Sepakbola sebagai Agama dan Budaya Tanding

Posted: 30 November 1999 in Tak Berkategori
Tag:,

Film dokumenter pertama tentang penonton sepak bola negeri ini. Mengisi kekosongan tema olahraga dalam film Indonesia. Dibuat oleh sutradara yang salah satu film pendeknya menjadi film resmi Piala Dunia 2006.

Suara gemuruh itu menggetarkan siapa saja yang mendengarnya, yang suka maupun yang tidak, apalagi bagi lawan.Bagai gaung ribuan lebah, ribuan orang dengan satu jiwa menyanyikan mars. Genderang ditabuh bertalu-talu. Warna oranye mendominasi lapangan sepakbola. Beberapa kaos—berwarna oranye—lengkap dengan tulisan “Holigan Depok”, “Garis Keras”, “Gue Anak Jakarta”, “I Will Never Stop Fighting”, juga “Lu Asyik Gue Nyantai, Lu Usik Gue Bantai“. Gema perjuangan itu terus terngiang, bahkan saat film ini sudah beberapa menit lepas diputar. Ayo Persija Macan kemayoran/Tunjukkan taringmu, jatuhkan lawanmu/Kami The Jakmania selalu mendukungmu/Persija, Persija juara.

**********************************************

Andibachtiar Yusuf menghela nafasnya, penganut sepakbola yang juga seorang filmmaker ini akhirnya berhasil menuntaskan impiannya. Menyelesaikan sebuah film dokumenter panjang tentang suporter Persija, Jakmania. “Tiga tahun lebih lamanya saya bagai menjadi bayangan mereka, dari satu kota ke kota yang lain demi cita-cita saya…menunjukkan bahwa sepakbola juga punya jiwa di Indonesia,”

Dari Jakarta, Tangerang, Solo, Sleman, Palembang sampai Bali, Yusuf membawa kameranya mengikuti obyeknya yang menurutnya memiliki nilai eksotis sangat tinggi di mata dunia. “Jakmania sebenarnya bukan tujuan utama saya, Aremania atau Bonek adalah target awal,” kisahnya di perjumpaan dengannya saat menyiapkan pemutaran film berjudul The Jak ini. “Di saat itu juga semua sponsor yang saya datangi menyebut saya gila, mereka bilang suporter Indonesia hanya doyan tawuran,” kisahnya lagi.

Alasan biayalah yang kemudian membuat lelaki yang kini berusia 33 tahun ini akhirnya memutuskan Jakmania sebagai obyek cerita filmnya “Saat itu saya sama sekali bahwa Jakmania memiliki keunikan fanatisme yang tidak dimiliki oleh kelompok suporter lain,” Tanpa penyandang dana dan kamera pinjaman, Yusuf memulai proyek ini. Jatuh bangun sampai harus berhenti beberapa kali, kini Yusuf dan editornya Amir Pohan boleh berbesar hati atas hasil karya mereka.

The Jak adalah bagian akhir dari trilogi This Is A Good Day To Win. Bagian pertama yang berjudul Jakarta Is Mine memang sempat gagal lolos seleksi Jakarta International Film Festival tahun 2003, namun berturut-turut festival di Eropa dan Amerika Latin rajin mengundang keikut sertaan film berdurasi 14 menit tersebut. Bagian kedua yang diberi titel Hardline bisa jadi adalah bagian yang sampai hari ini memiliki pencapaian paling fenomenal. Tak kurang Festival Film Rotterdam menyebut film ini sebagai “The most beautiful supporters’ song ever recorded in video,” terpilih sebagai film resmi Piala Dunia 2006, mewakili Asia sebagai film sepakbola terpilih di Sao Paolo, diundang ke banyak festival di dunia sampai dijadikan kajian tata ruang kota di sebuah universitas di Helsinki.

Dirilis resmi di TIM 21 (Taman Ismail Marzuki) pada 15 Juni 2007 lalu film berdurasi 78 menit ini kemudian diputar selama 8 hari sesudahnya (22 Juni 2007) dengan sambutan yang sangat positif. Tak hanya bisa dinikmati oleh para pencinta dan pengamat film, dokumenter ini mampu pula menarik minat para Jakmania yang untuk pertama kalinya memenuhi pusat kebudayaan di bilangan Jakarta tersebut. “Jakarta Is Mine dan Hardline dikenal lebih dulu di Eropa, saya ingin Indonesia mengenal The Jak lebih dahulu dari mereka (dunia luar),” ujar Yusuf tentang film yang rencananya akan pula tayang di Yamagata, Seoul, Manila, Amsterdam, Berlin, London, Rotterdam dll

Di waktu yang nyaris bersamaan, karya debut sutradara muda ini juga diedarkan dalam bentuk Video CD oleh Cinekom, sebanyak dua ribu kopi. Kemudian, bersama dua film sebelumnya akan pula dirilis dalam format DVD.

Berbeda dengan dua karya terdahulunya, kali ini, Yusuf berduet dengan sang editor, Amir Pohan, sebagai sutradara. Duet ini pula yang berperan sebagai produser eksekutif, desainer produksi, dan skenario. The Jak, nama popular Jakmania, digarap dengan lebih dalam dan holistik untuk kemudian disajikan sebagai subkultur dari sebuah budaya pop. Yang saya garis bawahi adalah kupasan bahwa sepakbola adalah agama, dan budaya tanding.

Ciri agama tersaji tegas di sini. Dari lagu tema, lagu puja-puji, ritual, koor yang membuat bulu kuduk berdiri, simbol, kode etik, pernik juga merchandise, kostum, militansi, dan semangat pemersatu umat Jakarta yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama, dan kelas sosial. Militansi agama baru ini dicerminkan oleh Irlan, Kodinator Jakmania dari distrik Cipulir, yang juga aktivis sebuah partai berasas Islam. Terpancar pula lewat adegan para pemain Persija yang disambut The Jak dengan Shalawat Badar lengkap dengan tim Marawisnya.

“Sepakbola membuat hidup mereka bermakna. Serta memberikan harapan. Daripada mabuk lebih baik ditabung buat membeli tiket menonton Persija,” ungkap Ferry Tauhid Indrasjarief, Kordinator Jakmania periode 1999-2006 “Kini mereka punya arti, dan punya target dalam hidup. Sebelumnya mereka tidak ada hiburan untuk malam minggu. Kini ada harapan, ada yang mereka tunggu: pertandingan Persija di hari Minggu, besok nonton Persija lagi dan tim ini akan menang” adalah bukti bahwa sepakbola adalah budaya tanding yang sangat tegas.

“Sepakbola adalah simbol, kebanggaan tanpa henti yang terus keluar dari jiwa gue,” ujar Irlan tentang identitasnya sebagai Jakmania “Gue ribut bukan karena sepakbola, tapi lebih karena masalah eksitensi dan sepakbola (Jakmania) adalah bentuk eksistensi,” tegas Irlan yang diamini Ferry dalam kesempatan lain.

Footages dalam film produksi Bogalakon Pictures ini cukup kaya, termasuk adegan perkelahian saat pertandingan melawan Persikota di Tangerang dan Persipura di Jakarta. Juga ketika Firman Gani sebagai Kapolda Metro Jaya saat itu turun langsung ke lapangan menjelang sebuah pertandingan melawan Persib di Liga Indonesia di 2005.

“Tidak semua perkelahian berhubungan langsung dengan sepakbola, misalnya saat Final Liga Indonesia melawan Persipuara (2005), semua disebabkan oleh aparat yang melempari kami lebih dulu, sedangkan pendukung Persipura tidak ada di lokasi kejadian, tapi berada jauh di seberang,” ungkap Ferry seusai pemutaran perdana film ini. “Nanti di DVD akan ada audio commentary tentang segala hal dibalik kejadian dalam film,” jelas Yusuf tentang minimnya keterangan di balik peristiwa yang jarang hadir dalam film. Juga tentang beberapa lokasi penting, misalnya keributan di depan Walikota Tangerang, atau audiensi dadakan dengan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso di rumah dinasnya (yang ternyata ritual tahunan setiap ulang HUT DKI). Juga beberapa adegan dengan konteks yang bisa jadi tak dikenal oleh masyarakat awam, misalnya saat rapat kordinasi organisasi.

“Yang luar biasa dari Jakmania adalah, mereka umumnya tidak memiliki apa-apa kecuali semangat. Mereka tak punya uang, tapi mereka pergi ke kota lain, dengan sangu pas-pasan, untuk memberikan dukungan kepada Persija…” ujar Sutiyoso, Gubernur DKI saat ini di sebuah bagian dalam film ini.

Film ini ditutup dengan sebuah kalimat persembahan kepada Stadiun Menteng (1928-2006) yang penuh kenangan. Gambar yang mengharukan, sebuah bangunan yang telah dibongkar dan nyaris rata dengan tanah.

Film ini bagai mengisi kekosongan dunia perfilman yang jarang sekali mengangkat tema olahraga dalam ceritanya, baik di film pendek atau panjang, narasi atau dokumenter, komersil mau pun eksperimental. Setelah 4 tahun penuh keringat, penderitaan, kesenangan dan perjalanan, lengkaplah sudah duet Andibachtiar Yusuf dan Amir Pohan melengkapi trilogi Jakmania mereka. “Ini bukan akhir, tapi hanya sekedar awal, 2008 kami akan datang lagi dengan fiksi tentang sepakbola,” tegas Yusuf yang memastikan bahwa hanya dirinyalah di republik ini yang sanggup membuat film tentang sepakbola….pede bener!

The Jak akan diputar mulai 24 Oktober 2007 dan akan menjadi film lokal digital pertama yang diputar di bioskop besar dalam 7 tahun terakhir.

(Ekky Imanjaya, kritikus film)

Ekky Imanjaya, kritikus film, penulis beberapa buku tentang film Indonesia.

Sumber :http://www.filmalternatif.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s