Archive for the ‘SUKU MINANG’ Category

 

 

bundokanduangIstilah suku pada suku Minangkabau agak membingungkan bagi etnis lain di luar suku Minangkabau. Ada yang mengartikannya sebagai suku atau etnis, tapi ada juga yang mengartikan istilah suku pada suku Minang berarti marga seperti pada suku Batak, Ambon, Toraja dan Minahasa. Bagi orang Minangkabau, istilah suku, berarti kira-kira seperti sub-klan atau bisa juga sebagai marga atau nama keluarga. Ada segelintir masyarakat Minangkabau beranggapan apabila memakai nama suku atau marga, akan menghilangkan identitas Minang-nya, karena meniru-niru kebiasaan orang Batak yang memakai marga di belakang namanya. Tetapi tidak sedikit juga orang Minang yang malah bangga memakai nama suku atau marga di belakang nama, karena justru menampilkan identitas asli Minang-nya. Pro-kontra ini terus terjadi, tetapi bagaimanapun juga tergantung pilihan masing-masing, mau pakai marga boleh, tidak pakai marga juga sah-sah saja.
Untuk aturan suku (marga) pada orang minangkabau adalah menganut cara matrilineal, yaitu marga diturunkan berdasarkan marga sang ibu, tidak patrilineal seperti aturan marga pada suku Batak atau suku-suku lain di Indonesia. Satu hal yang masih tetap terjaga pada masyarakat Minangkabau, adalah sesama satu suku (marga) tidak diperkenankan untuk saling kawin mawin (menikah).

Marga pada suku Minangkabau

  • Andomo Koto
  • Balaimansiang
  • Banuampu
  • Banuhampu
  • Bariang
  • Bejo
  • Bendang
  • Bodi
  • Caniago
  • Dalimo
  • Dalimo
  • Guci
  • Jambak
  • Kalumpang
  • Kampai
  • Koto
  • Kutianyie
  • Kutianyir
  • Lamu
  • Lubuk Batang
  • Malayu
  • Mandahiling
  • Mandailiang
  • Mandaliko
  • Mansiang
  • Pagacancang
  • Pagar Tanjung
  • Panai
  • Panyalai
  • Pataping
  • Payobada
  • Penago
  • Piboda
  • Piliang
  • Pisang
  • Pitopang
  • Pitopang
  • Rajo Dani
  • Salayan
  • Salo
  • Salo
  • Sikumbang
  • Simabua
  • Simabur
  • Sinapa
  • Singkuang
  • Singkuang
  • Sipanjang
  • Sipisang
  • Sumagek
  • Sumagek
  • Sumpadang
  • Sungai Napa
  • Supanjang
  • Tanjung
  • Tigo Lareh
  • Tubu
Marga suku Minang di Negeri Sembilan Malaysia
  • Anak Acheh
  • Anak Melaka
  • Batu Belang
  • Batu Hampar (Tompar)
  • Biduanda (Dondo)
  • Mungkal
  • Paya Kumbuh (Payo Kumboh)
  • Seri Lemak (Solomak)
  • Seri Melenggang (Somolenggang)
  • Tanah Datar, di Negeri Sembilan
  • Tiga Batu, di Negeri Sembilan
  • Tiga Nenek, di Negeri Sembilan

 

Iklan
Girls clad in traditional Minang costumes

Image via Wikipedia

Hari kemarin aku mengikuti pernikahan keponakanku dari isteri yang asli Minang dengan latar khas rumah gadang yang didominasi warna kuning keemasan dan penataan khas taman dengan gafura berbunga melati dan pajangan potret romantis pengantin yang diambil dari pre wedding dengan diawali ijab kabul dan kemudian ada sungkeman terhadap kedua orang tua dan ninik mamak disertai alunan menyedihkan saluang yang membuat siapapun terharu dan kemudian sejenak berdandan pakaian khas awak dengan warna kuning mendominasi gaun pengantin serta mengiring pengantin dengan pakaian cantik pengantin wanita dengan suntingan khas dengan irringan Tambur kemudian  disambut tarian dan silek khas minang…ranca banak…

Dalam adat Minangkabau, pernikahan merupakan salah satu masa peralihan yang sangat berarti karena merupakan permulaan masa seseorang melepaskan diri dari kelompok keluarganya untuk membentuk kelompok kecil milik mereka sendiri. Karena itu peristiwa pernikahan sangatlah penting bagi siklus kehidupan seseorang.

Kalau kita urutkan ketika aku melihat kekhasan perkawinan keponakanku itu mulai dari pelaminan yang khas, gaun pengantin, sunting dan alat musik pengring seperti talempong, saluang dan tambur.

Pelaminan Pengantin.

Untuk pelaminannya sendiri biasanya ber tema pelaminan bagonjong (Pelaminan dengan hiasan tanduk) dan Pelaminan biasa.biasanya ukuran yang disesuaikan dengan tempat diadakannya pesta pernikahan bahkan dapat menutupi dinding sepanjang 20 meter bila pesta diadakan disebuah gedung yang luas dengan dekorasi khas minangkabau dengan bantal gadang, bantal kopek, guling dan tabia dan tirai (yang dipasang dilangit-langit) yang keseluruhan bahan bersulam benang emas penuh dengan motif pahat minangkabau yang khas.

Dengan penambahan atribut-atribut lain, seperti payung kuning, dulang-dulang, badalamak dan penambahan bilik-bilik di sebelah kiri kanan maupun pembuatan gonjong-gonjong seperti atap rumah gadang Minangkabau diatasnya, menambah kemewahan dari pelaminan khas minangkabau yang kami sajikan.

Pakaian Pengantin

Keindahan busana marapulai dan anak daro beserta atribut yang melengkapi kedua mempelai minang tidak perlu diragukan lagi. Taburan aura keemasan menyelimuti keseluruhan penampilan mempelai dengan sulaman emas pada baju kedua pengantin dan kain songket bertabur emas yang berornamen khas.

Pakaian pengantin berwarna hitam yang dilengkapi tanduk belenggek merupakan pakaian khas bundo kanduang yang menunjukan derajat kebangsawanan suatu keluarga.

Baju kurung panjang dan kain sarung balapak merupakan busana anak daro pada umumnya. Yang membedakan adalah hiasan pada kepala dan aksesoris pendukung lainnya

Busana pengantin  biasanya berwarna adat Minangkabau yaitu merah, hitam dan kuning karena warna tersebut sarat simbolik bagi masyarakat minang. Pada setiap ritual adat, warna ini selalu ada, baik dalam ornamen ataupun busananya.

Selain menyediakan sunting yang secara umum di gunakan untuk melengkapi kecantikan mempelai wanita diseluruh Sumatra Barat, seperti Tanduk belenggek dan tengkuluk talakuang yang khas Minangkabau.

Tanduk Belenggek ini terdiri dari 2 tingkat, yang pertama merupakan tanduk dari kain bersulam benang emas yang diatasnya dihias dengan tanduk emas atau dikenal dengan tengkuluk ameh.

Sunting

Sunting adalah salah satu bentuk hiasan kepala anak daro. Sunting yang dipakai secara umum sekarang biasa disebut sunting gadang. Nama ini untuk membedakan dengan sunting ketek yang biasa dipakai oleh pendamping pengantin yang disebut pasumandan.

Perbedaan dari sunting gadang dan sunting ketek adalah jumlah tingkat dari penyusunan hiasan di kepala. Jumlah tinggkat kembang goyang sunting pada pengantin wanita minang ini biasanya berjumlah ganjil. Jumlah tingkat sunting yang paling tinggi adalah sebelas tingkat sedang yang paling rendah tujuh tingkat.

Ada empat jenis hiasan yang disusun membentuk sunting pada hiasan kepala pengantin minang ini. Lapisan yang paling bawah adalah deretan bungo sarunai. 3-5 lapis bungo sarunai ini membentuk dasar bagi sunting minang. Kemudian diletakkan deretan bunga gadang sebanyak 3 – 5 lapis. Hiasan yang paling atas adalah kambang goyang. Sedangkan hiasan sunting yang jatuh di pipi kanan dan pipi kiri pengantin minang ini disebut kote-kote

Talempong

Alat musik tradisional Minangkabau “talempong” sebagai musik pengiring tari-tarian dan sebagai musik penghibur selama pesta perkawinan berlangsung. Musik ada yang terbuat dari kuningan dan ada pula dari kayu dan batu. Talempong berbentuk bundar pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat tangga nada (berbeda-beda). Musik talempong akan berbunyi jika dipukul oleh sepasang kayu.

Talempong (wikipedia) adalah sebuah alat musik pukul tradisional khas suku Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan.

Talempong berbentuk lingkaran dengan diameter 15 sampai 17,5 sentimeter, pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda. Bunyinya dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.

Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, seperti Tari Piring yang khas, Tari Pasambahan, dan Tari Gelombang. Talempong juga digunakan untuk melantunkan musik menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian dimulai dengan tangga nada do dan diakhiri dengan si.[rujukan?] Talempong diiringi oleh akord yang cara memainkanya serupa dengan memainkan piano.

Ada istilah lain dikenal dengan  “Talempong Gondang Oguang” dalam bahasa indonesia dapat diartikan seperti Talempong Gondang Oguang atau Talempong Gendang dan Gong. kesenian ini berkembang di Nagari Sialang – Payakumbuah – Lima Puluh Kota. kesenian Talempong Gondang Oguang dikenal dengan teknik permainannnya yang cukup rumit dengan kata lain kesenian ini memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi dari kesenian talempong lainya yang ada di Minangkabau. Selain itu Talempong Gondang Oguang juga dikenal karena fungsi pemersatunya, yang mana alat – alat musik  dari kesatuan kesenian ini (6Talempong, 2gendang, 2gong/oguang) disimpan oleh suku yang berbeda-beda. Maka untuk melakukan pertunjukan ini, pelaku (orang/kelompok yang akan melakukan pertunjukan talempong gondang oguang) haruslah memiliki hubungan baik dengan setiap suku dinagari tersebut.

Tari Gelombang

Untuk menyambut kedatangan kedua mempelai di singgasananya, disajikan pula tari gelombang dan tari piring. Dan sebuah tari tradisional lainnya sebagai penghibur, biasanya di pilih tari payung.

Tari Payung dipercayai sebagai tarian yang menggambarkan kehidupan pengantin baru. Syair pada lagu ‘Berbendi-bendi ke sungai Tanang’, mengisyaratkan pasangan yang baru menikah pergi mandi ke kolam yang dinamai sungai Tanang yang merupakan cerminan dari masa berbulan madu. Payung yang digunakan dalam tarian ini melambangkan peranan suami sebagai pelindung istri.

Silek

Silek adalah nama Minangkabau buat seni beladiri yang ditempat lain dikenal dengan Silat. Sistem matrilineal yang dianut membuat anak laki-laki setelah akil balik harus tinggal di surau dan silat adalah salah satu dasar pendidikan penting yang harus dipelajari oleh anak laki-laki disamping pendidikan agama islam. Silek merupakan unsur penting dalam tradisi dan adat masyarakat Minangkabau yang merupakan ekspersi etnis Minang.

Silek sudah merasuk dalam setiap kehidupan sehari-hari dan muncul sebagai unsur penting dalam cerita rakyat, legenda, pepatah dan tradisi lisan di Minangkabau. Ada banyak jenis aliran beladiri silek di Sumatera Barat dan dapat dikatagorikan dalam sebelas aliran silek yang berhasil didata antara lain:

  • Silek Kumanggo
  • Silek Lintau
  • Silek Tuo
  • Silek Sitaralak
  • Silek Harimau
  • Silek Pauh
  • Silek Sungai Patai
  • Silek Luncua
  • Silek Gulo Gulo Tareh
  • Silek Baru
  • Silek Ulu Ambek

Pagar Ayu dan Pagar Bagus

Pakaian seragam lengkap bagi para dayang-dayang raja dan ratu sehari ini sebanyak 6 pasang. Seragam pagar ayu dapat menggunakan sunting maupun tanduk sesuai.

Baju Demang (Beskap)

Sementara penyambut tamu dengan baju Demang yang dilengkapi dengan sarung bersulam emas dan Saluak batik bertulisan arab bagi kedua orang tua mempelai dan keluarga mereka. Baju demang yang dilengkapi saluak batik ini merupakan baju bagi datuk-datuk di daerah Minang kabau untuk menghadiri pesta pernikahan pada jaman itu.

Master of Ceremony (MC)

yang tak kalah menariknya dari perkawinan keponakanku adalah kemampuan mengurai kata yang khas dari awal aku benar-benar tertegun betapa luar biasanya,

wlalaupun kadang-kadang tidak sebanyak acara langsung di kampung ninik mamak, dimana aura kemodern jakarta telah mengurangi beberapa ritual acara.

Ditutup dengan kegaitan keluarga sanak saudara sadonyo..walau aku hanya urang sumando yang masih belum memahami bahasa yang khas,  unik dengan budaya adi luhung ranah Minang.

Sumber Tulisan :

KEDUDUKAN sosial perempuan Minangkabau telah banyak dikaji dan menarik perhatian berbagai kalangan.
Penelitian terbaru dilakukan Lusi Herlina dan kawan-kawan dari Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) Padang tahun 2003, dan laporan penelitian tersebut diterbitkan dalam buku Partisipasi Politik
Perempuan Minang dalam Sistem Masyarakat Matrilineal (Penerbit LP2M dan The Asia Foundation, November 2003, xviii + 107 halaman).Menurut Hayati Nizar, pengamat masalah perempuan di Padang, masyarakat Minangkabau cenderung terbuai dengan “posisi imajinasi” yang menempatkan perempuan pada posisi yang tinggi dengan
segala atribut yang disandangkan kepada mereka.

Padahal, kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat Minangkabau meskipun menganut sistem matrilineal, sistem kekuasaannya tidak matriarkal.Taufik menyatakan bahwa memang Bundo Kanduang sebagai sumber kebijakan, namun ia tidak memiliki peranan dalam pengambilan keputusan karena ia bukanlah orang yang memegang jabatan resmi dalam hierarki kekuasaan dalam sistem politik Minangkabau. Pada gilirannya, ia tetap saja sebagai simbol percaturan politik karena tidak memiliki kekuasaan.

Dia adalah perempuan yang disegani, dihormati, dan dimuliakan karena karismanya, kecerdasannya, dan kepiawaiannya mengelola dan memimpin semua orang yang tinggal dalam Rumah Gadang. “Karena karisma dan kekuasaan Bundo Kanduang inilah, kemudian Pemerintah Belanda menjadikan Bundo Kanduang sebagai institusi yang
dipakai sebagai alat penundukan perempuan. Intervensi pemerintah kolonial ini tidak sepenuhnya berhasil.
Dalam perkembangannya, Bundo Kanduang ketika itu tetap mandiri dan otonom yang secara efektif mampumenjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintahan nagari,” katanya.

Oleh karena itu, tugas Bundo Kanduang makin lama dalam sistem pengambilan keputusan semakin melemah dan lama-kelamaan akan kehilangan kekuatan politiknya dan berubah menjadi hiasan belaka dalam sistem adat Minangkabau. “Dengan dilemahkannya peran Bundo Kanduang, menyebabkan institusi ini tidak lagi menjadi agen yang dapat diandalkan bagi perlindungan hak-hak kaum perempuan, terutama bagi perlindungan bagi kepentingan sosial, ekonomi, dan budaya kaum ibu dan anak-anak Minangkabau,” paparnya.

Sebab, menurut dia, tanpa penguatan Bundo Kanduang, adat bisa menjadi majelis yang justru mengerikan kaum perempuan karena adat dapat justru menjadi arena pengukuhan atau pelanggengan diskriminasi dan legitimasi terhadap siksaan psikologis maupun kultural dalam bentuk penciptaan ketergantungan bagi kaum perempuan (ibu).

Terutama kaum perempuan dan anak-anak Minangkabau, adat merupakan tempat berlindung atau benteng yang sesuai bagi mereka untuk tumbuh dan surga untuk merealisasikan kebebasan dan hak-hak asasi mereka. Agenda perubahan ke depan adalah bagaimana mentransformasikan budaya Minangkabau menjadi sistem yang lebih demokratis dan berkeadilan jender. Usaha untuk mentransformasikan relasi jender membutuhkan pembongkaran
keyakinan jender masyarakat yang telah mengakar secara kultural dan struktural, dan oleh karena itu dibutuhkan strategi transformasi relasi jender melalui usaha politik, sosial, dan budaya.

Mempertahankan tradisi adat pernikahan sudah menjadi keharusan masyarakat Minangkabau yang tinggal di Tanah Datar-Lintau, Desa Lubuak Jantan. Balutan nuansa syariat Islam kuat membungkusnya.

Adat pernikahan orang Lubuak Jantan menurut pakar adat perkawinan daerah Tanah Datar, Nusye, sangat menjunjung syariat Islam dan kaya dengan filosofi. “Dari warna-warna pakaian dan ornamen digunakan, jumlah untaian (setajuak) janur, sampai pakaian dan makanannya sarat makna Islami,” jelasnya.

Pelaminan khas Minang ala Lubuk Jantan ini bertaburkan kain bersulam benang emas. Hitam begitu mendominasi sebagai warna yang mewakili kalangan datuk. Dalam adat pernikahan ini ada acara manyambuik marapulai , yakni prosesi adat yang dilaksanakan ketika mempelai pria (marapulai) datang dari mesjid setelah melakukan akad nikah.
Kebiasaan masyarakat Lubuak Jantan, lanjut Nusye, kerap melangsungkan pernikahan setelah shalat Jum’at. Dan ketika akad berlangsung pun mempelai wanita (anak daro) tidak mendampingi mempelai pria, melainkan menunggu di kediaman anak daro.

Usai akad di mesjid, marapulai dengan diantar orang tuo dan ninik mamak (penghulu) mendatangi anak daro yang telah menanti kedatangan marapulai dengan mempersiapkan upacara adat prosesi manyambuik marapulai. Musik Talempong (sejenis alat musik gamelan) terus dimainkan untuk mengisi jeda atau ketika menuju ke prosesi selanjutnya.

Ketika marapulai dan keluarganya tiba di pintu kediaman anak daro (marapulai alah tibo), langsung disambut dengan Tari Gelombang sebagai tarian penyambut tamu dan petatah petitih (berbalas pantun) antara mintuo orang tua anak daro dan dibalas oleh mintuo orang tua marapulai (ibunda masing-masing mempelai). Inti dari petatah petitih ini adalah keluarga anak daro menerima kadatangan keluarga marapulai. Setalah itu Tari Persembahan yang dilakukan oleh bebrapa penari perempuan mengiringi masuknya marapulai.

Marapulai belum bisa bersanding dengan anak daro di pelaminan sebelum mintuo marapulai (mertua mempelai pria) melakukan prosesi adat membasuah kaki , yaitu mintuo marapulai membersihkan kaki marapulai dengan air hingga tidak ada kotoran sedikitpun yang melekat, sebagai perlambang membersihkan kotoran (dosa) masa lalu. Lalu marapulai berjalan di atas kain putih dalam keadaan bersih tidak berbekas, ini menandakan marapulai mendatangi anak daro dalam keadaan suci.

Dalam prosesi adat ini, kedua mempelai bersanding dengan bersimpuh di lantai, tidak seperti pernikahan pada umumnya yang menggunakan kursi pelaminan. Tari Piring pun disuguhkan sebagai bentuk kegembiraan dan untuk menghibur mempelai dan masyarakat yang hadir. Lalu acara dilanjutkan dengan acara makan bajamba .

Terdapat sepasang setajuak yang terikat janur berjumlah 5 dan 6. Bila dijumlah menjadi sebelas, menandakan pengantin berasal dari keluarga bangsawan. Kaki setajuak adalah ketan kuning dan satu lagi berisi sirih, kapur, dan pinang dibungkus saputangan bersulam emas. Juga terdapat sepasang jamba gadang yang ditutup saputangan bersulam emas. Salah satu jamba gadang tersebut berisi ketan kuning, ketan putih, ketam hitam, dan paniaram. Sedangkan yang lain berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya.

Dihadapan kedua mempelai ada jamba (hidangan), dulang yang berisi nasi terdiri dari empat warna, ada kuning, putih, hitam, dan di atasnya ditutup dengan warna coklat sebagai pemersatu. Semuanya ini memiliki makna masing-masing.

Menurut Sekjen Masyarakat Peduli Pariwisata Sumatera Barat (MAPPAS), Hj. Nuraini B. Prabdanu, warna putih melambangkan alim ulama atau religius, lalu warna hitam perlambang datuak atau orang mempunyai derajat tinggi, sedangkan warna kuning untuk orang memiliki sifat cendekiawan atau orang yang pandai.

Di bagian samping kiri dan kanan pelaminan di gelar sepra (kain putih) tempat menjamu para undangan. Jamuan berupa kue dan makanan tradisional Minangkabau seperti lamang, tapek kucui, ketan tape, dan kolak pisang (sono) diisikan pada piring-piring kecil. Ada juga cirano yang berisi makanan sebagai persembahan bagi datuk desa lain.

Dalam prosesi ini mempelai tidak saling menyuapi, tetapi masing-masing mempelai mengambil atau memilih jenis nasi yang hendak disuapnya. Apapun yang dipilih akan melambangkan sifat orangnya. Acara ini disudahi dengan acara bajamba atau makan bersama.

Pakaian pernikahan adat Minangkabau biasanya berwarna hitam ditaburi aura keemasan menyelimuti keseluruhan penampilan mempelai dengan sulaman emas pada baju kedua pengantin dan kain songket bertabur emas yang berornamen khas.

Baju kurung panjang dan kain sarung balapak merupakan busana anak daro pada umumnya. Hiasan pada kepala dan asesoris pendukung lainnya berupa belenggek ini terdiri dari 2 tingkat, yang pertama merupakan tanduk dari kain bersulam benang emas yang di atasnya dihiasi dengan tanduk emas atau dikenal dengan tengkuluk ameh .

Pakaian marapulai biasanya adalah ‘pakaian kebesaran adat’ yang terdiri dari baju gadang basiba, sarawa (celana) guntiang ampek dan deta atau hiasan kepala dilengkapi dengan serong serta karih (keris).

Keaslian prosesi pernikahan Minangkabau khususnya masyarakat Lubuak Jantan bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Untuk memperkenalkan ke khalayak luas, MAPPAS menampilkannya dalam acara Ragam Pernikahan Nusantara 2007 di Balai Kartini November lalu. “Prosesi pernikahan daerah Lubuak Jantan hingga kini masih dilaksanakan masyarakatnya,” jelas Nuraini.

Tips Perjalanan:
Bila Anda ingin memyaksikan adat pernikahan Minangkabau khususnya masyarakat yang tinggal Tanah Datar-Lintau, Desa Lubuak Jantan, datang saja ke daerah tersebut. Dai kota Anda naik pesawat atau mungkin via darat dengan bus. Selian menykaiskan dat pernikahan daerah tersebut secara langsung, Anda bisa berkunjung ke obyek wisata alam dan obyek lainnya. Kalau tak punya waktu banyak, Anda yang tinggal di Jakarta bisa berkunjung ke Anjungan Provinsi Sumatera Barat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Biasanya di sana kerap digelar acara perkawinan dari berbagai daerah di Sumbar, termasuk Tanah Datar. Kalau Anda mau sabar menanti, mungkin bisa menunggu acara Ragam Pernikahan Nusantara

Salah satu tujuan adat pada umumnya, adat Minang pada khususnya adalah membentuk individu yang berbudi luhur, manusia yang berbudaya, manusia yang beradab.

Dari manusia-manusia yang beradab itu diharapkan akan melahirkan suatu masyarakat yang aman dan damai, sehingga memungkinkan suatu kehidupan yang sejahtera dan bahagia, dunia dan akhirat. Suatu Baldatun Toiyibatun wa Rabbun Gafuur. Suatu masyarakat yang aman dan damai dan selalu dalam lindungan Tuhan.

Untuk mencapai masyarakat yang demikian, diperlukan manusia-manusia dengan sifat-sifat dan watak tertentu. Sifat-sifat yang ideal itu menurut adat Minang antaranya sebagai berikut :

a. Hiduik Baraka, baukue jo bajangka artinya hidup berpikir, berukur dan berjangka

Dalam menjalankan hidup dan kehidupan orang Minang dituntut untuk selalu memakai akalnya. Berukur dan berjangka artinya harus mempunyai rencana yang jelas dan perkiraan yang tepat.
Kelebihan manusia dari binatang adalah tiga alat vital yang mempunyai kekuatan besar bila dipakai secara tepat dalam menjalankan hidupnya. Ketiga alat tersebut adalah otak, otot dan hati.
Pengertian peningkatan sumber daya manusia tidak lain dari mengupayakan sinergi ketiga kekuatan itu untuk memperbaiki hidup dan kehidupannya.
Dengan mempergunakan akal pikiran dengan baik, manusia antara lain akan selalu waspada dalam hidup, seperti dalam pepatah berikut :

Dalam mulo akhie mambayang Dalam awal akhir terbayang
Dalam baiak kanalah buruak Dalam baik ingatlah buruk
Dalam galak tangieh kok tibo Dalam tawa tangis menghadang
Hati gadang hutang kok tumbuah Hati ria hutang tumbuh

Dengan berpikir jauh kedepan kita dapat meramalkan apa yang bakal terjadi, sehingga tetap selalu waspada.

Alun rabah lah ka ujuang Belum rebah sudah keujung
Alun pai lah babaliak Belum pergi sudah kembali
Alun di bali lah bajua Belum dibeli sudah dijual
Alun dimakan lah taraso Belum dimakan sudah terasa

Didalam merencanakan sesuatu pekerjaan, dipikirkan lebih dahulu sematang-matangnya dan secermat-cermatnya. Pendek kata dibuat rencana yang mantap dan terinci.

Dihawai sahabih raso Diraba sehabis rasa
Dikaruak sahabih gauang Dijarah sehabis lobang

Dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan, perlu dilakukan sesuai dengan urutan prioritas yang sudah direncanakan, seperti kata pepatah :
Mangaji dari alif Mengaji dari alif
Babilang dari aso Berhitung dari satu

Dalam melakukan sesuatu, haruslah mempunyai alasan yang masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan. Jangan asal berbuat tanpa berpikir.

Mancancang balandasan Mencencang berlandasan
Malompek basitumpu Melompat bersitumpu

Dalam melaksanakan suatu tugas bersama, atau dalam suatu organisasi kita tak mungkin berjalan sendiri-sendiri. Salah satu kelemahan orang Minang adalah kebanyakan mereka menderita penyakit “Excessive Individualisme”, penyakit susah diatur, merasa lebih super dari orang lain, karenanya dihinggapi penyakit “pantang taimpik”.

Struktur organisasi dipenghujung abad ke XX ini, baik organisasi pemerintah, angkatan bersenjata, organisasi sosial, maupun organisasi perusahaan mempunyai struktur piramida, lancip ke atas.

Struktur organisasi yang semacam ini, memaksa orang-orang dalam formasi yang berlanggo-langgi, atau bertingkat-tingkat. Ada yang disebut bawahan dan ada atasan, ada yang memerintah dan ada pula yang harus menjalankan perintah. Orang Minang kebanyakan belum dapat menyesuaikan diri dengan pola kemasyarakatan yang baru ini. Apalagi bila dalam organisasi itu hanya balego awak samo awak. Dalam kondisi yang demikian, akan berlaku pameo “Iyo kan nan kato beliau, tapi lakukan nan diawak”. Inilah agaknya salah satu sebab kenapa dipenghujung abad XX ini orang-orang Minang sudah jarang yang menonjol dipentas nasional. Kalau ada yang menonjol satu dua, maka yang duduk menjadi bawahannya, mungkin sekali bukan orang Minang. Mari kita koreksi diri kita masing-masing dan mari kita pelajari kembali ajaran adat kita yang berbunyi sbb :

Bajalan ba nan tuo Berjalan dengan yang tua
Balayie ba nakhodo Berlayar ber-nakhoda
Bakata ba nan pandai Berkata dengan yang pandai

Pepatah diatas mengisyaratkan bahwa nenek moyang kita lebih memahami pola organisasi modern dibandingkan kita. Renungkanlah.

Masih bayak diantara kita yang belum punya cita-cita hidup. Tidak tahu apa yang ingin dicapai dalam hidup ini. Namun ada juga yang punya cita-cita , tetapi tidak tahu bagaimana cara yang harus ditempuh untuk mencapai cita-cita itu.

Nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu sudah tahu apa yang ingin dicapainya dalam hidup ini, dan sudah tahu pula cara apa yang harus ditempuh untuk mencapai cita-cita itu. Cobalah kita cermati pepatah berikut :

Nak kayo kuek mancari Ingin kaya, bekerja keraslah
Nak tuah bertabur urai Ingin tuah, bertabur hartalah
Nak mulie tapeki janji Ingin mulia, tepati janji
Nak namo tinggakan jaso Ingin nama, berjasalah
Nak pandai kuek baraja Ingin pandai, rajinlah belajar

Salah satu syarat untuk bisa diterima dalam pergaulan ialah bila kita dapat membaca perasaan oang lain secara tepat. Dalam zaman modern hal ini kita kenal dengan ilmu empathi, yaitu dengan mencoba mengandaikan kita sendiri dalam posisi orang lain. Bila kita berhasil menempatkan diri dalam posisi orang lain, maka tidak mungkin kita akan memaksakan keinginan kita kepada orang lain. Dengan cara ini banyak konflik batin yang dapat dihindari. Pepatah mengajarkan dengan tepat sebagai berikut :

Elok dek awak Yang elok menurut kita
Katuju dek urang (Namun juga) disukai orang lain

Segala sesuatu yang munurut pikiran sendiri adalah baik, belum tentu dianggap baik pula oleh orang lain. Kacamata yang dipakai mungkin sekali berbeda, sehingga pendapatpun berbeda pula. Kepala sama hitam, pikiran berbeda-beda.

Nenek moyang orang Minang, sebelum ilmu manajemen berkembang di tanah air sejak tahun 1950-an yang lalu, telah lama meyakini bahwa “perencanaan yang matang” adalah salah satu unsur yang sangat penting untuk terlaksananya suatu pekerjaan. Pepatah berikut meyakini kita akan kebenarannya :

Balabieh ancak-ancak Berlebihan berarti ria
Bakurang sio-sio Kalau kurang sia-sia
Diagak mangko diagieh Dihitung dulu baru dibagi
Dibaliek mangko dibalah Dibalik dulu baru dibelah
Bayang-bayang sepanjang badan Bayang-bayang sepanjang badan (Beban
jangan lebih dari kemampuan)
Nan babarieh nan dipahek Yang dibaris yang dipahat
Nan baukue nan dikabuang Yang diukur yang dipotong
Jalan nan luruih nan ditampuah Jalan lurus yang ditempuh
Labuah pasa nan dituruik Jalan yang lazim yang dituruti
Di garieh makanan pahat Digaris makanan pahat
Di aie lapehkan tubo Di air lepaskan racun
Tantang sakik lakek ubek Ditempat yang sakit diberi obat
Luruih manantang barieh adat Lurus menentang baris adat

b. Baso basi – malu jo sopan

Adat Minang mengutamakan sopan santun dalam pergaulan. Budi pekerti yang tinggi menjadi salah satu ukuran martabat seseorang. Etika menjadi salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap individu Minang.

Adat Minang menyebutkan sebagai berikut :

Nana kuriak iyolah kundi Yang burik ialah kundi
Nan merah iyolah sago Yang merah ialah sega
Nan baiak iyolah budi Yang baik ialah budi
Nan indah iyolah baso Yang indah ialah basa (basi)
Kuek rumah dek basandi Kuatnya rumah karena sendi
Rusak sandi rumah binaso Rusak sendi rumah binasa
Kuek bangso karano budi Kuatnya bangsa karena budi
Rusak budi bangso binaso Rusak budi bangsa binasa

Adat Minang sejak berabad-abad yang lalu telah memastikan, bila moralitas suatu bangsa sudah rusak, maka dapat dipastikan suatu waktu kelak bangsa itu akan binasa. Akan hancur lebur ditelan sejarah.

Adat Minang mengatur dengan jelas tata kesopanan dalam pergaulan. Kita tinggal mengamalkannya. Pepatah menyebutkan sebagai berikut:

Nan tuo dihormati Yang tua dihormati
Nan ketek disayangi Yang kecil disayangi
Samo gadang bawo bakawan Sama besar bawa berkawan
Ibu jo bapak diutamakan Ibu dan ayah diutamakan

Budi pekerti adalah salah satu sifat yang dinilai tinggi oleh adat Minang. Begitu pula rasa malu dan sopan santun, termasuk sifat-sifat yang diwajibkan dipunyai oleh orang-orang Minang. Pepatah Minang memperingatkan :

Dek ribuik rabahlah padi Karena ribut rebahlah padi
Di cupak Datuak Tumangguang Di cupak Datuk Tumenggung
Hiduik kok tak babudi Hidup kalau tak berbudi
Duduak tagak kamari cangguang Duduk berdiri serba canggung
Rarak kaliki dek binalu Gugur pepaya karena benalu
Tumbuah sarumpun ditapi tabek Tumbuh serumpun di tepi tebat
Kalau habih raso jo malu Kalau habis rasa dan malu
Bak kayu lungga pangabek Bagaikan kayu longgar pengikat

Kehidupan yang aman dan damai, menjadi idaman Adat Minang. Karena itu selalu diupayakan menghindari kemungkinan timbulnya perselisihan dalam pergaulan. Budi pekerti yang baik, sopan santun (basa basi) dalam pergaulan sehari-hari diyakini akan menjauhkan kita dari kemungkinan timbulnya sengketa. Budi perkerti yang baik akan selalu dikenang orang, kendatipun sudah putih tulang di dalam tanah.

Pepatah menyebutkan sbb:

Pucuak pauah sadang tajelo Pucuk pauh sedang terjela
Panjuluak bungo linggundi Penjuluk bunga linggundi
Nak jauah silang sangketo Supaya jauh silang sengketa
Pahaluih baso jo basi Perhalus basa basi (budi pekerti)
Pulau pandan jauah ditangah Pulau pandan jauh di tengah
Dibaliak pulau angso duo Dibalik pulau angsa dua
Hancua badan di kanduang tanah Hancur badan dikandung tanah
Budi baiak takana juo Budi baik terkenang juga
Nak urang koto ilalang Anak orang koto Hilalang
Nak lalu ka pakan baso Mau lewat ke pekan Baso
Malu jo sopan kok lah ilang Malu dan sopan kalau sudah hilang
Habihlah raso jo pareso Habislah rasa dan periksa

c. Tenggang raso

Perasaan manusia halus dan sangat peka. Tersinggung sedikit dia akan terluka, perih dan pedih. Pergaulan yang baik, adalah pergaulan yang dapat menjaga perasaan orang lain. Kalau sampai perasaan terluka, bisa membawa bencana. Karena itu adat mengajarkan supaya kita selalu berhati-hati dalam pergaulan, baik dalam ucapan, tingkah laku maupun perbuatan jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Tenggang rasa salah satu sifat yang dianjurkan adat.

Pepatah memperingatkan sebagai berikut :

Bajalan paliharo kaki Berjalan pelihara kaki
Bakato paliharo lidah Berkata pelihara lidah
Kaki tataruang inai padahannyo Kaki tertarung inai imbuhannya
Lidah tataruang ameh padahannyo Lidah tertarung emas imbuhannya
Bajalan salngkah madok suruik Berjalan selangkah, lihat kebelakang
Kato sapatah dipikia an Kata sepatah dipikirkan

Nan elok dek awak katuju dek urang
Lamak dek awak lamak dek urang
Sakik dek awak sakik dek urang
artinya :
Yang baik menurut kita, harus juga disukai orang lain
Yang enak menurut kita, harus juga enak menurut orang
Kalau sakit bagi kita, sakit pula bagi orang

d. Setia (loyal)

Yang dimaksud dengan setia adalah teguh hati, merasa senasib dan menyatu dalam lingkungan kekerabatan. Sifat ini menjadi sumber dari lahirnya sifat setia kawan, cinta kampung halaman, cinta tanah air, dan cinta bangsa. Dari sini pula berawal sikap saling membantu, saling membela dan saling berkorban untuk sesama.

Pepatah menyebutkan sbb:

Malompek samo patah Melompat sama patah
Manyarunduak samo bungkuak Menyerunduk sama bungkuk
Tatungkuik samo makan tanah Tertelungkup sama makan tanah
Tatalantang samo minun aia Tertelantang sama minun air
Tarandam samo basah Terendam sama basah
Rasok aia pulang ka aia Resapan air kembali ke air
Rasok minyak pulang ka minyak Resapan minyak kembali ke minyak

Bila terjadi suatu konflik, dan orang Minang terpaksa harus memilih, maka orang Minang akan memihak pada dunsanaknya. Dalam kondisi semacam ini, orang Minang sama fanatiknya dengan orang Inggris. Right or wrong is my country. Kendatipun orang Minang “barajo ka nan bana”, dalam situasi harus memihak seperti ini, orang Minang akan melepaskan prinsip.

Pepatah adat mengajarkan sbb:

Adat badunsanak, dunsanak patahankanAdat bakampuang, kampuang patahankanAdat banagari, nagari patahankanAdat babangso, bangso patahankanartinya :Adat bersaudara, saudara dipertahankanAdat berkampung, kampung dipertahankanAdat bernegeri, negeri dipertahankanAdat berbangsa, bangsa dipertahankan

Parang ba suku samo dilipekParang samun samo dihadapiartinyaPerang antar suku sama disimpanPerang terhadap penjahat sama dihadapi

Dengan sifat setia dan loyal semacam ini, pengusaha Minang sebenarnya lebih dapat diandalkan menghadapi era globalisasi, karena kadar nasionalismenya tidak perlu diragukan.

e. Adil

Adil maksudnya mengambil langkah sikap yang tidak berat sebelah, dan berpegang teguh pada kebenaran. Bersikap adil semacam ini, sangat sulit dilaksanakan bila berhadapan dengan dunsanak sendiri. Satu dan lain hal karena adanya pepatah adat yang lain yang berbunyi “Adat dunsanak, dunsanak dipatahankan”.

Adat Minang mengajarkan sbb :

Bakati samo barek Menimbang sama berat
Maukua samo panjang Mengukur sama panjang
Tibo dimato indak dipiciangkan Tiba dimata tidak ditutupkan
Tibo diparuik indak dikampihkan Tiba diperut tidak dikempiskan
Tibo didado indak dibusuangkan Tiba didada tidak dibusungkan
Mandapek samo balabo Mendapat sama beruntung
Kahilangan samo marugi Kehilangan sama merugi
Maukua samo panjang Mengukur sama panjang
Mambilai samo laweh Menyambung sama luas
Baragiah samo banyak Berbagi sama banyak
Gadang kayu gadang bahannyo Besar kayu besar bahannya (iuran)
Ketek kayu ketek bahannyo Kecil kayu kecil bahannya (andilnya)
Nan ado samo dimakan Yang ada sama dimakan
Nan indak samo dicari Yang tidak ada, sama dicari
Hati gajah samo dilapah Hati gajah sama disuap
Hati tungau samo dicacah Hati kuman sama dicicip (dicercah)
Gadang agiah baumpuak Yang besar dibagi beronggok
Ketek agiah bacacah Yang kecil dibagi secercah

(Kata-kata “dimata,diperut, didada dalam hal ini artinya bila masalah itu menyangkut dunsanak kita sendiri).

f. Hemat Cermat

Pepatah adat menyebutkan sbb:

Manusia

Nan buto pahambuih saluang Yang buta peniup lesung
Nan pakak palapeh badia Yang tuli pelepas bedil
Nan patah pangajuik ayam Yang patah pengusir ayam
Nan lumpuah paunyi rumah Yang lumpuh penunggu rumah
Nan binguang kadisuruah-suruah Yang dungu untuk suruh-suruhan
Nan buruak palawan karajo Yang jelek penantang kerja
Nan kuek paangkuik baban Yang kuat pengangkut beban
Nan tinggi jadi panjuluak Yang tinggi jadi galah
Nan randah panyaruduak Yang pendek penyeruduk
Nan pandai tampek batanyo Yang pandai tempat bertanya
Nan cadiak bakeh baiyo Yang cerdik tempat berunding
Nan kayo tampek batenggang Yang kaya tempat minta tolong
Nan rancak palawan dunia Yang cantik pelawan dunia

Tanah

Nan lereng tanami padi Yang lereng tanami padi
Nan tunggang tanami bamboo Yang tunggang tanami bambu
Nan gurun jadikan parak Yang gurun jadikan kebun
Nan bancah jadikan sawah Yang basah jadikan sawah
Nan padek ka parumahan Yang padat untuk perumahan
Nan munggu jadikan pandam Yang ketinggian jadikan kuburan
Nan gauang ka tabek ikan Yang berlubuk jadikan tambak ikan
Nan padang tampek gubalo Yang padat tempat gembala
Nan lacah kubangan kabau Yang berlumpur kubangan kerbau
Nan rawan ranangan itiak Yang berawa renangan itik

Kayu

Nan kuek ka tunggak tuo Yang kuat untuk tiang utama
Nan luruih ka rasuak paran Yang lurus untuk sudut paran
Nan lantiak ka bubungan Yang lentik untuk bubungan
Nan bungkuak ka tangkai bajak Yang bungkuk untuk tangkai bajak
Nan ketek ka tangkai sapu Yang kecil untuk tangkai sapu
Nan satampok ka papan tuai Yang setapak tangan untuk ani-ani
Rantiangnyo ka pasak suntiang Rantingnya untuk pasak sunting
Abunyo pamupuak padi Abunya pemupuk padi

Bambu

Nan panjang ka pambuluah Yang panjang untuk pembuluh (saluran)
Nan pendek ka parian Yang pendek untuk perian (tempat air)
Nan rabuang ka panggulai Yang rebung untuk penggulai (digulai)

Sagu

Sagunyo ka baka huma Sagunya untuk bekal ke dangau
Ruyuangnyo ka tangkai bajak Ruyungnya ke tangkai bajak
Ijuaknyo ka atok rumah Ijuknya untuk atap rumah
Pucuaknyo ka daun paisok Pucuknya untuk daun rokok
Lidinyo ka jadi sapu Lidinya untuk sapu

g. Waspada

Sifat waspada dan siaga termasuk sifat yang dianjurkan adat Minang seperti sbb :

Maminteh sabalun anyuik Memintas sebelum hanyut
Malantai sabalun lapuak Dibuat lantai baru sebelum lapuk
Ingek-ingek sabalun kanai Siaga sebelum kena (bahaya)
Sio-sio nagari alah Sia-sia negeri akan kalah
Sio-sio utang tumbuah Sia-sia hutang timbul
Siang dicaliak-caliak Siang dilihat-lihat (waspada)
Malam didanga-danga Malam didengar-dengar

h. Berani karena benar

Islam mengajarkan kita untuk mengamalkan “amal makruf, nahi mungkar” yang artinya menganjurkan orang supaya berbuat baik, dan mencegah orang berbuat kemungkaran.

Menyuruh orang berbuat baik adalah mudah. Tapi melarang orang berbuat mungkar, mengandung resiko sangat tinggi. Bisa-bisa nyawa menjadi taruhan. Untuk bertindak menghadang kemungkaran seperti ini, memerlukan keberanian.

Adat Minang dengan tegas menyatakan bahwa orang Minang harus punya keberanian untuk menegakkan kebenaran. Berani karena benar. Pepatahnya adalah sbb :

Kok dianjak urang pasupadan Kalau dipindahkan orang pematang
Kok dialiah urang kato pusako Kalau dirubah orang Adat Miang
Kok dirubah urang Kato Daulu Kalu dirubah orang Kato Dahulu
Jan cameh nyawo malayang Jangan cemas jiwa melayang
Jan takuik darah taserak Jangan takut darah menyembur
Asalkan lai dalam kabanaran Asalkan masih dalam kebenaran
Basilang tombak dalam perang Bersilang tombak dalam perang
Sabalun aja bapantang mati Sebelum ajal berpantang mati
Baribu sabab mandating Beribu sebab yang dating
Namun mati hanyo sakali Namun mati hanya sekali
Aso hilang duo tabilang Esa hilang dua terbilang
Bapantang suruik di jalan Berpantang mundur di jalan
Asa lai angok-angok ikan Asal masih nafas-nafasan ikan
Asa lai jiwo-jiwo sipatuang Asal masih jiwa-jiwanya capung
Namun nan bana disabuik juo Namun yang benar disebut juga
Sekali kato rang lalu Sekali orang berbicara lancing
Anggap angin lalu sajo Anggaplah angin lalu saja
Duo kali kato rang lalu Dua kali orang berbicara lancing
Anggap garah samo gadang Anggaplah lelucon sesama temen
Tigo kali kato rang lalu Tiga kali orang berbicara lancing
Jan takuik darah taserak Jangan takut darah tersembur

i. Arif bijaksana, tanggap dan sabar

Orang yang arif bijaksana, adalah orang yang dapat memahami pandangan orang lain. Dapat mengerti apa yang tersurat dan yang tersirat. Tanggap artinya mampu menangkis setiap bahaya yang bakal datang. Sabar artinya mampu menerima segala cobaan dengan dada yang lapang dan mampu mencarikan jalan keluar dengan pikiran yang jernih.

Ketiga sifat ini termasuk yang dinilai tinggi dalam adat Minang, seperti kata pepatah berikut :

Tahu dikilek baliuang nan ka kaki Tahu dengan kilat beliung kekaki
Kilek camin nan ka muka Kilat cermin yang ke muka
Tahu jo gabak diulu tando ka ujan Tahu dengan mendung dihulu tandakan
hujan
Cewang di langik tando ka paneh Mega dilangit tandakan panas
Ingek di rantiang ka mancucuak Ingat ranting yang akan menusuk
Tahu didahan ka maimpok Tahu dahan yang akan menimpa
Tahu diunak kamanyangkuik Tahu duri yang akan mengait
Pandai maminteh sabalun anyuik Pandai memintas sebelum hanyut

Begitulah adat Minang menggambarkan orang-orang yang arif bijaksana dan tanggap terhadap masalah yang akan dihadapi. Orang-orang yang sabar diibaratkan oleh pepatah sbb:

Gunuang biaso timbunan kabuki Gunung biasa timbunan kabut
Lurah biaso timbunan aia Lurah biasa timbunan air
Lakuak biaso timbunan sampah Lekuk biasa timbunan sampah
Lauik biaso timbunan ombak Laut biasa timbunan ombak
Nan hitam tahan tapo Yang hitam tahan tempa (pukul)
Nan putiah tahan sasah Yang putih tahan cuci
Di sasah bahabih aia Dicuci berhabis air
Dikikih bahabih basi Dikikir berhabis besi

j. Rajin

Sifat yang lain yang pantas dipunyai orang Minang menurut adat adalah rajin seperti kata pepatah berikut ini :

Kok duduak marawuik ranjau Kalau duduk meraut ranjau (jebakan)
Tagak maninjau jarah Berdiri mengintai mangsa (berburu)
Nan kayo kuek mancari Ingin kaya ulet mencari (uang)
Nan pandai kuek baraja Ingin pandai rajin belajar

k. Rendah hati

Mungkin lebih dari separoh orang Minang hidup dirantau. Hidup dirantau artinya hidup sebagai minoritas dalam lingkungan mayoritas suku bangsa lain. Mereka yang merantau ke Jakarta, mungkin kurang merasakan sebagai kelompok minoritas.Tapi mereka yang merantau ke Bandung, Semarang, Malaysia, Australia, Eropa, Amerika mereka hidup ditengah-tengah orang lain yang berbudaya lain. Bagaimana perantau Minang harus bersikap ?

Adat Minang memberi pedoman sbb:

Kok manyauak di hilie-hilie Kalau menimba (air) di hilir-hilir
Kok mangecek dibawah-bawah Kalau bicara bersahaja
Tibo dikandang kambiang mangembek Tiba dikandang kambing mengembek
Tibo dikandang kabau manguak Tiba dikandang kabau menguak
Dimano langik dijunjuang Dimana langit dijunjung
Disinan bumi dipijak Disana bumi dipijak
Disitu rantiang di patah Disitu ranting di patah

Ini berarti sebagai perantau yang hidup dalam lingkungan budaya lain, maka kita sebagai kelompok yang minoritas harus tahu diri dan pandai menempatkan diri. Baris pertama diatas tidak berarti kita harus merasa rendah diri, tetapi justru berarti kita orang yang tahu diri sebagai pendatang. Bila dalam beberapa saat kita bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, malah bisa jadi orang teladan dan tokoh masyarakat dilingkungan baru. Pada saat itu dia tidak perlu lagi “manyauak di hilie-hilie” malah mungkin menjadi “disauakkan dihulu-hulu”, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, diangkat menjadi pemimpin bagaikan penghulu dilingkungannya.

Sumber : Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang

Datuk Perpatih nan Sebatang pada zaman dahulu konon kabarnya sudah pernah berlayar dan sampai ke Melaka serta singgah di Negeri Sembilan.

Negeri Sembilan sekarang

Negeri Sembilan termasuk salah satu negara bagian yang menjadi negara Federasi Malaysia. Sebelah selatannya terletak Gubernemen Melaka sebelah ke timur dengan negara bagian Jojor, sebelah utara dengan Pahang dan sebelah barat dengan Selangor.

Dalam tahun 1970 negara bagian yang luasnya 2.580 mil persegi ini mempunyai penduduk lebih dari setengah juta jiwa dengan penduduk berkebangsaan Melayu lebih sedikit dari bangsa Cina. Mayoritas di Malaysia terdiri dari tiga rumpun bangsa : Melayu, Cina dan Keling.

Penduduk bangsa Melayu yang kira-kira seperempat juta itu sebahagian besar masih mempunyai hubungan dengan daerah asalnya yaitu Minangkabau. Masih banyak adat istiadat Minangkabau yang masih belum hilang oleh mereka dan sebagian masih dipergunakan dalam tata cara hidupnya. Malahan beberapa keterangan dan adat-adat yang di Minangkabau sendiri sudah dilupakan pada mereka masih tetap segar dan masih dipergunakan. Hubungan sejarah ini sudah bermula pada pertengahan abad kelima belas.

Patun mereka berbunyi :

Leguh legah bunyi pedati
Pedati orang pergi ke Padang
Genta kerbau berbunyi juga
Biar sepiring dapat pagi
Walau sepinggan dapat petang
Pagaruyung teringat juga

Negeri Sembilan sebuah kerajaan tetapi pemerintahannya berdasarkan Konstitusi yang disana dikatakan Perlembagaan Negeri. Badan Legislatifnya bernama “Dewan Perhimpunan/Perundingan Negeri yang mempunyai anggota 24 orang. Anggota-anggota ini dipilih oleh rakyat dalam Pemilihan Umum yang disini dikatakan : Pilihan raya.

Pelaksanaan pemerintahan dilaksanakan oleh Menteri Besar yang didampingi oleh 8 orang anggotanya yang bernama : “Anggota Majelis Musyawarah Kerajaan Negeri”. Gelaran raja ialah Duli Yang Mahamulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan. Dalam tahun 1970 itu yang memerintah ialah : Tuanku Ja’far ibni Almarhum Tuanku Abdul Rahman dan beliau ialah keturunan yang kesebelas dari Raja Malewar yang berasal dari Minangkabau dan memerintah antara tahun 1773 – 1795.

Pemerintahan Negeri Sembilan terbagi atas 6 daerah seperti kabupaten di Indonesia, yaitu: Seremban, Kuala Pilah, Port Dickson, Jelebu, Tampin dan Rembau. Ibukotanya ialah Seremban. Istana raja terdapat di ibukota Seremban ini bernama : Istana Seri Menanti. Tetapi arsitekturnya tidak lagi dengan cara Minang melainkan sudah berkomposisi antara arsitektur Minang dan Melayu.

Kedatangan bangsa Minangkabau

Sebelum Negeri Sembilan bernama demikian di Melaka sudah berdiri sebuah kerajaan yang terkenal dalam sejarah. Dan pelabuhan Melaka menjadi pintu gerbang untuk menyusup kedaerah pedalaman tanah Semenanjung itu. Maka sebulum berdiri Negeri Sembilan datanglah rombongan demi rombongan dari Minangkabau dan tinggal menetap disini.

Rombongan Pertama

Mula-mula datanglah sebuah rombongan dengan pimpinan seorang datuk yang bergelar Datuk Raja dengan isterinya Tok Seri. Tetapi kurang jelas dari mana asal mereka di Minangkabau. Mereka dalam perjalanan ke Negeri Sembilan singgah di Siak kemudian meneruskan perjalanan menyeberang Selat Melaka terus ke Johor. Dari Johor mereka pergi ke Naning terus ke Rembau. Dan akhirnya menetap disebuah tempat yang bernama Londar Naga. Sebab disebut demikian karena disana ditemui kesan-kesan alur naga. Sekarang tempat itu bernama Kampung Galau.

Rombongan Kedua

Pimpinan rombongan ini bergelar Datuk Raja juga dan berasal dari keluarga Datuk Bandaro Penghulu Alam dari Sungai Tarab. Rombongan ini menetap disebuah tempat yang kemudian terkenal dengan Kampung Sungai Layang.

Rombongan Ketiga

Rombongan ketiga ini datang dari Batu Sangkar juga, keluarga Datuk Makudum Sati di Sumanik. Mereka dua orang bersaudara: Sutan Sumanik dan Johan Kebesaran. Rombongan ini dalam perjalanannya singgah juga di Siak, Melaka, dan Rembau. Kemudian membuat sebuah perkampungan yang bernama Tanjung Alam yang kemudian berganti dengan Gunung Pasir.

Rombongan Keempat

Rombongan ini datang dari Sarilamak (Payakumbuh), diketuai oleh Datuk Putih dan mereka menepat pada Sutan Sumanik yang sudah duluan membuka perkampungan di Negeri Sembilan ini. Datuk Putih terkenal sebagai seorang pawang atau bomoh yang ahli ilmu kebatinan. Beliaulah yang memberi nama Seri Menanti bagi tempat istana raja yang sekarang ini.

Kemudian berturut-turut datang lagi rombongan lain-lainnya antaranya yang dicatat oleh sejarah Negeri Sembilan : Rombongan yang bermula mendiami Rembau datangnya dari Batu Hampar (Payakumbuh) dengan pengiringnya dari Batu Hampar sendiri dan dari Mungka. Nama beliau ialah Datuk Lelo Balang. Kemudian menyusul lagi adik dari Datuk Lelo Balang bernama Datuk Laut Dalam dari Kampung Tiga Nenek.

Walaupun penduduk Negeri Sembilan mengakui ajaran-ajaran Datuk Perpatih nan Sebatang yang sangat populer disini tetapi mereka tidak membagi persukuan atas 4 bagian seperti di Minagkabau. Mungkin disebabkan situasi dan perkembangannya sebagai kata pepatah : Dekat mencari suku jauh mencari Hindu, maka suku-suku di Negeri Sembilan berasal dari luhak dari tempat datang mereka itu atau negeri asal datangnya.

Berdasarkan asal kedatangan mereka yang demikian terdapatlah 12 suku di Negeri Sembilan yang masing-masing adalah sbb;

Tanah Datar
Batuhampar
Seri Lemak Pahang
Seri Lemak Minangkabau
Mungka
Payakumbuh
Seri Malanggang
Tigo Batu
Biduanda
Tigo Nenek
Anak Aceh
Batu Belang

Fakta-fakta dan problem

Sejarah Pada sebuah tempat yang bernama Sungai Udang kira-kira 23 mil dari Seremban menuju Port Dickson terdapat sebuah makam keramat. Disana didapati juga beberapa batu bersurat seperti tulisan batu bersurat yang terdapat di Batu Sangkar. Orang yang bermakam disana bernama Syekh Ahmad dan berasal dari Minangkabau. Ia meninggal dalam tahun 872 H atau 1467 Masehi. Dan masih menjadi tebakan yang belum terjawab, mengapa kedatangan Sekh itu dahulu kesini dan dari luahk mana asalnya.

Raja berasal Minangkabau

Dalam naskah pengiriman raja-raja yang delapan orang antaranya dikirimkan ke Rembau, Negeri Sembilan bernama Malenggang Alam. Tetapi bilamana ditinjau sejarah negeri Sembilan raja Minangkabau pertama dikirimkan kesini Raja Mahmud yang kemudian bergelar Raja Malewar.

Raja Malewar memegang kekuasaan antara tahun 1773-1795. Beliau mendapat 2 orang anak Tengku Totok dan puteri bernama Tengku Aisah. Beliau ditabalkan di Penajis Rembau dan kemudian pindah ke istana Seri Menanti. Sehingga sekarang masih populer pepatah yang berbunyi :

Be raja ke Johor
Bertali ke Siak
Bertuan ke Minangkabau

Kedatangan beliau ke Negeri Sembilan membawa selembar rambut yang kalau dimasukkan ke dalam sebuah batil atau cerana akan memenuhi batil atau cerana itu. Benda pusaka itu masuh tetap dipergunakan bila menobatkan seorang raja baru. Yang mengherankan kenapa sesudah meninggalnya Raja Malewar dalam tahun 1795 tidak diangkat puteranya menjadi raja melainkan sekali lagi diminta seorang raja dari Minangkabau. Dan dikirimlah Raja Hitam dan dinobatlkan dalam tahun 1795. Raja Hitam kawin dengan puteri Raja Malewar yang bernama Tengku Aisyah sayang beliau tidak dikarunia putera.
Raja Hitam kawin dengan seorang perempuan lain bernama Encek Jingka. Dari isterinya itu beliau mendapat 4 orang putera/puteri bernama : Tengku Alang Husin, Tengku Ngah, Tengku Ibrahim dan Tengku Alwi. Dan ketika beliau wafat dalam tahun 1808 mengherankan pula gantinya tidaklah diangkat salah seorang puteranya.

Tetapi sekali lagi dikirimkan perutusan ke Pagaruyung untuk meminta seorang raja baru. Dan dikirimlah Raja Lenggang dari Minagkabau dan besar kemungkinan inilah Raja Melenggang Alam yang dikirimkan dari Minangkabau dan tersebut dalam naskah pengiriman raja-raja yang Delapan di Minangkabau.

Raja Lenggang memerintah antara tahun 1808 sampai tahun 1824. Raja Lenggang kawin dengan kedua puteri anak raja Hitam dan mendapat putera dua orang bernama : Tengku Radin dan Tengku Imam.

Ketika raja Lenggang meninggal dinobatkanlah Tengku Radin menggantikan almarhum ayah beliau. Dan inilah raja pertama Negeri Sembilan yang diangkat oleh Pemegang Adat dan Undang yang lahir di Negeri Sembilan. Dan keturunan beliaulah yang turun temurun menjadi raja di Negeri Sembilan. Raja Radin digantikan oleh adiknya Raja Imam (1861-1869). Dan selanjutnya raja-raja yang memerintah di Negeri Sembilan : Tengku Ampuan Intan (Pemangku Pejabat) 1869-1872, Yang Dipertuan Antah 1872-1888, Tuanku Muhammad 1888-1933, Tuanku Abdul Rahman 3/8/1933-1/4/1960, Tuanku Munawir 5/4/1960-14/4/1967, Tuanku Ja’far dinobatkan 18/4/1967.

Terbentuknya Negeri Sembilan

Semasa dahulu kerajaan negeri Sembilan mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Minangkabau. Yang menjadi raja dinegeri ini asal berasal dari keturunan Raja Minangkabau. Istananya bernama Seri Menanti. Adat istiadatnya sama dengan Minangkabau, peraturan-peraturannya sebagiannya menurut undang-undang adat di Minangkabau. Mereka mempunyai suku-suku seperti orang Minangkabau tetapi berbeda cara pemakaiannya.

Perpindahan penduduk ini terjadi bermula pada abad ke :XIV yaitu ketika pemerintah menyarankan supaya rakyat memperkembang Minangkabau sampai jauh-jauh diluar negeri. Mereka harus mencari tanah-tanah baru, daerah-daerah baru dan kemudian menetap didaerah itu. Setengahnya yang bernasib baik dapat menemui tanah kediaman yang subur dan membuka tanah dan membuat perkampungan disitu. Ada pula yang bersatu dengan rakyat asli yang ditemui merka dan menjadi pemimpin disana. Sudah tentu adat-adat, undang-undang, kelaziman dinegeri asalnya yang dipergunakannya pula dinegeri yang baru itu. Sebagai sudah diuraikan orang-orang Minangkabau itu menjalani seluruh daerah : ke Jambi, Palembang, Indragiri, Taoung Kanan dan Tapung Kiri, Siak dan daerah lainya. Sebagiannya menyeberangi Selat Melaka dan sampai di Negeri Sembilan.

Pada abad ke XVI pemerintahan negeri mereka disana sudah mulai tersusun saja. Mereka mendirikan kerajan kecil-kecil sebanyak 9 buah dan kesatuan kerajan kecil-kecil itu mereka namakan NEGERI SEMBILAN. Negara ini terjadi sewaktu Minangkabau mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil ini dan diperlindungkan dibawah kerajan Johor. Setelah negara kesatuan ini terbentuk dengan mufakat bersama dengan kerajaan Johor dimintalah seorang anak raja Pagaruyung untuk dinobatkan menjadi raja di Negrei Sembilan itu. Pada waktu itulah bermula pemerintahan Yang Dipertuan Seri Menanti.

Asal usul anak negeri disitu kebanyakan dari Luhak Lima Puluh Kota yaitu dari : Payakumbuh, Sarilamak, Mungka, Batu Balang, Batu Hampar, Simalanggang dan sebagian kecil dari Luhak Tanah Datar. Dari negeri-negeri mana mereka berasal maka nama-nama negeri itulah menjadi suku mereka. Sebagian tanda bukti bahwa rakyat Negeri Sembilan itu kebanyakan berasal dari Luhak Lima Puluh Kota sampai sekarang masih terdapat kata-kata adat yang poluler di Lima Puluh Kota : “Lanun kan datang merompak, Bugis kan datang melanggar”. Kata-kata adat ini sering tersebut dalam nyanyian Hikayat Anggun nan Tunggal Magek Jabang. Di tanah Melaka kata-kata ini menjadi kata sindiran atau cercaan bagi anak-anak nakal dan dikatakan mereka “anak lanun” atau anak perompak.

Kalau dibawa kepada jalan sejarah diatas tadi, maka yang dimaksud dengan “lanun” itu ialah perompak, rakyat dari Raja Daeng Kemboja yang hendak merampas Negeri Sebilan. Dan Bugis adalah nama negeri asal Daeng Kemboja tadi. Dan memang aneh, kata lanun yang jadi buah nyanyian oleh rakyat Lima Puluh Kota ini tidak dikenal oleh rakyat Luhak Agam dan sedikit oleh rakyat rakyat Luhak Tanah Datar. Karena memang fakta sejarah keturunan anak negeri Sembilan itu sebagian besar berasal dari Luhak Lima Puluh Kota. Nama suku-suku rakyat disana menjadi bukti yang jelas.

Oleh karena Sultan Johor sudah memberikan bantuannya dalam melindungi rakyat Negeri Sembilan ini dari jarahan lanun atau Daeng Kemboja, disebabkan ini pulalah Yang Dipertuan Pagaruyung memberikan bantuan kepada Sultan Johor dalam memberikan bantuan ikut bertempur di Siak untuk memerangi bangsa Aceh. Maka hubungan yang demikian rapat semenjak berabad-abad itu menjadikan hubungan antara negara yang akrab : Negeri Sembilan pada khususnya, Indonesia – Malaysia pada umumnya.

(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka – Tambo Minangkabau)

1. Maharaja yang Bermahkota

Dikatakan pula oleh Tambo, bahwa dalam pelayaran putera-putera Raja Iskandar Zulkarnain tiga bersaudara, dekat pulau Sailan mahkota emas mereka jatuh ke dalam laut. Sekalian orang pandai selam telah diperintahkan untuk mengambilnya. Tetapi tidak berhasil, karena mahkota itu dipalut oleh ular bidai di dasar laut.

Ceti Bilang Pandai memanggil seorang pandai mas. Tukang mas itu diperintahkannya untuk membuat sebuah mahkota yang serupa.

Setelah mahkota itu selesai dengan pertolongan sebuah alat yang mereka namakan “camin taruih” untuk dapat menirunya dengan sempurna. Setelah selesai tukang yang membuatnya pun dibunuh, agar rahasia tidak terbongkar dan jangan dapat ditiru lagi.

Waktu Sri Maharaja Diraja terbangun, mahkota itu diambilnya dan dikenakannya diatas kepalanya. Ketika pangeran yang berdua lagi terbangun bukan main sakit hati mereka melihat mahkota itu sudah dikuasai oleh si bungsu. Maka terjadilah pertengkaran, sehingga akhirnya mereka terpisah.

Sri Maharaja Alif meneruskan pelayarannya ke Barat. Ia mendarat di Tanah Rum, kemudian berkuasa sampai ke Tanah Perancis dan Inggris. Sri Maharaja Dipang membelok ke Timur, memerintah negeri Cina dan menaklukkan negeri Jepang.

2. Galundi Nan Baselo

Sri Maharaja Diraja turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Merapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Lebih ke baruh lagi belum dapat ditempuh karena lembah-lembah masih digenangi air, dan kaki bukit ditutupi oleh hutan rimba raya yang lebat.

Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Kemudian diangsur-angsur membuka tanah untuk dijadikan huma dan ladang. Teratak-teratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai.

Sri Maharaja Diraja menyuruh membuat sumur untuk masing-masing isterinya mengambil air. Ada sumur yang dibuat ditempat yang banyak agam tumbuh dan pada tempat yang ditumbuhi kumbuh, sejenis tumbuh-tumbuhan untuk membuat tikar, karung, kembut dsb. Ada pula ditempat yang agak datar. Ditengah-tengah daerah itu mengalir sebuah sungai bernama Batang Bengkawas. Karena sungai itulah lembah Batang Bengkawas menjadi subur sekali.

Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan “Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun”.

Keturunan Sri Maharaja Diraja dengan “Si Harimau Campa” yang bersumur ditumbuhi agam berangkat ke dataran tinggi yang kemudian bernama “Luhak Agam” (luhak = sumur). Disana mereka membuka tanah-tanah baru. Huma dan teruka-teruka baru dikerjakan dengan sekuat tenaga. Bandar-bandar untuk mengairi sawah-sawah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Keturunan “Kambing Hutan” membuka tanah-tanah baru pula di daerah-daerah Gunung Sago, yang kemudian diberi nama “Luhak 50 Koto” (Payakumbuh) dari luhak yang banyak ditumbuhi kumbuh.

Keturunan “Anjing yang Mualim” ke Kubang Tigo Baleh (Solok), keturunan “Kucing Siam” ke Candung-Lasi dan anak-anak raja beserta keturunannya dari si Anak Raja bermukim tetap di Luhak Tanah Datar. Lalu mulailah pembangunan semesta membabat hutan belukar, membuka tanah, mencencang melateh, meneruka, membuat ladang, mendirikan teratak, membangun dusun, koto dan kampung.

3. Kedatangan Sang Sapurba

Tersebutlah kisah seorang raja bernama Sang Sapurba. Di dalam tambo dikatakan “Datanglah ruso dari Lauik”. Kabarnya dia sangat kaya bergelar Raja Natan Sang Sita Sangkala dari tanah Hindu. Dia mempunyai mahkota emas yang berumbai-umbai dihiasai dengan mutiara, bertatahkan permata berkilauan dan ratna mutu manikam.

Mula-mula ia datang dari tanah Hindu. Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Disana dia jadi menantu raja Lebar Daun. Dari perkawinannya di Palembang itu dia memperoleh empat orang anak, dua laki-laki yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka; dua perempuan yaitu Cendera Dewi dan Bilal Daun.

Pada satu hari Sang Sapurba ingin hendak berlayar menduduki Sungai Indragiri. Setelah lama berlayar, naiklah dia ke darat, akhirnya sampai di Galundi Nan Baselo. Waktu itu yang berkuasa di Galundi Nan Baselo ialah Suri Dirajo, seorang dari keturunan Sri Maharaja Diraja. Suri Diraja tekenal dengan ilmunya yang tinggi, ia bertarak di gua Gunung Merapi. Karena ilmunya yang tinggi dan pengetahuannya yang dalam, ia jadi raja yang sangat dihormati dan disenangi oleh penduduk Galundi Nan Baselo dan di segenap daerah. Ia juga bergelar Sri Maharaja Diraja, gelar yang dijadikan gelar keturunan raja-raja Gunung Merapi.

Anak negeri terheran-heran melihat kedatangan Sang Sapurba yang serba mewah dan gagah. Orang banyak menggelarinya “Rusa Emas”, karena mahkotanya yang bercabang-cabang. Oleh karena kecerdikan Suri Dirajo, Sang Sapurba dijadikan semenda, dikawinkan dengan adiknya bernama Indo Julito. Sang Sapurba adalah seorang Hindu yang beragama Hindu. Dia menyembah berhala. Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai sekarang masih bernama Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah Hiyang / Dewa). Dan disitu juga terdapat sebuah candi buatan dari tanah tempat orang-orang Hindu beribadat. Ada juga yang mengatakan tempat itu adalah tempat beriang-riang.

4. Raja yang Hanya Sebagai Lambang

Sang Sapurba lalu dirajakan dengan memangku gelar Sri Maharaja Diraja juga. Tetapi yang memegang kendali kuasa pemerintahan tetap Suri Dirajo sebagai orang tua, sedangkan sang sapurba hanya sebagai lambang.
Untuk raja dengan permaisurinya dibuatkan istana “Balairung Panjang” tempatnya juga memerintah. Istana ini konon kabarnya terbuat dari : tonggaknya teras jelatang, perannya akar lundang, disana terdapat tabuh dari batang pulut-pulut dan gendangnya dari batang seleguri, getangnya jangat tuma, mempunyai cenang dan gung, tikar daun hilalang dsb.

Karena Pariangan makin lama makin ramai juga Sang Sapurba pindah ke tempat yang baru di Batu Gedang. Seorang hulubalang yang diperintahkan melihat-lihat tanah-tanah baru membawa pedang yang panjang. Banyak orang kampung yang mengikutinya. Mereka menuju ke arah sebelah kanan Pariangan. Terdapatlah tanah yang baik, lalu dimulai menebang kayu-kayuan dan membuka tanah-tanah baru. Selama bekerja hulubalang itu menyandarkan pedang yang panjang itu pada sebuah batu yang besar. Banyak sekali orang yang pindah ke tempat yang baru itu. Mereka berkampung disitu, dan kampung baru tempat menyandarkan pedang yang panjang itu, sampai sekarang masih bernama Padang Panjang.

Lama kelamaan Padang Panjang itu jadi ramai sekali. Dengan demikian Pariangan dengan Padang Panjang menjadi sebuah negeri, negeri pertama di seedaran Gunung Merapi di seluruh Batang Bengkawas, yaitu negeri Pariangan Padang Panjang. Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang cerdik pandai. Ditanam dua orang untuk Pariangan dan dua orang pula untuk Padang Panjang. Masing-masing diberi pangkat “penghulu” dan bergelar “Datuk”. · Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo untuk Pariangan · Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa untuk Padang Panjang. Orang-orang yang berempat itulah yang mula-mula sekali dijadikan penghulu di daerah itu. Untuk rapat dibuat Balai Adat. Itulah balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan.

5. Sikati Muno

Seorang orang jahat yang datang dari negeri seberang tiba pula di daerah itu. Karena tubuhnya yang besar dan tinggi bagai raksasa ia digelari orang naga “Sikati Muno” yang keluar dari kawah Gunung Merapi.

Rakyat sangat kepadanya dan didongengkan mereka, bahwa naga itu tubuhnya besar dan panjangnya ada 60 depa dan kulitnya keras. Ia membawa bencana besar yang tidak terperikan lagi oleh penduduk. Kerjanya merampok dan telah merusak kampung-kampung dan dusun-dusun. Padi dan sawah diladang habis dibinasakannya. Orang telah banyak yang dibunuhnya, laki-laki, perempuan dan gadis-gadis dikorbankannya. Keempat penghulu dari Pariangan-padang Panjang diutus Suri Drajo menghadap Sang Sapurba di Batu Gedang tentang kekacauan yang ditimbuklan oleh Sikati Muno. Untuk menjaga prestisenya sebagai seorang semenda, Sang Sapurba lalu pergi memerangi Sikati Muno. Pertarungan hebat pun terjadi berhari-hari lamanya. Pedang Sang Sapurba sumbing-sumbing sebanyak seratus sembilan puluh. Akhirnya naga Sikati Muno itu mati dibunuh oleh Sang Sapurba dengan sebilah keris. Keris tersebut dinamakan “Keris Sikati Muno”, keris bertuah, tak diujung pangkal mengena, jejak ditikam mati juga.

Sejak itu amanlah negeri Pariangan-Padang Panjang, dan semakin lama semakin bertambah ramai. Oleh sebab itu Sang Sapurba memerintahkan lagi mencari tanah-tanah baru. Pada suatu hari raja sendiri pergi keluar, melihat-lihat daerah yang baik dijadikan negeri. Dia berangkat bersama-sama dengan pengiring-pengiringnya. Ia sampai pada suatu tempat mata air yang jernih keluar dari bawah pohon tarab. Sang Sapurba berpikir, tanah itu tentu akan subur sekali dan baik dijadikan negeri. Lalu diperintahkannyalah membuka tanah-tanah baru ditempat itu. Sampai sekarang tanah itu dinamakan Sungai Tarab. Kemudian hari jadi termasyhur, tempat kedudukan “Pamuncak Koto Piliang” Dt. Bandaharo di Sungai Tarab. Selain itu raja menemui pula setangkai kembang teratai di daerah itu, kembang yang jadi pujaan bagi orang-orang Hindu. Raja menyuruh mendirikan sebuah istana di tempat itu. Setelah istana itu siap raja lalu pindah bertahta dari Pariangan-Padang Panjang ke tempat yang baru itu, yang kemudian dinamakan negeri Bungo Satangkai, negeri yang kedua sesudah Pariangan-Padang Panjang.

(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka – Tambo Minangkabau)