Archive for the ‘Feminisme’ Category

Tokoh-tokoh gender di Aceh tidak ada alasan yang kuat untuk mempelopori atau mengikuti konsep-konsep pembebasan gender yang diusung oleh NGO-NGO asing di Aceh yang membawa isu gender ala barat, kenapa?

Oleh: Effendi Hasan | Mahasiswa S3 Universiti Kebangsaan Malaysia.

A
KHIR-akhir ini persoalan gender merupakan persoalan yang sangat menarik untuk diperdebatkan serta dibicarakan terutama dikalangan wanita Aceh paska tsunami dan perjanjian Helsinki dengan menjamurnya NGO-NGO di Aceh yang telah membawa agenda gender sebagai program yang mereka usung. Malah ada di antara NGO-NGO tersebut dengan sangat berani tidak meluluskan suatu program yang  diajukan kepada mereka kalau tidak memasukkan isu gender dalam setiap kegiatan. Ada apa sebenarya dengan gender ini?. Apakah hak-hak wanita Aceh telah ditindas sehingga tokoh-tokoh gender Aceh dan NGO asing (baca: Barat) berlomba-lomba menuntut dan memperjuangkan hak tersebut. Kalaupun benar hak-hak wanita Aceh ditindas, siapa yang telah menindasnya?. Benarkan kaum laki-laki Aceh telah menindas dan melakukan kekejaman terhadap wanita ketika mereka memerintahkan isteri-isterinya dan anak-anak perempuannya untuk bekerja dan tinggal di rumah?.

Inilah pertanyaan yang harus kita pertanyakan terutama kepada tokoh-tokoh gender di Aceh, sehingga mereka tidak tergesa-gesa menjalankan agenda pembebasan yang diperjuangkan oleh wanita-wanita barat dengan melabelkan isu pembebasan wanita. Sedangkan dibalik itu mereka mempunyai misi perjuangan pembebasan untuk menceraikan beraikan kehidupan wanita, generasi dan rumah tangga orang Islam. Bukankah Islam telah meletakkan kedudukan wanita sangat mulia, sehingga Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan ”Surga berada di bawah telapak kaki ibu”. Bukankah hadist ini merupakan penghormatan yang sangat luar biasa kepada kaum wanita sebagai pembina dan pendidik generasi bangsa.

Menurut penulis, sebenarya tokoh-tokoh gender di Aceh tidak ada alasan yang kuat untuk mempelopori atau mengikuti konsep-konsep pembebasan gender yang diusung oleh NGO-NGO asing di Aceh. Sebab bila kita membuka kembali sejarah perjuangan dan peranan perempuan dalam konteks keacehan, kita mendapati bagaimana peranan perempuan Aceh dalam perjalanan politik menjadi suatu hal yang sangat kita banggakan. Perempuan-perempuan Aceh telah pernah menjadi pemimpin negara maupun pemimpin perlawanan dalam sejarah Aceh yang gemilang. Di Aceh telah pernah lahir pahlawan-pahlawan dari kaum perempuan yang sangat gagah perkasa seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhian, Cut Mutia dll yang bahu-membahu dengan kaum laki-laki dalam mengusir para penjajah. Hal ini sangat jauh berbeda bila kita coba bandingkan dengan daerah lain di Indonesia sehingga apakah hal ini tidak cukup menjadi satu bukti bahwa kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan telah pernah dilakukan oleh pahlawan-pahlawan Aceh sebelum datang dan berkembangnya gerakan pembebasan wanita yang dipelopori oleh barat?.

Walaupun demikian, kita harus sama-sama mengakui selama lebih dari tiga dasarwarsa terakhir bahwa kedudukan perempuan Aceh telah memasuki masa kelam. Hal ini diakibatkan konflik berkepanjangan yang melanda Aceh. Konflik ini ditenggarai telah meruntuhkan semangat perlawanan kaum perempuan Aceh dikarenakan mereka menjadi target utama era DOM 1989-1998. Tapi lambat laun, era suram itu telah berganti dan secara perlahan semangat Cut Nyak Dhien dan Laksamana Malahayati telah mulai terasa kembali dalam percaturan politik di Aceh. Perempuan Aceh masih berpeluang besar untuk bangkit dan mengambil peran yang dominan dalam percaturan politik, pembangunan ekonomi, sosial dan budaya Aceh. Jadi tidak mesti terus berkutat di sekitar sumur, dapur, kasur.

Tapi, yang menjadi pertanyaan kita semua, mengapa masih ada sebagian tokoh gender di Aceh masih mengikuti dan mempelopori konsep-konsep pembebasan gender ala barat?. Tidak cukupkah bagi tokoh gender Aceh untuk mencoba mengulangkaji sejarah kegagahan dan peranan kesetaraan gender yang telah dipelopori oleh pahlawan dan tokoh perlawanan perempuan Aceh dahulu, dimana peranan mereka justru melebihi dari tokoh-tokoh pembebasan gender dari barat itu sendiri. Atau memang sebaliknya tokoh gender Aceh takut di anggap kolot oleh tokoh gender barat karena masih berpegang teguh pada nilai-nilai dan tradisi perjuangan tokoh-tokoh wanita dan pahlawan perempuan Aceh tempoe doeloe?.  Atau malah tokoh-tokoh gender Aceh sengaja mengadaikan nilai-nilai tradisi dan maruah bangsa keacehan karena mengharapkan bantuan atau dana yang berlimpahan dari NGO asing yang akan di berikan kepada mereka dengan menjalankan agenda gender?.

Inilah fenomena baru di Aceh paska tsunami dan perjanjian Helsinki. Kita terlalu mudah untuk melahap semua yang datang dari barat karena mengharapkan dana dan kepentingan materi sesaat. Seakan-akan kita telah menganggap tradisi dan budaya hidup ala barat bagia dari dari kehidupan sehari-hari bangsa Aceh. Kalau kita mau contoh kehidupan bangsa Jepang, maka pertanyaanya mengapa orang Aceh tidak mengikuti cara hidup masyarakat Jepang saja dimana orang Jepang mencapai kecermelangan dan kemajuan justru dengan tetap berpegang teguh pada tradisi dan nilai-nilai budaya asli mereka. Mereka tidak pernah menerima nilai-nilai serta budaya yang datang dari barat bulat-bulat.

Konsep Gender
Istilah gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti “jenis kelamin”. Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang kentara antara laki-laki dan perempuan bila dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Sedangkan Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men). Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender atau sering disebut juga dengan What a given society defines as masculine or feminin is a component of gender. Sedangkan H. T. Wilson dalam Sex and Gender mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan.

Agak sejalan dengan pendapat yang dikutip Showalter yang mengartikan gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa dimana kita dapat menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu atau istilah lain Gender is an analityc concept whose meanings we work to elucidate, and a subject matter we proceed to study as we try to define it ( Juliet Mitchell,1971:11).

Secara umum istilah gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka istilah sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex ini lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Pengertian gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) atau feminitas (femininity) seseorang.

Berbeda dengan pengertian sex yang lebih menekankan kepada aspek anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness) dan perempuan (femaleness). Proses pertumbuhan anak (child) menjadi seorang laki-laki (being a man) atau menjadi seorang perempuan (being a woman), lebih banyak digunakan istilah gender daripada istilah sex. Istilah sex umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual (love-making activities), selebihnya digunakan istilah gender (Floyd T.Cullop, 1969:87).

Sebenarnya persoalan gender mulai dibicarakan sejak kaum wanita itu ditempatkan dalam semua aspek kajian. Persoalan wanita merupakan suatu persoalan yang sangat menarik dan telah mulai dibicarakan semenjak Nabi Adam. Di mana setelah Nabi Adam dijadikan Allah SWT, beliau merasa kesunyian dalam menempuh hidupnya di dalam syurga, sehingga meminta kepada Allah agar menciptakan seorang pendamping hidupnya. Kemudian Allah menjadikan Hawa dari tulang rusuk kiri Nabi Adam untuk menjadi teman hidupnya dan seterusnya melahirkan keturunan di muka bumi sampai sekarang. Walapun akhirnya kedua pasangan ini harus meninggalkan syurga dan di asingkan kebumi. Kisah penurunan Adam dari surga kemuka bumi turut menjadi satu pembicaraan karena kesilapan Hawa yang telah tergoda dengan rayuan syaitan sehingga mengundang kemurkaan Allah (Irwan Abdullah 1997:63).

Dari konsep-konsep gender inilah kemudian menjadi landasan lahir serta berkembangnya pendekatan-pendekatan feminisme. Konsep feminisme dari sudut terminologi adalah kata dasar feminine yang mengandung arti wanita dan kewanitaan. Feminine adalah suatu gerakan yang memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Pengertian ini seperti yang terkandung dalam kamus Oxford Advance Learner’s Dictionary, Oxford University Press 1995: 428 dan kamus The Encyclopedia Americana, Americana, Coperation, USA 1970: 107. Dari sudut etimologi konsep ini bisa disebut sebagai suatu pergerakan yang bersifat kebudayaan yang tersebar luas dengan tujuan untuk memelihara keseimbangan yang sempurna antara laki-laki dan perempuan dalam menikmati atau melaksanakan semua hak kemanusian seperti moral, agama, sosial, politik, pendidikan, hukum dan ekonomi.

Konsep feminisme juga bisa di definisikan sebagai suatu kesadaran terhadap lahirnya ketidakseimbangan buatan manusia antara wanita dan laki-laki  dalam kehidupan masyarakat dan keinginan untuk melakukan sesuatu bagi meminimalkan dan  seterusnya menghapuskan ketidakseimbangan tersebut ( Ghazali Mahyuddin 1999: 44).

Sedangkan feminisme dalam konteks perspektif barat adalah suatu kepercayaan di mana wanita  mempunyai persamaan dari segi ekonomi politik dan sosial dengan laki-laki. Perkataan feminisme juga memberi suatu pengertian yang mengandung arti suatu gerakan politik yang memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Pergerakan ini juga dikenal dengan istilah women’s Liberation Movement (pergerakan pembebasan wanita) atau sering juga disebut dengan Women’s Right Movement (pergerakan hak-hak wanita). Menurut pendapat Indriatry Ismail (1995:42), diantara feminisme dan gerakan pembebasan wanita mempunyai landasan yang sama yaitu perjuangan untuk menuntut persamaan hak untuk wanita serta meletakkan mereka pada status yang seimbang dengan laki-laki serta memberikan kebebasan untuk memilih dalam pekerjaan serta mencorakkan kehidupana masing-masing.

Walaupun demikian, dari sudut tujuan  gerakan, feminisme adalah semata-mata untuk untuk membela kebebasan hak wanita (advocating women’s right). Sedangkan gerakan pembebasan wanita bertujuan untuk membela kebebasan yang sempurna terhadap wanita (advocating of the full freedom of women). Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Gender dalam pengertian ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati.

Kemudian benarkan gerakan gender yang di perjuangkan oleh wanita-wanita barat merupakan satu strategi untuk menghancurkan institusi rumah tangga dan menghancurkan martabat wanita-wanita Islam?. Hal ini bukan sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan atau sengaja di rekayasa untuk semata-mata mempersempit makna gerakan pembebasan gender yang di pelopori oleh wanita barat. Akan tetapi ini merupakan satu keadaan berdasarkan bukti dari kebimbangan dari Maryam Jamilah, seorang Yahudi yang telah menjadi tokoh Islam yang terkenal dengan ungkapannya ”Walaupun saya percaya wanita perlu mendapat pendidikan agar ia dapat mengunakan seluruh kemampuan dan kebijaksanaanya, namun saya tetap mempersoalkan tentang efek dari gerakan gender yang dipelopori oleh wanita barat yang ingin mengeluarkan kaum wanita dari lingkungan rumahtangga, terutama mereka  yang mempunyai anak-anak yang masih kecil untuk turut bersaing dengan kaum laki-laki di kantor-kantor dan pabrik-pabrik. Sedangkan tugas mengasuh dan mendidik anak-anak itu diserahkan saja kepada rumah-rumah asuhan dan pembantu. Inilah keadaan yang berlaku di Rusia dan Cina Komunis, di mana konsep pembebasan wanita segaja digunakan oleh golongan pemerintah untuk menghancurkan ikatan kekeluargaan (Zainon Jaafar, 1976:34).

Keresahan Maryam Jamilah juga dirasakan oleh tokoh-tokoh atau ahli-ahli pikir barat seperti Filosof Bertnand Russel yang menjelaskan ”Suatu keluarga menjadi hancur karena keterlibatan kaum wanita dalam kerja-kerja umum. Pendapat Russel ini turut didukung oleh Prof. Arnold Toynbee dengan penjelasannya ”Dalam sejarah abad-abad keruntuhan, biasanya terjadi apabila kaum wanita telah meninggalkan rumah. Sedangkan seorang tokoh Filsafat Inggris yang dinamis, Prof.C,E, M. Joad, yang merupakan seorang pendukung gerakan pembebasan wanita sekaligus pemimpin persatuan politik kaum laki-laki untuk mendapat hak sama dengan kaum perempuan, tetapi akhirnya terpaksa mengakui kesilapan dari gerakan gender dengan kata-katanya yang bernas ”Saya percaya dunia akan lebih bahagia kalau wanita merasa puas untuk menjaga rumahtangga dan mendidik anak-anak mereka. Walaupun untuk melakukan hal ini harus terpaksa mengalami penurunan tingkat kehidupan. Demikian juga semakin banyaknya kaum wanita bekerja bersama-sama dengan kaum laki-laki akan diambil kesempatan oleh sebahagian suami untuk berselingkuh dengan mereka“.

Gejala ini diperjelas oleh seorang hakim wanita dari Amerika, Beatric Mullaney, yang menjelaskan ”Kaum wanita dapat  dianggap sebagai hampir bulat-bulat bertanggung jawab kepada keruntuhan moral di Amerika Serikat, kaum wanita begitu terburu-buru untuk mendapatkan kebebasan yang beraneka ragam yang dipelopori oleh Wome’s Liberation dan hasilnya penceraian dan perpecahan rumah tangga dan keluarga. Dalam tempo 20 tahun saya sebagai seorang hakim yang telah mengendalikan lebih dari pada 10.000 ribu kasus penceraian serta masalah pemeliharaan anak-anak. Saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa kerusakan akhlak, terutama dalam masalah rumah tangga seperti melarikan diri dari tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak di sebabkan oleh kaum wanita.(Abd Rahman Hj Abdullah 1976: 17-18).

Sementara itu Maulana Al-Maududi, seorang tokoh Islam yang terkemuka dari Pakistan menilai bahwa gerakan pembebasan yang dipelopori oleh wanita barat telah menyebabkan kaum wanita hilang sifat kewanitaannya. Kaum wanita banyak melakukan tugas-tugas serta kerja–kerja yang tidak cocok dengan tabiat kewanitaannya. Pendapat beliau ini memang sangat bernas dengan keadaan sekarang ini yang sedang menimpa kaum perempuan di seluruh penjuru dunia akibat pengaruh gerakan gender dari barat termasuk Aceh.

Lebih lanjut Maulana Al-Maududi menjelaskan ”Peranan sosial yang dipaksa agar di jalankan oleh wanita  barat itu pada hakikatnya bukanlah suatu pembebasan malah merupakan suatu penyelewengan dan perhambaan, akibat dari propaganda yang tidak benar dan mengelirukan itu, kaum wanita sedang coba memusnahkan kewanitaanya mereka sendiri. Kini mereka memandang aib untuk hidup secara natural dengan sifat sebagai seorang wanita dengan melaksanakan tugas-tugas yang cocok dengan tabiat yang telah di bagikan oleh Allah. Dan sebagai gantinya mereka mencari kehormatan di dalam merebut pekerjaan laki-laki.

Dari penjelasan Maulana Al-Maududi jelas menjadi bukti begitu kuatnya pengaruh gender barat terhadap kaum wanita, sehingga ada indikasi; pertama menghendaki kaum wanita memikul beban hidup seorang diri. Kedua, menyeru kaum wanita keluar melaksanakan aneka tangungjawab kaum laki-laki. Selain itu, kampanye-kampanye yang sama juga telah dilancarkan oleh pejuang gender barat untuk mempengaruhi kaum wanita diseluruh dunia terutama di negara-negara Islam agar mereka merasa dirinya lebih menarik daripada kaum laki-laki. Dengan demikian kaum wanita melakukan sesuatu yang dapat merusak kesopanan dengan menampakkan  kecantikan tubuh dan berpakaian yang seksi ala barat, sehingga ujung-ujungnya kaum perempuan telah dijadikan barang mainan ditangan laki-laki. Dasar pembagian tugas yang berdasarkan ciri-ciri fisikal dan sifat-sifat keibuan wanita inilah pada hari ini telah diselewengkan oleh pejuang-pejuang wanita barat yang mereka anggap ini sebagai suatu penindasan terhadap kaum wanita (Zainon Jaafar, 1975:35-36).

Dengan demikian, jelaslah bahwa perjuangan gender yang dipelopori wanita–wanita barat telah menimbulkan resiko yang sangat besar bagi kaum wanita itu sendiri. Hal ini bukan saja seperti yang telah di jelaskan oleh para pemikir di atas, akan tetapi secara realita kita juga dapat melihat apa yang terjadi di negara kita, baik di Aceh maupun di wilayah lain di Indonesia. Kejadian-kejadian atau masalah-masalah yang menimpa kaum wanita, baik perkosaan, pelecehan seksual, penipuan, pelacuran dan perdangangan gadis-gadis cantik sebagai pelayan seksual merupakan imbas dari isu gender ala barat.

Di samping itu banyak juga gadis-gadis atau generasi muda yang terjebak dan akhlaknya rusak akibat ketagihan narkotika dan lain sebagainya akibat gender barat. Siapa yang harus disalahkan, bukankah ini yang diinginkan oleh pejuang-pejuang gender barat agar generasi Islam menjadi rusak. Kalau kita telah melihat contoh-contoh ini, mengapa masih ada tokoh-tokoh gender atau wanita-wanita Islam secara umumnya dan Aceh khususnya mengikuti budaya atau mempelopori konsep serta ajaran-ajaran dari barat yang telah jelas membawa musibah bagi kita. Bukankah agama Islam telah mengatur berbagai aturan dan cara hidup bagi orang Islam khusunya bagi kaum laki-laki dan perempuan serta pembagian tugas diantara mereka?. Di mana kaum perempuan berfungsi sebagai pendamping kaum laki-laki dengan tanggungjawab membina keluarga dan menjaga nilai-nilai utama keluarga. Persoalan mencari nafkah merupakan kewajiban serta tanggungjawab kaum laki-laki. Demikian juga Islam telah memberi batasan-batasan kepada kaum wanita agar tidak menjadi mangsa pemuas nafsu seksual laki-laki dengan ajaranya memerintahkan kepada kaum-kaum wanita untuk berpakaian yang sopan dan tidak menampakkan aurat ketika mereka keluar dari rumah?. Bukan seperti pakaianya para pejuang gender ala barat! Wallahu’alam. (Effendi Hasan)

Sumber : http://web.acehinstitute.org/

Iklan

Marilah Kita Dudukkan Masalahnya

Perbedaan makna kata betina dengan wanita atau betina dengan perempuan itu sudah jelas bagi kita. Akan tetapi, apa beda antara wanita dan perempuan ini yang belum jelas!

Telaah ini memang mencoba mendudukkan posisi tiap kata, kapan orang harus menggunakannya sesuai dengan kandungan semantisnya dan maksud yang diinginkan. Dengan demikian, diharapkan segera bisa dijawab saat harus memilih manakah yang tepat: “Darma Wanita” ataukah “Darma Perempuan”, “Pemberdayaan Perempuan” ataukah “Pemberdayaan Wanita”, misalnya.

Telaah dilakukan berdasarkan arti kata leksikal dasarnya, menurut kamus (semantik leksikal) (cf. Hurford dan Heasley, 1984). Lalu, penjelajahan arti akan dilengkapi dengan memanfaatkan beberapa hasil penelitian yang ada, terutama tentang sejarah perubahan makna kata (semantik historis) (Palmer, 1986: 8-11). Kajian ini juga akan melihat bagaimana arti kata dalam pemakaian (pragmatik). Data dijaring dengan teknik dokumentasi acak dari kamus dan teknik studi pustaka terhadap tulisan yang relatif lama serta teknik rekaman tuturan keseharian. Dengan metode deskriptif, data akan dianalisis dengan teknik eksplanatori-komparatif, yang akan menjelasan perbandingan arti kata antarwaktu.

Apa Arti Betina?

Kata betina diduga kuat berhubungan dengan kata batina dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) (“Kamus Jawa Kuno Indonesia”, Mardiwarsito, 1986). Bahasa Kawi sendiri kemungkinan besar menyerapnya dari bahasa Sanskrit (Sanskerta). Relasi fonis batina dengan betina beranalogi dengan relasi fonis mahardika-mardika-merdeka ‘bebas’. Mungkin ini juga analog dengan saksama-seksama (?).

Menurut “Kamus Dewan” (KD) (Iskandar, 1970: 114), kata betina merupakan antonim jantan. Dalam pemakaiannya, betina cocok dilekatkan sebagai pemarkah jenis (gender) binatang atau benda yang tidak hidup. Misalnya dalam bahasa Indonesia (Melayu) kita temui ayam betina, singa betina, bunga betina, dan embun betina.

Tidak jauh berbeda dengan KD, “Kamus Besar Bahasa Indonesia” (KBBI) (Tim, 1988: 111) menambahi satu makna lagi untuk betina, yakni ‘sanak keponakan dari istri’. Ada dua hal yang dapat dicatat dari tambahan acuan di sini. Pertama, istilah “sanak keponakan” menunjukkan posisi generasi lebih muda. Sebagai yang lebih muda, tentu dia tetap berada di bawah generasi lebih tua. Kedua, pernyataan “dari istri” berarti bahwa yang dipandang bawah, yunior, itu karena istri, dan istri selalu perempuan! Oleh karena itu, ini juga menyiratkan muatan semantis bahwa apa yang datang dari istri (bukan suami) akan ditempatkan di bawah suami.

Sebagai nama jenis kelamin binatang, betina tidak mengundang persoalan; netral saja. Tidak ada muatan nuansa apa pun. Bagaimana seandainya kata ini dipakai untuk manusia? Ini baru masalah! Jika dikaitkan dengan aktivitas, keberadaan, dan sifat manusia, artinya menjadi tidak netral lagi. Peribahasa Melayu “Baik jadi ayam betina sepaya selamat” (Iskandar, 1970: 114), misalnya, berarti ‘kita tak usah menonjolkan keberanian sebab hanya mendatangkan kesusahan belaka’; dengan kata lain, ‘sebaiknya kita diam, tak usah macam-macam, hindarilah tantangan’. Dengan demikian “bersikap betina” justru dinilai positif dalam pandangan lama.

Bisa dimengerti, sebagai peribahasa Melayu Kuno, kandungan nilai peribahasa ini juga tradisional, konvensioanl, dan feodal. Dalam pandangan tradisional, sikap individualistik mesti dihindari (cf. Dananjaya, 1984). Ini jelas bertolak belakang dengan pandangan modern, yang menempatkan eksistensi individu pada tempat yang diakui. Oleh karena itu, penonjolan individu tidak selalu jelek, bergantung pada konteks kepentingannya.

Dalam pemakaiannya sekarang, kata betina yang dikenakan pada manusia akan menemukan makna buruk. Misalnya pada wacana berikut:

(1) Kamu ini kok cerewet banget sih. Urus saja diri sendiri. Ngapain tanya urusan orang segala. Dasar betina!
(2) Winda benar-benar betina, yang nafsunya terlampau besar, hingga tak pernah puas hanya dengan satu lelaki suaminya itu.

Dalam wacana (1), kalimat “Dasar betina” bermakna negatif: ‘cerewet, usil, mau tahu urusan orang saja’. Dalam kalimat (2), pernyataan “benar-benar betina”, berdasarnya konteks kalimatnya, berarti “minor” juga: ‘nympomania’. Di sini Winda digambarkan sebagai perempuan yang bernafsu menggebu-gebu, selingkuh dengan lelaki lain. Pada konteks inilah betina menemukan makna buruknya. Harus diakui bahwa semua pandangan ini tidak pernah bebas dari stereotipe gender perempuan dari masyarakat kita (Kweldju, 1993). Maka, dalam kondisi apa pun tak pernah ada yang senang disebut betina. Dengan demikian, yang muncul adalah Darma Wanita (organisasi ibu-ibu pegawai) dan Bukan Perempuan Biasa dan tentulah tentu bukan “*Darma Betina” atau pun “*Bukan Betina Biasa”.

Singkat kata, kata betina memuat makna (1) ‘jenis kelamin binatang’, (2) ‘cerewet, usil, dan (3) ‘haus seks’, serta (4) ‘generasi yunior dari garis istri’.

Apa Arti Wanita?

Sejarah kontemporer bahasa Indonesia, ya sekarang ini, mencatat bahwa kata wanita menduduki posisi dan konotasi terhormat. Kata ini mengalami proses ameliorasi, suatu perubahan makna yang semakin positif, arti sekarang lebih tinggi daripada arti dahulu (“Kamus Linguistik”, Kridalaksana, 1993: 12).

Menurut KD (1970: 1342), kata wanita merupakan bentuk eufemistis dari perempuan. Pada halaman yang sama, dicontohkan frase wanita-wanita genit. Contoh ini paradoksal. Sebab, jika wanita berupakan bentuk halus, mengapa ada kata genit-nya, sesuatu yang jelas tidak halus. Tetapi, ini juga menyiratkan pandangan bahwa kata itu memang khas untuk manusia (perempuan), bukan lelaki, binatang, demit, ataukah benda lain.

Kata kewanitaan, yang diturunkan dari wanita, berarti ‘keputrian’ atau ‘sifat-sifat khas wanita’. Sebagai putri (wanita di lingkungan keraton), setiap wanita diharapkan masyarakatnya untuk meniru sikap laku, gaya tutur, para putri keraton, yang senantiasa lemah gemulai, sabar, halus, tunduk, patuh, mendukung, mendampingi, mengabdi, dan menyenangkan pria. Dengan kata wanita, benar-benar dihindari nuansa ‘memprotes’, ‘memimpin’, ‘menuntut’, ‘menyaingi’, ‘memberontak’, ‘menentang’, ‘melawan’. Maka, bisa dimengeri bahwa yang muncul dipilih sebagai nama organisasi wanita bergengsi nasional adalah “Darma Wanita”, sebab di sinilah kaum wanita berdarma, berbakti, mengabdikan dirinya pada lembaga tempat suaminya bekerja. Maka, program kerjanya pun harus selalu mendukung tugas-tugas dan jabatan suami,1) jangan bermimpi bisa independen memang bukan itu misinya.

Dalam KBBI (1988: 1007), wanita berarti ‘perempuan dewasa’. Sama seperti halnya KD, meski dengan redaksi lain, KBBI pun mendefinisikan kewanitaan (bentuk derivasinya) sebagai “yang berhubungan dengan wanita, sifat-sifat wanita, keputrian”. Muatan makna aktif, menuntut hak, radikal, tak ada dalam arti kata ini.

Berdasarkan “Old Javanese English Dictionary” (Zoetmulder, 1982), kata wanita berarti ‘yang diinginkan’. Arti ‘yang dinginkan’ dari wanita ini sangat relevan dibentangkan di sini. Maksudnya, jelas bahwa wanita adalah ‘sesuatu yang diinginkan pria’. Wanita baru diperhitungkan karena (dan bila) bisa dimanfaatkan pria. Sudut pandangnya selalu sudut pandang “lawan mainnya”, ya pria itu. Jadi, eksistensinya sebagai makhluk Tuhan menjadi nihil. Dengan demikian, kata ini berarti hanya menjadi objek (bagi lelaki) belaka. Adakah yang lebih rendah dari “hanya menjadi objek”?

Makna wanita sebagai ‘sasaran keinginan pria’ juga dipaparkan oleh Prof. Dr. Slametmuljana dalam “Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara” (1964: 59–62). Kata wanita, dalam bahasa aslinya (Sanskerta), tulisnya, bukan pemarkah (marked) jenis kelamin. Dari bahasa Sanskerta vanita, kata ini diserap oleh bahasa Jawa Kuno (Kawi) menjadi wanita, ada perubahan labialisasi dari labiodental ke labial: [v]–>[w]; dari bahasa Kawi, kata ini diserap oleh bahasa Jawa (Modern); lalu, dari bahasa Jawa, kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia. Setelah diadopsi bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, kata ini mengalami tambahan nilai positif.

Ada juga pandangan lain, yang cukup “menyakitkan”, yakni bahwa kata wanita bukanlah produk kata asli (induk). Kata ini hanyalah merupakan hasil akhir dari proses panjang perubahan bunyi (yang dalam studi linguistik sering disebut gejala bahasa) metatesis2) dan proses perubahan kontoid3) dari kata betina. Urutan prosesnya demikian. Mula-mula kata betina menjadi batina; kata batina berubah melalui proses metatesis menjadi banita; kata banita mengalami proses perubahan bunyi konsonan (kontoid) dari [b]–>[w] sehingga menjadi wanita. Maka, memang aneh bin ajaib, bahwa kata yang demikian kita hormati, bahkan kita letakkan pada tempat tinggi di atas kata perempuan ini, maksudnya ya wanita itu, ternyata berasal dari kata rendah betina.

Mungkin karena itulah, organisasi “Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia” (Iwapi) sering dipelesetkan artinya tentu saja, oleh pria menjadi “Iwak-e Papi-papi”, “Dagingnya bapak-bapak” atau “Lauknya Bapak-bapak” seakan wanita itu tak lebih dari “daging” atau “lauk-pauk” yang bisa dikonsumsi oleh pria. Dalam karier militer pun, dipakai wanita. Misalnya saja “Korps Polisi Wanita” (Polwan, 1948), “Korps Wanita Angkatan Darat” (Kowad, 1961), “Korps Wanita Angkatan Laut” (Kowal, 1962), “Korps Wanita Angkatan Udara” (Wara, 1963). Meskipun begitu, pelecehen keterlibatan dan kemampuan wanita dalam tubuh ABRI pun masih terjadi. Terang-terangan memang tidak, tetapi ada dalam bentuk ungkapan humor di masyarakat (Dananjaya, 1984), misalnya berikut ini.

Seorang komandan serdadu pada suatu front peperangan memerintahkan penarikan mundur khusus serdadu wanita. Alasannya, mereka melanggar disiplin medan. Serdadu-serdadu wanita, yang merasa tidak membuat kesalahan disiplin militer, memprotes ramai-ramai. “Kesalahan??? Kesalahan apa itu, Komandan? Ini tidak adil!” Jawab Komandan dengan kalem, “Kamu sih, setiap diberi komando � ‘tiaraaap …’, ee kamu malah terlentang.”

Ini merupakan pantulan realitas bahwa apa pun yang dilakukan wanita tetaplah tak sanggup menghapus kekuasaan pria. Wanita berada dalam alam tanpa otonomi atas dirinya. Begitulah inferioritas wanita akan selalu menderita gagap, gagu, dan gugup di di bawah gegap gempitanya superioritas pria.

Berdasarkan etimologi rakyat Jawa (folk etimology, jarwodoso atau keratabasa, kata wanita dipersepsi secara kultural sebagai ‘wani ditoto’; terjemahan leksikalnya ‘berani diatur’; terjemahan kontekstualnya ‘bersedia diatur’; terjemahan gampangnya ‘tunduklah pada suami’ atau ‘jangan melawan pria’. Dalam hal ini wanita dianggap mulia bila tunduk dan patuh pada pria. Sering ada ungkapan “pejang gesang kula ndherek” (hidup atau mati, aku akan ikut suami), “swargo nunut, neraka katut” (suami masuk surga aku numpang, suami masuk neraka aku terbawa). Ternyata anggapan Jawa ini merasuk kuat dalam bahasa Indonesia. Kesetiaan wanita dinilai tinggi, dan soal kemandirian wanita tidak ada dalam kamus. Karenanya, dalam bahasa Indonesia kata wanita bernilai lebih tinggi sebab, kata Ben Anderson (1966), bahasa Indonesia mengalami “jawanisasi” atau “kramanisasi”: kulitnya saja bahasa Melayu yang egaliter, tetapi rohnya bahasa Jawa yang feodal itu.

Dalam persepsi kultural Jawa pulalah, kata wanita menemukan perendahan martabat ketika ia “dipakai” salah satu barang klangenan (barang-barang untuk pemuasaan kesenangan individu). Jargon lengkap populernya adalah harta, senjata, tahta, wanita. Lelaki Jawa, menurut persepsi Jawa ini, baru benar-benar mampu menjadi lelaki sejati, lelananging jagat, bila telah memiliki kekayaan berlimpah (harta), melengkapi diri dengan kesaktian dan senjata (senjata), agar dapat memasuki kelas sosial yang lebih tinggi, priyayi (tahta), dan semuanya baru lengkap bila sudah memiliki banyak wanita, entah sebagai istri sah entah sekadar selir atau gundik4). Di sini tampak benar bahwa manusia wanita disederajatkan dengan benda-benda mati semacam degradasi harkat martabat salah satu gender5), sekaligus dehumanisasi.

Dengan demikian, untuk sementara bisa segera ditarik kata simpul: wanita berarti ‘manusia yang bersikap halus, mengabdi setia pada tugas-tugas suami’. Suka atau tidak, inilah tugas dan lelakon yang harus dijalankan wanita. Apakah memang demikian?

Apa Arti Perempuan?

Dalam pandangan masyarakat Indonesia, kata perempuan mengalami degradasi semantis, atau peyorasi, penurunan nilai makna; arti sekarang lebih rendah dari arti dahulu (Kridalaksana, 1993).

Di pasar pemakaian, terutama di tubuh birokrasi dan kalangan atas, nasib perempuan terpuruk di bawah kata wanita, sehingga yang muncul adalah Menteri Peranan Wanita, pengusaha wanita (wanita pengusaha), insinyur wanita, peranan wanita dalam pembangunan, dan pastilah bukan *Menteri Peranan Perempuan, *pengusaha perempuan (*perempuan pengusaha), *insinyur perempuan, *peranan perempuan dalam pembangunan.

Dalam KD (1970: 853), kata perempuan berarti ‘wanita’, ‘lawan lelaki’, dan ‘istri’ . Menurut KD, ada kata raja perempuan yang berarti ‘permaisuri’. Dengan contoh ini kata ini tidak berarti rendah. Sementara itu, kata keperempuanan berarti ‘perihal perempuan’, maksudnya pastilah masalah yang berkenaan dengan keistrian dan rumah tangga. Dalam hal ini, meski tidak terlalu rendah, tetapi jelas bahwa kata ini menunjuk perempuan sebagai ‘penunggu rumah’.

KBBI (1988: 670) memberikan batasan yang hampir sama dengan KD, hanya ada tambahan sedikit, tetapi justru penting, untuk kata keperempuanan. Menurut KBBI, keperempuanan juga berarti ‘kehormatan sebagai perempuan’. Di sini sudah mulai muncul kesadaran menjaga harkat dan martabat sebagai manusia bergender feminin. Tersirat juga di sini makna ‘kami jangan diremehkan’ atau ‘kami punya harga diri’.

Dalam tinjauan etimologisnya, kata perempuan bernilai cukup tinggi, tidak di bawah, tetapi sejajar, bahkan lebih tinggi daripada kata lelaki. Ah, masa?!! Ya. Jelasnya begini.

  • Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti ‘tuan’, ‘orang yang mahir/berkuasa’, atau pun ‘kepala’, ‘hulu’, atau ‘yang paling besar’; maka, kita kenal kata empu jari ‘ibu jari’, empu gending ‘orang yang mahir mencipta tembang’.
  • Kata perempuan juga berhubungan dengan kata ampu ‘sokong’, ‘memerintah’, ‘penyangga’, ‘penjaga keselamatan’, bahkan ‘wali’; kata mengampu artinya ‘menahan agar tak jatuh’ atau ‘menyokong agar tidak runtuh’; kata mengampukan berarti ‘memerintah (negeri)’; ada lagi pengampu ‘penahan, penyangga, penyelamat’, sehingga ada kata pengampu susu ‘kutang’ alias ‘BH’.
  • Kata perempuan juga berakar erat dari kata empuan; kata ini mengalami pemendekan menjadi puan yang artinya ‘sapaan hormat pada perempuan’, sebagai pasangan kata tuan ‘sapaan hormat pada lelaki’.

Prof. Slametmuljana (1964: 61) pun mengakui bahwa kata yang sekarang sering direndahkan, ditempatkan di bawah wanita, ini berhubungan dengan makna ‘kehormatan’ atau ‘orang terhormat’. Tetapi, yang dilihatnya di masyarakat lain lagi. Maka, ia pun tidak mampu menyembunyikan keheranannya berikut:

“… Yang agak aneh dalam tjara berpikir ini ialah apa sebab perempuan tempat kehormatan itu semata-mata diperuntukkan bagi wanita, sedangkan hormat dan bakti setinggi-tingginya menurut adat ketimuran djustru datang dari kaum wanita, terhadap suami.”

Itulah sebabnya, tidak sedikit aktivis gerakan perempuan baik yang di bawah payung lembaga pendidikan formal maupun yang lebih suka malang melintang di alam bebas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lebih suka memilih kata perempuan daripada wanita untuk organisasi mereka. Misalnya Solidaritas Perempuan (Jakarta), Yayasan Perempuan Merdika (Jakarta), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK, Jakarta), Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA, Yogyakarta), Sekretariat Bersama Perempuan Yogya (Yogyakarta), Forum Diskusi Perempuan Yogya, Suara Hati Perempuan, Kelompok Perempuan untuk Kebebasan Pers (KPKP), dan Gerakan Kesadaran Perempuan–sekadar menyebut beberapa contoh. Menarik untuk dicontohkan di sini bahwa nama jurnal keperempuanan terbitan LIPI adalah “Warta Studi Perempuan” dan bukan *Warta Studi Wanita. Sementara itu, jika dahulu “Women Study” diterjemahkan menjadi “Kajian Wanita”, sekarang muncul saingan baru, “Studi Perempuan”.

Dari sudut sejarah pergerakan nasional pun, kata perempuanlah yang telah menyumbangkan kontribusi historisnya. Kita ingat, kongres pertama organisasi “lawan tanding lelaki” ini dinamainya “Kongres Perempoean Indonesia Pertama, yang berlangsung pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta (Rahayu, 1996).6) Dalam Kongres I ini disepakati bahwa persamaan derajat hanya dapat dicapai bila susunan masyarakatnya tidak terjajah. Langkah organisasi pertama yang dilakukan adalah membentuk “Perserikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia” (PPPI). Bahwa dalam perjalanan sejarah lahir Kowani, Perwari, Perwani, KNKWI, BMOIWI, Ikwandep perhatikan, selalu ada huruf /W/ setidaknya itulah jejak-jejak historis lingual bahwa kita lebih memilih “wanita”, dan bukan “perempuan”, sebab yang kita kehendaki bukan perempuan mandiri, melainkan perempuan penurut. (Silahkan pembaca menjawab sendiri, apakah setelah lebih dari setengah abad kemerdekaan ini kaum perempuan telah mencapai persamaan derajat, seperti impian Kongres I).

Sejak kemerdekaan, seperti disebut di atas, derap Kongres Perempoewan Indonesia sudah (di)musnah(kan) dari peredaran. Muncul pengganti-penerusnya: Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sejak menjelang kemerdekaan, yang relatif lunak, umumnya terdiri atas para istri pegawai. Mungkin sejak inilah wanita secara resmi menggeser perempuan. Sejak saat itu setiap partai-partai politik di Indonesia juga mempunyai anak organisasi wanita, bukan perempuan, misalnya Wanita Demokrat dan Gerakan Wanita Marhaen (PNI), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani, PKI), dan pasca-1965 ada Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), serta Dharma (1974) (Rahayu, 1996: 30-31).

Perempuan Disembah-sembah, Itu Dulu …

Dahulu sesuatu yang bersifat perempuan dihormati, dijunjung tinggi. Dalam hal ini kita tak lagi mempersoalkan perbedaan istilah wanita, perempuan, betina, atau pun ibu, bunda, mbaktu, biyung, mama, dewi, putri, ratu. Kita bicarakan hal itu secara global saja. Dahulu kaum ibu dikatakan sebagai “tiang masyarakat”, diluhurkan sebagai “ratu kehidupan”, dan dimitoskan sebagai “danyang kesuburan alam semesta”, serta disembah-sembah � sebagai “penentu awal kehidupan manusia di bumi”.

Zaman sekarang kaum ibu selalu dituding sebagai sumber kesalahan, terutama berhubungan dengan kenakalan anak-anak. Bukankah mendidikan anak itu tugas seorang ibu, bukan bapak? Karena perempuan mengalami domestifikasi peran, bila terjadi kericuhan keluarga, ibulah yang layak dikorbankan sebagai kambing hitam. “Ini gara-gara terlalu kau manja,” atau juga “coba, kalau kamu mendidiknya benar, anak kita tidak binal seperti ini,” begitu kata ayah. Dahulu, nasib ibu tidak seburuk ini, tidak dituding sebagai biang kerok perkara. Dia sangat dibela, dibersihkan dari tuduhan. Posisinya sebagai peletak awal kehidupan manusia sangat menentukan, karena dari guwagarba rahimnyalah, manusia di bumi ini berasal. Oleh karena itu, jika ada anak yang nakal, ibu akan dibela, sehingga ungkapan yang muncul adalah “Bukan salah bunda mengandung” dan bukan ungkapan “*Bukan salah ayahnda menghamili” atau “*Bukan salah ayahnda membuahi”. Ini bukti pengakuan bahwa mengandung itu lebih bernilai tinggi daripada menghamili (Kweldju, 1991). Karena yang mengandung itu biasanya ibu, ibulah yang lebih diharga.

Pelesetan-pelesetan di masyarakat terhadap kata-kata tertentu juga menggambarkan seberapa jauh nilai dominasi pria terhadap wanita ini hendak menandingi pemahaman masyarakat terhadap hakikat suatu kata. Semula, berdasarkan etimologi rakyat (jarwodosok, keratabasa) Jawa, kata “garwo”, misalnya, dipersepsi sebagai “sigaraning nyowo” (belahan jiwa). Di sini, kedudukan seorang istri cukup terhormat, sejajar, sama, segaris, dan komplementer dengan suami; tidak ada nuansa dominasi dan subordinasi antargender. Memang, garwo adalah kata yang netral, egaliter, tidak memihak salah satu jenis kelamin (bias gender). Ia bisa mengacu baik kepada “garwo jaler” (suami) maupun “garwo estri” (istri). Akan tetapi, selanjutnya inilah kurang ajarnya pemahaman terhadap kata garwo telah dipelesetkan sebagai “sigar tur dowo” (terbelah dan lagi panjang), sesuatu yang bisa mengundang kesan porno dan pelecehan. Tidak sulit ditebak siapa pelaku pemelesetan ini: pastilah dari barisan pria.

Tidak hanya persepsi kultural masyarakat, agama pun meletakkan ibu pada posisi sangat terhormat. Dalam Islam, misalnya, ada hadis yang sangat terkenal berkenaan dengan ini, yakni “Surga itu di bawah telapak kaki ibu”. Maka, menurut pandangan ini, tempat berbakti adalah ibu, ibu, dan ibu, kemudian baru ayah. Mungkin karena kecemburuan religiusitas-gender, di masyarakat kami pernah mendengar pelesetan sinis terhadap ini tentu saja dari kaum bapak.7) Surah paling Al-Fatihah, saripati dari semua surah dalam Kitab Suci Quran, misalnya, disebut “Ummul Qur’an” dan bukan “Abul Qur’an” (Nadjib, 1996). Dalam agama lain pun kurang lebih sama. Begitulah …

Perempuan Indonesia, Akan ke Manakah Anda?

Di sini jelas sekali bahwa jika yang kita maksudkan adalah sosok yang mengalah, rela menderita demi pria pujaan, patuh berbakti, maka pilihlah kata wanita. Maka, yang tepat tetaplah “Darma Wanita” memang dimaksudkan untuk berbakti. Tetapi, jika kita berbicara soal peranan dan fungsinya, soal pemberdayaan kedudukan, soal pembelaan hak asasi, soal nasib dan martabatnya, tidak ada jalan lain, gunakan kata perempuan, semisal “peranan perempuan dalam perjuangan”, “gerakan pembelaan hak-hak perempuan pekerja”. Setuju?

Bisa dipastikan siapa pun akan ragu, jika hati harus lebih berpihak pada perempuan daripada pada wanita. Justru, itulah bukti hebatnya hegemoni patriarki dalam masyarakat mana pun, sehingga jangankan yang menguasai, yakni pria, yang dikuasai pun, yaitu wanita, merasa takut, khawatir, bahkan merasa menikmati “penguasaan” itu. Bagi kelompok terakhir ini, hegemoni kekuasaan pria akan dinikmatinya sebagai “perlindungan” dan “kasih sayang”. Ditindas kok tidak melawan. Mengapa? Sulit menjawabnya. Mungkin kaum wanita tergolong makhluk ajaib, yang suka menyiksa diri, menyimpan samudra kesabaran luar biasa, suka berkorban, memang karena tak berdaya, atau jangan-jangan mereka berjiwa masokistis, suatu jenis kenikmatan dalam penindasan. Jiwa mereka berada dalam situasi terpenjara (captive mind). Akhirnya, Perempuan Indonesia, terserah saja, Anda mau ke mana …? (Sudarwati dan D. Jupriono)

Catatan

  1. Orde Baru merumuskan peran kaum wanita ke dalam lima kewajiban (Pancadarma): (1) wanita sebagai istri pendamping suami, (2) wanita sebagai ibu pendidik dan pembina generasi muda, (3) wanita sebagai pengatur ekonomi rumah tangga, (4) wanita sebagai pencari nafkah tambahan, dan (5) wanita sebagai anggota masyarakat, terutama organisasi wanita, badan-badan sosial, dan sebagainya yang menyumbangkan tenaga kepada masyarakat. Perhatikan, di sini yang dinomorsatukan adalah kewajiban istri sebagai istri mendampingi sang suami tercinta. Sementara, urusan bergerak di sektor publik (di luar rumah) menduduki nomor bungsu, artinya tidak dipentingkan. Ini terjadi sebab ada anggapan bahwa di luar rumah itu urusan lelaki, sedang di dalam rumah (sektor domestik) inilah tempat tepat wanita. Periksa: Binny Buchori & Ifa Soenarto, “Mengenal Dharma Wanita”. Mayling Oey-Gardiner dkk. (ed.), Perempuan Indonesia: Dulu dan Kini (Jakarta: PT Gramedia, 1996) hal. 172-193); juga: Ruth I. Rahayu, “Politik Gender Orde Baru: Tinjauan Organisasi Perempuan Sejak 1980-an. Prisma XXV/5, Mei 1996: 29-42.
  2. Metatesis adalah gejala perubahan (pertukararn) letak huruf, bunyi, atau sukukata dalam suatu kata (Kridalaksana, 1993:136). Misalnya rontal menjadi lontar, sapu<–>usap; dalam bahasa Jawa misalnya kelek<–>lekek ‘ketiak’. Dalam bahasa Inggris ada flim<–>film, brid<–>bird (Jack Richards, John Platt, dan Heidi Weber, 1987: 176), aks<–>ask (Crystal, 1985: 194).
  3. Proses perubahan bunyi konsonan (kontoid) dalam bahasa-bahasa di Nusantara dirumuskan dalam hukum-hukum perubahan bunyi. Salah satunya adalah perubahan [w] dalam bahasa Jawa atau Jawa Kuno menjadi [b] dalam bahasa Melayu (Indonesia) (Slametmulyana, 1964; Wojowasito, 1965; Keraf, 1987). Misalnya awu–>abu, watuk–>batuk, sewelas–>sebelas, wulan–>bulan.
  4. Raja, sultan, adipati, bangsawan, pada zaman dahulu umumnya memiliki banyak istri dan selir. Misalnya, Paku Buana IV (Surakarta) mengumpuli 25 istri dan selir; Hamengku Buwono II (Ngayogyakarta Hadiningrat) menyimpan 33 istri dan selir. Tujuan memiliki banyak wanita adalah menghindari kejahatan seksual dan mencapai konsolidasi kekuasaan politik untuk mengesankan bahwa pemimpin itu lelaki luar biasa sakti mandraguna (super human). Periksa: G. Moedjanto, “Selir”, Basis, Januari 1973; juga Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram (Yogyakarta: Kanisius, 1987).
  5. Tentang konsep degradasi harkat martabat gender feminin, baca: D. Jupriono, “Bahasa Indonesia Bahasa Lelaki”, FSU in the Limelight edisi nomor ini juga.
  6. Lih. Ruth Indiah Rahayu, Opcit., hal. 29-42. Dalam artikelnya, dijelaskan bahwa perempuan dan gerakannya telah lahir jauh sebelum kemerdekaan RI. Aktivitas pergerakan perempuan terus berjalan hingga mencapai puncaknya pada 1965. Sejak itu berlakulah proses domestifikasi (pe-rumah-an) “perempuan” di segala bidang, menjadi “wanita”. Tetapi, bersamaan dengan itu, bermunculan juga berbagai organisasi “keras” perempuan bergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
  7. Pelesetan itu demikian. “Surga ada di bawah kaki ibu”, katanya, “berlaku bagi seorang anak”. Bagi seorang ayah, lain lagi, yaitu “Surga itu ada di antara kedua kaki ibu”; “Ooo … itu sih nerakanya. Setannya ya kita-kita ini. Ha ha ha …”. Bahwa itu hanya kelakar, itu jelas. Tetapi, di sisi lain, ini mungkin saja juga karena tidak tahu (menyadari) bahwa yang mereka pelesetkan adalah sabda Rasul.