Jejak Sang Mayor di Bandara Pertama

Posted: 26 Maret 2009 in KRONIK BUDAYA, Tempo doeloe
Tag:,

Namanya dipetik dari sebuah kamp yang berisi tentara berpangkat mayor64046_sebuah_restoran_di_bandara_kemayoran_pada_tahun_1955_thumb_300_225

Bandara Kemayoran sempat menjadi bandara internasional di Jakarta. Namanya tenggelam sejak peresmian Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma.

Makin menghilang lagi karena ditutup tahun 1985. Padahal Bandara Kemayoran menyimpan sejarah unik bagi perkembangan dunia dirgantara Indonesia.

Kawasan ini menjadi saksi bisu beroperasinya pesawat terbang baik sipil maupun militer mulai dari yang bermesin piston, turboprop dan sampai jet.

Nama kemayoran diambil karena banyaknya sang mayor yang tinggal di kawasan ini. “Sebelum dibangun lapangan terbang daerah ini belum punya nama,” kata salah satu sesepuh Kemayoran Haji Abdul Rasid, 76 tahun kepada VIVAnews.

“Hanya nama lokal saja seperti Kampung Utan, karena memang wilayah di sini dulunya hutan,” sambungnya.

Namun, setelah dibangun bandara oleh Belanda tahun 1929, dibuatlah camp-camp (asrama) di Jalan Garuda untuk para tentara Belanda. Di situlah ditempatkan tentara berpangkat mayor-mayor.

Ketika itu banyak orang pribumi dari luar misalnya Senen dan Kampung Melayu yang bekerja di sana. “Saat ditanyakan mau kemana. Mereka bilang mau ke rumah mayor, biar lebih enak dan singkat bilangnya Kemayoran,” ungkapnya.

Dari situlah nama Kemayoran menjadi populer. “Sejak itu kawasan bandara itu dinamakan Kemayoran,” ujar pria kelahiran 1933 itu.

Namun ada cerita lain soal sejarah Kemayoran. Nama kawasan biasa disebut Mayoran, seperti yang tercantum dalam Plakaatboek (Van der Chijs XIV:536), dan sebuah iklan pada Java Government Gazette 24 Februari 1816.

Kisah ini dimulai dengan keberadaan Isaac de Saint Martin. Pemilik tanah ini memiliki tanah yang sangat luas dan tersebar di beberapa tempat, antara lain di Bekasi, di Cinere (dahulu disebut Ci Kanyere) sebelah timur Sungai Krukut di Tegalangus dan di kawasan Ancol. Luas lahannya ribuan hektar.

Nama aslinya, adalah Isaac de I’ Ostale de Saint Martin, lahir tahun 1629 di Oleron, Bearn, Prancis.  Karena sesuatu sebab ia meninggalkan tanah airnya, dan membaktikan dirinya kepada VOC.

Pada tahun 1662 ia tercatat sudah berpangkat Letnan, ikut serta dalam peperangan di Cochin.  Dengan pangkat mayor ia terlibat dalam peperangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ketika VOC membantu Mataram menghadapi Pangeran Trunojoyo.

Pada Maret 1682 dia bersama Kapten Tack, ditugaskan untuk membantu Sultan Haji menghadapi ayahnya Sultan Ageng Tirtayasa.

Saat perang berlangsung, dia mulai merasa benci kepada Kapten Jonker, yang dianggapnya arogan.

Setelah perang itu selesai, dengan berbagai cara ia berusaha agar Jonker dikucilkan.  Dan ternyata usahanya berhasil. Karena merasa dikucilkan, Jonker akhirnya bangkit melawan VOC walupun gagal.

Bandara Kemayoran diresmikan sebagai lapangan terbang internasional pada tanggal 8 Juli 1940 dan dikelola oleh KNILM (Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappy) yang sekaligus menjadi kepanjangan tangan dari Maskapai KLM Belanda.

Proyek pembangunannya telah dimulai sejak enam tahun yang lalu oleh pemerintah Hindia Belanda.

“Tahun 1935 saya kena gusur, dulunya saya tinggal di dekat lapangan terbang atau terminal lama (tempat keberangkatan penumpang) Kemayoran,” kata kakek yang memiliki 19 cucu itu.

Sejak itulah dirinya bersama ayahnya harus pindah di daerah Utan Panjang hingga sekarang. Kemayoran adalah bandara komersil pertama yang dimiliki Indonesia.

Meskipun hanya pesawat Dakota (jenis pesawat kecil dengan daya angkut 60 orang) yang biasa mendarat di fasilitas ini. “Kebanyakan orang Belanda atau bangsawan yang bisa berpergian menggunakan pesawat saat itu,” paparnya.

Dia menjelaskan, tanggal 31 Maret 1985 ditetapkan sebagai tanggal berhenti beroperasinya Bandara Kemayoran. Kemayoran ditutup karena sudah dianggap tidak layak lagi sebagai bandar udara mengingat letaknya agak di tengah kota dan demi pembangunan wilayah Jakarta Utara.

Setelah ditutup, suasana masih tetap seperti sedia kala walau tanpa operasi dan aktivitas penerbangan.

Setelah resmi ditutup, area bandara Kemayoran seluas 454 hektar diambilalih oleh pemerintah dari Perum Angkasa Pura I, sebagai aset negara berdasarkan Perpu Nomor 31 tahun 1985.

Eks bandara Kemayoran dengan letaknya yang stategis menjadi rebutan bagi pengusaha properti dan kontraktor.

Sekarang ini di kawasan Kota Baru Kemayoran telah berdiri Mega Glodok Kemayoran, RS Mitra Kemayoran, Masjid Kemayoran, dan deretan apartemen seperti The View, Mediterenia Kemayoran, dan Puri Kemayoran.

Selain itu, perhelatan akbar juga digelar di sini seperti Pekan Raya Jakarta yang dibuka tiap tahun pada ulang tahun Jakarta selama sebulan.

Saat ini Abdul Rasid hanya bisa bernostalgia jika melihat menara pengawas dan terminal keberangkatan yang sampai saat ini masih berdiri kokoh di tengah-tengah himpitan gedung-gedung perkantoran dan perbelanjaan.

“Memang jejak sang Mayor hanya bisa diingat dengan adanya 2 bangunan itu,” tutupnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s