Reinkarnasi metropolitan

Posted: 26 Maret 2009 in KRONIK BUDAYA, Tempo doeloe
Tag:,

67138_bioskop_megaria_thumb_300_225Jejak sejarah terkisah di sebuah bangunan kuno yang terletak di Jalan Diponogoro, Jakarta Pusat ini. Berbeda dengan bangunan bersejarah lainnya, bangunan ini memang mengkhususkan untuk tempat khusus pertunjukan film. Bioskop Megaria yang sekarang ini kembali berganti menggunakan nama lamanya, Metropole. Gedung ini mulai dibangun pada 11 Agustus 1949 dan rampung sekaligus mulai dioperasikan sebagai bioskop yang diberi nama Metropole pada tahun 1951. Menurut keterangan pedagang majalah yang sudah berjualan sejak tahun 1965, Hairul Salam, 50 tahun, sejak dibangun tempat ini langsung digunakan untuk bioskop. “Tidak ada bentuk bangunan yang berubah sampai sekarang,” katanya. Bangunan cukup monumental berarsitektur paduan gaya Art-Deco Tropis dan De Stijl dengan menara lancipnya yang khas ini berada di lokasi yang sangat strategis di sudut persimpangan dua jalan yang cukup ramai, yakni antara Jalan Cikini, Jalan Proklamasi (Pegangsaan Timur), dan Jalan Diponegoro yang kala itu bernama Oranje Boulevard. Berdasarkan catatan sejarah, bioskop Megaria merupakan hasil rancangan Johannes Martinus (Han) Groenewegen, arsitek Belanda kelahiran Den Haag tahun 1888 yang tinggal di Jakarta sampai dengan akhir hayatnya hingga tahun 1980. Saat-saat Metropole mulai beroperasi tahun 1951, bioskop ini memutar film produksi MGM (Metro Goldwyn Mayer), Amerika Serikat. Meskipun demikian, sekali-kali memutar film Indonesia. “Waktu saya berjualan di sini namanya sudah diganti dari Metropole menjadi Megaria, konon diganti jadi Megaria karena, Bung Karno (Presiden pertama Indonesia) ketika itu tak suka pada nama berbau Belanda itu,” ujarnya. Setelah bergabung dengan kelompok bioskop 21 pada tahun 1990-an, namanya diganti lagi menjadi Metropole 21. Akhirnya, sejak beberapa tahun silam, balik lagi memakai nama Megaria 21, dan tahun 2008 kembali lagi menjadi Metropole XXI. Hairul mengatakan penggantian nama Metropole menjadi Megaria terjadi beberapa kali. Setelah menjadi Megaria, diganti lagi menjadi Metropole, tetapi ditetapkan menjadi Megaria pada tahun 1960-an, sampai akhirnya mengunakan nama semula menjadi Metropole XXI. Pada dekade 1960 dan 1970-an, bioskop dengan kapasitas 1.500 penonton itu sempat menjadi salah satu yang terbaik dan bergengsi di Jakarta. Namun, setelah ruang bioskop dipecah-pecah menjadi empat teater kecil ala sinepleks kelompok bioskop 21, pamor Megaria malah merosot dan cuma jadi tujuan penonton film kelas dua Bagi Hairul, tidak ada perubahan mencolok ketika gedung bioskop sudah beberapa kali berganti nama. Hanya loket penjualan tiket yang dulu terletak di bagian luar kini menjadi tempat pijat refleksi. Tempat penjualan tiket kini terletak di bagian dalam. Di samping kanan bioskop, yang dulu berupa toko-toko tekstil, kini diisi barber shop, pedagang empek-empek, wartel dan rumah makan ayam kambali. Di sini juga terdapat kantor sekuriti Metropole, induk dari bioskop Megaria 21. Bagian belakang gedung bioskop, dekat tempat parkir kendaraan bermotor yang kini menjadi studio 5 dan 6, dimana dulunya adalah perumahan militer. Di sebelahnya terdapat Hero Super Market. Menurut keterangan, pemilik gedung bioskop Megaria, pada tahun 1970-an dan 1980-an, juga membangun Bioskop New Garden Hall yang kini berubah menjadi pertokoan Blok M Plaza. Gedung ini milik PT Bioskop Metropole, yang punya orang Semarang. Sampai sekarang pemiliknya masih sama. Meskipun sudah banyak biskop yang lebih modern, tidak membuat biskop yang berlokasi di pertigaan jalan antara Jalan Diponegoro dan Jalan Cikini Raya itu sepi dari pengunjung. Dinding-dinding bioskop yang menyejarah menjadi saksi bisu kenangan indah pencinta bioskop di masa lalu. Pada 1993, Gubernur DKI Jakarta melalui SK No. 475 menyatakan Bioskop Metropole sebagai Bangunan Cagar Budaya Kelas A yang dilindungi dan tak boleh dibongkar. Pada awal 2007, tersiar berita bahwa gedung bioskop ini akan dijual. Lahan dan bangunannya ditawarkan dengan harga Rp 15 juta per m² atau total sekitar Rp 151,099 miliar. Namun hal itu tenyata tidak menjadi kenyataan, bioskop Metropole XXI hingga kini masih berdiri megah meskipun sudah mengalami sejumlah pembaharuan. “Saat ini pengunjung memang tidak tahu nama Metropole, mereka pasti bilangnya Megaria, karena itu lebih populer,” katanya.

Komentar
  1. philbertphilander mengatakan:

    hantu dunia kejam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s