Upacara Adat Seren Taun ke 636 Kasepuhan Ciptagelar Banten Selatan

Posted: 13 April 2009 in BUDAYA JAWA-SUNDA, BUDAYA NUSANTARA, SUKU SUNDA
Tag:

Minggu pagi itu 8 Agustus 2004 hiruk pikuk masyarakat di Kampung Ciptagelar mulai terlihat. Berbagai persiapan untuk melaksanakan puncak upacara Seren Taun yang ke 636, upacara mulai dari pengiring tetabuhan, pembawa padi dengan rengkong yang dihias (pikulan), serta masyarakat adat dengan berbagai atributnya bersiap menuju lapangan tempat padi yang sudah selesai di jemur yang mereka sebut lantaian.

Upacara ini merupakan tradisi rutin yang dilaksanakan oleh masyarakat adat kasepuhan Banten Kidul secara simbolik yang saat ini terpusat di Kp. Ciptagelar, Desa Sirna Resmi, Kec. Cisolok, Sukabumi. Upacara dipimpin langsung oleh Abah Encup Sucipta yang bergelar Abah Anom Sesepuh adat Kasepuhan Banten Kidul yang ke 8. Adapun maksud diadakannya upacara ini adalah untuk menyampaikan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan hasil panen tahun ini. Seren Taun adalah salah satu rangkaian upacara ritual bercocok tanam padi. Sebagai masyarakat agraris yang menjunjung tinggi adat, di setiap awal dan akhir kegiatan harus dilakukan upacara-upacara yang tak lain untuk memohon dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Rangkaian upacara tersebut antara lain adalah:

1. Turun Nyambut,
upacara ini dilakukan untuk mengawali mempersiapkan lahan yang akan ditanami padi, membersihkan, mencangkul dan meratakan sawah hingga mempersiapkan bibit padi (tebar binih).

2. Ngasek,
upacara ini dilakukan untuk mulai tanam padi disawah.

3. Mipit,
upacara ini dilakukan mulai menuai padi dengan ani-ani (alat potong padi tradi-sionil.

4. Nganyaran,
menumbuk padi baru hasil panen dan memasak untuk dinikmati bersama- sama.

5. Seren Taun,
upacara syukuran selesainya ke-giatan panen padi dan menyimpannya ke dalam Leuit (lumbung)

Seremonial upacara diawali dengan do’a dilakukan bersama-sama di lokasi tempat menjemur padi di sawah kemudian dipikul oleh setiap orang dengan menggunakan rengkong yang mengeluarkan bunyi-bunyian dan dikawal oleh kelompok debus serta kelompok tetabuhan angklung (dok dok lojor) dan diiringi oleh masyarakat yang menggunakan pakaian adat. Padi dipikul dan diarak menuju halaman Bumi Ageng (Rumah besar) dimana terletak Leuit si Jimat (Lumbung Adat). Tiba di depan Leuit si Jimat, ritual do’a dipimpin oleh Abah dan Emak Anom untuk menyimpan padi kedalamnya.

Matahari tepat berada di atas kepala ketika acara seremonial selesai dilaksanakan dan kemudian dilanjutkan dengan acara Nyorean Alam Katukang jeung Nyawang anu bakal datang, Acara ini tak lain adalah menyampaikan laporan dan evaluasi tahunan dihadapan masyarakat tentang hasil panen, jumlah ternak, laporan keuangan juga pekerjaan yang sudah terlaksana seperti pembangunan akses jalan, pembangunan fasilitas pendidikan dll, Kemudian menyampaikan agenda yang harus dikerjakan dalam setahun mendatang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s