Arsip untuk ‘BUDAYA JEPANG’ Kategori

( Karoshi = 過労死 )  

Ketika gelombang pengangguran melanda Amerika dan Eropa, di Jepang terjadi fenomena yang sebaliknya. Tahun 2002 lalu, di Jepang terjadi rekor kematian akibat kerja berlebihan. Menurut statistik resmi, sedikitnya 300 orang pekerja kantor dan pabrik di Jepang mati karena overdosis kerja. Di negeri Sakura, mati akibat kerja berlebihan disebut Karoshi. Fenomena Karoshi di Jepang bukan sesuatu yang baru. Perdebatan mengenai kematian akibat kerja berlebihan sudah mencuat di Jepang sejak tahun 70-an. Kasus resmi pertama Karoshi dilaporkan tahun 1969, berupa kematian seorang perkeja lelaki berumur 29 tahun akibat stroke.

imagesSejak saat itu, kematian pekerja akibat kelebihan kerja, menjadi materi penelitian ilmiah yang menarik. Penelitian selama tiga dekade menunjukan, kematian pekerja akibat kelebihan kerja, terutama disebabkan oleh serangan jantung atau stroke. Pemicunya, stress karena kerja yang berlebihan. Karoshi bukan istilah kedokteran resmi. Akan tetapi media massa sangat sering memanfaatkan istilah tsb, untuk menunjukan kematian tiba-tiba akibat kebanyakan kerja. Dewasa ini, Karoshi merupakan masalah sosial yang amat serius di Jepang. Akan tetapi, mengapa Karoshi selama ini hanya menjadi masalah serius di Jepang? Mengapa di negara industri maju lainnya di Amerika utara atau di Eropa, jarang terdengar masalah serupa? Rupanya budaya kerja orang Jepang memang berbeda dengan budaya kerja di Eropa tengah atau di Amerika utara. Para pekerja Jepang bekerja lebih panjang dibanding rekannya di negara maju lainnya. Statistik menunjukan, setiap tahunnya pekerja Jepang bekerja lebih dari 2.000 jam. Sementara di Amerika Serikat, 1.900 jam kerja dan di Perancis, Inggris serta Jerman rata-rata 1.800 jam kerja pertahun per-pekerja. Selain itu, para pekerja Jepang lebih sering merelakan hari liburnya untuk bekerja.

Para pekerja di Jepang secara tradisional maupun struktural memang harus bekerja lebih panjang, dibanding rekannya di Amerika Serikat, Perancis atau Jerman. Para pekerja Jepang selalu didorong untuk meningkatkan pendapatan dengan bekerja lembur. Hubungan kerja industrialnya juga terpusat pada perusahaan. Selain itu gaya manajemen kepegawaian di Jepang juga amat kaku. Perusahaan tidak memaksa pegawai bekerja lebih panjang, akan tetapi pegawai secara sukarela melakukanya demi prestasi. Perusahaan menjadi lebih penting dari keluarga. Penelitian ilmiah menunjukan, kasus Karoshi biasanya dipicu oleh tuntutan kerja yang terlalu tinggi dibarengi dukungan sosial yang rendah. Yang paling terkena oleh gejala Karoshi terutama para dokter, wartawan, para pekerja pabrik dan sopir taksi. Mereka terpaksa atau secara sukarela harus bekerja lebih lama, baik untuk menunjukan prestasi atau meraih pendapatan lebih tinggi. Ironisnya, dalam masa resesi seperti saat ini, para pekerja yang berisiko tinggi terserang Karoshi, harus bekerja lebih keras lagi.

Karyawan pabrik atau perusahaan yang terancam bangkrut, seringkali kerja lembur tanpa dibayar, demi menyelamatkan tempat kerjanya. Warga Jepang sejak berabad-abad memang memiliki tradisi kerja keras. Budaya ini makin diperkuat setelah kekalahannya dalam perang dunia kedua. Setelah perang dunia kedua, Jepang menjadi negara dengan tenaga kerja murah melimpah. Untuk mempertahankan eksitensinya, para buruh atau pegawai harus bekerja lebih keras dan lebih panjang. Untuk menghindarkan konflik perburuhan, para pekerja di Jepang menerima sistem gaji berdasarkan senioritas. Prestasi kerja dan loyalitas diukur dari panjangnya jam kerja. Faktor-faktor inilah yang mendorong buruh bekerja lebih keras dan panjang, yang menyebabkan Karoshi.

Menyadari hal tsb, kementrian tenaga kerja Jepang berkali-kali melakukan penelitian derajat kesehatan para pekerja. Penelitian tahun 1992 misalnya, mencakup 12.000 perusahaan yang melibatkan sekitar 16.000 rerponden yang dipilih secara acak. Hasilnya amat mencemaskan. 65 persen pekerja mengeluhkan kelelahan fisik akibat kerja rutin. 48 persen mengeluhkan kelelahan mental. Sekitar 57 persen responden mengeluh stress berat dan merasa tersisihkan. Penyebab utama stress adalah kondisi yang tidak menyenangkan di tempat kerja, kualitas serta kuantitas kerja. Penelitian lebih lanjut, tidak berhasil mencari kaitan sebab akibat dari kerja berlebihan dengan Karoshi.

Kementrian tenaga kerja Jepang menyatakan, diperlukan penelitian lebih lanjut, untuk menjelaskan kaitannya. Sebagai tindakan pencegahan, jam kerja diusulkan untuk dikurangi. Situasi dan lingkungan kerja harus diperbaiki agar lebih nyaman. Selain itu pemeriksaan kesehatan secara rutin bagi seluruh pekerja terus ditingkatkan. Dengan berbagai tindakan seperti itu, stress di tempat kerja dan Karoshi diharapkan menurun. Menyadari bahaya Karoshi, kini semakin banyak warga Jepang yang menerapkan filsafat hidup lebih santai, atau “suro raifu” dari istilah Inggris slow life. Takuro Morinaga yang sekarang berusia 45 tahun misalnya, merencanakan pensiun dini dari pekerjaannya di insititut penelitian ekonomi terkemuka di Tokyo, dalam waktu 10 tahun mendatang. Selanjutnya ia akan hidup sebagai penulis masalah ekonomi dan petani. Sejumlah pekerja di pabrik mobil terkemuka di Jepang, juga menerima tawaran pensiun dini untuk menikmati kehidupan dengan filsafat “suro raifu”. Namun dalam hiruk pikuk globalisasi, para pekerja di Jepang tetap sulit mengurangi jam kerja serta stress di tempat kerja. Artinya, Karoshi tetap mengancam dimana-mana. 

 

 

Salaryman = Pekerja Keras Dari Jepang (サラリーマン)

Setiap tahun terdapat jutaan mahasiswa yang bersorak gembira ketika mereka dinyatakan lulus dari universitas. Mereka senang karena jerih payah orang tua tidak sia-sia setelah mereka di wisuda mengenakan toga.
Sayang sekali… mereka tidak sadar kalau mereka baru saja keluar dari “kandang anak kucing” dan masuk ke hutan belantara yang dipenuhi oleh singa, ular berbisa, mawar beracun, dan banyak lagi yang aneh-aneh.
Menurut survey di Tokyo, orang-orang yang baru lulus kuliah cenderung mengalami tingkat stress yang lebih tinggi jika dibandingkan ketika mereka sedang menghadapi ujian terakhir di kampus.
Kenapa mereka lebih stress? Karena mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan!

Makin hari makin banyak darah segar yang bersaing ketat untuk mendapatkan pekerjaan. Dan ketika saingan semakin banyak, banyak pula yang rela di gaji rendah, kerja semakin larut, dan tingkat kesehatan yang semakin menurun.

 

Berdasarkan data dari pemerintah Jepang, terdapat lebih dari 10 juta orang yang hidup dengan penghasilan kurang dari standard normalnya Jepang yaitu ¥1.600.000/tahun (atau sekitar 155 juta rupiah per tahun).
Mungkin ini semua adalah akibat dari perusahaan-perusahaan Jepang yang lebih mementingkan keuntungan perusahaan dan memanfaatkan keluguan para pekerja baru (yang jelas-jelas tidak punya pilihan lain).

 

Terciptalah salaryman. Orang-orang yang hidup dengan gaji rendah, kerja setengah mati, tanpa uang lembur, dan tanpa kepastian peningkatan karir meskipun mereka telah bekerja puluhan tahun. Makanya jangan heran ketika kamu melihat banyak karyawan Jepang yang tertidur pulas di kereta ketika mereka menuju pulang ke rumah.

 

Kata salaryman sendiri diambil dari bahasa Inggris, yaitu salary (gaji) dan man (orang), jadi salaryman artinya adalah orang yang hidupnya 100% tergantung dari gaji. Mereka kalo sampai dipecat rasanya dunia kiamat. Kalo di Indonesia, ini sama dengan bangsawan / bangsa karyawan.

Saking stressnya, tercipta satu kata baru yang terkenal di dunia pekerja Jepang untuk menggambarkan betapa kerasnya kerja di Jepang, yaitu karoshi.

Selain bekerja keras, para salaryman pun juga tau lho caranya menikmati hidup. Meskipun terus terang aja kalau cara mereka menikmati hidup tidak selalu pantas untuk ditiru. Work hard, play hard. Begitu kira-kira motto mereka.

Salaryman memang terkenal di Jepang. Mereka adalah kaum pekerja kelas menengah ke bawah yang hidupnya serba pas-pasan. Jika ada satu kata yang bisa mencerminkan kerasnya kehidupan seorang salaryman, maka kata itu adalah karoshi.
Karoshi artinya “mati di kerja” atau kematian karena stress pekerjaan. Halusnya berarti “meninggal karena setia dan mengabdi kepada perusahaan”. Kematiannya bisa karena kecelakaan di tempat kerja, kematian karena terlalu lelah (kesehatannya menurun jauh), ataupun karena bunuh diri karena stress kerja.

Saking seriusnya masalah ini, pemerintah Jepang telah mencoba berbagai cara untuk mengatasinya. Mulai dari menyediakan nomor telepon darurat untuk menerima keluh-kesah para salaryman, buku petunjuk untuk mengurangi stress, sampai mensahkan undang-undang yang memberikan sejumlah uang (asuransi) ke para janda dan anak-anak yang ditinggal mati karena karoshi. Menurut data pemerintah, dari 2.207 kasus bunuh diri pada tahun 2007, 672-nya adalah karena pekerjaannya terlalu banyak.

Kasus karoshi yang terkenal adalah kasus kematian Kenichi Uchino pada tahun 2002, seorang manager quality-control berusia 30 tahun yang bekerja di perusahaan otomotif terbesar di dunia, Toyota.

“Kenichi dikabarkan bekerja lembur selama 80 jam setiap bulan selama 6 bulan lamanya tanpa dikasih uang lembur atau bonus tambahan apapun. Dia akhirnya jatuh pingsan di tempat kerjanya dan dilarikan ke rumah sakit, yang kemudian membawanya ke akhirat. McDonald’s Jepang pun terkena masalah ini. Salah seorang manager restorannya jatuh sakit dan meninggal karena bekerja lembur tanpa bayaran apapun.
Mau tidak mau, karena tekanan publik, Toyota dan McDonald’s akhirnya memutuskan akan memberikan uang lembur bagi yang ingin bekerja lembur dan menyediakan fasilitas kesehatan yang lebih baik”

Para salaryman ini sebenarnya niatnya baik, yaitu ingin memajukan perusahaannya. Ditambah lagi dengan kebudayaan Jepang yang selalu menekankan disiplin tinggi, mereka berpikiran bahwa dengan bekerja lebih lama dan lebih keras daripada karyawan lain dan tanpa meminta bayaran apapun, boss mereka bisa memberikan posisi yang lebih baik. Tapi kenyataannya tidak.

CARA PARA SAlARIMAN MENGHILANGKAN KEPENATAN

Sudah menjadi kebudayaan para pekerja di Jepang untuk menghilangkan stress dengan cara – apalagi kalau bukan – nomikai, pesta minum minuman alkohol!

 

Malam minggu bukan jadi patokan kalau mau mengadakan pesta usai jam kantor. Mereka bisa mengadakan nomikai kapan saja. Ada yang rame-rame, ada juga yang cuma beberapa orang saja.

 

Biasanya nomikai diadakan setelah perusahaan memenangkan proyek, merayakan ulang tahun boss, merayakan promosi teman kantor, atau bisa juga cuma untuk menghilangkan stress. Dimana sih pesta minum-minumnya? Di izakaya.

 

Izakaya adalah semacam pub, bar, atau cafe yang fungsi utamanya untuk melayani pesta nomikai. Izakaya identik dengan lentera yang digantung di depan pintu masuk. Jadi kalau kamu mau sedikit mabok-mabokan, cari aja tempet yang ada lenteranya.

Menunya mencakup sake, bir, dan anggur. Tentu ada juga menu makanannya seperti yakitori, kushiyaki, dan sashimi. Makanannya sengaja disajikan untuk dimakan rame-rame, jadi bukan satu piring untuk satu orang lho.

Sudah menjadi kebudayaan kalau para junior diwajibkan untuk menuangkan minuman untuk para senior, lalu dilanjutkan dengan sedikit sambutan dari orang yang jabatannya paling tinggi. Ini menandakan bahwa acara nomikai-nya sudah dimulai.

Izakaya Nomikai = 飲み会

Pada saat pesta pun, para senior atau boss harus pulang terlebih dahulu. Jadi kalau para senior atau boss masih ingin minum-minum sake, maka tidak ada satu orang pun yang boleh pulang. Jangan heran juga kalau setiap hari ada saja orang-orang yang mabok berat di tengah jalan. Terkesan orangnya pengangguran dan gak punya masa depan, padahal dia baru aja pulang dari pesta nomikai yang diselenggarakan bossnya.

 

Bagaimana sih kehidupan seorang salaryman sehari-hari?

06:30 = bangun dari tempat tidur
07:30 = berangkat ke kantor (jalan kaki / naik sepeda / subway)
08:50 = harus tiba di kantor
09:00 = meeting pagi dengan supervisor
09:10 = mulai kerja
12:00 = makan siang (bento / kantin / restoran terdekat)
13:00 = mulai kerja lagi
17:00 = lembur dimulai (biasanya tanpa uang lembur)
20:30 = pesta nomikai (kalau ada)
21:30 = pulang ke rumah (jalan kaki / naik sepeda / subway)
22:30 = sampe rumah, nonton TV, baca koran
23:00 = tidur

Ulangi terus dari Senin-Jumat. Sabtu biasanya pulang lebih awal (kalau ada lembur, kerja seperti biasa). Minggu libur (kalau ada lembur, kerja seperti biasa).

Peraturan di kantor:
#1. Kalau atasan bilang bumi berbentuk kotak, maka bumi bentuknya kotak.
#2. Kalau dia berubah pikiran, maka bumi juga bentuknya berubah.
#3. Lupakan apa kata pelanggan. Boss adalah raja.
#4. Karyawan baru? Boss adalah Tuhan.
#5. Membungkuk. Membungkuk. Membungkuk.

HARA-KIRI adalah bunuh diri ala Jepang yang sudah dikenal luas oleh banyak orang di dunia. Tindakan itu biasanya dipilih jika orang Jepang merasa bersalah atau tak sanggup menanggung malu. Caranya dengan menusuk sebilah pedang ke lambung lalu merobeknya secara horisontal. Menjelang kekalahan dalam PD II, tentara Jepang terutama para perwiranya banyak yang memilih melakukan hara-kiri daripada harus menanggung kekalahan atau menyerah kepada tentara Amerika Serikat.

Namun pelaku hara-kiri dewasa ini sudah jarang dijumpai di Jepang. Sebagai gantinya muncul Karoshi alias “bunuh diri” dalam bentuk lain atau kematian yang diakibatkan oleh kerja yang berlebihan. Berbeda dengan hara-kiri, ahli waris dari “pelaku” Karoshi bisa mendapat santunan dari pemerintah dan perusahaan tempatnya bekerja. Mereka, para ahli waris itu, bahkan bisa menerima ganti rugi US$ 20 ribu per tahun dari pemerintah dan kadang-kadang ada perusahaan yang sanggup membayar hingga US$ 1 juta.

Mungkin karena adanya santunan ganti rugi itu, sejak awal 1980-an kasus kematian akibat Karoshi yang diklaim kepada pemerintah terus meningkat sehingga sebagian terpaksa ditolak oleh pengadilan. Pada 1988 klaim yang dibayar oleh pemerintah kepada ahli waris Karoshi mencapai 4 persen. Angka itu kemudian meningkat menjadi 40 persen pada 2005 (lihat “Jobs for life”, The Economist, 19 Desember 2007).

Kini banyak perusahaan Jepang yang kewalahan oleh Karoshi. Akhir November lalu, permohonan klaim Karoshi dari Kenichi, istri mendiang Uchino yang bekerja di Toyota dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Nagoya. Uchino ditemukan telah meninggal pada pukul 4 pagi pada suatu hari di tahun 2002 dalam usia 30 tahun. Dia meninggalkan dua orang anak berusia tiga tahun dan satu tahun. Sejak enam bulan sebelum tewas, Uchino telah menghabiskan lebih dari 80 jam untuk kerja lembur setiap bulan. “Satu hal yang membuatku bahagia adalah ketika aku dapat tidur,” kata Uchino kepada istrinya, seminggu sebelum tewas.

Sebagai manajer pengendali mutu, tanggung jawab Uchino memang tidak kecil. Dia antara lain bertanggungjawab untuk memberikan pelatihan kepada pekerja, menghadiri pertemuan-pertemuan dan menulis laporan bagian produksi. Namun perusahaan Toyota memperlakukan semua waktu secara fakultatif dan tidak ada uang lembur bagi karyawan yang bekerja melampaui jam kantor. Kerja lembur yang dilakukan Uchino karena itu dianggap sebagian bagian dari pekerjaan yang harus dilakukannya. Hasilnya pada 14 Desember 2007, pemerintah memutuskan untuk tidak melakukan banding terhadap keputusan Pengadilan Negeri Nagoya.

Kasus “free overtime” di Jepang memang sebuah ironi. Para pekerja dituntut untuk bekerja keras agar mendapatkan penilaian prestasi kerja termasuk dengan bekerja di luar jam kantor tapi mereka sama sekali tidak mendapatkan upah lembur. Hal semacam itu, tentu saja akan menimbulkan pertanyaan kepada perusahaan-perusahaan di Jepang: berapa lama mereka akan bertahan dengan cara mereka?

Seorang pejabat pemerintah menyebutkan, orang Jepang menghabiskan waktu sekitar 1.780 jam dalam setahun untuk bekerja. Angka itu lebih kecil bila dibandingkan dengan rata-rata jam kerja dari orang Amerika yang mencapai 1.800 jam setahun namun di atas dari jumlah rata-rata jam kerja orang Jerman (1.400). Tapi angka statistik tersebut bisa salah terutama karena tidak melibatkan jam lembur yang tidak dibayar, yang banyak dilakukan oleh oleh pekerja Jepang.

Diperkirakan, satu dari tiga pekerja laki-laki yang berusia 30-40 tahun telah menghabiskan waktu hingga 60 jam dalam seminggu. Separuh dari jumlah pekerja itu, tidak mendapatkan uang lembur alias tidak dibayar. Nasib pekerja pabrik lebih parah. Mereka datang ke tempat kerja lebih awal dan pulang paling akhir. Juga tanpa upah tambahan atau ganti rugi, termasuk ketika mereka harus mengikuti pelatihan pada akhir pekan.

Banyak perusahaan di Jepang selama 20 tahun terakhir telah menerapkan sebuah sistem kerja baru dengan menempatkan pekerja paruh waktu untuk menggantikan pekerja tetap. Atau para staf regular itu tetap dipertahankan dengan kewajiban bekerja lembur sembari secara perlahan posisi mereka dibuat temporer. Faktor budaya menguatkan kecenderungan ini: kerja keras merupakan perilaku yang terhormat di Jepang dan pengorbanan untuk orang banyak dianggap lebih berharga daripada pengorbanan untuk pribadi.

Toyota yang kini menjadi pesaing General Motor di pasar otomotif global, sering dipuji karena efisien dan fleksibel menggunakan tenaga kerja. Namun Nyonya Uchino, punya pandangan yang berbeda. Menurut dia, sudah sangat banyak pekerja di Toyota yang tidak mendapat uang lembur sehingga perusahaan itu meraup keuntungan.

“Aku berharap sebagian dari keuntungan itu dapat digunakan untuk membantu karyawan dan keluarga mereka. Hal itulah yang akan menempatkan Toyota sebagai produsen otomotif terkemuka di dunia,” kata Kenichi. Toyota berjanji untuk mencegah karoshi di masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kelas-mikrokontrol.com

 

SEMANGAT BUSHIDO

Posted: 18 Juli 2013 in BUDAYA DUNIA, BUDAYA JEPANG

Pendidikan budaya adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar berperan aktif dan positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang, dan pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan yang berakar pada pencapaian tujuan pembangunan nasional Indonesi dimana dalam hal ini selain upaya pendidikan dari dalam seyogyanya kita pun menyerap pendidikan dari luar yang merupakan implementasi yaitu budaya hidup suatu kaum. 

Kondisi ini menunjukan adanya hubungan yang berarti antara penyelenggaraan pendidikan dengan kualitas pembangunan sumber daya manusia indonesia yang berkaitan dengan budaya, bahwa telah dinyatakan oleh Arnold Toynbee Bahwa ”Pendidikan adalah induk kandung kebudayaan suatu bangsa” maka apabila pendidikan suatu bangsa itu benar, benarlah seluruh kebudayaan kaum tersebut, meskipun masih ada faktor-faktor lain yang juga mempengaruhinya.

Melalui Restorasi Meiji angkatan perang Jepang dibangun secara modern, angkatan darat menerapkan strategi Jerman dan angkatan laut secara Inggris. Kementerian Pertahanan tidak bertanggung jawab kepada Parlemen tetapi kepada Tenno (Kaisar). Hal ini menjadikan kedudukan Kementerian Pertahanan sangat kuat dan menjadi menjadi Gunbatsu (pemerintahan diktator militer). Bersamaan dengan modernisasi angkatan perang muncul kembali semangat Bushido sebagai dasar jiwa ketentaraan yang melandasi pendidikan militer di jepang.

Definisi Bushido

“Bushi” berarti ksatria dan “Do” artinya jalan. Bushido dapat diartikan sebagai jalan kehormatan yang harus ditempuh oleh orang Jepang untuk menyempurnakan hidup. Bushido (武士道?), secara Harfiah “jalan prajurit”, adalah kata dalam bahasa Jepang untuk cara hidup samurai, cara hidup dengan konsep ksatria. Etimologisnya dari kata bushido Jepang, yang berasal dari Dinasti Zhou (1111-256 SM) (Zhang, dan Fan, 2003) [1] atau (1.818-221 SM) (de Bary, dan Bloom) Zhou Cina bi 周髀 (Cullen, 1996) [3] dan kata wushidao (武士道), berarti seorang prajurit terlatih dalam seni bela diri. Singkatan “wushi,” (武士) dibagi menjadi dua bagian, pertama istilah “wu” () menggambarkan orang yang kompeten dalam seni bela diri seperti Raja Wu, dengan jabatan kedua “shi,” () tentara. Kedua karakter bersama-sama (武士) berarti prajurit atau penjaga istana. Bagian terakhir dari kata, “dao” () [6] adalah sama dengan “melakukan” dalam bahasa Jepang, yang berarti “cara” (Dao, 2003) seperti seni bela diri Kendo Jepang (剣道) sehingga diartikan “jalan pedang”.   

Bushido (Kanji: 武士道 “tatacara ksatria”) juga diartikan adalah sebuah kode etik kepahlawanan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang. Samurai sendiri adalah sebuah strata sosial penting dalam tatanan masyarakat feodalisme Jepang. Secara resmi, Bushido dikumandangkan dalam bentuk etika sejak zaman Shogun Tokugawa.Makna bushido itu sendiri adalah sikap rela mati negara/kerajaan dan kaisar. Biasanya para samurai dan Shogun rela mempartaruhkan nyawa demi itu,jika ia gagal,ia akan melakukan seppuku (harakiri).

Bushido sudah dilakukan pada saat perang dunia II, yaitu menjadi prajurit berani mati.
Pemahaman Jepang kata tersebut didasarkan pada kode moral yang menekankan samurai berhemat, loyalitas, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati. Lahir dari Neo-Konfusianisme selama masa perdamaian di Tokugawa Jepang dan teks Konghucu, Bushido juga dipengaruhi oleh Shinto dan Zen Buddhisme, yang memungkinkan adanya kekerasan dari samurai yang akan marah dengan kebijaksanaan dan ketenangan. Bushido dikembangkan antara abad ke-9 dan ke-20 dan dokumen diterjemahkan banyak berasal dari 12 ke abad ke-16 menunjukkan pengaruh yang luas di seluruh Jepang, meskipun beberapa ahli telah mencatat “Bushido istilah itu sendiri jarang dibuktikan dalam sastra pramodern.”
Di bawah Keshogunan Tokugawa, aspek bushido menjadi diformalkan ke dalam hukum feodal Jepang. Menurut kamus bahasa Jepang Shogakukan Kokugo Daijiten, “Bushido didefinisikan sebagai suatu filsafat yang unik (ronri) yang menyebar melalui kelas prajurit dari periode (Chusei) Muromachi.”

Kata ini pertama kali digunakan di Jepang pada abad ke-17 [10] Itu datang ke dalam penggunaan umum di Jepang dan Barat setelah publikasi dari 1.899 Nitobe Inazo ini Bushido:.. The Soul of Japan

Dalam Bushido (1899), Inazo menulis:
“Bushido …, kemudian, adalah kaidah moral yang samurai diminta atau diperintahkan untuk mengamati …. Lebih sering itu adalah kode unuttered dan tidak tertulis …. Itu adalah pertumbuhan organik dari puluhan tahun dan berabad-abad dari karir militer”.
Nitobe bukanlah orang pertama yang mendokumentasikan ksatria Jepang dengan cara ini. Dalam teks nya Jepang feodal dan Modern (1896), sejarawan Arthur May Knapp menulis: “ samurai dari tiga puluh tahun yang lalu telah belakangnya seribu tahun pelatihan dalam hukum kehormatan, kepatuhan, tugas, dan pengorbanan diri”. Hal itu tidak diperlukan untuk membuat atau membangun mereka. Sebagai seorang anak ia punya tapi harus diinstruksikan, karena memang dia dari tahun-tahun awal, dalam etiket bakar diri. Prajurit Jepang harus memegang teguh ajaran Bushido, artinya ialah menginsyafi kedudukan masing-masing dalam hidup ini, mempertinggi derajat dan kecakapan diri, melatih diri lahir batin untuk menyempurnakan kecakapannya dalam ketentaraan, memegang teguh disiplin, serta menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan tanah air sampai titik darah terakhir.

Menurut ajaran Bushido, mati untuk Tenno adalah bentuk mati yang sempurna dan termulia. Bushido memberi kekuatan lahir batin yang tak terhingga kepada tentara Jepang pada khususnya dan rakyat Jepang pada umumnya. Bukti betapa kuatnya semangat Bushido Jepang dapat dilihat pada peristiwa berikut ini:

あ。Dalam Perang Rusia – Jepang (1905) sisa-sisa satu batalyon diasingkan sebagai pengecut karena semua opsirnya gugur, namun anak buahnya tidak mengikuti jejak opsir-opsirnya, mereka tidak semua ikut mati. Sisa-sisanya kemudian ingin melakukan “harakiri” (bunuh diri), tetapi tidak diizinkan oleh Jenderal Nogi. Mereka kemudian ingin menggabungkan diri pada divisi yang dipimpin Jenderal Nogi untuk menebus dosanya, namun ditolak karena Nogi tidak mau divisinya dikotori oleh mereka. Akhirnya di depan mata Nogi mereka harus berjibaku pada benteng-benteng Rusia di Port Arthur.

い。Dalam Perang Dunia II tentara Amerika Serikat menghadapi Bushido Jepang. Di Iwojima semua tentara Jepang gugur, tetapi AS juga kehilangan 35.000 prajurit terbaik. Iwojima hingga sekarang masih menjadi kenangan yang ngeri bagi AS.

う。Setelah Jepang menyerah, Kaisar tunduk pada tuntutan demokrasi Mac Arthur. Jepang tunduk karena Kaisar tunduk. Setelah Jepang terlepas dari kekangan AS (Perjanjian San Fransisco) Jepang pun kembali pada Ko-do (jalan Tenno). Tunduk dan berdisiplin pada Tenno adalah ajaran Bushido.

Bahwa bushido adalah sebuah asal hasil dari sebuah doktrin kaisarisme yang berabad-abad lamanya,Bushido terdiri dari kata bushi (ksatria atau prajurit) dan do (jalan). Bushido atau ’jalan ksatria’ merupakan sebuah sistem etika atau aturan moral keksatriaan yang berlaku di kalangan samurai  khususnya di zaman feodal Jepang (Abad 12-19). Makna bushido secara umum adalah sikap rela mati negara/kerajaan dan kaisar). Pada zaman feodal itu, pengelompokan dalam masyarakat amat ketat dijalankan, dimana bushi/samurai menempati posisi tertinggi. Mereka sangat disegani dan ditakuti oleh masyarakat, terlebih pada zaman Tokugawa, saat diterapkannya politik sakoku (penutupan diri) dari dunia luar. Saat itulah secara resmi Bushido disusun dalam bentuk etika, diterapkan dengan ketat, dan diajarkan pada masyarakat. Kode etik Bushido mengendalikan setiap aspek kehidupan para samurai. Petunjuk utama para samurai dalam hukum tersebut adalah mereka harus mengembangkan keahlian olah pedang dan berbagai senjata lain, berpakaian dan berperilaku secara khusus, dan mempersiapkan kematian yang bisa terjadi sewaktu-waktu ketika melayani tuannya. Mereka mengabdikan kesetiaan itu sebagai standar moral tinggi untuk semua tindakan dalam kehidupan. Bushido tercermin pada saat perang dunia II, yaitu menjadi prajurit berani mati. Semangat bushido terus menyertai perjalanan bangsa Jepang dari masa ke masa sehingga akhirnya Jepang berhasil bangkit dari keterpurukan Perang Dunia II dan kemudian muncul sebagai raksasa ekonomi.  Meski perubahan besar-besaran terjadi pada masa Meiji ketika begitu banyak generasi Jepang dikirim ke Amerika dan Eropa, nilai-nilai ini tetap dianut sebagian besar orang Jepang karena sudah terinternalisasi dalam masyarakat secara kuat melalui proses selama ratusan tahun

Seven virtues of Bushidō

KodeBushidodilambangkan dengantujuhkebajikan:

KESIMPULAN

Dalam hal ini semangat Bushido jepang merupakan tonggak ukur sejarah yang merupakan hal yang fundamental dalam kemajuan Jepang, sehingga apabila kita sebagai bangsa Indonesia mampu memiliki jiwa hingga sanggup mati demi negara maka itulah semangat cinta tanah air.

Bukan hanya saja dalam hal peperangan, maka seyogyanya kita pun dalam bidang pendidikan harus rela berkorban besar yang sama dengan Bushido, seperti hal yang pernah dikatakan oleh seseorang yang sangat memotivasi “Orang seperti saya walaupun miskin harta tetapi kaya akan semangat”, maka begitulah jiwa seorang jalan samurai. Rela mati mempertahankan semangat yang takkan pernah padam.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tuanguru.com/2012/08/semangat-bushido-jepang.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Bushido

 

 

 

 

ABSTRAK

Kehebatan Jepang bangkit dari kehancuran pasca bom atom Nagasaki dan Hiroshima oleh tentara Amerika pada perang dunia ke-2 dalam waktu singkat telah memukau dunia. Hal ini disebabkan oleh nilai-nilai tradisi yang mereka warisi yang juga mencengangkan dunia, yaitu lewat keberanian, kesetiaan, harga diri, mereka bersedia melakukan tindakan bunuh diri.

Ketika mendengar istilah bunuh diri, hal pertama yang akan terlintas dalam benak kita adalah seorang samurai atau kamikaze. Samurai yang sangat terkenal dengan keahlian perangnya dan keberanian yang tinggi, mampu melakukan tindakan bunuh diri sebagai sebuah wujud kesetiaan kepada tuannya atau terhadap negara untuk menjaga harga diri. Misalnya saja, Oda Nobunaga (1534-1582). Samurai yang sangat kejam dan pemberani ini telah dikenal dunia atas usahanya untuk menaklukkan seluruh Jepang. Disamping itu, ia juga telah menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah seorang samurai yang punya harga diri dan terhormat, dengan melakukan harakiri di saat-saat terjepit dalam serangan pengikutnya yang berkhianat, Akechi Mitsuhide. Ia lebih memilih mati daripada tertangkap dan menjadi tawanan musuh.

Semangat yang tinggi dan berkobar-kobar untuk mempertahankan harga diri dan negerinya setimpal atas kemurahan hati untuknya tetap mengabdi. Semangat ini adalah semangat bushido, yakni kode etik seorang samurai (prajurit) yang digunakan ketika kalah berperang, untuk menghindari jatuh ke tangan musuh, dan menghindari rasa malu karena kalah, serta sebagai wujud kesetiaan kepada daimyo. Daimyo ini merupakan sebutan tuan tanah di Jepang. Bunuh diri adalah tindakan perwujudan nilai-nilai tersebut.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kesalahan pandangan masyarakat tentang hara-kiri membuat salah satu kebudayaan Jepang ini mempunyai artia negative yang tidak sesuai dengan faktanya. Meskipun pada kenyataannya, tindakan hara-kiri para pelaku hara-kiri diluar konteks kemanusiaan. Akan tetapi, hara-kiri sebenarnya merupakan kebudayaan Jepang yang patut untuk dijadikan pelajaran dan ditiru bagi bangsa Indonesia. Dalam catatan, bukan ritual bunuh dirinya, akan tetapi makna dilakukannya hara-kiri.

Semangat yang tinggi dan berkobar-kobar untuk mempertahankan harga diri dan negerinya setimpal atas kemurahan hati untuknya tetap mengabdi. Semangat ini adalah semangat bushido, yakni kode etik seorang samurai (prajurit) yang digunakan ketika kalah berperang, untuk menghindari jatuh ke tangan musuh, dan menghindari rasa malu karena kalah, serta sebagai wujud kesetiaan kepada daimyo. Daimyo ini merupakan sebutan tuan tanah di Jepang. Bunuh diri adalah tindakan perwujudan nilai-nilai tersebut.

 Latar Belakang

Kesalahan pandangan masyarakat tentang hara-kiri membuat salah satu kebudayaan Jepang ini mempunyai artia negative yang tidak sesuai dengan faktanya. Meskipun pada kenyataannya, tindakan hara-kiri para pelaku hara-kiri diluar konteks kemanusiaan. Akan tetapi, hara-kiri sebenarnya merupakan kebudayaan Jepang yang patut untuk dijadikan pelajaran dan ditiru bagi bangsa Indonesia. Dalam catatan, bukan ritual bunuh dirinya, akan tetapi makna dilakukannya hara-kiri.

Makna hara-kiri yang sangat erat pada kalangan samurai pada pemerintahan Bakufu adalah pembuktian loyalitas, kesetiaan,dan tanggung jawab para samurai kepada atasannya atau bisa disebut ‘daimyo’.

Harakiri bukan acara bunuh diri biasa yang tanpa aturan. Ada ritual tersendiri untuk melakukan hara-kiri. Bahkan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk persiapan ritual hara-kiri.

MATERI DAN METODE

Kajian dalam artikel ini adalah definisi tentang hara-kiri, sejarah hara-kiri, motif hara-kiri dilakukan di jepang, ritual hara-kiri, contoh kejadian hara-kiri, dan efek yang terjadi di Negara Jepang karena adanya hara-kiri. Refrensi dalam artikel ini  penulis dapatkan dari beberapa sumber yang terdapat dalam website. Terkait dengan artikel yang penulis angkat,yaitu tentang budaya seppuku “hara-kiri” di Jepang.

PEMBAHASAN

  Sejarah Harakiri

Dari perspektif sejarah, perkembangan tradisi harakiri tidak dapat dilepaskan dari pengaruh beberapa kepercayaan masyarakat Jepang seperti Neo-Konfusius, Konfusius, Tao, Zen dan Shinto. Tindakan bunuh diri dibuat dalam sebuah ritual yang sering disebut harakiri atau secara harfiah berarti membelah perut.

Harakiri ( 腹切 り) (Hara = perut, Kiru = menusuk). Jadi, harakiri berarti tindakan menghukum diri sendiri dengan cara memotong perut. Walaupun demikian, orang Jepang sendiri jarang yang menggunakan kata Harakiri. Mereka lebih senang menggunakan kata Seppuku (切腹) yang memiliki arti yang sama dengan Harakiri.

Tindakan harakiri dianggap terhormat karena untuk melakukan ini, harus memiliki keberanian yang sangat luar biasa. Hal ini sangat menyiksa, ditambah lagi tidak boleh menunjukkan ekspresi ketakutan ataupun kesakitan karena hal tersebut merupakan hal yang memalukan bagi seorang samurai yang terhormat dan pemberani. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak ingin mempermalukan diri dengan menunjukkan ekspresi tersebut, maka ditugaskanlah seorang kaishaku yang bertugas untuk memenggal kepala si pelaku untuk mempercepat kematian tanpa harus berlama-lama tersiksa. Ritual inilah yang dikenal masyarakat dengan sebutan harakiri.

Pada awal masa pemerintahan Tokugawa, harakiri sering digunakan sebagai hukuman bagi para samurai yang telah melakukan kejahatan (sedangkan untuk orang biasa, mereka dipukuli sampai mati, atau dipenggal kepalanya). Peningkatan kematian disebabkan harakiri menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan hingga pada akhirnya harakiri pun dilarang. Semenjak saat itu, para samurai kemudian berganti pekerjaan berdasarkan keahlian lain yang mereka miliki, ada yang menjadi pedagang, ataupun pegawai pemerintahan. Bisa dikatakan regenerasi samurai mulai terhambat dan harakiri dalam sistem hukuman juga berkurang.

Akan tetapi, walaupun mereka tidak lagi bekerja sebagai samurai namun budaya harakiri telah melekat kuat pada pada diri mereka sehingga harakiri tetap dilakukan dan jumlah kematian pun semakin meningkat. Semangat ini juga telah dianut pada sebagian masyarakat Jepang yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan memilih cara bunuh diri sebagai bentuk penebusan atas kegagalan dan penyesalan yang mereka. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya tingkat bunuh diri yang terjadi di Jepang, seperti dilakukan oleh Far Easteren Economi Review (1983), Japan Times, dan Ministry of Health and Welfare (2006), menyebutkan tak kurang dari 3.000 kasus bunuh diri terjadi di Jepang. Walaupun dengan cara yang berbeda, tetapi tetap saja penghilangan nyawa masih dianggap sebagai jalan akhir yang dapat ditempuh.

Melihat keprihatinan ini pemerintah melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab bunuh diri agar dapat dilakukan tindak pencegahannya. Namun sampai sekarang belum terdengar hasilnya. Masih banyak yang melakukan bunuh diri oleh kalangan non Samurai yang membuat masyarakat Jepang resah. Aksi bunuh diri ini kerap melanda warga biasa. Mulai dari seniman, pelajar, hingga pejabat yang merasa malu karena terlibat skandal. Terlebih lagi “tradisi” ini makin berkembang dengan beragam cara, mulai dari menusukkan pisau ke perut seperti yang dilakukan oleh kaum samurai, menenggak racun, gantung diri, menabrakan diri di kereta, hingga loncat dari ketinggian tertentu yang mematikan. Beberapa publikasi menyebut, pemerintah Jepang mengeluarkan anggaran yang sangat besar guna menghentikan ”tradisi” bunuh diri di Jepang.

Di saat pemerintah sibuk mengatasi tingkat bunuh diri, para seniman Jepang tetap melestarikan harakiri dalam sebuah pertunjukkan panggung sandiwara, sebagai salah satu budaya Jepang. Akan tetapi, bukan bertujuan untuk memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk melakukan harakiri, tapi untuk mempertunjukkan kepada masyarakat umum sebagai sebuah hiburan. Salah satu pertunjukan teater musikal yang sangat terkenal adalah Kabuki. Kabuki yang diperuntukan bukan untuk kelas bangsawan ataupun samurai, tapi untuk masyarakat biasa ini, lebih membahas tentang tema-tema terlarang yang digambarkan dengan sangat detail. Kabuki yang sudah ada sejak tahun 1600-an inilah harakiri dimainkan dengan sangat detail.

Motif Harakiri

  1. HARGA DIRI, dengan motif ini, para samurai melakukan bunuh diri demi menjaga harga dirinya. Tindakan kamikaze di saat PD II pun digolongkan dalam motif ini. Jepang tidak ingin sejengkal pun tanah mereka di injak oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Hingga dengan cara apapun, pergerakan musuh mereka harus ditahan. Kisah pertempuran di Iwojima menunjukkan heroisme tentara Jepang yang melakukan pertempuran hingga titik tenaga dan titik darah terakhir. Ken Watanabe yang berperan sebagai seorang samurai melakukan adegan harakiri demi menjaga harga dirinya ketimbang bertekuk lutut pada tentara. Sehingga tidaklah aneh apabila para korban harakiri tersebut mendapatkan penghormatan yang besar dari masyarakat, termasuk dari orang yang pada masa hidup tidak menyukainya.
  2. MALU, Motif ini paling dominan dilakukan oleh pelaku harakiri di masa kini. Motif “tidak bisa menahan malu” dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pejabat, akademisi, hingga rakyat biasa. Tahun 2007 kita masih ingat “kejutan” di jajaran Kabinet Shinzo Abe (PM Jepang pengganti Koizumi) dengan tewasnya Menteri Pertanian akibat kasus bunuh diri. Diyakini, tindakan tersebut dilakukan karena Sang Menteri tidak bisa menahan malu akibat skandal kasus korupsi yang diduga membelitnya. Di tahun yang 2006, seorang professor tewas bunuh diri di dalam laboratoriumnya (Universitas Osaka) yang diduga melakukan pemalsuan data risetnya dalam sebuah jurnal ilmiah terkemuka dibidang bioscience. Kelompok pelaku bunuh diri ini didorong oleh ketidakmampuan mereka menahan malu akibat kasus-kasus yang menimpanya.
  3. BALAS DENDAM. Pada kasus ini, biasanya dilakukan oleh seseorang yang kecewa pada keluarganya. Misalnya seorang anak yang merasa tidak diperlakukan adil, dan lain sebagainya. Tindakan bunuh diri dilakukan dengan menabrakan diri pada kereta api. Dengan tindakan seperti ini, umumnya keluarga si pelaku akan kerepotan karena dikenai tuntutan mengganggu ketertiban umum. Keluarga pelaku akan dituntut membayar ganti rugi oleh perusahaan kereta akibat keterlambatan yang disebabkan oleh peristiwa tabrakan tersebut. Bukan hanya itu, keluarga pelaku juga harus menanggung kerugian dan meminta maaf pada semua penumpang yang merasa dirugikan dengan kejadian ini. Repotnya keluarga inilah yang dimaksudkan dengan upaya “balas dendam” si pelaku.
  4. KEADAAN EKONOMI YANG TIDAK BAIK (alasan terbanyak karena kehilangan pekerjaan/ bukan karena kemiskinan). Pria setengah baya sekalipun akan setia bekerja terus puluhan tahun di perusahaan yang sama. Kehilangan pekerjaan membuat kehilangan harga diri dan diliputi rasa malu terhadap tanggung jawab pada keluarganya. Diantara motif bunuh diri ini karena ingin agar keluarganya mendapat warisan asuransi jiwa. Bunuh diri juga tidak didasarkan karena alasan malu saja, tapi sebagai artikulasi protes pada perusahaan atau bentuk permintaan maaf atas ketidakmampuan keluarganya. Jadi berbanding terbalik dengan logika umum, filosofi bunuh diri di Jepang malah bisa dianggap sebagai tindakan moral dan bentuk pertanggungjawaban.

  Ritual(tata upacara) Harakiri

Menurut pandangan diluar bangsa Jepang, harakiri dianggap tindakan bunuh diri. Akan tetapi, bagi orang Jepang sendiri pada masa sebelum pemerintahan Meiji kematian dengan cara harakiri adalah tindakan mulia dan terhormat. Harakiri dilakukan untuk menjaga kehormatan dan penebusan dosa.

Harakiri bukanlah sekedar bunuh diri secara begitu saja, melainkan melalui upacara ritual yang jelas dan telah ditentukan sebelumnya. Upacara Harakiri ini telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Sebelumnya orang melakukan harakiri harus mendapatkan seorang pendamping sebagai asisten yang berfungsi sebagai algojo. Sang algojo ini mendapatkan tugas untuk memancung kepala dari orang yang melakukan harakiri. Seorang yang akan melakukan harakiri, dilarang mengeluh, menggerang, mengaduh ataupun memperlihatkan wajah nyeri ataupun takut pada saat ia mau mati. Ia harus mati dengan tabah dan gagah. Untuk menghindari terjadinya hal ini, maka setelah sang pelaku harakiri menusukkan pisau ke perutnya, maka sang algojo harus segera memancung kepalanya dengan samurai. Dengan demikian ia bisa mempercepat proses kematian dan tidak perlu menderita. Asisten pembunuh ini lebih lazim dengan sebutan Kaishaku-Nin. Ilmu memancung kepala dengan cepat dan baik ini bisa dipelajari dan disebut Seiza Nanahome Kaishaku.

Para pelaku harakiri selalu mengenakan baju putih yang melambangkan kebersihan dan kesucian.  Mereka menusuk perutnya dengan menggunakan pisau kecil berukuran 30 s/d 60 cm yang disebut Wakizashi atau Tanto yang kemudian dibungkus dengan kertas putih. Pisau tersebut ditusukan keperut 6 cm dibawah pusar yang disebut Tanden.  Berdasarkan ajaran Zen disitulah letak pusatnya Chi atau letaknya jiwa manusia. Mereka bukan hanya sekedar menusuk begitu saja melainkan harus dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah agar perutnya bisa benar-benar robek dan ususnya keluar. Prosedur merobek perut ini disebut Jumonji-giri.  Mereka melakukan harakiri disaksikanoleh beberapa orang, bahkan oleh anggota keluarganya
sendiri dan juga oleh bikshu Shinto.

Tata cara memotong perut memiliki aturan yang disesuaikan dengan seberapa besar seseorang yang akan ber-harakiri melakukan kesalahannya. Bila seorang samurai merasa kesalahannya biasa, namun menganggap hanya dapat ditebus dengan jalan harakiri, maka ia akan melakukan harakiri dengan cara memotong perut dari kiri ke kanan. Bila seorang samurai merasa kesalahannya begitu besar, maka ia akan melakukannya dengan cara memotong perut dari kiri ke kanan, kembali ke tengah, lalu ke atas membelah ulu hati. Bila ia masih merasa bersalah dan sulit untuk menebus kesalahannya dengan apa pun, maka kesalahan hanya dapat ditebus dengan cara melakukan harakiri dengan cara terakhir, yaitu dipenggal kepalanya oleh seorang Kaishaku-Nin . Sebelum mereka harakiri mereka menulis puisi kematian atau death poem (jisei no ku).

Ada sebuah perkataan dari seorang samurai, Hagakure, pada kurun ke- 18, yang terkandung dalam hukum ihwal kematian. Petikan berikut ini merupakan isi buku Hagakure : “Kita semua mau hidup. Dalam kebanyakan perkara, kita melakukan sesuatu berdasarkan apa yang kita suka. Tetapi, sekiranya tidak mencapai tujuan kita dan terus untuk hidup adalah sesuatu tindakan yang pengecut. Tiada keperluan untuk malu dalam soal ini. Ini adalah jalan samurai (bushido). Jika sudah ditetapkan jantung seseorang untuk setiap pagi dan malam, seseorang itu akan hidup walaupun jasadnya sudah mati. Dia telah mendapat kebebasan dalam jalan tersebut. Keseluruhan hidupnya tidak akan dipersalahkan dan dia akan mencapai apa yang dihayatinya.”.

Harakiri tidak dilakukan oleh kaum pria saja melainkan juga para samurai wanita meskipun jarang yang bertarung di medan perang namun para wanita ini terlatih dalam menggunakan kaiten (belati Jepang) & naginata, yang akan mereka gunakan untuk bunuh diri atau menyerang musuh dengan menjadikan diri mereka sebagai anak panah hidup (living spear). Akan tetapi, ritual harakiri bagi kaum wanita dilakukan dengan cara yang berbeda dan harus meminta izin terlebih dahulu. Harakiri tersebut dikenal dengan istilah Jigai. Dalam ritual ini, mereka tidak menusukkan pisau ke perut melainkan dengan memotong tenggorokannya atau dengan menusuk jantung menggunakan pisau/jepit rambut yang panjang dan tajam.

Contoh Kejadian Harakiri

a)      Kisah seorang samurai yang bernama Saigo Takamori, yang hidup pada Zaman Edo akhir mendekati era Meiji (1827-1877). Saigo Tkamori adalah pemimpin pemberontakan terhadap pemerintah. Dalam peperangan yang dikenal dengan pemberontakan setsuma, Saigo kalah dalam pergolakan akhirnya menghabisi hidupnya dengan cara hara-kiri.

b)      Pada tahun 1945 saat Perang Dunia ke-II, Harakiri berkembang menjadi sebuah adegan yang lebih dahsyat. Para pilot jepang menabrakan dirinya ke kapal-kapal sekutu untuk menghambat pergerakan musuh yang semakin dekat ke Jepang. Gerakan ini dikenal dengan nama “Kamikaze” (angin yang besar). Tindakan yang dilakukan Kamikaze pun tiada lain adalah harakiri yang diwujudkan dalam bentuk super “heroik”.

c)      Peristiwa yang terjadi di Tokyo pada 25 November 1970 . Pada hari itu seorang pengarang ternama bernama Yukio Mishima melakukan harakiri disebuah markas militer di Tokyo . Penulis novel Kinkakuji itu melakukan harakiri dibantu oleh beberapa anak buahnya. Mishima bersama sejumlah anak buahnya yang terlatih secara militer, hari itu menyerbu markas militer. Dia kemudian berpidato mengenai Jepang yang kehilangan keagungan klasik. Lalu di hadapan perwira tinggi yang ia sandera di markas tersebut, Mishima melakukan harakiri. Tak lama berselang, seorang pengikutnya yang setia, memenggal leher Mishima, sampai putus setelah empat kali pancung.

d)     Yorozu (587), dikenal sebagai pemberani yang mengakhiri hidupnya demi membela kaisar.

e)      Minatomo no Tametomo (1139-1170), mengakhiri hidupnya dengan membelah perut & telah membuatnya menjadi terkenal & dihormati sebagai seorang samurai pemberani.

f)       Minamoto Yorimasa (1106-1180), seorang samurai sekaligus penyair.

g)      Oda Nobunaga (1577), seorang samurai yang terkenal karena ambisinya untuk menaklukan semua wilayah Jepang.

h)      Nogi Maresuke (1849-1912), seorang jendral sekaligus tokoh penting dalam perang Jepang-Rusia.

Efek yang Terjadi di Negara Jepang

  1. SUNGGUH-SUNGGUH, pada zaman bakufu, adanya ajaran bushido, yang berkaitan dengan hara-kiri, masyarakat khususnya samurai dalam mengemban tugas sangat bersungguh sungguh. Kesungguhan ini dapat terlihat dengan jelas melalui cara kerja samurai pada masa itu, hal ini juga Nampak pada pekerja jepang zaman ini, etos kerja dan royalitas pada perusahaan tidak perlu diragukan lagi.
  2. BERTANGGUNG JAWAB, hara-kiri yang seyogyanya sebagai symbol permintamaafan karena gagal mengemban tugas, menjadikan samurai memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Bagi mereka, lebih baik mati daripada tidak bertanggung jawab atas kegagalan yang telah dilakukannya.
  3. KESETIAAN, hara-kiri, merupakan bukti kesetiaan yang mengajarkan para amurai untuk setia terhadap tuannya dan Negara.
  4. LOYALITAS, adanya hara-kiri dalam kalangan samurai menunjukkan besarnya loyalitas seorang samurai pada atasannya.
  5. KEBERANIAN, hanya orang-orang yang mempunyai keberanian yang mampu melakukan hara-kiri. Oleh karena itu, pada zaman bakufu, masyarakat jepang khususnya samurai, mempunyai keberanian yang sangat besar, dikarenakan ajaran bushido dan keteguhan hati para samurai.
  6. PENUTUP

 

KESIMPULAN

Bagi orang Jepang pada masa sebelum pemerintahan Meiji, kematian dengan cara harakiri adalah tindakan mulia dan terhormat. Harakiri dilakukan untuk menjaga kehormatan dan penebusan dosa. Harakiri lahir dalam masyarakat samurai ( golongan pendekar pada masa feodalisme Jepang ). Hara (腹)artinya ’perut’ dan kiri (切) artinya ’memotong’. Jadi, harakiri berarti tindakan menghukum diri sendiri dengan cara memotong perut.

Seorang ksatria Samurai yang akan ”bunuh diri”, melakukan beberapa persiapan. Diantaranya: mandi, mengenakan pakaian terbaik dan biasanya warna putih, memakan makanan yang paling disukai, dan meletakkan alat-alat pembunuh di atas sebuah nampan. Setelah itu, lalu menulis puisi kematian (death poem) yang seindah mungkin. Terakhir, ia harus menyiapkan pisau yang akan digunakan memotong perutnya sendiri, yaitu sebuah pisau pendek yang tajam (bernama Tanto). Tata cara memotong perut memiliki aturan yang disesuaikan dengan seberapa besar seseorang yang akan ber-harakiri melakukan kesalahannya. Bila seorang samurai merasa kesalahannya biasa, namun menganggap hanya dapat ditebus dengan jalan harakiri, maka ia akan melakukan harakiri dengan cara memotong perut dari kiri ke kanan. Bila seorang samurai merasa kesalahannya begitu besar, maka ia akan melakukannya dengan cara memotong perut dari kiri ke kanan, kembali ke tengah, lalu ke atas membelah ulu hati. Bila ia masih merasa bersalah dan sulit untuk menebus kesalahannya dengan apa pun, maka kesalahan hanya dapat ditebus dengan cara melakukan harakiri dengan cara terakhir, yaitu dipenggal kepalanya oleh seorang Kaishaku-Nin. Mereka melakukan harakiri disaksikan oleh beberapa orang, bahkan oleh anggota keluarganya sendiri dan juga oleh bikshu Shinto.

Harakiri bukan dilakukan oleh pria saja tetapi juga oleh kaum perempuan. Mereka menusukkan jarum rambut atau pisau ke ulu hatinya. Harakiri perempuan ini disebut jigai. Harakiri sebagai bentuk hukuman telah resmi dihapuskan setelah restorasi Meiji pada tahun 1873, tetapi harakiri secara sukarela belum sepenuhnya hilang. Pada tahun 1985 beberapa orang anggota militer melakukan bunuh diri sebagai bentuk protes menolak dikembalikannya wilayah China setelah meninggalnya kaisar Meiji dan lebih banyak lagi tentara serta rakyat yang lebih memilih mati daripada menyerah di akhir PD (Perang Dunia) II.

SARAN

Makna dari kebudayaan hara-kiri harus dijaga, yaitu kebertanggungjawaban, kesetiaan, royalitas, kebaranian. Akan tetapi, praktek hara-kiri sendiri, bunuh diri, harus dicegah. Kemunculan hara-kiri yang memang didasarkan dari ajaran bushido, sepatutnya dikaji lebih dalam juga, guna mengkarifikasikan pengertian negatife yang selama ini ada di kalangan masyarakat luar Jepang. Penggalian tentang makna hara-kiri, juga sepatutnya dijadikan Indonesia sebagai contoh teladan, agar tidak ada lagi ketidakbertanggungjawaban di dalam masyarakat Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Ranjabar, Agata P. 2008. HARAKIRI Kepahlawanan Samurai Jepang. Yogyakarta : Pinus Book Publisher

http://andirascalz.blogspot.com/2009/06/harakiri-tradisi-orang-jepang.html. Harakiri Tradisi Orang Jepang

http://id.wikipedia.org/wiki/Seppuku. Seppuku

http://kyushu.com/gleaner/editorspick/seppuku.shtml. Seppuku

http://sosbud.kompasiana.com/2011/04/20/budaya-harakiri-jepang-dan-budaya-tabea-untuk-indonesiaku/. Budaya Harakiri Jepang dan Budaya Tabea Untuk Indonesiaku

http://www.infocs75-harakiri.blogspot.com/. Harakiri

http://www.infocs75-harakiri.blogspot.com/ .Harakiri

 

 

 

Pemuda Jepang mencoba membuktikan keberanian mereka dengan menaiki batang pohon raksasa menuruni buki curam dalam upacara aneh Ki-otoshi di Jepang.

Keberanian bukan kata pertama ketika melihat kasus dari upacara rolling-log di Jepang. Tapi itu adalah apa yang orang-orang ini lakukan. Tampaknya membuktikan selama upacara Ki-otoshi mereka naik kayu raksasa dengan ditarik tali untuk menurui bukit curam.

Festival Jepang ini sangat terkenal yang diadakan setiap 6 tahun di Danau Suwa. Onbashira berarti “pilar terhormat” dan terdiri atas dua bagian: Yamadashi yang biasanya diadakan pada bulan April dan Satobiki dirayakan di bulan Mei. Para pria mempersiapkan diri untuk bagian pertama dengan menebang pohon-pohon besar yang akan digunakan sebagai log atau “kendaraan” nanti. Selama Yamadashi, peserta harus menyeret balok raksasa menuruni gunung. Para peserta menunjukkan bagaiaman berani dalam “Ki-otoshi”, upacara dengan megnendari kutub pohon di lereng. Ini agak spektakuler. Penyaradan dan lompatan di atas medan kasar, pada batang pohon dan terjatuh untuk menuruni lereng curam.

Seseorang selalu terluka. “Aku jatuh dan patah tulang rusuk pada waktu saya ke bawah”, kata Kazuaki miyasaka, koki 60 tahun, setelah mengambil bagian dalam upacara pada tahun 2004.

Kegiatan ini merupakan bagian dari segmen Yamadishi, sebuah festival Jepang yang disebut Onbashira, festival “Pilar Suci”. Onbashira adalalah upacara kuno yang sudah dirayakan di wilayah Danau Suwa Nagano sejak 1.200 tahun silam.

Sebelum Yamadishi, yang berarti”keluar dari pegunungan”, pohon-pohon besar ditebang dengan kapak dibuat khusus untuk acara itu.

Pohon itu dihiasi dengan warna tradisional upacara Shinto, erah dan putih. Kemudian tali yang terpasang akan diseret oleh tim laki-laki untuk menuruni bukit menuju empat kuil dari Suwa Taisha. Di bagian Satobiki festival, kayu secara khusus ditempatkan untuk mendukung fondasi rumah suci itu.

Enam belas batang pohon digunakan, empat untuk setiap kuil, dalam upaya untuk memperbaharui kekuatan kuil. Pria duduk di atas kayu sebagai tanda mereka dibangkitkan dan bernyanyi untuk menandai kesempatan tersebut.

Onbashira ini juga digelar pada saat upacara pembukaan Olimpiade Nagano pada tahun 1998. Saat pasca gempa, apakah kegiatan tersebut masih tetap jalan?

 

GEISHA

Posted: 22 Mei 2012 in BUDAYA DUNIA, BUDAYA JEPANG

Tulisan Geisha, arti: “seniman”.

Geisha juga grup musik Indonesia, lihat Geisha (grup musik).

Geisha (bahasa Jepang:芸者 “seniman”) adalah seniman-penghibur (entertainer) tradisional Jepang. Kata geiko digunakan di Kyoto untuk mengacu kepada individu tersebut. Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak. “Geisha” dilafalkan dalam bahasa Inggris:/ˈgeɪ ʃa/ (“gei-”“may”). Di Kansai, istilah “geiko” (芸妓) dan geisha pemula “maiko” (舞妓) digunakan sejak Restorasi Meiji. Istilah “maiko” hanya digunakan di distrik Kyoto. Pengucapan ˈgi ʃa (“gei-”“key”) atau “gadis geisha” umum digunakan pada masa pendudukan Amerika Serikat di Jepang, mengandung konotasi prostitusi. Di Republik Rakyat Cina, kata yang digunakan adalah “yi ji,” yang pengucapannya mirip dengan “ji” dalam bahasa Mandarin yang berarti prostitusi.

Geisha belajar banyak bentuk seni dalam hidup mereka, tidak hanya untuk menghibur pelanggan tetapi juga untuk kehidupan mereka. Rumah-rumah geisha (“Okiya“) membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian melatih mereka. Semasa kanak-kanak, geisha seringkali bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai geisha pemula (maiko) selama masa pelatihan.

Pada bulan Desember 2007, distrik Asakusa di Tokyo telah menjadi saksi atas debut Sayuki (紗幸), geisha Barat non-Jepang pertama di sejarah Jepang. Asalnya, Sayuki menjadi geisha untuk proyek akademik, tapi sekarang berniat untuk melanjutkan pekerjaannya itu. “Sayuki: inside the flower and willow world” akan dipublikasikan oleh Pan Macmillan Australia. Sebuah film dokumenter tentang hidup seorang geisha juga sedang direncanakan.

Referensi

1. Tabeta ato, sugu yoko ni naruto, ushi ni naru!

Arti dari kalimat di atas adalah: “Kalau habis makan langsung rebahan bisa jadi sapi!” kutukan kah??

Saat ini, meski zaman telah modern, banyak orang tua Jepang yang masih memperingati anaknya dengan kata-kata seperti di atas. Secara jelas alasan kenapa kata-kata ini dipakai tidak diketahui. Tapi jika dianalisa, zaman dahulu Jepang berbeda dengan zaman sekarang yang serba canggih, mereka dulu harus bekerja keras agar dapat hidup (terutama setelah pemboman Nagasaki & Hiroshima). Agar anak-anak bersedia membantu orang tua bekerja di ladang, mereka selalu mengatakan “Tabeta ato, sugu yoko ni naruto, ushi ni naru!” (Kalau habis makan langsung rebahan bisa jadi sapi!)

Sedangkan di zaman sekarang kenapa orang tua masih menyampaikan kepercayaan ini pada anak-anaknya ialah karena mereka ingin memperingati bahwa:
” Tidak sopan – sikap buruk, jika setelah makan langsung rebahan”

2. Hinakazari wo hayakushimawanaito, yome ni ikiokureru.

Arti dari kalimat di atas adalah: “Kalau hiasan boneka `hina` tidak segera disimpan, bakalan telat nikah.”

Seperti kita ketahui, setiap tanggal 3 bulan Maret Jepang menyelenggarakan perayaan `Hina Matsuri` . Maksud dari perayaan ini adalah sebagai ucapan terima kasih kepada sang pencipta karena telah memberikan anak perempuan. Selain itu tujuan upacara ini adalah meminta keberkahan kesehatan untuk anak mereka yang perempuan.

Pada perayaan Hina Matsuri setiap keluarga yang memiliki anak perempuan, sejak bulan Februari harus memajang boneka `Hina` di ruangan tengah, yang terdiri dari pasangan putri dan pangeran disertai para dayang dan pengawalnya. Pajangan boneka Hina ini, harus segera disimpan atau dirapikan jika telah lewat dari tanggal 3 Maret. Apabila tidak segera dirapikan untuk disimpan, mereka percaya bahwa si anak perempuan tersebut akan telat menikah nantinya.

Jika dilihat dari rata-rata umur menikah orang Jepang saat ini yang berkisar diatas 30 tahunan, mereka percaya salah satu penyebabnya adalah “Hinakazari wo hayakushimawanaito, yome ni ikiokureru” (Kalau hiasan boneka `hina` tidak segera disimpan, bakalan telat nikah)

3. Shitewa ikenai koto

Shitewa ikenai koto artinya sesuatu hal tidak boleh dikerjakan. Dalam kepercayaan Jepang, ada beberapa hal yang tidak boleh dikerjakan seseorang karena mengandung firasat buruk, diantaranya:

- Tidak boleh menyuguhkan makanan dengan jumlah empat (4) buah.
kayak ini kali maksudnya

Angka empat (4) dalam bahasa jepang selain dibaca `Yon` juga dibaca `Shi`. Kata `Shi` sendiri berarti “kematian”. Berdasarkan hal tersebut, jika kita menyuguhkan kue dengan jumlah empat, maka seolah kita mengundang kematian. Orang yang memakannya akan segera meninggalkan dunia fana.

Yakuza Tattoos

Posted: 20 Februari 2011 in BUDAYA DUNIA, BUDAYA JEPANG, Yakuza
Tag:

Penampilan fisik Shoko Tendo tidak berbeda dengan perempuan muda Jepang lainnya. Dia baru terlihat beda setelah melepas pakaian dan memperlihatkan tato yang menghiasi hampir sekujur tubuhnya.
Posisinya sebagai seorang putri tokoh mafia Jepang, Yakuza, tidak bisa menolak saat tubuhnya dipenuhi rajah beraneka bentuk dan warna itu. Pada usianya yang genap 39 tahun, dia menerbitkan buku yang mengisahkan suka dukanya sebagai putri gangster lewat bukunya, Yakuza Moon.
Dalam buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris itu, dia mengatakan bahwa usaha polisi menangkapi anggota gangster malah membuat pelaku kejahatan tersebut sulit ditemukan dan dilacak. “Semakin keras polisi berusaha, semakin cepat yakuza bersembunyi di bawah tanah dan membuat aktivitas mereka bertambah sulit dilacak,” katanya saat diwawancarai Reuters.
Tendo bisa mengungkapkan itu karena dia adalah putri bos Yamaguchi-gumi, yakuza terbesar di Jepang. Yamaguchi-gumi digambarkan sebagai kelompok yakuza elite dengan dandanan ala gangster Italia lengkap dengan jas, mobil impor nan mewah, serta motor Harley-Davidson.

Dibesarkan dengan ide kuat mengenai kehormatan, Tendo tumbuh sebagai anak yang dimanja. Dan, untuk menunjukkan statusnya, kulit Tendo ditato lelaki yang kerap mengunjungi rumah keluarganya.

Di luar rumah, dia sering mendapatkan ejekan. Dia pun terperosok sebagai pecandu narkoba. Kehidupan Tendo berputar di dunia gangster ketika menjadi kekasih beberapa pemimpin gangster.
Tetapi, dunia gelap Tendo berubah ketika kematian mulai mendekatinya. Saat itu, dia dipukuli dan mengalami overdosis obat. “Kejadian itu mengubah hidup saya,” katanya.
Sekarang, dia mengaku sudah menjauhi dunia yakuza yang dia nilai kehilangan tradisi mereka secara drastis. Menurut dia, tidak sulit menjadi anggota gang di Jepang. Sampai sekarang pun, gang-gang tersebut mudah ditemui.
Sebelumnya, gang-gang itu kerap bekerja sama dengan kepolisian untuk menyerahkan tersangka dari tindakan kejahatan yang dilakukan yakuza. Tetapi, kerja sama antara polisi dan gang terhenti ketika hukum kejahatan terorganisasi diperketat pada 1992.
Saat ini, pemasukan terbesar yakuza diperoleh dari kepemilikan saham, properti, dan keuangan. “Yakuza menjadi lebih testruktur seperti mafia Amerika Serikat. Yakuza juga memperluas jaringan mereka antara ahli-ahli bisnis dan ahli kekerasan,” kata Manabu Miyazaki, penulis yang ayahnya juga yakuza. (rtr/tia)

source : http://www.jawapos.com

Kimono Jepang

Posted: 20 Februari 2011 in BUDAYA DUNIA, BUDAYA JEPANG, Kimono

 

Yang ngaku suka dengan Jepang pasti tau yang namanya kimono.

Kimono adalah pakaian tradisional negara Jepang untuk pria dan wanita yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Baru pada jaman Edo, kimono mengalami perubahan yang sampai sekarang masih dipertahankan, yaitu lengan kimono yang sedikit lebih panjang bagi wanita yang belum menikah dan obi (sabuk lebar untuk mengencangkan kimono) yang semakin besar.

Kimono (着物?) adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang).

Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf “T“, mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zōri atau geta.

Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode.[1] Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono.[2] Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).

Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode). Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkan furisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.

Sebagai pembeda dari pakaian Barat (yōfuku) yang dikenal sejak zaman Meiji, orang Jepang menyebut pakaian tradisional Jepang sebagai wafuku (和服?, pakaian Jepang). Sebelum dikenalnya pakaian Barat, semua pakaian yang dipakai orang Jepang disebut kimono. Sebutan lain untuk kimono adalah gofuku (呉服?). Istilah gofuku mulanya dipakai untuk menyebut pakaian orang negara Dong Wu (bahasa Jepang : negara Go) yang tiba di Jepang dari daratan Cina.

Tapi kalo soal harga dan cara bikinnya, kimono gak ada gampangnya. Kimono yang berbahan dasar sutra bisa dihargai Rp 50 juta keatas, bahkan ada yang sampai Rp 300 juta untuk satu set lengkap bersama obi, geta (sendal khusus kimono) dan aksesoris lainnya. Cara memakainya pun tidak sembarangan dan ada namanya sendiri, yaitu Kitsuke.

Makanya jangan heran kalo orang-orang Jepang sendiri gak sanggup beli kimono sutra. Biasanya para orangtua-lah yang mewariskan kimono sutranya. Hanya para pejabat, artis, pesumo tingkat satu dan keluarga kerajaan yang sanggup gonta-ganti kimono sutra.

Lalu bagaimana bisa banyak orang Jepang pake kimono?

Untuk pesta pernikahan, mereka memang sewa kimono sutra perhari, tapi untuk pesta-pesta nonformal seperti festival kembang api dan pesta tahun baru, mereka membeli dan memakai yukata.

Singkatnya, yukata adalah kimono yang bersifat kasual, lebih santai dan lebih sederhana. Yukata mengandung arti pakaian mandi, karena pada awalnya yukata hanya dipakai pada waktu sebelum dan sesudah mandi.

Tapi sekarang pemakaian yukata tidak terbatas. Kapan saja boleh dipakai. Di musim panas akan lebih banyak lagi orang yang memakai yukata karena mereka merasa sejuk.

Jenis Kimono

Banyak orang tidak tahu kalau kimono itu banyak jenisnya, sesuai dengan tingkat formalitas dan status pemakainya.

Uchikake (打掛) adalah kimono formal yang berwarna berwarna putih atau merah terang yang dipakai oleh sang pengantin di hari pernikahannya.

Kurotomesode (黒留袖) adalah kimono formal berwarna hitam yang dipakai oleh para orangtua di hari pernikahan anaknya.

Furisode (振袖) adalah kimono yang dipakai oleh wanita yang belum menikah di acara-acara formal dan Seijin shiki (成人式), upacara tradisional untuk merayakan sang remaja perempuan yang beranjak dewasa.

Irotomesode (色留袖) adalah kimono semiformal yang dipakai oleh wanita yang telah menikah untuk menghadiri upacara pernikahan keluarganya.

Homongi (訪問着), Tsukesage (付け下げ) dan Edo Komon (江戸小紋) adalah kimono-kimono semiformal yang boleh dipakai oleh wanita yang telah menikah maupun yang belum menikah untuk menghadiri acara-acara formal dan semiformal.

Maiko Hikizuri (舞妓の引きずり) atau Susohiki (すそ引き) adalah kimono-kimono yang dipakai khusus oleh para geisha dan maiko.

Iromuji (色無地) adalah kimono yang dipakai untuk upacara minum teh.

Dan yang terakhir adalah Yukata (浴衣).

Umumnya yukata berbahan dasar katun dan dibikin dengan mesin pabrik, lain dengan kimono sutra yang dijahit sepenuhnya oleh tangan-tangan ahli. Karena itu harga yukata pun jauh berbeda dengan kimono sutra dan terjangkau oleh semua orang.

Sekarang ini kimono memang telah banyak dimodifikasi untuk mengikuti perkembangan mode dan minat kawula muda yang suka dengan kebebasan (harajuku), manga dan anime modern (cosplay). Walaupun begitu, kimono tradisional tetap menjadi primadona.

Kimono wanita

Kurotomesode dengan 5 buah lambang keluarga

Pemilihan jenis kimono yang tepat memerlukan pengetahuan mengenai simbolisme dan isyarat terselubung yang dikandung masing-masing jenis kimono. Tingkat formalitas kimono wanita ditentukan oleh pola tenunan dan warna, mulai dari kimono paling formal hingga kimono santai. Berdasarkan jenis kimono yang dipakai, kimono bisa menunjukkan umur pemakai, status perkawinan, dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.

Tomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam). Kurotomesode memiliki lambang keluarga (kamon) di tiga tempat: 1 di punggung, 2 di dada bagian atas (kanan/kiri), dan 2 bagian belakang lengan (kanan/kiri). Ciri khas kurotomesode adalah motif indah pada suso (bagian bawah sekitar kaki) depan dan belakang. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.

Gadis mengenakan furisode

Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Bergantung kepada tingkat formalitas acara, pemakai bisa memilih jumlah lambang keluarga pada kain kimono, mulai dari satu, tiga, hingga lima buah untuk acara yang sangat formal. Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar. Sama halnya seperti kurotomesode, ciri khas irotomesode adalah motif indah pada suso.
Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atau hatsumode. Pakaian pengantin wanita yang disebut hanayome ishō termasuk salah satu jenis furisode.
Hōmon-gi (訪問着?, arti harfiah: baju untuk berkunjung) adalah kimono formal untuk wanita, sudah menikah atau belum menikah. Pemakainya bebas memilih untuk memakai bahan yang bergambar lambang keluarga atau tidak. Ciri khas homongi adalah motif di seluruh bagian kain, depan dan belakang. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.[3]
Iromuji adalah kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Sesuai dengan tingkat formalitas kimono, lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada). Iromoji dibuat dari bahan tidak bermotif dan bahan-bahan berwarna lembut, merah jambu, biru muda, atau kuning muda atau warna-warna lembut. Iromuji dengan lambang keluarga di 5 tempat dapat dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga.
Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Menurut tingkatan formalitas, kedudukan tsukesage hanya setingkat dibawah homongi. Kimono jenis ini tidak memiliki lambang keluarga. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.[3]
Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas kimono jenis ini adalah motif sederhana dan berukuran kecil-kecil yang berulang.[3] Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.
Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Walaupun demikian, kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti ketika berbelanja dan berjalan-jalan. Bahan yang dipakai adalah kain hasil tenunan sederhana dari benang katun atau benang sutra kelas rendah yang tebal dan kasar.[3] Kimono jenis ini tahan lama, dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.
Yukata adalah kimono santai yang dibuat dari kain katun tipis tanpa pelapis untuk kesempatan santai di musim panas.

Kimono pria

Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam.

Bagian punggung montsuki dihiasi lambang keluarga pemakai. Setelan montsuki yang dikenakan bersama hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional. Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.
  • Kimono santai kinagashi
Pria mengenakan kinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Aktor kabuki mengenakannya ketika berlatih. Kimono jenis ini tidak dihiasi dengan lambang keluarga.

Sejarah

Zaman Jomon dan zaman Yayoi

Pakaian wanita pada sekitar tahun 1870

Kimono zaman Jomon dan zaman Yayoi berbentuk seperti baju terusan. Dari situs arkeologi tumpukan kulit kerang zaman Jomon ditemukan haniwa. Pakaian atas yang dikenakan haniwa disebut kantoi (貫頭衣?).

Dalam Gishiwajinden (buku sejarah Cina mengenai tiga negara) ditulis tentang pakaian sederhana untuk laki-laki. Sehelai kain diselempangkan secara horizontal pada tubuh pria seperti pakaian biksu, dan sehelai kain dililitkan di kepala. Pakaian wanita dinamakan kantoi. Di tengah sehelai kain dibuat lubang untuk memasukkan kepala. Tali digunakan sebagai pengikat di bagian pinggang.

Masih menurut Gishiwajinden, kaisar wanita bernama Himiko dari Yamataikoku (sebutan zaman dulu untuk Jepang) “selalu mengenakan pakaian kantoi berwarna putih”. Serat rami merupakan bahan pakaian untuk rakyat biasa, sementara orang berpangkat mengenakan kain sutra.

Zaman Kofun

Pakaian zaman Kofun mendapat pengaruh dari daratan Cina, dan terdiri dari dua potong pakaian: pakaian atas dan pakaian bawah. Haniwa mengenakan baju atas seperti mantel yang dipakai menutupi kantoi. Pakaian bagian bawah berupa rok yang dililitkan di pinggang. Dari penemuan haniwa terlihat pakaian berupa celana berpipa lebar seperti hakama.

Pada zaman Kofun mulai dikenal pakaian yang dijahit. Bagian depan kantoi dibuat terbuka dan lengan baju bagian bawah mulai dijahit agar mudah dipakai. Selanjutnya, baju atas terdiri dari dua jenis kerah:

  • Kerah datar sampai persis di bawah leher (agekubi)
  • Kerah berbentuk huruf “V” (tarekubi) yang dipertemukan di bagian dada.

Zaman Nara

Aristokrat zaman Asuka bernama Pangeran Shotoku menetapkan dua belas strata jabatan dalam istana kaisar (kan-i jūnikai). Pejabat istana dibedakan menurut warna hiasan penutup kepala (kanmuri). Dalam kitab hukum Taiho Ritsuryo dimuat peraturan tentang busana resmi, busana pegawai istana, dan pakaian seragam dalam istana. Pakaian formal yang dikenakan pejabat sipil (bunkan) dijahit di bagian bawah ketiak. Pejabat militer mengenakan pakaian formal yang tidak dijahit di bagian bawah ketiak agar pemakainya bebas bergerak. Busana dan aksesori zaman Nara banyak dipengaruhi budaya Cina yang masuk ke Jepang. Pengaruh budaya Dinasti Tang ikut memopulerkan baju berlengan sempit yang disebut kosode untuk dikenakan sebagai pakaian dalam.

Pada zaman Nara terjadi perubahan dalam cara mengenakan kimono. Kalau sebelumnya kerah bagian kiri harus berada di bawah kerah bagian kanan, sejak zaman Nara, kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Cara mengenakan kimono dari zaman Nara terus dipertahankan hingga kini. Hanya orang meninggal dipakaikan kimono dengan kerah kiri berada di bawah kerah kanan.

Zaman Heian

Menurut aristokrat Sugawara Michizane, penghentian pengiriman utusan Jepang untuk Dinasti Tang (kentoshi) memicu pertumbuhan budaya lokal. Tata cara berbusana dan standardisasi protokol untuk upacara-upacara formal mulai ditetapkan secara resmi. Ketetapan tersebut berakibat semakin rumitnya tata busana zaman Heian. Wanita zaman Heian mengenakan pakaian berlapis-lapis yang disebut jūnihitoe. Tidak hanya wanita zaman Heian, pakaian formal untuk militer juga menjadi tidak praktis.

Ada tiga jenis pakaian untuk pejabat pria pada zaman Heian:

  • Sokutai (pakaian upacara resmi berupa setelan lengkap)
  • I-kan (pakaian untuk tugas resmi sehari-hari yang sedikit lebih ringan dari sokutai)
  • Noshi (pakaian untuk kesempatan pribadi yang terlihat mirip dengan i-kan).

Rakyat biasa mengenakan pakaian yang disebut suikan atau kariginu (狩衣?, arti harafiah: baju berburu). Di kemudian hari, kalangan aristokrat menjadikan kariginu sebagai pakaian sehari-hari sebelum diikuti kalangan samurai.

Pada zaman Heian terjadi pengambilalihan kekuasaan oleh kalangan samurai, dan bangsawan istana dijauhkan dari dunia politik. Pakaian yang dulunya merupakan simbol status bangsawan istana dijadikan simbol status kalangan samurai.

Zaman Kamakura dan zaman Muromachi

Pada zaman Sengoku, kekuasaan pemerintahan berada di tangan samurai. Samurai mengenakan pakaian yang disebut suikan. Pakaian jenis ini nantinya berubah menjadi pakaian yang disebut hitatare. Pada zaman Muromachi, hitatare merupakan pakaian resmi samurai. Pada zaman Muromachi dikenal kimono yang disebut suō (素襖?), yakni sejenis hitatare yang tidak menggunakan kain pelapis dalam. Ciri khas suō adalah lambang keluarga dalam ukuran besar di delapan tempat.

Pakaian wanita juga makin sederhana. Rok bawah yang disebut mo (裳?) makin pendek sebelum diganti dengan hakama. Setelan mo dan hakama akhirnya hilang sebelum diganti dengan kimono model terusan, dan kemudian kimono wanita yang disebut kosode. Wanita mengenakan kosode dengan kain yang dililitkan di sekitar pinggang (koshimaki) dan/atau yumaki. Mantel panjang yang disebut uchikake dipakai setelah memakai kosode.

Awal zaman Edo

Penyederhaan pakaian samurai berlanjut hingga zaman Edo. Pakaian samurai zaman Edo adalah setelan berpundak lebar yang disebut kamishimo (裃?). Satu setel kamishimo terdiri dari kataginu (肩衣?) dan hakama. Di kalangan wanita, kosode menjadi semakin populer sebagai simbol budaya orang kota yang mengikuti tren busana.

Zaman Edo adalah zaman keemasan panggung sandiwara kabuki. Penemuan cara penggandaan lukisan berwarna-warni yang disebut nishiki-e atau ukiyo-e mendorong makin banyaknya lukisan pemeran kabuki yang mengenakan kimono mahal dan gemerlap. Pakaian orang kota pun cenderung makin mewah karena iking meniru pakaian aktor kabuki.

Kecenderungan orang kota berpakaian semakin bagus dan jauh dari norma konfusianisme ingin dibatasi oleh Keshogunan Edo. Secara bertahap pemerintah keshogunan memaksakan kenyaku-rei, yakni norma kehidupan sederhana yang pantas. Pemaksaan tersebut gagal karena keinginan rakyat untuk berpakaian bagus tidak bisa dibendung. Tradisi upacara minum teh menjadi sebab kegagalan kenyaku-rei. Orang menghadiri upacara minum teh memakai kimono yang terlihat sederhana namun ternyata berharga mahal.

Tali pinggang kumihimo dan gaya mengikat obi di punggung mulai dikenal sejak zaman Edo. Hingga kini, keduanya bertahan sebagai aksesori sewaktu mengenakan kimono.

Akhir zaman Edo

Politik isolasi (sakoku) membuat terhentinya impor benang sutra. Kimono mulai dibuat dari benang sutra produksi dalam negeri. Pakaian rakyat dibuat dari kain sutra jenis crape lebih murah. Setelah terjadi kelaparan zaman Temmei (1783-1788), Keshogunan Edo pada tahun 1785 melarang rakyat untuk mengenakan kimono dari sutra. Pakaian orang kota dibuat dari kain katun atau kain rami. Kimono berlengan lebar yang merupakan bentuk awal dari furisode populer di kalangan wanita.

Zaman Meiji dan zaman Taisho

Industri berkembang maju pada zaman Meiji. Produksi sutra meningkat, dan Jepang menjadi eksportir sutra terbesar. Harga kain sutra tidak lagi mahal, dan mulai dikenal berjenis-jenis kain sutra. Peraturan pemakaian benang sutra dinyatakan tidak berlaku. Kimono untuk wanita mulai dibuat dari berbagai macam jenis kain sutra. Industri pemintalan sutra didirikan di berbagai tempat di Jepang. Sejalan dengan pesatnya perkembangan industri pemintalan, industri tekstil benang sutra ikut berkembang. Produknya berupa berbagai kain sutra, mulai dari kain krep, rinzu, omeshi, hingga meisen.

Tersedianya beraneka jenis kain yang dapat diproses menyebabkan berkembangnya teknik pencelupan kain. Pada zaman Meiji mulai dikenal teknik yuzen, yakni menggambar dengan kuas untuk menghasilkan corak kain di atas kain kimono.

Sementara itu, wanita kalangan atas masih menggemari kain sutra yang bermotif garis-garis dan susunan gambar yang sangat rumit dan halus. Mereka mengenakan kimono dari model kain yang sudah populer sejak zaman Edo sebagai pakaian terbaik sewaktu menghadiri acara istimewa. Hampir pada waktu yang bersamaan, kain sutra hasil tenunan benang berwarna-warni hasil pencelupan mulai disukai orang.

Tidak lama setelah pakaian impor dari Barat mulai masuk ke Jepang, penjahit lokal mulai bisa membuat pakaian Barat. Sejak itu pula, istilah wafuku dipakai untuk membedakan pakaian yang selama ini dipakai orang Jepang dengan pakaian dari Barat. Ketika pakaian Barat mulai dikenal di Jepang, kalangan atas memakai pakaian Barat yang dipinjam dari toko persewaan pakaian Barat.

Di era modernisasi Meiji, bangsawan istana mengganti kimono dengan pakaian Barat supaya tidak dianggap kuno. Walaupun demikian, orang kota yang ingin melestarikan tradisi estetika keindahan tradisional tidak menjadi terpengaruh. Orang kota tetap berusaha mempertahankan kimono dan tradisi yang dipelihara sejak zaman Edo. Sebagian besar pria zaman Meiji masih memakai kimono untuk pakaian sehari-hari. Setelan jas sebagai busana formal pria juga mulai populer. Sebagian besar wanita zaman Meiji masih mengenakan kimono, kecuali wanita bangsawan dan guru wanita yang bertugas mengajar anak-anak perempuan.

Seragam militer dikenakan oleh laki-laki yang mengikuti dinas militer. Seragam tentara angkatan darat menjadi model untuk seragam sekolah anak laki-laki. Seragam anak sekolah juga menggunakan model kerah berdiri yang mengelilingi leher dan tidak jatuh ke pundak (stand-up collar) persis model kerah seragam tentara. Pada akhir zaman Taisho, pemerintah menjalankan kebijakan mobilisasi. Seragam anak sekolah perempuan diganti dari andonbakama (kimono dan hakama) menjadi pakaian Barat yang disebut serafuku (sailor fuku), yakni setelan blus mirip pakaian pelaut dan rok.

Zaman Showa

Semasa perang, pemerintah membagikan pakaian seragam untuk penduduk laki-laki. Pakaian seragam untuk laki-laki disebut kokumin fuku (seragam rakyat). Wanita dipaksa memakai monpei yang berbentuk seperti celana panjang untuk kerja dengan karet di bagian pergelangan kaki.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, wanita Jepang mulai kembali mengenakan kimono sebelum akhirnya ditinggalkan karena tuntutan modernisasi. Dibandingan kerumitan memakai kimono, pakaian Barat dianggap lebih praktis sebagai pakaian sehari-hari.

Hingga pertengahan tahun 1960-an, kimono masih banyak dipakai wanita Jepang sebagai pakaian sehari-hari. Pada saat itu, kepopuleran kimono terangkat kembali setelah diperkenalkannya kimono berwarna-warni dari bahan wol. Wanita zaman itu menyukai kimono dari wol sebagai pakaian untuk kesempatan santai.

Setelah kimono tidak lagi populer, pedagang kimono mencoba berbagai macam strategi untuk meningkatkan angka penjualan kimono. Salah satu di antaranya dengan mengeluarkan “peraturan mengenakan kimono” yang disebut yakusoku. Menurut peraturan tersebut, kimono jenis tertentu dikatakan hanya cocok dengan aksesori tertentu. Maksudnya untuk mendikte pembeli agar membeli sebanyak mungkin barang. Strategi tersebut ternyata tidak disukai konsumen, dan minat masyarakat terhadap kimono makin menurun. Walaupun pedagang kimono melakukan promosi besar-besaran, opini “memakai kimono itu ruwet” sudah terbentuk di tengah masyarakat Jepang.

Hingga tahun 1960-an, kimono masih dipakai pria sebagai pakaian santai di rumah. Gambar pria yang mengenakan kimono di rumah masih bisa dilihat dalam berbagai manga terbitan tahun 1970-an. Namun sekarang ini, kimono tidak dikenakan pria sebagai pakaian di rumah, kecuali samue yang dikenakan para perajin.

Bisnis kimono

Bahan kain kimono adalah hasil dari kesenian tenun tradisional Jepang yang bernilai seni. Kimono untuk kesempatan formal hanya dibuat dari kain sutra kelas terbaik dan hanya dijahit dengan tangan (tidak memakai mesin jahit). Oleh karena itu, harga kimono sering menjadi sangat mahal. Kimono umumnya tidak pernah dijual dalam keadaan jadi, melainkan harus dipesan dan dijahit sesuai dengan ukuran badan pemakai.

Sewaktu membeli kain, tinggi badan pemakai tidak diperhitungkan. Bahan kimono dibeli dalam satu gulungan kain yang ditenun dengan sempurna tanpa cacat. Membeli kimono dimulai dengan pemilihan bahan kain kimono yang disebut tanmono (反物?, arti harfiah: gulungan kain dengan panjang 1 tan, atau sekitar 10,6 m). Bila kebetulan pemakai kimono bertubuh pendek dan ramping, setelah kimono selesai dijahit akan banyak bahan kimono yang tersisa. Sisa bahan kimono bisa dimanfaatkan untuk membuat aksesori pelengkap kimono, seperti tas, dompet, atau sandal.

Kain kimono dapat dibeli dengan harga lebih murah pada kesempatan obral bahan kelas dua yang disebut B-tan ichi (B反市?, arti harfiah: pasar kain kelas B) untuk membedakannya dari bahan kimono kelas A yang ditenun sempurna tanpa cacat. Walaupun bahan kain yang dibeli memiliki sedikit cacat, penjahit kimono yang berpengalaman dapat menyembunyikan bagian tenunan yang rusak. Setelah jadi, kimono dari pasar kain kelas B mungkin akan terlihat sama dengan kimono dari bahan sempurna.

Kimono yang dijahit dari bahan berkualitas tinggi merupakan benda warisan keluarga. Kimono bekas pakai masih mempunyai nilai jual tinggi, terutama karena ukuran kimono dapat disesuaikan dengan ukuran badan pemilik yang baru. Di Jepang bisa dijumpai toko-toko yang menjual kimono bekas pakai. Semasa Perang Dunia II, kimono pernah digunakan sebagai alat pembayaran sewaktu penduduk kota kekurangan pangan. Uangnya dipakai untuk membeli beras, telur, dan bumbu dapur seperti miso, dan gula.

Aksesori dan pelengkap

Hakama adalah celana panjang pria yang dibuat dari bahan berwarna gelap. Celana jenis ini berasal dari daratan Cina dan mulai dikenal sejak zaman Asuka. Selain dikenakan pendeta Shinto, hakama dikenakan pria dan wanita di bidang olahraga bela diri tradisional seperti kendo atau kyudo.
Geta adalah sandal berhak dari kayu. Maiko memakai geta berhak tinggi dan tebal yang disebut pokkuri
Kanzashi adalah hiasan rambut seperti tusuk konde yang disisipkan ke rambut sewaktu memakai kimono.
Obi adalah sabuk dari kain yang dililitkan ke tubuh pemakai sewaktu mengencangkan kimono
Tabi adalah kaus kaki sepanjang betis yang dipakai sewaktu memakai sandal.
Waraji adalah sandal dari anyaman tali jerami.
Zōri adalah sandal tradisional yang dibuat dari kain atau anyaman.

Referensi

  1. Dalby, Liza (2001). Kimono: Fashioning Culture. Washington, USA: University of Washington Press. ISBN0-295-98155-5.
  2. Sharnoff, Lora (1993). Grand Sumo. Weatherhill. ISBN0-8348-0283-x.
  3. 着付けと帯結び (Kitsuke to obi musubi). Tokyo: Sekai Bunkasha. 12 Mei 1996. hlm. 14-17. ISBN4-418-9613-3.

Sumber : http://id.wikipedia.org

Mitos Jepang

Posted: 20 Februari 2011 in BUDAYA JEPANG, Mitologi
Siapa Sebenarnya Kuchisake Onna?

Kuchisake Onna = 口裂け女
kalau kamu suka sama cerita-cerita horror dari Jepang, pasti udah gak asing lagi sama nama yang satu ini. Kuchisake Onna…

Kuchisake Onna
Legenda ini dikatakan berasal dari seorang perempuan muda bernama Kuchisake Onna yang hidup ratusan tahun yang lalu sebagai istri atau selir dari seorang samurai. Perempuan ini mempunyai wajah yang sangat cantik, karena itu sang samurai berkata tidak akan ada lagi wanita lain yang akan dicintainya.

Tapi rupanya cinta bertepuk sebelah tangan dan perempuan muda tersebut mengkhianati sang samurai dengan berselingkuh. Ketika rahasia gelapnya diketahui, sang samurai tentu merasa sangat cemburu dan langsung naik pitam.

Mata hatinya menjadi gelap dan akal sehatnya sirna. Dia langsung mencabut pedangnya dan membelah celah mulut sang perempuan dari telinga kanan ke telinga kiri. Dia lalu berkata, “Siapa yang akan berpikir kalau kamu cantik sekarang?!”

Mulut Kuchisake Onna menganga terbuka lebar, tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Yang ada hanya darah mengalir deras membasahi kimononya. Matanya melotot dan berlinang air mata menandakan bahwa dia sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Tapi tetap tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya.

Dibiarkan begitu saja oleh sang samurai selama berjam-jam lamanya, sampai akhirnya dia meninggal dunia. Karena matinya penasaran, arwahnya masih bergentayangan untuk terus mencari sang samurai dan menuntut balas dendam.

Julukannya adalah setan bermulut celah.

Kuchisake Onna
Singkat cerita, legenda ini diteruskan turun-temurun sampai sekarang. Mitos yang ada sekarang adalah mitos yang menyatakan bahwa seorang wanita menjelajah di malam hari dengan wajah tertutup oleh masker bedah.
Singkat cerita, legenda ini diteruskan turun-temurun sampai sekarang. Mitos yang ada sekarang adalah mitos yang menyatakan bahwa seorang wanita menjelajah di malam hari dengan wajah tertutup oleh masker bedah.

Ketika ia menemukan seorang laki-laki, dia malu-malu akan bertanya, “Apakah aku cantik?” (“Watashi kirei?”).

Jika orang itu menjawab “Ya,” maka ia akan melepas topeng dan berkata, “Bagaimana kalau sekarang?” (“Kore demo?”). Pada titik ini, jika korban menjawab “Tidak,” dia akan membunuh mereka atau memotong mulut mereka menyerupai miliknya dengan gunting atau pisau.

Tapi jika korban mengatakan dia tetap cantik untuk kedua kalinya (setelah sang perempuan membuka maskernya), ia mengikuti korban sampai ke rumah dan membunuh mereka di ambang pintu tempat tinggal mereka.

Jadi berhati-hatilah jika kalian berjalan sendirian di malam hari.

Setsubun (節分)

Kemaren tanggal 3 Februari orang-orang Jepang merayakan yang namanya hari Setsubun, yaitu festival melempar kacang.

Setsubun

Setsubun atau bisa disebut juga Risshun (立春) dirayakan setiap tanggal 3 Februari sebagai bagian dari festival musim semi (Haru Matsuri).

Dalam hubungannya dengan Tahun Baru Imlek, Haru Matsuri dan Setsubun sebelumnya dianggap sebagai semacam perayaan malam tahun baru yang disertai dengan ritual khusus untuk membersihkan segala roh-roh jahat yang berasal dari tahun lalu dan mengusir roh-roh pembawa penyakit di tahun yang baru. Ritual khusus ini disebut mamemaki (豆撒き) yang artinya melempar kacang.

Setsubun

Mamemaki biasanya dilakukan oleh toshiotoko (年男) yaitu sang kepala rumah tangga atau laki-laki yang shio-nya sama dengan tahun baru kalender China. Meskipun begitu sekarang malah lebih banyak anak-anak yang melempar kacangnya, sebagai simbol untuk mengusir roh jahat dari kehidupan mereka yang masih sangat panjang.

Kacang yang dilempar adalah jenis kacang kedelai yang dipanggang (disebut juga Fuku Mame). Kacang-kacang tersebut dilemparkan ke luar pintu atau kepada anggota keluarga yang mengenakan topeng Oni (setan atau raksasa), sambil menyanyikan lagu “Oni wa soto! Fuku wa uchi!” (鬼 は 外! 福 は 内!) yang artinya kira-kira seperti “Setan keluarlah! Keberuntungan masuklah!”

Tapi kenapa kacang ya? Karena orang-orang Jepang jaman dulu percaya kalau kacang-kacangan dapat membawa keberuntungan dengan memakannya minimal satu kali dalam setahun.

Yurei – Roh Halus Dari Jepang

Roh Halus = Yurei / 幽霊

Di Jepang, hantu dikenal sebagai Yurei. Kata “Yu” yang berarti halus atau samar-samar, dan “Rei” yang berarti roh atau arwah.

Mereka tidak memanggilnya dengan sebutan setan atau hantu atau jin.

Berdasarkan kepercayaan orang Jepang, semua manusia mempunyai roh atau arwah yang disebut sebagai reikon. Setelah seseorang meninggal, reikon akan pergi meninggalkan tubuhnya ke tempat penyucian arwah. Disana dia akan menunggu tubuhnya dikubur dan mendapatkan pemakaman yang layak.

Kalau semuanya berjalan lancar, reikon akan melindungi keluarganya yang masih hidup. Dan dipercaya bahwa arwah orang meninggal tersebut akan kembali ke keluarganya setiap tahun (yang kemudian dinamakan sebagai festival Obon).

Tapi kalau roh-roh tersebut tidak mendapatkan pemakaman yang layak, atau mungkin mereka meninggal karena dibunuh atau bunuh diri, reikon akan berubah menjadi yurei dan gentayangan di dunia manusia sampai rasa penasaran, amarah, dan dendam mereka hilang.

Yurei mempunyai wujud manusia yang memakai jubah kimono putih, tidak mempunyai kaki – alias melayang di udara, rambutnya panjang dan berwarna hitam. Umumnya, mereka juga dikelilingi oleh Hitodama, arwah yang berwujud api.

Yurei tidak gentayangan secara leluasa. Mereka selalu gentayangan tidak jauh dari tempat mereka meninggal. Orang Jepang percaya bahwa Yurei mulai gentayangan pada saat gerbang dunia roh dan dunia manusia hampir menyatu yaitu pada jam 2-3 pagi.

hantu jepang

Yurei sendiri pun terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan cara mereka meninggal…

Onryo: adalah roh gentayangan yang mempunyai rasa dendam. Mereka akan memburu orang-orang yang telah menyakitinya.

Goryo: adalah roh gentayangan yang juga mempunyai rasa dendam. Pada saat masih hidup mereka adalah orang-orang yang terpandang, kaya raya, atau mempunyai jabatan tinggi.

Ubume: adalah roh seorang ibu yang meninggal pada saat melahirkan atau roh yang meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil. Karena masih sayang pada anak-anaknya, mereka tidak rela untuk pergi ke dunia fana.

Funayurei: adalah roh orang-orang yang meninggal di laut.

Zashiki-warashi: adalah roh anak-anak. Mereka umumnya tidak berbahaya, tapi cukup nakal untuk mengganggu yang masih hidup.

Coba lihat dibelakangmu!

Tsuchinoko: Hewan Mitos Dari Jepang

Tsuchinoko = ツチノコ

Tsuchinoko, hewan mistik dari cerita dongeng atau mitos Jepang sejak jaman dulu, rupanya sangat terkenal untuk dijadikan bahan pembicaraan.

Tsuchinoko mempunyai bentuk seperti ular dengan panjang antara 30-80 cm dengan bagian tengah tubuhnya lebih lebar dari kepalanya dan mempunyai taring juga racun yang sama dengan ular.

mitos tsuchinoko dari jepang

Berdasarkan cerita legenda, tsuchinoko mempunyai kemampuan berbicara dengan manusia dan cenderung sering berbohong. Beberapa juga percaya kalau Tsuchinoko menyukai alkohol dan sanggup meloncat sejauh 1 meter.

Apakah tsuchinoko benar-benar ada? Selama ini belum pernah ada orang yang mendapatkan bukti fisiknya, meskipun sudah ribuan orang dari seluruh Jepang melaporkan pernah melihatnya secara samar-samar.

sumber :http://www.jepang.net/search/label/Mitos%20Jepang