Sejarah Jakarta dan Peradaban Melayu Betawi

Posted: 25 Maret 2011 in BUDAYA JAWA-SUNDA, BUDAYA NUSANTARA, SUKU BETAWI

“Mak, udik kita dimana sih?” “Wan, kita orang sini, gak punya udik.” Itulah cuplikan dialog yang masih lekat dalam ingatan seorang Ridwan Saidi, mengungkap proses pencarian identitas dirinya saat berusia enam tahun.

Dari proses itu dia yang oleh teman-teman dari ras la…in disebut sebagai orang Betawi kemudian melakukan pengamatan, penghayatan dan sekaligus menelusur untuk belajar budaya, tradisi dan adat istiadat Betawi.

Orang Betawi adalah komunitas suku yang dalam naskah-naskah abad XVI dan XVII disebut sebagai orang Melayu atau orang Melayu di Jawa. Dasar eksistensi sebuah kesatuan etnis adalah peradaban.

Tiap kesatuan etnis di Indonesia mestilah berafiliasi pada sebuah sistem peradaban masa lampau. Karena satuan komunitas tanpa afinitas cultural tentu sulit dikatakan sebagai sebuah suku bangsa.

Dari sini Ridwan Saidi menarik benang merah. Berdasarkan fakta sejarah dan pesilangan budaya yang berkembang, untuk membaca Indonesia masa lalu secara benar kita tidak bisa melepaskan Indonesia dari konteks pertarungan kekuasaan yang berlangsung puluhan abad di Asia barat dan Egypt.

Dalam epos Tjindur Mato ada seorang raja perempuan di Pagaruyuang yang berlokasi di kaki bukit Batu Patah. Dia dijuluki Bundo Kanduang. Aceh dimasa lampau pun pernah diperintah oleh tujuh Sultanah, raja perempuan.

Selain itu Kerajaan Kalingga pada abad VII M dipimpin Ratu Sima. Di Singosari juga ada perempuan yang sangat dihormati bernama Ken Dedes. Kemudian Majapahit di puncak kejayaannya dipimpin oleh Ratu Tribuwana Tunggadewi.

Dengan cara pengungkapannya sendiri kebudayaan Betawi juga mengenal preferensi terhadap perempuan. Dalam rumah dimana nenek tinggal bersama misalnya, persoalan keluarga lebih sering kata putusnya dari nenek. Kakek dalam konteks ini dianggap ‘gong time’, gong terbuat dari timah yang dipukul pun tidak bersuara.

Demikian juga untuk memimpin upacara ritual seperti nyadran dalam budaya Betawi diserahkan kepada perempuan. Tradisi mengutamakan perempuan itu tidak ada dalam tradisi oriental seperti Cina dan Jepang. Tidak ada juga di India, yang dengan Kama sutra-nya hanya menjadikan perempuan sebagai objek seks.

Maka penelusurannya hanya bisa dilacak dari tradisi keagamaan Egypt. Dalam tradisi keagamaan Egypt terdapat dewi Isis. Dia sangat dihormati karena melahirkan Horus, dewa yang tak kalah pamor dengan dewa-dewa lain di Egypt.

Tradisi keagamaan ini berkembang pada masa dinasti XIX atau sekitar abad XIII SM, dimasa Pharao Rameses II. Kekerabatan purba yang terjadi di Indonesia (khususnya Sumatera dan Jawa) memang bukan dengan bangsa-bangsa Polynesia saja, tapi juga dengan bangsa-bangsa maghribi khususnya Egypt dan dan Asia barat khususnya Jerussalem.

Migrasi orang Jerussalem terjadi setelah setelah pendudukan Jerussalem oleh Raja Babylonia pada abad VI SM. Migrasi berikutnya orang Israil terjadi pada abad III SM, tatkala Mesir ditaklukan Alexander the Great, yang di dunia Timur disebut Iskandar Zulkarnain.

Dia tokoh yang ditakuti sebagai sang penakluk. Para pendatang itu mengidentifikasi dirinya sebagai keturunan Iskandar Zulkarnain. Seperti diterangkan dalam tambo (pitutur Minang), mereka tidak langsung dari Tana Baso menuju Sumatera melainkan singgah di Alangkapuri.

Sangat mungkin mereka singgah dalam waktu lama, hingga terjadi percampuran budaya dengan penduduk setempat. Egypt di buku sejarah Indonesia memang tidak pernah menjadi penting.

Demikian juga bangsa-bangsa Polynesia yang tidak pernah mendapat tempat yang semestinya. Ilmu sejarah tidak berkembang, karena para sejarahwan dan arkeolog di sini mematok masa lalu sampai dengan kedatangan agama Budha dan Hindu saja.

Temuan yang berasal dari masa sebelum itu dikatakan sebagai berasal dari era pra sejarah. Akibatnya kerap terjadi inkonsistensi, seperti yang terkait dengan situs Batu Jaya sekarang ini. Para arkeolog yang bekerja untuk KemBudPar mengatakan bahwa situs yang berada di tengah persawahan perkampungan orang Betawi di desa Segaran, Batu Jaya, Karawang itu berasal paling sedikit dari abad II SM.

Anehnya mereka mengatakan bangunan itu dari Budha dan Hindu. Padahal Budha baru datang ke sini pada abad IV M dan Hindu pada masa sesudahnya. Lalu arkeolog bernama hasan Ja’far mengatakan situs ini dipengaruhi oleh kebudayaan Budha periode Nalanda.

Padahal Nalanda baru muncul pada abad IX M. Para arkeolog yang bertugas tidak menghiraukan adanya kerangka manusia dengan tinggi mencapai 172-175 cm dan Unur Serud (sebuah pemandian yang tidak terdapat dalam tradisi Hindu dan Budha melainkan Mesopotamia).

Mereka juga tidak menghiraukan adanya ragam hias pada unur Blandongan yang berbentuk crawl (lingkaran seperti obat nyamuk). Crawl adalah ragam hias Asia Barat dan Egypt yang bermakna enerji, yang tidak dikenal dalam tradisi Hindu dan Budha. Dari kerangka situs Batu Jaya yang digali, dinding makamnya diberi batu sesuai tradisi bangunan pemakaman di Egypt.

Kerangka dikubur celentang dan ada yang bertumpuk, tetapi penghadapan kerangka ke arah Jerussalem. Di samping kerangka terdapat gerabah dan semacam jimat-jimat. Ini dimaksudkan sebagai bekal kubur. Penemuan kerangka dengan bekal kubur juga terdapat dalam ekskavasi di tepi kali Ciliwung.

Ini terkait dengan persepsi masyarakat yang hidup dizaman pra Masehi, bahwa perjalanan setelah kematian itu memerlukan perbekalan. Hidup adalah pengamalan yang merupakan perwujudan budi pekerti yang baik. Pengamalan berangkat dari jiwa. Maka jiwalah yang harus disempurnakan, bukan wadag, kemasan, sistem dan kelembagaan teologis. Mungkin itu sebabnya salah satu unur di Batu Jaya disebut unur Jiwa. Kekerasan dijauhkan.

Sebaliknya perdamaian, kerukunan dan keteduhan yang dicari dalam kehidupan. Kepercayaan keagamaan penduduk Nusantara jika diukur dengan kedatangan bangsa-bangsa Polynesia tentu berakar lebih dalam lagi. Dapat diperkirakan kedatangan orang-orang dari Polynesia jauh lebih awal dari orang-orang Egypt dan Asia Barat. Lexicografi Maori banyak mengandung unsur spiritualistik, sebagian diserap dalam bahasa Melayu Betawi seperti ‘unur’.

Unur Blandongan sepertinya difungsikan sebagai ‘aben’, tempat duduk-duduk. Blandongan sendiri berasal dari bahasa Kawi yang artinya tempat menerima tamu. Ritual rutin dalam tradisi agama Egypt yang dilakukan pagi dan sore. Ini tidak beda dengan apa yang tampaknya dilakukan di Batu Jaya.

Unur lainnya adalah Serud, yang dalam bahasa Maori bermakna menutup pandangan. Bangunan seperti unur Serud hanya ada di Mesopotania. Ini adalah kolam pemandian yang arsitekturnya sudah water treatment. Sangat mungkin air itu diberi ramuan barus agar wangi. Tradisi pemandian di Batu Jaya memang tidak jelas dilakukan dalam rangka apa, tapi tentu saja ada kaitan dengan religi.

Dari uraian di atas sama sekali tidak ada petunjuk bahwa situs Batu Jaya didirikan untuk keperluan agama Budha atau Hindu. Sudah waktunya menurut Ridwan para sejarahwan dan arkeolog mengubah asumsi lapuk bahwa sejarah Indonesia dimulai dengan kedatangan agama Budha dan Hindu.

Fakta-fakta di lapangan menunjukkan, bahwa jauh sebelum agama Budha dan Hindu dilahirkan manusia Indonesia telah mengenal konsep ketuhanan yang monotheistik. Melalui buku “SEJARAH JAKARTA DAN PERADABAN MELAYU BETAWI” ini Ridwan Saidi juga berusaha meluruskan anggapan yang keliru tentang Sang Tagaril (si pembawa amarah), Fatahillah.

Ditegaskan, dalam profesinya sebagai soldier of fortune Fatahillah baru diulamakan setelah 350 tahun kewafatannya. Selama dua belas tahun menjadi penguasa pelabuhan Kalapa (1527-1539) Fatahillah tidak melakukan Islamisasi seperti anggapan para sejarahwan amatiran.

Islam yang sudah tersebar di Nusa kalapa adalah Islam yang dibawa orang-orang Champa yang mengerti peradaban Melayu yang terpengaruh gagasan keagamaan Egypt, Malayalam, dan malayo Polynesia. Mesjid Marunda yang diklaim didirikan oleh Fatahillah adalah kedustaan sejarah yang lainnya.

Mesjid itu dibangun pada paruh kedua abad XIX oleh seorang saudagar Bugis bernama H. Sapiudin. Nama H. Sapiudin menjadi terkenal karena rumahnya di Marunda pernah dijarah Si Pitung. Menurut sejarahwan belanda Mergriet van Tiel, Si Pitung beroperasi antara tahun 1886-1894. Fatahillah juga tidak membangun Kalapa.

Yang dilakukan bersama penerusnya Tubagus Angke dan Ahmad Jaketra hanya melakukan jualan kavling di utara pelabuhan kepada Inggris dan Belanda, yang oleh pemilik baru itu kemudian dijadikan loji dan benteng.

Dari situ jelas bahwa penyerangan pelabuhan Kalapa 1526/1527 sama sekali tidak mermotifkan Islam dan tidak bermotifkan anti kebo bule ( orang-orang Eropa). Motivasi yang ada semata-mata harta dan kekuasaan.

Sejarah adalah kekuatan untuk membangun bangsa jika dipahami dan dituturkan dengan benar. Sebaliknya sejarah akan merusak karakter dan kepribadian bangsa jika dituturkan secara tidak benar.

Itulah yang ditekankan Ridwan Saidi sebelum memaparkan juga sejarah perlawanan petani Batavia dan sekitarnya terhadap kolonial belanda, lanskap peradaban dalam budaya Betawi kini, dan peranan suku bangsa di era modern.

( © Resensi by Cici A.Ilyas, penulis Cerpen Betawi/Forum Kajian Budaya Betawi/Matar Kamal)

Sumber : http://www.pasulukanlokagandasasmita.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s