Malaysia negeri yang miskin budaya

Posted: 30 Agustus 2009 in BUDAYA MELAYU, BUDAYA NUSANTARA, BUDAYA SUMATRA
Tag:

Sejarahwan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari menilai perseteruan antara Indonesia dengan Malaysia tidak akan pernah bisa berakhir. Sebab, gesekan antara kedua belah pihak sudah terjadi sejak abad 15 dan dibukukan dalam pelajaran sejarah.

”Sampai kapan pun perseteruan ini akan sulit untuk didinginkan. Sebab sudah menjadi bagian dari sejarah sejak abad 15 lalu,” kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) Unimed itu kepada harian Seputar Indonesia (SI) di Medan kemarin.

Bahkan kata dia, jika dilihat dari buku pelajaran sejarah di sekolah, cerita tentang ganyang Malaysia yang populer di zaman Soekarno menjadi bagian dari sejarah bangsa. Begitu juga sebaliknya di Malaysia, dalam buku sejarahnya, Kerajaan Majapahit serta Gajah Mada digambarkan sebagai bangsa penindas dan perampok yang sangat biadab karena pernah menguasai sebagian wilayah mereka.

”Bahkan dalam dunia khayal mereka (Malaysia), Kerajaan Majapahit pernah mereka kalahkan,” ungkap Ichwan. Wajar menurutnya jika hingga abad 21 ini, perseteruan tetap berlangsung. Bahkan bukan hanya dari sisi budaya, tapi sampai pada persoalan politik dan pertahanan negara.

Namun lanjut Ichwan, ada hal yang perlu diluruskan bahwa dalam catatan sejarah, Malaysia bukan anti-Indonesia secara umum. Mereka hanya takut pada hegemoni etnis Jawa pada zaman dulu. Karena itu, dalam sastra Melayu klasik, kritik dan perang wacana sering dibangun Kerajaan Malaka (Malaysia) saat itu. Setiap sastra Melayu yang ada selalu menceritakan kalau etnis Jawa harus dilawan, karena sering melakukan penaklukan ke negeri lain.

Atas dasar itulah Malaysia lebih banyak mengklaim kebudayaan Jawa sebagai bagian dari heritage culture (warisan budaya) mereka. ”Jadi sebenarnya bukan Indonesia ingin mereka lawan, tapi etnis Jawa yang sempat menaklukkan Kerajaan Malaka,” ucap Ichwan.

Dia menambahkan, kedua Indonesia-Malaysia sebenarnya saling membutuhkan. Malaysia yang sangat bergantung pada tenaga kerja Indonesia dalam memajukan pembangunan mereka, terlebih setelah rakyat Malaysia tidak ada yang mau melakukan pekerjaan kasar selain TKI.
Sementara itu, pengamat kebudayaan dan pariwisata dari Universitas Sumatera Utara (USU) Gustanto menilai akan sebuah kondisi realitas kemiskinan kebudayaan yang dialami oleh Malaysia. Sehingga mereka berusaha mengklaim kebudayaan Indonesia merupakan bagian dari kebudayaan mereka atas nama kebudayaan nusantara.

Sebenarn ya kata Gustanto, apa yang ditunjukkan Malaysia sudah menjatuhkan martabat mereka sendiri dari sisi budaya. Karena tidak mampu menciptakan sebuah kebudayaan yang memiliki nilai eksotis di mata dunia. Namun di sisi lain, sangat disayangkan ketika pemerintah Indonesia tidak mampu menjaga hak cipta intelektualnya. Padahal kebudayaan merupakan seni yang tercipta melalui dunia ide dan tidak ternilai harganya.
”Satu sisi memang Malaysia menunjukkan kelemahannya dalam hal budaya. Di sisi lain Indonesia juga lemah dalam menjaga hak cipta intelektual yang tak ternilai harganya,” ujar Ketua Departemen D3 Pariwisata USU itu.
Kemiskinan budaya di Malaysia menurutnya bukan rahasia umum.

Beberapa tempat seperti Bukit Bintang dan Kuala Lumpur, umumnya justru memperdengarkan lagu-lagu Indonesia dalam pertunjukan musiknya.

Iklan
Komentar
  1. Pitra Jaya berkata:

    satu hal yang pasti, budaya tak pernah bertuan !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s