Meneropong Metamorfosis Hutan Gambir

Posted: 26 Maret 2009 in KRONIK BUDAYA, Tempo doeloe
Tag:,

64058_pasar_gambir__jakarta_pusat_tahun1922_thumb_300_225Deru lokomotif tak henti mengusik telinga. Bunyi berdecit gesekan rel dan hiruk pikuk manusia seakan tak pernah reda. Kebisingan itu jelas membangun harmonisasi khas sebuah stasiun kereta api. Gambir!

Siapa yang tak mengenal Gambir? Hampir seluruh penduduk Ibu Kota mengenal Gambir sebagai stasiun kereta api terbesar di Jakarta. Stasiun yang dibangun pada 1930-an ini melayani rute ke hampir seluruh kota besar di Jawa.

Awalnya, Gambir tak merujuk pada stasiun kereta api. Gambir justru merujuk pada pasar malam yang digelar untuk memperingati penobatan Ratu Belanda, Wilhelmina (nenek Ratu Beatrix). Wilhelmina dinobatkan sebagai ratu pada 31 Agustus 1898 silam.

Pasar Gambir ada sejak tahun 1920-an. Letaknya di sekitar Stasiun Kereta Api Gambir  atau lapangan Monumen Nasional.  “Di sebut Pasar Gambir karena konon banyak pohon gambir di kawasan ini,” kata sesepuh Gambir, Harsono, saat berbincang dengan VIVAnews beberapa pekan lalu.

Pohon gambir adalah sejenis tumbuhan bergetah, Uncaria Gambir,  yang biasa digunakan untuk menyirih. Kandungan katekin, bahan alami antioksidan, yang dimiliki tumbuhan ini juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat.

Dalam sejarahnya, Pasar Gambir merupakan salah satu pasar terkenal di Batavia pada zaman kolonial Belanda. Di pasar itulah berbaur berbagai lapisan masyarakat dari segala penjuru Batavia. Tak heran jika masyarakat kemudian mengidentikkan kawasan di sekitar pasar itu sebagai Gambir. Termasuk penamaan stasiun yang berjarak beberapa meter dari pasar itu.

Kini, selain dikenal sebagai nama stasiun kereta api, Gambir juga diabadikan sebagai sebuah kelurahan di Jakarta Pusat, yang menaungi stasiun tersebut.

Perkembangan Gambir tak lepas dari campur tangan Gubernur Willem Daendels yang berkuasa di Batavia 1808-1811. Di kawasan yang semula berupa rawa itu ia membangun pusat pemerintahan. Kawasan Weltevreden ia menyebutnya.

Kawasan Weltevreden meliputi Jakarta Pusat saat ini dengan batas utara Postweg dan Schoolweg (Jalan Pos dan Jalan Dr Sutomo Pasar Baru), batas timur de Grote Zuidenweg (Gunung Sahari Pasar Senen), dan batas selatan Kramat Raya hingga Parapatan.

Daendels membangun istana, rumah sakit, tangsi militer, dan pemukiman elit di kawasan itu. Sejumlah bangunan masih tersisa. Salah satunya, Istana Daendels yang kini dipakai sebagau gedung Departemen Keuangan. • VIVAnews 64057_stasiun_gambir_jakarta_pusat_1925_thumb_300_225

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s