Beberapa perayaan Tionghoa (2)

Posted: 15 Oktober 2008 in BUDAYA NUSANTARA, BUDAYA TIONGHOA
Tag:,

NIAN

Legenda mengatakan bahwa pada jaman dahulu dunia dipenuhi dengan binatang-binatang buas dan berbahaya. Diantara mereka terdapat sebuah monster yang sangat besar, Nian.

Nian mempunyai kebiasaan memulai makan manusia tepat pada malam tahun baru.

Nian mempunyai mulut yang sangat besar yang dapat menelan banyak orang sekaligus dalam sekali lahap, sehingga tidak heran jika penduduk menjadi amat takut kepadanya.

Pada suatu hari, ada seorang tua yang datang untuk menolong mereka. Beliau menawarkan diri untuk menaklukkan sang monster Nian.

Walaupun setengah percaya, penduduk setuju. Maka orang tua itu pun mencari Nian.

Pada saat bertemu Nian, Nian masih terlelap tidur, orang tua itu berteriak, “Nian bangun! Saat ini adalah malam tahun baru. Bangun!”

Mendengar teriakan itu, Nian pun bangun.

“Jadilah baik dan buang sifat jahatmu. Hentikan kebiasaanmu memakan manusia”, kata orang tua itu.

“Ha, ha, ha. Hai orang tua, kamu telah menghantarkan dirimu. Tidakkah kamu takut aku akan memakanmu?”, ejek Nian.

“Jika kamu memakan diriku, apa yang patut dibanggakan? Apa hebatnya?”, tanya orang tua itu, “Beranikah kamu memakan ular berbisa?”

“Mudah”, jawab Nian.

Saat itu juga Nian langsung melahap semua ular yang ada di sekitarnya.

“Bagaimana? Bukankah aku hebat?”

“Di belakang gunung terdapat banyak binatang buas, apakah kamu mampu mengalahkan mereka?”, tanya sang orang tua.

“Ikutlah denganku, maka kamu akan mengetahui kehebatanku”, jawab Nian.

Nian langsung melahap binatang-binatang buas yang ada, dan sebagian lagi lari ketakutan, Nian tidak terkalahkan.

“Ha,ha,ha. Hai orang tua, sekarang kamu akan aku makan”

“Tahan. Aku akan melepas jubah yang kupakai dahulu sehingga kamu akan mendapatkan makanan yang lebih lezat”, jawab sang orang tua.

Saat sang orang tua melepas jubahnya, Nian langsung ketakutan karena baju orang tua itu berwarna merah.

“Saya benci warna merah. Singkirkan!”

“Ha,ha,ha. Aku tahu kamu takut warna merah”

“Ampunilah diriku”, mohon Nian.

“Bila kamu bersedia melepaskan kebiasaan jelekmu, maka kamu akan kuampuni”, jawab sang orang tua.

Sejak itulah sang monster Nian hanya memangsa binatang, tidak pernah lagi dia memakan manusia.

Setelah kejadian tersebut, orang tua itu pun menghilang dengan mengendarai sang monster Nian.

Barulah penduduk sadar bahwa orang tua tersebut adalah Dewa yang turun ke dunia guna menolong manusia.

Nian telah pergi, binatang buas lainnya juga takut berkeliaran, mereka masuk ke hutan-hutan. Sejak saat itu penduduk mulai dapat hidup tenang dan damai.

Sebelum pergi sang orang tua berpesan agar penduduk menaruh dekorasi yang terbuat dari kertas merah pada pintu-pintu dan jendela pada setiap akhir tahun, demi menangkal kembalinya si Nian, karena Nian takut warna merah.

Sejak itulah, menempel kertas merah menjadi kebiasaan.

Meskipun demikian banyak orang lupa atau tidak tahu mengapa mereka harus menempel kertas merah. Mereka, rata-rata, hanya menyukai kemeriahan warna dan suasana yang dianggap dapat lebih menyemarakkan Perayaan Tahun baru imlek

Memakan yuan Xiao

Salah satu kebiasaan yang dilakukan pada saat merayakan Perayaan Lentera adalah memakan Yuan Xiao, atau dinamakan Tang Yuan pada bagian selatan Tiongkok, yang menjadi simbol dari kebahagiaan dan persatuan.

Tang Yuan Setiap daerah memiliki cara masing-masing dalam membuat Yuan Xiao, namun semuanya memakai nasi yang lengket dengan diberi isi, seperti tepung kacang, bijan, daging ikan, dan lainnya.

Yuan Xiao dipadatkan dengan diremas-remas lalu dibungkus daun bambu. Sehingga bisa menghasilkan kue nasi lengket yang hampir bulat dan dapat dimakan.

Perayaan Lentera

Perayaan Lentera kadang dikenal sebagai Shang Yuan atau Xiao Guo Nian, Tahun Baru Kecil. Dirayakan 15 hari setelah Perayaan Tahun Baru Imlek, atau pada tanggal 15 bulan satu Imlek.

Bermula pada masa pemerintahan Kaisar Wu Di dari Dinasti Han. Di istana Wu Di tinggal seorang pembantu istana bernama Yuanxiao. Yuanxiao ingin menjenguk keluarganya, namun aturan istana melarang semua pembantu meninggalkan istana.

Beruntung Yuanxiao memiliki teman seorang menteri bernama Shuo Dongfang. Dia adalah seorang yang cerdik dan menetapkan dirinya untuk membantu pembantu yang tidak berdaya itu.

Lentera DrumShuo berkata kepada kaisar bahwa Dewa Surga telah memerintahkan kepada Dewa Api untuk menghancurkan kota Changan pada tanggal 15 bulan 1 tahun Imlek. Dia berkata kepada Wu Di bahwa satu-satunya cara untuk menenangkan sang Dewa adalah dengan memberikan persembahan kembang api, membunyikan petasan dan mempertontonkan lentera-lentera berwarna merah. Untuk membuat persembahan memuaskan hati sang Dewa maka semua orang di kota harus turut ikut serta.

Dewa Api juga sangat menyukai kue nasi lengket, khususnya yang dibuat oleh Yuanxiao, yang mana dianjurkan oleh Shou agar dipersembahkan secara langsung. Beruntung, sang kaisar mempercayai kebohongan itu dan memerintahkan agar kota Changan mempersiapkan semuanya.

Pada hari yang ditentukan, penduduk kota menyalakan kembang api dan memasang lentera-lentera. Mereka bergembira ria sepanjang malam. Dan Yuanxiao mendapatkan kesempatan untuk meninggalkan istana dan mengunjungi keluarganya.

Sang Kaisar, yang sangat senang atas perayaan tersebut, memerintahkan agar perayaan yang sama dilakukan pada tahun berikutnya dan Yuanxiao diperintahkan untuk membuat kue nasi lengket.

Pada Perayaan Lentera Maka pada tanggal 15 bulan pertama tahun Imlek menjadi sebuah hari bagi perayaan besar sampai hari ini, merayakan bulan penuh pertama pada tahun yang baru dan berkumpulnya keluarga serta kehidupan yang bahagia.

Kue nasi lengket yang dimakan sampai saat ini dinamakan Yuan Xiao untuk mengingat pembantu istana tersebut.

Anda mungkin mengetahui bahwa pada beberapa lentera terdapat tulisan. Itu adalah Teka-Teki pada Lentera, juga dinamakan Singa Lentera karena menjawab teka-teki yang ada sama susahnya dengan menembak singa.

Tanyakan kepada teman-teman anda mengenai asal usul Perayaan Lentera dan Yuanxiao. Lalu perhatikan wajah mereka terkagum-kagum pada saat anda menceritakan asal-usul sebenarnya.

Teka-teki lentera

Teka-Teki pada lentera adalah, seperti namanya, sebuah teka-teki yang ada pada permukaan lentera untuk ditebak oleh orang-orang pada saat menikmati Perayaan Lentera.

Teka-teki yang ada dapat berupa satu huruf, sebuah puisi, sebuah nama tempat, atau sebuah nama benda. Karena menebak teka-teki yang ada bisa sesusah menembak singa, maka proses asah otak ini dinamakan “Singa Lentera”.

LenteraPada masa sekarang, teka-teki lentera semakin luas jangkauan topiknya dan menjadi sebuah kesegaran tersendiri dari berbagai jenis, sehingga dapat menambah kegembiraan, semangat, dan perhatian pada kegiatan Perayaan Lentera.

Koran, majalah, dan toko-toko menampilkan banyak teka-teki untuk dipecahkan oleh masyarakat umum. Bersamaan dengan Perayaan Lentera yang diadakan di kuil-kuil pada malam hari, kegiatan ini semakin menyemarakkan perayaan yang ada.

Tradisi tahun baru Imlek

Walaupun puncak acara Perayaan Tahun Baru Imlek hanya berlangsung 2-3 hari termasuk malam tahun baru, tetapi masa tahun baru sebenarnya berlangsung mulai pertengahan bulan 12 tahun sebelumnya sampai pertengahan bulan pertama dari tahun yang baru tersebut.

Satu bulan sebelum tahun baru merupakan bulan yang bagus untuk berdagang, karena orang biasanya akan dengan mudah mengeluarkan isi kantongnya untuk membeli barang-barang keperluan tahun baru. Transportasipun akan terlihat mulai padat karena orang biasanya akan pulang ke kampung halaman untuk merayakan tahun baru bersama sanak saudara.

Beberapa hari menjelang tahun baru kesibukan dalam rumah mulai terlihat dimulai dengan pembersihan rumah secara besar-besaran bahkan ada yang mengecat baru pintu-pintu dan jendela. Ini dimaksud untuk membuang segala kesialan serta hawa kurang baik yang ada dalam rumah dan memberikan kesegaran dan jalan bagi hawa baik serta rejeki untuk masuk.

Acara dilanjutkan dengan memasang hiasan-hiasan tahun baru yang terbuat dari guntingan kertas merah maupun tempelan kata-kata harapan, seperti Kebahagiaan, Kekayaan, Panjang Umur, serta Kemakmuran.

Keluarga melakukan sembahyang terhadap leluhur, bermacam-macam buah diletakkan di depan altar.

Pada malam tahun baru, setiap keluarga akan mengadakan jamuan keluarga dimana setiap anggota keluarga akan hadir untuk bersantap bersama. Makanan populer pada jamuan khusus ini adalah “Jiao Zi” (semacam ronde). Setelah makan, biasanya mereka akan duduk bersama ngobrol, main kartu maupun game, atau hanya nonton TV. Semua lampu dibiarkan menyala sepanjang malam. Tepat tengah malam, langit akan bergemuruh dan gemerlap karena petasan. Semua bergembira.

Keesokan harinya, anak-anak akan bangun pagi-pagi untuk memberi hormat dan menyalami orang tua maupun sanak keluarga dan mereka biasanya akan mendapat Ang Pau. Acara dilanjutkan dengan mendatangi saudara yang lebih tua atau tetangga. Ini adalah saat yang tepat untuk saling berdamai, melupakan segala ketidakcocokan.

Suasana tahun baru berakhir 15 hari kemudian, bersamaan dengan dimulainya “Perayaan Lentera”. Lentera warna-warni aneka bentuk akan dipasang memeriahkan suasana, tarian tradisional digelar. Makanan khas pada saat itu adalah “Yuan Xiao”, semacam ronde yang lain.

Walaupun tradisi dan kebiasaan boleh berbeda tetapi ada satu semangat yang sama dalam merayakan Tahun Baru, yaitu suatu harapan akan kedamaian, kebahagiaan keluarga, teman-teman ataupun penduduk dunia lainnya.

Perayaan imlek

Dalam jutaan orang Tionghoa yang ada di dunia ini, ternyata yang mengetahui sejarah dan asal usul Tahun Baru Imlek memang tidak banyak. Biasanya mereka hanya merayakannya dari tahun ke tahun bila kalender penanggalan Imlek telah menunjukan tanggal satu bulan satu. Jenis dan cara merayakannya pun bisa berbeda dari satu suku dengan yang lain.

Hal ini dikarenakan luasnya daratan Tiongkok dengan beraneka ragamnya kondisi alam, lingkungan baik secara geografis maupun demografis, belum lagi secara etnis. Ada yang dimulai dengan sembahyang kepada Thian dan para Dewa, serta leluhur, ada pula yang dimulai dengan makan ronde, maupun kebiasaan-kebiasaan lain sebelum saling berkunjung antar sanak saudara sambil tidak lupa membagi-bagi “Ang Pau” untuk anak-anak, yang tentu saja menerimanya dengan penuh kegembiraan.

Sebenarnya penanggalan Tionghoa dipengaruhi oleh 2 system kalender, yaitu sistem Gregorian dan sistem Bulan-Matahari, dimana satu tahun terbagi rata menjadi 12 bulan sehingga tiap bulannya terdiri dari 29 ½ hari. Penanggalan ini masih dilengkapi dengan pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam, sehingga pembagian musim ini terbukti amat berguna bagi pertanian dalam menentukan saat tanam maupun saat panen.

Di bawah ini adalah beberapa contoh dari pembagian 24 musim tersebut:
– Permulaan musim semi
Hari pertama pada musim ini adalah hari pertama Perayaan Tahun Baru, atau saat dimulainya Perayaan Musim Semi (Chun Jie).
– Musim hujan
Di mana hujan mulai turun.
– Musim serangga
Serangga mulai tampak setelah tidur panjangnya selama musim dingin.
– dll (Masih terdapat 21 musim lain yang terlalu panjang untuk dibahas satu persatu)

Selain dari pembagian musim di atas, dalam penanggalan Tionghoa juga dikenal istilah Tian Gan dan Di Zhi yang merupakan cara unik dalam membagi tahun-tahun dalam hitungan siklus 60 tahunan. Masih ada lagi hitungan siklus 12 tahunan, yang kita kenal dengan “Shio”, yaitu Tikus, Sapi, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi.

Kesimpulannya, penanggalan Tionghoa tidak hanya mengikuti satu sistem saja, tetapi juga ada beberapa unsur yang mempengaruhi, yaitu musim, 5 unsur, angka langit, shio, dll. Walaupun demikian, semua perhitungan hari ini dapat terangkum dengan baik menjadi satu sistem “Penanggalan Tionghoa” yang baik, lengkap dan harmonis bahkan hampir bisa dikatakan sempurna karena sudah mencakup “Koreksi” -nya juga, sebagai contoh adalah “Lun Gwe”, merupakan bulan untuk mengkoreksi setelah satu periode tertentu.

Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan sebuah perayaan besar bagi masyarakat Tionghoa. Menggantung lentera merah, membunyikan petasan dan menyembunyikan sapu adalah salah satu keunikan dari perayaan ini. Disamping itu, masyarakat Tionghoa juga akan mulai menempel gambar Dewa Penjaga Pintu pada hari-hari perayaan ini.

Tradisi Qu Yuan

Kisah Qu Yuan menjadikan Perayaan Perahu Naga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa Tionghoa. Abad ke-empat sebelum masehi dikenal sebagai “masa berbahaya” bagi Tiongkok. Pada saat itu terjadi peperangan besar antara tokoh-tokoh kuat dan pemerintah yang banyak dilanda korupsi. Banyak kerajaan-kerajaan akhirnya menghilang, kecuali kerajaan Chu, yang merupakan salah satu dari kerajaan terkuat pada saat itu.

Qu Yuan dilahirkan pada 340 BC dan merupakan salah satu anggota keluarga dari tiga keluarga terhormat pada Kerajaan Chu. Qu Yuan adalah seorang penasehat bagi Raja Huai yang memerintah dari 328 BC sampai 299 BC.

Karena kepandaian dan kejujuran dari Qu Yuan, banyak pejabat korup yang iri dan ingin menyingkirkan Qu Yuan.

Persekutuan antara Chu dan Qin yang telah terjalin lama putus ketika Qin mengumumkan perang terhadap Chu dan mengambil alih sebagian wilayah Chu. Di tengah masa pertempuran tersebut, Qin mengajukan usul gencatan senjata kepada Chu dan menginginkan diadakannya pertemuan membahas perdamaian.

Qu Yuan menasehati agar Raja Huai tidak bersedia datang ke Qin untuk berunding. Namun bujukan dari para pejabat korup lebih berpengaruh di pikiran Raja Huai sehingga dia bersedia datang. Raja Huai langsung ditangkap pada saat tiba dan meninggal setelah tiga tahun dalam penjara.

Anak tertua Raja Huai, Qin Xiang menjadi raja. Sedangkan anak lainnya, Zi Lian, menjadi perdana menteri. Saat kedua orang itu berkuasa, Qu Yuan langsung disingkirkan dan diusir dari istana.

Dalam pengasingannya Qu Yuan banyak mengabdikan hidup kepada rakyat dan membantu rakyat, sehingga rakyat sangat cinta dan hormat terhadap Qu Yuan.

Pada 278 BC tentara Qin menguasai Ying, Ibukota Kerajaan Chu. Berita ini membuat Qu Yuan sangat berduka. Qu Yuan sangat menyesali dirinya sendiri bahwa tidak satu hal juga yang dapat dilakukan demi menyelamatkan Kerajaan Chu. Rasa sedih dan putus asa yang mendalam menyebabkan Qu Yuan memutuskan bunuh diri dengan menceburkan diri di Sungai Miluo.

Mengetahui bahwa Qu Yuan bunuh diri, ramai orang berusaha mencari jenasah Qu Yuan. Mereka memukul-mukul genderang untuk mengusir ikan-ikan agar tidak mengganggu jenasah Qu Yuan. Pencarian yang dilakukan tidak memberikan hasil.

Pada keesokan harinya, mereka membungkus nasi dengan daun dan melemparkan ke sungai agar ikan-ikan yang ada menjadi kenyang dan tidak mengusik jenasah Qu Yuan.

Demi mengenang Qu Yuan, kebiasaan yang dilakukan ini menjadi sebuah perayaan besar bagi bangsa Tiongkok dan dikenal sebagai Perayaan Perahu Naga.

Perayaan Qing Ming

Pemberian nama Qing Ming dimulai dari masa Dinasti Han karena cuaca selama bulan ketiga Imlek cerah dan bersih. Dimulai dari masa Dinasti Tang, Qing Ming menjadi perayaan.

Di kemudian hari, membersihkan makam menjadi identik dengan perayaan Qing Ming.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s