ETNIS SUKU CHINA : MAONAN

Posted: 30 Mei 2010 in BUDAYA CHINA, BUDAYA DUNIA, Ras/Suku
Tag:

Etnis minoritas Maonan berpenduduk 107.166, tinggal di bagian utara Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, terutama di daerah Maonan HuangJiang. Sebagai salah satu kelompok etnis di China yang tinggal di daerah pegunungan, Moanan memiliki populasi yang sangat kecil. Mereka menyebut diri mereka Anan, yang artinya “orang yang hidup di daerah ini”.

Komunitas Masyarakat Maonan hidup di daerah sub-tropis ditandai dengan iklim yang sejuk dan pemandangan yang indah, dengan bukit-bukit batu menonjol, di antara dataran yang rendah. Ada banyak sungai kecil yang dapat digunakan untuk mengairi sawah. Tanaman yang tahan akan kekeringan ditanam di daerah Gunung Dashi mana air adalah barang langka. Selain padi, tanaman pertanian termasuk jagung, gandum, ubi jalar, kedelai, kapas dan tembakau. Kawasan ini berlimpah sumber daya mineral seperti besi, mangan dan merkuri. Suku Maonan dikenal dengan keahlian dalam membesarkan sapi potong, yang dipasarkan di Shanghai, Guangzhou dan Hong Kong.

Suku Maonans dengan marga Tan mendominasi 80 persen dari populasi. Legenda mengatakan bahwa nenek moyang mereka sebelumnya tinggal di Propinsi Hunan, kemudian berimigrasi ke Guangxi dan menikahi perempuan lokal yang berbicara dengan dialek Maonan. Suku Maonan lainnya yang bermarga Lu, Meng, Wei dan Yan, mempunyai rumah leluhur di Shandong dan propinsi Fujian. Asal usul lain yang dipercaya, Maonan sebenarnya adalah kelompok etnis asli di Lingxi. Saat ini Lingxi telah berubah nama menjadi Guangxi. Meskipun populasi kecil, Maonans sudah dikenal sejak jaman dahulu.

Bahasa Maonan cabang dari Dong-Shui dari kelompok bahasa Zhuang dari keluarga bahasa Tibet-Cina. Hampir semua Maonans menguasai bahasa Han dan bahasa Zhuang karena sejak dahulu telah saling mengenal.

Sejarah dan Budaya

Daerah Maonan berkembang sangat lambat, dikarenakan tertindas penjajahan. Pada akhir Dinasti Ming (1368-1644), Maonans masih mengunakan cangkul dan bajak kayu. Berbagai peralatan besi digunakan pada saat Dinasti Qing (1644-1911), ketika tanah secara bertahap dibagikan dan adanya pembagian tingkatan kehidupan menjadi berbeda. Ada buruh tani yang tidak memiliki satu inci tanah, petani miskin yang memiliki sedikit tanah, petani menengah dan tuan tanah dan petani kaya yang memiliki jumlah tanah yang besar. Tuan tanah dan petani kaya dengan kejam mengeksploitasi buruh tani dan petani miskin dengan cara menyewakan tanah dan memungut riba. Banyak budak2 wanita dibeli oleh tuan tanah atau dipaksa karena hutang yang belum dibayar untuk melayani tuan tanah sepanjang hidup mereka.

The Maonans dengan nama keluarga dari marga-marga yang sama biasanya hidup bersama di desa kecil dengan hanya beberapa rumah tangga. Desa terbesar terdiri dari tidak lebih dari 100 rumah tangga. Rumah mereka dan pakaian pada dasarnya sama dengan Suku Han dan Zhuang. Rumah memiliki dua tingkat, lantai kedua digunakan sebagai tempat tinggal dan lantai dasar untuk ternak.

Makanan utama dari Maonans adalah beras dan jagung, kentang manis dan labu. Mereka juga menyukai tembakau, alkohol, teh dan cabai. Mereka memanen ubi jalar besar mengeringkannya di bawah sinar matahari dan meninggalkan di tempat terbuka pada malam hari menjadi basah kuyup oleh embun. Setelah itu pada hari ke 20 atau lebih, ubi jalar dikukus dan dinikmati sebagai salah satu makanan yang lezat.

Keluarga Maonan umumnya kecil dan monogami.  Di masa lalu, pernikahan semua diputuskan dan diatur oleh orang tua. Ada kebiasaan seperti “tidak tinggal di rumah keluarga suami,” dan apabila Kakak meninggal terlebih dahulu , adik laki-laki akan menikahi istri kakak, pernikahan kembali itu sangat terbatas.

Ketika seseorang meninggal, seorang pendeta Tao akan diundang untuk membaca kitab suci dalam prosesi pemakaman, anak dari orang yang meninggal akan “membeli air” di sungai atau di sumur untuk mencuci jenasah. Sebelum pemakaman, darah ayam disemprot ke kuburan untuk memberkati roh almarhum dan melindungi keturunannya.

The Maonans merayakan Festival Musim Semi, Zhongyuan Festival dan Pure Brightness Day, mirip dengan Suku Han dan Zhuang. Salah satu perayaan yang unik adalah Festival Fenglong, dirayakan dengan mengorbankan persembahan kepada Tuhan dan nenek moyang mereka dan berdoa untuk mendapatkan hasil panen yang baik. Para putra putri yang telah menikah dan kerabat yang tinggal di tempat lain kembali ke desa asal mereka untuk perayaan. Salah satu makanan khas pada perayaan ini adalah beras lima warna.

Di masa lalu, ada banyak hal yang ditabukan, seperti tidak bekerja pada hari raya festival. Setelah tahun 1949, perayaan pernikahan dan pemakaman disederhanakan, dan beberapa kepercayaan berdasarkan takhayul dihilangkan.

Menyanyi merupakan kegiatan yang disukai oleh Maonans. Selain itu, mereka juga menikmati “opera Maonan,” berdasarkan cerita rakyat dan legenda, menggambarkan hubungan cinta, perjuangan, suka dan duka kehidupan dan cerita2 rakyat jaman dahulu.

Hasil tenun dan ukiran Suku Maonan memiliki gaya yang unik. Hasil tenun yang terkenal adalah topi dan bambu dihiasi bunga. Tudung bambu terkenal dengan sebutan Dingkahua menjadi barang dagangan Maonan. Topeng kayu diukir dengan halus, keliatan seperti hidup dikerjakan dengan pekerjaan tangan yang indah. Batu diukir menjadi meja dengan hiasan dari naga dan phoenix, unicorn.

Didesa Nanmu wilayah Zhongnan, suku Maonan mahir menempa perak menjadi gelang, kalung, dan keahlian ini diwariskan turun temurun.

Suku Maonan dikenal dengan sopan santunnya dan ramah, memanggil setiap saudara dan saudari lainnya ketika mereka bertemu. Ketika tamu berkunjung, mereka menghibur mereka dengan menyuguhkan makanan yang terbaik.

Dari generasi ke generasi, Suku Maonan selalu tinggal di daerah pegunungan. Batu dipegunungan banyak digunakan mereka untuk membangun rumah. Batu digunakan untuk mendukung rumah mereka yang bertingkat. Batu ubin digunakan dihalaman rumah. Batu tambang digunakan untuk membangun fondasi dan dinding rumah, bahkan semua kusen pintu, meja, bangku, tempat tidur wadah air semua terbuat dari batu yang berukir.

Setelah revolusi pada tahun 1949, Suku Maonan kebanyakan menganut agama Buddha dan percaya aliran taoisme.

Referensi :

Photo by Chen Hai Wen

Travelguidechina.com

china.org.shaosuminchu

sumber2 lain etnis minoritas di China

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s