Menyapa Gedung Putih Daendels

Posted: 26 Maret 2009 in KRONIK BUDAYA, Tempo doeloe
Tag:,

Gedung Putih itu kini menjelma sebagai kantor Menteri Keuangan.63911_gedung_depkeu_yang_dulu_sebagai_kantor_daendels_pada_1920_thumb_300_225

Bangunan kuno itu terlihat begitu kokoh. Pilar-pilar beton membuat bangunan itu semakin megah. Menempati lahan di sisi timur Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, bangunan itu menyeruak di antaranya gedung pencakar langit.

Dua gerbang raksasa menyambut di muka gedung. Di sela pagar, sebuah papan cetakan bertuliskan ‘Departemen Keuangan’ menempel. Adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang kini berkuasa penuh atas bangunan itu. Aktivitas pengolahan keuangan negara pun terus menggeliat di dalamnya.

Seperti dikutip situs Departemen Keuangan RI, gedung itu menjadi pusat kegiatan pengolahan keuangan sejak jaman penjajahan Belanda dan Jepang. “Bangunan ini masih seperti aslinya,” kata Sapardjo, satpam setempat yang bekerja sejak tahun 1970.

Gedung itu dibangun pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels tahun 1809. Rampung 29 tahun kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Du Bus.

Batu berukir ‘MDCCIX Ondidit Daendels MDCCCXXVII Erexit Du Bus’ yang ditempatkan di salah satu dinding mempertegas peran dua gubernur itu. Prasasti itu merupakan batu terakhir pembangunan Gedung Departemen Keuangan.

Gedung tiga lantai itu terbagi tiga bagian. Bagian utama berada ditengah  diapit dua bagian di sayap kanan dan kiri. Dua pintu utama berdiri di sayap kanan dan kiri. Pintu raksasa selebar 2 meter itu terbuat dari besi dengan ketebalan mencapai  10 sentimeter. “Kata beberapa senior saya, di sini juga ada penjara bawah tanah tepat di bawah ruangan biro umum lantai satu. Tapi penjara itu sudah ditutup dan tidak boleh ada orang yang masuk,” kata Sapardjo.

Semua bermula saat Daendels memindahkan pusat kota Batavia dari Pasar Ikan ke Weltevreden. Kawasan ini meliputi Jakarta Pusat saat ini dengan batas utara Postweg dan Schoolweg (Jalan Pos dan Jalan Dr Sutomo Pasar Baru), batas timur de Grote Zuidenweg (Gunung Sahari Pasar Senen), dan batas selatan Kramat Raya hingga Parapatan.

Anak revolusi Perancis itu menyulap kawasan yang semula rawa-rawa dan hutan menjadi kamp militer dan pusat pemerintah. Ia pun membangun sebuah istana megah sebagai pusat kegiatannya di Weltevreden.

Istana  yang diarsiteki Letnan Kolonel JC Schultze itu disebut Groote Huise (rumah besar). Istana yang juga dikenal sebagai het Witte Huis (Gedung Putih) itulah yang kini difungsikan menjadi Gedung Departemen Keuangan.

Seperti dikutip dari ‘Maria van Engels‘ karya Alwi Shahab, sebuah patung JP Coen, pendiri Batavia, didirikan di depan gedung putih itu sekitar tahun pada 1876. Namun patung itu dihancurkan pemerintah Jepang pada 1942 yang kala itu berkuasa setelah mengalahkan Belanda.

Selain Istana Gedung Putih, Daendels juga meninggalkan kisah di sejumlah bangunan Ibu Kota. Daendels berperan dalam pembangunan lapangan Monas yang dulu dikenal sebagai lapangan Gambir. Ia juga berjasa dalam pembangunan Lapangan Banteng (Waterlooplein) yang dulu difungsikan sebagai tempat latihan perang.

Sedangkan untuk hiburan, Daendels membangun gedung Concordia di kawasan Harmoni. Gedung itu menjadi tempat para elit Belanda berdansa sambil menenggak alkohol dan menghisap cerutu impor dari Belanda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s