Posts Tagged ‘sunda’

Ajip Rosidi sangat jeli melihat perkembangan sastra Sunda terutama dalam bidang prosa dan puisi yang berkembang setelah perang atau setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949. Pada saat itu ada dua pendapat, pertama bahwa sastra Sunda dalam masa senja, pendapat kedua adalah sastra Sunda yang baru seperti fajar menyingsing. Sejak era penjajahan Jepang sastra Sunda yang tadinya sudah mekar kemudian mengalami kemunduran. Hampir segalanya dikendalikan penjajah. Setelah merdeka Indonesia masuk ke era revolusi fisik. Akibat perang sulit mencari penerbit dan percetakan yang dapat menghasilkan sebuah buku. Pada waktu revolusi kata “Persatuan Indonesia” adalah kata-kata sakti yang jika digunakan orang yang kurang wawasan dapat mematikan kedaerahan. Banyak pengarang yang takut menulis dalam bahasa daerah termasuk dalam bahasa Sunda. Bisa-bisa dituduh kaki tangan Van Mook, sukuistis, atau penghambat persatuan. Mereka lupa arti sebenarnya dari ucapan Mpu Tantular: “Bhinneka Tunggal Ika” yang dijadiukan semboyan dalam lambang kebangsaan Burung Garuda. Meskipun tidak seperti masa sebelum perang ketika banyak dibuat buku-buku berbahaasa Sunda terutama dalam bentuk roman, para pengarang dari kalangan muda Sunda banyak menulis di berbagai majalah dan surat kabar. Karena kekosongan buku-buku sastra Sunda, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga menyusun sebuah antologi prosa dan puisi setelah perang, sekira tahun 1949-1959. Mereka mengumpulkan karya-karya berupa cerita pendek, panineungan (kenangan), prosa lirik, cuplikan drama, dan sajak yang mempunyai nilai sastra dari berbagai majalah dan koran yang terbit pada kurun waktu tersebut. Media-media yang jadi sumber a.l.: Kiwari, Warga, Sunda, Panghegar, Sipatahoenan, Tjandra, Mangle, Siliwangi, Panglajang, dan Kalawarta Lembaga Basa djeung Sastra Sunda (hal. 11). Hasil karya sastra disusun berdasarkan pengarang dari yang lebih tua hingga yang lebih muda. Bahkan diupayakan riwayat hidup singkat dari pengarang. Dengan demikian kita bisa lebih memahami kehidupan pengarang dan karyanya. Alhasil isi buku dimulai dengan karya Tjaraka yang bernama asli Wiranta kelahiran Conggeang Sumedang tahun 1902 dan diakhiri karya Ajatrohaedi yang dilahirkan di Jatiwangi tahun 1939. Dari segi kota kelahiran pengarang cukup mewakili berbagai tempat di Provinsi Jawa Barat dan Banten sekarang. Bagi saya dengan membaca karya panineungan, cerpen, dan beberapa sajak dapat meraba kondisi sosio-kultural masa itu dan sebelumnya. Beruntunglah ada Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga yang mengumpulkan karya-karya sastra Sunda setelah perang dalam sebuah buku sehingga menjadikannya lebih bertahan lama dan bisa disampaikan ke generasi berikutnya. Bayangkan jika hanya diupayakan sebagai “klipping” dari surat kabar yang umurnya sehari atau seminggu dan majalah yang umurnya hanya bulanan. Bahkan dalam bentuk buku pun mungkin hanya tersimpan di beberapa kolektor yang mencintai sastra Sunda dan perpustakaan. Buku ini pun dihiasi dengan gambar hasil coretan Jus Rusamsi. Buku yang sudah berumur lebih 45 tahun dan lembaran kertasnya dari jenis stensil harus diperlakukan hati-hati karena mudah robek. Adapun judul buku diberi nama “Kandjutkundang” adalah seperti kebiasaan para leluhur jika ada bayi yang baru lahir dibekali semacam rajut dengan diisi berbagai kiasan agar dijauhkan dari mara bahaya dan menempuh hidup dengan penuh kerahayuan. Bukankah sastra Sunda pada masa itu seperti seorang bayi yang baru lahir yang jelas berbeda dengan sastra Sunda sebelum perang.*** Doa haturan pa oto iskandar dinata jungjunan pangnangkeupkeun eta nyawa nu indit taya nu nanya taya tapakna di dunya angin pangngusikkeun sapangeusi buana yen aya sinatria nu perlaya di wewengkon langit sunda bulan baturan eta nyawa nu ditundung di tempat baktina taya nu daek ngajungjung he panonpoe geura awurkeun panas anu ngaduruk sagala sangkan ieu dada sakumna nyawa sunda nyaho boga pahlawan digjaya tutugan gunung agung 21 juni 1958 Karya Apip Mustopa Dari Kalawarta L.B.S.S no. 11, Agustus/September 1958. (Kandjutkundang hal. 454)

Iklan

Siapa sebenarnya yang disebut orang Sunda? Pertanyaan ini kembali menggelitik setelah Acil Bimbo saparakanca sukses mengadakan acara Gempungan Urang Sunda di Gasibu, Senin 11 September, yang dihadiri ribuan warga Sunda dari berbagai kalangan.

Menurut Acil, Gempungan Urang Sunda merupakan bentuk kegelisahan Acil dan tokoh masyarakat Sunda lainnya terhadap eksistensi Sunda yang saat ini terpinggirkan. Tidak hanya di bidang politik, di hampir semua bidang, masyarakat Sunda seolah tak berdaya meski berada di urutan kedua etnis
terbesar di Indonesia.

Pada acara puncak, personel grup musik Bimbo ini pun berteriak lantang menyebutkan tiga poin deklarasi warga Sunda. Intinya, ikrar itu untuk membangun kebersamaan dalam menjaga Jawa Barat agar tetap kondusif.

Ada dua kata yang kerap dipertukarkan begitu saja-bukan hanya terdengar pada acara Gempungan Urang Sunda itu seakan-akan memiliki arti yang sama: Sunda dan Jawa Barat. Sebab, kenyataannya, tidak semua orang Jawa Barat adalah orang Sunda. Wong Cerbon dan Dermayu banyak yang tidak merasa diri mereka orang Sunda.

Sebaliknya pun begitu, tidak semua orang Sunda berada di Jawa Barat. Bukankah di wilayah Provinsi Banten berdiam banyak orang Sunda? Jangan lupa, di bagian barat Provinsi Jawa Tengah, di Kabupaten Brebes, dan Cilacap terdapat juga masyarakat yang sehari- harinya berbicara bahasa Sunda, memelihara bermacam seni Sunda (wayang golek, calung, jaipongan, dan lain-lain), dan merasa diri mereka adalah orang Sunda. Kerajaan Sunda

Sunda sebagai sebuah etnis boleh jadi sudah ada sejak zaman prasejarah. Berdasarkan data dan penelitian arkeologis, wilayah (yang sekarang disebut) Jawa Barat (dan Banten) telah dihuni oleh masyarakat Sunda secara sosial sejak lama sebelum Tarikh Masehi. Situs purbakala di Ciampea (Bogor), Klapa Dua Jakarta), dataran tinggi Bandung, dan Cangkuang (Garut) memberikan bukti dan informasi bahwa lokasi lokasi tersebut telah ditempati oleh kelompok masyarakat yang memiliki sistem kepercayaan, organisasi sosial, sistem mata pencarian, pola permukiman, dan sebagainya, sebagaimana layaknya kehidupan masyarakat manusia betapa pun sederhananya.

Namun, sebagai sebuah wilayah (kerajaan), nama Sunda baru muncul pada abad ke-7, ketika Tarusbawa, raja terakhir Tarumanagara, mengubah nama kerajaan itu menjadi Sunda, tahun 669 M. Tak lama setelah Tarusbawa mendirikan Kerajaan Sunda, maharaja Galuh, Wretikandayun, melepaskan diri dan membentuk sebuah negara yang berdaulat. Jadi, pada saat itu di belahan barat Pulau Jawa terdapat dua kerajaan yang (relatif) besar, yakni Galuh dan Sunda, yang dibatasi Sungai Citarum.

Sebagai sebuah wilayah kerajaan, Sunda mengalami pasang-surut. Pada awalnya, kerajaan Sunda hanya meliputi wilayah seluas kira-kira separuh Jawa Barat, yakni dari Ujung Kulon hingga Citarum. Ketika Sunda dan Galuh bersatu, wilayahnya pernah mencapai Banyumas dan Brebes. Kerajaan Sunda mengalami kemunduran setelah Sri Baduga meninggal. Para penggantinya (Surwisesa dan seterusnya) gagal mempertahankan kejayaan Sunda. Kerajaan ini pun makin lama makin surut, hingga berakhir pada masa Ragamulya Suryakancana tahun 1579 M. Titi mangsa inilah yang kita kenal sebagai saat runtagna Pajajaran.

Sebagai sebuah wilayah administratif, Jawa Barat merupakan provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (Staatblad Nomor: 378). Provinsi Jabar dibentuk berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat. Toh, 50 tahun kemudian dengan lahirnya UU Nomor 23 Tahun 2000 tentang Provinsi Banten, wilayah administrasi pembantu gubernur wilayah I Banten resmi ditetapkan menjadi Provinsi Banten, yang meliputi Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten/Kota Tangerang, dan Kota Cilegon.

Bisa disimpulkan, sekali lagi bahwa Sunda tidak sama dengan Jawa Barat dan Jawa Barat tidak sama dengan Sunda. Sebagai sebuah etnis, warga Sunda bisa berada di mana saja, di Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Papua, bahkan Eropa, Amerika Serikat, dan lain-lain. Warga Sunda adalah warga dunia. Sebagai sebuah wilayah, Tatar Sunda juga berbeda dengan Jawa Barat.
Untuk menentukannya pun lebih sulit lagi, dan rasanya tak relevan lagi menentukan wilayah yang disebut Tatar Sunda secara administratif. Siapa orang Sunda?

Jadi, siapa sebenarnya yang disebut orang Sunda? Pendapat HR Hidayat Suryalaga, inohong yang tak perlu diragukan lagi kesundaannya, menarik untuk dicermati, kemudian diresapi dan diimplementasikan. Menurut Hidayat, siapa pun Anda yang memenuhi salah satu saja dari empat kriteria berikut:

pertama, merasa diri menjadi orang Sunda;
kedua, orang lain menyebut Anda orang Sunda;
ketiga, ayah dan ibu Anda orang Sunda asli;
dan keempat, tingkah laku dan cara berpikir Anda sehari-hari persis orang Sunda meskipun orangtua Anda bukan Sunda, maka Anda adalah orang Sunda.

Bila kita memakai kriteria ini, jelaslah siapa yang disebut orang Sunda. Namun, kriteria ini pun menimbulkan pertanyaan. Misalnya, jika seseorang merasa diri orang Sunda, dan orang lain menyebut dirinya Sunda, serta orangtuanya Sunda asli, tetapi ternyata ia bertingkah laku yang tak sesuai dengan orang Sunda (misalnya, melakukan korupsi), pantaskah ia disebut orang Sunda?

Dalam kaitan ini, patut digarisbawahi orasi Jajang Cahyana, seorang yang diperkenalkan sebagai tukang becak, pada acara Gempungan Urang Sunda di Gasibu, dua pekan lalu.

“Naha enya urang Sunda nu ayeuna jareneng teh nyaah ka rayat leutik? Naha enya urang Sunda nu aya di dieu malire ka jalma leutik siga kuring? Buktina, kuring nu cicing di pasisian kungsi nandangan lapar dua poe euweuh nu malire. Kuring ngalaman dibuburak pira jadi tukang mulung”.

“Saat pemilihan anggota dewan di Kabupaten Bandung, hampir semua tukang becak di daerah saya memilih seorang anggota dewan asal Sunda. Tapi sekarang, orang itu sama sekali tidak pernah lagi muncul, bahkan tidak pernah bersuara. Karena itu, orang Sunda jangan mau dibohongi lagi,” katanya.

Jadi, yang penting sesungguhnya bukanlah atribut atau engakuan, melainkan sikap mental dan cara berpikir. Apakah sikap mental dan cara berpikir kita sudah mencerminkan sebagai orang Sunda? Hanya kita yang bisa menjawabnya.

HERMAWAN AKSAN (kompas, 27 Sepetember 2006)
Penulis Cerpen, Novel, Esai