Adat tomasirik : adat kehormatan yang ternoda

Posted: 19 Maret 2008 in BUDAYA NUSANTARA, BUDAYA SULAWESI, SUKU BUGIS-MAKASAR
Tag:,
Bingkai tayangan televisi tentang perkelahian antarmahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan supir pete-pete (16 Mei – 2006), tak hanya dinikmati publik Makassar, tapi tayangan tersebut juga ditonton pemirsa televisi seluruh pelosok tanah air. Tayangan layar kaca yang mengekspose tawuran antarmahasiswa dengan supir angkutan kota (angkot) dapat dianggap diluar akal sehat. Perilaku yang meyimpang ini dapat dikategorikan sebagai mahasiswa yang mengalami paranoid. Artinya, bagaimana seorang yang berstatus mahasiswa dan juga berlabel sebagai intelektual muda, pemikir muda harapan bangsa, makhluk idealis dan rasional tiba-tiba berkelahi dengan supir angkot. Dampak dari penayangan tersebut, maka seketika itu citra mahasiswa Makassar di depan publik, sosoknya disamakan dengan preman.
Proses labeling ini, tak hanya memalukan dan memilukan, betapa tidak penulis yang sementara itu berada di Kampus Salemba Jakarta, beberapa dosen pasca-UI sempat menanyakan, mengapa mahasiswa di makassar selalu berkelahi ? Apalagi peristiwa kali ini agak memilukan karena mahasiswa yang biasa memprotes atau mendemo pemerintah dalam memperjuangkan rakyat kecil sekarang mahasiswa berhadapan dengan rakyat kecil yang berprofesi sebagai supir angkot yang mengais rezeki dengan uang recehan.Lebih biadab dari tayangan tawuran di televisi, penonton menikmati dengan mata telanjang di mana ada oknum mahasiswa dengan sangat emosional, beringas, dan bengis merusak dan menghancurkan kaca mobil angkot yang ditinggalkan pemilik atau supirnya. Padahal, mobil petepete tersebut merupakan sumber mata pencaharian, bahkan ada diantara petepete tersebut yang dirusak keberadaannya merupakan hasil kredit dari pemiliknya.

Opini sosok mahasiswa yang menyimpang dan dipertontonkan secara fulgar telah mengundang komentar dari masyarakat, misalnya komentar pembaca mengatakan : Mahasiswa UNM ; bego sekali dan mereka adalah sekelompok orang yang tak punya sense of collectivness ! Berorganisasi seperti beronani ; berakademik tapi pandemi atau musuh masyarakat, dasar ?Tau tolo?. UNM itu gudangnya preman dari pelosok kampung yang terbiasa angnginung ?Ballo Inruk? (lihat, Fajar Online, 17 Mei 2006).
Adanya anggapan miring dari mahasiswa akibat dari tawuran itu menunjukkan bahwa betapa buruknya penilaian publik kepada mereka di mana mahasiswa di Makassar lebih mendahulukan penyelesaian secara hukum rimba daripada rasionalitas. Lebih konyol lagi, semestinya mahasiswa yang bermasalah dengan pihak kepolisian karena ada rekan mereka tertembak dilakukan dengan advokasi yang lebih cerdas. Jika setiap protes mahasiswa diwujudkan dengan membakar ban bekas dan menutup jalan. Itu adalah bukan cara-cara yang intelek. Menutup jalan itu berarti memutus mata rantai pencaharian bagi masyarakat, termasuk mata pencaharian supir angkot. Apalagi dalam kultur Makassar berlaku pepatah : Bajikangngangi mate a?cceraka daripada mate tena?nangnganre? ( lebih baik mati berdarah dari pada mati tak makan). Terjadi tawuran antarmahasiswa UNM dengan supir angkot yang patut disalahkan bukanlah supir angkotnya, melainkan mahasiswa tak mempunyai analisis kultural dalam memotret masyarakat.

Di sisi lain, penilaian mahasiswa di Makassar sangat brutal dan ?tak punya otak? dalam menyalurkan aspirasi yang tak sepenuhnya benar seperti penilaian realitas media. Konsekuensi frame media yang memberikan justifikasi negatif, tak terlepas bagaimana media menyikapi suatu realitas sosial yang diinterpretasikan. Dalam konteks isi media sudah sepantasnya para mahasiswa dapat berpikir 2 (dua) kali lipat dalam melakukan aksinya sehingga kegiatan yang menimbulkan tawuran apalagi dengan supir angkot, tentu media massa akan mengekspose secara terbuka, transparan, dan blowup.

Yang perlu dicermati, mahasiswa yang biasanya melakukan tawuran, para tokohnya yang dikategorikan preman kampus adalah ?pentolan? yang record akademiknya cenderung kurang baik (raport-nya merah). Maka dari itu, ulah dari mahasiswa yang tak mempunyai kecerdasan akademik mempunyai korelasi dengan perilaku menyimpang dalam melakukan kegiatan dunia kemahasiswaan. Artinya, UNM yang selama ini adalah lembaga pendidikan yang mencetak generasi baru atau ?pahlawan tanpa jasa? akhirnya mencoreng mukanya sendiri akibat sekelompok mahasiswa yang berotak preman.

Wahai mahasiswa Makassar bangkitlah dengan berorganisasi kemahasiswaan secara cerdas, jangan hanya pandai tawuran, bakar ban bekas, dan menutup jalan, tapi tunjukkan prestasi akademikmu dan dunia kemahasiswaan agar dapat menjadi mahasiswa unggul dari kawasan timur Indonesia. Apalagi beberapa kader-kader dari Sulawesi-Selatan yang sementara ini berkiprah ditingkat nasional, misalnya dari kalangan ; politisi, birokrat pemerintahan, TNI-Polri, pengacara, termasuk menjadi putra daerah yang dipercayakan sebagai Wakil Presiden, tak dirusak citranya melalui media massa bahwa di kampung halaman beliau, mahasiswa Makassar menggunakan cara-cara primitif dalam menyelesaikan masalah (tawuran).

Masih ingat beberapa pekan kemarin mahasiswa makasar tawuran yang tentu saja bukan hal baru bagi kita kalau memahami salah satu adat sulawesi yaitu tomasirik yaitu adat dimana kehormatan keluarga harus dibela apabila apabila martabat (sirik) dinodai yang terkadang berlebihan ketika yang kita bela itu salah dan bertentangan dengan agama Islam yang dianut mayoritas orang Bugis-Makasar. karakter ini juga selalu memicu konflik yang pelik di masyarakat sampai ke anggota dewan sekalipun, sehingga ada persepsi negatif terhadap temperamen orang Bugis-Makasar ini yang terkenal keras dan lebih kritis terhadap penyimpangan para petinggi mereka dan budaya ini secara positif harus dipertahankan dalam takaran tertentu semacam ghirah dalam Agama sehingga bisa disalurkan dalam rangka mempertahankan dan memelihara Agama. konflik intelektual di UNHAS harus secepatnya ditanggulangi jangan sampai menjadi preseden negatif terhadap budaya tomasirik yang sebenarnya awalnya baik untuk menjaga keutuhan sosial dan kulture di masyarakat dan tentu saja kultur unit ini harus dipertahankan dalam nuansa positif.

Sumber : Fajar Online
Komentar
  1. zainal abidin mengatakan:

    masi adakah budaya silat bagi kita bugis yang merantau di negi orang dan lahir di sana. . . yang sama sekali tidak mengenal budaya suku bugis. . .

  2. eka damayanti mengatakan:

    Pada saat kejadian 16 Mei 2006, saya sementara mengikuti pelatihan tingkat nasional di Bandung. Malu sekali rasanya ketika teman-teman peserta yang lain mengatakan bahwa “lihat nih teman mu,,, mahasiswa kok preman, masa sopir angkot juga dilawan”….
    Lama berselang, saya kuliah di Jogja…ternyata media telah menanamkan label negatif terhadap mahasiswa Makassar. Hal tersebut bisa mempengaruhi penyesuaian diri kami yang mengenyam pendidikan di luar Makassar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s