• PENYUNTING

  • KATEGORI BUDAYA

  • DAFTAR PENGUNJUNG

  • FREKUENSI KUNJUNGAN

  • RSS BUDAYA SUNDA

    • Array 13 Desember 2007
      Komik Sunda untuk Akrabkan Bahasa Ibu Sudah Disipkan 10 Judul Bandung, Kompas - Sulitnya mengajarkan bahasa Sunda pada anak-anak sekolah menginspirasi dua anak muda untuk mengakrabkan bahasa Sunda melalui komik Sunda. Hanya dengan biaya Rp 120.000 mereka menerbitkan 100 eksemplar komik Sunda untuk segmen remaja dan mahasiswa. Aditya Gunawan (23), cerpenis Su […]
    • Array 13 Desember 2007
      PARIGEUING GAYA KAPAMINGPINAN (LEADERSHIP) PRABU SILIWANGIKu: Drs.R.H. Hidayat Suryalaga Kapamingpinan dina masarakat Sunda, nurutkeun Naskah Kuna Sanghiyang Siksa Kanda’ng Karesian. Ieu naskah kuna teh asli titinggal karuhun Sunda taun 1518 Masehi (Prabu Siliwangi/Jayadewata pupusna taun 1521 Masehi) anu disundakeun deui kana basa ayeuna ku Drs. Saleh Danas […]
    • Array 13 Desember 2007
      Sundapura: Tarumanagara, Sunda, Galuh dan PajajaranSebentar lagi Bandung berulang tahun, tanggal 25 September yang ke-195. Bandung identik dengan etnik Sunda, Priangan atau Parahyangan. Bagaimana ceritanya? Panjang! Tadinya saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran Dago, yaitu jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya, Ciungwanara, Ranggag […]
    • Array 13 Desember 2007
      Mencari Akar Historis Krisis Kepemimpinan Orang Sunda Oleh Prof. Dr. H. NANAT FATAH NATSIR, M.S.BAGI orang Sunda, mencari seorang pemimpin selalu terkesan sangat sulit. Hal ini lebih disebabkan oleh kultur dan interpretasi yang keliru pada teks-teks agama yang mereka anggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam nilai budaya "urang Sunda", maka […]
    • Array 13 Desember 2007
      Mengenal Asal Usul AngklungBandung, yang berada di tanah parahyangan erat kaitannya dengan kesenian tradisi sunda dimana terdapat bermacam-macam alat kesenian yang diwariskan salah satu diantaranya alat kesenian tradisi sunda yang dinamakan sebagai angklung, alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi diseba […]
  • RSS BUDAYA MINAHASA

    • Gua Jepang WW II
      Bapak Uka dan Bapak Douglas Manopo maso goa for mo cari paniki ato harta karun ato main baka2 sambunyi. Nentau pa dorang.
    • antara Codecs Gigas dan salah satu motif Waruga
      Codex gigas atau buku raksasa adalah sebuah manuskrip abad pertengahan dengan ukuran terbesar yang masih ada. Buku ini ditulis pada awal abad ke-13 di biara ordo benediktus di podlazice di Bohemia. Saat ini buku tersebut tersimpan di Swedish Royal Library di Stockholm. Dibutuhkan tenaga dua pustakawan untuk mengangkat buku tersebut. Buku ini sering juga dise […]
    • Sepasang Goringo / Karimenga
      Sepasang Goringo/Karimenga merah dan putih
    • Burung Wenea
      Burung Wenea, sepertinya ini jenis Minahasan Scope Owl, saudara dekatnya Koko si Mamarimbing alias burung Manguni alias burung hantu
    • Loji Tondano
      Foto bersama para hukum tua Minahasa depan Loji tondano sebelum tahun 1940
  • KOMENTAR

    adek di Mengenal Asal Usul Angklu…
    encung di Cerita Marjinalisasi Pedagang…
    agus di Kogyaru : “Gadis SMA di…
    miku di Kogyaru : “Gadis SMA di…
    molinbangunan di Villa Isola, Bangkitkan K…
  • KALENDER

    November 2009
    S S R K J S M
    « Okt    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • BLOG STATS

    • 57,438 hits
  • Link Banner

KEBUDAYAAN SEPPUKU DI JEPANG

Seppuku adalah upacara untuk bunuh diri dan di luar Jepang lebih populer dengan istilah Harakiri, walaupun di Jepang sendiri istilah Harakiri dianggap sebagai istilah yang kasar. Ritual Seppuku biasanya memerlukan keterlibatan aktif paling tidak dua orang, satu yang mau bunuh diri dan satu lagi adalah pendampingnya (Kaishakunin) yang bertugas memenggal kepala orang yang melakukan Seppuku. Hanya saja, dalam pemenggalan itu leher yang dipenggal tidak boleh betul-betul putus, harus ada daging yang membuat kepala yang dipenggal tetap menempel pada tubuhnya.Ini sulit, oleh karenanya sang pendamping haruslah jagoan pedang juga.

http://www.easypedia.gr/el/images/shared/5/5d/Seppuku.jpg
http://www.spi.com.sg/spi_files/shinto_shrine/pic/seppuku2.jpg

Sepuku biasanya dilakukan dengan upacara yang rumit. Orang yang hendak bunuh diri mandi dulu bersih-bersih, lantas pakai pakaian putih-putih, makan dulu, baru sesudahnya siap-siap untuk tusuk dan iris dimulai. Duduk diam dengan Tanto diletakkan di depannya. Menulis puisi terlebih dahulu. Selesai, baru itu Tanto diambil lantas ditusukan ke perut agak ke kiri lantas Tanto digeser ke kanan, yang terakhir ke atas sedikit,agar isi perutnya keluar. Selesai, baru sekarang giliran Kaishakunin beraksi menyabet lehernya. Tanto bekas pakai tadi lalu diletakkan di piring bekas makan tadi.

http://www.dailycognition.com/content/image/14/seppuku2.jpg

https://eee.uci.edu/clients/sbklein/gender/Images/chushingura/images/chushin-seppuku01.JPG

Hanya saja pendamping untuk Seppuku hanya untuk orang yang Seppukunya untuk menjaga kehormatan. Misalnya, kalau seorang Samurai tertangkap oleh musuh, maka seorang pendamping akan ditugaskan untuk memenggalnya. Jika Samurainya itu Samurai tukang mencuri, tukang korupsi atau jadi penjahat kacangan lainnya …. ya tak ada pendamping, dibiarkan mati saja dengan kesakitan sampai kehabisan darah.
Seppuku sebagai hukuman telah resmi dihapuskan pada tahun 1873, segera setelah restorasi Meiji, tetapi Seppuku secara sukarela belum sepeniuhnya mati. Ratusan orang diketahui melakukan Seppuku setelah dihapuskannya. Termasuk beberapa orang anggota militer yang melakukan bunuh diri pada tahun 1895 sebagai protes menolak dikembalikannya wilayah China, setelah meninggalnya kaisar Meiji. Dan lebih banyak lagi tentara dan rakyat yang lebih memilih untuk mati daripada menyerah di akhir PD II.

http://lostangelesblog.files.wordpress.com/2009/07/seppuku.jpg

http://www.brianbeutler.com/Seppuku.jpg

Dan sebagai dampak budaya, kata ’seppuku’ biasa digunakan sebagai metafora seseorang melakukan ”self punishment” sebagai tanggung jawab bila melakukan kesalahan.
Ritual ini telah membudaya di Jepang, sehingga apabila seseorang melakukan kesalahan dan melakukan bunuh diri, maka hal itu sah-sah saja dan dianggap sabagai upaya menebus kesalahan. Dan menurut saya ini adalah sebuah kekerasan karena setiapkali ada orang(warga Jepang) yang melakukan salah, maka ia akan berorientasi untuk bunuh diri, seperti dipaksa oleh keadaan sekitar.

Tradisi unik dibelahan dunia

Sebagian besar tradisi ini sekarang merupakan bagian dari sejarah dan dianggap paling kejam atau jahat. Namun beberapa diantaranya dihentikan baru-baru ini. Ini adalah daftar 10 tradisi yang aneh yang sekarang kebanyakan sudah hilang dari peradaban manusia.

1. Foot Binding

Foot Binding atau pengikatan kaki adalah tradisi menghentikan pertumbuhan kaki perempuan zaman dahulu yang terjadi di China. Tradisi ini telah menghadirkan penderitaan besar bagi para perempuan China pada masa itu. Pengikatan kaki biasanya dimulai sejak anak berumur antara empat sampai tujuh tahun. Masyarakat miskin biasanya terlambat memulai pengikatan kaki karena mereka membutuhkan bantuan anak perempuan mereka dalam mengurus sawah dan perkebunan.

Pengikatan kaki dimulai pada masa akhir dinasti Tang (618-907) dan mulai menyebar pada golongan kelas atas sampai pada zaman dinasti Song (960-1297), pada zaman dinasti Ming (1368-1644) dan dinasti Qing (1644-1911), budaya mengikat kaki menyebar luas dalam mayoritas masyarakat China sampai akhirnya dilarang pada Revolusi Sun Yat Sen tahun 1911. Kelompok yang menghindari adat ini hanyalah bangsa Manchu dan kelompok migran Hakka yang merupakan kelompok paling miskin dalam kasta sosial China. Kebiasaan mengikat kaki ini berlangsung selama sekitar seribu tahun dan telah menyebabkan sekitar satu milyar wanita China mengalami pengikatan kaki.

Pengikatan kaki dilakukan dengan cara membalut kaki dengan ketat menggunakan kain sepanjang sepuluh kaki dengan lebar dua inchi, melipat empat jari kaki ke bagian bawah kaki dan menarik ibu jari kaki medekati tumit. Hal ini membuat kaki menjadi lebih pendek. Pembalut kaki semakin diketatkan dari hari ke hari dan kaki dipaksa memakai sepatu yang semakin kecil. Kaki harus dicuci dan dipotong kukunya karena kalau tidak akan membuat kuku-kuku kaki di kaki yang diikat menusuk ke dalam dan menimbulkan infeksi.

Jika balutan terlalu ketat maka dapat timbul buku-buku di kaki yang harus dipotong dengan pisau. Kemudian kaki juga harus dipijat dan dikompres dingin dan panas untuk sedikit mengurangi rasa sakit. Pengikatan kaki membuat siklus darah tidak lancar sehingga dapat membuat daging kaki menjadi busuk dan kaki dapat mengeluarkan nanah. Semakin kecil kaki seorang gadis maka akan semakin cantik ia dipandang. Panjang kaki seorang gadis hanya berkisar 10-15 sentimeter saja.

2. Self Mummification

Sokushinbutsu adalah rahib Buddha atau imam yang didakwa menyebabkan kematian dengan cara menjadikan mereka jadi mumi. Praktek ini dilaporkan terjadi hampir secara eksklusif di utara Jepang sekitar Prefektur Yamagata.terdapat Antara 16 samapai 24 mummi yang telah ditemukan.

Tiga tahun para imam hanya makan diet khusus yang terdiri dari kacang-kacangan dan biji-bijian, Mereka kemudian hanya makan kulit dan akar dalam waktu tiga tahun dan mulai minum teh racun yang dibuat dari getah pohon yang Urushi,yang biasanya digunakan untuk laka mangkuk. Ini menyebabkan muntah dan cepat hilangnya cairan tubuh, dan yang terpenting, mematikan anggota tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh yang bisa menimbulkan kematian.

Akhirnya,pada mummifying biarawan akan mengunci dirinya dalam kubur batu yang ukurannya hampir tidak lebih besar dari tubuhnya, di mana dia tidak akan bergerak dari posisi nya.penghubung ke dunia luar adalah tabung udara. Setiap hari ia mengingatkan pada agar orang-orang di luar bahwa ia masih hidup.

3. Eunuchs

Eunuchs disebut juga kasim,seorang laki-laki yang kehilangan kesuburannya karena kemaluannya telah dibuang dengan sengaja atau karena sebab-sebab lain.Catatan-catatan paling awal tentang pengebirian dengan sengaja untuk menghasilkan orang kasim berasal dari kota Lagash di Sumeria pada abad ke-21 SM. Sejak itu, selama beribu-ribu tahun orang kasim bekerja di berbagai kebudayaan seperti pelayan istana atau pelayan rumah tangga, penyanyi laki-laki dengan suara tinggi, petugas-petugas keagamaan khusus, pejabat pemerintah, komandan militer, dan pengawal kaum perempuan ataupun pelayan di

Orang kasim pertama disebutkan di Kekaisaran Asyur (l.k. 850 hingga 622 SM). Mereka pun biasa tampil di istana kaisar-kaisar Akhemenid dari Persia atau firaun dari Mesir (hingga dinasti Lagid yang dikenal sebagai Ptolemeus, yang berakhir dengan Cleopatra).Di Tiongkok kuno, pengebirian adalah salah satu bentuk hukuman tradisional (hingga Dinasti Sui) dan sarana untuk mendapatkan pekerjaan di kalangan istana Kaisar. Pada akhir Dinasti Ming ada 70.000 orang kasim di Istana kaisar. Jabatan seperti itu demikian berharga—orang-orang kasim tertentu berhasil mendapatkan kekuasaan yang demikian besar sehingga melampaui kekuasaan perdana menteris—sehingga pengebirian diri sendiri harus dilarang.

Jumlah orang kasim yang menjadi pegawai Istana Kaisar akhirnya menurun hingga 470 orang pada 1912, ketika mereka tidak lagi dipekerjakan. Orang-orang kasim diberikan jabatan-jabatan pegawai negeri yang demikian tinggi dengan alasan bahwa karena mereka tidak dapat mempunyai anak, mereka tidak akan tergoda untuk merebut kekuasaan dan memulai sebuah dinasti. Pada saat yang sama, sebuah sistem serupa juga ada di Vietnam.

4. Sati

Tradisi sati atau bakar diri hidupp-hidup,dianggap sebagai lambang kesalehan,sekaligus menunjukkan kepemilikan laki-laki atas perempuan,biasanya dilakukan oleh perempuan yang berkasta tinggi dan dipercaya hanya perempuan pilihan yang dapat melakukannya.tradisi sati dipandang sebagai alternatif yang lebih baik ketika seorang istri ditinggal mati oleh suami,daripada mereka mengalami penyiksaan dari saudara-saudara ipar,yang akan menyalahkan perempuan sebagai penyebab mati suami.

sati menjadi tradisi tidak hanya berlaku bagi istri,tetapi juga bagi istri simpanan,saudara ipar dan bahkan ibu,untuk mengorbankan dirinya diapi pembakaran jenasah laki-laki yang memiliki mereka.pelaku sati diagungkan sebagai pahlawan,sesuai dengan ajaran hindu.

5. Dueling

tradisi duel dipraktikkan pada abad 15-20 oleh masyarakat Barat, yang merupakan tanding antara dua orang, kematian dicocokkan dengan senjata, sesuai dengan aturan eksplisit atau implisit yang telah disepakati, sebagai lambang kehormatan, biasanya diiringi oleh perwakilan yang dipercaya.

dueling biasanya terjadi karena keinginan satu pihak (yang penantang)karena dianggap telah melakukan penghinaan terhadap kehormatannya. Tujuan dari dueling tidak laain adalah untuk kepuasan semata, untuk memulihkan status kehormatan mereka bersedia mempertaruhkan nyawa.dueling biasanya dilakukan bisa dengan pedang ataupun pistol.

6. Seppuku

seppuku disebut juga Harakiri,Salah satu tradisi yang menjadi kebanggan masyarakat Jepang, yang berasal dari kata hara yang berarti perut dan kiru yang berarti memotong. Harakiri juga dikenal dengan istilah seppuku. Kebiasaan harakiri ini dilakukan oleh prajurit berkelas dari kalangan samurai sebagai bukti kesetiaan. Bunuh diri yang dilakukan para Samurai ini sangat menyiksa, karena si pelaku harus menunggu kematian karena kehabisan darah setelah merobek dan mengeluarkan isi perutnya.

Ada ritual khusus yang harus dilakukan oleh Samurai jika ingin melakukan harakiri. Ia harus mandi, menggunakan jubah putih, dan makan makanan favorit. Pelaku harakiri ditemani seorang pelayan (kaishakunin), yang ia pilih sendiri. Kaishakunin ini bertugas membuka kimononya dan mengambilkan pisau yang akan digunakan. Jika pelaku harakiri menjerit atau menangis kesakitan saat ia menusuk dan mengeluarkan isi perutnya, hal tersebut dianggap sangat memalukan bagi seorang Samurai. Karena itu Kaishaku bertugas mengurangi penderitaan itu, mempercepat kematian dengan memenggal kepala si pelaku.

7. Human Sacrifice

Human Sacrifice adalah pengorbanan manusia,tindakan membunuh manusia untuk tujuan menawarkan persembahan kepada dewa atau lainnya. Dilakukan oleh banyak kebudayaan kuno. persembahan ini bervariasi,beberapa seperti Mayans dan Aztecs yang terkenal jahat mereka untuk upacara persembahan, sedangkan yang lainnya sudah tampak sebagai praktek primitif. Korban persembahan dibunuh dengan cara yang berbeda-beda,ada yang dibakar,dipenggal,atau dikubur hidup-hidup.dapar berupa anak kecil,atau gadis-gadis perawan.

ini adalah sejarah umum yang pernah ada didunia, Kebanyakan agama mengutuk praktek-ini dan undang-undang menganggapnya sebagai tindak pidana. Namun sampai hari ini,kadang masih ada yang melakukan tradisi tersebut terutama didaerah-daerah terpencil dimana kepercayaan tradisional masih berlanjut.

8. Concubinage
Concubinage disebut juga pergundikan. Foto di bawah menunjukkan sekelompok selir berdiri di belakang pelindung mereka(biasanya kasim).

9. Geisha

Geisha berasal dari kata “Gei” yang berarti seni atau pertunjukan dalam bahasa Jepang dan “Sha” berarti orang, jadi Geisha (person of the arts) merupakan seorang seniman tradisional penghibur di Jepang. Di Kyoto sendiri, kata “Geiko” digunakan untuk gambaran para seniman seperti itu. Kehadiran geisha di abad 18 dan 19 merupakan hal yang umum dan hingga kini merekapun masih tetap ada walaupun jumlah mereka sdh semakin berkurang.

Geisha dilatih secara tradisional sejak masa kecil mereka. Rumah geisha sering membeli gadis-gadis kecil dari keluarga yang miskin dan mengambil tanggung jawab untuk membesarkan dan melatih mereka. Selama masa kanak-kanak, geisha yang dilatih pertama-tama bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai asisten senior rumah geisha, selain sebagai latihan ini juga dipakai untuk membantu kontribusi biaya pemeliharaan dan pendidikan mereka. Sistim tradisi latihan yang panjang ini masih tetap ada di Jepang, dimana seorang mahasiswa yang tinggal di rumah guru seninya, mulai melakukan pekerjaan rumah yang umum dan mengamati serta membantu gurunya hingga akhirnya berpindah untuk menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Latihan ini memakan waktu beberapa tahun.

10. Tibetan Sky Burial

Tibet ialah sebuah kawasan penara di Asia Tengah dan petempatan asli bagi orang Tibet. Dengan ketinggian purata sebanyak 4,900 meter (16,000 kaki), Tibet merupakan rantau yang tertinggi di Bumi dan sering bergelar “Bumbung Dunia.”

Bagi masyarakat tibet yang beragama buddha ini, tanah tempat tinggal mereka terletak di atas gunung di mana tiada tanah lembut. Hampir kesemuanya diliputi batu atau salji/air batu.Oleh kerana tiada tanah perkuburan disebabkan keadaan geografi , mereka memberi mayat untuk dimakan oleh burung.

Disamping itu , dengan cara begitu dipercayai roh si mati akan kekal di gunung bersama burung berkenaan.Tindakan lelaki di dalam gambar di bawah memotong serta menghancurkan mayat adalah untuk memudahkan burung tersebut mempercepatkan proses ini.Mereka juga tidak mahu burung tersebut membawa anggota badan yang masih separa sempurna(seperti kepala, tangan dll) ke tempat lain.

Siapa Sebenarnya Ninik Mamak Itu ?

<

Pada akhir-akhir ini sering kita membaca, mendengar melalui mas media surat kabar, dimana ada pihak-pihak yang memperkatakan status dan kedudukan Ninik Mamak ditengah-tengah masyarakat dengan macam variasinya.

- Bahwa ninik mamak kini tidak berfungsi di lingkungan anak kemenakannya.

- Ninik mamak mendapat tantangan dalam penyelesaian anak kemenakannya, sehubungan ada Perda No 13 Tahun 1983.

- Kemerosotan wibawa ninik mamak di Sumbar menyebabkan KAN belum berjalan.

- Sebagian ninik mamak seperti harimau ompong,

- Dan lain-lainnya.

Terlepas dari isi dan tujuan dengan judul kata-kata sebagaimana diuraikan diatas, yang ditujukan kepada ninik mamak semata, kurang enak didengar telinga dan mengandung maksud yang sukar untuk diartikan.

Diantara kata-kata tersebut dapat diartikan menjatuhkan wibawa dan martabat serta memojokkan ninik mamak dalam pembangunan sekarang. Juga dapat menimbulkan salah pengertian oleh generasi muda, bahwa ninik mamak itu seakan tidak mampu dan tidak sanggup berbuat apa-apa.

Sebenarnya pihak pihak yang memberikan tanggapan tersebut dengan judul sebagaimana dimaksudkan, terdapat giliran pandangan dalam menanggapi sesuatu yang belum jelas tentang duduk masalahnya, sehingga dalam memberikan tanggapan “asbun” (asal bunyi) saja, seharusnya tanggapan-tanggapan seperti itu tidak terjadi.

Dalam materi kata-kata yang disajikan setelah dipelajari dan diperhatikan kalimat demi kalimat, jelas terdapat kekeliruannya, dimana pihak pihak yang memberikan tanggapan sebagaimana yang disebutkan diatas, tidak terperinci dan menyamaratakan saja.

Mamak, Ninik Mamak, Mamak Pemangku Adat, Penghulu dan KAN. Padahal funsi, tugas dan tanggung jawab masing masing berbeda satu sama lainnya.

Untuk jelasnya dapat diuraikan sebagaimana berikut:

1. Mamak

Adalah seorang yang ada hubungannya dengan ibu kita, umpamanya saudara laki-laki adik atau kakaknya, atau yang sama fungsinya dengan itu.

2. Ninik Mamak

Adalah seorang laki-laki dari suatu kaum telah dituakan dan jadi “tampek baiyo dan bamolah” (bermusyawarah) walupun iya masih muda. Dalam hal ini termasuk mamak kepala jurai dan mamak kepala waris dalam kaum, apakah dia alim ulama, cerdik pandai, pemuka masyarakat, buruh, petani atau sebagai pejabat sekalipun. Karena itu kita sering mendengar dalam pertemuan dan rapat-rapat kata-kata yang diucapkan oleh penceramah/pembicara menyebutkan “Ninik mamak, Alim Ulama dan Cerdik Pandai.

3. Ninik Mamak Pemangku Adat

Adalah seorang Ninik Mamak di beri tugas oleh kaumnya didalam nagari, seperti:

a. Imam Khatib dengan tugas tertentu

b. Labai/Pandito dengan tugas tertentu.

c. Rang Tuo Adat/Ninik Mamak dengan tugas tertentu

d. Dan lain lain.

Dan ini dijamukan dalam nagari, digelarkan gelar pusaka menurut adat. Orang orang ini didalam adat dapat di ibaratkan “garundang gadang di kubangan” kecuali pandito merupakan suluh bendang dalam nagari menurut adat.

4. Penghulu

Adalah seorang ninik mamak dalam kaum/suku, berdasarkan sarat-sarat yang cukup menurut adat, diangkat jadi pucuk pimpinan di dalam nagari, dijamukan, serta dilewakan gelar pusakanya ditengah-tengah masyarakat dalam Nagari, sehingga seorang itu resmi jadi penghulu, dan dalam adat disebutkan “Ikan Rayo di Lautan” Penghulu itu bertugas menurut adat :

Kusuik akan manyalasaikan

Karuah akan manjaniahkan

Mambalah taampuluo

Manimbang samo barek

Bakato bana bajalan luruih

Biang nan akan manabuakkan

Gantiang akan mamutuihkan

Kato putuih hokum bajalan

Dan kalau dapat diumpamakan, penghulu jabatan tertinggi menurut adat. Penghulu dapat diberhentikan bilamana melanggar undang undang, diantaranya disebut menurut adat undang undang “nan duo puluah” Sedangkan untuk Datuk tidak dapat diberhentikan, karena sifatnya “Patah tumbuah hilang baganti” karena itu seorang penghulu mesti datuk, tetapi datuk belum tentu penghulu.

Sebenarnya penghulu itu kalau dilihat sepanjang adat, pada saat ini tidak ada lagi, ini ada semasa pemerintahan “Bundo kanduang jo Dang Tuanku” di Pagaruyuang, jelasnya struktur dan sikonnya tidak mengijinkan lagi, sebutlah keberadaannya disaat ini dipandang tidak diperlukan.

Dan kalau kita berbicara dalam hal ninik mamak/penghulu itu tidak berfungsi, tidak berwibawa, dan lain sebagainya, harus kita mengkaji standard manakah yang dipakai menjadi ukuran.

Apakah pada saat pemerintahan Bundo Kanduang jo Dang Tuanku di Pagaruyuang, Apakah semacam kompeni penjajahan pada zaman dulu, atau semasa pemerintahan ORBA.

Penilaian berfungsi tidaknya Ninik mamak/penghulu itu ditengah-tengah masyarakat hendaknya disesuaikan dengan zamannya, dengan demikian kita tidak akan tersalah dan keliru dalam memberikan tanggapan dan penilaian.

Apalagi yang memberikan pendapat dan tanggapan itu termasuk juga dalam golongan ninik mamak, entah dianya berasal dari seberang sana. Sebaiknya kita merasa lebih dahulu, sepanjang mana kesadaran kita dalam mengamalkan ajaran adat itu selaku orang beradat, sebab adat itu bukanlah diperuntukkan untuk kepada ninik mamak tetapi menjadi tanggung jawab kita semua sebagai orang minangkabau kecuali sudah tidak beradat lagi maka dengan sendirinya ninik mamak pemangku adat/penghulu itu lenyap juga.

Untuk itu penulis menghimbau dan mengajak kita semua, janganlah terlalu pagi menyalahkan orang lain, sedangkan kita sendiri belum mampu berbuat baik.

Dan pada zaman sekarang, kalau boleh kita katakana, bahwa ninik mamak/penghulu cukup berfungsi dengan baik, berwibawa serta berdaya guna dan mengwujudkan pembangunan di semua bidang. Hal ini cukup terbukti, bahwa ninik mamak pemangku adat kini ada yang jadi mentri, anggota DPR/MPR, Gubernur dan puluhan lain yang duduk di dalam dinas dan jawatan pemerintah, sedangkan zaman dulu paling tinggi jabatan ninik mamak itu, angku Palo Nagari.

Sementara itu ada pula pihak-pihak yang berceloteh supaya K.A.N. (Kerapatan Adat Nagari) itu dibubarkan saja, karena para ninik mamak/penghulu tidak mampu menyelesaikan persengketaan tanah ulayat di dalam negeri, pendapat demikian sangat keliru dan harus diluruskan, sebab kalau satu lantai yang patah janganlah sampai rumah gadang di bongkar karena ninik mamak/penghulu adalah pribadi seseorang, sedangkan K.A.N adalah wadah dan sama halnya dengan pengadilan negeri dan Hakim, dan bilamana Hakim salah menerapkan hokum, jangan pengadilan yang di obrak abrik dirusak dan lain sebagainya. Juga sama halny bilamana penghulu ada kekeliruan dalam menjalankan hokum adat di tengah tengah masyarakat, bukan K.A.N. di bubarkan, tetapi penghulu itu yang ditingkatkan pengetahuannnya.

Dalam hal ini patut juga kita ketahui, seandainya terdapat kelemahan dan kekurangan pada pribadi seseorang pada ninik mamak/pemangku adat/penghulu umpamanya, siapa yang harus kita persalahkan dalam hal ini, dirasa kita turut bertanggung jawab untuk meluruskan jalannya.

Untuk ini penulis sependapat dengan sekretaris LKAAM sebagaimana yang diberitakan harian Singgalang rabu tgl 30 Mei 1990 dengan judul “Banyak penghulu belum berfungsi menurut adat”.

Dalam kenyataan dapat kita lihat, bahwa berfungsi tidaknya sesorang itu, ditentukan oleh wewenang dan kekuasaan yang ada ditangannya, atau dengan kata lain adanya factor pendukung yang setiap saat dapat dipergunakan. Dan sebagai contoh dapat kita lihat pada zamannya Angku Palo Nagari dulu dimana dia disegani dan dihormati oleh rakyatnya.

Dan mengetahui bahwa ada suatu wewenag dan kekuasaan berada ditangannya, sehingga bilamana dia berkata putih, semua rakyak mengatakan putih dan tidak seorangpun berani mengatakan hitan dan lain sebagainya.

Akhir kata penulis mengajak kita semua tampa kecuali, marilah kita menjauhkan diri dari menuding orang lain dan memperkatakan segala kelemahannya, serta tidak menggeneralkan permasalahan.

Sumber : Buletin Sungai Puar No. 39 Fubruari 1992

Disadur oleh : Dewis Natra

bundokanduang

Adat Sumando Manyumando

dance_piring1

Sumando adalah hubungan adat yang terjadi antara seorang lak-laki dalam suatu suku dengan kaum keluarga suku lainnya di Minangkabau, sebagai akibat pernikahannya dengan seorang perempuan dalam suku tersebut. Maka dalam hal ini sumando manyumando ini, berdiri adat didalammnya.

1. Tantangan sumando manyumando, yang sama-sama senagari,

nan selingkung aur,

nan berjumbai daun,

atau yang berbatasan tanah;

jauh nan buliah ditunjuakkan

dakek nan buliah dikakokkan

malompek lai basitumpu

mancancang lai basangkalan,

badiri adat tantang itu

nan batali buliah dihirik

nan batampuak buliah dijinjiang.

2. Sewaktu marapulai telah sampai si rumah anak daro, maka dia disambut menurut adat, disongsong dengan sirih di carano yang ditutupi kain dalamak. Sedangkan yang bertugas menyambut marapulai tersebut adalah urang sumando pula. Selanjutnya dia pulalah yang membawa marapulai naik ke atas rumah gadang serta mendudukannya di tempatnya.

3. Marapulai didudukkan ditempatnya, yaitu membelakang ke bilik dalam dan menghadap ke luar rumah, maksudnya ialah di rumah isterinya itu dia bernama urang sumando dan harus selalu bisa menempatkan diri pada posisi yang telah ditentukan. Dia tidak boleh mencampuri urusan harta pusaka dan tidak ikut bertanggung jawab didalam masalah-masalah yang timbul dalam keluarga isterinya itu, kecuali apabila dia sebagai urang sumando diajak duduk sehamparan dalam membahas sesuatu masalah yang memerlukan kehadiran urang sumando.

Dalam duduk sehamparan itupun dia harus tahu bahwa setiap kata yang dikatakannya bukanlah “kata mamak” akan “kata urang sumando”. Kata mamak adalah “kata manurun”, sedangkan urang sumando “kata malereng”.

Sehubungan dengan kedudukannya, didalam adat disebutkan bahwa urang sumando itu adalah :

mangabek indak arek

mamancuang indak putuih

maksudnya adalah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, dia tidak boleh

memakan menghabiskan

mencencang memutuskan

dirumah nan bermamak, kampuang nan bertua. Walaupun pekerjaan baik sekalipun yang akan dilakukannya didalam rumah isterinya itu, maka wajib baginya membawa kata dengan mufakat dengan mamak rumah. Hak mamak tersebut dilambangkan dengan tempat duduknya didalam rumah gadang, yaitu membelakang ke luar dan menghadap ke bilik dalam.

4. Urang sumando harus manyadari benar bahwa kedudukannya dirumah isterinya itu tidak berurat berakar. Statusnya sebagai urang sumando didalam adat disebutkan sebagai :

langau di ikua kabau

lacah di kaki

abu diatas tunggua

Seorang laki-laki di Minangkabau harus menyadari bahwa dia mempunyai dwifungsi kepemimpinan didalam hidupnya, yaitu sebagai kepala keluarga di dalam rumah isterinya dengan tugas, tanggung jawab dan wewenang sesuai dengan “kode etik” urang sumando, dan juga sebagai tanggung jawab mamak rumah dalam keluarga ibunya dengan tugas, tanggung jawab dan wewenang sesuai dengan “kode etik” mamak rumah.

Dalam tugas dwifungsinya itu hendaklah dia melaksanakan ketentuan yang disebutkan dalam adat :

anak dipangku

kamanakan dibimbiang

Apabila laki-laki tersebut bersikap “indak nan labiah pado bini”, sehingga melalaikan tanggung jawabnya terhadap ibu, dunsanak dan kemenakannya, ataupun dia berbuat sekehendaknya dirumah anak isterinya sehingga melupakan batas-batas wewenangnya sebagai urang sumando, maka dapatlah dikatakan bahwa laki-laki tersebut kurang :

batunjuak bajari

oleh ibu bapak dan mamaknya atau termasuk katagori :

indak baguru baraja

sebagai urang sumando. Hendaknya disadari bahwa apapun dapat terjadi dalam hidup ini, termasuk hubungan suami isteri tersebut :

saiyo babana, sataka bacarai

jikok carai nan basuo,

bukuak padang babalah buluah,

pinang pulang katampuaknyo,

ayam pulang ka pautan.

Bila masalah perceraian yang disebut, maka berdiri pula adat didalamnya, yaitu :

carai hiduik baponih surek

carai mati beranggun-anggun;

Terbang langau di ekor kerbau, hanyut lacah di kaki dan hilanglah abu diatas tunggul, kembalilah si laki-laki kerumah ibunya atau dunsanak lemenakannya dengan fungsi mamak rumah atau tungganai.

5. Selanjutnya apabila sumandi manyumando itu terjadi dari satu nagari ke nagari lain atau dari satu luhak ke luhak yang lain, hal itu disebut :

tali tarantang indak putuih

sangkutan tagantuang indak patah

indak lapuak dek hujan

indak lakang sabab dek paneh

Penyebutan dengan ungkapan demikian, karena orang dalam tiga luhak bila ditelusuri masih mempunyai hubungan satu sama lain, setidak-tidaknya mempunyai hubungan adat.

Ada beberapa sebutan atau julukan terhadap fungsi urang sumando itu, bila dilihat dari sudut cacad dan celanya, sedangkan dari sudut yang terbaik hanya satu julukan yaitu :

“urang sumando ninik mamak”

yang sangat didambakan semua pihak.

Adapun pengertian urang sumando ninik mamak antara lain adalah :

kok kusuik sato manyalasaikan

kok karuah sato mampajaniahan

Bila terjadi silang selisih dalam rumah nan bermamak.

kaganti bumi dengan langik

kaganti cincin dengan gelang

payuang panji tampek balinduang

kaganti si tawa jo si dingin

panjang nan ka mangarek

singkek nan mambilai.

Untuk itulah diperlukan pengertian tentang falsafah yang terkandung di dalam pakaian kebesaran tersebut.

Maka semua hal itu hanya dapat diketahui anak kemanakan yang muda-muda, apabila diterangkan oleh seorang mamak kepada mereka. Seangkan mamak tersebut barulah akan dapat memberikan ajarannya apabila dia sendiri sudah menghayati pula tentunya.

Sumber :Bahri Rangkayo Mulia, http://www.cimbuak.net

minangkabau2

Villa Isola, Bangkitkan Kenangan


Bandoeng O, wonderstad, dat zegt toch iedereen, een stad vol pracht en praal, altijd even schoon en rein, kortom, een plaats bij uitnemendheid, Bandoeng, heer lijke staad. (Rara Sulastri-1933)

SEBUAH lagu sanjungan dalam bahasa Belanda, yang terdapat dalam buku Wadjah Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryato Kunto, menggambarkan betapa jaya dan indahnya Kota Bandung (baca: Bandung Utara) pada masa kolonial. Keindahan Kota Bandung saat itu tidak hanya ditunjang oleh kondisi alamnya, tetapi juga faktor man made.

Terinspirasi lagu tersebut, Balai Kepurbakalaan, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisi mengadakan ekspedisi situs-situs purbakala di Jabar, salah satunya ke Gedung Isola atau Villa Isola. Kini vila tersebut telah menjadi Gedung Rektorat Universitas Pendidikan IndoGedung Isola-UPInesia (UPI) Bandung. Karena sudah menjadi kantor tempat kerja Rektor UPI, peserta ekspedisi pun tidak bisa menyusuri dan menikmati seluk-beluk gedung yang indah ini.

Gedung atau vila ini dibangun pada 1930 dan didesain oleh C.P Wolff Schoemaker, seorang arsitek Belanda berkebangsaan Jerman. Ada puluhan gedung yang berhasil dibangun di Kota Bandung pada masa penjajahan Hindia Belanda menggunakan jasa arsitek Wolff Schoemaker. Semua gedung karya Schoemaker ini mempunyai ciri khas masing-masing dan monumental sehingga siapa pun yang melihat pasti akan teringat Kota Bandung.

Pada awal abad ke-20, Kota Bandung pernah menjadi laboratorium arsitektur para arsitek di Hindia Belanda. Kontribusi mereka berupa karya arsitektur dengan langgam masing-masing turut membentuk citra Kota Bandung, salah satunya adalah Villa Isola yang didesain C.P. Wolff Schoemaker. Bangunan vila ini didirikan tahun 1933 dan merupakan pembangkit memori sebagian besar masyarakat akan Kota Bandung. Setiap melihat gambar Villa Isola, ingatan masyarakat pasti tertuju pada Kota Bandung. Salah satu peran karya arsitektur dalam membangkitkan kenangan masnyarakat terhadap suatu tempat, yakni makna kulutral yang dimiliki bangunan tersebut. Selain itu, juga sejarah, estetika, dan ilmu pengetahuan.

Karya arsitek monumental Schoemaker pada Villa Isola ini, terletak dari bentuk bangunan yang tidak lazim. Jika dilihat dari kejahuan, Villa Isola mirip sebuah kapal pesiar yang dilengkapi dengan berbagai ruangan, termasuk ruangan bawah tanah.

Karena tidak lazim inilah, Villa Isola menjadi pembangkit kenangan masyarakat yang melihatnya. Hal ini terlihat jelas saat melintasi Jln. Setiabudhi yang menghubungkan Kota Bandung dengan Lembang. Semakin dekat dengan bangunan, akan makin terasa adanya pengolahan tapak (lahan) yang sesuai bentuk bangunan. Kedua unsur tersebut, bangunan dan lahan, membentuk kesatuan. Hal-hal di ataslah yang menjadi alasan mengapa bangunan ini dapat dikategorikan sebagai karya arsitektur monumental.

Peletakan massa

Dalam meletakkan massa Villa Isola, Schoemaker menggunakan sumbu imajiner utara-selatan dengan arah utara menghadap Gunung Tangkubanparahu dan arah selatan menghadap Kota Bandung. Penggunaan sumbu utara-selatan berorientasi pada sesuatu yang sakral (gunung atau laut), yang merupakan orientasi kosmis masyarakat di Pulau Jawa. Hal yang sama diterapkan dalam pengolahan tapak Technische Hoogheschool te Bandoeng (Institut Teknologi Bandung/ITB) yang berorientasi pada Gunung Tangkubanparahu dan Kota Yogyakarta pada Gunung Merapi.

Villa Isola terletak di antara dua taman yang memiliki ketinggian berbeda. Namun sayang, kedua taman tersebu kurang terawat, terutama taman yang barada di bagian selatan yang lebih rendah dan dibiarkan hancur. Padahal di bagian ini, terdapat sebuah kolam yang berbentuk oval (setengah lingkaran). Pada masa jayanya, kolam ini sering dijadikan tempat berjemur pemilik Villa Isola sambil melihat pemandangan Kota Bandung jauh ke selatan. Namun sisa-sisa taman selatan ini masih bisa disaksikan, yakni anak tangga setengah lingkaran berpusat pada bangunan vila.

Sedangkan taman di utara didesain dengan menghadirkan nuansa Eropa di dalamnya. Hal ini diperkuat dengan kolam berbentuk persegi dengan patung marmer di tengahnya (sudah hilang). Pada taman ini terdapat jalur yang merupakan as yang membagi taman menjadi dua bagian simetris. Mendekati bagian utara bangunan, akan terlihat tangga berbentuk setengah lingkaran yang titik pusatnya berada pada bangunan.

Kedua taman yang memiliki perbedaan ketinggian dihubungkan dengan dua tangga melingkar pada sisi barat dan timur bangunan. Pengolahan taman dengan menggunakan bentuk melingkar yang berpusat pada bangunan yang juga memiliki bentuk melingkar, menjadikan bangunan menyatu dengan lahan di sekitarnya.

Fasad dan ruang

Fasad bangunan Villa Isola diperkaya dengan garis-garis lengkung horizontal. Hal ini merupakan ciri arsitektur Timur yang banyak terdapat pada candi di Jawa dan India. Pada saat-saat tertentu, garis dan bidang memberi efek bayangan dramatis pada bangunan.

Seperti kebanyakan karya Schoemaker, Villa Isola memiliki bentuk simetris. Suatu bentuk berkesan formal dan berwibawa. Pintu utama terdapat pada bagian tengah bangunan, menghadap ke utara. Pintu ini dilindungi sebuah kanopi berupa dak beton berbentuk melengkung yang ditopang satu tiang pada ujungnya.

Pembagian ruang dalam bangunan mengikuti tipologi rumah tinggal di Eropa, mengingat pemilik pertama bangunan ini seorang Belanda bernama D.W. Berrety. Lantai pertama terdiri atas sebuah lobi dengan tangga melingkar ke atas di kedua sisi dan sebuah ruang keluarga. Di antara dinding tangga dulunya terdapat sebuah gambar perahu layar (kini telah hilang).

Pada ruang keluarga terdapat jendela melengkung berukuran besar yang memungkinkan orang melihat pemandangan Kota Bandung di dataran lebih rendah. Di lantai ini juga terdapat toilet berbentuk bundar. Semuanya sudah tidak bisa dinikmati karena telah menjadi kantor staf rektorat.

Lantai kedua bangunan berisi kamar tidur yang dihubungkan dengan koridor yang membentang pada arah barat dan timur mirip sebuah dek kapal. Pada kedua ujung koridor terdapat dua buah teras terbuka. Penggunaan koridor merupakan suatu penyelesaian yang baik pada bangunan di iklim tropis karena berfungsi sebagai isolator termal sehingga udara dalam ruangan terasa sejuk. Kamar tidur utama didesain menghadap ke arah selatan.

Kamar ini dilengkapi dengan balkon melingkar yang dilindungi tritisan dari fiber dan disangga balok-balok baja. Pada lantai ketiga bangunan terdapat kamar tidur tamu dan ruang rekreasi. Beberapa dari ruangan tersebut telah berubah sesuai fungsi barunya.

Jika sisi utara bangunan terdiri atas tiga lantai, isi selatan bangunan terdiri atas empat lantai. Hal ini terjadi karena perbedaan ketinggian lahan. Lantai dasar pada sisi selatan bangunan berfungsi sebagai daerah servis. Hal ini menarik untuk suatu bangunan tempat tinggal pada masa itu yang umumnya memiliki daerah servis terpisah dari bangunan utama. Seperti pintu masuk utara, pintu masuk selatan berhadapan langsung dengan taman.

Pengolahan lahan, taman, dan elemen-elemennya turut mendukung keunikan Villa Isola, terutama dari segi bentuk. Semuanya itu menyuarakan satu bentuk: bundar!

Fenomena di Kota Bandung, di mana tidak sedikit bangunan tua yang merupakan bagian dari sejarah perkembangan kota diabaikan, bahkan dihancurkan, tentulah bukan suatu fenomena yang baik. Tidak sedikit karya arsitektur di Kota Bandung yang memiliki nilai monumental. (kiki kurnia/ “GM”/berbagai sumber)**

Menelusuri Sejarah Carok dan Celurit Madura

Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).

PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok?Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antarpenduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole, istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M.

Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.
Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu.Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit.

Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.
Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri.

Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda.Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.

Sumber : posmo.wordpress.com

Malaysia negeri yang miskin budaya

Sejarahwan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari menilai perseteruan antara Indonesia dengan Malaysia tidak akan pernah bisa berakhir. Sebab, gesekan antara kedua belah pihak sudah terjadi sejak abad 15 dan dibukukan dalam pelajaran sejarah.

”Sampai kapan pun perseteruan ini akan sulit untuk didinginkan. Sebab sudah menjadi bagian dari sejarah sejak abad 15 lalu,” kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) Unimed itu kepada harian Seputar Indonesia (SI) di Medan kemarin.

Bahkan kata dia, jika dilihat dari buku pelajaran sejarah di sekolah, cerita tentang ganyang Malaysia yang populer di zaman Soekarno menjadi bagian dari sejarah bangsa. Begitu juga sebaliknya di Malaysia, dalam buku sejarahnya, Kerajaan Majapahit serta Gajah Mada digambarkan sebagai bangsa penindas dan perampok yang sangat biadab karena pernah menguasai sebagian wilayah mereka.

”Bahkan dalam dunia khayal mereka (Malaysia), Kerajaan Majapahit pernah mereka kalahkan,” ungkap Ichwan. Wajar menurutnya jika hingga abad 21 ini, perseteruan tetap berlangsung. Bahkan bukan hanya dari sisi budaya, tapi sampai pada persoalan politik dan pertahanan negara.

Namun lanjut Ichwan, ada hal yang perlu diluruskan bahwa dalam catatan sejarah, Malaysia bukan anti-Indonesia secara umum. Mereka hanya takut pada hegemoni etnis Jawa pada zaman dulu. Karena itu, dalam sastra Melayu klasik, kritik dan perang wacana sering dibangun Kerajaan Malaka (Malaysia) saat itu. Setiap sastra Melayu yang ada selalu menceritakan kalau etnis Jawa harus dilawan, karena sering melakukan penaklukan ke negeri lain.

Atas dasar itulah Malaysia lebih banyak mengklaim kebudayaan Jawa sebagai bagian dari heritage culture (warisan budaya) mereka. ”Jadi sebenarnya bukan Indonesia ingin mereka lawan, tapi etnis Jawa yang sempat menaklukkan Kerajaan Malaka,” ucap Ichwan.

Dia menambahkan, kedua Indonesia-Malaysia sebenarnya saling membutuhkan. Malaysia yang sangat bergantung pada tenaga kerja Indonesia dalam memajukan pembangunan mereka, terlebih setelah rakyat Malaysia tidak ada yang mau melakukan pekerjaan kasar selain TKI.
Sementara itu, pengamat kebudayaan dan pariwisata dari Universitas Sumatera Utara (USU) Gustanto menilai akan sebuah kondisi realitas kemiskinan kebudayaan yang dialami oleh Malaysia. Sehingga mereka berusaha mengklaim kebudayaan Indonesia merupakan bagian dari kebudayaan mereka atas nama kebudayaan nusantara.

Sebenarn ya kata Gustanto, apa yang ditunjukkan Malaysia sudah menjatuhkan martabat mereka sendiri dari sisi budaya. Karena tidak mampu menciptakan sebuah kebudayaan yang memiliki nilai eksotis di mata dunia. Namun di sisi lain, sangat disayangkan ketika pemerintah Indonesia tidak mampu menjaga hak cipta intelektualnya. Padahal kebudayaan merupakan seni yang tercipta melalui dunia ide dan tidak ternilai harganya.
”Satu sisi memang Malaysia menunjukkan kelemahannya dalam hal budaya. Di sisi lain Indonesia juga lemah dalam menjaga hak cipta intelektual yang tak ternilai harganya,” ujar Ketua Departemen D3 Pariwisata USU itu.
Kemiskinan budaya di Malaysia menurutnya bukan rahasia umum.

Beberapa tempat seperti Bukit Bintang dan Kuala Lumpur, umumnya justru memperdengarkan lagu-lagu Indonesia dalam pertunjukan musiknya.

Struktur pemberian nama Jepang

Struktur nama sekarang (nama keluarga + nama pemberian) belum terwujud sebelum 1870an ketika pemerintah membuat sistem registrasi keluarga baru. Di masa feodal Jepang, nama merefleksikan status sosial seseorang. Nama juga merefleksikan keanggotaan seseorang misalnya terhadap kepercayaan seperti Buddhist dan Shintō, militer-feodal, perdagangan, pelayan, atau budak, dan sebagainya.

Sebelum masa feodal, nama klan di Jepang ditonjolkan, yaitu nama dengan menggunakan no (no berarti dari, walaupun asosiasinya dalam urutan terbalik dalam bahasa Jepang, dan umumnya tidak secara eksplisit dituliskan dalam penamaan seperti ini). Sehingga, nama Minamoto no Yoritomo adalah Yoritomo dari klan Minamoto, contoh lain adalah Fujiwara no Kamatari, Ki no Tsurayuki , dan Taira no Kiyomori.

Kaisar Jepang dan keluarganya tidak memiliki nama keluarga karena alasan sejarah, hanya nama pemberian seperti Hirohito yang jarang digunakan di Jepang. Ketika anak lahir dalam keluarga kekaisaran, mereka diberikan nama pemberian sebagaimana gelar istimewa. Misalnya gelar Akihito (Tsugu-no-miya Akihito) adalah Tsugu-no-miya ( “Pangeran Tsugu”) dan dikenal sebagai Pangeran Tsugu semasa kecilnya. Gelar ini biasanya digunakan hingga dia menjadi pewaris tahta atau mewarisi salah satu nama keluarga kepangeranan dalam sejarah (Hitachi-no-miya, Mikasa-no-miya, Akishino-no-miya, etc). Banyak anggota dari keluarga imperial yang menjadi rakyat biasa setelah Perang Dunia II, dan mengadopsi nama keluarga imperial sebagai nama biasa, seperti Asaka Yasuhiko.

Nama Jepang (Jinmei) di masa sekarang ini biasanya terbentuk dari nama keluarga diikuti nama pemberian. Urutan nama sudah hal yang biasa di negara-negara yang telah lama menjadi bagian dari lingkungan budaya China, termasuk China, Korea, dan Vietnam. Tidak ada perbedaan antara nama tengah dan nama pemberian seperti di negara-negara barat. Setiap orang Jepang memiliki satu nama keluarga dan satu nama pemberian tanpa nama tengah (kecuali untuk keluarga kekaisaran yang tidak memiliki nama keluarga/nama akhir seperti yang dijelaskan sebelumnya). Nama pemberian disebut namae atau shita no namae (yang berarti nama bawah), sedangkan nama keluarga disebut myōji , uji , sei .

Secara historis, myōji, uji, dan sei memiliki perbedaan makna. Sei awalnya adalah nama keluarga matrilineal (dari keluarga ibu), yang kemudian hanya bisa diperuntukkan bagi kaisar. Uji awalnya digunakan untuk keturunan patrilineal, tetapi kemudian dilebur dengan  myōji bersamaan waktu ketika sei kehilangan arti matrilineal. Nama keluarga yang umum di Jepang adalah Sato (yang paling umum), Suzuki (yang umum kedua), Takahashi (yang umum ketiga), dan Kato (yang umum kesepuluh). Berdasarkan perkiraan, terdapat kira-kira 10.000 nama keluarga yang berbeda yang digunakan di Jepang saat ini. Nama keluarga mempunyai kekerapan yang berbeda di tiap daerah, misalnya nama Chinen , Higa , dan Shimabukuro sudah biasa di daerah Okinawa tapi tidak demikian di daerah lain di Jepang. Banyak nama keluarga yang diturunkan dari alam, misalnya Ishikawa yang berarti “batu sungai”, Yamamoto yang berarti “dasar gunung”, Inoue yang berarti “atas mata air”.

Nama pemberian lebih banyak perbedaan dalam penulisan dan penggunaan karakternya. Nama untuk laki-laki biasanya diakhiri dengan –ro ( “son”, but also  “clear, bright”) atau –ta (“great, thick”) atau mengandung ichi ( anak pertama), kazu (ditulis juga dengan untuk anak pertama, atau beberapa kemungkinan lain), ji (anak kedua atau “next”) atau dai ( “great, large”). Sedangkan untuk perempuan menggunakan nama yang diakhiri dengan –ko ( “child”) atau -mi ( “beauty”) (Sejak akhir 1980 popularitas dari nama perempuan berakhiran –ko menurun drastis untuk nama bayi dan beberapa perempuan menghilangkan –ko ketika dewasa). Akhiran nama yang populer lainnya untuk perempuan adalah –ka ( “scent, perfume” or “flower”) dan – na ( berarti greens).

Nama Jepang biasanya ditulis dalam kanji, yang merupakan karakter dalam bahasa China tetapi dalam pengucapan dalam bahasa Jepang. Kanji untuk sebuah nama dapat memiliki banyak kemungkinan pengucapan. Nama Jepang adapula yang ditulis menggunakan hiragana atau bahkan katakana atau campuran dari kanji dan kana. Nama tradisional menggunakan pembacaan kun’yomi (berdasarkan bahasa Jepang asli) sedangkan ada pula yang menggunakan on’yomi (berdasakan bahasa China) untuk membaca nama pemberian dan nama keluarga.

Untuk menyingkat nama (biasanya untuk selebritis) umumnya adalah dengan menggunakan penggabungan dua morae dari dua kata. Misalnya, Takuya Kimura ( Kimura Takuya), aktor dan penyanyi Jepang, menjadi Kimutaku ). Hal ini kadang-kadang juga diterapkan untuk selebritis bukan asli Jepang, Misalnya Brad Pitt, yang namanya dalam bahasa Jepang adalah Buraddo Pitto  biasanya dikenal dengan Burapi , Jimi Hendrix disingkat Jimihen . Beberapa selebritis juga menggunakan nama yang menggabungkan antara kanji dan katakana seperti Beat Takeshi (Takeshi Kitano), Marcy (Masashi Tashiro), Martin (Masayuki Suzuki).

Biasanya pada anak-anak dari nama pemberian pun terkadang ditambahi sufiks –chan. Ada 2 cara untuk penambahan ini. Pertama, nama pemberian yang ditambahi –chan seperti Tarō-chan dari Tarō, Kimiko-chan dari Kimiko, dan Yasunari-chan dari Yasunari. Kedua, penyingkatan dari nama pemberian yang ditambahi –chan seperti Ta-chan, Kii-chan, dan -chan. Walapun umumnya diberikan pada anak-anak, tapi bisa juga nama tersebut masih dipanggil waktu dewasa karena mereka sudah saling mengenal sejak kecil.

Ketika sudah dewasa dan kita berbicara dengan orang lain atau membicarakan orang lain, ada semacam norma dan sopan-santun di dalamnya. Siapa yang kita ajak bicara dan dalam situasi bagaimana. Biasanya untuk memanggil seseorang digunakan nama keluarganya, terutama bila dalam situasi formal dan yang diajak berbicara lebih tua, atasan, dsb, dan umumnya penggunaan titel -san ditambahkan setelah nama.

Orang-orang Jepang menghindari pemanggilan senior atau atasan dengan menggunakan nama saja, tetapi dengan sebuah titel. Contohnya, di keluarga menggunakan hubungan keluarga, semisal  okāsan (untuk ibu), di sekolah memanggil  sensei (untuk guru), dan di perusahaan memanggil shachō (untuk presiden perusahaan). Pemanggilan seseorang tanpa title atau yang menghormati disebut yobisute dan dianggap kasar walaupun di situasi yang paling informal atau akrab sekalipun, tapi hal ini masih bisa ditoleransi untuk orang luar negeri.

VN:F [1.6.2_892]

Beberapa Kebudayaan Indonesia yg diklaim Malaysia

Berikut ini adalah daftar artefak budaya Indonesia yang diduga dicuri, dipatenkan, diklaim, dan atau dieksploitasi secara komersial oleh korporasi asing, oknum warga negara asing, ataupun negara lain:

  1. Batik dari Jawa oleh Adidas
  2. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
  3. Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
  4. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
  5. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
  6. Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia
  7. Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda
  8. Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda
  9. Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda
  10. Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing
  11. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
  12. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
  13. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
  14. Lagu Injit-injit Semut dari Kalimantan Barat oleh Pemerintah Malaysia
  15. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
  16. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
  17. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
  18. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
  19. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
  20. Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis
  21. Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Inggris
  22. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
  23. Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika
  24. Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd
  25. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
  26. Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
  27. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang
  28. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
  29. Kain Ulos oleh Malaysia
  30. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
  31. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
  32. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia, Malaysia Asuuu……., Pemerintah tindak dong…!!!! jangan jadi penonton….!!!

Sumber : http://www.malingsia.com

Sekilas tentang Madura

Suku Madura di Indonesia jumlahnya kira-kira ada 10 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Pulau Sapudi, Pulau Raas dan Kangean.

Selain itu, orang Madura tinggal di sebelah timur Jawa Timur, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo jumlahnya paling banyak, dan jarang yang bisa berbahasa Jawa.

Bahasa yang dipergunakan oleh Suku Madura adalah bahasa Madura, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Agama mereka sebagian besar adalah Islam dan sebuah minoritas kecil ada yang beragama Kristen.0307mbudaya_peta-madura_alt Suku Madura

Suku Madura juga banyak dijumpai di propinsi lain seperti Kalimantan, di Sampit dan Sambas. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang dan dominan di pasar-pasar. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan, buruh, pengumpul besi tua dan barang-barang rongsokan lainnya.

0307mbudaya_anak-anak-madur Suku Madura

Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang keras dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin dan rajin bekerja. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan Larung Sesaji).

Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa “Lebbi Bagus Pote Tollang, atembang Pote Mata”. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Tradisi carok juga berasal dari sifat itu.

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah Utara Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa. Madura dibagi menjadi empat kabupaten:

  • Bangkalan
  • Sampang
  • Pamekasan
  • Sumenep

0307mbudaya_pamekasan_alt Suku Madura

Pulau Madura termasuk propoinsi Jawa Timur dan memiliki nomor kendaraan bermotor sendiri: Pulau ini terkenal sebagai pemasok garam nasional bagi Indonesia. Pilihan bertambak garam bagi penduduk Madura disebabkan kurang begitu suburnya tanah pulau ini bagi pertanian. Karena alasan serupa, banyak orang Madura menjadi perantau ke daerah-daerah lain di Indonesia. Komunitas Madura yang besar dapat ditemukan di pulau Kalimantan selain di Jawa.

Bangkalan

Kabupaten Bangkalan, adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura. Ibukotanya adalah Bangkalan. Kabupaten ini terletak di ujung paling barat Pulau Madura; berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Sampang di timur, serta Selat Madura di selatan dan barat.

Pelabuhan Kamal merupakan pintu gerbang Madura dari Jawa, dimana terdapat layanan kapal ferry yang menghubungkan Madura dengan Surabaya (Pelabuhan Ujung). Saat ini telah dibangun Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), yang kelak akan menjadi jembatan terpanjang di Indonesia. Bangkalan merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam lingkup Gerbangkertosusila.

Sampang

Kabupaten Sampang, adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura. Ibukotanya adalah Sampang. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Pamekasan di timur, Selat Madura di selatan, serta Kabupaten Bangkalan di barat. Masakan khas kota ini adalah kaldu.

Pamekasan

Kabupaten Pamekasan adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura. Ibukotanya adalah Pamekasan. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Selat Madura di selatan, Kabupaten Sampang di barat, dan Kabupaten Sumenep di timur. Pusat pemerintahan di Kecamatan Pamekasan.

Sumenep

Sumenep (bahasa Madura: Songènèb) adalah sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura.Ibu kotanya ialah Kota Sumenep. Sumenep memiliki sebuah keraton keluarga kerajaan Madura, Cakraningrat. Kabupaten Sumenep selain terdiri wilayah daratan juga terdiri dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau. Pulau yang paling utara adalah Pulau Karamian yang terletak di Kecamatan Masalembu dan pulau yang paling Timur adalah Pulau Sakala.

Sumber : http://www.kabarmadura.com