Skala Brak, Asal Muasal Orang Lampung

Posted: 7 Maret 2009 in BUDAYA NUSANTARA, BUDAYA SUMATRA, SUKU LAMPUNG
Tag:

Sekala Beghak, artinya tetesan yang mulia. Boleh jadi, kawasan ini dianggap sebagai kawasan tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang mulia pula. Sekala Beghak adalah kawasan di lereng Gunung Pesagi (2.262 m dpl), gunung tertinggi di Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung sekarang, Sekala Beghak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat kerajaannya di sekitar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit. Di Lereng Gunung Pesagi itulah diyakini sebagai pusat Kerajaan Sekala Beghak yang menjadi pula asal usul suku bangsa Lampung.

Pengelana Tiongkok, I Tsing, pernah menyinggahi tempat ini, dan ia menyebut daerah ini sebagai “To Lang Pohwang”. Kata To Lang Pohwang berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak ampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.

Asal-usul Orang-orang Sekala Beghak



Sekala Beghak, artinya tetesan yang mulia. Boleh jadi, kawasan ini dianggap sebagai kawasan tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang mulia pula. Sekala Beghak adalah kawasan di lereng Gunung Pesagi (2.262 m dpl), gunung tertinggi di Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung sekarang, Sekala Beghak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat kerajaannya di sekitar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit. Di Lereng Gunung Pesagi itulah diyakini sebagai pusat Kerajaan Sekala Beghak yang menjadi pula asal usul suku bangsa Lampung. Dari daerah ini, mereka menyebar melalui sungai-sungai, di antaranya Way Komering, Way Semangka, Way Sekampung, Way Seputih, Way Tulang Bawang, Way Umpu, Way Rarem, Way Besai dan sebagainya. Prasasti Bunuk Liwa menujuk angka 966 Saka (1074 M) menunjukkan adanya tata kehidupan zaman Hindu, yang memberi indikasi kuat bahwa di daerah tersebut pernah dikuasai oleh kerajaan Hindu, mungkin Sriwijaya.
Sekala Beghak sebagai asal muasal “orang Lampung” diindikasikan dari banyak penelitian yang menjelaskan soal ini. Kajian para ahli Barat, seperti Groenevelt, L.C. Westernenk, dan Hellfich, umumnya mengarah pada persamaan pernyataan bahwa Sekala Beghak adalah daerah asal suku bangsa Lampung.
Menurut sumber-sumber setempat, Sekala Beghak pada mulanya dihuni masayarakat Tumi, kemungkinan besar sebuah suku bangsa yang memiliki struktur atau bahkan merupakan sebuah kerajaan. Meski data arkeologis yang kuat belum terkomunikasikan secara luas kepada publik, namun kelanjutan dari tradisi pemasangan batu menhir pada era megalith atau zaman-zaman sesudahnya, pola hidup mereka kemungkinan animisme dan dinamisme. Dalam fase ini, memuja alam yang dianggap punya kekuatan lebih besar dan menguasai hidup manusia, merupakan ritual dan kebiasaan hidup.
Merunut pada sejarah Nusantara, animisme dan dinamisme sebagai sebuah sistem religi merupakan kepercayaan awal masyarakat Nusantara. Kemudian datangnya agama Hindu dan Budha, secara berangsur mengubah keyakinan masyarakat animisme-dinamisme menjadi beragama Hindu-Budha. Tidak jelas benar kapan masyarakat Tumi berubah menjadi Hindu, bila dikaji dari temuan Prasasti Bunuk Liwa yang menujuk angka 966 Saka (1074). Prasasti itu sendiri sering disebut indikasi kuat pengaruh Hindu. Namun apakah Kerajaan Sriwijaya yang Hindu memiliki pengaruh kekuasaan sampai ke suku Tumi, mengingat tahun ditulisnya Prasasti Bunuk Liwa itu sejaman dengan periode Kerajaan Sriwijaya. Bila Sriwijaya memiliki pengaruh ke suku Tumi, apakah sistem religi animisme-dinamisme ikut hilang seiring pergantian keyakinan menjadi Hindu, ataukah keyakinan lama masih tetap berjalan di samping keyakinan baru. Dan juga apakah suku Tumi yang mungkin juga sebuah kerajaan, merupakan kerajaan berdaulat, atau vasal dari Kerajaan Sriwijaya. Alhasil semua pertanyaan itu perlu dijawab dengan melakukan penelitian dan pengkajian lebih lanjut.
Situs lain yang berada di Skala Brak adalah Batu Kenyangan. Peninggalan tersebut terletak di tengah perkebunan kopi pada sebuah lereng bukit kaki Gunung Pesagi, di Hanibung Batubrak. Konon menurut kepercayaan lama di Sekala Beghak, batu-batu itu sebagai tanda kuburan tua “para dewa” yang khusus turun dari Kahyangan ke muka bumi. Sampai sekarang orang menyebut daerah itu sebagai Batu Kenyangan.
Istilah “Kenyangan” atau kayangan dan kata “Batu Beghak” (Batu Brak) memiliki nuansa makna. Kayangan bermakna tempat yang tinggi, tempat tinggal para “dewa” atau orang-orang mulia, sedangkan Batu Beghak bermakna sebagai batu mulia. Diyakini oleh masyarakat sekitar, bahwa orang-orang Kenyangan dan Batu Brak adalah keturunan orang-orang mulia. Orang mulia dalam pengertian Paksi Pak Skala Beghak adalah para penakluk, mujahid penyebar agama Islam, keturunan Iskandar Zulkarnain.

Batu Kenyangan

Batu Kenyangan yang terletak di lereng agak datar, merupakan batu andesit dengan permukaan selebar sekitar 2 x 2 meter dengan ujung melancip, tidak empat persegi panjang betul. Posisi keseluruhan agak miring 20 derajat. Di bawah batu yang cenderung melempeng dengan permukaan lebih lebar ketimbang bagian bawah yang menyentuh tanah, ada sejumlah bongkah-bongkah batu tertanam di tanah untuk menopang batu besar itu.

Jika dilihat dari permukaan dan posisinya, batu hitam itu kemungkinan dipergunakan sebagai tempat samadi atau bertapa. Letak situs ini dikelilingi jurang curam di bagian sisi bawahnya sedangkan ke arah atas tanah terus mendaki.
Permukaan batu itu tidak begitu rata dan di sana-sini terlihat jelas guratan-guratan mirip bekas tapak tangan. Gambar yang mirip bekas telapak tangan itu bukan hasil pahatan. Menurut keyakinan masyarakat Skala Beghak, gambar tersebut terjadi akibat kekuatan tangan yang pernah menekan permukaan batu itu. Tangan siapakah itu? Dan apa hubungannya dengan mitos manusia yang turun dari Kahyangan? Hal ini memerlukan kajian lebih jauh.

Mungkin juga, batu ini dulu berada di tengah pemakaman kuno karena di dekatnya terdapat satu batu berdiri tegak setinggi sekitar 1,25 meter dengan puncak sedikit lengkung hampir rata, yang kemungkinan tanda titik pemakaman.

Bisa jadi juga batu tersebut merupakan tempat persembahan bagi mereka yang duduk samadi di permukaan batu di dekatnya. Apakah ini sebuah menhir? Mungkin juga batu andesit/vulkanik itu digunakan untuk menaruh persembahan tertentu. Permukaan batu telah membentuk suatu susunan bintik cekungan kecil-kecil seperti titik-titik yang meliputi seluruh permukaan. Seakan termakan air dan angin serta terpanggang panas matahari. Meski demikian tak berlumut, tanda batu keras. Tak ada pahatan ataupun relief di dalamnya. Namun posisinya masih tampak kuat tertanam. Konon, menurut sejumlah warga, batu tegak seperti itu dahulu tidak hanya satu, lebih dari satu. Herannya, di sekitar tonggak batu tegak lurus ditemukan dari dalam tanah potongan batu-batu yang lebih lunak, diperkirakan batuan kapur, krast atau hasil endapan laut purba, bukan batu gunung api.
Memang, di belakang lempeng batu bertulis tapak tangan itu, berseberangan dengan tonggak batu tegak, juga terdapat sebuah batu andesit rendah dengan permukaan yang tidak rata dan kasar. Dilihat dari warnanya, tampaknya batu ini berbeda usia dengan batu yang lainnya. Tampak lebih muda meskipun sama-sama batu vulkanik.
Sangat mungkin kawasan peninggalan kuno ini bagian tak terpisahkan dari cerita Suku Tumi yang mendiami kawasan Sekala Beghak jauh sebelum para Umpu bertabliq di daerah tersebut. Diceritakan, masyarakat Tumi menyembah pohon besar yang dianggap sebagai “sesuatu yang menguasai hidup mereka”, berkekuatan Dewa. Pohon itu mereka sebut sebagai pohon Belasa Kepappang. Pohon Belasa Kepappang itu bercabang dua, satu cabang pohon nangka dan satunya pohon kayu sebukau. Getah sebukau konon sangat beracun, bila terkena kulit tubuh akan bisa menjadi luka mengoreng. Cara menyembuhkannya, dioles getah pohon nangka (cabang yang satunya).
Riwayat yang bisa dirunut dari kerajaan Sekala Beghak, ialah mulai masa kepemimpinan Mucabaok. Sepeninggal Mucabaok tahta kerajaan diserahkan pada putranya, Sangkan. Sedang raja terakhir pengganti Sangkan adalah Sekekhummong. Sekekhummong inilah yang secara gigih melakukan perlawanan terhadap dakwah Islam di bawah pimpinan Ratu Ngegalang Paksi dan keempat putranya.
Hasil pembacaan para ahli atas peninggalan di kawasan tersebut tampaknya perlu diperluas agar didapatkan pemahaman yang konkrit atas legenda Sekala Beghak dan cerita lisan epik para mujahid pendiri Paksi Pak Sekala Beghak.

Iklan
Komentar
  1. Iwan Mega berkata:

    Setahu saya sekala beghak itu berasal dari kata segara beghak, karena lidahnya orang lamapung jadi sekala beghak…nah segara itu berarti danau, beghak itu berarti luas jadi segara beghak = danau yg luas, menurut saya mengacu pada danau ranau…

    Suka

  2. Ahmad Kurnia berkata:

    Terimakasih atas tambahannya, tulisan ini juga karya dari raja Skala Brak, Tuan Raja Edward Syah Pernong, dapat anda lihat dari sumber tulisan, “http://buaypernong.blogspot.com. Terimakasih.

    Suka

  3. Addin berkata:

    SEKALA BEKHAK (Lampung Asli Buai Tumi yang mendiami Gunung Pesagi) ada hubungannya dengan nama lampung di babad jawa yang mana 3 orang bersaudara : SIJAWA RATU MAJAPAHIT, SIPASUNDAYANG RATU PAJAJARAN dan SILAMPUNG RATU BAKA.

    RATU BAKA (jawa : BOKO) disebutkan dari lampung, hal ini dimungkinkan kata BAKA sama dengan BAKHA (Lampung : Bekhak) yaitu sekala bekhak kuno / SAKALA BAKA.. Istana Ratu Baka merupakan istana WANGSA SAILENDRA.. Dimana kata SAILENDRA dari kata SILA = Gunung dan INDRA = Raja (Raja Gunung).. Dimana tidak ada satupun di kerajaan Indonesia ini mendirikan kerajaan (kelompok masyarakat yang tinggal) di Gunung kecuali di Lampung yaitu Buai Tumi yang beragama Hindu Birawa.. Diprasasti Bunuk Tenuakh disebutkan nama raja yang membuat prasasti yaitu SRI HARIDEWA.. Kata SRI banyak dipakai oleh Raja Keturunan SRIWIJAYA..

    Suka

  4. Addin berkata:

    Dalam cerita rakyat jawa penyebaran huruf jawi (Ha-Na-Ca-Ra-Ka) berhubungan dengan nama “AJI SAKA” yang berasal dari kerajaan SAKHA india. Sedangkan versi lain AJI SAKA berasal dari kerajaan Lampung.. Nama AJI SAKA juga ada di dalam cerita rakyat Lampung/Komering yang merupakan Raja di Keratuan Pemanggilan.. Namun dimungkinkan Nama AJI SAKA adalah nama gelar yaitu : AJI = Raja/Ratu, SAKA = SAKALA (SEKALA Bekhak)..

    Tidak dipungkiri bahasa lampung banyak kesamaan dengan bahasa jawa dan sunda terutama pada dalam bahasa Lampung Halus.. Seperti kata HAMPURA = NGA-LAMPURA = Mohon Maaf, IWAK = IWA = Ikan, AWI =AWI = Bambu, UYAH = UYAH = Garam, LUWIH = LUWIH = Kaya/lebih, WENGI = BINGI = Malam, KONCO = KANCA = Saudara dll..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s