Sekilas perkawinan Minang

Posted: 22 November 2011 in BUDAYA NUSANTARA, BUDAYA SUMATRA, SUKU MINANG
Girls clad in traditional Minang costumes

Image via Wikipedia

Hari kemarin aku mengikuti pernikahan keponakanku dari isteri yang asli Minang dengan latar khas rumah gadang yang didominasi warna kuning keemasan dan penataan khas taman dengan gafura berbunga melati dan pajangan potret romantis pengantin yang diambil dari pre wedding dengan diawali ijab kabul dan kemudian ada sungkeman terhadap kedua orang tua dan ninik mamak disertai alunan menyedihkan saluang yang membuat siapapun terharu dan kemudian sejenak berdandan pakaian khas awak dengan warna kuning mendominasi gaun pengantin serta mengiring pengantin dengan pakaian cantik pengantin wanita dengan suntingan khas dengan irringan Tambur kemudian  disambut tarian dan silek khas minang…ranca banak…

Dalam adat Minangkabau, pernikahan merupakan salah satu masa peralihan yang sangat berarti karena merupakan permulaan masa seseorang melepaskan diri dari kelompok keluarganya untuk membentuk kelompok kecil milik mereka sendiri. Karena itu peristiwa pernikahan sangatlah penting bagi siklus kehidupan seseorang.

Kalau kita urutkan ketika aku melihat kekhasan perkawinan keponakanku itu mulai dari pelaminan yang khas, gaun pengantin, sunting dan alat musik pengring seperti talempong, saluang dan tambur.

Pelaminan Pengantin.

Untuk pelaminannya sendiri biasanya ber tema pelaminan bagonjong (Pelaminan dengan hiasan tanduk) dan Pelaminan biasa.biasanya ukuran yang disesuaikan dengan tempat diadakannya pesta pernikahan bahkan dapat menutupi dinding sepanjang 20 meter bila pesta diadakan disebuah gedung yang luas dengan dekorasi khas minangkabau dengan bantal gadang, bantal kopek, guling dan tabia dan tirai (yang dipasang dilangit-langit) yang keseluruhan bahan bersulam benang emas penuh dengan motif pahat minangkabau yang khas.

Dengan penambahan atribut-atribut lain, seperti payung kuning, dulang-dulang, badalamak dan penambahan bilik-bilik di sebelah kiri kanan maupun pembuatan gonjong-gonjong seperti atap rumah gadang Minangkabau diatasnya, menambah kemewahan dari pelaminan khas minangkabau yang kami sajikan.

Pakaian Pengantin

Keindahan busana marapulai dan anak daro beserta atribut yang melengkapi kedua mempelai minang tidak perlu diragukan lagi. Taburan aura keemasan menyelimuti keseluruhan penampilan mempelai dengan sulaman emas pada baju kedua pengantin dan kain songket bertabur emas yang berornamen khas.

Pakaian pengantin berwarna hitam yang dilengkapi tanduk belenggek merupakan pakaian khas bundo kanduang yang menunjukan derajat kebangsawanan suatu keluarga.

Baju kurung panjang dan kain sarung balapak merupakan busana anak daro pada umumnya. Yang membedakan adalah hiasan pada kepala dan aksesoris pendukung lainnya

Busana pengantin  biasanya berwarna adat Minangkabau yaitu merah, hitam dan kuning karena warna tersebut sarat simbolik bagi masyarakat minang. Pada setiap ritual adat, warna ini selalu ada, baik dalam ornamen ataupun busananya.

Selain menyediakan sunting yang secara umum di gunakan untuk melengkapi kecantikan mempelai wanita diseluruh Sumatra Barat, seperti Tanduk belenggek dan tengkuluk talakuang yang khas Minangkabau.

Tanduk Belenggek ini terdiri dari 2 tingkat, yang pertama merupakan tanduk dari kain bersulam benang emas yang diatasnya dihias dengan tanduk emas atau dikenal dengan tengkuluk ameh.

Sunting

Sunting adalah salah satu bentuk hiasan kepala anak daro. Sunting yang dipakai secara umum sekarang biasa disebut sunting gadang. Nama ini untuk membedakan dengan sunting ketek yang biasa dipakai oleh pendamping pengantin yang disebut pasumandan.

Perbedaan dari sunting gadang dan sunting ketek adalah jumlah tingkat dari penyusunan hiasan di kepala. Jumlah tinggkat kembang goyang sunting pada pengantin wanita minang ini biasanya berjumlah ganjil. Jumlah tingkat sunting yang paling tinggi adalah sebelas tingkat sedang yang paling rendah tujuh tingkat.

Ada empat jenis hiasan yang disusun membentuk sunting pada hiasan kepala pengantin minang ini. Lapisan yang paling bawah adalah deretan bungo sarunai. 3-5 lapis bungo sarunai ini membentuk dasar bagi sunting minang. Kemudian diletakkan deretan bunga gadang sebanyak 3 – 5 lapis. Hiasan yang paling atas adalah kambang goyang. Sedangkan hiasan sunting yang jatuh di pipi kanan dan pipi kiri pengantin minang ini disebut kote-kote

Talempong

Alat musik tradisional Minangkabau “talempong” sebagai musik pengiring tari-tarian dan sebagai musik penghibur selama pesta perkawinan berlangsung. Musik ada yang terbuat dari kuningan dan ada pula dari kayu dan batu. Talempong berbentuk bundar pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat tangga nada (berbeda-beda). Musik talempong akan berbunyi jika dipukul oleh sepasang kayu.

Talempong (wikipedia) adalah sebuah alat musik pukul tradisional khas suku Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan.

Talempong berbentuk lingkaran dengan diameter 15 sampai 17,5 sentimeter, pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda. Bunyinya dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.

Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, seperti Tari Piring yang khas, Tari Pasambahan, dan Tari Gelombang. Talempong juga digunakan untuk melantunkan musik menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian dimulai dengan tangga nada do dan diakhiri dengan si.[rujukan?] Talempong diiringi oleh akord yang cara memainkanya serupa dengan memainkan piano.

Ada istilah lain dikenal dengan  “Talempong Gondang Oguang” dalam bahasa indonesia dapat diartikan seperti Talempong Gondang Oguang atau Talempong Gendang dan Gong. kesenian ini berkembang di Nagari Sialang – Payakumbuah – Lima Puluh Kota. kesenian Talempong Gondang Oguang dikenal dengan teknik permainannnya yang cukup rumit dengan kata lain kesenian ini memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi dari kesenian talempong lainya yang ada di Minangkabau. Selain itu Talempong Gondang Oguang juga dikenal karena fungsi pemersatunya, yang mana alat – alat musik  dari kesatuan kesenian ini (6Talempong, 2gendang, 2gong/oguang) disimpan oleh suku yang berbeda-beda. Maka untuk melakukan pertunjukan ini, pelaku (orang/kelompok yang akan melakukan pertunjukan talempong gondang oguang) haruslah memiliki hubungan baik dengan setiap suku dinagari tersebut.

Tari Gelombang

Untuk menyambut kedatangan kedua mempelai di singgasananya, disajikan pula tari gelombang dan tari piring. Dan sebuah tari tradisional lainnya sebagai penghibur, biasanya di pilih tari payung.

Tari Payung dipercayai sebagai tarian yang menggambarkan kehidupan pengantin baru. Syair pada lagu ‘Berbendi-bendi ke sungai Tanang’, mengisyaratkan pasangan yang baru menikah pergi mandi ke kolam yang dinamai sungai Tanang yang merupakan cerminan dari masa berbulan madu. Payung yang digunakan dalam tarian ini melambangkan peranan suami sebagai pelindung istri.

Silek

Silek adalah nama Minangkabau buat seni beladiri yang ditempat lain dikenal dengan Silat. Sistem matrilineal yang dianut membuat anak laki-laki setelah akil balik harus tinggal di surau dan silat adalah salah satu dasar pendidikan penting yang harus dipelajari oleh anak laki-laki disamping pendidikan agama islam. Silek merupakan unsur penting dalam tradisi dan adat masyarakat Minangkabau yang merupakan ekspersi etnis Minang.

Silek sudah merasuk dalam setiap kehidupan sehari-hari dan muncul sebagai unsur penting dalam cerita rakyat, legenda, pepatah dan tradisi lisan di Minangkabau. Ada banyak jenis aliran beladiri silek di Sumatera Barat dan dapat dikatagorikan dalam sebelas aliran silek yang berhasil didata antara lain:

  • Silek Kumanggo
  • Silek Lintau
  • Silek Tuo
  • Silek Sitaralak
  • Silek Harimau
  • Silek Pauh
  • Silek Sungai Patai
  • Silek Luncua
  • Silek Gulo Gulo Tareh
  • Silek Baru
  • Silek Ulu Ambek

Pagar Ayu dan Pagar Bagus

Pakaian seragam lengkap bagi para dayang-dayang raja dan ratu sehari ini sebanyak 6 pasang. Seragam pagar ayu dapat menggunakan sunting maupun tanduk sesuai.

Baju Demang (Beskap)

Sementara penyambut tamu dengan baju Demang yang dilengkapi dengan sarung bersulam emas dan Saluak batik bertulisan arab bagi kedua orang tua mempelai dan keluarga mereka. Baju demang yang dilengkapi saluak batik ini merupakan baju bagi datuk-datuk di daerah Minang kabau untuk menghadiri pesta pernikahan pada jaman itu.

Master of Ceremony (MC)

yang tak kalah menariknya dari perkawinan keponakanku adalah kemampuan mengurai kata yang khas dari awal aku benar-benar tertegun betapa luar biasanya,

wlalaupun kadang-kadang tidak sebanyak acara langsung di kampung ninik mamak, dimana aura kemodern jakarta telah mengurangi beberapa ritual acara.

Ditutup dengan kegaitan keluarga sanak saudara sadonyo..walau aku hanya urang sumando yang masih belum memahami bahasa yang khas,  unik dengan budaya adi luhung ranah Minang.

Sumber Tulisan :

Iklan
Komentar
  1. Nasrullah Idris berkata:

    Andaikan ada seorang pria yang bermarga “Tanjung” dari Tapanuli dan seorang wanita bersuku “Tanjung” dari Minang. Apakah keduanya boleh menikah? Kalau boleh bagaimana penyematan “Tanjung” pada nama anaknya?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s