Posts Tagged ‘KAJIAN KEBUDAYAAN’

Sejarahwan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari menilai perseteruan antara Indonesia dengan Malaysia tidak akan pernah bisa berakhir. Sebab, gesekan antara kedua belah pihak sudah terjadi sejak abad 15 dan dibukukan dalam pelajaran sejarah.

”Sampai kapan pun perseteruan ini akan sulit untuk didinginkan. Sebab sudah menjadi bagian dari sejarah sejak abad 15 lalu,” kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) Unimed itu kepada harian Seputar Indonesia (SI) di Medan kemarin.

Bahkan kata dia, jika dilihat dari buku pelajaran sejarah di sekolah, cerita tentang ganyang Malaysia yang populer di zaman Soekarno menjadi bagian dari sejarah bangsa. Begitu juga sebaliknya di Malaysia, dalam buku sejarahnya, Kerajaan Majapahit serta Gajah Mada digambarkan sebagai bangsa penindas dan perampok yang sangat biadab karena pernah menguasai sebagian wilayah mereka.

”Bahkan dalam dunia khayal mereka (Malaysia), Kerajaan Majapahit pernah mereka kalahkan,” ungkap Ichwan. Wajar menurutnya jika hingga abad 21 ini, perseteruan tetap berlangsung. Bahkan bukan hanya dari sisi budaya, tapi sampai pada persoalan politik dan pertahanan negara.

Namun lanjut Ichwan, ada hal yang perlu diluruskan bahwa dalam catatan sejarah, Malaysia bukan anti-Indonesia secara umum. Mereka hanya takut pada hegemoni etnis Jawa pada zaman dulu. Karena itu, dalam sastra Melayu klasik, kritik dan perang wacana sering dibangun Kerajaan Malaka (Malaysia) saat itu. Setiap sastra Melayu yang ada selalu menceritakan kalau etnis Jawa harus dilawan, karena sering melakukan penaklukan ke negeri lain.

Atas dasar itulah Malaysia lebih banyak mengklaim kebudayaan Jawa sebagai bagian dari heritage culture (warisan budaya) mereka. ”Jadi sebenarnya bukan Indonesia ingin mereka lawan, tapi etnis Jawa yang sempat menaklukkan Kerajaan Malaka,” ucap Ichwan.

Dia menambahkan, kedua Indonesia-Malaysia sebenarnya saling membutuhkan. Malaysia yang sangat bergantung pada tenaga kerja Indonesia dalam memajukan pembangunan mereka, terlebih setelah rakyat Malaysia tidak ada yang mau melakukan pekerjaan kasar selain TKI.
Sementara itu, pengamat kebudayaan dan pariwisata dari Universitas Sumatera Utara (USU) Gustanto menilai akan sebuah kondisi realitas kemiskinan kebudayaan yang dialami oleh Malaysia. Sehingga mereka berusaha mengklaim kebudayaan Indonesia merupakan bagian dari kebudayaan mereka atas nama kebudayaan nusantara.

Sebenarn ya kata Gustanto, apa yang ditunjukkan Malaysia sudah menjatuhkan martabat mereka sendiri dari sisi budaya. Karena tidak mampu menciptakan sebuah kebudayaan yang memiliki nilai eksotis di mata dunia. Namun di sisi lain, sangat disayangkan ketika pemerintah Indonesia tidak mampu menjaga hak cipta intelektualnya. Padahal kebudayaan merupakan seni yang tercipta melalui dunia ide dan tidak ternilai harganya.
”Satu sisi memang Malaysia menunjukkan kelemahannya dalam hal budaya. Di sisi lain Indonesia juga lemah dalam menjaga hak cipta intelektual yang tak ternilai harganya,” ujar Ketua Departemen D3 Pariwisata USU itu.
Kemiskinan budaya di Malaysia menurutnya bukan rahasia umum.

Beberapa tempat seperti Bukit Bintang dan Kuala Lumpur, umumnya justru memperdengarkan lagu-lagu Indonesia dalam pertunjukan musiknya.

Tokoh-tokoh gender di Aceh tidak ada alasan yang kuat untuk mempelopori atau mengikuti konsep-konsep pembebasan gender yang diusung oleh NGO-NGO asing di Aceh yang membawa isu gender ala barat, kenapa?

Oleh: Effendi Hasan | Mahasiswa S3 Universiti Kebangsaan Malaysia.

A
KHIR-akhir ini persoalan gender merupakan persoalan yang sangat menarik untuk diperdebatkan serta dibicarakan terutama dikalangan wanita Aceh paska tsunami dan perjanjian Helsinki dengan menjamurnya NGO-NGO di Aceh yang telah membawa agenda gender sebagai program yang mereka usung. Malah ada di antara NGO-NGO tersebut dengan sangat berani tidak meluluskan suatu program yang  diajukan kepada mereka kalau tidak memasukkan isu gender dalam setiap kegiatan. Ada apa sebenarya dengan gender ini?. Apakah hak-hak wanita Aceh telah ditindas sehingga tokoh-tokoh gender Aceh dan NGO asing (baca: Barat) berlomba-lomba menuntut dan memperjuangkan hak tersebut. Kalaupun benar hak-hak wanita Aceh ditindas, siapa yang telah menindasnya?. Benarkan kaum laki-laki Aceh telah menindas dan melakukan kekejaman terhadap wanita ketika mereka memerintahkan isteri-isterinya dan anak-anak perempuannya untuk bekerja dan tinggal di rumah?.

Inilah pertanyaan yang harus kita pertanyakan terutama kepada tokoh-tokoh gender di Aceh, sehingga mereka tidak tergesa-gesa menjalankan agenda pembebasan yang diperjuangkan oleh wanita-wanita barat dengan melabelkan isu pembebasan wanita. Sedangkan dibalik itu mereka mempunyai misi perjuangan pembebasan untuk menceraikan beraikan kehidupan wanita, generasi dan rumah tangga orang Islam. Bukankah Islam telah meletakkan kedudukan wanita sangat mulia, sehingga Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan ”Surga berada di bawah telapak kaki ibu”. Bukankah hadist ini merupakan penghormatan yang sangat luar biasa kepada kaum wanita sebagai pembina dan pendidik generasi bangsa.

Menurut penulis, sebenarya tokoh-tokoh gender di Aceh tidak ada alasan yang kuat untuk mempelopori atau mengikuti konsep-konsep pembebasan gender yang diusung oleh NGO-NGO asing di Aceh. Sebab bila kita membuka kembali sejarah perjuangan dan peranan perempuan dalam konteks keacehan, kita mendapati bagaimana peranan perempuan Aceh dalam perjalanan politik menjadi suatu hal yang sangat kita banggakan. Perempuan-perempuan Aceh telah pernah menjadi pemimpin negara maupun pemimpin perlawanan dalam sejarah Aceh yang gemilang. Di Aceh telah pernah lahir pahlawan-pahlawan dari kaum perempuan yang sangat gagah perkasa seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhian, Cut Mutia dll yang bahu-membahu dengan kaum laki-laki dalam mengusir para penjajah. Hal ini sangat jauh berbeda bila kita coba bandingkan dengan daerah lain di Indonesia sehingga apakah hal ini tidak cukup menjadi satu bukti bahwa kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan telah pernah dilakukan oleh pahlawan-pahlawan Aceh sebelum datang dan berkembangnya gerakan pembebasan wanita yang dipelopori oleh barat?.

Walaupun demikian, kita harus sama-sama mengakui selama lebih dari tiga dasarwarsa terakhir bahwa kedudukan perempuan Aceh telah memasuki masa kelam. Hal ini diakibatkan konflik berkepanjangan yang melanda Aceh. Konflik ini ditenggarai telah meruntuhkan semangat perlawanan kaum perempuan Aceh dikarenakan mereka menjadi target utama era DOM 1989-1998. Tapi lambat laun, era suram itu telah berganti dan secara perlahan semangat Cut Nyak Dhien dan Laksamana Malahayati telah mulai terasa kembali dalam percaturan politik di Aceh. Perempuan Aceh masih berpeluang besar untuk bangkit dan mengambil peran yang dominan dalam percaturan politik, pembangunan ekonomi, sosial dan budaya Aceh. Jadi tidak mesti terus berkutat di sekitar sumur, dapur, kasur.

Tapi, yang menjadi pertanyaan kita semua, mengapa masih ada sebagian tokoh gender di Aceh masih mengikuti dan mempelopori konsep-konsep pembebasan gender ala barat?. Tidak cukupkah bagi tokoh gender Aceh untuk mencoba mengulangkaji sejarah kegagahan dan peranan kesetaraan gender yang telah dipelopori oleh pahlawan dan tokoh perlawanan perempuan Aceh dahulu, dimana peranan mereka justru melebihi dari tokoh-tokoh pembebasan gender dari barat itu sendiri. Atau memang sebaliknya tokoh gender Aceh takut di anggap kolot oleh tokoh gender barat karena masih berpegang teguh pada nilai-nilai dan tradisi perjuangan tokoh-tokoh wanita dan pahlawan perempuan Aceh tempoe doeloe?.  Atau malah tokoh-tokoh gender Aceh sengaja mengadaikan nilai-nilai tradisi dan maruah bangsa keacehan karena mengharapkan bantuan atau dana yang berlimpahan dari NGO asing yang akan di berikan kepada mereka dengan menjalankan agenda gender?.

Inilah fenomena baru di Aceh paska tsunami dan perjanjian Helsinki. Kita terlalu mudah untuk melahap semua yang datang dari barat karena mengharapkan dana dan kepentingan materi sesaat. Seakan-akan kita telah menganggap tradisi dan budaya hidup ala barat bagia dari dari kehidupan sehari-hari bangsa Aceh. Kalau kita mau contoh kehidupan bangsa Jepang, maka pertanyaanya mengapa orang Aceh tidak mengikuti cara hidup masyarakat Jepang saja dimana orang Jepang mencapai kecermelangan dan kemajuan justru dengan tetap berpegang teguh pada tradisi dan nilai-nilai budaya asli mereka. Mereka tidak pernah menerima nilai-nilai serta budaya yang datang dari barat bulat-bulat.

Konsep Gender
Istilah gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti “jenis kelamin”. Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang kentara antara laki-laki dan perempuan bila dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Sedangkan Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men). Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender atau sering disebut juga dengan What a given society defines as masculine or feminin is a component of gender. Sedangkan H. T. Wilson dalam Sex and Gender mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan.

Agak sejalan dengan pendapat yang dikutip Showalter yang mengartikan gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa dimana kita dapat menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu atau istilah lain Gender is an analityc concept whose meanings we work to elucidate, and a subject matter we proceed to study as we try to define it ( Juliet Mitchell,1971:11).

Secara umum istilah gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka istilah sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex ini lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Pengertian gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) atau feminitas (femininity) seseorang.

Berbeda dengan pengertian sex yang lebih menekankan kepada aspek anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness) dan perempuan (femaleness). Proses pertumbuhan anak (child) menjadi seorang laki-laki (being a man) atau menjadi seorang perempuan (being a woman), lebih banyak digunakan istilah gender daripada istilah sex. Istilah sex umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual (love-making activities), selebihnya digunakan istilah gender (Floyd T.Cullop, 1969:87).

Sebenarnya persoalan gender mulai dibicarakan sejak kaum wanita itu ditempatkan dalam semua aspek kajian. Persoalan wanita merupakan suatu persoalan yang sangat menarik dan telah mulai dibicarakan semenjak Nabi Adam. Di mana setelah Nabi Adam dijadikan Allah SWT, beliau merasa kesunyian dalam menempuh hidupnya di dalam syurga, sehingga meminta kepada Allah agar menciptakan seorang pendamping hidupnya. Kemudian Allah menjadikan Hawa dari tulang rusuk kiri Nabi Adam untuk menjadi teman hidupnya dan seterusnya melahirkan keturunan di muka bumi sampai sekarang. Walapun akhirnya kedua pasangan ini harus meninggalkan syurga dan di asingkan kebumi. Kisah penurunan Adam dari surga kemuka bumi turut menjadi satu pembicaraan karena kesilapan Hawa yang telah tergoda dengan rayuan syaitan sehingga mengundang kemurkaan Allah (Irwan Abdullah 1997:63).

Dari konsep-konsep gender inilah kemudian menjadi landasan lahir serta berkembangnya pendekatan-pendekatan feminisme. Konsep feminisme dari sudut terminologi adalah kata dasar feminine yang mengandung arti wanita dan kewanitaan. Feminine adalah suatu gerakan yang memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Pengertian ini seperti yang terkandung dalam kamus Oxford Advance Learner’s Dictionary, Oxford University Press 1995: 428 dan kamus The Encyclopedia Americana, Americana, Coperation, USA 1970: 107. Dari sudut etimologi konsep ini bisa disebut sebagai suatu pergerakan yang bersifat kebudayaan yang tersebar luas dengan tujuan untuk memelihara keseimbangan yang sempurna antara laki-laki dan perempuan dalam menikmati atau melaksanakan semua hak kemanusian seperti moral, agama, sosial, politik, pendidikan, hukum dan ekonomi.

Konsep feminisme juga bisa di definisikan sebagai suatu kesadaran terhadap lahirnya ketidakseimbangan buatan manusia antara wanita dan laki-laki  dalam kehidupan masyarakat dan keinginan untuk melakukan sesuatu bagi meminimalkan dan  seterusnya menghapuskan ketidakseimbangan tersebut ( Ghazali Mahyuddin 1999: 44).

Sedangkan feminisme dalam konteks perspektif barat adalah suatu kepercayaan di mana wanita  mempunyai persamaan dari segi ekonomi politik dan sosial dengan laki-laki. Perkataan feminisme juga memberi suatu pengertian yang mengandung arti suatu gerakan politik yang memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Pergerakan ini juga dikenal dengan istilah women’s Liberation Movement (pergerakan pembebasan wanita) atau sering juga disebut dengan Women’s Right Movement (pergerakan hak-hak wanita). Menurut pendapat Indriatry Ismail (1995:42), diantara feminisme dan gerakan pembebasan wanita mempunyai landasan yang sama yaitu perjuangan untuk menuntut persamaan hak untuk wanita serta meletakkan mereka pada status yang seimbang dengan laki-laki serta memberikan kebebasan untuk memilih dalam pekerjaan serta mencorakkan kehidupana masing-masing.

Walaupun demikian, dari sudut tujuan  gerakan, feminisme adalah semata-mata untuk untuk membela kebebasan hak wanita (advocating women’s right). Sedangkan gerakan pembebasan wanita bertujuan untuk membela kebebasan yang sempurna terhadap wanita (advocating of the full freedom of women). Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Gender dalam pengertian ini adalah suatu bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati.

Kemudian benarkan gerakan gender yang di perjuangkan oleh wanita-wanita barat merupakan satu strategi untuk menghancurkan institusi rumah tangga dan menghancurkan martabat wanita-wanita Islam?. Hal ini bukan sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan atau sengaja di rekayasa untuk semata-mata mempersempit makna gerakan pembebasan gender yang di pelopori oleh wanita barat. Akan tetapi ini merupakan satu keadaan berdasarkan bukti dari kebimbangan dari Maryam Jamilah, seorang Yahudi yang telah menjadi tokoh Islam yang terkenal dengan ungkapannya ”Walaupun saya percaya wanita perlu mendapat pendidikan agar ia dapat mengunakan seluruh kemampuan dan kebijaksanaanya, namun saya tetap mempersoalkan tentang efek dari gerakan gender yang dipelopori oleh wanita barat yang ingin mengeluarkan kaum wanita dari lingkungan rumahtangga, terutama mereka  yang mempunyai anak-anak yang masih kecil untuk turut bersaing dengan kaum laki-laki di kantor-kantor dan pabrik-pabrik. Sedangkan tugas mengasuh dan mendidik anak-anak itu diserahkan saja kepada rumah-rumah asuhan dan pembantu. Inilah keadaan yang berlaku di Rusia dan Cina Komunis, di mana konsep pembebasan wanita segaja digunakan oleh golongan pemerintah untuk menghancurkan ikatan kekeluargaan (Zainon Jaafar, 1976:34).

Keresahan Maryam Jamilah juga dirasakan oleh tokoh-tokoh atau ahli-ahli pikir barat seperti Filosof Bertnand Russel yang menjelaskan ”Suatu keluarga menjadi hancur karena keterlibatan kaum wanita dalam kerja-kerja umum. Pendapat Russel ini turut didukung oleh Prof. Arnold Toynbee dengan penjelasannya ”Dalam sejarah abad-abad keruntuhan, biasanya terjadi apabila kaum wanita telah meninggalkan rumah. Sedangkan seorang tokoh Filsafat Inggris yang dinamis, Prof.C,E, M. Joad, yang merupakan seorang pendukung gerakan pembebasan wanita sekaligus pemimpin persatuan politik kaum laki-laki untuk mendapat hak sama dengan kaum perempuan, tetapi akhirnya terpaksa mengakui kesilapan dari gerakan gender dengan kata-katanya yang bernas ”Saya percaya dunia akan lebih bahagia kalau wanita merasa puas untuk menjaga rumahtangga dan mendidik anak-anak mereka. Walaupun untuk melakukan hal ini harus terpaksa mengalami penurunan tingkat kehidupan. Demikian juga semakin banyaknya kaum wanita bekerja bersama-sama dengan kaum laki-laki akan diambil kesempatan oleh sebahagian suami untuk berselingkuh dengan mereka“.

Gejala ini diperjelas oleh seorang hakim wanita dari Amerika, Beatric Mullaney, yang menjelaskan ”Kaum wanita dapat  dianggap sebagai hampir bulat-bulat bertanggung jawab kepada keruntuhan moral di Amerika Serikat, kaum wanita begitu terburu-buru untuk mendapatkan kebebasan yang beraneka ragam yang dipelopori oleh Wome’s Liberation dan hasilnya penceraian dan perpecahan rumah tangga dan keluarga. Dalam tempo 20 tahun saya sebagai seorang hakim yang telah mengendalikan lebih dari pada 10.000 ribu kasus penceraian serta masalah pemeliharaan anak-anak. Saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa kerusakan akhlak, terutama dalam masalah rumah tangga seperti melarikan diri dari tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak di sebabkan oleh kaum wanita.(Abd Rahman Hj Abdullah 1976: 17-18).

Sementara itu Maulana Al-Maududi, seorang tokoh Islam yang terkemuka dari Pakistan menilai bahwa gerakan pembebasan yang dipelopori oleh wanita barat telah menyebabkan kaum wanita hilang sifat kewanitaannya. Kaum wanita banyak melakukan tugas-tugas serta kerja–kerja yang tidak cocok dengan tabiat kewanitaannya. Pendapat beliau ini memang sangat bernas dengan keadaan sekarang ini yang sedang menimpa kaum perempuan di seluruh penjuru dunia akibat pengaruh gerakan gender dari barat termasuk Aceh.

Lebih lanjut Maulana Al-Maududi menjelaskan ”Peranan sosial yang dipaksa agar di jalankan oleh wanita  barat itu pada hakikatnya bukanlah suatu pembebasan malah merupakan suatu penyelewengan dan perhambaan, akibat dari propaganda yang tidak benar dan mengelirukan itu, kaum wanita sedang coba memusnahkan kewanitaanya mereka sendiri. Kini mereka memandang aib untuk hidup secara natural dengan sifat sebagai seorang wanita dengan melaksanakan tugas-tugas yang cocok dengan tabiat yang telah di bagikan oleh Allah. Dan sebagai gantinya mereka mencari kehormatan di dalam merebut pekerjaan laki-laki.

Dari penjelasan Maulana Al-Maududi jelas menjadi bukti begitu kuatnya pengaruh gender barat terhadap kaum wanita, sehingga ada indikasi; pertama menghendaki kaum wanita memikul beban hidup seorang diri. Kedua, menyeru kaum wanita keluar melaksanakan aneka tangungjawab kaum laki-laki. Selain itu, kampanye-kampanye yang sama juga telah dilancarkan oleh pejuang gender barat untuk mempengaruhi kaum wanita diseluruh dunia terutama di negara-negara Islam agar mereka merasa dirinya lebih menarik daripada kaum laki-laki. Dengan demikian kaum wanita melakukan sesuatu yang dapat merusak kesopanan dengan menampakkan  kecantikan tubuh dan berpakaian yang seksi ala barat, sehingga ujung-ujungnya kaum perempuan telah dijadikan barang mainan ditangan laki-laki. Dasar pembagian tugas yang berdasarkan ciri-ciri fisikal dan sifat-sifat keibuan wanita inilah pada hari ini telah diselewengkan oleh pejuang-pejuang wanita barat yang mereka anggap ini sebagai suatu penindasan terhadap kaum wanita (Zainon Jaafar, 1975:35-36).

Dengan demikian, jelaslah bahwa perjuangan gender yang dipelopori wanita–wanita barat telah menimbulkan resiko yang sangat besar bagi kaum wanita itu sendiri. Hal ini bukan saja seperti yang telah di jelaskan oleh para pemikir di atas, akan tetapi secara realita kita juga dapat melihat apa yang terjadi di negara kita, baik di Aceh maupun di wilayah lain di Indonesia. Kejadian-kejadian atau masalah-masalah yang menimpa kaum wanita, baik perkosaan, pelecehan seksual, penipuan, pelacuran dan perdangangan gadis-gadis cantik sebagai pelayan seksual merupakan imbas dari isu gender ala barat.

Di samping itu banyak juga gadis-gadis atau generasi muda yang terjebak dan akhlaknya rusak akibat ketagihan narkotika dan lain sebagainya akibat gender barat. Siapa yang harus disalahkan, bukankah ini yang diinginkan oleh pejuang-pejuang gender barat agar generasi Islam menjadi rusak. Kalau kita telah melihat contoh-contoh ini, mengapa masih ada tokoh-tokoh gender atau wanita-wanita Islam secara umumnya dan Aceh khususnya mengikuti budaya atau mempelopori konsep serta ajaran-ajaran dari barat yang telah jelas membawa musibah bagi kita. Bukankah agama Islam telah mengatur berbagai aturan dan cara hidup bagi orang Islam khusunya bagi kaum laki-laki dan perempuan serta pembagian tugas diantara mereka?. Di mana kaum perempuan berfungsi sebagai pendamping kaum laki-laki dengan tanggungjawab membina keluarga dan menjaga nilai-nilai utama keluarga. Persoalan mencari nafkah merupakan kewajiban serta tanggungjawab kaum laki-laki. Demikian juga Islam telah memberi batasan-batasan kepada kaum wanita agar tidak menjadi mangsa pemuas nafsu seksual laki-laki dengan ajaranya memerintahkan kepada kaum-kaum wanita untuk berpakaian yang sopan dan tidak menampakkan aurat ketika mereka keluar dari rumah?. Bukan seperti pakaianya para pejuang gender ala barat! Wallahu’alam. (Effendi Hasan)

Sumber : http://web.acehinstitute.org/

The 1965 revolt in Indonesia led to the deaths of hundreds of thousands of people accused of communist associations. Tohari asks why there are so few Indonesian writers who address this tragedy? “The Moral Responsibility of Indonesian Writers in Dealing with the Human Tragedy in PKI 1965 Revolt” ( http://www.ideaandsociety.acr.edu/pdfs/tohari.pdf/ )

1. Pengantar

Uraian mengenai memori kolektif termasuk dalam bidang kajian yang cukup luas, yang kini banyak menarik perhatian para pakar sosial politik, sejarah, psikologi kognitif, dan kebudayaan. Di bidang ilmu sastra, topik pembicaraan ini bukanlah hal baru. Konsep yang erat pautannya dengan memori kolektif adalah “engaged literature” (French: littérature engagée), yang berarti sastra yang bertanggungjawab (literature of commitment). Konsep ini sudah dipopulerkan sejak berakhirnya Perang Dunia II oleh para eksistensialis, khususnya Jean-Paul Sastre (Encyclopedia Britanica, 2003). Menurut Sartre, seniman serius harus memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. “Seseorang hanya dapat dikatakan ada jika dia memiliki kesadaran untuk terlibat dalam masalah masyarakatnya,” demikian Sartre.

Keterlibatan seniman dalam berbagai masalah yang dihadapi masyarakatnya memiliki nilai istimewa. Menurut Lucien Goldman, sastrawan besar tidak sekedar menyampaikan pikirannya sebagai seorang idividu. Dia merepresentasikan pandangan dunia (world view, weltanschauung) bahkan semangat jaman (spirit of time) sebuah kelompok masyarakat (Damono, 1977). Dengan demikian, apa yang dikemukakan sang seniman ‘serius’ dapat dikategorikan sebagai memori kolektif sebuah komunitas bangsa.

Contoh karya sastra mutakhir yang paling menonjol sebagai sebuah memori kolektif adalah karya pengarang termasyur dari Jerman, Guenter Grass, yang juga penerima Hadiah Nobel 1999 untuk bidang sastra. Grass yang dipandang sebagai penyair dan pengarang Jerman terpenting sejak pertengahan kedua abad-20—bahkan dijuluki sebagai poeta politicus (seniman politik). Karya-karyanya seperti Im Krebsgang (Gerak Kepiting), Die Blechtrommel (Genderang Kaleng) dan lainnya bertujuan mengusik ingatan dan hati nurani bangsa Jerman tentang pengaruh dan akibat buruk rezim Nazi. Karyanya selalu membawa pesan “Gegen das Vergessen”, artinya “jangan lupa (apa yang telah terjadi supaya tidak terulang)” (Korah-Go dan Hesdanina Damly, 2000).

Konsekuensi dari konsep engaged literature adalah keterlibatan seniman dalam ikut menyelesaikan masalah bangsa. Grass, misalnya, menyatakan bahwa tidak diungkapnya penderitaan fisik dan luka batin bangsa Jerman yang diakibatkan oleh Perang Dunia II adalah salah satu sebab timbulnya paham Ekstrim-Kanan dan mengganasnya gerakan kaum Neo-Nazi, terutama di bagian timur Jerman. Karya-karya sastranya muncul sebagai sinyal Gegen das Vergessen untuk mengatasi masalah urgen yang dihadapi bangsa Jerman.

Salah satu masalah urgen bangsa kita adalah rekonsiliasi nasional (lihat Santikarma, 2003). Masalah rekonsiliasi nasional pada awal tergulingnya regim Orde Baru sangat marak dihembuskan oleh para aktivis HAM. Rekonsiliasi nasional terutama berisi sebuah tekanan untuk memulihkan hak dan martabat para korban pembantaian komunis 1965 beserta keluarganya. Rekonsiliasi sejati hanya dapat dilaksanakan bila kita mau merevisi pikiran kita dalam hubungannya dengan sejarah, diri kita sendiri, dan dengan sesama kita. Jalan rekonsiliasi tidak saja melewati forum politik sebagai satu-satunya pilihan. Bagi saya, ada banyak jalan lain menuju rekonsiliasi nasional itu, seperti forum sosial-historis dan forum sosial-kultural.

Dalam tulisan ini, akan dibahas hubungan antara memori kolektif yang dibangun Ahmad Tohari melalui Ronggeng Dukuh Paruk dan proses menuju rekonsiliasi bangsa.

Sumber : www.endonesa.net

Hingga kini Indonesia belum memiliki karya etnografi yang lengkap. Padahal, etnografi sebagai deskripsi menyeluruh tentang kebudayaan suatu masyarakat bisa digunakan sebagai referensi untuk mengatasi berbagai persoalan sosial yang muncul belakangan ini. Sangat disayangkan juga, para antropolog tidak mengambil kesempatan emas dalam sejarah reformasi bangsa untuk mempopulerkan antropologi.

Demikian antara lain pemikiran yang muncul dalam diskusi Perkembangan Antropologi Indonesia yang diselenggarakan Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia (JKAI) di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI) Depok, Jumat (10/3). Hadir sebagai pembicara, dosen antropologi FISIP-UI sekaligus Pemimpin Redaksi Jurnal Antropologi MA Yunita T Winarto Ph D dan mantan Ketua JKAI Drs Bambang Setiawan.

“Seorang antropolog akan dihargai dari karya-karya etnografi yang dibuatnya. Namun sayangnya belum banyak karya etnografi tentang Indonesia yang dibuat oleh antropolog Indonesia sendiri. Ketika muncul persoalan sosial, baru menyadari pentingnya etnografi,” kata Bambang.

Menurut Yunita, mahasiswa antropologi dan antropolog masih banyak yang belum memiliki kemampuan menulis. Umumnya mereka belum punya ketajaman memilih dan merumuskan isu. Selain itu, seringkali argumentasi yang dikemukakan masih lemah. “Mereka cuma menyajikan deskripsi saja, tanpa bisa mengangkat data yang diperoleh dalam bentuk hasil analisa yang kuat,” katanya.

Yunita sepakat bahwa keterbatasan sarana penunjang seperti kepustakaan yang lengkap sering menjadi hambatan untuk mengembangkan kemampuan mereka melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. “Kemampuan untuk memahami suatu masalah yang sama dari berbagai sisi inilah yang membuat mahasiswa antropologi kurang dapat mengemukakan argumentasi yang berbobot,” katanya.

Baik Yunita maupun Bambang sepakat bahwa masih ada persoalan menyangkut lemahnya kemampuan metodologi pemecahan masalah di antara para antropolog. Akibatnya banyak penelitian yang dihasilkan jarang dikaitkan dengan masalah-masalah sosial yang mendesak. “Dari segi perkembangan teoretis, antropologi Indonesia memang berkembang, tetapi dari segi manfaat masih belum memberikan sumbangan berarti bagi pemecahan problem sosial seperti yang terjadi saat ini,” kata Bambang.

Bambang melihat, lemahnya kemampuan metodologi pemecahan masalah disebabkan oleh lemahnya keinginan antropolog untuk menulis etnografi dari dalam diri mereka sendiri. Apalagi sekarang banyak sekali etnografi yang ditulis menurut pesanan. Seringkali, penulisan etnografi berdasarkan pesanan ini sudah diberikan kerangka penelitian. Sementara antropolog hanya dilibatkan sebagai pencari data saja. “Dari segi keilmuan, penulisan semacam ini bisa sangat merugikan,” katanya.

Menurut Bambang, salah satu akibat dari penelitian yang dilakukan berdasarkan pesanan ini adalah sang penulis kehilangan haknya untuk mempublikasikan hasil penelitian tersebut. Padahal publikasi hasil penelitian sangat bermanfaat bagi perkembangan antropologi.

Sumber : KOMPAS

Saatnya Revolusi budaya
oleh : Mamat Hermawan Al (Budayawan Bekasi)

Sebuah keniscayaan “kebudayaan”dijadikan sebagai pijakan dalam perspektif membangun daerah dengan menengok dentingan tiga puluh tahun lalu, geliat anak-anak muda Bekasi marak dengan berbagai kegiatan kepemudaan, olahraga, seni dan budaya menjadi aktiftas yang tak pernah sepi, wabil khusus geliat dibidang seni budaya telah banyak mengukir prestasi, baik tingkat daerah maupun nasional.

Cita-cita dan obsesi para pelaku seni budaya masa lampau di Bekasi banyak yang tidak mengetahui, bahkan hampir generasi muda masa kini tidak ada yang mau menelusuri dan tertarik dengan histori masa lalu. Kita tidak sepenuhnya menyalahkan mereka, karena keterbatasan media informasi dan bukti-bukti fisik ataupun karya mereka hampir tidak ada dalam publikasi, baik berbentuk audio maupun visual atau juga secara tertulis.

sehingga perjalanan sejarah kiprah dan karya para pelaku seni budaya di Bekasi telah banyak meninggalkan kesan yang nyata ataupun maya, baik karya seni tradisi maupun karya seni modern kontemporer. Klimaks geliat seni budaya dapat kita ukur pada era tahun 70-an dimana booming seni budaya secara nasional membangkitkan gairah anak-anak muda diseluruh penjuru tanah air, begitupun Bekasi yang dikenal sebagai kota mangunpraja sejak jaman becokol-nya kerajaan di Bekasi yang muaranya terbangunnya lalu lintas air terpanjang yaitu sungai Bekasi, sungai yang bersejarah diera tahun 70-an itu kerap diadakan event kegiatan seni budaya, baik seni vocal menyanyi, seni tari dan bahkan seni drama.

Pada waktu itu sangat dominan sekali, karena setiap event apapun anak muda Bekasi memvisualisasikan kehidupannya diatas pentas, dimulai dari lingkungan yang terkecil sampai besar. Seni drama yang kini kita kenal sebagai “seni theater” yang pertunjukannya dihalaman-halaman desa dan kecamatan, bahkan ajang-ajang festival drama/tetater hampir tiap bulan dan dilaksanakan oleh lembaga apa saja termasuk andil dari kalangan militer seperti yang pernah dilakukan oleh tokoh teater dan komandan kodim Bekasi H. Sani’in (almarhum) sekitar di era tahun 60-70-an, maka tidak heran kalau pada waktu itu banyak bermunculan kelompok teater/drama yang mencapai 40-an jumlahnya yang diwadahi oleh “Teater Chandrabaga” yang mewakili Bekasi, tercatat juara II Festival Nasional Piala Ibu Tien Soeharto, juara umum dan terbaik festival teater pemuda di GGM Bandung piala Gubernur Jawa Barat Yogie S. Memet tahun 1985, termasuk aktif mengikuti festival purnadrama nasional di Monas Jakarta. Begitupun kiprah seni tradisonal topeng Bekasi yang telah melanglang buana ke manca negara. akan tetapi Seni teater menjelang tahun 90-an terjadi perubahan drastis setelah masuknya era sinematik dan sinetron yang menjamur sehingga mengalihkan perhatian anak muda dengan lesinematik sehingga satu persatu kelompok tetater Bekasi banyak yang menghilang.

Sekarang ini sebenarnya kalau kita mau jujur di Bekasi itu banyak menyimpan potensi seni budaya yang dapat kita gali dan sebagai khasanah cermin budaya Bekasi, namun semuanya kembali pada konsistensi seniman dan budayawan selain keseriusan pemerintah kota Bekasi untuk mempertahankan ikon-ikon seni budaya yang pernah tumbuh di Bekasi. Kegiatan seni budaya bukan hanya sekedar ceremonial atau life in service semata atau seni hanya digambarkan seperti daun salam, habis dipakai sesudah itu dicampakan begitu saja termasuk para pelaku seni tradisional Bekasi yang kurang mendapat perhatian.

Dewan Kesenian Bekasi sudah berupaya memberikan penghargaan dalam DKB Award tahun 2005 yang dibuka oleh wakil wali kota bekasi saat itu, H. Mochtar Mohammad (sekarang Wali kota Bekasi), kemudian berlanjut dengan DKB award II pada bulan juni 2007 yang dibuka oleh wakil ketua DPRD kota Bekasi, H. Ahmad Syaikhu yang bercita-cita akan membangun perkampungan Bekasi yang berarsitek dan nuansa budaya Bekasi agar tidak punah.

Sangat ironis kalau seni budaya tidak bisa berkembang di Bekasi, soalnya pemerintah kota bekasi telah mencanangkan monumen yang terpasang dengan berlogo penari topeng dan bunga teratai yang bertuliskan slogan : ” Bekasi kota patriot, seni dan budaya“, di area taman pasar baru Bekasi (depan Alfamart Grosir) dan kegelisahan para seniman-budayawan Bekasi dengan membetuk “Dewan Kesenin Bekasi” tanggal 13 Maret 1998 dan tercurah satu tekad kebangkitan seni budaya di Bekasi dengan membangun kemitraan untuk semua kalangan yang ditopang dan bersinergi dengan pemerintah kota Bekasi dan revolusi budaya Bekasi adalah amanat hasil Rakerda II di Subang tanggal 24-25 Desember 2007 seiring dengan Muhibah Budaya antar dewan kesenian se-wilayah IV plus Dewan kesenian Indramayu selin melahirkn gagasan temu bduaya antar kesenian pesisir Jawa Barat plus Jawa Tengah oleh Dewan Kesenian Tegal tanggal 26 januari 2008 di Indramayu.

Acara tahunan DKB kota bekasi tahun lalu menjadi inspirasi para pelaku seni bduaya yang akhirnya muncul sinyal pembentukn forum bduaya antar dewan kesenian se-Jawa Barat dan Jawa Tengah sebagai wadah komunikasi dan tukar pendapat para seniman.

Secara lengkap rakerta II dan muhibah budaya dihadiri Dewan Kesenian Karawang, Dewan Kesenian kabupaten Bekasi, Dewan Kesenian Subang, Dewan Kesenian Indramayu, dan Dewan Kesenian Tegal. DK Bekasi menampilkan tari topeng Blantek, musikalisasi puisi dan pembacaan puisi, sedang DK Indramayu menampilkan seni Syeran dan ditutup DK Subang dengan menampilkan seni tradisional Gemyung dengan 40 personil yang rata-rata pegawai pemda kabupaten subang dengan sinden yang bernama Nunung.

Diusianya yang ke 10 DKB telah melahirkan tokoh pimpinan : H. Soeci Oetomo, BSc. (1998-200), Dra Hj. Henny S. Djyodirono (200-2003), Drs Benoni R. Julius (2003-2006) dan sekarang Ridwan Marhid, SPd. (2006-2010).

Sumber : hhtp://inohonggarut.blogspot.com