Seputar Nama

Posted: 6 September 2010 in BUDAYA JAWA-SUNDA, BUDAYA NUSANTARA, SUKU SUNDA
Tag:

Oleh Ajip Rosidi

Pada suatu pagi saya bertamu ke rumah seorang kawan baik. Kepada pembantu yang menjawab bel yang saya pijit, saya bertanya apakah tuan rumah sudah bangun. “Sudah,” katanya, lalu dia bertanya, “Bapak dari mana?”

Terhadap pertanyaan itu saya jawab dengan sebenarnya, “Dari Pabelan”, karena saya memang tinggal di desa Pabelan, Magelang. Lama si pembantu itu tidak juga keluar, sehingga saya terpaksa memijit bel sekali lagi.

Kali ini saya langsung berkata kepada pembantu yang tadi juga, “Tolong sampaikan kepada Pak Pirous, bahwa saya Ajip Rosidi mau bertemu.”

Kali ini tidak lama setelah dia masuk, pintu depan dibuka dan tuan rumah mempersilakan saya masuk. “Waktu tadi diberitahu bahwa ada tamu Pak Belan, saya bertanya-tanya dalam hati siapa dia karena rasanya saya tidak punya kenalan yang bernama Pak Belan,” kata Prof. A.D. Pirous sambil tertawa.

Sudah menjadi kebiasaan orang yang membukakan pintu kalau ada tamu belum dikenal (bukan hanya pembantu rumah saja) selalu mengajukan pertanyaan, “Bapak dari mana?” Padahal seharusnya bertanya “Bapak (atau Ibu) siapa?” Tetapi mengajukan pertanyaan demikian agaknya dalam budaya kita dirasa kurang sopan, sehingga diganti dengan pertanyaan “Bapak (atau Ibu) dari mana?”

Terhadap pertanyaan itu, si tamu sebaiknya menyebut namanya, jangan menyebut dari mana dia datang. Artinya jangan menjawab apa yang ditanyakan melainkan memberi keterangan tentang dirinya, yaitu menyebut nama atau posisinya.

Menyebut nama menurut kebiasaan lama kita memang dianggap kurang sopan. Dalam masyarakat Sunda misalnya kita tidak boleh menyebut nama orang tua (terutama ayah kita). Orang (Sunda) yang berani menyebut nama orang tuanya akan “hapa hui”. Entah apa maksud “hapa hui” (kalau menanam umbi tidak akan umbinya) itu tetapi dahulu orang Sunda memang tak berani menyebut nama orang tuanya, karena itu ketika Si Kabayan yang melabur diri dengan kapuk setelah membasahi badan dengan air tape ketan memanggil mertuanya yang laki-laki dengan namanya, tidak ada yang mengira bahwa dia Si Kabayan, melainkan dianggap sebagai karuhun yang menghuni pohon beringin saja. Karena mereka berpendapat bahwa Si Kabayan takkan mungkin berani menyebut nama mertuanya sendiri.

Akan tetapi, ketakutan atau lebih tepat tabu (pamali) menyebut nama orang tua agaknya tidak hanya terdapat dalam masyarakat Sunda. Dalam buku karya M. Kasim yang berjudul Muda Teruna (1922) diceritakan seorang anak yang merantau ketika menulis surat kepada ayahnya di kampung tidak berani menuliskan nama ayahnya sehingga pada alamat surat itu dia hanya menulis “Kepada Ayahanda di tepi kolam”.

Dalam masyarakat Sunda, ada pula keengganan menyebut nama sendiri karena khawatir dianggap “goong nabeuh maneh”, meskipun peribahasa tersebut lebih tepat dikenakan kepada orang yang membesar-besarkan diri atau perbuatannya sendiri. Sikap demikian niscaya berlainan dengan kebiasaan dalam masyarakat Jepang. Orang Jepang kalau berbicara di depan forum, paling dahulu menyebut namanya beserta lembaga atau organisasi tempatnya bergabung. Kalau berbicara di depan forum saya pertama-tama harus mengatakan “Osaka Gaidai no Ajip Rosidi des,” yaitu “Saya Ajip Rosidi orang Osaka Gaidai”, yaitu universitas tempat saya bekerja.

Kalau tidak berbuat begitu saya akan dianggap sombong, menganggap diri saya sudah pasti dikenal oleh semua peserta forum. Mungkin karena di Jepang tak ada gamelan maka gong pun tak ada, karena itu tak ada peribahasa yang bunyinya seperti “goong nabeuh maneh”.

Dalam masyarakat Sunda, pada saat memperkenalkan diri (biasanya kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya) orang akan menyebut namanya sendiri, tetapi akan enggan menanyakan nama orang yang diajaknya bicara (atau dirasa tak perlu karena dia sudah tahu). Pendeknya, menyebut nama, baik nama sendiri maupun nama orang lain, dalam masyarakat Sunda agak dihindari.

Dalam masyarakat Barat, tiap orang menyebut namanya ketika berkenalan dengan orang baru sambil berjabat tangan. Kebiasaan itu kita tiru juga. Di antara orang Inggris atau Amerika, penyebutan nama sendiri sambil berjabatan tangan itu biasanya dilanjutkan dengan pertanyaan “How to spell it?” karena dalam bahasa Inggris, berlainan dengan dalam bahasa Indonesia, setiap huruf bunyinya berlain-lainan, tergantung kepada posisinya dalam kata, tergantung pula dari huruf apa yang berada di depan dan di belakangnya. Kebiasaan itu sama juga dengan orang Jepang, karena umumnya nama mereka ditulis dengan huruf kanji, sedangkan huruf kanji meskipun sama bisa dibunyikan berbeda-beda, maka perlu ditanyakan huruf kanji yang mana yang digunakan untuk menulis namanya.

Hal demikian tidak perlu kita lakukan, karena bunyi huruf latin yang digunakan untuk menuliskan bahasa Indonesia tetap walaupun ditempatkan di mana saja dan diletakkan di antara huruf apa pun juga, sehingga kemungkinan salah tulis sangat kecil. Cuma belakangan ini, dalam undangan sering ada catatan kecil di bawah alamat, yang menyatakan minta maaf kalau-kalau ada kesalahan dalam menulis nama atau gelaran. Sekarang gelaran (kesarjanaan) seperti sudah menjadi bagian yang melekat pada nama. Tak peduli dalam urusan apa gelaran kesarjanaan harus disebut dengan tepat. Pernah terjadi seorang Dr. (doktor atau Ph.D.) merobek surat dari universitas yang memintanya mengajar di universitas tersebut, hanya karena namanya pada alamat surat itu ditulis Drs. (bukan Dr.).

Dalam undangan pernikahan juga, sering nama pengantin dan mempelai ditulis lengkap dengan gelar kesarjanaannya. Padahal bidang apa pun keahliannya apa urusannya dengan pernikahan? Apa hubungannya dengan menjadi suami atau isteri?**

Sumber : Catatan di FB Ajip Rosidi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s