Manefestasi prasangka etnik

Posted: 3 Desember 2008 in Tak Berkategori
Tag:, ,

Sebagai sebuah sikap, bagaimana prasangka dalam suatu masyarakat bisa dilihat? Apakah diperlukan suatu pengukuran sikap sebagaimana yang biasa dilakukan psikolog? Mengetahui prasangka yang berkembang dalam suatu masyarakat tidaklah harus serumit itu. Secara sederhana, kita bisa mengetahui adanya prasangka melalui berbagai bentuk manifestasinya, seperti berkembangnya stereotip buruk terhadap etnis lain, diskriminasi dan pengucilan, penolakan terhadap kehadiran etnis lain, dan berbagai ungkapan lainnya. Semua hal itu bisa diobservasi dilapangan. Stereotip negatif misalnya bisa dilihat melalui ungkapan verbal yang biasa ditujukan terhadap suatu etnik tertentu, melalui joke-joke yang beredar dan juga melalui tulisan-tulisan.

Bagaimana prasangka mempengaruhi perilaku? Setidaknya ada tiga bentuk tindakan sebagai respon terhadap adanya prasangka, yakni penghindaran, perlawanan dan penerimaan. Penghindaran sebagai pola respon yang digunakan dalam menghadapi prasangka paling mudah terlihat di sekitar kita. Sebagai contoh kita sering mendengar bahwa etnis Cina ekslusif, tidak mau bergaul, rumahnya selalu tetutup dan seterusnya. Hal ini mudah dimengerti sebagai efek dari adanya prasangka. Seorang etnis Cina yang berprasangka terhadap etnis lain cenderung untuk tidak mau bergaul dalam lingkungan sosial. Mereka menarik diri dari pergaulan sosial. Efek balik dari hal ini adalah peneguhan prasangka yang dimiliki etnis lain terhadap etnis Cina dan sebaliknya prasangka etnis Cina terhadap etnis lain dilestarikan karena kurangnya kontak yang akrab antar etnis. Sebuah kisah nyata yang diceritakan seorang kawan kepada saya akan menggambarkan dengan jelas.

Prasangka menyebabkan seseorang enggan bertemu dengan yang diprasangkai. Penghindaran itu beraneka macam, misalnya menghindari jalan-jalan yang banyak digunakan oleh etnis lain, tidak mau bekerja sama dengan etnis lain, selalu menutup pintu rumah, tidak mau berbicara dengan etnis lain, menghindari terjadinya pernikahan dengan etnis lain, dan lainnya. Adanya penghindaran itu menyebabkan terjadinya komunikasi yang tidak lancar. Akibatnya tidak pernah terjalin keakraban sosial antar etnik. Seterusnya, antara etnis-etnis yang berbeda jadi kehilangan kesempatan untuk bergaul secara akrab halmana merupakan jalan yang efektif untuk mengurangi prasangka. Maka, jadilah penghindaran terhadap obyek prasangka semakin meneguhkan prasangka yang ada.

Kita sering mendengar seseorang dari etnis tertentu mengatakan ‘etnis A itu suka menjilat, nggak dapat percaya, penipu, dan semacamnya yang negatif-negatif” Dalam skala yang lebih besar ketimbang sekedar menghindari pertemuan fisik, adalah penolakan dan penghindaran terhadap etnik tertentu untuk memiliki usaha di daerah tertentu. Penolakan ini khususnya dialamatkan pada etnis Cina, yang tidak lain akar masalahnya adalah prasangka terhadap mereka. Agak kurang masuk akal alasan penolakan adalah untuk melindungi usaha warga setempat. Karena sementara itu etnik selain Cina bebas berusaha disana. Disinyalir, sampai saat ini masih ada beberapa kota yang menolak kehadiran etnik lain untuk membuka usaha disana.

Bentuk respon kedua terhadap prasangka adalah perlawanan, yang berarti melakukan tindakan negatif tertentu yang diarahkan pada etnis yang diprasangkai. Etnik yang menjadi objek prasangka etnis lain akan dilawan melalui tindakan agresif seperti menyerang, memaki, menghina, dan lainnya. Mereka secara konfrontatif menghadapi pihak-pihak yang diprasangkai. Seringnya konflik antar etnik, baik berupa konflik terbuka maupun konflik tetutup merupakan penanda penting bahwa terdapat prasangka etnik yang tinggi disana.

Respon ketiga terhadap prasangka yaitu penerimaan adalah kondisi dimana pihak-pihak yang berprasangka menerima dan mengakui adanya prasangka diantara mereka. Kehadiran etnis yang diprasangkai diterima karena tak terhindarkan dalam pergaulan sosial. Dalam kondisi ketiga ini, prasangka terpelihara namun tidak menimbulkan konflik secara terbuka dengan etnik lain. Dalam posisi penerimaan ini pula prasangka bisa dikurangi karena adanya kesadaran masing-masing bahwa satu sama lain saling mencurigai tanpa dasar yang jelas.

Prasangka dan Stereotip

Prasangka etnik didalam suatu masyrakat bisa dilihat melalui ada tidaknya stereotip etnis negatif yang berkembang di masyarakat. Stereotip-stereotip negatif yang dilekatkan pada etnik tertentu merupakan wujud dari adanya prasangka. Sebagai contoh, stereotip etnis Jawa oleh etnis Cina adalah aji mumpung, santai dan lamban, serta munafik (Lee, 1995), etnis yang poligamis dan sering kawin cerai (Ati, 1999). Stereotip etnis Madura di Kalimantan diantaranya bertemperamen keras dan kasar (kecuali yang dari Sumenep), arogan, keras, mudah tersinggung, angkuh, pendendam, suka carok karena balas dendam (Mustofa, dkk., 2001). Stereotip Dayak diantaranya percaya pada hal-hal gaib dan kurang kepercayaan diri (Trisnadi, 1996). Stereotip Bugis memiliki sikap keras, solidaritas tinggi, dan suka melibatkan diri dalam konflik dalam membela keluarga dan kerabat. Stereotip Minang adalah pedagang, perantau, ulet, dan licik. Stereotip etnik Batak keras, kasar, penggertak, dan lainnya.

Penulis pernah tinggal di kota Jember selama setahun, banyak pengalaman menarik mengenai stereotip etnik ditemukan disana. Jember adalah sebuah kota kecil yang berpenduduk etnis jawa dan madura. Di kota Jember sendiri, mayoritas penduduk menggunakan bahasa madura, meskipun pada umumnya mereka juga menguasai bahasa jawa. Artinya bahasa jawa dan bahasa madura dipergunakan sebagai bahasa pengantar bersama-sama. Namun meski demikian, stereotip etnik ternyata masih ada diantara kedua etnik tersebut. Hampir tidak berbeda dengan stereotip orang Madura di Kalimantan, orang Madura di Jember juga memiliki stereotip negatif keras, mudah tersinggung, arogan, dan mau menang sendiri. Sementara stereotip negatif etnis jawa adalah pemalas dan suka menjilat. Dan stereotip orang Sumatera (yang diwakili profil mahasiswa dari sumatera di Jember) adalah tidak tahu sopan santun, berterus terang, dan sombong.

Sepanjang yang saya ingat, di Jember pula saya mendengar prasangka yang dialamatkan pada Masyarakat Osing di Banyuwangi, terutama untuk kaum mudanya. Dari cerita-cerita yang beredar diantara mahasiswa di kota Jember, masyarakat osing memiliki suatu ilmu ‘pengasihan’ semacam pelet asmara yang ampuh. Siapapun yang terkena ‘aji pengasihan’ itu sudah dipastikan akan jatuh cinta kepada yang memberi ‘aji pengasihan’ tersebut. Strategi ini kerap digunakan kaum muda masyarakat osing untuk memikat seseorang yang disukainya jika cara konvensional gagal. Hal itu biasanya juga didorong oleh orangtua agar anaknya lekas mendapat jodoh. Terlepas dari benar tidaknya gambaran itu, efeknya sangat jelas. Umumnya mereka yang hendak pergi ke daerah Masyarakat Osing melengkapi diri dengan berbagai ‘azimat’ agar tidak terkena “aji pengasihan’. Mereka, para mahasiswa, juga enggan untuk dekat dengan mahasiswa dari masyarakat Osing. Namun bagi yang sedikit nakal, mereka memanfaatkan teman dari Osing untuk mencarikan pengasihan buat mereka sendiri. Jadi, prasangka akan dikenai ‘aji pengasihan’ menjadi sebab mereka enggan berakrab ria dengan masyarakat Osing.

Untuk menggambarkan stereotip sebagai manifestasi dari adanya prasangka etnik di suatu daerah, saya akan menggunakan contoh sebuah daerah dimana saya berasal yakni Mukomuko, Bengkulu. Mukomuko merupakan wilayah yang terbuka terhadap pendatang, bahkan disinyalir lebih dari 60% penduduk Mukomuko saat ini adalah pendatang yang berada di Mukomuko kurang dari 20 tahun, baik perpindahan karena program transmigrasi maupun perpindahan biasa. Karenanya tidak mengherankan bila wilayah ini cukup plural. Berbagai etnik ada di wilayah ini, mulai dari etnik Batak dengan berbagai marga, etnik Bali, etnik Jawa, etnik Sunda, etnik Madura, etnik Minangkabau dan warga asli yang lebih dekat dikategorikn sebagai etnik minangkabau atau melayu. Saat ini Mukomuko telah menjadi kabupaten tersendiri yang mencakup beberapa Kecamatan. Untuk memfokuskan perhatian, kita hanya akan melihat fenomena di tiga kecamatan, yakni kecamatan Teras Terunjam, kecamatan Lubuk Pinang, dan kecamatan Mukomuko yang dulu tergabung ke dalam kecamatan Mukomuko Utara.

Di daerah Teras Terunjam, Mukomuko, dan Lubuk Pinang, etnis Jawa masih banyak yang menyebut warga asli dengan “Wong Mbilung”, yang bermakna orang yang tidak tahu aturan. Hal itu menggambarkan bahwa etnis Jawa merasa memiliki harkat yang lebih tinggi, setidaknya memiliki tatakrama dan tata nilai yang lebih luhur. Dalam kacamata kosmologi jawa, perilaku warga asli yang cenderung lebih bebas dan terbuka baik dalam berkata-kata maupun dalam bertindak memang seringkali terasa keluar dari aturan, tidak sopan, dan terbelakang. Tapi kalau melihat dari kosmologi setempat, hal itu masih dalam tata aturan. Disinilah letak kesalahan pemerintah, dimana baik kaum transmigran maupun kaum asli tidak dipersiapkan secara kultural untuk menghadapi perbedaan budaya. Akibatnya mereka tetap memandang budaya yang lain melalui kacamata budaya sendiri.

Secara khusus, seorang etnis jawa, dan kemudian dikuatkan oleh pernyataan beberapa orang lainnya mengatakan bahwa dalam berdagang, etnis asli suka main kayu atau curang. Jadi harus berhati-hati bila berbisnis dengan mereka. Demikian juga bila ada urusan apapun sebaiknya berhati-hati karena warga asli kurang bisa dipercaya. Ada juga satu cerita yang sedikit mengerikan mengenai warga asli, yakni cerita tentang racun. Menurut cerita dari beberapa orang etnis jawa yang saya temui, mereka selalu berhati-hati menerima suguhan minuman dari warga asli karena kadangkala minuman itu dicampur racun apabila sang tuan rumah kurang senang dengan sang tamu. Dari pernyataan itu, jelaslah terdapat adanya prasangka terhadap warga asli oleh etnis jawa.

“Orang jawa itu pekerja keras, pintar, dan sopan, akan tetapi ia tidak bisa diberi hati sedikit saja” demikian ucap salah seorang tokoh terkemuka di Mukomuko. Maksud perkataannya adalah bila orang jawa di beri berbagai kesempatan yang luas, dibiarkan terlalu dekat, maka ia bisa jadi akan ‘nglunjak” atau meminta kompensasi yang jauh lebih luas lagi. Artinya mungkin saja orang jawa akan menikam dari belakang. Hal itu digambarkan dengan sangat jelas melalui peribahasa “kecil disayang-sayang, besar menikam dari belakang”.

Pernyataan sang tokoh diatas menggambarkan adanya sikap hati-hati terhadap etnis Jawa, justru karena penilaian bahwa etnis jawa pintar. Tokoh tadi berargumen bahwa ketidakterusterangan orang jawa seringkali tidak mampu dipahami oleh mereka. Sehingga mereka hanya bisa menangkap apa yang memang dinyatakan orang jawa. Tapi sementara itu, disisi lain, orang jawa justru bisa berbuat lain dari yang diungkapan sebagaimana yang dipahami mereka. Pernyataan tokoh tadi juga menyiratkan adanya suatu kekhawatiran yang mendalam mengenai keberlangsungan kehidupan warga asli karena akan didesak oleh kehadiran orang jawa (pendatang). Pengakuan bahwa orang jawa pintar sekaligus dirasakan sebagai ancaman terhadap posisi warga asli, baik kehidupan ekonomis, kultural maupun politis. Bagi masyarakat awam, kekhawatiran itu mewujud ke dalam adanya prasangka terhadap etnis pendatang. Oleh karenanya tidak mengherankan bila etnis pendatang cenderung ditolak bila menduduki jabatan strategis. Apalagi ternyata disekolah-sekolah yang muridnya campuran berbagai etnis, faktual, mereka yang masuk kategori juara berasal dari warga pendatang. Saya ingat betul, di SMU Negeri satu-satunya di kecamatan Lubuk Pinang, hampir tidak ada satupun warga asli yang bisa menduduki juara. Alasan yang selalu dipakai pelajar warga asli kepada orangtuanya untuk menjelaskan prestasinya yang pas-pasan biasanya berkisar pada pernyataan seperti “Orang Jawa (pendatang) pintar-pintar, saya bisa dapat rangking saja sudah untung”.

Sebagai catatan, warga asli umumnya tidak membedakan etnis-etnis diantara warga pendatang. Semua yang berasal dari Jawa, akan disebut orang jawa meskipun mungkin ia etnis madura, etnis sunda, atau jawa asli. Akan tetapi warga pendatang biasanya mengkategorikan sesama warga pendatang berdasarkan etnisnya. Oleh karena itu ada stereotip etnis madura, etnis jawa, etnis sunda, etnis bali oleh etnis lainnya. Misalnya etnis sunda digambarkan sebagai etnis yang suka kawin cerai. Perempuan etnis sunda dianggap perempuan ‘gampangan’, artinya mudah diajak laki-laki. Etnis Bali digambarkan sebagai etnis yang keras hati dan kasar. Etnis madura digambarkan mudah tersinggung dan temperamental serta mau menang sendiri. Etnis jawa digambarkan bermuka dua dan suka menjilat.

Terlepas dari stereotip negatif, di ketiga kecamatan diatas, terutama di kecamatan Lubuk Pinang berkembang polarisasi warga berdasarkan statusnya sebagai pendatang atau bukan. Disana terbentuk suatu paguyuban atau perkumpulan warga asli untuk memperjuangkan kekuasaan politis bagi warga asli. Sebagai balasannya masyarakat pendatang (terutama jawa) membentuk paguyuban orang jawa. Bahkan dikabarkan ada tuntutan dari warga pendatang jawa untuk memisahkan diri membentuk kecamatan tersendiri yang terdiri dari desa-desa yang berawal dari desa transmigrasi. Keadaan demikian tentunya sangat mencemaskan. Friksi-friksi antar etnis, terutama antara etnis pendatang dengan warga asli telah terjadi dan semakin menajam. Prasangka antar etnik semakin menguat. Tanpa adanya social engineering yang tepat untuk mengatasi hal itu, konflik tinggal menunggu saat yang tepat.

Masih di daerah Bengkulu, ada terdapat etnik Rejang yang juga dilekati stereotip negatif. Etnis rejang dinilai temperamental, suka main ‘tujah’ (menusuk dengan senjata kecil semacam badik), dan suka mencari kesempatan dalam kesempitan orang. Bahkan menurut cerita seorang teman, di daerah Bengkulu Selatan, masih ada pertentangan antara warga Manna dengan orang rejang. Teman saya mengaku bahwa orangtuanya memperbolehkan untuk menikah dengan orang darimanapun terkecuali dengan orang rejang. Menurut teman saya, orang rejang begitu pula terhadap kelompok teman saya itu.

Ada seorang kawan yang berorangtua etnis Jawa baru menikah setelah umurnya lebih dari 30 tahun karena selalu gagal mendapat restu orang tua. Apa pasal? Ternyata orang tuanya tidak setuju kalau teman saya menikah dengan perempuan minang. Ironisnya, teman saya selalu jatuh cinta dan punya pacar orang minang karena ia memang tinggal dan bekerja di kota padang. Pernah saya bertemu dengan orang tua teman saya itu dan berbincang-bincang. Mereka bilang bahwa kalau menikah dengan perempuan minang, mereka takut akan kehilangan anaknya. Menurut mereka, teman saya akan dikuasai sang istri dan akan lupa dengan keluarganya sendiri. Semua harta benda yang diperoleh nantinya akan jadi hak istri, dan teman saya tidak akan mendapatkan apa-apa. Kalau nantinya ada masalah dan bercerai, teman saya akan pergi hanya membawa kain di badan saja. Mereka juga bercerita kalau perempuan minang memiliki ilmu yang bernama ‘cirik berendang’ yang bisa membuat laki-laki setelah menikah tunduk padanya. Mereka tidak rela anaknya akan jadi abdi bagi istrinya kelak. Tapi toh akhirnya teman saya menikah dengan orang minang karena orang tuanya merasa anaknya sudah terlalu terlambat untuk menikah sedangkan calon yang dikenalkan selalu orang minang. Mereka pada akhirnya menyerah dengan keputusan teman saya. Itupun, kalau tidak salah, setelah pacar keenam atau ketujuh

Dari cerita orangtua teman saya diatas, jelas sekali kalau mereka berprasangka terhadap orang minang. Cerita negatif itu saya dengar setahun sebelum teman saya menikah. Ketika saya bertemu lagi dengan orang tua teman setahun setelah pernikahan, pendapat mereka tentang orang minang sudah sama sekali berubah. Rupanya setelah bergaul lebih akrab dengan menantunya yang orang minang, mereka jadi sadar bahwa prasangka mereka terhadap orang minang sesuatu yang salah.

Beralih ke Kalimantan, beberapa etnis Jawa yang saya temui di Jawa dan pernah ke Kalimantan membawa cerita mistis yang sedikit mengerikan mengenai etnis dayak. Salah satu ceritanya, bila menikah dengan perempuan etnis Dayak maka tidak ada peluang lagi untuk menikah, sebab perempuan etnis dayak memiliki ilmu yang bisa membuat ‘senjata’ laki-laki mengecil atau bahkan hilang. Entah benar atau tidak tapi ada yang bercerita bahwa dirinya (si pencerita) bersama temannya pernah pergi ke salah seorang warga dayak. Karena kemalaman ia menginap disana. Kebetulan warga dayak itu memiliki anak perempuan yang cantik. Malamnya, sebelum tidur, sang teman mengaku pada si pencerita, bahwa ia tertarik dengan anak gadisnya. Tapi tentu saja itu tidak disampaikan kepada empu rumah. Pagi-pagi ketika bangun tidur, si pencerita bersama temannya hendak buang air kecil. Tiba-tiba sang teman berteriak bahwa ‘alat vitalnya’ tidak ada. Setengah mati ketakutan, sang teman menghadap ke empu rumah. Oleh si empu rumah disilahkan makan. Ketika membuka tutup makanan ia menemukan ‘alat vitalnya’ ada disana.

Saya tidak yakin cerita itu benar. Lagipula si pencerita juga tidak mengatakan etnik dayak yang mana. Seringkali cerita semacam merupakan hasil dibesar-besarkannya sebuah kisah sederhana dan biasa saja. Dengan tambahan bumbu disana-sini jadilah cerita itu menarik. Bagi saya yang menarik justru bukan ceritanya tetapi makna dari cerita itu. Berkembangnya cerita semacam itu menjelaskan adanya prasangka yang besar terhadap etnis dayak. Kalau cerita itu semakin berkembang luas maka masyarakat juga akan semakin berprasangka terhadap etnik dayak. Mereka jadi enggan dan takut untuk berhubungan dengan etnis dayak halmana semakin mengukuhkan prasangka yang dimiliki.

Adanya stereotip, terutama stereotip negatif sebagai cermin utama adanya prasangka, sangat tidak menguntungkan untuk kehidupan sosial, terutama bila stereotip itu dilekatkan pada kelompok etnik minoritas. Etnik Dayak Meratus di Kalimantan sampai sekarang terisolasi tidak lain karena adanya stereotip negatif atau prasangka yang dialamatkan pada mereka. Mereka dianggap tidak bersahabat, menakutkan bahkan dianggap belum ‘beradab’. Stereotip menyakitkan itu sampai kini tetap terasa bahkan masyarakat kota Banjarmasin pun masih menjuluki mereka sebagai orang Bukit. Masyarakat kota di Banjarmasin, apalagi diluar pulau Kalimantan, masih menganggap berkunjung ke pedalaman Dayak tidak aman. Berkunjung ke Balai (rumah adat Dayak Meratus) bisa-bisa tidak dapat pulang karena orang-orang Dayak dianggap mempunyai kekuatan magis yang bisa digunakan untuk keperluan jahat (Kompas, 7 Oktober 2003).

Di Sumatera, khususnya di Jambi juga terdapat stereotip negatif terhadap etnik Minoritas yakni suku Anak Dalam, yang oleh masyarakat luas lebih dikenal sebagai orang Kubu. Mereka dianggap pemalas, bodoh, dan peminta-minta. Sebenarnya, meskipun nama suku Kubu sudah diberikan selama berabad-abad oleh masyarakat umum kepada etnik-etnik minoritas yang ada di Jambi, mereka yang dikategorikan sebagai orang Kubu saat ini tidak ingin dikenal dengan nama orang Kubu. Mereka lebih suka dikenal sebagai orang Rimba atau orang Kelam (Weintre, 2003). Pernyataan Butet Manurung, seorang guru bagi anak-anak suku Kubu menegaskan hal tersebut; “Kubu artinya bau, jorok, dan bodoh. Makanya, mereka sering marah jika disebut Suku Kubu. Mereka lebih senang bila dipanggil dengan sebutan Orang Rimba,” (Kompas Cyber Media, 14 Maret 2004). Artinya, meskipun pada awalnya makna Kubu bersifat netral dan hanya merupakan sebutan bagi sebuah etnik, tetapi begitu terjadi pergeseran makna akibat stereotip negatif yang dilekatkan maka pemilik identitas menjadi enggan menggunakan nama itu.

Joke atau anekdot yang berkait dengan etnik juga bisa menggambarkan adanya prasangka etnik bila isi dari joke-joke itu memojokkan etnik tertentu. Misalnya saja joke tentang etnik Jawa, etnik Minang dan etnik Cina. Pada suatu hari ada tiga orang dari tiga etnik berbeda itu jalan-jalan di pasar malam. Ketika sampai di rumah Hantu mereka bersepakat untuk masuk kedalamnya di mana didalamnya terdapat tiga patung Nyi Roro Kidul. Giliran pertama orang jawa. Setelah masuk selama 15 menit, ia keluar dan membisikkan sesuatu pada kedua temannya “ssssttttt, aku ambil kacamata dipatung Nyi Roro Kidul.” Kemudian giliran etnis Minang, ketika keluar iapun berbisik pada dua temannya “Sssst aku ambil kacamata dan kain yang dipakai Nyi Roro Kidul.” Terakhir, giliran etnis Cina. Ketika keluar tampak pakaiannya menggelembung dan ia berbisik pada rekan-rekannya “Ssssttt, aku ambil kacamata, kain dan sekaligus patung Nyi Roro Kidul”.

Bila diidentifikasi lengkap akan diketahui betapa banyaknya stereotip negatif etnik yang berkembang di masyarakat. Baik itu stereotip dalam konteks nasional maupun stereotip dalam konteks lokal setempat. Kaitannya dengan prasangka etnis, tentunya akan sangat berguna apabila ada penelitian dalam skala luas yang mencoba meneliti mengenai hal itu. Paling tidak, hasil penelitiannya bisa menjadi panduan bagi warga masyarakat dalam berhubungan dengan etnis yang berbeda. Artinya bisa mementahkan berbagai anggapan dan sikap yang keliru terhadap etnik lain. Dalam skala lebih luas, penelitian mengenai prasangka etnik juga sekaligus sebagai pemetaan terhadap daerah-daerah yang rawan konflik antar kelompok etnis.

sumber :smartpsikologi.blogspot.com

Iklan
Komentar
  1. Aaron berkata:

    Penurut pengalaman yg saya dapatkan dari seorang teman tionghoa, saya sempat bertanya kepada teman saya yg orang tionghoa kenapa orang tionghoa tidak mau bergaul dengan orang pribumi?dia menjawab orang tionghoa tidak boleh bergaul dengan orang pribumi karena akan dijauhkan rejekinya atau akan ikut miskin dan kalau terjadi,dia(orang tionghoa) akan dikucilkan oleh keluarganya dan selama hidupnya tidak akan pernah dibantu oleh keluarganya atau kerabatnya. Jadi yg ada dan sering terjadi yaitu diskriminasi terhadap waga pribumi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s