiputeri dengan poltik etis belumlah menjadi hak asasi warga Nusantara, terutama kaum perempuan, dan atas kesadaran pentingnya pendidikan maka Raden Haji Muhamad Musa mendirikan sekolah Eropa (Bijzondere Europeesche School) dengan menggaji dua orang guru Eropa.

Di sekolah ini orang Eropa (Belanda) dapat bersekolah bersama-sama dengan anak-anak pribumi, juga anak laki-laki bercampur dengan anak-anak perempuan. [13]Ada pula yang menyebutkan Kontrolir Levisan atau Levyson Norman, seorang ekretaris Jendral Pemerintah Hindia Belanda kenalan baik sang ayah yang mengasuh Lasminingrat hingga mahir dalam menulis dan berbahasa Belanda.[14]

Materi pembelajaran berupa membaca, menulis, Bahasa Belanda, dan umumnya mengenai kebudayaan barat. Dari pengalaman didikan langsung tersebut, Lasminingrat mempunyai angan jauh ke depan serta bercita-cita, –sama halnya dengan Dewi Sartika atau Kartini di kemudian hari, untuk memajukan peranan dan kesetaraan derajat perempuan Nusantara.

Alhasil, kemampuan Raden Ayu Lasminingrat dalam berbahasa Belanda sangat fasih, bahkan Karel Frederick Holle, seorang administrator di Perkebunan Teh Waspada, Cikajang, memujinya. Pujian itu dinyatakan dalam surat Holle kepada P. J. Veth, antara lain menyebutkan Bahwa: “Anak perempuan penghulu yang menikah dengan Bupati Garut, menyadur dengan tepat cerita-cerita dongeng karangan Grimm, cerita-cerita dari negeri dongeng (Oleg Goeverneur), dan cerita-cerita lainnya ke dalam bahasa Sunda.” [15] [note 2]

Tahun 1879, Lasminingrat mendidik anak-anak melalui buku bacaan berbahasa sunda, pendidikan moral, agama, ilmu alam, psikologi dan sosiologi. Dia sisipkan dalam cerita yang disadur dari bahasa asing yang disesuaikan dengan kultur sunda dan bahasa yg mudah dimengerti. [note 3]

Langkah ri’ilnya, pada 1907 Lasminingrat mendirikan Sakola Kautamaan Istri di lingkungan Ruang Gamelan, Pendopo Garut sekitar tahun 1907. Awalnya dibuka terbatas untuk lingkungan para priyayi atau bangsawan lokal saja dengan materi pelajaran berupa baca, tulis, dan pemberdayaan perempuan. Selain itu, Lasminingrat rajin membuat tulisan. Di antarakaryanya yang terkenal adalah Warnasari (jilid 1 & 2).

Lasminingrat menikah dengan Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII, yang merupakan Bupati Garut. Lasminingrat menghentikan aktivitas kepengarangannya. Ia lalu berkonsentrasi di bidang pendidikan bagi kaum perempuan Sunda. Selanjutnya tahun 1911 sekolah tersebut pindah ke Jalan Ranggalawe. Tidak disangka, pada 1911 sekolahnya berkembang. Jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913. Pada 1934, cabang-cabang Keutamaan Istri dibangun di kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang.[16] Tahun 1912, Lasminingrat mendirikan kembali Sakola Istri untuk kaum perempuan dimana letak dan bangunannya sekarang dipakai SMA Negeri 1 Garut, sebelah timur alun-alun.

Pihak pemerintah kolonial menganggap jasa dan peranan Lasminingrat besar dalam membangun pendidikan untuk kaum bumiputera-bumiputeri oleh karenanya ia diberi penghargaan dan kompensasi tetap bulanan selama mengajar. seiring dengan pergantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut Tahun 1913. Dua tahun setelah pergantian nama, R. A. A. Wiaratanudatar VIII pensiun, setelah menjadi bupati sejak tahun 1871. Jabatan Bupati Garut kemudian dipangku oleh R. A. A. Suria Kartalegawa, yang masih terhitung keponakannya.

Akhirnya Raden Ayu Lasmingrat pindah dari pendopo ke sebuah rumah di Regensweg (sekarang Jalan Siliwangi). Rumah yang besar ini sekarang menjadi Yogya Department Store. Hingga usia 80 tahun ia masih aktif, meskipun tidak langsung dalam dunia pendidikan. Pada masa pendudukan Jepang, Sakola Kautamaan Istri itu diganti namanya menjadi Sekolah Rakyat (SR) dan mulai menerima laki-laki. Sejak tahun 1950, SR tersebut berubah menjadi SDN Ranggalawe I dan IV yang dikelola Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Daerah Tingkat II Garut. Tahun 1990-an hingga kini berubah lagi menjadi SDN Regol VII dan X.

Lasminingrat meninggal 10 April 1947 dalam usia 105 tahun, dikebumikan tepat di belakang Mesjid Agung Garut. Cita-cita dan perjuangannya mewujudkan pendidikan untuk kaum perempuan diteruskan oleh kerabatnya, Purnamaningrat.

 Karya tulis :

  • Carita Erman (1875), Judul Tjarita Erman merupakan terjemahan dari Christoph von Schmid. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar. Pada tahun 1911 dicetak ulang dalam aksara Jawa, dan pada tahun 1922 dalam aksara Latin. Selanjutnya tahun 1919 diterjemahkan ke dalam bahasa melayu oleh M.S Cakrabangsa.
  • Warnasari jilid 1 (1876). Judul Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng Jilid I.Buku ini ditulis dalam aksara Jawa, merupakan hasil terjemahan dari tulisan Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur, yaitu Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (1872) dan beberapa cerita Eropa lainnya.
  • Warnasari jilid 2 (1887).

 Sumber :

  • Moriyama, Mikihiro (2005). Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia & The Resona Foundation for Asia and Oceania. ISBN 979-9100-23-2.
  • Lubis, Nina H. Kajian tentang perjuangan Raden Ayu Lasminingrat : Dalam rangka pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional. Pusat Penelitian Kemasyarakatan & Kebudayaan – Lembaga Penelitian Universitas Pajajaran.
  • Effendie Tp.M.Hs, Deddy. Raden Ajoe Lasminingrat (1843-1948) – Perempuan Intelektual Pertama di Indonesia. CV Studio Proklamasi.
  • Terrarum, O. (2006). West Meets East: Images of China and Japan, 1570 to 1920, Special Collections, De Beer Gallery, Central Library of the University of Otago, 10 February to 26 May 2006. New Zealand Journal of Asian Studies, 8, 122-179.

 

Jepang merupakan salah satu negara maju di Asia maupun di dunia. Sebagai negara maju, Jepang memiliki sistem pendidikan yang sangat baik. Sistem pendidikan yang mereka jalankan penuh dengan persaingan. Sistem pendidikan dimulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dan setiap siswa diharapkan untuk memiliki jiwa dan kemampuan intelektual yang tahan terhadap persaingan.

Untuk dapat menghadapi persaingan ini, para ibu di Jepang berusaha untuk mempersiapkan putra-putrinya dengan cara memberikan pelajaran tambahan, baik yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah maupun berupa ketrampilan, seperti olah raga atau musik. Harapan para ibu, bahwa nantinya anaknya dapat lulus dalam persaingan, merupakan suatu hal yang baik, terutama bila putra-putri mereka dapat memenuhi harapan orangtua mereka. Namun, tidak semua anak dapat memenuhi harapan kedua orang tuanya. Sehingga harapan ini, menjadi suatu tekanan yang cukup berat dalam menghadapi persaingan di dunia pendidikan, hal inilah yang dapat menimbulkan berbagai macam penyimpangan sosial di Jepang seperti ijime / (penyiksaan terhadap kaum lemah), tookoo kyohi/ (kebiasaan menolak untuk sekolah), hikikomori/ (menutup diri dari lingkungan sekitar), taijin kyofusho/ (ketakutan berhadapan dengan orang lain), otakuzoku/ (terobsesi terhadap anime dan manga) dan sebagainya sering dihadapi oleh siswa sekolah, mulai dari kadar yang ringan sampai yang berat.

Selain pendidikan, Jepang juga memiliki sistem perekonomian yang baik. Hal ini dapat kita lihat dari tidak adanya kesenjangan sosial yang terlalu mencolok di dalam masyarakatnya. Jepang adalah negara maju dan kaya dimana hanya ada dua kelas ekonomi, kelas atas dan kelas menengah, tidak terdapat kelas bawah di dalam masyarakatnya. Dan suatu hal yang tidak dapat disangkal bahwa Jepang merupakan surga bagi pencari kerja karena memang perekonomian mereka telah mengalami
kemajuan yang luar biasa berkat ekspansi industri global perusahaan-perusahaan Jepang, dan hal inilah yang mendatangkan kemakmuran yang luar biasa bagi para buruh dan penduduk di Jepang.

Masyarakat Jepang terkenal dengan orang-orangnya yang pekerja keras. Banyak dari mereka yang lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga mereka sendiri. Di siaran televisi, koran ataupun majalah Jepang sering diberitakan orang meninggal karena kelelahan dalam bekerja. Dan hal ini bukan merupakan hal yang mengejutkan, hal ini dianggap suatu hal yang biasa di Jepang. Tetapi orang muda sekarang, memiliki sifat yang bertolak belakang. Osamu Nakano (2001 : indomedia.com), mengatakan “Orang muda lebih suka bersenang-senang daripada bersakit-sakit, rekreasi daripada kerja keras, konsumtif daripada produktif, dan apresiatif daripada kreatif”. Karena bagi kebanyakan orang muda Jepang, masa kerja keras, bersakit-sakit, produktif, dan kreatif tampaknya sudah lewat. Mereka yang dikenal dengan sebutan next generation atau Gen-X itu barangkali menganggap sudah selayaknya mereka menikmati kemakmuran negara.

Sebagian besar orang tua yang semasa muda belajar dan bekerja keras berpikir, tidak ada salahnya anak-anak menikmati jerih payah orang tuanya (2001:indomedia.com). Pemikiran seperti ini mengandung banyak risiko, banyak generasi muda zaman sekarang yang berpikir, karena telah terbiasa hidup enak jadi tidak mempunyai keberanian dan keinginan untuk hidup mandiri. Masahiro Yamada (2001 : indomedia.com), 10 juta warga Jepang berusia 20 – 34 tahun masih hidup nebeng orang tuanya. Terungkap pula, 80% wanita muda dan 60% pria muda memilih hidup lajang.

Salah satu kelebihan Jepang lainnya adalah budaya disiplin yang terus diterapkan sampai sekarang. Dan dunia luar juga sudah mengenal Jepang dengan gaya hidup seperti itu. Oleh karena itu banyak negara-negara di dunia yang meniru sifat disiplin dari masyarakat Jepang. Karena kedisiplinan merupakan salah satu faktor penting yang mendukung
kemajuan masyarakat Jepang. Jika sikap kedisiplinan ini hilang dari kaum muda Jepang, maka hal ini akan memberikan dampak buruk bagi kemajuan bangsa Jepang itu sendiri. Hilangnya sikap kedisiplinan pada kaum muda Jepang merupakan salah satu gejala awal dari Hikikomori.

Hikikomori merupakan suatu penyimpangan sosial yang terjadi pada kaum muda perkotaan di Jepang yang saat ini menjadi suatu fenomena di Jepang. Menurut Janti dalam Manabu (2006:189), secara singkat Hikikomori dapat didefinisiskan sebagai seseorang yang menutup diri dan mengurung diri dari lingkungan sekitarnya. Hikikomori merupakan suatu masalah sosial yang besar terutama bagi bangsa Jepang karena bila kita melihat jumlah penduduk Jepang, sebagian besar terdiri atas kaum lanjut usia, sehingga Jepang disebut juga sebagai koreika shakai atau masyarakat yang didominasi oleh kaum lanjut usia. Sementara itu, bila dilihat dari jumlah kelahiran, Jepang juga menghadapi penurunan jumlah kelahiran. Karena banyak kaum muda di Jepang yang enggan melakukan ikatan pernikahan. Kalaupun mereka mau menikah, banyak dari mereka yang tidak ingin mempunyai anak. Sehingga pertumbuhan penduduk di Jepang sering digambarkan seperti pyramid terbalik, dimana kaum lanjut usia semakin lama semakin banyak dan kaum muda semakin lama semakin sedikit.

Oleh karena itu, perlu dilihat bagaimana keadaan generasi muda yang merupakan harapan bangsa pada umumnya yang disebut generasi mapan. Ternyata ada kecenderungan penyimpangan yang dikenal sebagai Hikikomori pada generasi muda di Jepang dewasa ini.
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan hikikomori dilihat sebagai fenomena yang ada di Jepang (http://vickery.dk/hikikomori/):
1) Komori : bagian kata hikikomori memiliki arti religius dan tradisional yang mengindikasikan bahwa pengasingan telah berakar dalam sejarah dan adat istiadat masyarakat Jepang.
2) Sekentei : rasa malu terhadap masyarakat dan kecenderungan untuk menutupi masalah keluarga jelas lebih kuat di Jepang dibanding negara lain.
3) Sistem sekolah : tekanan untuk sukses, metode mengajar yang tidak kreatif dan tidak dapat dikritik, sekolah yang kaku, dan adalah alasan spesifik di Jepang untuk mengasingkan diri.
4) Sistem keluarga : struktur keluarga, hubungan ibu, anak dan tradisi dimana orang dewasa muda dapat terus tetap tinggal dengan orang tua adalah keadaan spesifik yang mendukung terjadinya hikikomori.
5) Kolektivitas : tekanan dan ekspektasi dari kelas, perusahaan dan keluarga juga merupakan karakteristik yang khusus di Jepang. Khususnya dewasa yang tidak memiliki kemampuan untuk menjadi mandiri dapat menjadi alasan terjadinya pengasingan diri.
Faktor-faktor di atas dapat menjelaskan mengapa hikikomori muncul dalam bentuk yang ekstrim dan hanya terjadi di Jepang dan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa hikikomori tidak dapat ditemukan dalam skala yang sama di negara lain dan tampaknya ini merupakan suatu hal yang unik di Jepang. (Dari berbagai sumber)

 

SITOE BAGENDIT

Posted: 6 Januari 2016 in BUDAYA DUNIA

SALAH satoe sitoe (danaoe) jang indah didjamannja tapi merana dimasa sekarang,  terletak di kecamatan Banyoeresmi kaboepaten garoet, ternyata menyimpan pesona dan kebanggaan dimasa laloe. Tempat berekreasi para noni dan meneer belanda …

BAGENDIT

Ketika ke Garoet kita akan mengenang salah satu sungai jang membelah Garoet, bagaimana tjimanuk tempo doeloe jah, dibawah ini kita kenang masa lalu soengai ini…

cimanuk1918

Airnja mengalir djernih dengan batoean-batoean jang masih kokoh berbeda dengan Tjimanoek sekarang (potret 1918)

cimanuk

Tjimanoek dengan rakit penjeberangan dengan pakaian anak-anak masih sederhana tapi lingkoengan terlihat bersih dan tertata…       (potret tahoen 1918)

cimanuk6

Tjimanoek masih didjadikan tempat memandikan kerbaoe…(potret tahoen 1918)

Cimanuk7

Ketika Tjimanoek masih bisa marak waloengan (potret tahoen 1918)

jembatancimanuk1860

BOEPATI GAROET

Posted: 3 Januari 2016 in BUDAYA DUNIA

 

Foto Boepati Garoet, Raden Adipati Ario Wiratanoedatar VII, foto diambil tahun 1910. Bupati duduk di kursi, pejabat daerah hanya boleh duduk di lantai, untuk memperlihatkan perbedaan strata. hanya orang Belanda yang boleh duduk di kursi. Foto diambil tahun 1910 di pendopo kabupaten garut.

RAA is Wiratanudatar (1871–1915) merupakan Bupati prtama yang pindah dari Limbangan ke Kota Garut, daerah kekuasaan nya Kota Kulon , Kota Wetan dan Desa Margawati, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Pakenjeng, Bungbulang and Pameungpeuk. Tahun 1915, RAA Wiratanudatar digantikan oleh keponakan nya yaitu Adipati Suria Karta Legawa (1915–1929). Pada August 14, 1925, dengan keputusan Governor General Belanda, Kota Garut mendapatkan otonomi daerah.

BUPATIGARUT1

Boepati Garoet dipendopo beserta pembantoenja jang doedoek dibawah menundjukan strata kekuasaan didjamannya.(1910)

BUPATI2

KELUARGABUPATI

Boepati Garoet dan istrinja, RA Lasminingrat (pendiri sekolah keoetamaan isteri) beserta keloearga

 

Landscape-Alun-ALUN-gAROET-tempoe-doeloe

Suasana asri dan masih lenggang Lanschaaf aloen-aloen dengan gazebo warna poetih (muziek papiljoen), Toegoe Holle dan mesjid agoeng Garoet.

alun219052alun21905Tugu-Holle-di-Alun-alun-Garut

Aloen aloen garoet, diambil dari arah barat, bangoenan berbentoek gazebo itu adalah Muziek Paviljoen, digoenakan untuk bermain moesik para meneer Belanda pada achir minggoe setelah lelah bekerdja di perkeboenan teh selama seminggoe penoeh. (Foto tahoen 1905).

Seperti kebanjakan aloen-aloen djaman doeloe selaloe berdekatan dengan masdjid sebagai satu kesatoean jang tidak bisa dipisahkan selain ada Toegoe Holle yang didirikan oleh Karel Frederik Holle seorang pemilik perkebunan di Garoet tahoen 1910.

SUMBER PHOTO : Colektie TropenMuzeum