Arsip untuk Maret, 2009

59888_kawasan_kota__stasiun_beos__thumb_300_225Menyusuri tiap sudut Stasiun Kota Jakarta, seakan terbawa pada masa silam. Betapa tidak, nyaris semua bangunan di tempat ini masih dipertahankan dengan gaya  Eropa Art Deco Style, ciri khas bangunan di Eropa yang tengah menjadi tren pada awal abad 20.

Stasiun Kota atau yang dikenal juga dengan nama Beos, sebutan orang pada era tahun 1980-an, atau mungkin hingga sekarang ini, masih tetap dipertahankan. Meskipun stasiun ini banyak perubahan, dimana ada jalur yang menghubungkan antara stasiun dengan halte busway Jakarta Kota.

Lalu bagaimana dengan nama Beos itu sendiri. Banyak yang mengenal nama Beos, namun akan sedikit sekali yang mengetahui bagaimana asal usul nama Beos tersebut.

Stasiun kereta api yang dibangun pada tahun 1929 ini, pada masa penjajahan Belanda disebut dengan nama BOS atau Bataviasche Ooster Spoorweg  Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur, sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedungdedeh .atau dalam bahasa Inggris disebut Batavia Eastern Railway.

Belum diketahui secara pasti mengapa orang Jakarta melafalkan dengan sebutan Beos. Namun informasi lain menyebutkan nama BEOS merupakan akronim dari Batavia En Oud Straken atau yang berarti Batavia dan sekitarnya.

Fungsi stasiun ini sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Ide pembangunan stasiun tersebut adalah karena Batavia sebutan Jakarta ketika itu tengah menjadi suatu kota yang berkembang. Kawasan Jakarta Kota adalah kawasan bisnis ekslusif. Karenanya membutuhkan sebuah stasiun kereta api yang besar seperti di kota-kota negara Eropa.

Tak heran jika bangunan itu berkarakter Eropa Art Deco Style, ciri khas bangunan di Eropa yang tengah menjadi tren pada awal abad 20. Bangunan itu didesain oleh Ir Frans Johan Lourens Ghijsels.

Menurut Alwi Shahab sejarawan Jakarta, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan.

Nama ini muncul karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang.

Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada.

Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Ketika itu diresmikan Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931.

Stasiun ini diarsiteki seorang Belanda kelahiran Tulungagung 8 September 1882 silam  Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Ir Hein von Essen dan Ir. F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA).

Stasiun Beos merupakan karya Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat.

Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan.

Dalam perjalanannya, Stasiun Jakarta Kota akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993. Hingga kini masih melayani kebutuhan warga Jakarta pengguna kereta api.

Melintasi kawasan Kebayoran Baru, akan diperkenalkan dengan wajah pemuki61119_kali_krukut_pada_tahun_1889_thumb_300_225mam mewah di selatan Jakarta. Sejumlah pejabat dan pengusaha nasional pun banyak memilih tinggal di kawasan ini.

Tepatlah rasanya, jika Kebayoran Baru disebut sebagai kawasan elit di Jakarta. Namun di balik stigma elit, kawasan ini mempunyai arti dan sejarah tersendiri.

Menurut sejarawan Jakarta, Alwi Shahab, dulu kawasan ini adalah tempat penampung kayu. Kata  ‘Kebayoran’ berasal dari kabayuran. Kabayuran  berarti tempat penimbunan kayu bayur.
Kayu bayur kala itu dikenal sebagai bahan bangunan yang sangat baik. Kekuataan kayu bayur sangat diakui serta tahan terhadap serangan rayap.

Selain kayu bayur, ada kayu-kayu jenis lain lain yang ditimbun di lokasi ini. Kayu-kayu yang ditimbun ini kemudian untuk diangkut ke Batavia yang ketika itu pusat kotanya berada di  wilayah Jakarta Kota. Kayu-kayu itu diangkut melalui Kali Krukut dan Kali Grogol dengan cara dihanyutkan.

Pada masa kompeni (begitu orang Indonesia menyebutnya) atau Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), Kebayoran Baru menjadi tempat pelarian para perampok dan penjahat dari Batavia. VOC dulu adalah kelompok perdagangan atau perusahaan perdagangan milik Belanda yang berkuasa di Indonesia.

Dalam perjalanannya, pada tahun tahun 1938 kawasan Kebayoran direncanakan akan dibangun sebuah lapangan terbang internasional. Namun rencana itu batal karena keburu perang dunia II.

Akhirnya dibangunlah kota satelit Kebayoran Baru, yang meliputi areal seluas 730 hektar. Kawasan ini direncanakan untuk menampung 100 ribu penduduk.  Mungkin kini, jumlah penduduk Kebayoran bisa berlipat-lipat dengan jumlah penduduk yang rencananya akan ditampung.

Pada tahun 1950-an, kawasan  Kebayoran Baru  terus berkembang. Namun meski terus berkembang, tetap saja sering disebut kampung udik. Penduduknya pun disebut sebagai orang udik.

Mahfum,  Kebayoran Baru dulu letaknya terpisah dari pusat Kota Jakarta, sekitar 8 kilometer ke arah selatan Batavia.

Saat itu, untuk masuk kawasan Kebayoran Baru, hanya ada dua jalan.  Pertama melalui Kebayoran Lama terus melalui  Jalan Kyai Maja atau melewati Manggarai dan masuk ke Jalan Wolter  Monginsidi yang becek.  Jalan Sudirman ketika itu belum ada.

Warga Jakarta dulu pasti berpikir seribu kali jika akan menuju kawasan Kebayoran Baru. Selain kawasan ini sepi, ada jagoan bernama Mat Item. Mereka takut dihadang Mat Item, jagoan Kebayoran Lama yang dikenal sangar.

Cerita tentang Kebayoran Baru juga mengalir lancar dari bibir Adolf Heuken, 79 tahun. Pastor Jesuit asal Jerman itu, mengatakan, Kebayoran Baru saat masa penjajahan Belanda merupakan kota satelit Batavia. “Kebayoran baru adalah tempat ruang terbuka hijau,” kata Adolf kepada VIVAnews.

Pada tahun 1963 fungsi dari Kebayoran Baru sebagai kota satelit masih dipertahankan. “Dulu tidak ada jalan dan perumahan di daerah itu, seperti Mampang, Warung Buncit dan Pejaten,” katanya. Semua lahannya masih ditumbuhi pepohonan.

Adolf mengatakan, pada masa pemerintahan Gubernur DKI Ali Sadikin, wilayah Kebayoran hingga Semanggi tidak diperbolehkan untuk mendirikan bangunan. Namun dalam perkembangannya makin banyak para pendatang dari luar Jakarta yang memenuhi wilayah Kebayoran.

Tentunya  makin banyaknya penduduk, memicu pembangunan pembangunan rumah yang begitu cepat. “Ini juga yang membuat harga tanahnya terus tinggi,” ujarnya.

Sebenarnya pada tahun 1950, Kebayoran Baru dirancang untuk ditempati 50 ribu orang saja. Tapi sekarang jumlahnya jauh melebihi itu. “Dulunya kota satelit tapi sekarang kota yang krodit.

***

Ada satu sebutan di wilayah Kebayoran Baru yang hingga kini masih dipertahankan. Biasanya, sebutan ini kerap dilontarkan kondektur bus saat akan memasuki wilayah Blok M. Sebutan itu tak lain adalah CSW.

Lalu bagaimana sejarah munculnya nama CSW ini?  Menurut Alwi Shahab, kata CSW adalah singkatan dari Centrale Stichting Wederopbouw. CSW adalah sebuah lembaga yang bertugas mengelola wilayah Kebayoran Baru.

Kebayoran Baru pada masa kembalinya Belanda  ke Tanah Air pada tahun 1948 dibentuk sebagai kota satelit Jakarta, yang ketika itu berpusat di sekitar wilayah Jakarta Kota. Nah untuk pengelolaannya ditugaskan kepada CSW.

Informasi lainnya menyebutkan CSW jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah Pusat Yayasan Rekonstruksi. Ketika itu CSW digunakan untuk penampungan truk-truk, mesin gilas, alat-alat berat, material, batu-batuan, aspal dan tempat tinggal pegawai golongan I atau tenaga juru karya.

Kantor CSW diresmikan pada 1 Juni 1948 yang lokasinya tak jauh dari Terminal Blok M sekarang ini. Kemudian pada 1 Januari 1952, CSW berganti nama jadi Pembangunan Chusus Kotabaru Kebayoran.

Sampai 1958 kawasan di Jakarta Selatan ini masih ditangani oleh Departemen Pekerjaaan Umum, bukan Pemda DKI. Namun kini penanganannya di bawah kendali Pemprov DKI Jakarta.

Pasar Baru. Salah satu tempat warga Jakarta betransaksi ini masih berdiri sejak jaman penjajahan hingga kini.

63260_pasar_baru_pada_tahun_1898_thumb_300_225Bermacam cerita muncul dari pasar yang kini menjadi pusat perdagangan sepatu dan pakaian.

Pasar ini dibangun pada masa penjajahan Belanda. Ketika itu Batavia -sebutan nama Jakarta di masa Hindia Belanda- dikepalai Gubernur Jenderal Daendels, sudah memiliki Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen.

Daendels pada tahun 1821 membuka sebuah sektor (semacam wilayah) baru. Sektor itu diberi nama Lapangan Gambir.

Sektor Lapangan Gambir dibuka setelah Gubernur Daendels telah membentuk pusat pemerintahan Hindi Belanda yang baru, daerah ini disebut Weltevreden ( tempat yang menyenangkan).

Kawasan ini berada di Lapangan Banteng dengan gedung pusat pemerintahan yang saat ini dipakai Departemen Keuangan.

Di sekitar Weltevreden telah ada pasar seperti Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen. Daendels saat itu perlu untuk membuat satu pasar lagi.

Dan untuk membedakan satu sama lain, Daendels menyebut pasar itu sebagai Pasar Baru artinya pasar yang baru dibangun.

Dalam perjalanannya, pada tahun 1928 perekonomian di Pasar Baru pernah mengalami kemerosotan yang drastis. Kerugian besar dialami para pedagang.

Bahkan, sekira 60 persen toko yang tidak mampu menahan resesi terpaksa ditutup. Karena sebagian besar dari mereka hanya menyewa, sehingga tidak dapat menahan resesi.

Ternyata, masyarakat Tionghoa yang menempati toko di Pasar Baru ketika tidak mempercayai kemerosotan ekonomi di Pasar Baru tidak semata akibat resesi.

Konon, setelah ditelisik ternyata yang menjadi masalah adalah adanya patung ayam di sebuah gereja yang terletak berdekatan dengan Pasar Baru.

Sebenarnya gereja yang dibangun antara tahun 1913-1915 itu sudah diberi nama Gereja Baru. Namun, karena ada patung ayam di atas menara petunjuk angin, masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Gereja Ayam.

Menurut Ketua Asosiasi Pedagang Retail Pasar Baru Burhanudin, pasar baru jika dilihat dari atas, berbentuk seperti kelabang.

Sejumlah gang di Pasar Baru seperti kaki kelabang dengan Pasar Baru sebagai tubuhnya. Dalam kepercayaan Cina, kelabang sangat takut dengan ayam.

Bahkan, binatang berkaki banyak itu salah satu menu utama hewan bersayap itu. Karena patung ayam itu berhadapan langsung dengan Pasar Baru, seakan siap menerkam kelabang.

“Akhirnya, orang-orang Cina sini memanggil pakar Feng Shui dari Cina,” kata Burhanudin.

Pakar Feng Shui yang didatangkan langsung dari Negeri Tirai Bambu itu ternyata membenarkan kemerosotan di pasar ini disebabkan adanya patung ayam itu.

Untuk mengatasi hal tersebut, sang pakar menyarankan agar segera dibuat patung burung Elang untuk menangkal kesialan di Pasar Baru.

Menurut pakar Feng Shui itu, ayam sangat takut dengan burung elang. Akhirnya, patung burung elang itu dipasang di atas Toko Populer yang kini milik Ayung, sapaan Burhanudin.

Ternyata, sang pakar tidak salah. Setelah patung burung Elang itu dipasang, Pasar Baru kembali berdenyut. Tepat tahun 1930 kembali pulih dan bergairah.

Pengunjung yang umumnya masyarakat menengah keatas kembali marak. “Ya boleh percaya, boleh juga tidak. Ceritanya begitu, karena orang Cina dulu sangat percaya dengan mitos,” katanya.

Ayung sendiri tidak memercayai mitos tersebut. Tapi menurutnya, cerita tersebut merupakan bagian dari sejarah perjalanan Pasar Baru yang mengalami perjalanan panjang sebagai bagian dari sejarah Kota Jakarta.

Gedung Putih itu kini menjelma sebagai kantor Menteri Keuangan.63911_gedung_depkeu_yang_dulu_sebagai_kantor_daendels_pada_1920_thumb_300_225

Bangunan kuno itu terlihat begitu kokoh. Pilar-pilar beton membuat bangunan itu semakin megah. Menempati lahan di sisi timur Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, bangunan itu menyeruak di antaranya gedung pencakar langit.

Dua gerbang raksasa menyambut di muka gedung. Di sela pagar, sebuah papan cetakan bertuliskan ‘Departemen Keuangan’ menempel. Adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang kini berkuasa penuh atas bangunan itu. Aktivitas pengolahan keuangan negara pun terus menggeliat di dalamnya.

Seperti dikutip situs Departemen Keuangan RI, gedung itu menjadi pusat kegiatan pengolahan keuangan sejak jaman penjajahan Belanda dan Jepang. “Bangunan ini masih seperti aslinya,” kata Sapardjo, satpam setempat yang bekerja sejak tahun 1970.

Gedung itu dibangun pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels tahun 1809. Rampung 29 tahun kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Du Bus.

Batu berukir ‘MDCCIX Ondidit Daendels MDCCCXXVII Erexit Du Bus’ yang ditempatkan di salah satu dinding mempertegas peran dua gubernur itu. Prasasti itu merupakan batu terakhir pembangunan Gedung Departemen Keuangan.

Gedung tiga lantai itu terbagi tiga bagian. Bagian utama berada ditengah  diapit dua bagian di sayap kanan dan kiri. Dua pintu utama berdiri di sayap kanan dan kiri. Pintu raksasa selebar 2 meter itu terbuat dari besi dengan ketebalan mencapai  10 sentimeter. “Kata beberapa senior saya, di sini juga ada penjara bawah tanah tepat di bawah ruangan biro umum lantai satu. Tapi penjara itu sudah ditutup dan tidak boleh ada orang yang masuk,” kata Sapardjo.

Semua bermula saat Daendels memindahkan pusat kota Batavia dari Pasar Ikan ke Weltevreden. Kawasan ini meliputi Jakarta Pusat saat ini dengan batas utara Postweg dan Schoolweg (Jalan Pos dan Jalan Dr Sutomo Pasar Baru), batas timur de Grote Zuidenweg (Gunung Sahari Pasar Senen), dan batas selatan Kramat Raya hingga Parapatan.

Anak revolusi Perancis itu menyulap kawasan yang semula rawa-rawa dan hutan menjadi kamp militer dan pusat pemerintah. Ia pun membangun sebuah istana megah sebagai pusat kegiatannya di Weltevreden.

Istana  yang diarsiteki Letnan Kolonel JC Schultze itu disebut Groote Huise (rumah besar). Istana yang juga dikenal sebagai het Witte Huis (Gedung Putih) itulah yang kini difungsikan menjadi Gedung Departemen Keuangan.

Seperti dikutip dari ‘Maria van Engels‘ karya Alwi Shahab, sebuah patung JP Coen, pendiri Batavia, didirikan di depan gedung putih itu sekitar tahun pada 1876. Namun patung itu dihancurkan pemerintah Jepang pada 1942 yang kala itu berkuasa setelah mengalahkan Belanda.

Selain Istana Gedung Putih, Daendels juga meninggalkan kisah di sejumlah bangunan Ibu Kota. Daendels berperan dalam pembangunan lapangan Monas yang dulu dikenal sebagai lapangan Gambir. Ia juga berjasa dalam pembangunan Lapangan Banteng (Waterlooplein) yang dulu difungsikan sebagai tempat latihan perang.

Sedangkan untuk hiburan, Daendels membangun gedung Concordia di kawasan Harmoni. Gedung itu menjadi tempat para elit Belanda berdansa sambil menenggak alkohol dan menghisap cerutu impor dari Belanda.

66682_salah_satu_sudut_kampung_kwitang_tahun_1905_thumb_300_225Cerita Kwitang tak hanya pada Tugu Tani setinggi kurang lebih sepuluh meter. Menyusuri kawasan Kwitang akan selalu dikenalkan dengan sebuah Tugu Tani yang menjadi petunjuknya. Tapi, cerita Kwitang tidak hanya pada tugu setinggi kurang lebih sepuluh meter.

Kwitang menurut ceritanya juga terkenal dengan seorang jagoan Betawi. Jagoan Betawi asal Kwitang ini menambah legenda para pesohor silat lainnya seperti Si Pitung atau Jampang yang melegenda hingga ke seluruh pelosok Jakarta.

Namun epik bukan dari sejumlah nama itu saja. Tak banyak orang yang mengetahui ternyata Kampung Kwitang juga memiliki pesilat tangguh yang tak kalah hebatnya. Dia adalah Kwk Tang Kiam.

Kwik Tang Kiam adalah seorang pesilat asal negeri Tiongkok. Kehebatan pemuda ini dalam ilmu bela diri membawa pengaruh bagi warga di kampung Kwitang.

“Dia memang sangat tersohor di kampung ini. Bahkan kata kakek saya, orang Betawi jaman dulu menyebut daerah ini sebagai kampung si Kwik Tang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang,” kata sesepuh Kwitang, Habib Abdul Rahman kepada VIVAnews, di kediamannya Jalan Kembang V No 50, Kwitang, Jakarta Pusat.

Kisah itu berawal pada abad 17 ketika seorang pengembara dari dataran Tiongkok, Kwik Tang Kiam menjejakkan kakinya di tanah Betawi.  Konon, Kwik Tang Kiam telah mengembara ke hampir seluruh pelosok daerah Indonesia.

Di salah satu kampung di Betawi pengembara yang juga pedagang obat-obatan tersebut menetap. Selain piawai dalam meracik obat-obatan, ia juga ahli dalam berolah silat.
Di daerah tempat ia menetap, Kwik Tang Kiam menurunkan ilmu silatnya kepada orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

“Banyak orang Betawi di sini yang jago silat, salah satunya Mat Zailani. Aliran silat di sini dikenal dengan sebuatan Si Ulung  (perpaduan antara kekuatan fisik dan kebatinan),” ungkap pria 67 tahun itu.

Memang kehebatan ilmu silat Kwik Tang Kiam diakui masyarakat Betawi saat itu. Silat yang diajarkannya menggunakan jurus-jurus ampuh mirip aliran Shaolin yang memadukan unsur tenaga, kekuatan fisik dan kecepatan.

Hal ini sangat berbeda dengan aliran silat Betawi yang lebih menonjolkan ilmu kebatinan. Walau demikian Kwik Tang Kiam mengakui kehebatan ilmu kebatinan silat Betawi.

“Konon sejak itulah Kwik Tang Kiam menetap di kampung ini, dan para sesepuh di sini banyak yang mengatakan dia akhirnya memeluk agama Islam,” paparnya.

Cerita lain Kwik Tang Kiam menyebutkan dia adalah seorang tuan tanah yang kaya. Hampir semua tanah yang terdapat di daerah tersebut adalah miliknya.

Saking luasnya tanah milik Kwik Tang kiam, orang Betawi menyebut kampungnye si Kwik Tang. Konon juga Kwik Tang memiliki seorang anak tunggal yang suka berjudi dan mabuk.

Setelah Kwik Tang Kiam meninggal dunia, anaknya yang suka berjudi dan mabuk Kwitang itu malah menjual semua tanah milik bapaknya kepada saudagar keturunan Arab.

Sejak itulah banyak keturunan Arab yang tinggal di Kampung Kwitang.

Selain silat, kampung Kwitang sejak tahun 1890 terkenal dengan sebuah perkumpulan majelis taklimnya. “Warga Betawi di Kwitang agama Islamnya cukup kuat, meskipun banyak warga Tionghoanya,” ujarnya.

Lain dulu, lain sekarang. Kini kehebatan para pesilat di kampung Kwitang nyaris tak terdengar.

Bagi masyarakat Jakarta kampung Kwitang selalu identik dengan para penjual buku-buku baru dan bekas, meskipun Pemerintah Provinsi DKI sudah merelokasi para pedagang buku di Kwitang ke Pasar Proyek Senen.

“Ya inilah wajah Kwitang saat ini, tapi jangan lupa anak-anak Kwitang masih jago kalau soal silat. Ente jual, ane beli,” selorohnya.

54938_makam_nyai_tubagus_ratih_nursiyah_thumb_300_225Di nisan batu itu terukir  nama “Nyai Tubagus Ratih Nursiyah.” Terletak di Jalan Kebagusan II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, makam ini terjepit sejumlah rumah mewah. Kediaman Megawati Soekarno Putri, Presiden RI ke-5, hanya sepelemparan batu dari sini.

Berkarpet rerumputan hijau yang tercukur rapi, area makam seluas 3×7 meter ini dibatasi dinding bercat putih setinggi hampir satu meter. Sebuah pohon kamboja dan sejumlah tanaman penuh dedaunan pun tumbuh subur di sekeliling nisan yang dipugar 11 Oktober 1999.

“Seminggu sekali lah saya yang membersihkan. Saya juga ikut bantu tenaga saat makam ini dipugar,” ujar Misdi, pria setengah baya yang biasa merawat makam itu.

Sekilas tidak ada yang istimewa dari bangunan makam tersebut. Hanya saja, makam yang dianggap keramat itu sering dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. “Terutama setiap malam Jumat atau hari Jumat,” ujar Asmawih, sesepuh Kebagusan saat ditemui VIVAnews di rumahnya.

Makam Ibu Bagus. Demikian masyarakat setempat akrab menyebut makam itu. Konon, dari makam itulah nama Kampung Kebagusan muncul. Kampung tempat Ibu Bagus pernah berdiam hingga akhir hayatnya.

Dari cerita beberapa sesepuh di Kebagusan, Ibu Bagus adalah puteri Kesultanan Banten yang begitu kesohor. Saking cantiknya, banyak pria yang mati-matian memperebutkan Ibu Bagus.  Bahkan, kecantikannya pula yang membuat hidup Ibu Bagus berakhir tragis.

Cerita yang diperoleh Asmawih dari leluhurnya, Ibu Bagus meninggal lantaran dibunuh pria pujaannya. “Biar sekalian tidak ada satupun yang mendapatkan Nyai,” ujarnya.

Versi lain menyebut, Ibu Bagus meninggal karena bunuh diri. “Bu Bagus bunuh diri karena ingin menyelamatkan setiap laki-laki yang saling membunuh karena ingin memperebutkannya,” ujar Sarmiji, sesepuh yang tinggal di Jalan Kebagusan III RT 2 RW 05.

Kisah kematian Ibu Bagus memang beragam. Sebelum meninggal, sesepuh Kebagusan yang akrab disapa Engkong Damat juga mewariskan kisah tentang Ibu Bagus. “Nyai memang dikenal cantik dan sakti. Apabila ada yang menginginkannya harus mengalahkan Nyai terlebih dahulu,” kata Achmad Sain merujuk cerita Engkong Damat.

Dalam perkembangannya, makam Ibu Bagus dianggap membawa keberuntungan bagi para peziarah yang memujanya. “Ketika jaman judi bola Tangerang lagi ngetren, pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Ali Sadikin, banyak orang dari berbagai daerah datang untuk mencari informasi nomor buntut. Bahkan ada yang sampai menginap di sana,” kenang Asmawih.

Hingga kini, tidak sedikit peziarah yang mendatangi makam Ibu Bagus untuk mencari wangsit. Sebagian besar dari mereka mengaku bosan hidup miskin, dan datang ke makam untuk meminta kekayaan. “Saya jelaskan, berdoa itu sama Allah, bukan meminta pada kuburan,” kata Asmawih yang pensiunan pegawai bank swasta.

Di tengah kisah yang kian sulit dibuktikan kebenarannya, makam Ibu Bagus berhasil memikat hati warga Kebagusan. Niat sejumlah pihak menggusur makam itu ke tempat pemakaman umum (TPU) selalu ditentang warga. Arwah Ibu Bagus pun abadi di Kampung Kebagusan.

Sudut Glodok, 1942

Menyusuri gang-gang di perkampungan Glodok, Jakarta Barat, aroma hio begitu menyengat. Dari balik tembok-tembok rumah, samar-samar terdengar alunan lagu Mandarin. Warung-warung dengan menu Chinnese food pun bertebaran.

Melangkah semakin dalam bak memasuki sebuah desa di negeri Tirai Bambu. Sejumlah shinse membuka praktek pengobatan alternatif. Kios-kios penjual pernak-pernik khas China menjamur di sekeliling klenteng.

Begitu kental karakter Tionghoa di kawasan tua Jakata ini. Tak heran, jika masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Pecinan atau Cina Town. “Sejak penjajahan dulu,hampir 100 persen yang tinggal di sini orang keturunan Cina,” ujar Ketua RW 02 Glodok, Wong Wan Hie (55).

Menilik sejarah yang tercatat di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, Glodok merupakan bekas area isolasi bagi warga Tionghoa di Batavia. Oleh Verenigde Oost Indie Compagnie (VOC), perkampungan itu dibangun pascapemberontakan etnis Cina di Batavia tahun 1740.

Setelah pemberontakan yang menewaskan 10 ribu warga Cina ditumpas Belanda, warga Cina tidak boleh lagi tinggal di dalam tembok kota Batavia. VOC lantas memerintahkan pendirian kampung khusus Cina di luar Batavia. Dipilihlah Glodok yang kala itu masih berupa hutan dan berada di luar kota Batavia.

Sejak terusir dari Batavia, warga Cina terkonsentrasi di kawasan yang awalnya tak bernama itu. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka membuat penampungan air dari kali Molenvliet (Ciliwung). Dari ketinggian sekitar 10 kaki, air dari penampungan itu kemudian dialirkan dengan pancuran kayu.

Terdengarlah bunyi “grojok, grojok, grojok, …” setiap kali warga mengambil air.  Lambat laun kata “grojok” kemudian biasa diucapkan warga dengan lafal cedal menjadi ”glodok”. Gara-gara itulah kawasan isolasi tersebut kemudian mulai dikenal dengan sebutan Glodok.

Minimnya literatur kuno membuat sejarah penamaan Glodok simpang siur. Ada pula yang meyakini nama Glodok berasal dari tangga yang menempel di tepian Kali Ciliwung. Dalam bahasa Sunda, tangga yang biasa digunakan warga untuk mengambil air kali itu disebut Glodok.

Sedangkan dalam buku yang diterbitkan Dinas Museum dan Sejarah DKI tahun 1988 menyebut kemungkinan nama Glodok berasal dari seorang warga Bali bernama Kapten Tjirra Glodok. Sayangnya, buku tersebut tidak menjelaskan detail hubungan sang kapten dengan kawasan yang kini kondang sebagai pusat perdagangan  elektronik.

Terlepas dari asal-usul penamaannya, Glodok kini tumbuh sebagai sentra bisnis yang diperhitungkan di Ibu Kota. “Umumnya orang Cina dari kecil dididik berdagang. Jadi kalau ada lahan di depan rumah dibuat lahan dagang,” kata Wan Hie.

Pernyataan Wan Hie seolah menjawab sejarah kemunculan pusat perdagangan di Glodok. Budaya berdagang yang diwariskan para leluhur masyarakat Cina sukses menggairahkan perekonimian di Glodok.