Archive for the ‘Tempo doeloe’ Category

Raden Ayu Lasminingrat

Posted: 17 Februari 2016 in KRONIK BUDAYA, Tempo doeloe

Raden Ayu Lasminingrat adalah putri sulung pasangan Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria, seorang penghulu sekaligus sastrawan sunda. [12] Ketika zaman kolonialisme pendidikan untuk bumiputera-bumiputeri dengan poltik etis belumlah menjadi hak asasi warga Nusantara, terutama kaum perempuan, dan atas kesadaran pentingnya pendidikan maka Raden Haji Muhamad Musa mendirikan sekolah Eropa (Bijzondere Europeesche School) dengan menggaji dua orang guru Eropa.

Di sekolah ini orang Eropa (Belanda) dapat bersekolah bersama-sama dengan anak-anak pribumi, juga anak laki-laki bercampur dengan anak-anak perempuan. [13]Ada pula yang menyebutkan Kontrolir Levisan atau Levyson Norman, seorang ekretaris Jendral Pemerintah Hindia Belanda kenalan baik sang ayah yang mengasuh Lasminingrat hingga mahir dalam menulis dan berbahasa Belanda.[14]

Materi pembelajaran berupa membaca, menulis, Bahasa Belanda, dan umumnya mengenai kebudayaan barat. Dari pengalaman didikan langsung tersebut, Lasminingrat mempunyai angan jauh ke depan serta bercita-cita, –sama halnya dengan Dewi Sartika atau Kartini di kemudian hari, untuk memajukan peranan dan kesetaraan derajat perempuan Nusantara.

Alhasil, kemampuan Raden Ayu Lasminingrat dalam berbahasa Belanda sangat fasih, bahkan Karel Frederick Holle, seorang administrator di Perkebunan Teh Waspada, Cikajang, memujinya. Pujian itu dinyatakan dalam surat Holle kepada P. J. Veth, antara lain menyebutkan Bahwa: “Anak perempuan penghulu yang menikah dengan Bupati Garut, menyadur dengan tepat cerita-cerita dongeng karangan Grimm, cerita-cerita dari negeri dongeng (Oleg Goeverneur), dan cerita-cerita lainnya ke dalam bahasa Sunda.” [15] [note 2]

Tahun 1879, Lasminingrat mendidik anak-anak melalui buku bacaan berbahasa sunda, pendidikan moral, agama, ilmu alam, psikologi dan sosiologi. Dia sisipkan dalam cerita yang disadur dari bahasa asing yang disesuaikan dengan kultur sunda dan bahasa yg mudah dimengerti. [note 3]

Langkah ri’ilnya, pada 1907 Lasminingrat mendirikan Sakola Kautamaan Istri di lingkungan Ruang Gamelan, Pendopo Garut sekitar tahun 1907. Awalnya dibuka terbatas untuk lingkungan para priyayi atau bangsawan lokal saja dengan materi pelajaran berupa baca, tulis, dan pemberdayaan perempuan. Selain itu, Lasminingrat rajin membuat tulisan. Di antarakaryanya yang terkenal adalah Warnasari (jilid 1 & 2).

Lasminingrat menikah dengan Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII, yang merupakan Bupati Garut. Lasminingrat menghentikan aktivitas kepengarangannya. Ia lalu berkonsentrasi di bidang pendidikan bagi kaum perempuan Sunda. Selanjutnya tahun 1911 sekolah tersebut pindah ke Jalan Ranggalawe. Tidak disangka, pada 1911 sekolahnya berkembang. Jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913. Pada 1934, cabang-cabang Keutamaan Istri dibangun di kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang.[16] Tahun 1912, Lasminingrat mendirikan kembali Sakola Istri untuk kaum perempuan dimana letak dan bangunannya sekarang dipakai SMA Negeri 1 Garut, sebelah timur alun-alun.

Pihak pemerintah kolonial menganggap jasa dan peranan Lasminingrat besar dalam membangun pendidikan untuk kaum bumiputera-bumiputeri oleh karenanya ia diberi penghargaan dan kompensasi tetap bulanan selama mengajar. seiring dengan pergantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut Tahun 1913. Dua tahun setelah pergantian nama, R. A. A. Wiaratanudatar VIII pensiun, setelah menjadi bupati sejak tahun 1871. Jabatan Bupati Garut kemudian dipangku oleh R. A. A. Suria Kartalegawa, yang masih terhitung keponakannya.

Akhirnya Raden Ayu Lasmingrat pindah dari pendopo ke sebuah rumah di Regensweg (sekarang Jalan Siliwangi). Rumah yang besar ini sekarang menjadi Yogya Department Store. Hingga usia 80 tahun ia masih aktif, meskipun tidak langsung dalam dunia pendidikan. Pada masa pendudukan Jepang, Sakola Kautamaan Istri itu diganti namanya menjadi Sekolah Rakyat (SR) dan mulai menerima laki-laki. Sejak tahun 1950, SR tersebut berubah menjadi SDN Ranggalawe I dan IV yang dikelola Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Daerah Tingkat II Garut. Tahun 1990-an hingga kini berubah lagi menjadi SDN Regol VII dan X.

Lasminingrat meninggal 10 April 1947 dalam usia 105 tahun, dikebumikan tepat di belakang Mesjid Agung Garut. Cita-cita dan perjuangannya mewujudkan pendidikan untuk kaum perempuan diteruskan oleh kerabatnya, Purnamaningrat.

 Karya tulis :

  • Carita Erman (1875), Judul Tjarita Erman merupakan terjemahan dari Christoph von Schmid. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar. Pada tahun 1911 dicetak ulang dalam aksara Jawa, dan pada tahun 1922 dalam aksara Latin. Selanjutnya tahun 1919 diterjemahkan ke dalam bahasa melayu oleh M.S Cakrabangsa.
  • Warnasari jilid 1 (1876). Judul Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng Jilid I.Buku ini ditulis dalam aksara Jawa, merupakan hasil terjemahan dari tulisan Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur, yaitu Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (1872) dan beberapa cerita Eropa lainnya.
  • Warnasari jilid 2 (1887).

 Sumber :

  • Moriyama, Mikihiro (2005). Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia & The Resona Foundation for Asia and Oceania. ISBN 979-9100-23-2.
  • Lubis, Nina H. Kajian tentang perjuangan Raden Ayu Lasminingrat : Dalam rangka pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional. Pusat Penelitian Kemasyarakatan & Kebudayaan – Lembaga Penelitian Universitas Pajajaran.
  • Effendie Tp.M.Hs, Deddy. Raden Ajoe Lasminingrat (1843-1948) – Perempuan Intelektual Pertama di Indonesia. CV Studio Proklamasi.
  • Terrarum, O. (2006). West Meets East: Images of China and Japan, 1570 to 1920, Special Collections, De Beer Gallery, Central Library of the University of Otago, 10 February to 26 May 2006. New Zealand Journal of Asian Studies, 8, 122-179.

 

 

Landscape-Alun-ALUN-gAROET-tempoe-doeloe

Suasana asri dan masih lenggang Lanschaaf aloen-aloen dengan gazebo warna poetih (muziek papiljoen), Toegoe Holle dan mesjid agoeng Garoet.

alun219052alun21905Tugu-Holle-di-Alun-alun-Garut

Aloen aloen garoet, diambil dari arah barat, bangoenan berbentoek gazebo itu adalah Muziek Paviljoen, digoenakan untuk bermain moesik para meneer Belanda pada achir minggoe setelah lelah bekerdja di perkeboenan teh selama seminggoe penoeh. (Foto tahoen 1905).

Seperti kebanjakan aloen-aloen djaman doeloe selaloe berdekatan dengan masdjid sebagai satu kesatoean jang tidak bisa dipisahkan selain ada Toegoe Holle yang didirikan oleh Karel Frederik Holle seorang pemilik perkebunan di Garoet tahoen 1910.

SUMBER PHOTO : Colektie TropenMuzeum


Sumatera – Pulau Emas
Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Sumatera juga dikenal sebagai pulau Andalas.
Pada masa Dinasti ke-18 Fir’aun di Mesir (sekitar 1.567SM-1.339SM), di pesisir barat pulau sumatera telah ada pelabuhan yang ramai, dengan nama Barus. Barus (Lobu Tua – daerah Tapanuli) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Barus dikenal karena merupakan tempat asal kapur barus. Ternyata kamper atau kapur barus digunakan sebagai salah satu bahan pengawet mummy Fir’aun Mesir kuno.
Di samping Barus, di Sumatera terdapat juga kerajaan kuno lainnya. Sebuah manuskrip Yahudi Purba menceritakan sumber bekalan emas untuk membina negara kota Kerajaan Nabi Sulaiman diambil dari sebuah kerajaan purba di Timur Jauh yang dinamakan Ophir. Kemungkinan Ophir berada di Sumatera Barat. Di Sumatera Barat terdapat gunung Ophir. Gunung Ophir (dikenal juga dengan nama G. Talamau) merupakan salah satu gunung tertinggi di Sumatera Barat, yang terdapat di daerah Pasaman. Kabarnya kawasan emas di Sumatera yang terbesar terdapat di Kerajaan Minangkabau. Menurut sumber kuno, dalam kerajaan itu terdapat pegunungan yang tinggi dan mengandung emas. Konon pusat Kerajaan Minangkabau terletak di tengah-tengah galian emas. Emas-emas yang dihasilkan kemudian diekspor dari sejumlah pelabuhan, seperti Kampar, Indragiri, Pariaman, Tikus, Barus, dan Pedir. Di Pulau Sumatera juga berdiri Kerajaan Srivijaya yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan besar pertama di Nusantara yang memiliki pengaruh hingga ke Thailand dan Kamboja di utara, hingga Maluku di timur.
Kini kekayaan mineral yang dikandung pulau Sumatera banyak ditambang. Banyak jenis mineral yang terdapat di Pulau Sumatera selain emas. Sumatera memiliki berbagai bahan tambang, seperti batu bara, emas, dan timah hitam. Bukan tidak mungkin sebenarnya bahan tambang seperti emas dan lain-lain banyak yang belum ditemukan di Pulau Sumatera. Beberapa orang yakin sebenarnya Pulau Sumatera banyak mengandung emas selain dari apa yang ditemukan sekarang. Jika itu benar maka Pulau Sumatera akan dikenal sebagai pulau emas kembali.

Jawa – Pulau Padi

Dahulu Pulau Jawa dikenal dengan nama JawaDwipa. JawaDwipa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “Pulau Padi” dan disebut dalam epik Hindu Ramayana. Epik itu mengatakan “Jawadwipa, dihiasi tujuh kerajaan, Pulau Emas dan perak, kaya dengan tambang emas”, sebagai salah satu bagian paling jauh di bumi. Ahli geografi Yunani, Ptolomeus juga menulis tentang adanya “negeri Emas” dan “negeri Perak” dan pulau-pulau, antara lain pulau “”Iabadiu” yang berarti “Pulau Padi”.

Ptolomeus menyebutkan di ujung barat Iabadiou (Jawadwipa) terletak Argyre (kotaperak). Kota Perak itu kemungkinan besar adalah kerajaan Sunda kuno, Salakanagara yang terletak di barat Pulau Jawa. Salakanagara dalam sejarah Sunda (Wangsakerta) disebut juga Rajatapura. Salaka diartikan perak sedangkan nagara sama dengan kota, sehingga Salakanagara banyak ditafsirkan sebagai Kota perak.
Di Pulau Jawa ini juga berdiri kerajaan besar Majapahit. Majapahit tercatat sebagai kerajaan terbesar di Nusantara yang berhasil menyatukan kepulauan Nusantara meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Dalam catatan Wang Ta-yuan, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan kunjungan biarawan Roma tahun 1321, Odorico da Pordenone, menyebutkan bahwa istana Raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.
Menurut banyak pakar, pulau tersubur di dunia adalah Pulau Jawa. Hal ini masuk akal, karena Pulau Jawa mempunyai konsentrasi gunung berapi yang sangat tinggi. Banyak gunung berapi aktif di Pulau Jawa. Gunung inilah yang menyebabkan tanah Pulau Jawa sangat subur dengan kandungan nutrisi yang di perlukan oleh tanaman.
Raffles pengarang buku The History of Java merasa takjub pada kesuburan alam Jawa yang tiada tandingnya di belahan bumi mana pun. “Apabila seluruh tanah yang ada dimanfaatkan,” demikian tulisnya, “bisa dipastikan tidak ada wilayah di dunia ini yang bisa menandingi kuantitas, kualitas, dan variasi tanaman yang dihasilkan pulau ini.”
Kini pulau Jawa memasok 53 persen dari kebutuhan pangan Indonesia. Pertanian padi banyak terdapat di Pulau Jawa karena memiliki kesuburan yang luar biasa. Pulau Jawa dikatakan sebagai lumbung beras Indonesia. Jawa juga terkenal dengan kopinya yang disebut kopi Jawa. Curah hujan dan tingkat keasaman tanah di Jawa sangat pas untuk budidaya kopi. Jauh lebih baik dari kopi Amerika Latin ataupun Afrika.
Hasil pertanian pangan lainnya berupa sayur-sayuran dan buah-buahan juga benyak terdapat di Jawa, misalnya kacang tanah, kacang hijau, daun bawang, bawang merah, kentang, kubis, lobak, petsai, kacang panjang, wortel, buncis, bayam, ketimun, cabe, terong, labu siam, kacang merah, tomat, alpokat, jeruk, durian, duku, jambu biji, jambu air, jambu bol, nenas, mangga, pepaya, pisang, sawo, salak,apel, anggur serta rambutan. Bahkan di Jawa kini dicoba untuk ditanam gandum dan pohon kurma. Bukan tidak mungkin jika lahan di Pulau Jawa dipakai dan diolah secara maksimal untuk pertanian maka Pulau Jawa bisa sangat kaya hanya dari hasil pertanian.

Kalimantan – Pulau Lumbung energi

Dahulu nama pulau terbesar ketiga di dunia ini adalah Warunadwipa yang artinya Pulau Dewa Laut. Kalimantan dalam berita-berita China (T’ai p’ing huan yu chi) disebut dengan istilah Chin li p’i shih. Nusa Kencana” adalah sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno. Orang Melayu menyebutnya Pulau Hujung Tanah (P’ulo Chung). Borneo adalah nama yang dipakai oleh kolonial Inggris dan Belanda.

Pada zaman dulu pedagang asing datang ke pulau ini mencari komoditas hasil alam berupa kamfer, lilin dan sarang burung walet melakukan barter dengan guci keramik yang bernilai tinggi dalam masyarakat Dayak. Para pendatang India maupun orang Melayu memasuki muara-muara sungai untuk mencari lahan bercocok tanam dan berhasil menemukan tambang emas dan intan di Pulau ini.
Di Kalimantan berdiri kerajaan Kutai. Kutai Martadipura adalah kerajaan tertua bercorak Hindu di Nusantara. Nama Kutai sudah disebut-sebut sejak abad ke 4 (empat) pada berita-berita India secara tegas menyebutkan Kutai dengan nama “Quetaire” begitu pula dengan berita Cina pada abat ke 9 (sembilan) menyebut Kutai dengan sebutan “Kho They” yang berarti kerajaan besar. Dan pada abad 13 (tiga belas) dalam kesusastraan kuno Kitab Negara Kertagama yang disusun oleh Empu Prapanca ditulis dengan istilah “Tunjung Kute”. Peradaban Kutai masa lalu inilah yang menjadi tonggak awal zaman sejarah di Indonesia.
Kini Pulau Kalimantan merupakan salah satu lumbung sumberdaya alam di Indonesia memiliki beberapa sumberdaya yang dapat dijadikan sebagai sumber energi, diantaranya adalah batubara, minyak, gas dan geothermal.Yang luar biasa ternyata Kalimantan memiliki banyak cadangan uranium yang bisa dipakai untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Disamping itu Kalimantan juga memiliki potensi lain yakni sebagai penyedia sumber energi botani atau terbaharui. Sumber energi botani atau bioenergi ini adalah dari CPO sawit. Pulau Kalimantan memang sangat kaya.

Sulawesi – Pulau besi


Nama Sulawesi konon berasal dari kata ‘Sula’ yang berarti pulau dan ‘besi’. Pulau Sulawesi sejak dahulu adalah penghasil bessi (besi), sehingga tidaklah mengherankan Ussu dan sekitar danau Matana mengandung besi dan nikkel. Di sulawesi pernah berdiri Kerajaan Luwu yang merupakan salah satu kerajaan tertua di Sulawesi. Wilayah Luwu merupakan penghasil besi. Bessi Luwu atau senjata Luwu (keris atau kawali) sangat terkenal akan keampuhannya, bukan saja di Sulawesi tetapi juga di luar Sulawesi. Dalam sejarah Majapahit, wilayah Luwu merupakan pembayar upeti kerajaan, selain dikenal sebagai pemasok utama besi ke Majapahit, Maluku dan lain-lain. Menurut catatan yang ada, sejak abad XIV Luwu telah dikenal sebagai tempat peleburan besi.
Di Pulau Sulawesi ini juga pernah berdiri Kerajaan Gowa Tallo yang pernah berada dipuncak kejayaan yang terpancar dari Sombaopu, ibukota Kerajaan Gowa ke timur sampai ke selat Dobo, ke utara sampai ke Sulu, ke barat sampai ke Kutai dan ke selatan melalui Sunda Kecil, diluar pulau Bali sampai ke Marege (bagian utara Australia). Ini menunjukkan kekuasaan.

Sumber : ROMEO BLOG

 


Bandoeng O, wonderstad, dat zegt toch iedereen, een stad vol pracht en praal, altijd even schoon en rein, kortom, een plaats bij uitnemendheid, Bandoeng, heer lijke staad. (Rara Sulastri-1933)

SEBUAH lagu sanjungan dalam bahasa Belanda, yang terdapat dalam buku Wadjah Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryato Kunto, menggambarkan betapa jaya dan indahnya Kota Bandung (baca: Bandung Utara) pada masa kolonial. Keindahan Kota Bandung saat itu tidak hanya ditunjang oleh kondisi alamnya, tetapi juga faktor man made.

Terinspirasi lagu tersebut, Balai Kepurbakalaan, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisi mengadakan ekspedisi situs-situs purbakala di Jabar, salah satunya ke Gedung Isola atau Villa Isola. Kini vila tersebut telah menjadi Gedung Rektorat Universitas Pendidikan IndoGedung Isola-UPInesia (UPI) Bandung. Karena sudah menjadi kantor tempat kerja Rektor UPI, peserta ekspedisi pun tidak bisa menyusuri dan menikmati seluk-beluk gedung yang indah ini.

Gedung atau vila ini dibangun pada 1930 dan didesain oleh C.P Wolff Schoemaker, seorang arsitek Belanda berkebangsaan Jerman. Ada puluhan gedung yang berhasil dibangun di Kota Bandung pada masa penjajahan Hindia Belanda menggunakan jasa arsitek Wolff Schoemaker. Semua gedung karya Schoemaker ini mempunyai ciri khas masing-masing dan monumental sehingga siapa pun yang melihat pasti akan teringat Kota Bandung.

Pada awal abad ke-20, Kota Bandung pernah menjadi laboratorium arsitektur para arsitek di Hindia Belanda. Kontribusi mereka berupa karya arsitektur dengan langgam masing-masing turut membentuk citra Kota Bandung, salah satunya adalah Villa Isola yang didesain C.P. Wolff Schoemaker. Bangunan vila ini didirikan tahun 1933 dan merupakan pembangkit memori sebagian besar masyarakat akan Kota Bandung. Setiap melihat gambar Villa Isola, ingatan masyarakat pasti tertuju pada Kota Bandung. Salah satu peran karya arsitektur dalam membangkitkan kenangan masnyarakat terhadap suatu tempat, yakni makna kulutral yang dimiliki bangunan tersebut. Selain itu, juga sejarah, estetika, dan ilmu pengetahuan.

Karya arsitek monumental Schoemaker pada Villa Isola ini, terletak dari bentuk bangunan yang tidak lazim. Jika dilihat dari kejahuan, Villa Isola mirip sebuah kapal pesiar yang dilengkapi dengan berbagai ruangan, termasuk ruangan bawah tanah.

Karena tidak lazim inilah, Villa Isola menjadi pembangkit kenangan masyarakat yang melihatnya. Hal ini terlihat jelas saat melintasi Jln. Setiabudhi yang menghubungkan Kota Bandung dengan Lembang. Semakin dekat dengan bangunan, akan makin terasa adanya pengolahan tapak (lahan) yang sesuai bentuk bangunan. Kedua unsur tersebut, bangunan dan lahan, membentuk kesatuan. Hal-hal di ataslah yang menjadi alasan mengapa bangunan ini dapat dikategorikan sebagai karya arsitektur monumental.

Peletakan massa

Dalam meletakkan massa Villa Isola, Schoemaker menggunakan sumbu imajiner utara-selatan dengan arah utara menghadap Gunung Tangkubanparahu dan arah selatan menghadap Kota Bandung. Penggunaan sumbu utara-selatan berorientasi pada sesuatu yang sakral (gunung atau laut), yang merupakan orientasi kosmis masyarakat di Pulau Jawa. Hal yang sama diterapkan dalam pengolahan tapak Technische Hoogheschool te Bandoeng (Institut Teknologi Bandung/ITB) yang berorientasi pada Gunung Tangkubanparahu dan Kota Yogyakarta pada Gunung Merapi.

Villa Isola terletak di antara dua taman yang memiliki ketinggian berbeda. Namun sayang, kedua taman tersebu kurang terawat, terutama taman yang barada di bagian selatan yang lebih rendah dan dibiarkan hancur. Padahal di bagian ini, terdapat sebuah kolam yang berbentuk oval (setengah lingkaran). Pada masa jayanya, kolam ini sering dijadikan tempat berjemur pemilik Villa Isola sambil melihat pemandangan Kota Bandung jauh ke selatan. Namun sisa-sisa taman selatan ini masih bisa disaksikan, yakni anak tangga setengah lingkaran berpusat pada bangunan vila.

Sedangkan taman di utara didesain dengan menghadirkan nuansa Eropa di dalamnya. Hal ini diperkuat dengan kolam berbentuk persegi dengan patung marmer di tengahnya (sudah hilang). Pada taman ini terdapat jalur yang merupakan as yang membagi taman menjadi dua bagian simetris. Mendekati bagian utara bangunan, akan terlihat tangga berbentuk setengah lingkaran yang titik pusatnya berada pada bangunan.

Kedua taman yang memiliki perbedaan ketinggian dihubungkan dengan dua tangga melingkar pada sisi barat dan timur bangunan. Pengolahan taman dengan menggunakan bentuk melingkar yang berpusat pada bangunan yang juga memiliki bentuk melingkar, menjadikan bangunan menyatu dengan lahan di sekitarnya.

Fasad dan ruang

Fasad bangunan Villa Isola diperkaya dengan garis-garis lengkung horizontal. Hal ini merupakan ciri arsitektur Timur yang banyak terdapat pada candi di Jawa dan India. Pada saat-saat tertentu, garis dan bidang memberi efek bayangan dramatis pada bangunan.

Seperti kebanyakan karya Schoemaker, Villa Isola memiliki bentuk simetris. Suatu bentuk berkesan formal dan berwibawa. Pintu utama terdapat pada bagian tengah bangunan, menghadap ke utara. Pintu ini dilindungi sebuah kanopi berupa dak beton berbentuk melengkung yang ditopang satu tiang pada ujungnya.

Pembagian ruang dalam bangunan mengikuti tipologi rumah tinggal di Eropa, mengingat pemilik pertama bangunan ini seorang Belanda bernama D.W. Berrety. Lantai pertama terdiri atas sebuah lobi dengan tangga melingkar ke atas di kedua sisi dan sebuah ruang keluarga. Di antara dinding tangga dulunya terdapat sebuah gambar perahu layar (kini telah hilang).

Pada ruang keluarga terdapat jendela melengkung berukuran besar yang memungkinkan orang melihat pemandangan Kota Bandung di dataran lebih rendah. Di lantai ini juga terdapat toilet berbentuk bundar. Semuanya sudah tidak bisa dinikmati karena telah menjadi kantor staf rektorat.

Lantai kedua bangunan berisi kamar tidur yang dihubungkan dengan koridor yang membentang pada arah barat dan timur mirip sebuah dek kapal. Pada kedua ujung koridor terdapat dua buah teras terbuka. Penggunaan koridor merupakan suatu penyelesaian yang baik pada bangunan di iklim tropis karena berfungsi sebagai isolator termal sehingga udara dalam ruangan terasa sejuk. Kamar tidur utama didesain menghadap ke arah selatan.

Kamar ini dilengkapi dengan balkon melingkar yang dilindungi tritisan dari fiber dan disangga balok-balok baja. Pada lantai ketiga bangunan terdapat kamar tidur tamu dan ruang rekreasi. Beberapa dari ruangan tersebut telah berubah sesuai fungsi barunya.

Jika sisi utara bangunan terdiri atas tiga lantai, isi selatan bangunan terdiri atas empat lantai. Hal ini terjadi karena perbedaan ketinggian lahan. Lantai dasar pada sisi selatan bangunan berfungsi sebagai daerah servis. Hal ini menarik untuk suatu bangunan tempat tinggal pada masa itu yang umumnya memiliki daerah servis terpisah dari bangunan utama. Seperti pintu masuk utara, pintu masuk selatan berhadapan langsung dengan taman.

Pengolahan lahan, taman, dan elemen-elemennya turut mendukung keunikan Villa Isola, terutama dari segi bentuk. Semuanya itu menyuarakan satu bentuk: bundar!

Fenomena di Kota Bandung, di mana tidak sedikit bangunan tua yang merupakan bagian dari sejarah perkembangan kota diabaikan, bahkan dihancurkan, tentulah bukan suatu fenomena yang baik. Tidak sedikit karya arsitektur di Kota Bandung yang memiliki nilai monumental. (kiki kurnia/ “GM”/berbagai sumber)**

Gan Djie adalah seorang Kapitein der Chineezen yang mempunyai riwayat baik dan luar biasa. Ia adalah kapitein der Chineezen ketiga di Batavia, menggantikan Phoa Beng Gam. Istrinya adalah seorang perempuan Bali. Perempuan inilah yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Kapitein der Chineezen selama 12 tahun setelah ia wafat.
——————–
Gan Djie adalah seorang Tionghoa totok yang berasal dari Ciangciu, sebuah kota keresidenan di bagian selatan Propinsi Hokkian. Dalam usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik mengikuti kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dahulu datang ke Jawa dan kebetulan sedang pulang ke Cina dan henda kembali pula ke Jawa. Di Gresik, Ia membantu kakaknya berdagang hasil bumi.
Gan Djie seorang yang jujur, ramah, dan bersemangat tinggi, sehingga disukai banyak orang. Ia rajin sembahyang dan di beberapa waktu ia juga suka melakukan pang-she ( melepaskan makhluk hidup yang tengah menderita ) – umumnya burung atau ikan – suatu perbuatan bajik dalam pandangan agama Budha.

Setelah bermukim lama di Gresik, ia meminta izin kepada kakaknya untuk berjualan kelontong berkeliling di desa-desa. Ia biasa masuk ke pelosok-pelosok desa bersama kulinya seorang Jawa yang membantunya memikul barang dagangannya. Karena sikapnya yang baik dalam melayani pembeli, dalam waktu singkat  ia memperoleh banyak pelanggan. Satu dua tahun kemudian ia menambah kulinya dan sedikit demi sedikit ia mengumpulkan modal.
Pada suatu sore, di sebuah desa, ia menginap di sebuah warung. Di warung itu sebelumnya telah tiba terlebih dulu dua tiga orang yang sikapnya tidak baik. Mereka juga menginap di warung tersebut.
Di warung, Gan Djie mendapat sebuah kamar sebagai tempat tidurnya untuk melepas lelah.
Sorenya, tak kala Gan Djie berjalan-jalan, ia diikuti oleh seorang gadis,  yang bekerja di warung itu, kerabat isteri pemilik warung. Sang gadis memberi isyarat ia mau bicara. Dengan suara berbisik-bisik sang gadis memberi tahu, di warung itu menginap dua tiga orang yang tampaknya bukan orang baik-baik. Didengarnya, salah seorang di antara mereka menyebut-nyebut diri si pedagang kelontong ketika mereka mengobrol. Maka sang gadis dengan suara bersungguh-sungguh menyarankan agar malam ini Gan Djie berjaga-jaga, bahkan kalau perlu tidak tidur.
Gan Djie merasa sangat berterima kasih atas nasihat itu. Malam itu ia tidak tidur, ia sengaja memasang pelita sembari membaca buku, sementara senjatanya siang hap to ( sepasang golok kembar ) diletakkan di sampingnya.
Keesokan harinya, sekembalinya ke Gresik, ia berangkat lebih siang. Dalam perjalanan ia diikuti oleh orang-orang yang dijumpainya di warung. Namun mereka tidak dapat turun tangan, sebab Gan Djie baru melanjutkan perjalanan kalau ada orang lain yang turut bersamanya.
Gan Djie merasa sangat berutang budi kepada sang gadis. Beberapa minggu kemudian, sewaktu datang lagi ke warung itu, ia menyatakan kepada pemilik warung bahwa ia ingin mengambil sang gadis sebagai istri, untuk membalas budinya.
Demikianlah sang gadis lalu dinikahinya serta diajak pindah ke Gresik. Dan atas anjuran istrinya, Gan Djie menghentikan berdagang keliling dan berjualan saja di ruamh sendiri.
Beberapa tahun kemudian Gan Djie menjadi saudagar besar di Gresik. Ia lalu pindah ke Batavia atas saran dari kerabatnya.
Pindah ke Batavia – Asal usul  nama Patekoan
Kira-kira pada tahun 1659 Gan Djie pindah ke Batavia dan tinggal di sebuah rumah di se sebuah jalan yang sekarang disebut Patekoan. Di Batavia ia berniaga hasil bumi. Karena sifatnya yang baik dan suka menolong, maka dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang terkemuka di tempat pemungkimannya yang baru.
Berhubung dengan usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1663 Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Gouverneur General Joan Maetsuyker. Sebagai penggantinya ia mengusulkan Gan Djie yang dikenalnya dengan baik. Usul itu diterima.
Pengangkatan Gan Djie sebagai Kapitein der Chineezen adalah karena jasanya menolong dan merawat anak  Joan Maetsuyker yang terpisah secara tidak sengaja.
Tak disangka di kemudian hari Joan Maetsuyker diangkat menjadi Gouverneur General Hindia Belanda ( 1653 ). Sebagai balas budi terhadap tuan dan nyonya Gan Djie, kemudian dia mengangkat Gan Djie sebagai Kapitein “bangsa” Tionghoa.
Begitulah, sejak 10 April 1663 Gan Djie diangkat menjadi Kapitein der Chineezen ketiga. Karena kesibukannya, pekerjaan tersebut turut dibantu oleh istrinya.
Di depan kantor Kapitein, seringkali berteduh orang-orang yang berdagang keliling atau mereka yang kelelahan di jalan, maka pada waktu hawa udara begitu panas, orang yang melintas di jalan tersebut selalu sulit mendapat air untuk melepas dahaga.
Melihat hal itu istri Gan Djie ( Nyai Gan Djie ) mengusulkan kepada suaminya agar di depan kantor disediakan air the untuk warga masyarakat yang kehausan. Bagi orang yang berkecukupan macam Kapitein Gan, tentu saja air the itu tidak ada artinya, tetapi bagi warga masyarakat yang “kekeringan” penting sekali. Kapitein Gan langssung menyetujui usal itu.
Di depan kantor, di sebelah luar pintu, lalu dipasang meja-meja kecil. Di atas meja-meja itu setiap pagi dan sore disediakan air teh. Supaya air teh itu mencukupi keperluan warga dan tidak setiap kali kehabisan, maka di situ disediakan delapan buah te-koan (teko/poci teh). Perbuatan baik dari Kapitein Gan membuatnya semakin disegani oleh masyarakat.  Persediaan air teh itu pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan warga mencari lokasi kantor officer Tionghoa itu. Demikianlah, orang lalu mengatakan, dimana ada pat tekoan, di situlah tempat tinggalnya Kapitein Gan. Lambat laun jalan dimana officer Tionghoa itu bermungkim dinamakan Pat Te-Koan, dikemudian hari menjadi Patekoan.
Nyai Gan Djie menjadi Wakil Kapitein
Pada tahun 1666, setelah memangku jabatannya selama tiga tahun, Kapitein Gan Djie wafat. Jenazahnya dimakamkan di Molenvliet Oost – kini Hayam Wuruk – dengan upacara yang cukup megah. Usahanya dilanjutkan oelh putranya Gan Hoo Hoat.
Lantaran sulit memperoleh penggantinya, maka pemerintah meminta Nyai Gan Djie menggantikan jabatan almarhum suaminya hingga nanti pemerintah mengangkat orang lain.
Dikisahkan, selama memangku jabatan Wakil Kapitein, banyak  urusan rumah tangga warga masyarakat Tionghoa telah bisa diatur dan diselesaikan secara damai oleh nyonya itu.
Pada tahun 1678, setelah 12 tahun memangku jabatannya, karena merasa dirinya sudah tua, Nyai Gan Djie mengajukan surat pengunduran diri dari kedudukannya sebagai Waarnemend Kapitein Tionghoa. Pengunduran itu diterima baik oleh pemerintahan. Kepadanya diserahkan surat penghargaan dari pemerintah.
Sebagai gantinya pemerintah mengangkat Tjoa Hoan Giok sebagai Kapitein  der Chineezen keempat ( masa jabatan 1678-1685 ). Secara resmi ia mulai memangku jabatannya pada 14 Juni 1678.

Sumber : http://iccsg.wordpress.com

59888_kawasan_kota__stasiun_beos__thumb_300_225Menyusuri tiap sudut Stasiun Kota Jakarta, seakan terbawa pada masa silam. Betapa tidak, nyaris semua bangunan di tempat ini masih dipertahankan dengan gaya  Eropa Art Deco Style, ciri khas bangunan di Eropa yang tengah menjadi tren pada awal abad 20.

Stasiun Kota atau yang dikenal juga dengan nama Beos, sebutan orang pada era tahun 1980-an, atau mungkin hingga sekarang ini, masih tetap dipertahankan. Meskipun stasiun ini banyak perubahan, dimana ada jalur yang menghubungkan antara stasiun dengan halte busway Jakarta Kota.

Lalu bagaimana dengan nama Beos itu sendiri. Banyak yang mengenal nama Beos, namun akan sedikit sekali yang mengetahui bagaimana asal usul nama Beos tersebut.

Stasiun kereta api yang dibangun pada tahun 1929 ini, pada masa penjajahan Belanda disebut dengan nama BOS atau Bataviasche Ooster Spoorweg  Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur, sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedungdedeh .atau dalam bahasa Inggris disebut Batavia Eastern Railway.

Belum diketahui secara pasti mengapa orang Jakarta melafalkan dengan sebutan Beos. Namun informasi lain menyebutkan nama BEOS merupakan akronim dari Batavia En Oud Straken atau yang berarti Batavia dan sekitarnya.

Fungsi stasiun ini sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Ide pembangunan stasiun tersebut adalah karena Batavia sebutan Jakarta ketika itu tengah menjadi suatu kota yang berkembang. Kawasan Jakarta Kota adalah kawasan bisnis ekslusif. Karenanya membutuhkan sebuah stasiun kereta api yang besar seperti di kota-kota negara Eropa.

Tak heran jika bangunan itu berkarakter Eropa Art Deco Style, ciri khas bangunan di Eropa yang tengah menjadi tren pada awal abad 20. Bangunan itu didesain oleh Ir Frans Johan Lourens Ghijsels.

Menurut Alwi Shahab sejarawan Jakarta, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan.

Nama ini muncul karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang.

Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada.

Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Ketika itu diresmikan Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931.

Stasiun ini diarsiteki seorang Belanda kelahiran Tulungagung 8 September 1882 silam  Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Ir Hein von Essen dan Ir. F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA).

Stasiun Beos merupakan karya Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat.

Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan.

Dalam perjalanannya, Stasiun Jakarta Kota akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993. Hingga kini masih melayani kebutuhan warga Jakarta pengguna kereta api.

Melintasi kawasan Kebayoran Baru, akan diperkenalkan dengan wajah pemuki61119_kali_krukut_pada_tahun_1889_thumb_300_225mam mewah di selatan Jakarta. Sejumlah pejabat dan pengusaha nasional pun banyak memilih tinggal di kawasan ini.

Tepatlah rasanya, jika Kebayoran Baru disebut sebagai kawasan elit di Jakarta. Namun di balik stigma elit, kawasan ini mempunyai arti dan sejarah tersendiri.

Menurut sejarawan Jakarta, Alwi Shahab, dulu kawasan ini adalah tempat penampung kayu. Kata  ‘Kebayoran’ berasal dari kabayuran. Kabayuran  berarti tempat penimbunan kayu bayur.
Kayu bayur kala itu dikenal sebagai bahan bangunan yang sangat baik. Kekuataan kayu bayur sangat diakui serta tahan terhadap serangan rayap.

Selain kayu bayur, ada kayu-kayu jenis lain lain yang ditimbun di lokasi ini. Kayu-kayu yang ditimbun ini kemudian untuk diangkut ke Batavia yang ketika itu pusat kotanya berada di  wilayah Jakarta Kota. Kayu-kayu itu diangkut melalui Kali Krukut dan Kali Grogol dengan cara dihanyutkan.

Pada masa kompeni (begitu orang Indonesia menyebutnya) atau Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), Kebayoran Baru menjadi tempat pelarian para perampok dan penjahat dari Batavia. VOC dulu adalah kelompok perdagangan atau perusahaan perdagangan milik Belanda yang berkuasa di Indonesia.

Dalam perjalanannya, pada tahun tahun 1938 kawasan Kebayoran direncanakan akan dibangun sebuah lapangan terbang internasional. Namun rencana itu batal karena keburu perang dunia II.

Akhirnya dibangunlah kota satelit Kebayoran Baru, yang meliputi areal seluas 730 hektar. Kawasan ini direncanakan untuk menampung 100 ribu penduduk.  Mungkin kini, jumlah penduduk Kebayoran bisa berlipat-lipat dengan jumlah penduduk yang rencananya akan ditampung.

Pada tahun 1950-an, kawasan  Kebayoran Baru  terus berkembang. Namun meski terus berkembang, tetap saja sering disebut kampung udik. Penduduknya pun disebut sebagai orang udik.

Mahfum,  Kebayoran Baru dulu letaknya terpisah dari pusat Kota Jakarta, sekitar 8 kilometer ke arah selatan Batavia.

Saat itu, untuk masuk kawasan Kebayoran Baru, hanya ada dua jalan.  Pertama melalui Kebayoran Lama terus melalui  Jalan Kyai Maja atau melewati Manggarai dan masuk ke Jalan Wolter  Monginsidi yang becek.  Jalan Sudirman ketika itu belum ada.

Warga Jakarta dulu pasti berpikir seribu kali jika akan menuju kawasan Kebayoran Baru. Selain kawasan ini sepi, ada jagoan bernama Mat Item. Mereka takut dihadang Mat Item, jagoan Kebayoran Lama yang dikenal sangar.

Cerita tentang Kebayoran Baru juga mengalir lancar dari bibir Adolf Heuken, 79 tahun. Pastor Jesuit asal Jerman itu, mengatakan, Kebayoran Baru saat masa penjajahan Belanda merupakan kota satelit Batavia. “Kebayoran baru adalah tempat ruang terbuka hijau,” kata Adolf kepada VIVAnews.

Pada tahun 1963 fungsi dari Kebayoran Baru sebagai kota satelit masih dipertahankan. “Dulu tidak ada jalan dan perumahan di daerah itu, seperti Mampang, Warung Buncit dan Pejaten,” katanya. Semua lahannya masih ditumbuhi pepohonan.

Adolf mengatakan, pada masa pemerintahan Gubernur DKI Ali Sadikin, wilayah Kebayoran hingga Semanggi tidak diperbolehkan untuk mendirikan bangunan. Namun dalam perkembangannya makin banyak para pendatang dari luar Jakarta yang memenuhi wilayah Kebayoran.

Tentunya  makin banyaknya penduduk, memicu pembangunan pembangunan rumah yang begitu cepat. “Ini juga yang membuat harga tanahnya terus tinggi,” ujarnya.

Sebenarnya pada tahun 1950, Kebayoran Baru dirancang untuk ditempati 50 ribu orang saja. Tapi sekarang jumlahnya jauh melebihi itu. “Dulunya kota satelit tapi sekarang kota yang krodit.

***

Ada satu sebutan di wilayah Kebayoran Baru yang hingga kini masih dipertahankan. Biasanya, sebutan ini kerap dilontarkan kondektur bus saat akan memasuki wilayah Blok M. Sebutan itu tak lain adalah CSW.

Lalu bagaimana sejarah munculnya nama CSW ini?  Menurut Alwi Shahab, kata CSW adalah singkatan dari Centrale Stichting Wederopbouw. CSW adalah sebuah lembaga yang bertugas mengelola wilayah Kebayoran Baru.

Kebayoran Baru pada masa kembalinya Belanda  ke Tanah Air pada tahun 1948 dibentuk sebagai kota satelit Jakarta, yang ketika itu berpusat di sekitar wilayah Jakarta Kota. Nah untuk pengelolaannya ditugaskan kepada CSW.

Informasi lainnya menyebutkan CSW jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah Pusat Yayasan Rekonstruksi. Ketika itu CSW digunakan untuk penampungan truk-truk, mesin gilas, alat-alat berat, material, batu-batuan, aspal dan tempat tinggal pegawai golongan I atau tenaga juru karya.

Kantor CSW diresmikan pada 1 Juni 1948 yang lokasinya tak jauh dari Terminal Blok M sekarang ini. Kemudian pada 1 Januari 1952, CSW berganti nama jadi Pembangunan Chusus Kotabaru Kebayoran.

Sampai 1958 kawasan di Jakarta Selatan ini masih ditangani oleh Departemen Pekerjaaan Umum, bukan Pemda DKI. Namun kini penanganannya di bawah kendali Pemprov DKI Jakarta.