Posts Tagged ‘BUDAYA SUNDA’

Sundapura: Tarumanagara, Sunda, Galuh dan Pajajaran
Sebentar lagi Bandung berulang tahun, tanggal 25 September yang ke-195. Bandung identik dengan etnik Sunda, Priangan atau Parahyangan. Bagaimana ceritanya? Panjang!

Tadinya saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran Dago, yaitu jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya, Ciungwanara, Ranggagading, Ranggamalela, Ranggagempol, Hariangbanga, Geusan Ulun, Adipati Kertabumi, Dipati Ukur, Suryakancana, Wira Angunangun, Ariajipang, Prabu Dimuntur, Bahureksa, Wastukancana, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga, Bagusrangin, Panatayuda, dan Singaperbangsa. Tidak banyak yang saya dapat dari pencarian Google, juga tidak punya buku referensi untuk saya dongengkan kembali. Jadi hanya saya tulis asal-usul Sunda saja, mungkin nanti saya temukan juga dongeng atau pun sejarah tentang nama-nama jalan di atas.

Disadur, diringkas, dipotong dan didongengkan kembali oleh saya dari situs catatan sejarah kota Bogor. Silakan baca langsung sumbernya jika anda berminat membaca lebih detil.

Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya, Tarumanagara. Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13 ingin mengembalikan keharuman Tarumanagara yang semakin menurun di purasaba (ibukota) Sundapura. Pada tahun 670M ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (selanjutnya punya nama lain yang menunjukkan wilayah/pemerintahan yang sama seperti Galuh, Kawali, Pakuan atau Pajajaran).

Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Maharaja Tarusbawa menerima tuntutan Raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas (Cianjur ke Barat wilayah Sunda, Bandung ke Timur wilayah Galuh).

Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah sebagai berikut:

  • Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan
  • Galuh Pakuan beribukota di Kawali
  • Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili
  • Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan
  • Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan
  • Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan
  • Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman
  • Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan
  • Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo
  • Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan

Tarusbawa bersahabat baik dengan raja Galuh Bratasenawa atau Sena. Purbasora –yang termasuk cucu pendiri Galuh– melancarkan perebutan tahta Galuh di tahun 716M karena merasa lebih berhak naik tahta daripada Sena. Sena melarikan diri ke Kalingga (istri Sena; Sanaha, adalah cucu Maharani Sima ratu Kalingga).

Sanjaya, anak Sena, ingin menuntut balas kepada Purbasora. Sanjaya mendapat mandat memimpin Kerajaan Sunda karena ia adalah menantu Tarusbawa. Galuh yang dipimpin Purbasora diserang habis-habisan hingga yang selamat hanya satu senapati kerajaan, yaitu Balangantrang.

Sanjaya yang hanya berniat balas dendam terpaksa harus naik tahta juga sebagai Raja Galuh, sebagai Raja Sunda ia pun harus berada di Sundapura. Sunda-Galuh disatukan kembali hingga akhirnya Galuh diserahkan kepada tangan kanannya yaitu Premana Dikusuma yang beristri Naganingrum yang memiliki anak bernama Surotama alias Manarah.

Premana Dikusuma adalah cucu Purbasora, harus tunduk kepada Sanjaya yang membunuh kakeknya, tapi juga hormat karena Sanjaya disegani, bahkan disebut rajaresi karena nilai keagamaannya yang kuat dan memiliki sifat seperti Purnawarman. Premana menikah dengan Dewi Pangreyep –keluarga kerajaan Sunda– sebagai ikatan politik.

Di tahun 732M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orang tuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara putranya, Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan.

Premana akhirnya lebih sering bertapa dan urusan kerajaan dipegang oleh Tamperan yang merupakan ‘mata dan telinga’ bagi Sanjaya. Tamperan terlibat skandal dengan Pangreyep hingga lahirlah Banga (dalam cerita rakyat disebut Hariangbanga). Tamperan menyuruh pembunuh bayaran membunuh Premana yang bertapa yang akhirnya pembunuh itu dibunuh juga, tapi semuanya tercium oleh Balangantrang.

Balangantrang dengan Manarah merencanakan balas dendam. Dalam cerita rakyat Manarah dikenal sebagai Ciung Wanara. Bersama pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan Manarah menyerang Galuh dalam semalam, semua ditawan kecuali Banga dibebaskan. Namun kemudian Banga membebaskan kedua orang tuanya hingga terjadi pertempuran yang mengakibatkan Tamperan dan Pangreyep tewas serta Banga kalah menyerah.

Perang saudara tersebut terdengar oleh Sanjaya yang memimpin Medang atas titah ayahnya. Sanjaya kemudian menyerang Manarah tapi Manarah sudah bersiap-siap, perang terjadi lagi namun dilerai oleh Demunawan, dan akhirnya disepakati Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga.

Konflik terus terjadi, kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Karena konflik tersebut, tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895M sampai tahun 1311M kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.

Dari segi budaya orang Sunda dikenal sebagai orang gunung karena banyak menetap di kaki gunung dan orang Galuh sebagai orang air. Dari faktor inilah secara turun temurun dongeng Sakadang Monyet jeung Sakadang Kuya disampaikan.

Hingga pemerintahan Ragasuci (1297M–1303M) gejala ibukota mulai bergeser ke arah timur ke Saunggalah hingga sering disebut Kawali (kuali tempat air). Ragasuci sebenarnya bukan putra mahkota. Raja sebelumnya, yaitu Jayadarma, beristrikan Dyah Singamurti dari Jawa Timur dan memiliki putra mahkota Sanggramawijaya, lebih dikenal sebagai Raden Wijaya, lahir di Pakuan. Jayadarma kemudian wafat tapi istrinya dan Raden Wijaya tidak ingin tinggal di Pakuan, kembali ke Jawa Timur.

Kelak Raden Wijaya mendirikan Majapahit yang besar, hingga jaman Hayam Wuruk dan Gajah Mada mempersatukan seluruh nusantara, kecuali kerajaan Sunda yang saat itu dipimpin Linggabuana, yang gugur bersama anak gadisnya Dyah Pitaloka Citraresmi pada perang Bubat tahun 1357M. Sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit.

Menurut Kidung Sundayana, inti kisah Perang Bubat adalah sebagai berikut (dikutip dari JawaPalace):

Tersebut negara Majapahit dengan raja Hayam Wuruk, putra perkasa kesayangan seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan dewa Kama, berbudi luhur, arif bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam peperangan. Inilah raja terbesar di seluruh Jawa bergelar Rajasanagara. Daerah taklukannya sampai Papua dan menjadi sanjungan empu Prapanca dalam Negarakertagama. Makmur negaranya, kondang kemana-mana. Namun sang raja belum kawin rupanya. Mengapa demikian? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri. Konon ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan dicintai rakyat dan kebanggaan raja Majapahit. Dalam pencarian seorang calon permaisuri inilah terdengar khabar putri Sunda nan cantik jelita yang mengawali dari Kidung Sundayana.

Apakah arti kehormatan dan keharuman sang raja yang bertumpuk dipundaknya, seluruh Nusantara sujud di hadapannya. Tetapi engkau satu, jiwanya yang senantiasa menjerit meminta pada yang kuasa akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah khabar bahwa ada raja Sunda (Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan cantik rupawan dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.

Setelah selesai musyawarah sang raja Hayam Wuruk mengutus untuk meminang putri Sunda tersebut melalui perantara yang bernama tuan Anepaken, utusan sang raja tiba di kerajaan Sunda. Setelah lamaran diterima, direstuilah putrinya untuk di pinang sang prabu Hayam Wuruk. Ratusan rakyat menghantar sang putri beserta raja dan punggawa menuju pantai, tapi tiba-tiba dilihatnya laut berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tanda-tanda buruk bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke tanah airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap berprasangka baik kepada raja tanah Jawa yang akan menjadi menantunya.

Sepuluh hari telah berlalu sampailah di desa Bubat, yaitu tempat penyambutan dari kerajaan Majapahit bertemu. Semuanya bergembira kecuali Gajahmada, yang berkeberatan menyambut putri raja Kahuripan tersebut, dimana ia menganggap putri tersebut akan “dihadiahkan” kepada sang raja. Sedangkan dari pihak kerajaan Sunda, putri tersebut akan “di pinang” oleh sang raja. Dalam dialog antara utusan dari kerajaan Sunda dengan patih Gajahmada, terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya sesuatu peperangan besar antara keduanya sampai terbunuhnya raja Sunda dan putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah selesai pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati calon pinangannya telah meninggal, sehingga sang raja tak dapat menanggung kepedihan hatinya, yang tak lama kemudian akhirnya mangkat. Demikian inti Kidung.

Sunda-Galuh kemudian dipimpin oleh Niskala Wastukancana, turun temurun hingga beberapa puluh tahun kemudian Kerajaan Sunda mengalami keemasan pada masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh dalam prasasti disebut sebagai Pajajaran dan Sri Baduga disebut oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan kembali ibukota pindah ke barat.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung (kapal laut model Cina) untuk perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).

Selain tahun 1511 Portugis menguasai Malaka, VOC masuk Sunda Kalapa, Kerajaan Islam Banten, Cirebon dan Demak semakin tumbuh membuat kerajaan besar Sunda-Galuh Pajajaran semakin terpuruk hingga perlahan-lahan pudar, ditambah dengan hubungan dagang Pajajaran-Portugis dicurigai kerajaan di sekeliling Pajajaran. Stop.

Lanjut!

Setelah Kerajaan Sunda-Galuh-Pajajaran memudar kerajaan-kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pajajaran mulai bangkit dan berdiri-sendiri, salah satunya adalah Kerajaan Sumedang Larang (ibukotanya kini menjadi Kota Sumedang). Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan kembali ke Pakuan Pajajaran, Bogor.

Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama (terutama penyebaran Islam), militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putranya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa naik tahta. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620M Sumedang Larang dijadikan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai ‘kerajaan’ diubah menjadi ‘kabupaten’.

Sultan Agung memberi perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika, pasukan Kerajan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan militer kabupaten Sumedang Larang diberangkatkan ke Madura atas titah Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten dan akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggungjawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang, sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama, Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraangunangun, kedua, Kabupaten Parakanmuncang oleh Tanubaya dan ketiga, kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha atau R. Wirawangsa atau dikenal dengan “Dalem Sawidak” karena memiliki anak yang sangat banyak.

Selanjutnya Sultan Agung mengutus Penembahan Galuh bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III (anak Prabu Dimuntur, keturunan Geusan Ulun) untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa, karawaan.

Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putra Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656M. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug. Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putra Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679M dan 1721M ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang. Stop.

Jadi nama jalan Sawunggaling, Mundinglaya, Ranggagading, Ranggamalela, Suryakancana, Ariajipang, Bahureksa, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga dan Bagusrangin belum saya temukan dongeng atau sejarahnya, sebagian –kalau tidak salah ingat– adalah tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Lutung Kasarung.

Sumber : http://yulian.firdaus.or.id/2005/09/23/sundapura/

Iklan

Bandung, Kompas – Sulitnya mengajarkan bahasa Sunda pada anak-anak sekolah menginspirasi dua anak muda untuk mengakrabkan bahasa Sunda melalui komik Sunda. Hanya dengan biaya Rp 120.000 mereka menerbitkan 100 eksemplar komik Sunda untuk segmen remaja dan mahasiswa.

Aditya Gunawan (23), cerpenis Sunda sekaligus mahasiswa Jurusan Sastra Sunda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang sedang praktik mengajar di SD Isola, mengaku kesulitan mengajarkan bahasa Sunda sesuai materi di buku panduan. Siswa-siswanya menilai bahasa Sunda tidak menarik dan sulit.

“Sebab, materinya tidak akrab dengan kondisi zaman sekarang. Misalnya saja tentang wawacan yang berisi pupuh. Itu kan tradisi menulis pada zaman Mataram. Untuk sekadar tahu bisa saja, tapi sulit untuk dipahami anak SD,” kata Aditya, Kamis (12/10), sebelum peluncuran komik berjudul Kolor Totol-Totol.

Sejak akhir September, ia dan komikus, Agung Gumbira (27)-yang juga alumnus Jurusan Seni Rupa, dan mengajar di SD yang sama- berkolaborasi memproduksi komik Sunda agar bahasa Sunda diakrabi generasi muda.

“Saat ini banyak generasi muda Sunda tidak lagi menganggap bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, tetapi bahasa asing,” kata Aditya.

Untuk mengenalkan bahasa Sunda, Aditya menyisipkan perbendaharaan kata Sunda yang sudah jarang dipakai. Misalnya, dalam komik disebutkan kata persani atau magnet. “Dengan melihat gambarnya, orang akan mudah belajar bahasa Sunda,” ujar Aditya.

Komik tersebut bertutur tentang tokoh superhero yang konyol dan lugu. Munculnya tokoh tersebut merupakan sindiran terhadap budaya instan yang kini ada di masyarakat.

Pengerjaan komik dilakukan dua minggu, dengan biaya Rp 120.000. Mereka mengerjakan dengan teknik sederhana. Komikus, Agung Gumbira (27), menggambar dengan media kertas HVS dan tinta dan hasilnya difotokopi. Satu eksemplar menghabiskan biaya sekitar Rp 1.200. Keduanya menjual komik tersebut ke distro dan sekolah-sekolah seharga Rp 2.000 per eksemplar.

“Kami ingin mempertahankan bahasa Sunda sekaligus memberi tawaran baru pada generasi muda. Komik tidak hanya komik Jepang. Sunda juga punya komik,” ujarnya.

Komik ini merupakan judul pertama dari sekitar 10 judul yang akan diterbitkan. “Untuk saat ini kami menerbitkan sendiri. Setelah seluruh serial terwujud, kami akan menerbitkannya menjadi buku yang lebih serius,” kata Agung.

Sebelum diluncurkan, keduanya melakukan uji coba dengan meminta beberapa remaja membacanya. “Ada yang tidak mengerti bahasa Sunda. Tapi karena penasaran melihat visualisasinya, ia penasaran akan isinya, dan meminta temannya menerjemahkan,” kata Aditya.

Wulandari (21), mahasiswa Jurusan Sastra UPI, mengatakan, “Bagus kalau makin banyak komik berbahasa Sunda. Saat ini makin banyak orang yang tidak bisa berbahasa Sunda karena tidak mengerti, dan mempelajarinya sulit. Kalau komik, sifatnya ringan dan menghibur sehingga bisa menolong anak-anak”. (ynt)

Bandung, yang berada di tanah parahyangan erat kaitannya dengan kesenian tradisi sunda dimana terdapat bermacam-macam alat kesenian yang diwariskan salah satu diantaranya alat kesenian tradisi sunda yang dinamakan sebagai angklung, alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung dan calung, dimana calung dikenal sebagai alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai angklung adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung dan calung mirip sama; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung dan calung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung dan calung. ewi Shri atau Dewi Sri adalah dewi percocok tanaman , terutama padi dan sawah di pulau Jawa dan Bali. Ia memiliki pengaruh di dunia bawah tanah dan terhadap bulan. Ia juga dapat mengontrol bahan makanan di bumi dan kematian. Karena ia merupakan simbol bagi padi, ia juga dipandang sebagai ibu kehidupan. Sebagai tokoh yang sangat diagung-agungkan, ia memiliki berbagai versi cerita, kebanyakan melibatkan Dewi Sri (Dewi Asri, Nyi Pohaci) dan saudara laki-lakinya Sedana (Sadhana atau Sadono), dengan latar belakang Kerajaan Medang Kamulan, atau kahyangan (dengan keterlibatan dewa-dewa seperti Batara Guru), atau kedua-duanya. Di beberapa versi, Dewi Sri dihubungkan dengan ular sawah sedangkan Sadhana dengan burung sriti. Orang Jawa tradisional memiliki tempat khusus di tengah rumah mereka untuk Dewi Sri agar mendapatkan kemakmuran yang dihiasi dengan ukiran ular. Di masyarakat pertanian, ular yang masuk ke dalam rumah tidak diusir karena ia meramalkan panen yang berhasil, sehingga malah diberi sesajen. Di Bali, mereka menyediakan kuil khusus untuk Dewi Sri di sawah. Orang Sunda memiliki perayaan khusus dipersembahkan untuk Dewi Sri.

Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung dan calung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya. (Sumber diperoleh dari wapedia.mobi/id/Angklung)

Sumber : http://www.allbandung.com/abc-view-content.php?id=470Posted by : allbandung – Thu Aug 23 18:56:53

Siapa sebenarnya yang disebut orang Sunda? Pertanyaan ini kembali menggelitik setelah Acil Bimbo saparakanca sukses mengadakan acara Gempungan Urang Sunda di Gasibu, Senin 11 September, yang dihadiri ribuan warga Sunda dari berbagai kalangan.

Menurut Acil, Gempungan Urang Sunda merupakan bentuk kegelisahan Acil dan tokoh masyarakat Sunda lainnya terhadap eksistensi Sunda yang saat ini terpinggirkan. Tidak hanya di bidang politik, di hampir semua bidang, masyarakat Sunda seolah tak berdaya meski berada di urutan kedua etnis
terbesar di Indonesia.

Pada acara puncak, personel grup musik Bimbo ini pun berteriak lantang menyebutkan tiga poin deklarasi warga Sunda. Intinya, ikrar itu untuk membangun kebersamaan dalam menjaga Jawa Barat agar tetap kondusif.

Ada dua kata yang kerap dipertukarkan begitu saja-bukan hanya terdengar pada acara Gempungan Urang Sunda itu seakan-akan memiliki arti yang sama: Sunda dan Jawa Barat. Sebab, kenyataannya, tidak semua orang Jawa Barat adalah orang Sunda. Wong Cerbon dan Dermayu banyak yang tidak merasa diri mereka orang Sunda.

Sebaliknya pun begitu, tidak semua orang Sunda berada di Jawa Barat. Bukankah di wilayah Provinsi Banten berdiam banyak orang Sunda? Jangan lupa, di bagian barat Provinsi Jawa Tengah, di Kabupaten Brebes, dan Cilacap terdapat juga masyarakat yang sehari- harinya berbicara bahasa Sunda, memelihara bermacam seni Sunda (wayang golek, calung, jaipongan, dan lain-lain), dan merasa diri mereka adalah orang Sunda. Kerajaan Sunda

Sunda sebagai sebuah etnis boleh jadi sudah ada sejak zaman prasejarah. Berdasarkan data dan penelitian arkeologis, wilayah (yang sekarang disebut) Jawa Barat (dan Banten) telah dihuni oleh masyarakat Sunda secara sosial sejak lama sebelum Tarikh Masehi. Situs purbakala di Ciampea (Bogor), Klapa Dua Jakarta), dataran tinggi Bandung, dan Cangkuang (Garut) memberikan bukti dan informasi bahwa lokasi lokasi tersebut telah ditempati oleh kelompok masyarakat yang memiliki sistem kepercayaan, organisasi sosial, sistem mata pencarian, pola permukiman, dan sebagainya, sebagaimana layaknya kehidupan masyarakat manusia betapa pun sederhananya.

Namun, sebagai sebuah wilayah (kerajaan), nama Sunda baru muncul pada abad ke-7, ketika Tarusbawa, raja terakhir Tarumanagara, mengubah nama kerajaan itu menjadi Sunda, tahun 669 M. Tak lama setelah Tarusbawa mendirikan Kerajaan Sunda, maharaja Galuh, Wretikandayun, melepaskan diri dan membentuk sebuah negara yang berdaulat. Jadi, pada saat itu di belahan barat Pulau Jawa terdapat dua kerajaan yang (relatif) besar, yakni Galuh dan Sunda, yang dibatasi Sungai Citarum.

Sebagai sebuah wilayah kerajaan, Sunda mengalami pasang-surut. Pada awalnya, kerajaan Sunda hanya meliputi wilayah seluas kira-kira separuh Jawa Barat, yakni dari Ujung Kulon hingga Citarum. Ketika Sunda dan Galuh bersatu, wilayahnya pernah mencapai Banyumas dan Brebes. Kerajaan Sunda mengalami kemunduran setelah Sri Baduga meninggal. Para penggantinya (Surwisesa dan seterusnya) gagal mempertahankan kejayaan Sunda. Kerajaan ini pun makin lama makin surut, hingga berakhir pada masa Ragamulya Suryakancana tahun 1579 M. Titi mangsa inilah yang kita kenal sebagai saat runtagna Pajajaran.

Sebagai sebuah wilayah administratif, Jawa Barat merupakan provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (Staatblad Nomor: 378). Provinsi Jabar dibentuk berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat. Toh, 50 tahun kemudian dengan lahirnya UU Nomor 23 Tahun 2000 tentang Provinsi Banten, wilayah administrasi pembantu gubernur wilayah I Banten resmi ditetapkan menjadi Provinsi Banten, yang meliputi Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten/Kota Tangerang, dan Kota Cilegon.

Bisa disimpulkan, sekali lagi bahwa Sunda tidak sama dengan Jawa Barat dan Jawa Barat tidak sama dengan Sunda. Sebagai sebuah etnis, warga Sunda bisa berada di mana saja, di Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Papua, bahkan Eropa, Amerika Serikat, dan lain-lain. Warga Sunda adalah warga dunia. Sebagai sebuah wilayah, Tatar Sunda juga berbeda dengan Jawa Barat.
Untuk menentukannya pun lebih sulit lagi, dan rasanya tak relevan lagi menentukan wilayah yang disebut Tatar Sunda secara administratif. Siapa orang Sunda?

Jadi, siapa sebenarnya yang disebut orang Sunda? Pendapat HR Hidayat Suryalaga, inohong yang tak perlu diragukan lagi kesundaannya, menarik untuk dicermati, kemudian diresapi dan diimplementasikan. Menurut Hidayat, siapa pun Anda yang memenuhi salah satu saja dari empat kriteria berikut:

pertama, merasa diri menjadi orang Sunda;
kedua, orang lain menyebut Anda orang Sunda;
ketiga, ayah dan ibu Anda orang Sunda asli;
dan keempat, tingkah laku dan cara berpikir Anda sehari-hari persis orang Sunda meskipun orangtua Anda bukan Sunda, maka Anda adalah orang Sunda.

Bila kita memakai kriteria ini, jelaslah siapa yang disebut orang Sunda. Namun, kriteria ini pun menimbulkan pertanyaan. Misalnya, jika seseorang merasa diri orang Sunda, dan orang lain menyebut dirinya Sunda, serta orangtuanya Sunda asli, tetapi ternyata ia bertingkah laku yang tak sesuai dengan orang Sunda (misalnya, melakukan korupsi), pantaskah ia disebut orang Sunda?

Dalam kaitan ini, patut digarisbawahi orasi Jajang Cahyana, seorang yang diperkenalkan sebagai tukang becak, pada acara Gempungan Urang Sunda di Gasibu, dua pekan lalu.

“Naha enya urang Sunda nu ayeuna jareneng teh nyaah ka rayat leutik? Naha enya urang Sunda nu aya di dieu malire ka jalma leutik siga kuring? Buktina, kuring nu cicing di pasisian kungsi nandangan lapar dua poe euweuh nu malire. Kuring ngalaman dibuburak pira jadi tukang mulung”.

“Saat pemilihan anggota dewan di Kabupaten Bandung, hampir semua tukang becak di daerah saya memilih seorang anggota dewan asal Sunda. Tapi sekarang, orang itu sama sekali tidak pernah lagi muncul, bahkan tidak pernah bersuara. Karena itu, orang Sunda jangan mau dibohongi lagi,” katanya.

Jadi, yang penting sesungguhnya bukanlah atribut atau engakuan, melainkan sikap mental dan cara berpikir. Apakah sikap mental dan cara berpikir kita sudah mencerminkan sebagai orang Sunda? Hanya kita yang bisa menjawabnya.

HERMAWAN AKSAN (kompas, 27 Sepetember 2006)
Penulis Cerpen, Novel, Esai