Karya Etnografi Indonesia Belum Lengkap

Posted: 10 November 2008 in ANTROPOLOGI, ILMU BUDAYA
Tag:, ,

Hingga kini Indonesia belum memiliki karya etnografi yang lengkap. Padahal, etnografi sebagai deskripsi menyeluruh tentang kebudayaan suatu masyarakat bisa digunakan sebagai referensi untuk mengatasi berbagai persoalan sosial yang muncul belakangan ini. Sangat disayangkan juga, para antropolog tidak mengambil kesempatan emas dalam sejarah reformasi bangsa untuk mempopulerkan antropologi.

Demikian antara lain pemikiran yang muncul dalam diskusi Perkembangan Antropologi Indonesia yang diselenggarakan Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia (JKAI) di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI) Depok, Jumat (10/3). Hadir sebagai pembicara, dosen antropologi FISIP-UI sekaligus Pemimpin Redaksi Jurnal Antropologi MA Yunita T Winarto Ph D dan mantan Ketua JKAI Drs Bambang Setiawan.

“Seorang antropolog akan dihargai dari karya-karya etnografi yang dibuatnya. Namun sayangnya belum banyak karya etnografi tentang Indonesia yang dibuat oleh antropolog Indonesia sendiri. Ketika muncul persoalan sosial, baru menyadari pentingnya etnografi,” kata Bambang.

Menurut Yunita, mahasiswa antropologi dan antropolog masih banyak yang belum memiliki kemampuan menulis. Umumnya mereka belum punya ketajaman memilih dan merumuskan isu. Selain itu, seringkali argumentasi yang dikemukakan masih lemah. “Mereka cuma menyajikan deskripsi saja, tanpa bisa mengangkat data yang diperoleh dalam bentuk hasil analisa yang kuat,” katanya.

Yunita sepakat bahwa keterbatasan sarana penunjang seperti kepustakaan yang lengkap sering menjadi hambatan untuk mengembangkan kemampuan mereka melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. “Kemampuan untuk memahami suatu masalah yang sama dari berbagai sisi inilah yang membuat mahasiswa antropologi kurang dapat mengemukakan argumentasi yang berbobot,” katanya.

Baik Yunita maupun Bambang sepakat bahwa masih ada persoalan menyangkut lemahnya kemampuan metodologi pemecahan masalah di antara para antropolog. Akibatnya banyak penelitian yang dihasilkan jarang dikaitkan dengan masalah-masalah sosial yang mendesak. “Dari segi perkembangan teoretis, antropologi Indonesia memang berkembang, tetapi dari segi manfaat masih belum memberikan sumbangan berarti bagi pemecahan problem sosial seperti yang terjadi saat ini,” kata Bambang.

Bambang melihat, lemahnya kemampuan metodologi pemecahan masalah disebabkan oleh lemahnya keinginan antropolog untuk menulis etnografi dari dalam diri mereka sendiri. Apalagi sekarang banyak sekali etnografi yang ditulis menurut pesanan. Seringkali, penulisan etnografi berdasarkan pesanan ini sudah diberikan kerangka penelitian. Sementara antropolog hanya dilibatkan sebagai pencari data saja. “Dari segi keilmuan, penulisan semacam ini bisa sangat merugikan,” katanya.

Menurut Bambang, salah satu akibat dari penelitian yang dilakukan berdasarkan pesanan ini adalah sang penulis kehilangan haknya untuk mempublikasikan hasil penelitian tersebut. Padahal publikasi hasil penelitian sangat bermanfaat bagi perkembangan antropologi.

Sumber : KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s