SEMANGAT BUSHIDO

Posted: 18 Juli 2013 in BUDAYA DUNIA, BUDAYA JEPANG

Pendidikan budaya adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang, dan pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan yang berakar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional Indonesi dimana dalam hal ini selain upaya pendidikan dari dalam seyogyanya kita pun menyerap pendidikan dari luar yang merupakan implementasi yaitu budaya hidup suatu kaum. 

Kondisi ini menunjukan adanya hubungan yang berarti antara penyelenggaraan pendidikan dengan kualitas pembangunan sumber daya manusia indonesia yang berkaitan dengan budaya, bahwa telah dinyatakan oleh Arnold Toynbee Bahwa ”Pendidikan adalah induk kandung kebudayaan suatu bangsa” maka apabila pendidikan suatu bangsa itu benar, benarlah seluruh kebudayaan kaum tersebut, meskipun masih ada faktor-faktor lain yang juga mempengaruhinya.

Melalui Restorasi Meiji angkatan perang Jepang dibangun secara modern, angkatan darat menerapkan strategi Jerman dan angkatan laut secara Inggris. Kementerian Pertahanan tidak bertanggung jawab kepada Parlemen tetapi kepada Tenno (Kaisar). Hal ini menjadikan kedudukan Kementerian Pertahanan sangat kuat dan menjadi menjadi Gunbatsu (pemerintahan diktator militer). Bersamaan dengan modernisasi angkatan perang muncul kembali semangat Bushido sebagai dasar jiwa ketentaraan yang melandasi pendidikan militer di jepang.

Definisi Bushido

“Bushi” berarti ksatria dan “Do” artinya jalan. Bushido dapat diartikan sebagai jalan kehormatan yang harus ditempuh oleh orang Jepang untuk menyempurnakan hidup. Bushido (武士道?), secara Harfiah “jalan prajurit”, adalah kata dalam bahasa Jepang untuk cara hidup samurai, cara hidup dengan konsep ksatria. Etimologisnya dari kata bushido Jepang, yang berasal dari Dinasti Zhou (1111-256 SM) (Zhang, dan Fan, 2003) [1] atau (1.818-221 SM) (de Bary, dan Bloom) Zhou Cina bi 周髀 (Cullen, 1996) [3] dan kata wushidao (武士道), berarti seorang prajurit terlatih dalam seni bela diri. Singkatan “wushi,” (武士) dibagi menjadi dua bagian, pertama istilah “wu” () menggambarkan orang yang kompeten dalam seni bela diri seperti Raja Wu, dengan jabatan kedua “shi,” () tentara. Kedua karakter bersama-sama (武士) berarti prajurit atau penjaga istana. Bagian terakhir dari kata, “dao” () [6] adalah sama dengan “melakukan” dalam bahasa Jepang, yang berarti “cara” (Dao, 2003) seperti seni bela diri Kendo Jepang (剣道) sehingga diartikan “jalan pedang”.   

Bushido (Kanji: 武士道 “tatacara ksatria”) juga diartikan adalah sebuah kode etik kepahlawanan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang. Samurai sendiri adalah sebuah strata sosial penting dalam tatanan masyarakat feodalisme Jepang. Secara resmi, Bushido dikumandangkan dalam bentuk etika sejak zaman Shogun Tokugawa.Makna bushido itu sendiri adalah sikap rela mati negara/kerajaan dan kaisar. Biasanya para samurai dan Shogun rela mempartaruhkan nyawa demi itu,jika ia gagal,ia akan melakukan seppuku (harakiri).

Bushido sudah dilakukan pada saat perang dunia II, yaitu menjadi prajurit berani mati.
Pemahaman Jepang kata tersebut didasarkan pada kode moral yang menekankan samurai berhemat, loyalitas, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati. Lahir dari Neo-Konfusianisme selama masa perdamaian di Tokugawa Jepang dan teks Konghucu, Bushido juga dipengaruhi oleh Shinto dan Zen Buddhisme, yang memungkinkan adanya kekerasan dari samurai yang akan marah dengan kebijaksanaan dan ketenangan. Bushido dikembangkan antara abad ke-9 dan ke-20 dan dokumen diterjemahkan banyak berasal dari 12 ke abad ke-16 menunjukkan pengaruh yang luas di seluruh Jepang, meskipun beberapa ahli telah mencatat “Bushido istilah itu sendiri jarang dibuktikan dalam sastra pramodern.”
Di bawah Keshogunan Tokugawa, aspek bushido menjadi diformalkan ke dalam hukum feodal Jepang. Menurut kamus bahasa Jepang Shogakukan Kokugo Daijiten, “Bushido didefinisikan sebagai suatu filsafat yang unik (ronri) yang menyebar melalui kelas prajurit dari periode (Chusei) Muromachi.”

Kata ini pertama kali digunakan di Jepang pada abad ke-17 [10] Itu datang ke dalam penggunaan umum di Jepang dan Barat setelah publikasi dari 1.899 Nitobe Inazo ini Bushido:.. The Soul of Japan

Dalam Bushido (1899), Inazo menulis:
“Bushido …, kemudian, adalah kaidah moral yang samurai diminta atau diperintahkan untuk mengamati …. Lebih sering itu adalah kode unuttered dan tidak tertulis …. Itu adalah pertumbuhan organik dari puluhan tahun dan berabad-abad dari karir militer”.
Nitobe bukanlah orang pertama yang mendokumentasikan ksatria Jepang dengan cara ini. Dalam teks nya Jepang feodal dan Modern (1896), sejarawan Arthur May Knapp menulis: “ samurai dari tiga puluh tahun yang lalu telah belakangnya seribu tahun pelatihan dalam hukum kehormatan, kepatuhan, tugas, dan pengorbanan diri”. Hal itu tidak diperlukan untuk membuat atau membangun mereka. Sebagai seorang anak ia punya tapi harus diinstruksikan, karena memang dia dari tahun-tahun awal, dalam etiket bakar diri. Prajurit Jepang harus memegang teguh ajaran Bushido, artinya ialah menginsyafi kedudukan masing-masing dalam hidup ini, mempertinggi derajat dan kecakapan diri, melatih diri lahir batin untuk menyempurnakan kecakapannya dalam ketentaraan, memegang teguh disiplin, serta menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan tanah air sampai titik darah terakhir.

Menurut ajaran Bushido, mati untuk Tenno adalah bentuk mati yang sempurna dan termulia. Bushido memberi kekuatan lahir batin yang tak terhingga kepada tentara Jepang pada khususnya dan rakyat Jepang pada umumnya. Bukti betapa kuatnya semangat Bushido Jepang dapat dilihat pada peristiwa berikut ini:

あ。Dalam Perang Rusia – Jepang (1905) sisa-sisa satu batalyon diasingkan sebagai pengecut karena semua opsirnya gugur, namun anak buahnya tidak mengikuti jejak opsir-opsirnya, mereka tidak semua ikut mati. Sisa-sisanya kemudian ingin melakukan “harakiri” (bunuh diri), tetapi tidak diizinkan oleh Jenderal Nogi. Mereka kemudian ingin menggabungkan diri pada divisi yang dipimpin Jenderal Nogi untuk menebus dosanya, namun ditolak karena Nogi tidak mau divisinya dikotori oleh mereka. Akhirnya di depan mata Nogi mereka harus berjibaku pada benteng-benteng Rusia di Port Arthur.

い。Dalam Perang Dunia II tentara Amerika Serikat menghadapi Bushido Jepang. Di Iwojima semua tentara Jepang gugur, tetapi AS juga kehilangan 35.000 prajurit terbaik. Iwojima hingga sekarang masih menjadi kenangan yang ngeri bagi AS.

う。Setelah Jepang menyerah, Kaisar tunduk pada tuntutan demokrasi Mac Arthur. Jepang tunduk karena Kaisar tunduk. Setelah Jepang terlepas dari kekangan AS (Perjanjian San Fransisco) Jepang pun kembali pada Ko-do (jalan Tenno). Tunduk dan berdisiplin pada Tenno adalah ajaran Bushido.

Bahwa bushido adalah sebuah asal hasil dari sebuah doktrin kaisarisme yang berabad-abad lamanya,Bushido terdiri dari kata bushi (ksatria atau prajurit) dan do (jalan). Bushido atau ’jalan ksatria’ merupakan sebuah sistem etika atau aturan moral keksatriaan yang berlaku di kalangan samurai  khususnya di zaman feodal Jepang (Abad 12-19). Makna bushido secara umum adalah sikap rela mati negara/kerajaan dan kaisar). Pada zaman feodal itu, pengelompokan dalam masyarakat amat ketat dijalankan, dimana bushi/samurai menempati posisi tertinggi. Mereka sangat disegani dan ditakuti oleh masyarakat, terlebih pada zaman Tokugawa, saat diterapkannya politik sakoku (penutupan diri) dari dunia luar. Saat itulah secara resmi Bushido disusun dalam bentuk etika, diterapkan dengan ketat, dan diajarkan pada masyarakat. Kode etik Bushido mengendalikan setiap aspek kehidupan para samurai. Petunjuk utama para samurai dalam hukum tersebut adalah mereka harus mengembangkan keahlian olah pedang dan berbagai senjata lain, berpakaian dan berperilaku secara khusus, dan mempersiapkan kematian yang bisa terjadi sewaktu-waktu ketika melayani tuannya. Mereka mengabdikan kesetiaan itu sebagai standar moral tinggi untuk semua tindakan dalam kehidupan. Bushido tercermin pada saat perang dunia II, yaitu menjadi prajurit berani mati. Semangat bushido terus menyertai perjalanan bangsa Jepang dari masa ke masa sehingga akhirnya Jepang berhasil bangkit dari keterpurukan Perang Dunia II dan kemudian muncul sebagai raksasa ekonomi.  Meski perubahan besar-besaran terjadi pada masa Meiji ketika begitu banyak generasi Jepang dikirim ke Amerika dan Eropa, nilai-nilai ini tetap dianut sebagian besar orang Jepang karena sudah terinternalisasi dalam masyarakat secara kuat melalui proses selama ratusan tahun

Seven virtues of Bushidō

KodeBushidodilambangkan dengantujuhkebajikan:

KESIMPULAN

Dalam hal ini semangat Bushido jepang merupakan tonggak ukur sejarah yang merupakan hal yang fundamental dalam kemajuan Jepang, sehingga apabila kita sebagai bangsa Indonesia mampu memiliki jiwa hingga sanggup mati demi negara maka itulah semangat cinta tanah air.

Bukan hanya saja dalam hal peperangan, maka seyogyanya kita pun dalam bidang pendidikan harus rela berkorban besar yang sama dengan Bushido, seperti hal yang pernah dikatakan oleh seseorang yang sangat memotivasi “Orang seperti saya walaupun miskin harta tetapi kaya akan semangat”, maka begitulah jiwa seorang jalan samurai. Rela mati mempertahankan semangat yang takkan pernah padam.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tuanguru.com/2012/08/semangat-bushido-jepang.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Bushido

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s