Menapaki Jejak Portugis di Jakarta

Posted: 26 Maret 2009 in KRONIK BUDAYA, Tempo doeloe
Tag:,

Masyarakat Tugu hidup harmonis dengan sentuhan budaya Portugis di Kampung Tugu.

62728_kawasan_semper__cilincing__jakarta__tahun_1909_thumb_300_225Masyarakat mengenalnya sebagai Kampung Tugu. Terletak di Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, kampung itu terkepung sejumlah bangunan industri. Pelabuhan Tanjung Priok hanya sekitar 4 kilometer arah Barat Laut dari sana.

Di kampung itu berdiam masyarakat Tugu. Mereka adalah keturunan Portugis yang mulai menghuni Kampung Tugu sejak 1661. “Kata Tugu diambil dari kata Portuguese,” kata Arthur Michiels, seorang warga Kampung Tugu kepada VIVAnews beberapa waktu lalu.

Cerita bermula ketika VOC berhasil merebut kota pelabuhan di Semenanjung Malaka dari tangan Portugis pada tahun 1641. Belanda membawa Portugis ke Indonesia sebagai tawanan perang. Para tawanan itu ditempatkan di kawasan Kampung Bandan.

Baru setelah 20 tahun menetap di Kampung Bandan, 23 keluarga atau sekitar 150 orang Tugu dimerdekakan dan dipindah ke Kampung Tugu. Oleh Belanda, mereka pun disebut sebagai De Mardijkers, yang artinya orang yang dimerdekakan.

Kala itu, Kampung Tugu masih berupa rawa-rawa yang terkenal sebagai sarang nyamuk malaria dan berbagai penyakit. Di sana, para Tugu bertahan hidup dengan berburu dan menangkap ikan.

Kehidupan masyarakat Tugu di Kampung Tugu pun berjalan sangat harmonis dengan sentuhan budaya Portugis. Bahkan hingga tahun 1940, mereka masih menggunakan bahasa Portugis dalam percakapan sehari-hari. “Kalau sekarang, warga Tugu diberi kursus bahasa Portugis gratis seminggu sekali dari sejumlah kedutaan asing yang berbahasa Portugis,”  kata Arthur.

Populasi masyarakat Tugu saat ini diperkirakan mencapai 1.200 orang. Hanya sekitar 600 orang yang kini masih berdiam di Kampung Tugu. Sekitar 100 orang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan sekitar 500 orang bermukim di Belanda. “Tahun 1950 banyak warga Tugu yang eksodus ke Papua, lalu migrasi ke Belanda lewat Suriname,” ujar Arthur.

Mereka yang yang masih berdiam di Kampung Tugu pun hidup harmonis dengan menjalankan sejumlah tradisi Portugis. Salah satunya adalah Rabo-rabo. Tradisi ini digelar setiap tahun baru, berupa silaturahmi antar keluarga. Satu keluarga datang ke keluarga yang lain, kemudian dua keluarga ini bersama-sama mendatangi keluarga lain. Demikian seterusnya hingga seluruh keluarga Tugu berkumpul di rumah keluarga tertua. “Sesuai sifat bangsa Portu yang suka pesta. Kami pun selalu mengisi setiap acara dengan lagu dan tarian,” Arthur menambahkan.

Gereja Tugu
Jejak Portugis juga masih terlihat jelas di Gereja Tugu. Gereja ini didirikan sekitar tahun 1678 oleh As Amelchior Leidecker. “Sekarang, tidak hanya masyarakat Tugu yang berdoa di sana. Warga non-Tugu pun banyak yang bergabung,” ujarnya.

Gereja ini masih berdiri tegak dengan bentuk aslinya meski telah beberapa kali mengalami renovasi. Bentuk bangunannya sangat sederhana. Dinding beton berwarna putih dengan kusen kayu jendela dan pintu bercat merah. Di bagian depan gereja terdapat kuburan. Konon, Leydecker juga dimakamkan di situ.

Komentar
  1. Johan Sopaheluwakan mengatakan:

    Nama tokoh tersebut Melchior Leydeckers.

  2. Ahmad Elqorni mengatakan:

    Thaks all, untuk informasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s